Beranda blog Halaman 216

Gus Yahya Nyatakan Terbuka untuk Islah dalam Silaturahim PBNU di Tebuireng

0

JAKARTA – Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf menyatakan dirinya terbuka untuk islah, yang disampaikan usai menghadiri silaturahim PBNU sesi kedua di Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

“Saya sangat berterima kasih bahwa beliau-beliau berkenan untuk memanggil saya. Saya sangat terharu bahwa para sesepuh kita masih begitu peduli kepada jam’iyah Nahdlatul Ulama ini,” katanya dalam keterangan yang diterima, Minggu (7/12/2025).

Dalam forum tersebut, Gus Yahya mengakui mendapat kesempatan untuk menjelaskan secara lengkap berbagai persoalan organisasi yang selama ini ditujukan kepadanya.

Menurutnya, seluruh kebutuhan klarifikasi yang sebelumnya disampaikan melalui utusan Rais Aam telah ia jawab secara tuntas. Penjelasan tersebut juga turut dilengkapinya dengan dokumen dari Bendahara Umum PBNU Sumantri Suwarno serta Sekjen Amin Said Husni.

“Semuanya telah saya jawab dengan tuntas, dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan dari saudara Sumantri sebagai pemegang buku keuangan BPNU… serta penjelasan-penjelasan dari Pak Amin Said Husni,” jelasnya.

Dirinya juga menitipkan pesan khusus kepada para kiai terkait masa depan tatanan organisasi NU.

Ia menegaskan bahwa dirinya dan jajaran PBNU sejak awal berkhidmah dengan niat tulus, sehingga penting menjaga struktur yang telah diwariskan para pendiri.

“Mohon dipertimbangkan tentang masa depan tatanan organisasi Nahdlatul Ulama ini upaya tatanan ini tidak runtuh di tengah jalan,” kata dia.

Ia pun mengingatkan bahwa sejak awal NU didirikan dengan aturan dan struktur yang ketat. Bahkan Rais Akbar Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari, juga tetap dibatasi wewenangnya oleh anggaran dasar.

“Maka mari kita berpikir tetap dengan betul agar tatanan ini tidak diruntuhkan dan membawa jam’iyah ini mundur 100 tahun,” kata dia.

Terkait dengan pernyataan bahwa pertemuan di Pesantren Tebuireng, Jombang, tidak memengaruhi risalah rapat syuriyah, Gus Yahya menilai rapat harian syuriyah justru sudah bermasalah sejak awal.

“Mau pengaruh atau tidak pengaruh, monggo. Tapi sudah menjadi persepsi bahwa apa yang terjadi dengan harian syuriyah itu sangat bermasalah, membuat keputusan di luar wewenangnya. Jadi ini bermasalah. Semua ikutannya dari keputusan ini bermasalah semua,” kata dia.

Ia juga mengkritisi rencana Rapat Pleno PBNU pada 9 Desember 2025 yang disebut mendasarkan diri pada keputusan bermasalah itu.

“Kalau itu didasarkan pada rapat harian syuriyah tanggal 20 November 2025, itu berarti mendasarkan diri pada keputusan yang bermasalah. Pengambilalihan jabatan ketua umum untuk dirangkap oleh Rais Aam sangat-sangat bermasalah,” ujarnya.

Gus Yahya pun menambahkan bahwa dirinya akan terus berkomunikasi dengan para kiai sepuh serta PWNU dan PCNU seluruh Indonesia untuk mencari penyelesaian terbaik. (ANT/KN)

Presiden Prabowo Kirim Empat Ton Biosolar di Aceh Tengah

0

TAKENGON – Presiden Prabowo Subianto mengirimkan bantuan 20 drum BBM bio solar atau setara empat ton untuk penanganan bencana di Kabupaten Aceh Tengah.

Bupati Aceh Tengah Haili Yoga, Minggu, di Takengon, menyampaikan bahwa kebutuhan stok BBM menjadi sangat penting untuk penanganan bencana, sementara daerahnya hingga kini masih terisolasi pascabencana.

