Beranda blog Halaman 215

Diaspora Indonesia Tampilkan Angklung Saat Sambut Prabowo di Pakistan

ISLAMABAD – Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) tampil membawakan lagu perjuangan menggunakan alat musik angklung saat menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto di hotel tempat Kepala Negara bermalam di Islamabad, Pakistan, Senin (8/12/2025) waktu setempat.

Sebagaimana keterangan pers yang diterima, Tamara, salah seorang WNI yang tampil dalam kelompok angklung binaan KBRI Islamabad, menuturkan bahwa persiapan dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.

Namun hal itu tidak menyurutkan antusiasme mereka untuk mengharumkan nama bangsa dalam momen bersejarah tersebut.

“Seru banget, kita latihannya cuma 10 hari kurang karena saking semangatnya. Yang penting ibu-ibunya semangat semua,” ujarnya dengan wajah antusias.

Lagu-lagu perjuangan yang mereka mainkan disebutnya turut membangkitkan rasa cinta Tanah Air di tengah komunitas WNI yang jauh dari Indonesia.

Kelompok angklung ini bukan kali pertama tampil dalam forum diplomatik.
Mereka telah beberapa kali mempromosikan kebudayaan Indonesia di Pakistan, mulai dari resepsi diplomatik peringatan 75 tahun hubungan bilateral Indonesia-Pakistan hingga Indonesian Expo di pusat perbelanjaan di Islamabad.

“Alhamdulillah semua menyambut,” kata Tamara, menceritakan reaksi hangat masyarakat lokal maupun tamu internasional setiap kali angklung dimainkan.

Momen penyambutan Presiden Prabowo menjadi pengalaman khusus yang tidak terlupakan bagi mereka.

Tamara mengaku terharu saat melihat Presiden turut menikmati penampilan mereka. “Ikut bersenandung. Pokoknya kita senang melihat Bapak datang menghampiri kita semua,” ungkapnya.

Kehadiran masyarakat Indonesia dalam penyambutan ini menjadi simbol eratnya keterikatan antara negara dan warganya di perantauan, sekaligus memperlihatkan peran aktif diaspora dalam memperkuat hubungan persahabatan Indonesia–Pakistan.

Adapun kunjungan bilateral Presiden Prabowo ke Pakistan memiliki makna historis penting, bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Kehadiran Presiden Prabowo juga menghidupkan kembali jejak sejarah persahabatan yang dimulai sejak kunjungan Presiden Soekarno pada 1950, momen yang dikenang sebagai fondasi eratnya hubungan kedua bangsa.

Undangan kunjungan ini sudah disampaikan PM Shehbaz sebanyak dua kali, yaitu saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D8 di Kairo serta sesudah KTT Perdamaian Gaza di Sharm El Sheikh, Mesir.

Pemerintah Indonesia memandang kunjungan ini sebagai kesempatan strategis memperkuat kerja sama bilateral di tengah dinamika geopolitik regional dan global.
Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendorong solidaritas, kolaborasi, dan kemitraan yang saling menguntungkan dengan Pakistan dan negara-negara sahabat lainnya.

Turut mendampingi Presiden dalam penerbangan ke Islamabad adalah Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. (ANT/KN)

KemenPANRB Susun Rancangan Perpres, Siapkan Transisi Pemerintah Digital

0

JAKARTA – Upaya peningkatan kualitas layanan publik terus diperkuat melalui penyempurnaan kebijakan digitalisasi pemerintahan. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) tengah menyusun Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) tentang Pemerintah Digital sebagai dasar baru dalam transformasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

Menteri PANRB Rini Widyantini menyatakan bahwa diperlukan persiapan matang dalam masa transisi dari SPBE menuju Pemerintah Digital.

“Karena kita harus menggeser paradigma transformasi digital pemerintah dari penataan prosedural menuju orientasi dampak,” ujar Menteri Rini saat memimpin Rapat Percepatan Penyusunan Rancangan Perpres Pemerintah Digital, di Jakarta, Senin (8/12/2025).

