Beranda blog Halaman 351

Kejati Bengkulu Sita Aset Tersangka Kasus Korupsi Tambang Batu Bara

0

BENGKULU – Tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi Bengkulu melakukan penggeledahan di rumah Agusman dan istri keempat Bebby Hussy yang merupakan tersangka kasus korupsi tambang batu bara di wilayah tersebut.

Untuk penggeledahan di rumah tersangka Agusman dilakukan pada Minggu (3/8) di dua lokasi berbeda yaitu Kelurahan Lingkar Barat dan istri keempat Bebby Hussy Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu.

“Bahwa benar, tim kami telah melakukan penggeledahan di rumah salah satu tersangka kasus dugaan korupsi tambang batu bara di Bengkulu dan kami telah menyita beberapa barang berharga milik Agusman dan istrinya, serta di rumah salah satu istri Bos tambang batubara, yaitu istri keempat Bebby Hussy sebagai tindak proses hukum itu akan mengembalikan proses kerugian negara,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum (Penkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu Ristianti Andriani di Kota Bengkulu, Minggu (3/8/2025).

Ia menyebut bahwa penyitaan terhadap sejumlah aset yang memiliki nilai tinggi disita karena diduga terkait hasil tindak pidana korupsi.

Untuk barang yang disita dari tersangka Agusman yaitu satu unit mobil Pajero tahun 2023, empat lembar uang pecahan 100 dollar AS, tujug kartu ATM dari berbagai bank seperti Maybank, BNI, BCA, dan Panin Bank, sejumlah perhiasan emas, tas mewah seperti Coach, Marc Jacobs, dan Tory Burch.

Kemudian, satu bundel dokumen Executive Summary PT Inti Bara Perdana tahun 2025, yang kini turut diamankan sebagai bahan pendalaman penyidikan.

Sedangkan dari rumah istri keempat tersangka Bebby Hussy aset yang disita diantaranya satu unit mobil Toyota Rush tahun 2022, uang tunai sebesar Rp24,8 juta, empat sertifikat hak milik.

Puluhan unit perabotan rumah tangga mewah, sejumlah tas bermerek seperti Coach, Louis Vuitton dengan total aset yang disita mencapai 29 item.

“Penyidikan terus berkembang dan tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru,” terang Ristianti.

Sebelumnya, pada kasus korupsi produksi dan ekplorasi pertambangan batu bara milik PT Ratu Samban Mining dan PT Tunas Bara Jaya diduga melakukan merambah kawasan hutan dan melakukan penjualan batu bara secara tidak sah atau tidak sesuai dengan aturan yang berlaku Kejati telah menetapkan tujuh orang tersangka.

Sebanyak sembilan orang tersangka tersebut yaitu Kepala Cabang PT Sucofindo Regional Bengkulu yaitu Imam Sumantri (IS) dan Direktur PT Ratu Samban Mining Edhie Santosa (EDH), Komisaris Tunas Bara Jaya Bebby Hussy, General Manager PT Inti Bara Perdana Saskya Hussy sebagai tersangka kasus korupsi tambang batu bara.

Selanjutnya, Direktur Utama Tunas Bara jaya Julius Soh, Marketing PT Inti Bara Perdana Agusman, Direktur Tunas Bara Jaya Sutarman sebagai tersangka, mantan Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba Kementerian ESDM Sunindyo Suryo Herdadi (SSH), dan Komisaris PT Ratu Samban Mining David Alexander. (ANT/KN)

Presiden Prabowo Apresiasi Penurunan Drastis Kasus Karhutla

0

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi kinerja seluruh kementerian/lembaga terkait atas capaian angka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menurun drastis sepanjang tahun ini.

Hal itu diinformasikan laman resmi media sosial Sekretariat Kabinet di Jakarta, Minggu (3/8/2025), berdasarkan hasil rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto secara virtual dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Dalam kesempatan ini, Presiden mengapresiasi upaya yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup beserta kementerian terkait lainnya dan tim penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,” demikian keterangan Sekretariat Kabinet melalui laman media sosialnya di Jakarta, Minggu (3/8/2025).

Berdasarkan laporan terkini, luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia per 1 Agustus 2025 tercatat mencapai 8.955 hektare, atau turun drastis sebesar 33,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 376.805 hektare.
Meski demikian, Presiden mengingatkan seluruh tim penanganan karhutla untuk tidak lengah.

Merujuk pada prakiraan BMKG, musim kemarau diprediksi masih berlangsung hingga akhir Agustus, yang meningkatkan potensi kebakaran di sejumlah wilayah rawan.
“Penegakan hukum juga terus dilakukan terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan,” katanya.