“Hari ini tidak ada lagi BBM, habis total. Begitu kabar bantuan masuk, masyarakat langsung merasa lega, alat berat kini bisa kembali bekerja menjangkau daerah yang terisolir,” kata Haili Yoga.

Dirinya berharap, dukungan dari pemerintah pusat dapat terus berlanjut selama masa tanggap darurat bencana berlangsung.

Selain bio solar, bantuan dari Presiden ini ada satu ton Pertamax Turbo dan Pertamina Dex yang bakal digunakan untuk mengoperasikan drone kargo pengangkut bantuan logistik berkapasitas 200 kilogram.

“Kami atas nama pemerintah daerah mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden RI,” ujarnya.

“Bantuan ini sangat bernilai bagi kami yang sedang menghadapi kondisi bencana. Semoga dukungan berikutnya terus menyusul,” demikian Haili Yoga. (ANT/KN)

13 Rumah dan Satu Masjid di Lumajang Terendam Banjir Lahar Semeru

0

JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang menyebutkan sebanyak 13 rumah, satu warung, dan satu masjid di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terendam banjir lahar hujan yang disertai material vulkanik Gunung Semeru.

“Data awal sebanyak 13 rumah, satu masjid, dan satu warung di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro yang terdampak lahar Semeru,” kata Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho, di Lumajang, Minggu (7/12/2025).

Belasan rumah yang terdampak yakni milik Karmani, Poniman, Arifin, Suhartono, Ajinal Yusuf, Gundut Sugito, Hidayat, KH. Senamin, Budiana, Matsaleh,Dedi, Mayar, dan Jumali. Semuanya merupakan warga RW 06 di Dusun Sumberlangsep.

“Selain rumah, ada tiga motor warga yang terpendam lumpur pascabanjir lahar hujan disertai material vulkanik Semeru yang menerjang kawasan Dusun Sumberlangsep pada Sabtu (6/12) sore,” tuturnya.

Ia menjelaskan BPBD Lumajang sudah mendistribusikan bantuan untuk warga yang terdampak banjir lahar hujan Gunung Semeru di Dusun Sumberlangsep pada Sabtu (6/12), namun distribusi bantuan terus dilakukan.

“Hari ini kami juga mengirimkan bantuan untuk warga di Dusun Sumberlangsep yang terisolasi agar kebutuhan makanan dan lainnya terpenuhi,” katanya.

Warga Dusun Sumberlangsep sempat mengungsi di tiga lokasi yang berada di perbukitan karena banjir lahar Semeru terus masuk ke permukiman warga di dusun setempat. Di Pos Pengungsian 1 tercatat sebanyak 107 orang dengan rincian 39 laki-laki, 43 perempuan yang satu di antaranya sedang hamil, 21 anak-anak, dan empat bayi.

Kemudian di Pos pengungsian 2 tercatat sebanyak 173 orang mengungsi dengan rincian laki-laki sebanyak 85 orang, perempuan sebanyak 77 orang yang dua di antaranya sedang hamil, serta 11 anak-anak.

Pos pengungsian 3 sebanyak 115 orang dengan rincian laki-laki sebanyak 49 orang, perempuan 48 orang yang dua di antaranya sedang hamil, 15 anak-anak, dan tiga bayi.
Jumlah warga di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro sebanyak 138 KK atau 512 jiwa. Warga di dusun setempat berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk mencegah agar banjir lahar Semeru tidak menerjang permukiman mereka.

Sebagian warga juga mendirikan tenda darurat di perbukitan untuk mengantisipasi apabila terjadi banjir lahar Semeru sewaktu-waktu nantinya, sehingga warga bisa mengungsi ke tempat aman tersebut. (ANT/KN)

Listrik Belum Pulih, Warga Aceh Barat Kesulitan Tarik Uang Tunai di ATM

0

MEULABOH – Masyarakat Kabupaten Aceh Barat saat ini kesulitan mendapatkan uang tunai karena mesin-mesin ATM di sejumlah lokasi di daerah itu tidak berfungsi antara lain karena pasokan tenaga listrik yang belum sepenuhnya pulih.

