Beranda blog Halaman 226

Produk Unggulan Kampung Harus Naik Kelas

0
FOTO: Wakil Ketua Komisi I DPRD Berau, Abdul Waris.

BERAU – Wakil Ketua Komisi I DPRD Berau, Abdul Waris terus mendorong setiap kampung untuk mengembangkan produk unggulan khas sebagai upaya memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mendukung sektor pariwisata daerah.

Dirinya menilai bahwa setiap kampung memiliki potensi berbeda yang harus digali dan dikembangkan secara maksimal. Mulai dari sektor perikanan, pertanian, hingga kerajinan tangan seperti rotan, tenun, maupun produk olahan lokal.

Menurutnya, keberhasilan Kampung Long Beliu yang dikenal sebagai kampung rotan dapat menjadi contoh bagi kampung lain untuk mengangkat potensi khas masing-masing wilayah.

“Setiap kampung pasti punya keunggulan. Tinggal bagaimana itu dikembangkan secara serius dan berkelanjutan agar bisa dikenal luas,” ujarnya.

Namun demikian, Abdul Waris menegaskan bahwa pengembangan produk unggulan tidak cukup hanya pada produksi, tetapi juga harus diiringi dengan strategi pemasaran yang kuat. Tanpa promosi yang maksimal, produk lokal akan sulit bersaing di pasar yang lebih luas.

Ia mendorong pemerintah daerah, khususnya melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK), untuk lebih aktif dalam membantu pelaku usaha kampung, terutama dalam membuka akses pasar dan memperluas jaringan distribusi.

“Produk kampung ini harus bisa naik kelas. Tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tapi juga bisa menjadi oleh-oleh khas Berau yang dicari wisatawan,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya dukungan dalam hal legalitas produk, seperti izin PIRT, sertifikasi halal, hingga standar lainnya agar produk bisa masuk ke pasar modern maupun platform digital.

Abdul Waris menambahkan, pemanfaatan teknologi digital juga menjadi kunci dalam memperluas jangkauan pemasaran. Dengan masuk ke marketplace dan e-katalog pemerintah, produk kampung diharapkan mampu menembus pasar nasional bahkan internasional.

“Kalau sudah masuk digital, peluangnya jauh lebih besar. Ini yang harus didorong bersama,” tambahnya.

Ia pun berharap adanya sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat dalam mengembangkan potensi kampung, sehingga produk unggulan yang dihasilkan tidak hanya meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga memperkuat identitas daerah.

“Kalau dikelola dengan baik, ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga menjadi kebanggaan daerah,” tutupnya. (adv)

Mesin Antrean Mati, Pelayanan Pagi RSUD RAPB PPU Picu Keluhan Pasien

0
Foto: Suasana antrean membludak di RSUD RAPB PPU. (capturevideo/MKNN)

PENAJAM PASER UTARA — Suasana sempat kacau terjadi di RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB) setelah mesin pengambilan antrean dilaporkan belum diaktifkan saat pasien mulai memadati area pendaftaran pada pagi hari.

Kondisi tersebut memicu antrean panjang dan kebingungan pasien, terutama bagi warga yang tidak mendapatkan nomor antrean secara online.

Salah satu pasien mengaku loket pendaftaran yang biasanya mulai dibuka sekitar pukul 06.00 WITA baru beroperasi sekitar pukul 07.30 WITA.

“Biasanya jam 6 sudah dibuka loket itu, ini tadi sampai setengah 8 baru dibuka,” ujarnya.

Ia juga mengeluhkan tidak adanya petugas keamanan yang berjaga saat antrean mulai membludak sehingga situasi sempat tidak terkendali.

“Security yang biasa jaga di situ juga enggak ada semua,” ungkapnya.

Akibat keterlambatan tersebut, sejumlah pasien disebut harus menunggu cukup lama hanya untuk mendapatkan antrean pelayanan.

“Aku aja setengah jam lebih nunggu itu dibuka,” tambahnya.

Pasien lain juga mengaku kasihan terhadap warga yang tidak sempat mengambil antrean online karena banyak yang akhirnya kehabisan kuota pelayanan.

Kondisi ini memunculkan keluhan masyarakat terhadap sistem pelayanan rumah sakit, terutama terkait kesiapan petugas dan pengaturan antrean di jam-jam sibuk pelayanan pagi.