Turut hadir sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dalam agenda rapat terbatas secara virtual bersama Presiden, di antaranya Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dan Panglima TNI Agus Subianto.

Berdasarkan data yang diterima BNPB pada Sabtu (2/8) dilaporkan semua titik panas yang membakar Kalimantan Barat menjadi nol titik panas.

Untuk menghadapi karhutla selama musim kemarau di Kalimantan Barat, pemerintah melalui Kemenko Polhukam memperkuat koordinasi lintas sektor dan mempercepat respons di lapangan.

Tim Pemantauan Desk Penanganan Karhutla yang dipimpin Kolonel Inf Heri Budi Purnomo melakukan kunjungan kerja ke sejumlah wilayah rawan pada 23–26 Juli 2025.

Langkah cepat seperti pengerahan helikopter water bombing, percepatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan mobilisasi sumber daya manusia tengah diupayakan untuk menekan jumlah titik panas, yang mencapai 399 hotspot per 23 Juli, dengan konsentrasi tertinggi di Sanggau, Sintang, dan Mempawah. (ANT/KN)

Terasi dan Ebi Berau Diakui Daerah Lain, Bupati Minta Mata Rantai Diputus

BERAU – Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menyoroti persoalan klasik yang hingga kini belum terselesaikan, yakni mata rantai perdagangan terasi dan ebi (udang kering) asal Berau yang justru lebih banyak diakui sebagai produk dari provinsi lain.

Menurutnya, potensi besar seperti terasi dan ebi di berbagai kampung di Berau belum dikelola secara maksimal oleh masyarakat maupun pemerintah daerah.

“Kenapa saya bilang miris? Karena kita punya potensi terasi yang luar biasa, tapi justru dibeli oleh tengkulak dari provinsi lain. Setelah dibawa ke sana, diproduksi dan dikemas ulang, lalu diakui sebagai produk mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu kasus terjadi ketika bahan baku terasi, termasuk garam, dikirim ke luar daerah dalam jumlah besar, mencapai 40 ton. Sayangnya, nama daerah asal seperti Berau justru tidak tercantum dalam kemasan akhir produk.

“Walaupun sekarang sudah ada kemasan terasi lokal, itu baru sebagian kecil. Mayoritas masih belum kita kelola sendiri. Ini yang harus jadi perhatian bersama,” tegasnya.

Ia berharap, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Berau dapat menjalin sinergi dengan kepala kampung untuk memutus mata rantai ketergantungan kepada tengkulak.

“Kenapa tidak kita kelola sendiri? Terasi kita terkenal sebagai salah satu yang terbaik dari sisi kualitas. Kampung Batumbuk dan sejumlah kampung di atas air punya potensi besar di sektor ini,” jelasnya.

Ia juga menyebut telah beberapa kali berkomunikasi dengan Bank Indonesia untuk mencari solusi atas dominasi tengkulak dalam pengelolaan hasil laut seperti terasi dan ebi. Meski BI menunjukkan dukungan, Bupati menyebut upaya tersebut masih belum bisa dilakukan sepenuhnya karena para tengkulak masih mendepositkan uangnya.

Selain terasi, ia juga menyoroti produk ebi atau udang kering yang saat ini banyak ditemukan di provinsi tetangga, namun tidak diakui berasal dari Berau.

“Saya dengar udang kering atau ebi yang berkualitas justru dipasarkan di provinsi yang paling dekat dengan Berau. Mereka mengklaim itu milik mereka, padahal aslinya dari Berau,” ujarnya.

Untuk itu, Bupati Sri menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dan penguatan koperasi lokal sebagai solusi jangka panjang. Menurutnya, jika potensi lokal dikelola langsung oleh koperasi di Berau, dampaknya akan sangat besar terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Kalau kita kelola bersama lewat koperasi, saya yakin ekonomi masyarakat akan lebih baik ke depan,” pungkasnya. (adv/srn/set)

Dorong Ekonomi Berkelanjutan, Bupati Berau Ajak Kampung Gali Potensi Wisata

BERAU – Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengajak seluruh kampung dan kelurahan di Kabupaten Berau untuk menggali dan mengembangkan potensi sumber daya alam serta sektor unggulan lainnya guna mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat.

Dikatakannya, Kabupaten Berau memiliki 100 kampung yang masing-masing menyimpan potensi lokal yang besar. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, potensi tersebut dapat menjadi nilai tambah ekonomi yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

“Kita punya 100 kampung dan 10 kelurahan. Dengan potensi yang ada, produk-produk unggulan yang dimiliki setiap wilayah bisa menjadi sumber ekonomi baru yang sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi sumber daya alam yang selama ini diandalkan, seperti tambang, bersifat tidak terbarukan dan suatu saat akan habis. Untuk itu, ia mendorong pemerintah kampung untuk mulai beralih dan fokus pada potensi lain yang lebih berkelanjutan.

