JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menggelar dialog strategis bersama 84 akademisi diaspora Indonesia di Australia yang tergabung dalam Indonesian Academics Research Network Australia (IARNA), Rabu (25/2/2026).
Forum tersebut difokuskan pada penguatan kolaborasi riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia antara Indonesia dan Australia, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen guna keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Brian menegaskan, pendidikan tinggi dan riset harus memberi dampak nyata bagi industri dan masyarakat. Untuk itu, kolaborasi lintas sektor, termasuk pelibatan diaspora, menjadi kunci percepatan transformasi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.
“Diaspora Indonesia di luar negeri adalah agen strategis untuk mempercepat transfer teknologi, membuka akses kolaborasi dengan universitas dan industri maju, serta memperkuat reputasi akademik Indonesia di tingkat global,” ujarnya.
Dalam dialog tersebut, sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari hilirisasi mineral strategis dan rare earth bersama industri Australia, penguatan ketahanan pangan berbasis riset, pengembangan industri kosmetik berbasis biodiversitas, hingga penanganan sampah melalui pendekatan teknologi dan sosial budaya.
Diskusi juga menyoroti peluang kerja sama konkret Indonesia–Australia, seperti peningkatan produktivitas padi melalui mekanisasi, pengembangan critical minerals—termasuk nikel dan lithium—untuk rantai pasok kendaraan listrik, kolaborasi riset kesehatan dan biomedis, kerja sama maritim, hingga pengembangan teknologi drone.
Sejalan dengan itu, Kemdiktisaintek menegaskan fokus pada penguatan riset terapan dan pengembangan produk (product development) yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional, tanpa mengabaikan fundamental research sebagai fondasi inovasi jangka panjang.
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar RI untuk Australia, Siswo Pramono, menyatakan peningkatan perdagangan bilateral pasca IA-CEPA menjadi momentum strategis memperluas kolaborasi pendidikan tinggi dan riset yang selaras dengan kebutuhan industri kedua negara. Ia menekankan pentingnya sinergi Indonesia Incorporated, termasuk pelibatan diaspora akademik.
Sebagai bagian dari implementasi program Diktisaintek Berdampak, kementerian menyiapkan skema pelibatan diaspora sebagai visiting professor, research coach, maupun kolaborator riset di perguruan tinggi Indonesia. Skema ini ditujukan untuk membimbing dosen dan peneliti muda, menghasilkan publikasi bersama, serta mendorong terobosan riset terapan.
Para diaspora juga menyampaikan masukan terkait keseimbangan antara basic research, applied research, dan product development, serta perlunya mekanisme tindak lanjut yang sistematis atas forum kolaborasi internasional.
Menteri Brian memastikan hasil dialog akan ditindaklanjuti secara konkret dan menjadi acuan dalam penguatan kebijakan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi ke depan.
Kementerian berkomitmen memperkuat hilirisasi riset, memperluas kemitraan internasional, serta memastikan program pendidikan tinggi dan pengembangan sains berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (*/rls)
Editor : Nicha R