“Kami benar-benar panik jika kondisi listrik padam ini terus terjadi, sangat susah tarik uang tunai sekarang,” kata Ovis, warga Meulaboh, Ibu Kota Kabupaten Aceh Barat, kepada ANTARA, Minggu (7/12/2025).

Menurut dia, dampak dari pemadaman listrik tersebut mengakibatkan sejumlah mesin ATM tidak beroperasi secara maksimal karena tidak ada pasokan daya/tenaga listrik.

Selain itu, kalaupun ada ATM yang aktif, juga tidak bisa digunakan secara maksimal oleh masyarakat karena mesin ATM mengalami gangguan jaringan internet.
Hal senada juga disampaikan Sabrina, ibu rumah tangga warga Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat yang mengaku kesulitan menarik uang tunai di ATM karena banyak mesin ATM mati atau tidak berfungsi.

“Susah sekarang ini belanja, pedagang tidak terima pembayaran non tunai, mereka maunya pakai uang tunai,” katanya.

Jika masyarakat tidak punya uang tunai maka pedagang tidak mau melayani pembeli karena mengharuskan pembayaran menggunakan uang tunai untuk membayar barang belanjaan.

Sebelumnya, Bupati Aceh Barat Tarmizi mengatakan hingga saat ini seluruh pusat pelayanan publik dan pemerintahan di daerahnya terganggu akibat listrik padam yang terjadi sejak Rabu (26/11) pekan lalu akibat bencana banjir bandang.

“Semua layanan terganggu, sangat terganggu,” kata Bupati Aceh Barat, Tarmizi kepada ANTARA di Meulaboh, Sabtu (6/12).

Ia mengatakan dampak padamnya arus listrik telah mengakibatkan pelayanan administrasi publik tidak bisa dilayani secara maksimal, karena tidak adanya arus listrik.

Selain itu, gangguan sarana telekomunikasi selular dan layanan internet, juga menambah gangguan pelayanan di masyarakat.

Tarmizi mengaku dampak dari padamnya arus listrik selama satu pekan lebih, telah menyebabkan gangguan di berbagai kegiatan pemerintahan, pelayanan publik hingga aktivitas ekonomi masyarakat. (ANT/KN)

DPRD Berau Desak Pemkab Serius Kelola Lahan Tidur: Potensi Besar, Tapi Belum Digarap Maksimal

0

BERAU – Upaya memperkuat ketahanan pangan daerah kembali mendapat perhatian serius dari DPRD Berau. Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menilai pemerintah daerah belum benar-benar mengoptimalkan potensi lahan yang tersedia, padahal Berau memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi daerah yang mandiri pangan.

Sumadi menyebut masih banyak area yang sebenarnya bisa dijadikan lahan produktif, namun hingga kini tidak dikelola secara optimal. Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar soal lahan tidur, tetapi kurangnya keseriusan dalam pengelolaan dan pemanfaatannya.

“Kita sudah sampaikan bahwa banyak lahan yang sebenarnya bisa dikelola. Ini bukan lahan tidur, tapi memang belum digarap secara serius,” ujarnya.

Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Berau mengambil langkah konkret agar potensi pertanian tidak terus terbengkalai. Menurutnya, penguatan sektor pertanian tidak bisa dilakukan tanpa dukungan anggaran yang memadai. Karena itu, ia meminta adanya penambahan alokasi anggaran untuk Dinas Pertanian, termasuk dalam penyediaan pupuk, peralatan, hingga dukungan koperasi petani.

Sumadi mengakui adanya perkembangan positif dengan berjalan­nya program penanaman padi di lahan seluas 895 hektare. Selain itu, pemerintah disebut tengah menyiapkan perluasan area tanam baru untuk meningkatkan produksi pangan lokal.

Politikus PKS itu juga mengapresiasi langkah Bulog yang mulai menyerap gabah petani Berau. Namun ia mengingatkan bahwa penyerapan panen tidak akan berkelanjutan tanpa ditopang fasilitas memadai, terutama ketersediaan gudang penyimpanan hasil panen yang mampu menjaga kualitas beras.