“Sumber daya tambang pasti akan habis. Tapi kita punya kekayaan lain yang bisa terus dikembangkan, seperti sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pertanian,” terangnya.

Salah satu contoh kampung yang dianggap berhasil dalam pengelolaan potensi lokal adalah Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan. Kampung ini dinilai sukses mengembangkan sektor pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif sehingga mampu bersaing di tingkat provinsi.

“Kampung Dumaring menjadi contoh nyata. Mereka kemarin ikut lomba desa tingkat provinsi Kalimantan Timur dan alhamdulillah meraih juara dua,” ungkapnya.

Selain sektor pariwisata, Bupati juga menekankan potensi besar di sektor pertanian, khususnya komoditas kakao. Ia menyebutkan bahwa Berau memiliki salah satu kakao terbaik di Indonesia, dan perlu dikembangkan.

“Potensi kakao kita sangat luar biasa. Ini saya harapkan bisa menjadi perhatian pemerintah kampung. Kalau dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber peningkatan ekonomi masyarakat secara langsung,” pungkasnya. (adv/srn/set)

Ribuan Burung Adu Gacor di Lomba Kicau Bupati Kukar Cup 2025

TENGGARONG – Ribuan burung dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim), bersaing dalam Festival dan Lomba Burung Berkicau Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Cup 2025. Ajang yang digelar di Gantangan Ketinjau Aji Imbut, Tenggarong Seberang ini menjadi magnet bagi pecinta burung dari dalam dan luar daerah.

Lomba yang digagas Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar ini, merupakan bagian dari festival olahraga masyarakat dan telah rutin difasilitasi sejak tiga tahun terakhir. Tahun ini, sebanyak 1.250 peserta dari berbagai kabupaten kota di Kaltim turut ambil bagian.

Kepala Dispora Kukar, Aji Ali Husni, menjelaskan bahwa event ini menjadi salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar dalam mendukung komunitas pecinta burung. Ia menegaskan bahwa Bupati Cup bukan hanya sekadar kompetisi, tapi juga ajang silaturahmi lintas komunitas.

“Alhamdulillah, tahun ini peserta sangat antusias. Kita buka secara umum dan banyak yang datang dari luar Kukar. Total ada lebih dari 1.250 peserta,” ujar Aji Ali, Minggu (3/8/2025).

Suasan pelaksanaan Festival dan Lomba Burung Berkicau Bupati Kukar Cup 2025. (Ady/MKG)

Dalam lomba kali ini, panitia menyediakan 30 kategori yang dilombakan, meliputi berbagai jenis burung kicau. Semua kategori mengacu pada standar perlombaan yang lazim digelar di Kaltim.

Gantangan Ketinjau Aji Imbut dipilih sebagai lokasi lomba karena memang telah diperuntukkan untuk komunitas burung Kukar. Selain kompetisi, lokasi ini juga digunakan untuk latihan rutin komunitas.

“Harapan kami, kegiatan ini dapat menjadi bentuk pelayanan nyata dari pemerintah daerah kepada komunitas, sesuai visi Kukar Idaman Terbaik,” lanjut Aji Ali.

Ia juga menekankan bahwa lomba burung berkicau ini membawa dampak ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) lokal. Selama acara berlangsung, puluhan pelaku usaha kecil meramaikan area gantangan dengan berbagai produk dagangan.

“Banyak UMKM terlibat dan insyaallah ini memberi dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar,” ujarnya. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i

Bontang Punya Sunday Market, Segera Disusul Car Free Night

Minggu pagi (3/8/2025), saya jogging di sekitar halaman parkir GOR PKT. Ini jadi salah satu pilihan rutin tiap akhir pekan. Tempatnya luas, aman, dan udaranya cukup segar. Pagi itu, saya berolahraga bersama istri dan putri saya. Kami mengambil rute ringan sambil menikmati suasana yang sudah ramai sejak pukul 06.00 Wita. Ada yang ikut senam sehat, ada yang jalan santai, dan tak sedikit yang datang untuk menikmati suasana Sunday Market.

Saat berkeliling, saya bertemu dengan beberapa wajah yang familiar. Lurah Loktuan tampak berlari ringan mengitari jalur luar gedung. Saya juga sempat menyapa Sigit Alfian, mantan Kepala Kesbangpol Kota Bontang, yang sedang jogging bersama keluarganya.
“Kalau saya ini sudah nggak sanggup cepat-cepat. Yang penting tetap rutin olahraga,” ujarnya sambil tersenyum. Beberapa tetangga dari Perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD) pun saya temui. Mereka juga menjadikan GOR PKT sebagai tempat olahraga yang nyaman dan terjangkau.

