Beranda blog Halaman 112

Pemerintah Tetapkan Fuel Surcharge 38 Persen, Respons Kenaikan Harga Avtur

0

JAKARTA — Pemerintah bersama maskapai penerbangan menyepakati penyesuaian fuel surcharge menjadi 38 persen sebagai respons atas lonjakan harga avtur akibat tekanan ekonomi global dan geopolitik.

Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi menegaskan, kebijakan tersebut bukan keputusan sepihak, melainkan hasil koordinasi dengan pelaku industri penerbangan nasional.

“Kami telah berkoordinasi dengan seluruh maskapai yang beroperasi di Indonesia, khususnya domestik. Penetapan fuel surcharge sebesar 38 persen ini merupakan hasil masukan bersama,” ujar Dudy dalam konferensi pers Kebijakan Transportasi dan BBM di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan fuel surcharge menjadi langkah yang tidak terhindarkan di tengah kenaikan harga avtur yang signifikan. Kondisi ini turut menekan struktur biaya operasional maskapai.

Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri penerbangan dan daya beli masyarakat.

“Langkah ini diambil untuk menjaga keberlanjutan industri penerbangan nasional sekaligus memberikan perlindungan terhadap daya beli masyarakat,” katanya.

Sebagai bagian dari paket kebijakan, pemerintah juga memberikan insentif berupa penghapusan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan biaya operasional maskapai dalam jangka menengah.

Dudy menyampaikan apresiasi kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa atas dukungan kebijakan tersebut.

“Kami mengapresiasi kebijakan penghapusan biaya masuk suku cadang pesawat, yang diharapkan dapat mengurangi beban operasional maskapai,” ujarnya.

Pemerintah berharap kebijakan ini dapat dipahami oleh masyarakat maupun pelaku industri, mengingat tekanan biaya yang meningkat akibat dinamika global. (cha/MK/KN)

Pemprov Sumut Terapkan WFH ASN Setiap Jumat Mulai Pekan Ini

0

MEDAN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) secara resmi memberlakukan work from home (WFH) atau kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap Jumat mulai pekan ini.

“Iya (pekan ini diterapkan red). Sudah-sudah, 50 persen WFH dan 50 persen WFO (work from office/kerja dari kantor),” tegas Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution di Kantor Gubernur Sumut, Senin (6/4/2026).

Gubernur mengaku, pemberlakuan kerja dari rumah maupun kerja dari kantor bagi ASN di lingkungan Pemprov Sumut akan dievaluasi secara berkala.

Hal ini sesuai Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 800.1.5/3349/SJ tentang Transformasi Budaya Kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lingkungan Pemerintah Daerah.

“WFH maupun WFO, kita minta tidak mengganggu kegiatan yang bersifat pelayanan dan operasional, seperti rumah sakit. Nah ini tidak boleh terganggu,” jelas Bobby.

Pihaknya melarang ASN di lingkungan Pemprov Sumut.memanfaatkan WFH setiap Jumat untuk bepergian, karena tidak sesuai tujuan penghematan bahan bakar minyak (BBM).

Data Badan Kepegawaian Provinsi Sumut akhir 2025 menyatakan, jumlah aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov Sumut sebanyak 36.036 orang, terdiri atas 20.897 ASN dan 15.139 pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

“Nanti akan kelihatan ya. Yang pasti tujuan (WFH, red) penghematan, dan efesiensi. Nanti kalau dipakai untuk jalan-jalan, menggunakan BBM lagi,” ucapnya.

Gubernur juga mengatakan, Pemprov Sumut akan segera membuat skema yang nanti menimbulkan dampak kebijakan tersebut berjalan efektif dan lancar sesuai tujuannya.

“Jadi nanti akan kita lihat. Tidak bisa kita bilang efektif atau tidak efektif sekarang, karena belum dimulai. Tetapi tugas kita membuatnya supaya efektif,” tutur Bobby.

Selain itu, katanya, Pemprov Sumut juga bakal menerapkan program one day no car atau satu hari tanpa kendaraan pribadi bagi para ASN guna mengurangi penggunaan kendaraan.

“Ya harusnya ya, harusnya seperti itu. Tapi saya juga sedang minta, apakah itu one day no car untuk para ASN di wilayah kerja Pemprov Sumut di perkotaan,” ungkap Bobby.

Pemerintah resmi menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap Jumat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto mengatakan, kebijakan itu mulai berlaku mulai 1 April 2026, dan akan dievaluasi setelah dua bulan pelaksanaan.