Dengan berbagai potensi tersebut, Sumadi berharap Pemkab Berau dapat bergerak lebih cepat agar Berau tidak terus bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Kita ingin Berau mandiri secara pangan, agar kebutuhan pokok tidak terus bergantung pada pasokan luar daerah,” pungkasnya. (adv)

DPRD Berau Ingatkan Pemkab Tinggalkan Pola Lama, Setiap Rupiah di APBD 2026 Harus Berdampak

0

BERAU – Menjelang penetapan APBD 2026, DPRD Berau mengingatkan pemerintah daerah agar tidak lagi terjebak pada pola pengelolaan anggaran yang konvensional. Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin, menilai bahwa kondisi fiskal tahun depan mengharuskan pemerintah bergerak lebih efisien dan memastikan setiap belanja benar-benar memberi efek langsung bagi warga.

Ia menegaskan bahwa seluruh perangkat daerah harus menempatkan efektivitas sebagai prinsip utama dalam penganggaran. Menurutnya, kebijakan anggaran tidak boleh berhenti pada tataran administratif atau formalitas belaka, tetapi harus diukur melalui manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.

“Kita tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama. Setiap rupiah harus dipastikan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tegasnya.

Fraksi PKS turut menyoroti arah penyusunan APBD 2026. Mereka mendorong agar komposisi belanja diarahkan pada pemenuhan kebutuhan mendasar warga. Sektor pelayanan dasar, pemulihan ekonomi, serta penguatan sektor produktif disebut perlu menjadi fokus agar pembangunan daerah tidak sekadar seremonial, tetapi berdampak luas.

Selain memastikan efektivitas belanja publik, Thamrin juga menilai pengendalian belanja operasional menjadi langkah strategis untuk memperluas ruang fiskal daerah. Dengan mengurangi beban belanja rutin, pemerintah akan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengalokasikan anggaran ke pembangunan infrastruktur, fasilitas pelayanan publik, dan program pemberdayaan masyarakat.

“Dengan pengurangan belanja rutin, pemerintah dapat memperbesar porsi anggaran untuk pembangunan, program pemberdayaan, maupun fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.

Thamrin juga mengingatkan pentingnya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui inovasi yang tidak membebani masyarakat. Ia menekankan bahwa strategi peningkatan pendapatan tidak boleh berujung pada penambahan biaya baru yang justru menggerus daya beli warga.

“Optimalisasi PAD perlu dilakukan secara kreatif. Jangan sampai memunculkan beban biaya baru yang justru mengganggu daya beli warga,” tuturnya.

Lebih jauh, ia meminta pemerintah memperkuat sistem transparansi dan pengawasan anggaran. Menurutnya, APBD hanya akan berfungsi secara optimal jika tata kelola keuangan dijalankan secara akuntabel dan terbuka.

“Dengan begitu APBD 2026 diharapkan mampu menjawab tantangan pembangunan dan kebutuhan riil masyarakat Berau,” pungkasnya. (adv)

Soroti Pengawasan Pelajar, Wakil Ketua DPRD Berau : Kalau Tidak Dicermati, Bisa Timbulkan Penyimpangan

0

BERAU – Kekhawatiran terhadap potensi munculnya perilaku menyimpang di kalangan pelajar kembali mengemuka dan menjadi perhatian serius DPRD Berau. Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menilai bahwa pengawasan terhadap perkembangan karakter siswa di sekolah masih jauh dari ideal, terutama di tengah besarnya ruang interaksi yang kini terbuka bagi anak-anak.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan pergaulan sosial memberi ruang baru bagi pelajar untuk menyerap berbagai informasi dan pengaruh, baik positif maupun negatif. Jika hal ini tidak dipantau secara cermat, Sumadi khawatir pola pikir dan sikap anak bisa berkembang ke arah yang berlawanan dengan nilai pendidikan maupun norma sosial.

“Kondisi ini kalau tidak dicermati sejak dini, bisa memicu tindakan yang bertolak belakang dengan norma pendidikan maupun nilai sosial,” ujarnya.

Sumadi mengatakan, sejumlah daerah sudah lebih maju dalam membangun sistem pembinaan khusus bagi siswa yang menunjukkan indikasi perilaku tertentu. Model pembinaan itu dinilai efektif sebagai langkah pencegahan sebelum masalah berkembang menjadi pelanggaran yang lebih serius.

