Beranda blog Halaman 9

Klinik Hematologi Onkologi RSUD Bontang Tutup 29–30 Oktober, Pelayanan Kembali Dibuka 2 November

0
Gedung RSUD Taman Husada Bontang. Layanan Klinik Hematologi Onkologi Medik ditutup sementara pada 29–30 Oktober 2026 dan kembali beroperasi Senin (2/11/2026). (Dwi S/Radar Bontang)

BONTANG – Pasien Klinik Hematologi Onkologi Medik RSUD Taman Husada Bontang diminta memperhatikan perubahan jadwal pelayanan. Poliklinik yang menangani penyakit darah dan kanker tersebut tidak beroperasi selama dua hari, Kamis–Jumat (29–30/10/2026). Pelayanan dijadwalkan kembali dibuka pada Senin (2/11/2026).

Kepala Bagian Hukum, Komunikasi, dan Kerja Sama (HKK) RSUD Taman Husada Bontang, Romy Rizka, mengatakan pemberitahuan tersebut disampaikan lebih awal agar pasien dapat menyesuaikan jadwal pemeriksaan maupun pengobatan.

Terutama pasien yang rutin menjalani kontrol kesehatan, pemantauan kondisi penyakit, serta konsultasi dengan dokter spesialis di klinik tersebut.

“Layanan ini memiliki peran penting bagi pasien yang membutuhkan konsultasi, pemantauan kondisi, maupun penanganan sesuai indikasi medis. Makanya kami beri imbauan ke masyarakat, kalau layanan ini sedang tidak buka,” ujar Romy, Rabu (28/10/2026).

Klinik Hematologi Onkologi Medik merupakan layanan spesialis yang menangani berbagai penyakit berkaitan dengan darah serta kanker.

Pelayanan tersebut mencakup konsultasi, evaluasi kondisi pasien, dan penanganan medis sesuai kebutuhan serta hasil pemeriksaan dokter.

Karena itu, perubahan jadwal pelayanan perlu diperhatikan, khususnya oleh pasien yang telah memiliki rencana kunjungan pada 29 dan 30 Oktober.

Romy menyarankan pasien yang memiliki jadwal kontrol pada kedua tanggal tersebut menghubungi pihak rumah sakit untuk memperoleh informasi mengenai penjadwalan ulang.

Langkah tersebut diperlukan agar pasien mendapatkan kepastian jadwal pemeriksaan berikutnya dan arahan pelayanan sesuai kondisi kesehatannya.

Pihak RSUD juga mengimbau masyarakat tidak langsung datang ke poliklinik selama masa penutupan sementara tanpa terlebih dahulu memastikan jadwal pelayanan.

Meski demikian, pengumuman tersebut secara khusus berlaku untuk Klinik Hematologi Onkologi Medik, bukan seluruh layanan RSUD Taman Husada Bontang.

Romy meminta pasien mengikuti pembaruan informasi melalui kanal resmi rumah sakit, terutama apabila terdapat perubahan jadwal lanjutan.

“Masyarakat diimbau memperhatikan informasi resmi dari RSUD Taman Husada Bontang, agar tetap memperoleh kepastian mengenai jadwal pelayanan yang dibutuhkan,” pungkasnya. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

Momentum Sumpah Pemuda, Direktur RSUD Bontang Ajak Generasi Muda Berjuang Lewat Pelayanan dan Kepedulian

0
Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP., FIHA., mengajak generasi muda menjadikan semangat Sumpah Pemuda sebagai dorongan untuk meningkatkan kepedulian dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. (Istimewa)

BONTANG – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum bagi generasi muda untuk menunjukkan pengabdian melalui tindakan nyata. Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP., FIHA., mengajak pemuda, khususnya yang bergerak di bidang kesehatan, meneruskan semangat perjuangan melalui pelayanan yang tulus, kepedulian terhadap pasien, serta inovasi yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Suhardi dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda yang mengusung semangat “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, perjuangan generasi muda saat ini memiliki tantangan berbeda dibandingkan masa perjuangan kemerdekaan. Semangat patriotisme tidak lagi hanya diwujudkan melalui perjuangan fisik, tetapi juga melalui kontribusi dalam pekerjaan dan kehidupan sosial.