Rancangan Perpres Pemerintah Digital disiapkan untuk memperkuat tata kelola administrasi pemerintahan dan pelayanan publik yang berbasis data serta teknologi digital. Aturan tersebut akan menjadi payung kebijakan nasional guna mendorong integrasi dan peningkatan kualitas layanan digital di seluruh instansi pemerintah.

Ruang lingkup RPerpres mencakup tata kelola pemerintah digital, ekosistem digital, riset dan inovasi, penyelenggara pemerintah digital, serta evaluasi kinerja. Menteri Rini menekankan perlunya perencanaan terpadu, holistik, dan agile untuk menjawab kebutuhan perubahan.

“Bukan lebih banyak aplikasi, tapi keterpaduan layanan yang memudahkan dan memberdayakan,” imbuhnya.

Pemerintah juga terus mengembangkan pendekatan use case prioritas sebagai strategi percepatan transformasi digital. Sejumlah use case prioritas dalam RPJMN meliputi pengentasan kemiskinan, layanan berusaha, administrasi pemerintahan, penerimaan negara, hingga layanan siklus hidup.

“Transformasi digital pemerintah harus mencakup penyederhanaan proses bisnis tematik yang berorientasi kemudahan layanan. Penentuan fokus inisiatif betul-betul diselaraskan dengan program prioritas presiden dan sektor pendukung strategis,” pungkas Rini.

Pewarta/ Editor : Nicha R

Kemendikdasmen Kebut Pemulihan Pendidikan di Wilayah Bencana, 2.798 Sekolah Terdampak

0

JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa upaya pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak banjir dan longsor terus dilakukan dengan mengedepankan semangat optimisme dan gotong royong.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, memaparkan perkembangan terbaru langkah pemulihan yang ditempuh pemerintah untuk memastikan keberlangsungan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik.

“Sejak awal bencana, Kemendikdasmen melalui Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) langsung bergerak bersama dengan UPT di daerah terdampak dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan kaji cepat dampak bencana dan kebutuhan di bidang pendidikan,” ucap Mendikdasmen di Jakarta, Senin (8/12/2025).

Bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak 25 November 2025 memberikan dampak sangat besar terhadap sektor pendidikan. Hingga 7 Desember 2025, tercatat 2.798 satuan pendidikan terdampak dengan tingkat kerusakan yang beragam. Sebanyak 208 ribu siswa dan 19 ribu guru serta tenaga kependidikan terdampak secara langsung.

Mempertimbangkan skala kerusakan tersebut, Kemendikdasmen menegaskan tiga kebutuhan utama pemulihan, yaitu penyediaan ruang kelas darurat, perlengkapan belajar bagi siswa, serta layanan dukungan psikososial untuk mempercepat kesiapan peserta didik mengikuti pembelajaran dalam situasi darurat.

Di tengah tantangan tersebut, Kemendikdasmen menekankan bahwa pemulihan pendidikan bukan kerja satu pihak saja. Gotong royong, atau partisipasi semesta, menjadi landasan utama percepatan penanganan. Koordinasi multipihak dilakukan melalui kerja bersama Pos Pendukung Nasional BNPB di tiga provinsi terdampak, koordinasi dengan Kemenko PMK, serta jejaring klaster penanggulangan bencana lainnya. Di lapangan, UPT Kemendikdasmen maupun satuan kerja pusat juga ditugaskan untuk pendampingan agar langkah pemulihan berjalan baik.

“Kami juga telah melaksanakan rapat koordinasi yang melibatkan seluruh dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota terdampak, yang menghasilkan beberapa langkah penting, di antaranya validasi data kerusakan, percepatan pemulihan pembelajaran, distribusi bantuan secara berjenjang, penetapan klasifikasi kerusakan sekolah untuk menentukan intervensi prioritas, serta fleksibilitas penjadwalan pembelajaran dan ujian sekolah sesuai kondisi setiap daerah,” urai Mendikdasmen.

Sejumlah bantuan langsung telah disalurkan ke provinsi terdampak. Total bantuan yang tersedia mencakup Rp21,1 miliar dana tanggap darurat untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran darurat, penyediaan tenda kelas, pengadaan perlengkapan belajar, kegiatan dukungan psikososial, serta distribusi logistik pendidikan di area terdampak.