Warga berharap manajemen rumah sakit dapat melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang, mengingat rumah sakit tersebut merupakan salah satu fasilitas kesehatan rujukan utama di PPU. (MK)

Pewarta: Deddypz
Editor: Agus S

Pemkot Samarinda Tertibkan Lima Bangunan Usaha di Sungai Kapih

0
Foto: Personel Satpol PP melakukan pembongkaran warung yang berdiri di tanah Pemkot. (Dimas/Media Kaltim)

SAMARINDA – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Samarinda kembali melakukan tindakan tegas terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang. Sejumlah bangunan liar yang berdiri di atas lahan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda resmi dibongkar pada Selasa (12/5/2026) pagi.

Operasi penertiban yang dimulai pukul 08.00 WITA itu menyasar kawasan Kelurahan Sungai Kapih. Meski sempat diwarnai ketegangan antara petugas dan pemilik bangunan, proses eksekusi tetap berjalan hingga bangunan rata dengan tanah.

Pantauan di lokasi menunjukkan situasi sempat memanas saat petugas hendak merobohkan sebuah rumah yang merangkap sebagai warung. Pemilik bangunan bersikeras mempertahankan tempat tinggalnya meski telah mengetahui lahan yang ditempati merupakan aset pemerintah.

Ketegangan mereda setelah petugas memberikan penjelasan secara persuasif. Selain satu bangunan utama tersebut, petugas juga bergerak ke lokasi lain yang berjarak sekitar 100 meter untuk membongkar bangunan serupa yang sebelumnya telah menerima surat peringatan berulang kali.

Kepala Satpol PP Kota Samarinda, Anis Siswantini, menegaskan penertiban itu merupakan langkah akhir setelah melalui proses panjang dan tahapan peringatan bertingkat.

“Seharusnya tanggal 21 lalu sudah ditertibkan, tapi kami tidak bisa tiba-tiba langsung bergerak. Prosesnya panjang, bahkan sudah dimulai sebelum Lebaran. Kami sudah melibatkan camat dan perangkatnya, namun alih-alih diindahkan, peringatan tersebut justru diabaikan,” jelas Anis.

Foto: Kondisi usai pembongkaran bangunan di Jalan Kapten Sujono. (Dimas/Media Kaltim)

Ia merinci, total terdapat lima bangunan usaha yang menjadi target penertiban. Satu bangunan dibongkar secara mandiri oleh pemiliknya, sedangkan empat lainnya ditertibkan langsung oleh petugas dengan pengawalan TNI, Polri, serta Bidang Hukum dan Aset Pemkot Samarinda.

“Alasan penertiban ini jelas, yaitu mengamankan aset Pemerintah Kota Samarinda. Dengan kolaborasi lintas sektor, alhamdulillah hari ini berjalan kondusif dan potensi kerawanan bisa diminimalisir,” tambahnya.

Di balik penertiban itu, terdapat kisah awal berdirinya bangunan tersebut. Ketua RT 12 Kelurahan Sungai Kapih, Dantoro, mengungkapkan bangunan awalnya berdiri karena alasan kemanusiaan untuk membantu seorang janda tua membuka usaha kecil.

Menurutnya, lahan pemerintah itu awalnya hanya dimanfaatkan untuk warung kopi sederhana. Namun seiring waktu, bangunan berkembang semakin luas.

“Awalnya niat kita membantu nenek itu untuk usaha kecil-kecilan. Tapi karena ada hasutan dari pihak luar, bangunannya justru meluas. Kami sudah ingatkan berulang kali tapi tidak digubris, akhirnya ya seperti ini,” pungkas Dantoro.

Kini lahan tersebut telah dikosongkan dan dikembalikan fungsinya sebagai aset pemerintah kota guna mencegah pemanfaatan lahan secara ilegal di kemudian hari. (MK)

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S

Disnakertrans Tegaskan PHK Harus Jadi Pilihan Terakhir Perusahaan

0
Foto: Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalimantan Timur, Rozani Erawadi. (Foto: Hanafi)

SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mendorong para pekerja untuk aktif melaporkan berbagai dugaan pelanggaran ketenagakerjaan melalui aplikasi Sakti yang disediakan Pemprov Kaltim. Langkah tersebut dinilai penting guna memastikan perlindungan hak-hak pekerja tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalimantan Timur, Rozani Erawadi, saat dikonfirmasi wartawan MediaKaltim.com terkait kebijakan ketenagakerjaan dan perlindungan pekerja di tengah tantangan transisi energi serta potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor usaha.