“Penerapan work from home bagi ASN di instansi pusat dan daerah yang dilakukan sebanyak satu hari kerja dalam seminggu, yaitu setiap hari Jumat yang diatur melalui surat edaran (SE) dari MenpanRB dan SE Mendagri,” kata Airlangga dalam konferensi pers yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa (31/3). (ANT/KN)

Prabowo Bahas Hunian di Bantaran Rel, Libatkan Sejumlah Menteri

0

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Brian Yuliarto, hingga Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Bobby Rasidin ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Maruarar atau yang akrab disapa Ara mengatakan rapat terbatas ini salah satunya akan membahas perihal pembangunan hunian di sekitar atau bantaran rel kereta api.

Menurutnya, pembangunan hunian untuk warga di bantaran rel kereta api ini meliputi wilayah Tanah Abang, Bandung, hingga Medan.

“Di banyak tempat. Di Tanah Abang itu lahan negara sangat strategis, di Bandung sangat strategis, di Medan sangat strategis. Kita menggunakan itu untuk kepentingan rakyat dan negara harus hadir,” ujar Ara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Ara mengatakan bahwa sebelumnya sudah meninjau lokasi hunian di Tanah Abang, Jakarta. Selain itu, pagi ini bersama Dirut KAI juga melihat lokasi untuk hunian di Bandung.

Menurutnya, banyak tanah negara yang saat ini dikuasai oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ia menegaskan bahwa negara akan mengambil alih kembali lahan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan sinergi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pengadaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

“Banyak sekali tanah negara yang dikuasai oleh pihak lain dan kita akan kuasai kembali untuk kepentingan negara dan kepentingan rakyat. Khususnya masyarakat berpenghasilan rendah dan juga masyarakat yang menengah dan tanggung. Supaya kita bisa bersinergi dengan cepat,” kata Ara.

Sementara itu, Mendiktisaintek Brian menambahkan pihaknya siap mendukung pembangunan hunian di bantaran rel dengan berbagai kajian dan penelitian dari sisi teknologi agar lebih efisien. (ANT/KN)

50 Staf Wapres Mulai Berkantor di IKN, Persiapan Operasional Digenjot

SAMARINDA – Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono menyebutkan sekitar 50 staf Wakil Presiden RI mulai berkantor di Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk mempersiapkan operasional pemerintahan di kompleks Istana Wakil Presiden.

“Sudah dipersiapkan, bahkan sekitar 50 staf beliau juga sudah ditugaskan ke sini untuk mempersiapkan perkantoran Istana Wapres,” kata Basuki saat silaturahim di Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Samarinda, Senin (6/4/2026).

Ia menjamin fasilitas perkantoran pimpinan negara di IKN telah siap digunakan untuk mendukung aktivitas pemerintahan tingkat tinggi ketika diperlukan.

Kunjungan Basuki bersama istri ke Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud tersebut juga diisi dengan agenda silaturahim halal bihalal. Dalam kesempatan itu, Basuki sempat berkelakar kepada awak media mengenai penampilannya yang mengenakan kemeja batik.

“Halal bihalal. Makanya dengan istri saya. Anda pernah lihat saya pakai batik? Tidak pernah kan. Jadi saya menyempatkan silaturahim sebagai warganya Pak Gubernur Rudy Mas’ud,” ujarnya.

Di balik agenda silaturahim tersebut, OIKN juga menyampaikan perkembangan terkini percepatan pembangunan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) di IKN.

Basuki menjelaskan fokus pembangunan tidak hanya pada kawasan eksekutif, tetapi juga mulai mencakup kompleks legislatif dan yudikatif. Pekerjaan fisik untuk kantor DPR serta lembaga peradilan dilaporkan telah berjalan sesuai peta jalan tahap awal sejak 2022.

Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur juga diiringi penyediaan hunian bagi aparatur negara yang akan dipindahkan ke IKN. OIKN tengah mengejar penyelesaian blok hunian sambil menunggu rekomendasi teknis dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Seluruh fasilitas di kawasan legislatif dan yudikatif tersebut ditargetkan rampung guna melengkapi fungsi tata kota pemerintahan di IKN. (ANT/KN)

Akses Dasar Lebih Mendesak, Minta Pemkab Berau Tetapkan Skala Prioritas

BERAU – Anggota DPRD Kabupaten Berau, Sakirman, menyoroti pentingnya penentuan skala prioritas dalam pembangunan infrastruktur daerah, khususnya proyek-proyek di sektor Pekerjaan Umum (PU).