Saya bersama kawan saat jogging santai di kawasan GOR PKT.
Stan kopi dan jajanan ringan jadi tempat favorit pengunjung setelah olahraga.
Stan Sate Padang Denai dengan menu khas dan kolaborasi minuman Cappucino Cincau.

Suasana pagi itu memang ramai. Tenda biru Pegadaian berdiri di sisi kiri, menawarkan program tabungan emas dan cicilan logam mulia. Di sekitarnya, deretan stan makanan tersusun rapi. Ada “Susu Setia” seharga Rp3.000 per cup, soto Banjar, es doger, donat Bontang, dan berbagai jajanan lokal lainnya. Asap panggangan bercampur aroma makanan langsung menyambut pengunjung.

Salah satu stan yang juga menonjol adalah Sate Padang Denai. Dengan tenda biru dan backdrop merah mencolok, mereka menyajikan sate hangat lengkap dengan kuah kental dan bumbu rempah. Di meja depannya, tersedia pula minuman botolan hasil kolaborasi dengan Cappucino Cincau. Penjual sibuk memanggang sate, sementara antrean terus terbentuk. Stan ini terlihat rapi dan siap bersaing.

Di sisi lain kawasan, berbagai aktivitas juga berlangsung. Ada senam pagi yang diikuti puluhan warga, anak-anak yang bermain sepeda, ibu-ibu mendorong stroller, hingga remaja yang sibuk membuat konten di sekitar tenda. Tak jauh dari situ, sekelompok pemuda terlihat berlatih tinju di bawah arahan pelatih. Mereka berlatih teknik dasar, footwork, dan shadow boxing tanpa mengganggu lalu lintas pengunjung.

Sunday Market bukan hanya soal belanja. Banyak warga memanfaatkannya sebagai ruang olahraga dan tempat bersantai bersama keluarga. Seorang pedagang kopi, Nona, mengaku omzetnya cukup stabil. “Biasanya jam 12 baru habis. Tapi waktu GOR Lang-Lang direnovasi, di sini bisa lebih ramai. Jam 10 saja sudah habis,” katanya sambil melayani pembeli. Hal serupa disampaikan Dini (28), warga Loktuan yang rutin datang tiap Minggu pagi. “Di sini lengkap. Bisa senam, anak-anak bisa main, suami jogging, sekalian sarapan dan belanja,” ujarnya.

Saat GOR Lang-Lang (Bessai Berinta) direnovasi, GOR PKT menjadi lokasi alternatif utama bagi warga. Aktivitas yang padat saat itu berdampak langsung terhadap peningkatan omzet pelaku usaha. Hingga kini, kawasan ini tetap menjadi pusat keramaian yang konsisten. GOR PKT sendiri dilengkapi fasilitas lengkap: lapangan softball dan baseball, arena panahan, serta GOR serbaguna. Di Minggu pagi seperti ini, kawasan tersebut tak hanya berfungsi sebagai tempat olahraga, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup.

Sunday Market sudah berjalan sejak sebelum pandemi COVID-19, digagas oleh PT Pupuk Kaltim. Kegiatan ini sempat vakum dua tahun, lalu kembali aktif sejak Juni 2022. Kini, Sunday Market menjadi magnet mingguan yang menyatukan berbagai kalangan—dari anak muda, orang tua, pelaku UMKM, hingga instansi pelayanan publik. Sayangnya, ruang publik seperti ini masih terbatas di Bontang. Padahal, kesadaran warga untuk berolahraga semakin meningkat. Namun belum banyak tempat yang benar-benar mampu menampung aktivitas warga secara terintegrasi.

Karena itu, langkah Pemkot Bontang menggagas Car Free Night di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Api-api patut diapresiasi. Rencana ini sudah masuk tahap serius dan akan dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar Minggu (3/8) malam ini di Ruang Rapat DPMPTSP. Undangan resmi telah disebar ke sejumlah stakeholder, dan rapat tersebut akan dipimpin langsung Sekda Bontang. Artinya, ini bukan sekadar wacana, tapi sudah masuk dalam tahap desain teknis dan koordinasi lintas sektor.

Harapannya, konsep Car Free Night nanti bisa mengikuti pendekatan seperti Sunday Market di GOR PKT. Tidak sekadar menutup jalan, tapi juga memadukan aktivitas olahraga, pelibatan UMKM, dan kehadiran layanan publik. Supaya warga datang bukan hanya untuk jalan kaki, tapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dan sosial dalam satu tempat.