Dalam keterangannya, Rozani menegaskan PHK seharusnya menjadi pilihan terakhir bagi perusahaan. Jika kondisi perusahaan memaksa adanya pengurangan tenaga kerja, maka seluruh hak pekerja wajib dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kalaupun harus terjadi PHK, itu harus menjadi pilihan terakhir. Kalau bisa disalurkan ke tempat lain, tentu lebih baik. Yang penting seluruh hak pekerja diberikan sesuai aturan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti praktik hubungan kerja kontrak yang dinilai masih banyak terjadi di sejumlah perusahaan. Pemerintah mengingatkan agar perusahaan mematuhi aturan terkait perubahan status pekerja kontrak menjadi pekerja tetap apabila masa kerja telah memenuhi ketentuan.

“Kalau pekerja terus menerus bekerja selama bertahun-tahun, secara norma bisa dikategorikan menjadi pekerja tetap. Itu selalu kami ingatkan kepada perusahaan,” katanya.

Selain itu, pemerintah menegaskan perusahaan wajib membayar upah sesuai Upah Minimum Regional (UMR) maupun Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Jika ditemukan dugaan pelanggaran, pekerja diminta segera melapor melalui kanal pengaduan resmi.

“Kalau ada pelanggaran, laporkan saja. Ada kanal pengaduan, ada aplikasi Sakti seperti yang disampaikan pak gubernur. Tinggal diunduh dan dilaporkan,” tegas Rozani.

Aplikasi Sakti Gemas (Satu Akses Kalimantan Timur menuju Generasi Emas) merupakan super app resmi Pemprov Kaltim yang diluncurkan pada Agustus 2025 untuk mengintegrasikan berbagai layanan publik, informasi strategis, hingga pengaduan masyarakat dalam satu platform digital.

Aplikasi tersebut menghubungkan lebih dari 15 organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk layanan pajak daerah, pendidikan, kesehatan, UMKM hingga ketenagakerjaan.

Salah satu fitur unggulannya ialah “Lapor Wall”, yakni kanal pengaduan masyarakat yang terintegrasi langsung dengan sistem SP4N-LAPOR sehingga laporan warga dapat ditindaklanjuti lebih cepat dan terkoordinasi.

Meski demikian, pemerintah menyebut pendekatan terhadap perusahaan tetap mengedepankan pembinaan terlebih dahulu sebelum penindakan dilakukan. Penanganan kasus juga akan mempertimbangkan skala usaha perusahaan, terutama bagi pelaku usaha mikro.

Rozani juga mengimbau masyarakat agar menyampaikan laporan berdasarkan fakta dan data yang jelas sehingga proses tindak lanjut dapat dilakukan secara tepat.

“Saya harap seluruh laporan pekerja dapat disampaikan sesuai fakta dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” pungkasnya. (MK)

Penulis: Hanafi
Editor: Agus S

Polisi Selidiki Truk Tanpa Pelat yang Terguling di Jalan Menanjak

0
Foto: Truk muatan plastik, kertas nasi dan tabung LPG yang mengalami lakalantas di Jalan Siaga pada Senin malam.

BALIKPAPAN – Kecelakaan truk yang terjadi di kawasan Jalan Siaga, Kelurahan Klandasan Ilir, Balikpapan Kota pada Senin (11/5/2026) malam diduga dipicu kerusakan pada bagian roda kendaraan saat sedang menanjak.

Kapolresta Balikpapan, Kombes Jerrold Kumontoy melalui Kasat Lantas Polresta Balikpapan, Kompol MD Djauhari, mengatakan kejadian yang berlangsung sekitar pukul 19.00 WITA itu terjadi di area dalam gang gudang plastik CV Jaya Raya.

Truk Isuzu Elf tersebut diketahui mengangkut plastik es, kertas nasi, dan tabung LPG.

“Setelahnya, truk sempat terguling dan rebah ke sisi kanan. Pengemudinya sempat terjepit dengan kepala truk sehingga proses evakuasi ikut melibatkan Kantor SAR Balikpapan,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).

