Beranda blog Halaman 162

Survei Adidaya: Strategi Big Push Prabowo Harus Ditopang Stabilisator Sosial

0

JAKARTA – Upaya percepatan pertumbuhan ekonomi melalui strategi Big Push dinilai tidak cukup hanya mengandalkan program-program pengungkit produksi. Pemerintah juga perlu memastikan adanya penopang sosial yang kuat agar akselerasi ekonomi tetap stabil dan berkelanjutan.

Hal tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam survei ahli yang dilakukan Adidaya Institute terhadap delapan program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran. Riset ini memetakan program-program tersebut ke dalam tiga kategori utama, yakni Jangkar (Anchor), Mesin (Engine), dan Stabilisator (Stabilizer).

Dalam hasil riset tersebut, program Dukung Palestina Merdeka menjadi yang paling dominan dengan bobot global 23,30 persen, disusul Kampung Nelayan Merah Putih sebesar 16,75 persen, 3 Juta Rumah per Tahun 13,34 persen, Koperasi Desa Merah Putih 12,81 persen, Cek Kesehatan Gratis 9,12 persen, Lumbung Pangan Nasional 8,90 persen, Sekolah Rakyat 8,18 persen, dan Makan Bergizi Gratis 7,59 persen.

Program Palestina Merdeka dengan bobot 23,30 persen dinilai sebagai program jangkar (anchor). Program ini dianggap sebagai warisan dan komitmen politik yang konsisten sejak era Presiden Soekarno hingga Jokowi.

Peneliti Ekonomi Adidaya Institute Bramastyo B. Prastowo menjelaskan bahwa posisi Indonesia dalam isu Palestina berpotensi membuka ruang diplomasi baru, termasuk sebagai mediator antara negara-negara global south dan barat, serta sebagai jembatan diplomasi Islam moderat.

Sementara itu, tiga program lain yaitu Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, dan Lumbung Pangan dikategorikan sebagai stabilisator sosial. Program-program ini dinilai berfungsi menjaga daya tahan masyarakat selama agenda pertumbuhan ekonomi besar dijalankan.

“Program seperti Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis dan Lumbung Pangan bukan sekedar bantuan, tetapi penyangga utama agar masyarakat tetap kuat saat ekonomi dipacu,” ujar Bram dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, tanpa stabilitas sosial yang memadai, pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat dapat memicu tekanan harga, ketimpangan, serta keresahan sosial. Karena itu, program stabilisator tidak boleh dijalankan setengah hati dan membutuhkan pembiayaan jangka panjang serta indikator keberhasilan yang jelas.

Ia juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikategorikan sebagai stabilisator, namun berpotensi berperan sebagai mesin pertumbuhan jika terintegrasi dengan produksi desa dan koperasi.

“Jika disambungkan dengan produksi desa dan koperasi, MBG semestinya dapat menjadi penguat ekosistem ekonomi rakyat,” kata Bram.

Adidaya Institute mengingatkan bahwa percepatan ekonomi melalui Big Push harus berjalan beriringan dengan perlindungan sosial. Program stabilisator berfungsi sebagai penyeimbang agar pertumbuhan tetap terkendali dan berkelanjutan.

Selain itu, lembaga tersebut juga mendorong Presiden Prabowo untuk melakukan evaluasi terhadap kementerian yang dinilai tidak optimal dalam mengeksekusi program unggulan.

“Big Bang dan Big Push hanya berhasil jika kabinet diisi delivery leaders dan bukan sekadar Menteri komunikator,” tegasnya.

Survei Adidaya Institute dilakukan pada Desember 2025 – Februari 2026 menggunakan metode analytical network process (ANP), wawancara mendalam, serta focus group discussion (FGD), dengan melibatkan 72 responden dari kalangan akademisi, legislatif, birokrat, pelaku usaha, tenaga kesehatan, dan aktivis.