Kota yang berkembang bukan cuma soal proyek besar. Yang dibutuhkan warga adalah ruang bersama, aktif, aman, dan bisa dinikmati semua kalangan. Minggu pagi tadi, semuanya bisa dilihat langsung di GOR PKT: tertib, ramai, dan nyata. Semoga semangat yang sama segera bisa hadir di Jalan Ahmad Yani setiap malam akhir pekan. (*)

Oleh : Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Final Smansa vs YPK Bontang: Laga Panas, Sorakan Suporter, dan Emosional Orang Tua

SAYA tiba di Stadion Bessai Berinta atau Lang-Lang sekitar pukul 20.15 Wita, Sabtu (2/8) malam ini. Final pertandingan basket putra antara SMAN 1 Bontang (Smansa) dan SMA YPK Bontang sudah berlangsung sengit. Tribun penuh sesak oleh suporter masing-masing tim. Ribuan penonton mengelilingi lapangan, sebagian berdiri, sebagian lainnya duduk di pinggir lapangan demi menyaksikan laga yang sejak awal diprediksi akan panas.

Di lapangan sepak bola yang berada tepat di seberang arena basket, sejumlah pemain masih terlihat berlatih di bawah cahaya lampu sorot. Meski bukan bagian dari agenda resmi Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Himpunan Mahasiswa Bontang (HMB) Cabang Samarinda, keberadaan mereka ikut menghidupkan suasana.

Di sela jeda pertandingan, tiga penari dari SMA Islam Terpadu Daarul Hikmah Boarding School (DHBS) Bontang tampil di tengah lapangan basket. Mereka membawakan tarian Melayu dengan busana khas. Satu penari berdiri di depan, dua lainnya bersila. Gerakan mereka tegas dan ritmis. Puluhan kamera ponsel langsung terangkat, mengabadikan pertunjukan budaya di tengah atmosfer kompetisi olahraga.

Pemain YPK Bontang mendapatkan arahan pelatih.
Laga Smansa vs YPK berlangsung sengit.

Sementara itu, pemain dari Smansa dan YPK berdiskusi dengan pelatih masing-masing. Wajah mereka penuh keringat, strategi dibahas ulang. Di tribun, suasana semakin riuh. Suporter YPK tampil dominan dengan seragam biru tua dan maskot serigala berbaju basket nomor 5. Tak kalah semangat, pendukung Smansa membalas dengan barisan rapat dan yel-yel lantang.

Suporter Smansa tampil militan. Mereka mengenakan kaus marun bertuliskan “Mercury Smansa” dan memenuhi tribun tengah dengan formasi rapi.

Kedua suporter tampil kompak dan energik. Mereka terus menyuarakan dukungan lewat gerakan tangan serentak dan teriakan yang menggema. Beberapa memimpin chant di barisan depan, disambut gemuruh dari belakang. Mereka tidak sekadar menonton—mereka menjadi bagian dari pertandingan.

Pertandingan berlangsung sangat ketat. Skor sempat saling kejar. Smansa unggul tipis 25–24 sebelum akhirnya YPK membalikkan keadaan dan menutup laga dengan skor 39–33.

Laga ini menjadi penutup dari rangkaian pertandingan yang digelar sejak 26 Juli 2025, diikuti sembilan tim dari enam sekolah.

Pertunjukan tari Melayu dari siswa DHBS Bontang menyemarakkan jeda pertandingan.
Suporter Smansa memenuhi tribun dengan yel-yel lantang dan formasi rapi.

Malam sebelumnya juga berlangsung seru. Pertandingan perebutan tempat ketiga mempertemukan SMA Vidatra dan SMAN 2 Bontang (Smanda). Pertandingan berjalan ketat hingga akhirnya dimenangkan tim Vidatra dengan skor tipis 33-32. Suporter dari kedua tim juga antusias memenuhi tribun dan menyemangati jalannya pertandingan.

Dukungan tidak hanya datang dari rekan dan pelatih, tapi juga dari orang tua para pemain. Kartini, salah satu orang tua pemain dari tim YPK, mengaku bangga sekaligus terharu menyaksikan perjuangan anak-anak di lapangan.
“Anak saya latihan hampir setiap hari, dan malam ini semua terbayar. Suasananya luar biasa, saya sampai ikut teriak-teriak,” ujarnya.

Yang patut diapresiasi adalah kerja keras panitia dari HMB Cabang Samarinda. Tanpa sponsor besar dan fasilitas mewah, mereka mampu menyelenggarakan kegiatan yang meriah, tertib, dan penuh antusiasme. Agenda tidak hanya mencakup pertandingan olahraga, tetapi juga lomba fotografi bertema sosial, hingga seremoni penutupan yang tersusun rapi.