Ia menilai perencanaan yang matang dan fokus pada kebutuhan paling mendesak akan membuat manfaat pembangunan lebih cepat dirasakan masyarakat.

Menurut Sakirman, sejumlah rencana strategis seperti pembangunan jembatan dan jalur lingkar dalam memang memiliki nilai manfaat besar dalam jangka panjang. Namun dengan keterbatasan anggaran dan luasnya cakupan proyek, pemerintah daerah diminta tidak memaksakan seluruhnya berjalan bersamaan.

“Memang tadi disampaikan ada plus minus terkait pembangunan jembatan maupun lingkar dalam. Tetapi semuanya tidak bisa langsung kita nikmati sekarang,” ujarnya.

Ia menjelaskan dalam setiap pembahasan proyek infrastruktur selalu terdapat berbagai pertimbangan, baik dari sisi kebutuhan masyarakat, urgensi, hingga kemampuan fiskal daerah.

Ia mencontohkan proyek jembatan dapat memangkas jarak tempuh dan mempercepat mobilitas barang dan orang. Sementara jalur lingkar dalam berpotensi mengurai kemacetan dan membuka kawasan baru untuk pengembangan ekonomi.

Namun kedua proyek tersebut membutuhkan anggaran besar dengan bentang pekerjaan yang luas. Apabila dikerjakan secara bersamaan, dikhawatirkan prosesnya akan memakan waktu lama dan hasilnya tidak segera bisa dinikmati masyarakat.

“Kalau dua-duanya dijalankan sekaligus dengan nilai anggaran yang besar, tentu prosesnya panjang. Sementara masyarakat butuh akses yang bisa digunakan secepatnya,” katanya.

Sakirman menilai salah satu langkah realistis yang dapat dipertimbangkan adalah membuka akses jalan terlebih dahulu hingga benar-benar tembus dan bisa dilalui. Dengan begitu, konektivitas antarwilayah dapat segera terwujud meskipun belum dalam kondisi sempurna.

“Tidak harus langsung pengaspalan. Yang penting dibuka dulu aksesnya sampai benar-benar tembus. Nanti peningkatannya bisa dilakukan bertahap, misalnya dengan sirtu dan lainnya,” jelasnya.

Menurutnya pola pembangunan bertahap akan lebih efektif dalam kondisi keuangan daerah yang harus dikelola secara hati-hati. Selain itu, pendekatan tersebut memungkinkan pemerintah menyesuaikan kualitas infrastruktur secara berkelanjutan sesuai kemampuan anggaran di tahun-tahun berikutnya.

Ia menambahkan konektivitas antar wilayah di Kabupaten Berau sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, distribusi hasil pertanian dan perikanan, hingga memperlancar akses layanan pendidikan dan kesehatan.

Karena itu, proyek infrastruktur harus benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, bukan sekadar ambisi pembangunan jangka panjang.

Sakirman berharap pemerintah daerah dapat lebih fokus dalam menentukan proyek prioritas agar anggaran yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dengan perencanaan yang tepat dan pelaksanaan bertahap, ia optimistis pembangunan infrastruktur di Berau tetap berjalan dan manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat luas.

“Yang terpenting adalah masyarakat bisa merasakan dampaknya lebih cepat. Infrastruktur itu bukan hanya soal bangunan, tapi soal membuka akses dan meningkatkan kesejahteraan,” jelas Sakirman. (adv)

Perketat Efisiensi, Pengelolaan ADK Harus Transparan dan Tepat Sasaran

BERAU – Kebijakan efisiensi anggaran yang tengah diterapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau pada 2026 menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk DPRD Berau.

Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin, kembali menegaskan pentingnya pengelolaan Dana Desa atau Anggaran Dana Kampung (ADK) secara bijak, transparan, dan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Menurut Thamrin, dana desa merupakan amanah besar yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Terlebih dalam kondisi efisiensi anggaran saat ini, dana yang tersedia harus benar-benar dimaksimalkan untuk program prioritas dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat kampung.

“Dana desa harus dikelola dengan bijak dan direncanakan secara matang. Apalagi sekarang kita dihadapkan pada kebijakan efisiensi anggaran. Setiap rupiah harus jelas manfaatnya dan tepat sasaran. Pertanggungjawaban dan transparansi wajib dijaga agar tidak menimbulkan masalah hukum,” tegasnya.