Pewarta: M Adi Fajri
Editor : Nicha R

ICW Soroti Potensi Konflik Kepentingan dan Insentif Rp2 Triliun di Ribuan SPPG Polri

0

JAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) menyoroti potensi konflik kepentingan, dalam pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) oleh Polri. Hal ini disampaikan Staf Divisi Advokasi ICW, Yassar Aulia,
saat menyerahkan surat kepada KPK pada Selasa (24/2/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan petunjuk teknis terbaru BGN pada Desember 2025, terdapat perlakuan berbeda terhadap yayasan yang dikelola kepolisian dibandingkan yayasan lainnya dalam pengelolaan SPPG.

“Dalam juknis BGN, yayasan pada umumnya dibatasi hanya mengelola 10 SPPG. Tetapi untuk kepolisian tidak dibatasi sama sekali. Ini berpotensi menimbulkan ketimpangan dalam proyek tersebut,” kata Yassar.

Selain persoalan batas pengelolaan, ICW juga menyoroti adanya insentif harian sebesar Rp6 juta yang diberikan selama 313 hari kepada pengelola SPPG dalam satu tahun anggaran.

“Kalau memang ada 1.179 SPPG dan semuanya dikelola Yayasan Kemala Bhayangkari, maka dari insentif saja perputaran dananya dalam setahun bisa mencapai sekitar Rp2 triliun, di luar dana operasional dan dana awal sekitar Rp500 juta,” ungkapnya.

Yassar menilai besarnya anggaran tersebut meningkatkan risiko konflik kepentingan, apabila tidak diawasi secara ketat oleh lembaga pengawas. Khususnya dalam konteks hubungan kelembagaan dan finansial.

Menurutnya, ICW juga mencantumkan sejumlah regulasi yang berpotensi dilanggar dalam praktik pengelolaan SPPG oleh yayasan yang bekerja sama dengan Polri.

“Ada Pasal 42 soal administrasi pemerintahan, Pasal 5 huruf D PP 112 Tahun 2003 tentang disiplin anggota kepolisian, serta Pasal 6 Permen PAN-RB 2014 tentang pengelolaan konflik kepentingan,” ucapnya.

Ia menegaskan, aturan tersebut secara prinsip melarang adanya konflik kepentingan. Baik yang bersifat kekeluargaan maupun finansial, dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi pejabat publik.

“Jika konflik kepentingan ini tidak dikelola, maka berpotensi menjadi bencana patronase yang dibiayai mahal oleh anggaran publik. Itu sebabnya kami meminta atensi serius dari KPK,” kata Yassar.

Ia menambahkan, tingginya perhatian publik terhadap institusi Polri belakangan ini membuat transparansi dan akuntabilitas pengelolaan ribuan SPPG menjadi semakin penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Penulis : Fajri
Editor : Muhammad Rafi’i

Mendiktisaintek Ajak 84 Diaspora Perkuat Riset, Demi Indonesia Keluar dari “Middle Income Trap”

0

JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menggelar dialog strategis bersama 84 akademisi diaspora Indonesia di Australia yang tergabung dalam Indonesian Academics Research Network Australia (IARNA), Rabu (25/2/2026).

Forum tersebut difokuskan pada penguatan kolaborasi riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia antara Indonesia dan Australia, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen guna keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Brian menegaskan, pendidikan tinggi dan riset harus memberi dampak nyata bagi industri dan masyarakat. Untuk itu, kolaborasi lintas sektor, termasuk pelibatan diaspora, menjadi kunci percepatan transformasi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.

“Diaspora Indonesia di luar negeri adalah agen strategis untuk mempercepat transfer teknologi, membuka akses kolaborasi dengan universitas dan industri maju, serta memperkuat reputasi akademik Indonesia di tingkat global,” ujarnya.

Dalam dialog tersebut, sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari hilirisasi mineral strategis dan rare earth bersama industri Australia, penguatan ketahanan pangan berbasis riset, pengembangan industri kosmetik berbasis biodiversitas, hingga penanganan sampah melalui pendekatan teknologi dan sosial budaya.

Diskusi juga menyoroti peluang kerja sama konkret Indonesia–Australia, seperti peningkatan produktivitas padi melalui mekanisasi, pengembangan critical minerals—termasuk nikel dan lithium—untuk rantai pasok kendaraan listrik, kolaborasi riset kesehatan dan biomedis, kerja sama maritim, hingga pengembangan teknologi drone.