Di Sumatra Barat, bantuan operasional tanggap darurat senilai Rp5,7 miliar dan Rp293 juta santunan bagi GTK serta peserta didik korban meninggal dan luka berat telah disalurkan. Di Aceh, bantuan Rp560 juta diberikan kepada tiga kabupaten yang terdampak yaitu Pidie, Pidie Jaya, dan Bireun. Sementara itu, di Sumatra Utara, Rp220 juta telah disalurkan untuk mendukung pemulihan di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan. Bantuan logistik seperti tenda kelas darurat, paket perlengkapan belajar, paket kebutuhan dasar keluarga, sembako, dan bingkisan anak juga terus didistribusikan.

Lebih lanjut, dari sisi kebijakan penyelenggaraan pembelajaran, Mendikdasmen menyampaikan, “Mulai 8 Desember 2025, kami mengarahkan pelaksanaan pembelajaran darurat melalui berbagai pendekatan, termasuk pendirian ruang kelas sementara, penempatan siswa ke sekolah sekitar yang tidak terdampak, pengaktifan jadwal pembelajaran fleksibel, kegiatan dukungan psikososial dengan serta penggunaan modul pembelajaran kedaruratan.”

Untuk jangka menengah dan panjang, Kemendikdasmen kembali menegaskan pentingnya penguatan program SPAB sebagai fondasi kesiapsiagaan satuan pendidikan di daerah rawan bencana. Penguatan dilakukan melalui pelatihan mitigasi, penyusunan rencana aksi kedaruratan, peningkatan kapasitas sekolah, serta penguatan mekanisme kesiapsiagaan yang berkelanjutan.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyoroti langkah Kemendikdasmen dalam memastikan keberlangsungan pendidikan–bukan saja layanan pembelajaran tidak terhenti, namun juga memastikan berbagai sarana prasarana termasuk bahan-bahan pembelajaran tetap tersedia.

“Pak Menteri juga mengatakan bahwa sudah berkolaborasi dengan berbagai institusi lain untuk memperkuat upaya yang sedang dilakukan, sehingga pendidikan bukan sekadar ruang untuk akademik, tapi menjadi ruang pelindungan dan pemulihan bagi  mereka yang saat ini terdampak,” ucap Hetifah.

Fraksi Partai PDI Perjuangan, Mercy Chriesty Barends, mengapresiasi Kemendikdasmen atas seluruh kebijakan dan tindakan darurat yang telah diambil untuk memastikan bahwa proses pembelajaran pasca kebencanaan bisa tertangani. “Pada waktunya kita semua bisa bekerja gotong-royong untuk memastikan dari sektor pendidikan kita bekerja keras untuk ikut menanggulangi seluruh seluruh proses pendidikan pasca penanggulangan bencana ini,” ujarnya.

Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa setiap peserta didik tetap memperoleh hak pendidikan tanpa terputus, sekalipun dalam kondisi bencana. Melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, penyaluran bantuan darurat, penguatan program SPAB, dan pendampingan berkelanjutan, pemerintah terus bekerja agar layanan pendidikan dapat pulih dengan lebih cepat dan lebih tangguh di masa mendatang. (MK/KN)

Ketua DPRD Berau Minta ASN Jaga Etika: Jangan Main TikTok saat Jam Kerja

0

BERAU – Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, mengingatkan kembali pentingnya etika dan disiplin aparatur sipil negara (ASN) menyusul ditemukannya pegawai yang melakukan aktivitas bermain hingga siaran langsung di TikTok saat jam kerja. Ia menilai perilaku tersebut tidak hanya mencederai profesionalisme ASN, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah.

Dedy menegaskan bahwa ASN merupakan wajah dari pemerintah daerah. Segala tindakan yang dipertontonkan ke publik, apalagi ketika berada dalam seragam dinas, akan langsung memengaruhi persepsi masyarakat.

“ASN adalah representasi pemerintah. Kalau perilakunya tidak pantas, masyarakat yang merasakan dampaknya,” ujarnya.