Ia menjelaskan dana desa memiliki peran strategis dalam mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dasar, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga peningkatan pelayanan publik di tingkat kampung. Namun dengan adanya kebijakan efisiensi, Kepala Kampung (Kakam) dituntut lebih selektif dalam menentukan skala prioritas.

“Setiap Kakam harus tahu mana yang harus didahulukan. Jangan sampai anggaran habis untuk kegiatan yang tidak mendesak. Fokus pada kebutuhan dasar masyarakat, seperti infrastruktur penting, dukungan UMKM kampung, serta program yang benar-benar produktif,” ujarnya.

Thamrin menilai terkait kebijakan efisiensi anggaran yang diberlakukan Pemkab Berau harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola keuangan di tingkat kampung. Ia mengingatkan agar tidak ada pemborosan, pengeluaran seremonial berlebihan, maupun program yang hanya bersifat simbolis tanpa dampak nyata.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pelibatan masyarakat dalam seluruh tahapan pengelolaan dana desa, mulai dari perencanaan melalui musyawarah kampung, pelaksanaan kegiatan, hingga pengawasan dan evaluasi. Menurutnya transparansi tidak akan berjalan optimal tanpa partisipasi aktif warga.

“Kakam wajib melibatkan masyarakat dan menyusun laporan pertanggungjawaban dengan benar. Informasi penggunaan anggaran harus terbuka. Masyarakat berhak tahu dana itu digunakan untuk apa saja,” tuturnya.

Ia mengingatkan dana desa diawasi secara ketat oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum. Dalam situasi efisiensi anggaran, potensi penyimpangan dapat meningkat apabila tidak diantisipasi sejak awal.

“Kami tidak ingin ada penyalahgunaan yang justru merugikan masyarakat. Belajar dari kasus-kasus di daerah lain, jangan sampai terjadi di Berau. Apalagi sekarang anggaran terbatas, jadi harus semakin hati-hati,” ucapnya.

DPRD Berau akan terus menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan pengelolaan ADK tetap berada di jalur yang benar. Ia berharap kebijakan efisiensi tidak menghambat pembangunan di kampung, tetapi justru mendorong pengelolaan yang lebih efektif, efisien, dan akuntabel.

“Kebijakan efisiensi bukan berarti pembangunan berhenti. Justru ini kesempatan untuk memperbaiki kualitas belanja. Dana desa adalah amanah. Kalau dikelola dengan baik dan transparan, desa-desa di Berau bisa tetap berkembang, pelayanan publik meningkat, dan kesejahteraan masyarakat makin baik,” jelasnya. (adv)

Pemerataan Pendidikan Harus Mencapai ke Kampung Terpencil

BERAU — Pemerataan pembangunan pendidikan kembali menjadi sorotan di Kabupaten Berau. Di tengah upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), ketimpangan fasilitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan kampung-kampung terpencil dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah daerah.

Anggota Komisi III DPRD Berau, Oktavia, menegaskan arah pembangunan daerah ke depan harus lebih inklusif dan benar-benar menyentuh seluruh wilayah, termasuk kampung-kampung yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan.

Menurut politisi Fraksi NasDem tersebut, peningkatan kualitas SDM tidak akan tercapai secara optimal apabila pembangunan infrastruktur pendidikan masih terpusat di kawasan perkotaan. Ia menilai akses pendidikan yang merata merupakan fondasi utama dalam menciptakan generasi Berau yang unggul dan berdaya saing.

“Pembangunan selama ini masih terfokus di wilayah perkotaan. Harapannya bisa diperluas hingga wilayah kampung, agar seluruh anak-anak Berau memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak,” ujarnya.

Oktavia mengungkapkan di sejumlah kampung di Bumi Batiwakkal masih terdapat sekolah dengan kondisi bangunan yang kurang memadai. Tidak hanya itu, keterbatasan ruang kelas, minimnya fasilitas pendukung seperti laboratorium dan perpustakaan, hingga akses jalan menuju sekolah yang sulit menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi.

Menurutnya kondisi tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antara anak-anak di kota dan di kampung. Padahal pemerataan pembangunan merupakan langkah strategis untuk menekan disparitas sosial dan ekonomi di masa mendatang.

“Kalau fasilitasnya timpang, tentu kualitas pembelajaran juga berbeda. Ini yang harus menjadi perhatian serius agar tidak ada anak-anak kita yang tertinggal hanya karena faktor lokasi,” tegasnya.