Sejalan dengan itu, Kemdiktisaintek menegaskan fokus pada penguatan riset terapan dan pengembangan produk (product development) yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional, tanpa mengabaikan fundamental research sebagai fondasi inovasi jangka panjang.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar RI untuk Australia, Siswo Pramono, menyatakan peningkatan perdagangan bilateral pasca IA-CEPA menjadi momentum strategis memperluas kolaborasi pendidikan tinggi dan riset yang selaras dengan kebutuhan industri kedua negara. Ia menekankan pentingnya sinergi Indonesia Incorporated, termasuk pelibatan diaspora akademik.

Sebagai bagian dari implementasi program Diktisaintek Berdampak, kementerian menyiapkan skema pelibatan diaspora sebagai visiting professor, research coach, maupun kolaborator riset di perguruan tinggi Indonesia. Skema ini ditujukan untuk membimbing dosen dan peneliti muda, menghasilkan publikasi bersama, serta mendorong terobosan riset terapan.

Para diaspora juga menyampaikan masukan terkait keseimbangan antara basic research, applied research, dan product development, serta perlunya mekanisme tindak lanjut yang sistematis atas forum kolaborasi internasional.

Menteri Brian memastikan hasil dialog akan ditindaklanjuti secara konkret dan menjadi acuan dalam penguatan kebijakan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi ke depan.

Kementerian berkomitmen memperkuat hilirisasi riset, memperluas kemitraan internasional, serta memastikan program pendidikan tinggi dan pengembangan sains berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (*/rls)

Editor : Nicha R

Peningkatan Investasi Harus Seimbang dengan Kesiapan SDM

BERAU – Arus investasi di Kabupaten Berau terus meningkat, akan tetapi belum berdampak penuh terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Berau, Abdul Waris menilai hal tersebut masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Berau sebagai daerah dengan potensi sumber daya alam yang besar seharusnya mampu memberikan ruang kerja yang lebih luas bagi masyarakat lokal, khususnya generasi muda,” tegasnya.

Namun, kata dia, masih banyak tenaga kerja daerah yang belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.

“Jangan sampai masyarakat kita justru hanya menjadi penonton di daerah sendiri. Anak-anak muda harus punya akses kerja yang layak dan kesempatan yang sama untuk berkembang,” tuturnya.

Dirinya menilai pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas SDM. Namun, program pelatihan yang disusun benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan industri sehingga peserta pelatihan memiliki kompetensi yang relevan dan siap bersaing.

“Kalau pelatihannya tepat sasaran, tenaga kerja lokal pasti mampu bersaing dengan pekerja dari luar daerah,” ujarnya.

Selain itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sinergi dengan perusahaan melalui kolaborasi aktif, mulai dari penyusunan kurikulum pelatihan hingga proses perekrutan tenaga kerja lokal.

Sebab, kerja sama berkelanjutan antara pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci dalam menekan angka pengangguran.

Ia juga menekankan pentingnya implementasi maksimal Peraturan Daerah tentang Perlindungan Tenaga Kerja Lokal agar tidak hanya menjadi kebijakan di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Kita ingin investasi di Berau tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam membuka lapangan kerja bagi warga lokal,” pungkasnya. (adv)

Mobil Dinas Gubernur dan Angka 8,5 Miliar

Entah seperti apa rasanya duduk di mobil seharga Rp 8,5 miliar. Saya belum pernah naik mobil kelas itu. Apalagi mengemudikannya. Paling banter saya hanya membawa Fortuner. Itu saja sudah terasa mewah. Tenaganya cukup, nyaman untuk perjalanan jauh, dan rasanya sudah lebih dari cukup untuk ukuran kebutuhan kerja di Kaltim.

Karena itu, ketika angka Rp 8,5 miliar muncul sebagai pagu mobil dinas gubernur, yang terlintas di pikiran saya bukan soal merek atau fitur. Yang terlintas adalah, sebesar apa sebenarnya angka itu bagi publik?

Pengadaan mobil dinas Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, dengan pagu sekitar Rp 8,5 miliar di RUP TA 2025 memang langsung jadi sorotan. Disebut sebagai SUV hybrid bermesin 3.000 cc dengan kemampuan off-road yang mumpuni. Ada yang menduga spesifikasinya mendekati kelas premium seperti Range Rover.