Menurutnya, bermain media sosial saat jam kerja menunjukkan bentuk kelalaian terhadap tugas. Selain melanggar etika, tindakan itu juga dianggap mencoreng citra pemerintah dan menunjukkan kurangnya kesadaran diri sebagai pelayan publik.

“Masyarakat menilai dari apa yang mereka lihat, dan tindakan seperti ini tentu tidak patut,” katanya.

Dedy mendukung sepenuhnya langkah tegas yang telah diambil Sekretaris Daerah (Sekda) Berau dalam menegur ASN yang bersangkutan. Ia menilai ketegasan seperti ini diperlukan untuk menegakkan disiplin dan mencegah pelanggaran serupa.

“Penegakan disiplin adalah bagian dari menjaga martabat ASN. Teguran harus dilakukan agar hal seperti ini tidak berulang,” tegasnya.

Dedy juga meminta seluruh perangkat daerah memperkuat pengawasan internal, terutama terkait penggunaan media sosial selama jam kerja. Ia mengingatkan bahwa media sosial kini menjadi ruang publik yang sangat terbuka dan setiap kesalahan dapat viral dalam hitungan menit.

“ASN itu panutan. Saat jam kerja, fokuslah pada pelayanan, bukan bermain TikTok. Ini harus dihentikan ke depan,” pungkasnya. (adv)

DPRD Berau Desak Pemkab Perbaiki Kualitas Tenaga Kerja dan Evaluasi Program Sosial

0

BERAU – Kenaikan angka pengangguran terbuka di Kabupaten Berau kembali memunculkan alarm serius bagi pemerintah daerah. Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, menilai tren tersebut tidak boleh dianggap sebagai fenomena tahunan semata, karena dapat langsung menekan tingkat kesejahteraan masyarakat jika dibiarkan tanpa penanganan strategis.

Sutami menegaskan, persoalan pengangguran tidak hanya disebabkan kurangnya lapangan kerja, tetapi juga kemampuan tenaga kerja lokal yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan pasar. Menurutnya, ketidaksesuaian kompetensi ini harus menjadi fokus utama pemerintah melalui program pelatihan yang terarah dan relevan.

“Masalahnya bukan hanya lapangan kerja yang terbatas, tetapi tenaga kerja kita belum dibekali keterampilan yang sesuai kebutuhan industri,” ujarnya.

Ia meminta pemerintah daerah menghadirkan program peningkatan kapasitas masyarakat secara lebih masif, mulai dari pelatihan keterampilan, sertifikasi profesi, hingga pendampingan usaha bagi masyarakat produktif.

Di sisi lain, Sutami juga menyoroti program pengentasan kemiskinan yang berjalan selama ini. Menurutnya, tanpa evaluasi menyeluruh dan terukur, berbagai bantuan sosial hanya menjadi rutinitas tanpa efek jangka panjang.

“Evaluasi yang komprehensif penting dilakukan agar penurunan angka kemiskinan terlihat signifikan dalam lima tahun ke depan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa arah pembangunan daerah harus lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, bukan hanya pembangunan fisik. Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya tercermin dari meningkatnya kesempatan kerja dan turunnya tingkat kemiskinan.

“Keberhasilan pembangunan itu terlihat dari manfaat yang langsung dirasakan masyarakat, terutama akses kerja dan menurunnya angka kemiskinan,” pungkasnya. (adv)

Pasar Lemah, Tambak Berau Terhambat, DPRD Minta Pemkab Turun Tangan

0

BERAU – Di tengah tingginya potensi hasil perikanan budi daya, para petambak di Berau ternyata masih bergulat dengan persoalan paling mendasar: pemasaran. Kondisi ini membuat geliat sektor tambak belum sepenuhnya mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat pesisir. Anggota Komisi II DPRD Berau, Agus Uriansyah, menilai pemerintah daerah harus hadir lebih kuat dan terstruktur dalam membantu para pelaku usaha.

Agus menjelaskan, selama ini perhatian terhadap tambak kerap terfokus pada peningkatan produksi. Padahal, kata dia, produksi tinggi tanpa pasar yang jelas justru bisa merugikan petambak. Banyak pelaku usaha yang mengaku kesulitan menjual hasil panennya karena tidak memiliki akses pemasaran yang memadai.