Ia mengingatkan pentingnya komitmen pemerintah daerah dalam memenuhi amanat Undang-Undang terkait alokasi anggaran pendidikan. Setiap daerah diwajibkan mengalokasikan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk sektor pendidikan.

Oktavia menilai pemenuhan alokasi anggaran tersebut menjadi fondasi penting dalam mempercepat pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan, khususnya di wilayah kampung yang membutuhkan perhatian lebih.

“Karenanya kami harap di tahun yang akan datang sektor pendidikan bisa terbangun dengan memenuhi 20 persen alokasi dana pendidikan. Itu amanat undang-undang yang harus dijalankan secara konsisten,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan penggunaan anggaran pendidikan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik gedung sekolah semata. Peningkatan kualitas guru, pemerataan tenaga pendidik di daerah terpencil, penyediaan fasilitas belajar yang memadai, serta penguatan program pendukung seperti beasiswa dan pelatihan harus menjadi prioritas.

Menurutnya investasi pada sektor pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan arah pembangunan Berau ke depan. Dengan pendidikan yang merata dan berkualitas, kesenjangan pembangunan dapat ditekan dan kualitas SDM di seluruh wilayah dapat meningkat secara seimbang.

“Dengan pembangunan pendidikan yang merata, pemerataan kualitas sumber daya manusia dapat tercapai dan kesenjangan pembangunan bisa ditekan. Ini bukan hanya soal bangunan, tetapi masa depan generasi Berau,” sebutnya. (adv)

Masih Dikeluhkan, Minta Kebutuhan Dasar Jadi Prioritas

BERAU – Dalam agenda Musyawarah Perencanaan Daerah (Musrenbang) Kabupaten Berau beberapa waktu lalu, masih ada usulan kebutuhan-kebutuhan dasar dari beberapa kampung-kampung. Ini disampaikan Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina.

Menurutnya aspirasi yang mengemuka dalam setiap Musrenbang bukanlah proyek-proyek besar bersifat sekunder, melainkan kebutuhan mendasar yang langsung menyentuh kehidupan warga sehari-hari.

Mulai dari lanjutan pengaspalan jalan, peningkatan kualitas badan jalan, pembangunan jembatan penghubung antar wilayah, hingga sektor pendidikan dan penyediaan air bersih.

Elita mengatakan apa yang diusulkan masyarakat itu rata-rata memang kebutuhan pokok. Infrastruktur jalan, jembatan, sekolah, dan air bersih. Itu semua menyangkut hajat hidup orang banyak.

Di tengah kondisi efisiensi anggaran yang saat ini diterapkan pemerintah daerah, ia menilai kebutuhan dasar masyarakat tetap harus menjadi prioritas utama dalam penyusunan program pembangunan. Menurutnya keterbatasan fiskal tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pelayanan dasar.

Ia berharap sejumlah program yang telah direalisasikan pada tahun anggaran 2026 dapat dilanjutkan pada 2027, khususnya proyek-proyek yang sifatnya lanjutan agar tidak tertunda di tengah jalan.

“Karena itu kami berharap usulan-usulan yang sudah direalisasikan pada 2026 bisa dilanjutkan lagi pada 2027, terutama yang sifatnya lanjutan pembangunan,” tegasnya.

Elita menyoroti perkembangan infrastruktur di kawasan pesisir Kabupaten Berau yang dinilai sudah menunjukkan kemajuan signifikan. Ia menyebut sebagian besar ruas jalan menuju wilayah pesisir kini telah beraspal dan dapat dilalui dengan nyaman.

“Kalau kita melihat jalan ke pesisir, itu sudah sangat bagus. Hampir semua sudah aspal. Kemarin kami sampai ke Teluk Sumbang dan alhamdulillah jalannya sudah baik,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menilai pemerataan pembangunan masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, pada anggaran 2027 mendatang, ia mendorong agar pemerintah daerah mulai mengalihkan fokus pembangunan ke wilayah pedalaman yang hingga kini masih membutuhkan perhatian serius khususnya di Kecamatan Kelay.

Menurutnya kondisi infrastruktur di sejumlah kampung pedalaman masih belum memadai, terutama akses jalan dan sarana penunjang aktivitas ekonomi masyarakat. Apabila tidak segera ditingkatkan, dikhawatirkan akan memperlebar kesenjangan antar wilayah.

“Ke depan kami berharap ada prioritas untuk wilayah pedalaman, terutama Kecamatan Kelay. Karena memang itu sangat diharapkan masyarakat,” tegas Elita.