Sayangnya, yang mewakili Pemkot Bontang batal hadir. Padahal malam ini adalah puncak kegiatan dan momen penting untuk menyaksikan langsung bagaimana mahasiswa dan pelajar mampu menyelenggarakan acara sebesar ini secara mandiri.

Ketua HMB Cabang Samarinda, Alfiani Hanifah Salsabila, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, tapi juga ruang pertemuan dan pembentukan karakter. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemkot Bontang, khususnya kepada Wali Kota Bontang yang telah memberi ruang dan perhatian, serta Dinas Pemuda dan Olahraga yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Terima kasih juga kepada sponsor, donatur, dan seluruh panitia Porseni VIII yang telah bekerja keras dari awal hingga akhir. Kami juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Saka Bakti Husada dan Dinas Kesehatan atas bantuan layanan kesehatan selama kegiatan berlangsung. Semoga ke depan Porseni bisa lebih besar dan berdampak bagi generasi muda Bontang,” ujar Alfiani.

Porseni bukan hanya milik panitia dan HMB Cabang Samarinda. Ini tanggung jawab bersama. Mahasiswa sudah membuktikan bahwa mereka bisa bekerja dan menghadirkan sesuatu yang layak diapresiasi. Sekarang saatnya semua pihak yang memiliki otoritas dan sumber daya menunjukkan dukungan nyata—bukan hanya lewat ucapan terima kasih setelah acara selesai.

Final basket Smansa vs YPK membuktikan satu hal: pelajar Bontang punya semangat besar. Yang mereka butuhkan hanyalah ruang, kesempatan, dan pengakuan. Dan malam ini, Lang-Lang menjadi saksi bahwa semangat itu hidup dan layak diteruskan. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Dari Warung Kopi ke Sidang MK: Sidrap di Mata Agus Haris

TERAKHIR kali saya berbincang langsung dengan Agus Haris adalah saat beliau masih menjabat sebagai anggota DPRD Bontang. Setelah itu, komunikasi kami memang tidak lagi intens. Tetapi aktivitasnya tetap saya ikuti melalui pemberitaan media, kegiatan lapangan, hingga unggahan digital yang rutin ia bagikan.

Figur Agus Haris tidak berubah banyak—tetap membumi, dekat dengan warga, dan punya cara sendiri menyampaikan sikap tanpa gaduh.

Agus Haris dikenal cukup dekat dengan masyarakat, terutama kalangan pemuda. Kami sama-sama lulusan Ilmu Hukum Universitas Trunajaya Bontang. Ia lulus tahun 2008, sementara saya baru menyelesaikan studi pada 2023. Saya mengambil S1 Hukum pada 2019 sebagai bentuk penyesuaian akademik setelah sebelumnya lebih dulu menyelesaikan S2 Hukum—meskipun latar pendidikan awal saya adalah S1 Kehutanan Universitas Mulawarman.

Ketika isu Sidrap kembali mencuat, saya langsung teringat Agus Haris. Ia tinggal di sana. Sengketa tapal batas antara Kota Bontang dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memang bukan hal baru, tetapi kembali menjadi sorotan setelah mediasi antara Pemkot Bontang dan Pemkab Kutim di Jakarta pada 31 Juli 2025 gagal mencapai kesepakatan. Isu ini bahkan kini berproses menuju pengujian konstitusional di Mahkamah Konstitusi (MK).

Dari warung kopi yang dulu menjadi ruang diskusi informal, Agus Haris kini terlibat dalam ikhtiar yang lebih formal dan serius: menjaga kepastian hukum melalui jalur konstitusi. Ia tidak hanya memahami isu ini dari luar, tetapi juga hidup dan aktif di tengah masyarakat yang terdampak langsung oleh sengketa tersebut.

“Sidrap bukan sekadar wilayah sengketa bagi saya. Ini tempat saya tinggal, saya berkeluarga, dan saya mengabdi. Maka sudah seharusnya saya bersuara,” ujarnya dalam satu pertemuan warga.

Ia menegaskan bahwa langkah Pemkot Bontang bukan untuk menggugat Kutim, melainkan untuk menguji kejelasan hukum mengenai batas wilayah. “Kami tidak pernah menggugat Kutim. Yang coba kami uji adalah UU Nomor 47 Tahun 1999. UU itu tidak melahirkan peta. Makanya kami uji, bagaimana penetapan tapal batas itu sebenarnya,” jelasnya kepada wartawan.