“Persoalannya bukan hanya soal produksi. Banyak petambak bingung menjual hasil panennya. Ini yang harus dibantu pemerintah,” tegasnya.

Ia menilai, pengembangan tambak harus bergerak sejalan antara peningkatan produksi dan strategi pemasaran terpadu. Jika keduanya diperkuat, dampaknya tidak hanya memperluas pasar tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi masyarakat pesisir.

“Kalau pemasaran ikut dibenahi, manfaat ekonominya menjadi jauh lebih besar. Tujuan akhirnya tetap kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Agus meminta OPD terkait lebih aktif mendampingi para pembudidaya, terutama dalam memberikan pemahaman mengenai harga jual yang kompetitif, perhitungan biaya distribusi, hingga strategi pemasaran modern yang bisa membuka akses ke luar daerah.

Menurutnya, Berau tidak boleh hanya mengandalkan pasar lokal. Dengan kualitas hasil laut yang baik, produk tambak mestinya mampu masuk pasar regional hingga nasional.

Tidak hanya pemasaran, peningkatan kualitas SDM juga disebut menjadi faktor penting. Para pelaku usaha tambak harus dibekali keterampilan teknis dan kemampuan manajerial agar mampu bersaing dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.

“Jangan sampai kita panen besar, tapi gagal menjual. Ini kerugian besar. Semua pihak harus punya visi agar tambak betul-betul menjadi kekuatan ekonomi pesisir,” tutupnya. (adv)

Banjir Susulan Hentikan Distribusi Bantuan dan Operasi SAR di Tapanuli Tengah

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Koran Nusantara?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.koranusantara.com/

📱 Versi Mobile
https://digital.koranusantara.com/kn8des2025/mobile/

APBD 2026: Tahun Ketika Kaltim Dipaksa Lebih Hemat

HAMPIR seluruh daerah di Kaltim kini memasuki tahap pembahasan hingga pengesahan RAPBD Tahun Anggaran 2026. Dari laporan wartawan MediaKaltim.com di 10 kabupaten/kota, ditambah penelusuran melalui sejumlah media nasional dan dokumen resmi pemerintah, terlihat gambaran jelas bahwa tahun anggaran 2026 membuka babak baru bagi Kaltim.

Bukan dengan gegap-gempita pembangunan seperti yang diharapkan publik, tetapi dengan kenyataan bahwa seluruh daerah—tanpa terkecuali—dipaksa menurunkan ambisi dan menata ulang prioritas. Tidak ada satu pun kabupaten atau kota yang lolos dari tekanan fiskal nasional. Tidak ada daerah yang mampu menahan derasnya penurunan Dana Bagi Hasil (DBH) dan Transfer ke Daerah (TKD).

Saya mengikuti dinamika ini sejak awal, dan kondisi provinsi menggambarkan situasi sebenarnya. Kaltim, provinsi yang selama ini menjadi lumbung migas nasional, justru merasakan kontraksi paling tajam. APBD Provinsi Kaltim 2026 hanya Rp15,15 triliun, jauh lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bahkan sudah mengingatkan lebih awal bahwa pemotongan DBH “tidak kurang dari 50 persen,” sebuah sinyal bahwa tahun ini tidak ada ruang kemewahan fiskal seperti sebelumnya. Sekda Kaltim Sri Wahyuni juga menegaskan bahwa meski anggaran menyusut drastis, pemerintah provinsi tetap harus menjaga kualitas layanan dasar dan memastikan APBD tetap “responsif terhadap kebutuhan masyarakat.” Dua pernyataan ini memperlihatkan bahwa tekanan bukan sekadar wacana, tetapi sudah diprediksi dan disiapkan sejak tahap awal.

Pemangkasan DBH lebih dari Rp4 triliun bukan sekadar angka yang turun di atas kertas. Praktis, pemotongan itu berubah menjadi penundaan program, revisi agenda pembangunan, hingga penyusutan ruang gerak pemerintah daerah dalam menentukan arah pembangunan. Dan hal yang sama terjadi di seluruh kabupaten/kota.