Djauhari menjelaskan kendaraan tersebut dikemudikan Aswar Ma’ruf (20), warga Kelurahan Margo Mulyo.

Peristiwa bermula saat kendaraan hendak keluar dari area gudang melalui jalan menanjak di dalam gang. Namun setibanya di ujung jalan, kendaraan tiba-tiba berhenti akibat diduga mengalami kerusakan mekanis.

“Sesampainya di ujung gang pada badan jalan menanjak, kendaraan R6 Isuzu Elf berhenti, lalu diduga tidak kuat menanjak karena mengalami patah pada roda,” jelasnya.

Akibat kerusakan tersebut, kendaraan kemudian meluncur mundur tak terkendali hingga terguling ke dalam area gudang. Tiga kendaraan lain yang sedang parkir turut mengalami kerusakan akibat insiden tersebut.

Dalam kejadian itu, sopir mengalami luka ringan dan sempat terjepit di bagian kabin sebelum berhasil dievakuasi tim gabungan. Polisi memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka berat.

Meski demikian, kerugian material akibat kecelakaan tersebut diperkirakan mencapai Rp5 juta.

Pihak kepolisian juga masih mendalami status kendaraan Isuzu Elf tersebut karena saat kejadian kendaraan tidak menggunakan pelat nomor polisi.

“Kendaraan R6 Isuzu Elf dengan nomor polisi tidak dipasang, saat ini masih dalam penyelidikan,” tutupnya. (MK)

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S

0

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Koran Nusantara?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper lengkap
https://koran.koranusantara.com/

📱 Versi Mobile
https://digital.koranusantara.com/kn12mei2026/mobile/

PPU Gandeng BWS dan Kementerian PUPR Atasi Persoalan Air Bersih

0
Foto: Bupati PPU, Mudyat Noor, saat diwawancarai terkait penanganan sumber daya air. Foto: Deddypz/MKN

PENAJAM PASER UTARA – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai memperkuat koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menangani persoalan banjir hingga krisis air bersih yang masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah.

Bupati PPU, Mudyat Noor, mengatakan persoalan sumber daya air kini menjadi prioritas karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mendukung sektor pertanian di daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut.

“Alhamdulillah respons dari BWS sangat baik. Kita terus berkoordinasi untuk menyelesaikan persoalan yang ada, khususnya terkait banjir dan ketersediaan air bersih,” ujarnya.

Menurut Mudyat, persoalan air di PPU saat ini tidak hanya berkaitan dengan banjir musiman, tetapi juga rendahnya debit air bersih yang mulai dirasakan masyarakat di beberapa wilayah.

Selain itu, kebutuhan irigasi pertanian juga disebut terus meningkat seiring aktivitas pertanian masyarakat.

“Ini saling berkaitan. Kita tidak hanya bicara banjir, tapi juga bagaimana menjamin ketersediaan air bersih dan mendukung irigasi pertanian masyarakat,” katanya.

Pemkab PPU bersama BWS kini mulai melakukan penanganan di sejumlah titik rawan. Kawasan Lawe-Lawe menjadi wilayah awal yang mendapatkan penanganan sebelum program dilanjutkan ke Labangka hingga Sungai Riko.

Langkah yang dilakukan meliputi normalisasi sungai dan penguatan sistem sumber daya air guna mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga suplai air bersih.

Selain itu, pemerintah daerah juga mengusulkan peningkatan kapasitas bendungan kepada BWS agar daya tampung air dapat diperbesar.

Usulan tersebut dinilai penting mengingat kebutuhan air bersih masyarakat terus meningkat, sementara ancaman kekurangan air masih terjadi di sejumlah kawasan.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga mencerminkan tantangan infrastruktur dasar di daerah penyangga IKN yang masih menghadapi persoalan klasik, mulai dari banjir hingga keterbatasan akses air bersih.

Karena itu, Pemkab PPU menilai sinergi antara pemerintah daerah, BWS, hingga pemerintah pusat menjadi kunci utama dalam menyelesaikan persoalan sumber daya air secara bertahap dan berkelanjutan.