Menurut Agus Haris, penentuan tapal batas tidak bisa hanya berpatokan pada isi pasal dalam undang-undang. Fakta di lapangan harus menjadi dasar yang kuat. “Harusnya semua produk hukum berpijak pada tiga hal: kepastian hukum, asas manfaat, dan keadilan,” ucapnya.

Fakta yang ia maksud terlihat jelas di Sidrap. Warga di tujuh RT yang disengketakan selama ini lebih terhubung dengan Kota Bontang. Baik dari sisi pendidikan, layanan kesehatan, hingga administrasi kependudukan. “Setelah keluar Undang-Undang dan Permendagri itu, bukannya pelayanan makin dekat. Padahal semangat otonomi daerah itu kan mendekatkan pelayanan, bukan sebaliknya,” tambahnya.

Mediasi terakhir gagal menghasilkan kesepakatan karena Kutim bersikeras mempertahankan klaimnya. Warga pun merasa resah.

“Kalau kami harus ke Sangatta untuk bikin KTP, siapa yang bayar ongkosnya? Kalau anak kami sakit, rumah sakit mana yang bisa kami jangkau? Semua itu adanya di Bontang, bukan di Kutim,” ujar Amiruddin, warga Sidrap.

Dukungan agar Sidrap tetap masuk wilayah Bontang datang dari Ketua DPRD Bontang Andi Faizal, bahkan dari Wali Kota Neni Moerniaeni.

Sementara sikap warga juga tegas—mereka ingin tetap menjadi bagian dari Bontang, karena kehidupan mereka sudah sejak lama bergantung pada layanan dan kebijakan kota ini.

Di tengah proses ini, Agus Haris justru memilih jalur komunikasi yang sederhana, tetapi menyentuh. Ia tidak membangun citra lewat baliho besar, tetapi hadir di banyak ruang publik. Dan kini juga aktif di media sosial. Salah satunya melalui platform TikTok, tempat ia membagikan aktivitasnya bersama warga, mengangkat isu Sidrap secara lugas namun tetap santun.

Dari video edukatif hingga momen-momen kecil seperti gotong royong, lomba kampung, hingga musyawarah warga, semuanya ia sajikan apa adanya, tanpa berjarak.

Ia memahami bahwa kedekatan dengan masyarakat bukan soal jarak fisik semata, tetapi soal keterlibatan nyata dalam kehidupan mereka.

Maka ketika muncul isu plang keterangan ketua RT di Kampung Sidrap dicopot, Agus Haris menanggapi dengan tenang. “Ini hal yang wajar, tak usah dibesar-besarkan. Tak perlu sampai mencabut plang segala. Kita ini di NKRI, plang itu juga tidak ke mana-mana,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam proses lahirnya Permendagri Nomor 25 Tahun 2005, pernah ada kesepakatan di tingkat provinsi bahwa setelah tapal batas ditetapkan, Bontang diberi ruang untuk mengajukan perluasan wilayah. Ini menjadi pijakan historis yang sah bagi tuntutan masyarakat saat ini.

Agus Haris memang tak banyak bicara di media. Tapi ia hadir nyata di lapangan dan aktif di ruang digital. Gaya komunikasinya yang sederhana namun konsisten menjadi jembatan kuat antara dirinya dan warga.

Sidrap bukan sekadar soal batas wilayah. Ini menyangkut pelayanan publik, akses sehari-hari, dan kenyamanan warga. Agus Haris sejauh ini hadir langsung bersama masyarakat, dari warung kopi di kampung hingga ruang konstitusi di Mahkamah. Dan dari ruang itulah, Sidrap diperjuangkan agar tetap menjadi bagian dari Bontang—tempat warganya hidup, tumbuh, dan dilayani secara adil.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Prabowo Minta Jaringan Bandara Internasional Diperluas

0

JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan kementerian dan lembaga terkait untuk memperluas jaringan bandara internasional di berbagai daerah.

Hal itu disampaikan saat memimpin rapat terbatas secara virtual dari kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (1/8/2025), guna mengevaluasi perkembangan sejumlah program kerja kementerian di Kabinet Merah Putih.

“Presiden memerintahkan dibuka sebanyak-banyaknya bandara internasional di berbagai daerah,” kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui akun media sosial Sekretariat Kabinet di Jakarta.

Menurut Teddy, arahan untuk memperluas jejaring bandara internasional di daerah itu guna mendorong percepatan perputaran ekonomi dan pariwisata di daerah.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kembali menetapkan tiga bandara di Indonesia sebagai bandara internasional, yakni Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Bandara H.A.S. Hanandjoeddin (Bangka Belitung), dan Bandara Jenderal Ahmad Yani (Semarang).

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut pembukaan kembali status internasional ini didasari oleh peningkatan trafik pasca pandemi serta sebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan kegiatan keagamaan.