Kukar adalah contoh paling ekstrem. Dari Rp11,3 triliun menjadi Rp7,016 triliun—penurunan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini bukan hanya koreksi, tapi amputasi fiskal. Kukar, yang bertahun-tahun hidup dari limpahan migas, mau tidak mau menahan diri, memangkas kegiatan, dan merombak cara kerja agar 17 program prioritas tetap berjalan.

Kutai Timur mengalami kondisi serupa. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman sudah menegaskan bahwa APBD 2026—yang hanya Rp5,71 triliun—tetap harus menjadi “pondasi pembangunan,” meski belanja dipangkas hampir separuh dari tahun sebelumnya. Kutim yang tahun lalu hampir menyentuh Rp10 triliun kini harus merasionalisasi TPP ASN, memangkas kegiatan non-prioritas, dan memperketat arah pembangunan.

Paser, yang dulu menikmati APBD hingga Rp5 triliun, kini bekerja dengan Rp3,9 triliun. Penurunan tajam ini memaksa daerah memperketat belanja dan memaksimalkan PAD demi menjaga stabilitas layanan dasar. Ironinya, tiga daerah dengan kontribusi migas terbesar justru menjadi yang paling terpukul. Ini menunjukkan betapa rapuhnya fondasi fiskal daerah ketika terlalu bergantung pada komoditas. Ketika kebijakan pusat bergeser, anggaran daerah ikut merosot.

Kota-kota industri pun tidak lepas dari tekanan. Samarinda—ibu kota provinsi—harus puas dengan APBD Rp3,18 triliun, padahal rancangan awal tahun lalu sempat dikisaran Rp5 triliun. Pemangkasan dua triliun lebih membuat pemerintah kota menahan banyak proyek sambil memastikan pendidikan, kesehatan, dan layanan publik tetap aman.

Balikpapan juga menghadapi kenyataan yang sama. Dengan APBD hanya Rp2,9 triliun, kota penyangga IKN ini mau tidak mau menunda sejumlah agenda besar. Fokus diarahkan pada banjir, sanitasi, dan perbaikan jalan, sementara program lain harus menunggu. Bontang—kota industri yang sangat dipengaruhi dinamika perusahaan besar—mengelola Rp1,9 triliun, turun hampir satu triliun. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah kota harus benar-benar selektif menentukan program mana yang berdampak nyata dan mana yang perlu dihentikan sementara.

Daerah-daerah lain juga merasakan tekanan serupa. Berau dengan APBD Rp3,425 triliun tetap harus memfokuskan pembangunan pada pariwisata, pertanian, dan layanan dasar. Kubar berada di angka Rp3,521 triliun, sementara Mahulu hanya Rp1,596 triliun—daerah yang lebih dari 80 persen pendapatannya berasal dari transfer pusat. PPU, yang ironisnya menjadi kawasan paling dekat dengan geliat IKN, hanya memiliki Rp1,48 triliun. Turun lebih dari satu triliun, padahal beban layanan publik meningkat pesat.

Melihat semua angka ini, maka jelas, menjadi peringatan keras bagi Kaltim. Penurunan APBD 2026 bukan rutinitas fiskal. Ini sinyal bahwa ketergantungan pada DBH migas tidak lagi bisa menjadi pola pembangunan jangka panjang. Komoditas tidak bisa terus menjadi tumpuan anggaran daerah. Kaltim membutuhkan PAD yang kuat, ekonomi yang lebih beragam, dan pola belanja yang lebih rasional.

Penurunan APBD harus dibaca sebagai momentum membenahi arah pembangunan. Setiap rupiah harus menghasilkan manfaat. Program harus tepat sasaran. Belanja harus efisien. Pengawasan harus kuat. Dan penguatan PAD harus dibangun dengan rencana yang terukur, bukan sekadar menaikkan retribusi atau tarif tertentu.

Tantangan fiskal ini hadir bersamaan dengan momentum besar: hadirnya Ibu Kota Nusantara. Mobilitas penduduk naik, biaya layanan publik bertambah, kebutuhan infrastruktur melebar, dan persaingan tenaga kerja makin ketat. Dengan anggaran yang mengecil, hanya daerah yang cepat beradaptasi yang akan bertahan. Yang lambat akan tertinggal jauh.