“Bukan lagi mengangkat bambu runcing, namun perjuangan para pemuda masa kini diwujudkan lewat ketulusan melayani, kepedulian sosial, dan karya nyata bagi sesama,” kata Suhardi.

Ia menilai nilai-nilai Sumpah Pemuda tetap relevan dalam dunia pelayanan kesehatan, terutama semangat pantang menyerah, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Di lingkungan rumah sakit, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kesungguhan tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas, memberikan pelayanan yang baik, serta memperhatikan kebutuhan pasien.

Suhardi mengatakan pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan medis dan ketersediaan fasilitas. Sikap empati serta kepedulian terhadap kondisi pasien juga menjadi bagian penting dalam membangun kualitas pelayanan.

“Terlebih lagi, bagi pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tindakan medis saja, tetapi juga menyangkut empati, ketulusan, dan perhatian terhadap kebutuhan pasien,” ungkapnya.

Menurutnya, semangat tersebut perlu terus diperkuat di lingkungan RSUD Taman Husada Bontang sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang melayani masyarakat Kota Bontang dan wilayah sekitarnya.

Ia juga mendorong generasi muda yang bekerja di sektor kesehatan untuk terus mengembangkan kemampuan dan menghadirkan inovasi sesuai perkembangan kebutuhan masyarakat.

Kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran, menurutnya, perlu diimbangi dengan sikap profesional dan kepedulian terhadap pasien.

Melalui peringatan Sumpah Pemuda, Suhardi berharap generasi muda tidak hanya menjadi penerus tenaga kesehatan, tetapi juga mampu memberikan gagasan dan kontribusi dalam meningkatkan mutu pelayanan.

“Teruslah berkarya, berinovasi, dan menjadi inspirasi, para pemuda-pemudi penjaga kesehatan bangsa,” pesannya. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

Pemkab Kukar Upayakan Pemerataan Listrik, Sepatin hingga Mangkubur Jadi Perhatian

0

TENGGARONG – Pemerataan akses listrik di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah, terutama di permukiman terpencil yang jauh dari pusat desa. Kawasan Sepatin, Dusun Tanjung Belukan, dan Dusun Mangkubur menjadi sejumlah lokasi yang masih membutuhkan dukungan penyediaan listrik.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, mengatakan pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat terus diupayakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi geografis serta kemampuan anggaran daerah.

“Pemenuhan listrik ditargetkan menjangkau seluruh wilayah, termasuk titik-titik yang masih berada di kawasan terpencil atau remote area,” ujar Arianto, Rabu (28/10/2026).

Menurut Arianto, tantangan pemerataan listrik tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan anggaran. Letak permukiman yang terpisah dari desa induk dan jauh dari pusat pelayanan juga membuat penyediaan energi membutuhkan pendekatan yang berbeda di setiap wilayah.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah perlu menyesuaikan metode penyediaan listrik dengan karakteristik permukiman. Wilayah yang memungkinkan dijangkau pembangkit komunal dapat menggunakan sistem tersebut, sedangkan permukiman yang tersebar membutuhkan alternatif lain.

Salah satu upaya penyediaan listrik telah dilakukan di Desa Sepatin melalui pembangunan Pembangkit Listrik Komunal. Secara fisik, pembangunan fasilitas tersebut telah rampung 100 persen.

Namun, penyelesaian pembangunan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan listrik masyarakat. Kapasitas daya yang tersedia saat ini masih terbatas dan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga.

DPMD Kukar pun membuka peluang peningkatan kapasitas pembangkit agar pasokan listrik di kawasan tersebut lebih memadai. Pelaksanaannya tetap bergantung pada kemampuan keuangan daerah.

“Ke depan, apabila kondisi keuangan daerah memungkinkan, kami akan mengupayakan peningkatan kapasitas pembangkit agar masyarakat memperoleh pasokan listrik yang memadai,” jelasnya.

Peningkatan kapasitas menjadi salah satu kebutuhan lanjutan setelah pembangunan fisik selesai. Dengan daya yang lebih besar, fasilitas pembangkit diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat yang selama ini masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik.

Selain mengoptimalkan pembangkit komunal, Pemkab Kukar juga mengupayakan alternatif penyediaan listrik bagi permukiman yang lokasinya terpencar dan sulit dijangkau sistem pembangkit bersama.