Pemprov menjelaskan kebutuhannya. Sekda Sri Wahyuni menyebut gubernur ingin turun langsung ke pelosok, melihat kondisi jalan yang dikeluhkan warga, dan medan Kaltim memang berat. Berlumpur, berbatu, jauh dari akses ideal. Disebut pula kendaraan “badak” diperlukan agar agenda kerja tidak terganggu kendala teknis.

Gubernur sendiri menyatakan belum menerima mobil tersebut dan masih menggunakan mobil pribadinya untuk kegiatan dinas. Ia juga menegaskan bahwa pengadaan itu mengikuti Permendagri Nomor 7 Tahun 2006 tentang kendaraan dinas kepala daerah. Artinya, secara aturan, tidak ada yang dilanggar.

Namun publik jarang melihat hanya dari sisi aturan. Publik melihat dari rasa keadilan dan prioritas. Karena Rp 8,5 miliar bukan angka kecil.

Kalau kita pakai ukuran UMP Kaltim sekitar Rp 3,3 juta per bulan, maka dengan Rp 8,5 miliar, uang sebesar itu setara gaji lebih dari 2.500 pekerja selama satu bulan. Atau sekitar 215 orang selama satu tahun penuh.

Itu ribuan keluarga yang bisa membayar kontrakan, membeli beras, menyekolahkan anak, dan bertahan hidup.

Perbandingan ini bukan untuk mengadu domba. Ini hanya cara agar angka miliaran itu terasa lebih nyata.

Ini juga bukan polemik pertama. Tahun 2010, pengadaan Land Cruiser sekitar Rp 1,8–1,9 miliar sudah ramai dibahas. Sementara tahun 2024, dalam dokumen RUP tercatat pagu Rp 5,8 miliar untuk kendaraan dinas gubernur. Kini angkanya Rp 8,5 miliar. Sejauh yang terdokumentasi di sumber terbuka, ini yang tertinggi.

Apakah setiap ganti gubernur harus ganti mobil? Tidak juga. Mobil dinas adalah aset pemerintah, bukan milik pribadi. Biasanya kendaraan lama dilelang setelah usia tertentu atau ketika biaya perawatannya dianggap tidak efisien.

Secara sistem memang ada mekanisme. Tetapi pertanyaan publik bukan hanya soal mekanisme. Pertanyaannya soal waktu dan prioritas.

Di saat pemerintah berbicara efisiensi, di saat masih banyak jalan yang dikeluhkan warga, di saat kebutuhan pelayanan dasar belum sepenuhnya rapi, angka Rp 8,5 miliar akan selalu terasa sensitif.

Saya percaya gubernur ingin bekerja maksimal. Saya juga tahu medan Kaltim memang tidak ringan. Namun di ruang publik, apa pun yang menyangkut uang rakyat, orang pasti akan menilai.

Mobil dinas memang alat kerja. Tapi setiap keputusan anggaran selalu dibaca lebih luas oleh publik.

Yang dinilai bukan hanya mesinnya atau spesifikasinya. Yang dinilai adalah, apakah ini kebutuhan paling mendesak saat ini, atau ada hal lain yang lebih dulu harus diprioritaskan?

Pada akhirnya, ini bukan hanya soal mobil mewah atau tidak. Ini soal bagaimana pemerintah menempatkan uang rakyat. Karena setiap rupiah dalam APBD, berasal dari pajak, dari warung kecil, dari pekerja yang bangun pagi dan pulang malam.

Dan angka Rp 8,5 miliar, bagi banyak warga, menyangkut rasa keadilan. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Kinerja BUMD Perlu Diperbaiki

BERAU – Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami mendorong adanya evaluasi guna memperbaiki kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Pasalnya hal itu berdampak terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dia mengatakan, jika kinerja BUMD tidak maksimal, maka PAD yang dihasilkan tidak memberikan manfaat maksimal terhadap roda perekonomian daerah.

Menurutnya, keberadaan BUMD seharusnya menjadi instrumen strategis dalam memperkuat struktur ekonomi daerah. Namun realitasnya, hingga kini sejumlah BUMD masih belum memberikan hasil sesuai mandat pendirian.