“Harapannya daya tampung air meningkat dan kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi secara berkelanjutan,” pungkasnya. (MK)

Pewarta: Deddypz
Editor: Agus S

Otorita IKN Ingin Pelaku Ekraf Jadi Pemain, Bukan Sekadar Penonton

0
Pelaku ekonomi kreatif di delineasi IKN mengikuti pelatihan pemasaran digital dan transaksi non-tunai di KIPP Nusantara. Foto: Dok. Otorita IKN

NUSANTARA – Puluhan pelaku ekonomi kreatif (Ekraf) di kawasan delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN) mengikuti pelatihan pemasaran digital dan transaksi non-tunai yang digelar di Multifunction Hall Kantor Bersama 1, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin (11/5/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Otorita IKN dan Bank Indonesia guna meningkatkan kemampuan pelaku usaha lokal agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan sistem transaksi digital.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mulai dari penggunaan QRIS, pencatatan keuangan digital, hingga strategi pemasaran produk melalui marketplace dan media sosial.

Kepala Sekretariat Kerja Bersama (SKB) Bank Indonesia IKN, Aswin Gantina, mengatakan transformasi digital menjadi kebutuhan utama bagi pelaku usaha di era saat ini, termasuk di kawasan Nusantara.

“Bank Indonesia telah menerapkan inovasi di sistem pembayaran melalui QRIS. Semua pembayaran atau transaksi oleh UMKM bisa dilakukan menggunakan QRIS. Jadi tidak perlu lagi menggunakan uang tunai,” ujarnya.

Menurut Aswin, penggunaan QRIS memberikan banyak keuntungan bagi pelaku usaha, mulai dari menghindari peredaran uang palsu hingga membantu pencatatan transaksi menjadi lebih rapi dan modern.

“Dengan QRIS keuntungannya sangat banyak, misalnya menghindari uang palsu, pencatatan menjadi jauh lebih rapi, serta kekinian,” katanya.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Pahlirungi, menegaskan pembangunan Nusantara tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Menurutnya, pelaku ekonomi kreatif dan UMKM harus dipersiapkan agar mampu tumbuh bersama perkembangan IKN sebagai kota modern berbasis teknologi.

“Otorita IKN tidak hanya melakukan pembangunan fisik, tetapi sumber daya manusianya juga kita bangun,” ujarnya.

Muhsin mengatakan Otorita IKN berkomitmen terus mendampingi pelaku ekonomi kreatif agar mampu meningkatkan kapasitas usaha dan memperluas pasar melalui platform digital.

“Otorita IKN akan mendampingi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif sampai mereka betul-betul bisa menjadi pemain, bukan hanya penonton,” tegasnya.

Pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing pelaku usaha lokal di tengah perkembangan ekonomi kawasan Nusantara.

Selain meningkatkan kualitas produk, pelaku usaha juga didorong memahami pengelolaan usaha modern, termasuk transaksi digital dan strategi pemasaran berbasis internet agar mampu menjangkau pasar lebih luas. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

PDI-Perjuangan Klaim Tak Punya “Gigi Mundur” dalam Dorongan Hak Angket

0
Mahasiswa saat melakukan aksi protes mendorong hak angket di Samarinda. Foto: K. Irul Umam/Media Kaltim

SAMARINDA – Desakan penggunaan hak angket di DPRD Kalimantan Timur mulai memasuki fase krusial. Di tengah sorotan publik terkait pembelian mobil dinas mewah, renovasi fasilitas pejabat hingga isu politik dinasti, manuver politik di internal DPRD justru dinilai berpotensi membuat hak angket kandas sebelum masuk pembahasan substansi.

Pengamat politik sekaligus akademisi Universitas Mulawarman (Unmul), Saipul Bahtiar, menilai peluang hak angket berlanjut ke pembentukan panitia khusus (Pansus) sangat berat apabila Fraksi Golkar dan PAN memilih tidak hadir atau melakukan walk out dalam rapat paripurna.

“Kalau kita melihat secara kuantitatif, maka potensi untuk maju ke hak angket itu sulit terpenuhi. Karena sesuai ketentuan, minimal harus dihadiri 3/4 dari jumlah anggota DPRD Kaltim atau sekitar 42 orang,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Menurut Saipul, secara hitung-hitungan politik, posisi pengusul hak angket saat ini belum cukup aman untuk memenuhi syarat kuorum.