Salah satu opsi yang disiapkan adalah Solar Home System (SHS), yakni sistem penyediaan listrik berbasis energi surya untuk masing-masing rumah. Skema ini memungkinkan rumah tangga memperoleh sumber listrik secara individual tanpa harus bergantung pada jaringan atau fasilitas pembangkit komunal.

Penggunaan SHS dinilai dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat desa maupun infrastruktur kelistrikan yang tersedia. Penerapannya akan disesuaikan dengan kondisi permukiman dan kebutuhan warga.

Arianto berharap pemerataan listrik dapat terus dilaksanakan secara bertahap sehingga masyarakat di wilayah terpencil juga memiliki akses energi untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Upaya tersebut mencakup penyediaan fasilitas baru, peningkatan kapasitas pembangkit yang sudah tersedia, serta penggunaan teknologi alternatif bagi permukiman yang sulit dijangkau. Meski demikian, realisasinya tetap mempertimbangkan kebutuhan di lapangan dan kemampuan pembiayaan daerah.

Dengan pendekatan yang disesuaikan untuk setiap wilayah, Pemkab Kukar berupaya memperluas jangkauan layanan listrik agar tidak hanya dinikmati masyarakat di kawasan yang mudah dijangkau, tetapi juga warga yang tinggal di permukiman terpencil. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R

Dua Desa Masuk Kutai Timur, Perda Lama Jadi Kendala Pemekaran Muara Kaman

0
Kepala DPMD Kukar, Arianto. (Foto: Ady/Koran Nusantara)

TENGGARONG– Rencana pemekaran Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih terkendala regulasi lama yang tidak lagi dapat diterapkan. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar mengusulkan pencabutan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kecamatan Sedulang yang terbit pada 1999, setelah perubahan wilayah administrasi membuat dua desa masuk Kabupaten Kutai Timur.

Kepala DPMD Kukar, Arianto, menjelaskan Perda Kecamatan Sedulang diterbitkan bersamaan dengan regulasi pemekaran Kabupaten Kutai Timur dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Namun, perubahan batas wilayah membuat rencana pembentukan Kecamatan Sedulang tidak dapat dilanjutkan sesuai ketentuan awal.

“Perda tersebut tidak bisa diterapkan atau digunakan karena sebagian desanya sekarang masuk wilayah Kutai Timur. Akibatnya, jumlah desa yang tersisa tidak mencukupi untuk membentuk sebuah kecamatan,” ujar Arianto, Rabu (28/10/2026).

Menurut Arianto, sekitar dua desa yang semula masuk dalam rencana pembentukan Kecamatan Sedulang kini berada di wilayah administrasi Kutai Timur. Kondisi itu membuat jumlah desa yang tersisa tidak memenuhi kebutuhan untuk membentuk kecamatan baru berdasarkan rencana awal.

Persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang harus diselesaikan sebelum proses pemekaran Kecamatan Muara Kaman dilanjutkan. DPMD Kukar menilai pencabutan Perda Kecamatan Sedulang perlu dilakukan agar tidak ada regulasi lama yang menghambat penataan wilayah berikutnya.

Arianto mengatakan usulan pencabutan perda tersebut telah disampaikan dalam pembahasan mengenai wacana pemekaran Kecamatan Muara Kaman. Setelah persoalan regulasi diselesaikan, pemerintah daerah akan mengupayakan kelanjutan proses pemekaran.

“Karena itu, dalam pembahasan mengenai wacana pemekaran Kecamatan Muara Kaman, kami mengusulkan agar Perda tentang Kecamatan Sedulang dicabut terlebih dahulu. Setelah Perda tersebut dicabut, kami akan mengupayakan agar pemekaran Kecamatan Muara Kaman bisa segera dilaksanakan,” jelasnya.

Selain penyelesaian regulasi, pemerintah daerah masih membahas lokasi yang akan dijadikan ibu kota kecamatan hasil pemekaran. Penentuan lokasi menjadi bagian penting dalam perencanaan agar pusat pemerintahan mudah dijangkau oleh masyarakat di wilayah baru tersebut.