“BUMD jangan hanya menjadi pelengkap agar terlihat ada. Keberadaannya harus mampu memberi manfaat nyata,” tegasnya.

Dibeberkannya, banyak potensi ekonomi daerah yang belum tergarap optimal melalui BUMD, baik di sektor pariwisata, perdagangan, energi maupun layanan publik.

“Kalau terus berjalan tanpa target dan tanpa capaian yang jelas, maka BUMD hanya menjadi beban anggaran. Seharusnya mereka bisa bersaing seperti perusahaan profesional lainnya,” katanya.

Sutami menekankan bahwa setiap BUMD wajib memiliki rencana bisnis yang realistis dan indikator kinerja yang terukur. Evaluasi berkala juga harus dilakukan secara transparan agar arah perkembangan perusahaan daerah jelas dan tidak stagnan.

“Kami ingin melihat strategi bisnisnya, apa inovasinya, bagaimana tata kelola manajemennya. Anggaran sudah dialokasikan, tetapi apakah ada perkembangan nyata? Itu yang harus dijawab,” tegasnya.

Lebih lanjut, dirinya juga mengusulkan agar pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap seluruh BUMD. Jika ditemukan entitas usaha yang tidak menunjukkan prospek dalam jangka waktu tertentu, maka langkah reformasi struktural perlu dilakukan.

“Evaluasi itu wajib, kalau ada BUMD yang tidak berkembang, pemerintah harus mempertimbangkan opsi penataan ulang, penggabungan, revitalisasi, atau bahkan penutupan,” tandasnya. (adv)

Marak Kasus Kekerasan Seksual, Harap Disdik Bentuk Program Pencegahan

BERAU – Belakangan ini kasus kekerasan seksual terhadap peserta didik sangat mengkhawatirkan. Terlebih pelaku merupakan orang terdekat korban, hal itu menjadi sorotan Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto.

Dia menilai, untuk mencegah terjadinya kekerasan, pengawasan tidak cukup jika hanya oleh orang tua. Pelajar juga perku dibekali dengan pembinaan dan edukasi secara rutin.

“Dinas Pendidikan (Disdik) harus menyusun program khusus sebagai pencegahan penyimpangan seksual di lingkungan sekolah,” ujarnya.

‎Subroto menilai, perkembangan teknologi dan era digital membuat peserta didik semakin mudah terpapar konten negatif. Rasa ingin tahu yang besar dan kurangnya pendampingan membuat risiko penyimpangan semakin tinggi.

‎“Penggunaan ponsel menjadi salah satu faktor. Ada siswa yang mungkin sudah mengakses konten dewasa dan muncul keinginan mencoba,” jelasnya.

‎Dirinya menegaskan bahwa moralitas pelajar akan menentukan kualitas generasi Berau di masa depan. Karena itu edukasi, pengawasan, dan langkah pencegahan harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

‎“Para siswa kita harapkan lebih fokus belajar dan mengembangkan diri, bukan justru melakukan tindakan yang melanggar norma moral,” pungkasnya. (adv)

Perkuat Produksi Pangan Lokal

BERAU – Angka kebutuhan beras di Kabupaten Berau melonjak, ditambah adanya dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan tetapi hal itu tidak dibarengi dengan produksi yang mumpuni.

Menanggapi persoalan tersebut, Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari menuturkan, untuk memenuhi permintaan produksi lokal harus lebih digenjot lagi.

“Banyak dapur MBG yang sudah aktif, permintaan beras otomatis naik. Tapi produksi lokal kita masih minim, hal itu tentu tidak seimbang,” ungkapnya.

Ia menyebut kondisi ini sebagai alarm bagi Pemkab Berau bahwa daerah belum memiliki kemandirian pangan yang kuat.

Selama ini, kata dia, ketergantungan terhadap suplai dari luar daerah, seperti Surabaya dan Sulawesi serta sejumlah daerah produsen beras lainnya, masih sangat besar.

“Ini memperlihatkan kita belum siap memenuhi kebutuhan sendiri. Selama ini kita mengandalkan suplai dari Surabaya dan daerah luar lainnya,” ujarnya.