“Lemahnya pengawasan bisa membuka peluang terjadinya penyimpangan. Kita harus belajar dari daerah lain yang sudah menerapkan pembinaan khusus,” katanya.

Ia meminta Dinas Pendidikan Berau bergerak lebih proaktif, di antaranya dengan melakukan pendataan terhadap siswa yang memperlihatkan perilaku tidak umum atau kecenderungan yang membutuhkan pengarahan. Pendataan tersebut, menurut Sumadi, bukan bertujuan memberi stigma, tetapi sebagai langkah menyelamatkan masa depan anak sejak dini.

“Dinas Pendidikan bisa menginventaris siswa yang imajinasinya mulai mengarah kepada hal-hal yang tidak wajar, agar mereka mendapat pembinaan sejak awal,” pungkasnya. (adv)

DPRD Berau: Larangan Pelajar Bawa Motor Tak Bisa Diterapkan Jika Transportasi Umum Belum Siap

0

BERAU – Rencana pelarangan pelajar membawa kendaraan pribadi ke sekolah kembali mencuat dan langsung mendapat perhatian serius dari Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto. Ia mengingatkan bahwa kebijakan tersebut tidak boleh diterapkan secara tergesa-gesa tanpa memastikan kesiapan transportasi umum yang dapat diandalkan.

Dedy menegaskan, kajian atas kebijakan ini masih berlangsung dan membutuhkan analisis mendalam dari Dinas Perhubungan (Dishub). Ia menyebutkan bahwa keputusan apa pun harus didukung oleh data serta kesiapan fasilitas transportasi yang memadai.

“Kita menunggu hasil kajian Dishub. Mekanisme penerapannya seperti apa juga harus jelas,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu akar persoalan banyaknya pelajar yang berkendara sendiri adalah minimnya pilihan transportasi umum yang aman, terjangkau, dan nyaman. Tanpa penyediaan moda transportasi yang representatif, pelajar akan tetap memilih membawa motor atau mobil ke sekolah.

“Kalau transportasinya tersedia dan layak, tentu pelajar tidak lagi punya alasan membawa kendaraan,” kata pria yang akrab disapa Deded itu.

Ia juga meminta Dishub Berau menggandeng berbagai pihak—mulai dari Pemkab, sekolah, hingga operator transportasi—untuk menyusun pola transportasi pelajar yang efektif. Dedy menilai sosialisasi sejak awal juga penting agar orang tua dan siswa memahami manfaat kebijakan tersebut.

“Tujuan utama aturan ini adalah keselamatan dan kenyamanan anak-anak mereka,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala Dishub Berau, Andi Marewangeng, memastikan bahwa wacana tersebut masih dalam tahap kajian menyeluruh. Ia menjelaskan bahwa penerapan larangan harus sinkron dengan kesiapan sistem transportasi massal sesuai amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Kami masih melakukan kajian komprehensif. Hasilnya nanti menjadi dasar apakah kebijakan ini bisa dijalankan di Berau atau tidak,” jelasnya.

Sebagai perbandingan, beberapa daerah seperti Kota Samarinda telah lebih dulu menerapkan kebijakan serupa untuk mencegah kecelakaan pelajar sekaligus mereduksi kemacetan. Dedy menilai Berau juga bisa mengikuti langkah tersebut asalkan infrastruktur pendukung tersedia dan mendapat dukungan masyarakat.

“Kalau aturan ini diterapkan di Berau, semua pihak harus berkomitmen mendukung agar pelaksanaannya berjalan baik,” pungkasnya. (adv)

Proyek Berkejaran Waktu, DPRD Minta Pengawasan Teknis Diperketat

0

BERAU – Dorongan percepatan pembangunan di Kabupaten Berau menuai perhatian dari legislatif. Anggota Komisi III DPRD Berau, Vitalis Paulus Lette, mengingatkan bahwa langkah cepat pemerintah dalam menyelesaikan proyek fisik harus tetap dibarengi ketelitian dan kepatuhan terhadap standar teknis.