Tahun 2026 adalah ujian sesungguhnya bagi para kepala daerah di Kaltim. Kemampuan manajerial justru tampak ketika fiskal menyempit. Ketika harus memilih mana yang penting dan mana yang harus ditunda. Di situlah kualitas kepemimpinan terlihat.

Kaltim berada di titik perubahan. Jika momentum ini dikelola dengan bijak, kita dapat memasuki fase pembangunan yang lebih efisien, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Tahun yang berat bukan akhir, justru dari sinilah fondasi baru dibangun.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Banjir Susulan Hentikan Distribusi Bantuan dan Operasi SAR di Tapanuli Tengah

0

TAPANULI TENGAH – Banjir susulan yang turut serta membawa balok-balok kayu besar menghentikan sementara upaya distribusi bantuan logistik dan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban hilang di Kelurahan Huta Nabolon, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Minggu (7/12/2025).

Kelurahan Huta Nabolon merupakan salah satu kawasan yang paling terdampak bencana banjir disertai tanah longsor di Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah baik jumlah korban jiwa maupun kerusakan permukiman dan infrastruktur sejak 25 November.

Berdasarkan pantauan ANTARA di Lingkungan IV, Huta Nabolon, tampak air berwarna coklat pekat mulai mengalir dari perbukitan di arah utara setelah hujan deras mengguyur wilayah itu siang sekitar pukul 11.00 WIB.

Hujan sempat mereda, tapi selang dua jam hujan kembali deras dan kabut menutupi pandangan hingga jarak pandangan kurang dari 100 meter.

Air tidak lagi mengikuti alur sungai yang ada namun sudah tumpah ruah dari segala sisi. Arus yang paling deras tentu mengikuti alur banjir sebelumnya, yang mana itu adalah jalan raya penghubung utama Huta Nabolon – Tukka.

Di saat yang bersamaan juga sedang dilangsungkan penyaluran bantuan logistik kebutuhan pokok berupa sembako, selimut hingga peralatan dapur yang memang sangat dibutuhkan oleh warga Huta Nabolon.

Penyaluran bantuan berjalan kondusif, warga mengantre di sebuah truk barang untuk mendapatkan paket bantuan yang porsinya sudah ditetapkan oleh petugas dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah itu.

Namun bagi sejumlah warga yang tinggal di perbukitan meliputi Desa Sigiring-giring, Saurmanggita dan Tapianauli belum bisa mengakses bantuan itu karena jalur satu-satunya yang bisa mereka lewati sedang tergenang banjir hingga setinggi pinggang orang dewasa.

Sementara itu, tim petugas gabungan dari Basarnas, TNI, Polri dan segenap unsur pemerintah daerah juga terpaksa menghentikan operasi SAR. Padahal mereka baru saja menemukan beberapa titik gundukan tanah yang diduga menimbun jasad warga.

Karena alasan keselamatan menghindari banjir susulan dan kondisi jaringan telekomunikasi yang belum stabil maka tim SAR memutuskan kembali ke Posko Gabungan di GOR Pandan.

Setidaknya hingga pukul 17.50 WIB hujan masih terus mengguyur, dan warga hanya bisa berharap banjir tidak semakin meninggi hingga mengakibatkan kerusakan kambali atau bahkan korban jiwa.

Harapan tersebut tidaklah sederhana, mengingat batang kayu dan bebatuan berukuran sebesar empat- enam meter masih berserakan.

Material yang dibawa banjir dua pekan yang lalu itu telah menghancurkan rumah bagi sedikitnya 150-200 kepala keluarga di kawasan Lingkungan IV.

Kawasan itu pula yang saat peristiwa banjir pertama kali videonya viral diberbagai kanal media sosial.

Margembira Gultom (41), warga Lingkungan IV, Kelurahan Huta Nabolon saat ditemui di rumahnya mengapresiasi kepedulian dari pemerintah maupun berbagai kalangan masyarakat yang telah memberikan bantuan dasar bagi warga setempat.