Dari total 55 anggota DPRD Kaltim, absennya Fraksi Golkar ditambah sikap PAN yang disebut tidak sepakat terhadap hak angket dinilai berpotensi membuat jumlah kehadiran tidak mencapai batas minimal.

“Nah, kalau Fraksi Golkar tidak hadir atau walk out, kemudian ditambah PAN juga tidak hadir, maka secara hitungan syarat minimal itu tidak akan terpenuhi,” katanya.

Kondisi tersebut membuat peluang pembentukan Pansus hak angket dinilai sangat kecil. Bahkan, prosesnya diperkirakan hanya berhenti di tahap pengusulan tanpa pernah benar-benar masuk pembahasan paripurna.

Dalam keterangannya, Saipul juga menyoroti sejumlah isu yang memicu tuntutan hak angket, mulai dari pembelian mobil dinas mewah, renovasi rumah jabatan dan ruang kerja pejabat, pembentukan tim ahli gubernur dengan anggaran besar, hingga dugaan praktik politik dinasti di sejumlah organisasi publik di Kaltim.

Ia turut menyinggung hubungan kekerabatan antara Gubernur Kaltim dan Ketua DPRD Kaltim yang dinilai memunculkan persepsi publik terhadap melemahnya fungsi pengawasan legislatif.

“Ketua DPRD mestinya menjalankan fungsi pengawasan sejak awal. Tapi justru dalam fakta yang muncul, mendukung pembelian mobil dinas yang dianggap fantastis di tengah kondisi keuangan daerah yang tidak baik-baik saja,” ucapnya.

Menurut Saipul, dasar hukum penggunaan hak angket sebenarnya cukup kuat dan dapat merujuk pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya Pasal 67 dan Pasal 68.

Ia menjelaskan Pasal 67 huruf f mewajibkan kepala daerah menjalankan program strategis nasional, sementara Pasal 68 mengatur sanksi administratif apabila kewajiban tersebut tidak dijalankan.

Saipul menilai kebijakan efisiensi anggaran sebagaimana tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 dapat dikategorikan sebagai bagian dari program strategis nasional.

“Kalau penggunaan anggaran tidak efisien, maka ada potensi bertentangan dengan kebijakan nasional tentang efisiensi anggaran,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menyinggung Pasal 58 UU Pemerintahan Daerah terkait asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik, termasuk prinsip efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, dan kepentingan umum.

“Kalau ada fakta penggunaan anggaran yang tidak efisien dan tidak efektif, maka itu bisa dinilai bertentangan dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan daerah,” katanya.

Meski menilai peluang hak angket berat, Saipul tetap mendorong fraksi-fraksi pengusul untuk terus melakukan konsolidasi politik demi menjaga marwah DPRD dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif.

“Kalau tidak ada langkah serius, maka trust publik terhadap DPRD Kaltim akan semakin menurun. DPRD bisa terus dianggap hanya sebagai tukang stempel kebijakan pemerintah daerah,” ujarnya.

Di sisi lain, Fraksi PDI-Perjuangan memastikan tetap berada di garis depan mendorong hak angket dibawa hingga rapat paripurna.

Ketua Fraksi PDI-Perjuangan DPRD Kaltim, M Samsun, menegaskan pihaknya tidak memiliki opsi mundur meski hingga kini jadwal Rapat Badan Musyawarah (Banmus) belum juga digelar.

“Belum ada (mengenai rencana rapat Banmus) sejauh ini, kemungkinan dijadwalkan pada tanggal 18 Mei nanti. Makanya ini kami meminta juga untuk pimpinan menggelar rapat Banmus untuk mengagendakan Rapat Paripurna,” katanya.

Menurut Samsun, usulan hak angket yang telah ditandatangani enam fraksi bersama 22 anggota DPRD sudah resmi disampaikan sehingga tidak ada alasan untuk tidak dibahas.

“Jadi tak ada alasan untuk tidak digelar rapat Banmus untuk Rapat Paripurna ini,” tegasnya.

Secara politik, PDI-Perjuangan disebut sudah melakukan berbagai perhitungan sebelum mendorong hak angket. Karena itu, kata Samsun, partainya tidak mungkin menarik diri di tengah jalan.