Vitalis menyampaikan penghargaan kepada DPUPR Berau yang dinilainya cukup sigap dalam menuntaskan berbagai pekerjaan infrastruktur. Respons cepat tersebut, menurutnya, menunjukkan keseriusan pemerintah daerah untuk mengejar target pembangunan di Bumi Batiwakkal.

Namun, ia menekankan bahwa percepatan tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan aspek kualitas. Administrasi yang rapi, ujar Vitalis, tidak cukup apabila di lapangan justru terjadi pengabaian terhadap spesifikasi pekerjaan.

“Kita boleh mempercepat pekerjaan, tapi prinsip presisi tetap harus nomor satu. Jangan sampai administrasi beres, tapi kualitas fisik malah kedodoran,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pengalaman di berbagai proyek menunjukkan bahwa tekanan batas waktu kontrak sering kali membuat sebagian kontraktor menyelesaikan pekerjaan secara terburu-buru. Upaya mengejar tenggat waktu tersebut berpotensi mengorbankan standar teknis yang sudah ditetapkan.

Menurut Vitalis, kondisi itu dapat membuka ruang munculnya berbagai penyimpangan. Mulai dari pemakaian material yang tidak sesuai, pekerjaan yang tidak mengikuti spesifikasi, hingga pengawasan yang tidak berjalan optimal.

“Kalau kualitas dikesampingkan, risiko jangka panjangnya jelas. Durabilitas bangunan menurun, bahkan bisa mengancam keselamatan masyarakat pengguna,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah bersama tim pengawas benar-benar memastikan setiap pekerjaan fisik berjalan sesuai aturan, tanpa kompromi terhadap kualitas.

“Saya minta DPUPR dan pengawas lapangan tetap mengedepankan mutu. Kejar target boleh, tapi hasilnya harus kuat dan bertahan lama. Itu yang paling penting bagi masyarakat,” pungkasnya. (adv)

Berau Rentan Krisis Beras, DPRD Ingatkan Bahaya Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah

0

BERAU – Ketergantungan Kabupaten Berau terhadap suplai beras dari luar daerah kembali menjadi sorotan tajam wakil rakyat. DPRD menilai kondisi ini menempatkan Berau dalam posisi rentan, karena kebutuhan pangan masyarakat belum dapat dipenuhi secara mandiri oleh produksi lokal.

Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari, menyampaikan bahwa hingga hari ini sebagian besar kebutuhan beras masyarakat masih dipasok dari Surabaya, Sulawesi, dan sejumlah wilayah lainnya. Situasi ini, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa sektor pertanian Berau belum beranjak pada tahap yang mampu menopang kebutuhan sendiri secara berkelanjutan.

Sri menjelaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai urusan distribusi dan suplai. Ketergantungan pada pasokan luar daerah membuat Berau sangat mudah terdampak oleh faktor eksternal—mulai dari gangguan cuaca, kebijakan transportasi, hingga naik-turunnya distribusi dari daerah pemasok.

Ia menilai skenario terburuk dapat terjadi apabila pasokan dari luar mendadak tersendat. Situasi itu dapat memicu lonjakan harga, ketidakstabilan pasokan di pasar, hingga menekan daya beli masyarakat.

“Kalau pasokan luar terganggu, masyarakat yang paling merasakan dampaknya. Pemerintah daerah pun kehilangan ruang gerak untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras,” ujarnya.

Untuk itu, Sri menegaskan bahwa penguatan sektor produksi pangan lokal harus segera menjadi prioritas. Ia mendorong pemerintah daerah menyusun strategi yang lebih menyeluruh—mulai dari peningkatan produktivitas petani, pemenuhan sarana dan prasarana pertanian, hingga membangun infrastruktur pendukung agar distribusi dalam daerah dapat berjalan lebih efisien.

Menurutnya, percepatan langkah-langkah konkret akan sangat menentukan kemampuan Berau dalam membangun kemandirian pangan sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman fluktuasi harga dan potensi kelangkaan.

“Kemandirian pangan bukan hanya soal memperbesar produksi, tetapi memastikan masyarakat kita tidak lagi bergantung pada kondisi yang berada di luar kendali daerah,” pungkasnya. (adv)