Dalam rencana yang dibahas, setidaknya terdapat 10 desa yang diproyeksikan masuk ke Kecamatan Muara Kaman hasil pemekaran. Karena itu, penentuan lokasi ibu kota perlu mempertimbangkan persebaran desa dan kemudahan akses bagi warga.

Arianto menegaskan, lokasi pusat pemerintahan sebaiknya berada di posisi yang relatif strategis sehingga masyarakat dari seluruh desa tidak mengalami kesulitan ketika mengurus administrasi maupun mengakses pelayanan pemerintah.

“Prinsipnya, lokasi ibu kota kecamatan sebaiknya mudah diakses oleh seluruh desa di wilayah tersebut,” katanya.

Pencabutan Perda Kecamatan Sedulang dan pembahasan ibu kota kecamatan menjadi bagian dari pekerjaan yang perlu dituntaskan sebelum rencana pemekaran dapat direalisasikan. Dengan penyelesaian regulasi, pemerintah daerah berharap proses penataan wilayah bisa dilanjutkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Pemekaran kecamatan diharapkan dapat mendukung efektivitas penyelenggaraan pemerintahan serta mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Namun, rencana tersebut masih membutuhkan penyelesaian tahapan regulasi dan pembahasan administratif sebelum dapat diwujudkan. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nciha R

Pasien Poli Jiwa RSUD Bontang Terus Meningkat, Hampir Setiap Hari Ada Pasien Baru

0

BONTANG – Kunjungan pasien ke Poli Jiwa RSUD Taman Husada Bontang terus meningkat setiap tahun. Bahkan, hampir setiap hari terdapat pasien baru yang datang untuk berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan mental. Namun, peningkatan tersebut tidak serta-merta menunjukkan semakin banyak warga mengalami gangguan jiwa berat. Kesadaran masyarakat untuk mencari pertolongan medis dinilai turut memengaruhi bertambahnya kunjungan.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD Taman Husada Bontang, dr. Dewi Maharni, M.Sc., Sp.KJ., mengatakan peningkatan kunjungan menjadi salah satu perkembangan positif dalam pelayanan kesehatan mental.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang mulai memahami pentingnya menjaga kesehatan jiwa dan tidak lagi ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional.

“Bisa jadi sekarang masyarakat mulai lebih terbuka. Yang awalnya takut untuk speak up, sekarang mulai berani datang ke Poli Jiwa,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).

Dewi menjelaskan, meningkatnya jumlah pasien tidak dapat langsung diartikan sebagai peningkatan kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Bontang.

Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi semakin luasnya informasi dan edukasi kesehatan mental yang diperoleh masyarakat melalui berbagai media.

Selama ini, masih terdapat anggapan bahwa Poli Jiwa hanya melayani pasien dengan gangguan kejiwaan berat. Padahal, layanan tersebut juga terbuka untuk masyarakat yang mengalami keluhan emosional maupun psikologis yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Beberapa keluhan yang dapat dikonsultasikan meliputi kesulitan tidur, perubahan pola makan, kecemasan berlebihan, kesedihan berkepanjangan, hingga kondisi emosi yang sulit dikendalikan.

Keluhan tersebut perlu mendapat perhatian, terutama apabila berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari.

“Gejala kejiwaan itu ada banyak, termasuk gangguan tidur, makan, kecemasan, kesedihan, atau emosi yang tidak stabil. Itu bisa dikontrol dan dikonsultasikan ke Poli Jiwa,” jelasnya.

Menurut Dewi, masyarakat tidak perlu menunggu sampai keluhan yang dialami semakin berat untuk mencari pertolongan.

Konsultasi sejak awal dapat membantu tenaga medis memahami kondisi pasien, melakukan pemeriksaan, serta menentukan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua keluhan psikologis menunjukkan seseorang mengalami gangguan mental tertentu. Penilaian kondisi pasien tetap memerlukan pemeriksaan oleh tenaga profesional.

Karena itu, masyarakat diharapkan tidak melakukan penilaian sendiri hanya berdasarkan gejala yang dirasakan atau informasi yang diperoleh dari media sosial.

Dewi menekankan pentingnya menghilangkan stigma terhadap layanan kesehatan jiwa. Menurutnya, datang ke Poli Jiwa bukan berarti seseorang mengalami gangguan jiwa berat.