“Tindakan kita semua sudah diukur. PDI-Perjuangan istilahnya tidak memiliki Persneling Reverse, tidak ada gigi mundur, jadi kami gas terus,” ujarnya.

Kini, nasib hak angket sepenuhnya berada di tangan pimpinan DPRD Kaltim, khususnya terkait penjadwalan Banmus yang akan menentukan apakah hak angket benar-benar masuk paripurna atau justru berakhir senyap di meja politik. (MK)

Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S

Istri Korban Tolak Maaf Terdakwa Kopassus Kasus Pembunuhan Kacab Bank

0
Istri dari almarhum seorang kepala cabang (kacab) bank di Jakarta berinisial MIP (37) yakni Puspita Aulia dalam sidang pemeriksaan saksi tambahan kasus dugaan penculikan dan pembunuhan terhadap seorang kepala cabang (kacab) bank di Jakarta berinisial MIP (37) di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Cakung, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026). ANTARA/Siti Nurhaliza

JAKARTA – Istri dari almarhum kepala cabang (kacab) bank di Jakarta berinisial MIP (37) menolak permintaan maaf dari tiga terdakwa anggota Kopassus kasus dugaan penculikan dan pembunuhan suaminya.

“Saya mohon jangan memaksa saya untuk memberikan mereka maaf saat ini karena ini menyakitkan untuk saya,” kata istri kacab bank yakni Puspita Aulia dalam sidang pemeriksaan saksi tambahan kasus dugaan penculikan dan pembunuhan terhadap seorang kepala cabang (kacab) bank di Jakarta berinisial MIP (37) di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Cakung, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026).

Puspita menyebut perbuatan ketiga anggota Kopassus tersebut telah membuatnya sakit hati.

“Apa yang terjadi kemarin itu merupakan hal yang membuat saya, hati saya sakit seumur hidup saya,” ujarnya.

Di hadapan majelis hakim, Puspita mengungkapkan penderitaannya setelah sang suami meninggal dunia. Dia kini harus menghidupi anak-anaknya yang masih berusia dini serta menanggung beban nafkah dan mental seorang diri.

“Bagaimana istri harus menghidupi anak-anaknya tanpa suami? Bagaimana putra-putrinya menanggung kejiwaan dan fisiknya jika teringat ayahnya diculik, dianiaya hingga meninggal dunia baik di lingkungan rumah apalagi di sekolah yang menjadi bahan pembicaraan teman-teman dan juga kerabat-kerabat di sekolahnya,” ungkapnya.

Puspita juga menyampaikan bahwa anak-anaknya terus merindukan sosok MIP sebagai ayah mereka yang kini sudah tiada. Dalam doa mereka, terselip harapan agar MIP dapat kembali meski hanya sekejap, sebagai bentuk kerinduan atas kedekatan mereka dengan sang ayah.

“Mungkin tidak secara langsung, tapi ada di satu momen adik ini selesai shalat subuh dia berdoa. ‘Ya Allah ampuni ayah, Ya Allah jaga ayah di sana, Ya Allah boleh tidak sebentar aja ayah ke sini’, karena almarhum suami saya ini sangat dekat dengan anak-anaknya,” ucap Puspita.

Adapun upaya permohonan maaf tersebut, semula diajukan oleh penasihat hukum dari ketiga terdakwa. Penasihat hukum juga mendoakan agar arwah MIP dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

“Dari hati besar kami kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga almarhum Bapak dan Ibu, apakah Bapak dan Ibu bisa memberikan maaf kepada para terdakwa walaupun harus dihukum seberat-beratnya karena secara manusia kita harus saling memaafkan agar almarhum di sana tenang dan risiko itu akan ditanggung oleh para terdakwa atas apa yang diperbuat,” kata Penasihat Hukum.

“Kami dari kesatuan memohon maaf yang sebesar-besarnya tapi secara manusiawi apakah dibukakan pintu maafnya agar almarhum di sana tenang dan bisa menerima apa pun yang telah para terdakwa lakukan, biar almarhum tenang di sana Ibu,” lanjut Penasihat Hukum dalam sidang.

Adapun para terdakwa dalam kasus ini yakni Serka MN (terdakwa 1), Kopda FH (terdakwa 2), dan Serka FY (terdakwa 3) didakwa terlibat dalam rangkaian penculikan disertai pembunuhan MIP. (ANT/KN)