Mala menilai pemerintah perlu mengambil langkah cepat dan terukur untuk memperkuat pondasi ketahanan pangan daerah.

Ia menyebut, salah satunya melalui percepatan pembukaan lahan pertanian produktif, modernisasi alat pertanian, serta pendampingan intensif kepada petani lokal.

“Kalau ingin ketahanan pangan, kita harus mulai dari produksi. Tidak bisa terus mengandalkan pasokan luar,” ungkapnya.

Selain sektor tanaman pangan, ia juga menilai subsektor peternakan harus mendapatkan perhatian yang sama.

Menurutnya juga peningkatan produksi protein hewani seperti telur, daging ayam, dan sapi penting untuk mendukung gizi anak dalam program MBG.

“Jadi bukan hanya padi. Peternakan kita juga harus diperkuat supaya seluruh bahan pangan untuk MBG dapat dipenuhi dari daerah sendiri,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah segera menyusun strategi komprehensif dan roadmap jangka panjang untuk memutus ketergantungan Berau pada pasokan luar daerah.

“Ini momentum kita memperbaiki dari hulu. Karena MBG bukan program jangka pendek, jadi kebutuhan pangannya juga harus disiapkan dari sekarang,” pungkasnya. (adv)

KPK Awasi Rencana Impor 105.000 Mobil untuk Kopdes Merah Putih

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan masih mengawasi rencana pengadaan 105.000 unit mobil dari India untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang dilakukan PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero).

Setyo mengatakan pengawasan tersebut dilakukan KPK melalui asesmen risiko korupsi atau risk corruption assessment (RCA).

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini Digital Koran Nusantara?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 https://koran.koranusantara.com
📱 https://digital.koranusantara.com/kn25feb2026/mobile/

Soroti Kesejahteraan Petani yang Belum Layak

BERAU – Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman menyoroti kondisi kesejahteraan petani yang jauh dari kata layak. Hal tersebut menurutnya harus mendapat perhatian.

Dia menuturkan, kondisi ekonomi para petani tidak sebanding dengan kerja keras yang sudah dilakukan. Sehingga, perlu adanya langkah konkret untuk meningkatkan kualitas hidup petani.

“Petani itu juga menjadi salah satu sektor penting bagi daerah. Makanya saya berharap pemerintah harus memberikan perhatian serius terkait kesejahteraan mereka,” tegasnya.

‎Sakirman menegaskan bahwa pertanian merupakan sektor strategis yang menopang ketahanan pangan daerah. Karena itu, ia menilai sudah semestinya petani mendapatkan perhatian lebih melalui program bantuan dan dukungan pemerintah.

‎“Selama ini, mereka hanya bergantung dari hasil bertani. Untuk itu perlu adanya pemberian bantuan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani,” ujarnya.

‎Selain persoalan kesejahteraan, ia juga menyoroti minimnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Banyak di antaranya lebih memilih bekerja di sektor lain karena menilai profesi petani belum menjanjikan secara ekonomi.

‎Untuk menjawab tantangan itu, Sakirman menilai penting adanya pendampingan, pelatihan, dan penguatan SDM agar petani dapat meningkatkan hasil panen dan pendapatannya. Pemanfaatan teknologi modern juga disebut menjadi salah satu solusi yang tidak bisa ditunda.

‎“Perlu ada langkah nyata bagaimana kita mensupport petani yang kondisi ekonominya semakin menurun. Tentunya bantuan peralatan modern diperlukan, karena ada beberapa faktor yang memengaruhi kemerosotan produktivitas,” tambahnya.

‎Ia mencontohkan program pengadaan alat pertanian di Kampung Buyung-buyung sebagai langkah yang mulai memberikan harapan bagi petani. Dirinya berharap program serupa dapat diperluas ke kampung lain agar manfaatnya lebih merata.

‎Selain itu, pemerintah juga disebut rutin melakukan studi banding bagi kelompok petani sebagai langkah peningkatan pengetahuan dan motivasi. “Ini dilakukan agar para petani terus berkembang dan mampu meningkatkan hasil produksi,” pungkasnya. (adv)