Sama seperti pemeriksaan kesehatan fisik, konsultasi kesehatan mental merupakan bagian dari upaya menjaga kondisi kesehatan secara menyeluruh.

Ia berharap semakin banyak masyarakat yang bersedia mencari bantuan ketika menghadapi persoalan psikologis, tanpa merasa malu atau takut mendapat penilaian negatif.

“Dengan meningkatnya kesadaran tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi merasa malu atau takut untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional ketika mengalami masalah kesehatan mental,” bebernya. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

1.600 Perangkat Desa di Kukar Berpeluang Kuliah S1, DPMD Jajaki Kerja Sama Unikarta

0
Kepala DPMD Kukar, Arianto. (Foto: Ady/Koran Nusantara)

TENGGARONG – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjajaki kerja sama dengan perguruan tinggi untuk membuka akses pendidikan sarjana bagi kepala desa dan perangkat desa yang belum bergelar sarjana.

Rencana ini menyasar sekitar 1.600 perangkat desa, dengan Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) sebagai salah satu kandidat mitra.

Kepala DPMD Kukar, Arianto, mengatakan peningkatan kompetensi aparatur desa perlu mendapat perhatian karena mereka berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pengembangan kapasitas tidak semestinya hanya menyasar aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga kepala desa dan perangkat desa.

“Program peningkatan kompetensi tidak hanya terbatas bagi ASN. Kepala desa dan perangkat desa juga akan didorong agar memiliki kompetensi yang memadai sebagai pelayan masyarakat,” ujar Arianto, Rabu (28/10/2026).

DPMD Kukar masih mengkaji skema yang memungkinkan perangkat desa melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana. Salah satu opsi yang dijajaki ialah menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi untuk membuka kelas khusus bagi aparatur pemerintahan desa.

Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) menjadi salah satu kampus yang berpeluang diajak bekerja sama. Keberadaan perguruan tinggi di daerah diharapkan dapat mempermudah akses pendidikan bagi perangkat desa tanpa harus mencari program di luar wilayah Kukar.

Namun, rencana tersebut belum memasuki tahap pelaksanaan. DPMD Kukar masih perlu membicarakan kemungkinan kerja sama dengan pihak kampus, termasuk skema pembelajaran, persyaratan akademik, dan mekanisme penerimaan peserta.

Arianto mengatakan program pendidikan nantinya perlu disesuaikan dengan pekerjaan peserta. Dengan begitu, materi yang diperoleh di bangku kuliah dapat mendukung tugas mereka dalam mengelola pemerintahan dan melayani warga.

“Ya, akan disesuaikan dengan profesi mereka sebagai pelayan masyarakat,” katanya.

Jumlah perangkat desa di Kukar yang mencapai kurang lebih 1.600 orang menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun rencana tersebut. DPMD perlu memastikan skema yang disiapkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi aparatur desa yang ingin melanjutkan pendidikan.

Jika kelas khusus dapat diwujudkan, program ini berpotensi membuka kesempatan bagi perangkat desa yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana. Meski demikian, jangkauan peserta dan pelaksanaannya masih bergantung pada hasil pembahasan dengan perguruan tinggi.

DPMD Kukar berharap peningkatan pendidikan dapat berjalan seiring dengan penguatan kompetensi aparatur desa. Kualifikasi akademik diharapkan menjadi salah satu bekal untuk meningkatkan kemampuan administrasi, pengelolaan pemerintahan, serta kualitas pelayanan publik.

Arianto menegaskan, pihaknya ingin aparatur desa yang belum bergelar sarjana memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

“Harapan kami, perangkat desa yang belum sarjana bisa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hingga menjadi sarjana,” tutupnya. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R

Ekspor Gas ke Singapura Dipangkas, Luhut Pastikan Tak Picu Konflik

0
JAKARTA — Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan memastikan rencana pengurangan ekspor gas Indonesia ke Singapura tidak akan memicu konflik antarkedua negara. Kebijakan tersebut menjadi perhatian di tengah upaya pemerintah memperkuat pasokan energi untuk kebutuhan industri dalam negeri.