Selain itu, Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Ria Norsan juga mengusulkan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan agar penerbangan rute Pontianak-Kuching, Malaysia, dapat kembali dibuka.

Dalam ratas yang digelar seusai ibadah Jumat, Presiden juga memerintahkan agar otoritas terkait melakukan pencegahan potensi timbulnya kebakaran hutan akibat cuaca panas, serta meningkatkan perkembangan di sektor ekonomi, pertanian dan kelautan.

Hadir dalam kegiatan itu di antaranya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi, Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, hingga Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. (ANT/KN)

Istana Pastikan Wapres Gibran Upacara HUT ke-80 RI di Istana Merdeka

0

JAKARTA – Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro memastikan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengikuti prosesi upacara peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, pada 17 Agustus 2025.

Upacara peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025 untuk pertama kalinya dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, yang nantinya akan bertindak sebagai inspektur upacara (irup).

“(Wapres Gibran ikut upacara peringatan HUT Ke-80 RI) di sini (Istana Merdeka, Jakarta),” kata Juri menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui pada sela-sela kegiatannya di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Jumat (1/8/2025).

Di Ibu Kota Nusantara (IKN), upacara peringatan HUT Ke-80 RI dipimpin oleh Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono. Kabar yang beredar sebelumnya, Gibran sempat disebut-sebut akan memimpin upacara HUT RI di IKN tahun ini.

Dalam kesempatan terpisah, Juri mengumumkan rangkaian peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI digelar mulai tanggal 1 Agustus 2025 sampai dengan 24 Agustus 2025. Rangkaian kegiatan itu terangkum dalam program yang disebut Bulan Kemerdekaan.

Adapun rangkaian peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI diawali dengan Doa Kebangsaan pada hari ini, 1 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

Rangkaian peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI berikutnya dilanjutkan dengan upacara pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada 13 Agustus 2025 di Istana Kepresidenan RI, kemudian penganugerahan tanda kehormatan kepada sejumlah individu, kelompok, dan institusi di Istana Negara juga pada 13 Agustus 2025.

Selepas itu, rangkaian HUT Ke-80 RI dilanjutkan dengan Pidato Kenegaraan Presiden RI sebagai Kepala Negara dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks MPR, DPR, DPD RI, Senayan, Jakarta, pada 15 Agustus 2025. Dalam hari yang sama pada siang hari, Presiden Prabowo lanjut menyampaikan Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2026 beserta Nota Keuangannya saat Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang I DPR RI Tahun Sidang 2025—2026.

Rangkaian peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI kemudian dilanjutkan dengan Ziarah Nasional dan Renungan Suci pada tanggal 16 Agustus 2025 tepat pukul 00.00 WIB di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata di Jakarta Selatan.

Puncak peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung pada 17 Agustus 2025 terpusat di Istana Merdeka, Jakarta. Upacara peringatan detik-detik proklamasi pada tahun ini dipimpin untuk pertama kalinya oleh Presiden Prabowo Subianto.

“(Prosesi, red.) didahului kirab Bendera (Pusaka Merah Putih) dari Monumen Nasional ke Istana Merdeka dengan kereta kencana, dikawal pasukan berkuda, dimulai pukul 08.00 WIB, (kemudian) pada sore hari upacara penurunan bendera,” ujar Juri.

Selepas upacara peringatan HUT Ke-80 RI di Istana Merdeka, Presiden Prabowo membuka pintu Istana Kepresidenan RI untuk Pesta Rakyat pada 17 Agustus 2025. Aneka makanan dan minuman disajikan gratis oleh masyarakat peserta upacara saat Pesta Rakyat tersebut, yang merupakan kali pertama digelar saat HUT RI di Istana Kepresidenan RI. Bagi masyarakat yang bukan peserta upacara, Pesta Rakyat juga digelar di kawasan Monumen Nasional pada 17 Agustus 2025 mulai pagi hari sampai dengan malam hari.

Kemudian, ada pula Karnaval Kemerdekaan yang juga digelar pada 17 Agustus 2025 malam hari dengan rute dari kawasan Monas sampai dengan Simpang Semanggi. Dalam acara itu, kementerian/lembaga, kemudian TNI dan Polri, akan pawai menggunakan mobil hias untuk menampilkan program-program unggulan masing-masing.

Agenda terakhir yang digelar dalam rangkaian HUT Ke-80 Kemerdekaan RI ialah acara balap lari Merdeka Run 8.0 Kpada 24 Agustus 2024.

“Angka 8.0 dipilih sesuai dengan perayaan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Juri. (ANT/KN)