Ia meminta jangan karena keterbatasan akses telekomunikasi dan jalan utama terputus, maka bantuan yang sangat dibutuhkan ikut juga terhenti.

“Sudah ada yang masuk. Tapi untuk kami dan beberapa desa yang dekat dengan perbukitan bantuan itu baru bisa diterima, warga ya sepekan setelah bencana. Kenapa? Tidak terinfokan ke kami ini,” cetusnya.

Namun selain bantuan pokok, menurut dia, pengerahan alat berat seperti ekskavator menjadi yang paling di harapkan warga saat ini, karena selain untuk membersihkan material, juga perlu untuk menormalisasi tiga aliran sungai yang mengelilingi wilayah itu dan juga untuk mencari korban hilang yang masih tertimbun.

“Masih banyak sekali saudara kami yang tertimbun pak, sudah dua Minggu ini masa tidak bisa kirim alat berat apalagi Lingkungan IV ini, hancur sudah semua rumah-rumah kami rata dengan tanah. Tolong cari mereka para orang tua kami yang hilang sampai bisa ditemukan,” ungkapnya. (ANT/KN)

Presiden Prabowo Setujui Anggaran Rp60 Juta per Rumah untuk Pengungsi Bencana

0

ACEH BESAR – Presiden Prabowo Subianto setuju menganggarkan Rp60 juta per rumah untuk membantu para pengungsi mengganti hunian mereka yang rusak ataupun hancur karena longsor dan banjir bandang.

Dalam rapat koordinasi bencana di Posko Terpadu Lanud Sultan Iskandar Muda, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Minggu (7/12) malam, Presiden Prabowo menerima laporan mengenai pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) yang diperuntukkan kepada para pengungsi banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Per hari ini, Bapak Presiden, rumah masyarakat yang rusak itu sampai 37.546 rumah baik yang rusak berat — rusak berat ini termasuk yang hilang kena sapu banjir — kemudian rusak sedang, dan rusak ringan,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto kepada Presiden Prabowo saat rapat.

Suharyanto melanjutkan data tersebut belum final, karena pendataan masih terus dilakukan oleh BNPB bersama Kementerian Pekerjaan Umum.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BNPB kemudian mengusulkan hunian sementara yang diperuntukkan kepada pengungsi nantinya dibangun oleh anggota TNI dan Polri yang tergabung dalam satuan tugas (satgas) penanggulangan bencana, sementara hunian tetap untuk mereka, pembangunannya diserahkan kepada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.

“Kemudian yang tidak pindah, karena mungkin banjirnya, dampaknya tidak terlalu besar bagi keluarga itu sehingga tidak harus pindah, tetapi rumahnya rusak, kami perbaiki oleh satgas BNPB,” kata Suharyanto saat memberikan laporan kepada Presiden dalam rapat yang sama.
Terkait anggaran, BNPB mengajukan Rp60 juta per rumah kepada Presiden Prabowo.

“Ini hunian tetap anggaran Rp60 juta cukup?” tanya Presiden ke Suharyanto.

“Selama ini cukup, tetapi kalau memang Bapak Presiden ingin menambahkan kami lebih senang,” kata Kepala BNPB.

“Rp60 juta karena tidak relokasi, Bapak. Nanti penerima bisa nambah dengan uangnya sendiri. Mungkin punya keluarga di kampung, punya anak yang punya gaji mau nambah, bisa. Tetapi, (kami) tidak (memberikannya) dalam bentuk uang, karena khawatir kalau bentuk uang jadi yang lain,” kata Kepala BNPB.

“Oke, mungkin tentunya kita hitung kenaikan harga ya, inflasi, dan sebagainya,” ujar Presiden memberikan instruksi kepada Kepala BNPB soal pembangunan hunian tetap untuk para pengungsi.

Sementara itu, untuk hunian sementara, anggaran yang dialokasikan sebesar Rp30 juta per rumah. Rumah yang dibangun berukuran 36 meter persegi lengkap dengan fasilitas kamar, sarana MCK, dan ruangan lainnya. (ANT/KN)