Luhut menegaskan pentingnya menjaga hubungan baik dengan Singapura dalam penyesuaian kebijakan energi. Pengurangan ekspor gas diharapkan dapat dilakukan melalui komunikasi dan koordinasi sehingga kepentingan nasional tetap terjaga tanpa mengganggu hubungan bilateral.

Koran Nusantara edisi ini juga mengulas rencana penyaluran Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp900 ribu kepada pekerja. Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Keuangan masih menyiapkan mekanisme teknis penyaluran bantuan tersebut.

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini Digital Koran Nusantara? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

https://koran.koranusantara.com
https://digital.koranusantara.com/kn28okt2026/mobile/

Koran Nusantara – Aktual dan Terpercaya.

Sumpah Pemuda ke-98, Kegigihan Generasi Muda Dibutuhkan

0
Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang digelar di halaman Kantor Bupati Berau.

BERAU – Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, bertindak sebagai pembina upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang digelar di halaman Kantor Bupati Berau, Rabu (28/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Sri Juniarsih membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir. Dalam sambutan tersebut, ditegaskan bahwa ikrar Sumpah Pemuda yang dicetuskan 98 tahun lalu merupakan janji yang menyatukan perbedaan dan memperkuat tekad untuk berdiri sebagai satu bangsa Indonesia.

Semangat tersebut, menurutnya, harus terus hidup dalam karakter setiap generasi penerus, bukan sekadar menjadi bagian dari sejarah yang diperingati setiap tahun.

“Kita ingin membangun Indonesia yang maju, tetapi kemajuan bukan hanya tentang gedung yang menjulang tinggi, teknologi yang semakin canggih, atau kekayaan yang melimpah,” ujar Sri Juniarsih.

Disebutkan, kemajuan sejati harus dimulai dari kualitas manusia, mulai dari karakter, kecintaan terhadap tanah air, semangat pantang menyerah, hingga kepedulian terhadap orang lain.

Karena itu, generasi muda diharapkan memiliki tiga karakter utama, yakni patriotik, gigih, dan berempati. Patriotisme tidak cukup ditunjukkan melalui kata-kata, melainkan harus diwujudkan dalam pengabdian dan tindakan nyata.

Sementara kegigihan dibutuhkan agar pemuda tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan maupun kegagalan. Adapun empati menjadi pengingat agar keberhasilan pribadi tidak membuat seseorang melupakan kondisi orang lain yang membutuhkan pertolongan.

“Patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan makna. Kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arah dan kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya,” ucapnya.

Ia juga mengajak para pemuda Indonesia untuk berani bermimpi besar, bekerja keras, serta menjadi pribadi yang kuat tanpa kehilangan kelembutan hati.

Generasi muda juga diharapkan berani mengambil peran sebagai pemimpin sekaligus bersedia melayani masyarakat di mana pun berada.

“Kita berharap setiap ilmu, karya, dan pengorbanan yang dilakukan pemuda menjadi bentuk nyata kecintaan terhadap Indonesia,” pungkasnya. (adv)

Sri Juniarsih: PLN Harus Ada Langkah Antisipasi Jika Permasalahan Listrik Terjadi Kembali

0
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, saat memimpin rakor terkait gangguan listrik di Kabupaten Berau.

BERAU – Gangguan pasokan listrik yang memicu keresahan masyarakat Berau menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, meminta PLN tidak hanya berfokus pada perbaikan jaringan, tetapi juga menyiapkan langkah antisipasi agar dampak pemadaman tidak terus dirasakan masyarakat tanpa kepastian.

Hal itu disampaikan Sri Juniarsih saat memimpin rapat koordinasi membahas tuntutan masyarakat terkait gangguan listrik di Ruang Rapat Kakaban, Sekretariat Kabupaten (Setkab) Berau, Selasa (27/10/2026).

Rapat tersebut dihadiri perwakilan masyarakat, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kesultanan Gunung Tabur dan Sambaliung, PLN UP3 Berau, serta pihak PLTU Lati.

Dalam pertemuan itu, Sri Juniarsih menekankan pentingnya langkah penanganan yang jelas selama proses pemulihan berlangsung.

“Masyarakat butuh kepastian terkait perkembangan perbaikan, bukan hanya menunggu hingga sistem kelistrikan kembali normal,” ujarnya.

Ia meminta PLN memprioritaskan perbaikan jaringan sekaligus menyiapkan upaya untuk mengurangi dampak gangguan terhadap aktivitas masyarakat.

Selain itu, komunikasi antara PLN dan pemerintah daerah dinilai perlu diperkuat. Keterbukaan informasi mengenai perkembangan penanganan gangguan diperlukan agar pemerintah dapat memantau proses perbaikan dan segera menindaklanjuti persoalan yang masih muncul.

“Saya berharap koordinasi antara PLN UP3 Berau, PLTU Lati, dan pihak terkait menghasilkan langkah penanganan yang terukur,” harapnya.

Lebih lanjut, evaluasi terhadap titik-titik jaringan yang kerap mengalami gangguan turut menjadi perhatian. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan risiko pemadaman berulang sekaligus meningkatkan keandalan pasokan listrik di Kabupaten Berau.

“Harus ada evaluasi dari PLN agar persoalan seperti ini tidak terus berulang dan masyarakat dapat kepastian layanan listrik,” pungkasnya. (adv)

Bupati Kukar Dukung SAE Pastarung untuk Tingkatkan Keterampilan Warga Binaan

0
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri saat meresmikan SAE Pastarung. (Foto: Ady/Koran Nusantara)

TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, mendukung pengembangan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Pastarung di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong sebagai pusat pemberdayaan warga binaan.

Dukungan tersebut disampaikan Aulia saat meresmikan SAE Pastarung di Jalan Mangkuraja, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong pada Selasa (27/10/2026).

Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi bagian dari upaya membekali warga binaan dengan kemampuan yang berguna ketika kembali ke tengah masyarakat.

Menurut Aulia, SAE Pastarung tidak semestinya hanya menjadi fasilitas pendukung di lingkungan lapas. Lebih dari itu, tempat tersebut diharapkan mampu menjadi ruang bagi warga binaan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, dan menjalani kegiatan produktif selama mengikuti pembinaan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar pun membuka peluang dukungan melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan kebijakan yang dimiliki pemerintah daerah.

“Kami dari pemerintah daerah mengapresiasi dan menyambut baik hadirnya Saipastarung ini. Kita berharap ini benar-benar menjadi tempat untuk memberdayakan warga binaan yang ada di Lapas Tenggarong itu sendiri,” kata Aulia.

Bagi Pemkab Kukar, pemberdayaan warga binaan menjadi bagian penting dari proses pembinaan agar mereka memiliki kesiapan lebih baik saat kembali menjalani kehidupan di luar lapas.

Aulia menegaskan, pemerintah daerah dapat mengambil peran dengan mendukung kegiatan yang dikembangkan Lapas Tenggarong. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program sekaligus memperluas manfaatnya bagi warga binaan.

Keterlibatan OPD terkait berpotensi membuka ruang kolaborasi sesuai dengan bidang dan kewenangan masing-masing. Namun, bentuk program, besaran dukungan, serta perangkat daerah yang akan terlibat masih perlu diperjelas agar komitmen tersebut dapat diterjemahkan menjadi kegiatan konkret.

Dengan demikian, keberadaan SAE Pastarung tidak berhenti pada peresmian fasilitas, tetapi dapat berkembang menjadi sarana pembinaan yang berkelanjutan.

Pembinaan di dalam lapas memiliki tujuan yang lebih luas daripada menjalani masa pidana. Warga binaan juga perlu mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan kehidupan setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Dalam konteks tersebut, SAE Pastarung diharapkan mampu mendukung peningkatan keterampilan dan produktivitas warga binaan. Kemampuan yang diperoleh selama mengikuti kegiatan pemberdayaan dapat menjadi modal untuk beradaptasi kembali dengan lingkungan sosial.

Aulia berharap warga binaan yang telah menjalani proses pembinaan dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, produktif, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan tempat tinggalnya.

“Kita berharap warga binaan yang ada di Lapas Tenggarong itu setelah menjalani proses pembinaan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih produktif lagi, lebih bermanfaat lagi bagi warga masyarakat yang ada di sekitar atau di tempat di mana beliau kembali nanti menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah-tengah masyarakat,” ujar Aulia. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R