Elita menambahkan pemerataan pembangunan infrastruktur menjadi kunci agar seluruh masyarakat Kabupaten Berau dapat merasakan manfaat pembangunan secara adil dan berkelanjutan. Baik kawasan pesisir yang sudah berkembang, maupun wilayah pedalaman yang masih berjuang mengejar ketertinggalan.

“DPRD Berau akan terus mengawal dan memperjuangkan aspirasi masyarakat dalam pembahasan anggaran, agar program-program prioritas yang menyentuh kebutuhan dasar tetap mendapatkan porsi yang memadai dalam APBD tahun mendatang,” jelasnya. (adv)

Lonjakan Harga Cabai dan Telur, DPRD Dorong Kemandirian Pangan

0

SANGATTA — Kenaikan harga pangan, khususnya cabai dan telur, mulai dirasakan masyarakat Kutai Timur. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan daya beli jika tidak segera diantisipasi dengan langkah konkret.

Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, menegaskan perlunya respons cepat melalui gerakan tanam mandiri di tingkat rumah tangga. Ia mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam cabai, lombok, maupun sayuran lainnya.

“Kalau kita bisa prediksi harga akan naik, maka dari sekarang masyarakat harus mulai menanam. Masa tanam cabai sekitar dua sampai tiga bulan, jadi harus dipersiapkan sejak dini,” ujarnya usai mengikuti rapat koordinasi inflasi di Diskominfo Kutim, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, rendahnya produksi pangan lokal selama ini menjadi salah satu penyebab harga mudah bergejolak. Ketergantungan pada pasokan dari luar daerah membuat ketersediaan tidak stabil, terutama saat permintaan meningkat menjelang hari besar keagamaan seperti Idul Adha.

Selain cabai, Jimmi juga menyoroti harga telur yang ikut mengalami kenaikan. Ia menjelaskan, faktor utama berasal dari tingginya biaya pakan ternak yang masih bergantung dari luar daerah.

“Kalau pakan tidak sesuai formulasi, kualitas telur ikut turun. Tapi kalau mau kualitas bagus, biaya produksi juga ikut naik,” jelasnya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan daerah di Pulau Jawa yang sudah mampu memproduksi pakan secara mandiri. Sementara di Kutai Timur, keterbatasan bahan baku masih menjadi kendala utama dalam pengembangan sektor peternakan.

Karena itu, DPRD mendorong pemerintah daerah menghadirkan inovasi dalam sektor pertanian dan peternakan agar lebih mandiri. Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, Kutai Timur dinilai memiliki peluang untuk membangun sistem pangan lokal yang kuat.

“Inflasi memang masih dalam kategori normal, sekitar 2 sampai 4 persen. Tapi kalau kita bisa mandiri, itu akan jauh lebih baik untuk menjaga stabilitas harga,” tegasnya.

Ia menambahkan, penguatan produksi pangan lokal tidak hanya berdampak pada stabilitas harga, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat jika dilakukan secara berkelanjutan.

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S

Hangat Lebaran, OIKN Pererat Sinergi dengan Pemprov dan Kesultanan Kutai

0

NUSANTARA — Suasana Lebaran masih terasa hangat dalam rangkaian silaturahmi yang dilakukan jajaran Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Kesultanan Kutai, Senin (6/4/2026).

Kunjungan tersebut dipimpin langsung Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, didampingi istri Kartika Nurani, serta sejumlah deputi dan staf OIKN.

Dalam kunjungan ke Pemprov Kaltim, rombongan disambut Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bersama jajaran pejabat, termasuk Sekretaris Daerah Sri Wahyuni. Pertemuan berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban.

Foto: Nuansa Lebaran masih hangat, Basuki dan jajaran OIKN silaturahmi ke Pemprov Kaltim dan Sultan Kutai. (Ig. Basuki Hadimuljono)

Selain menjadi ajang silaturahmi pasca-Lebaran, pertemuan tersebut juga diisi dengan diskusi ringan terkait pembangunan dan kemajuan daerah, khususnya dalam mendukung pengembangan IKN di Kalimantan Timur.

Basuki dan Rudy Mas’ud terlihat berbincang hangat, mencerminkan hubungan yang harmonis antara pemerintah pusat melalui OIKN dan pemerintah daerah.

Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan ke Kesultanan Kutai Kartanegara. Di sana, Basuki disambut Sultan Kutai Kartanegara XXI, Aji Muhammad Arifin.

Pertemuan berlangsung penuh kekeluargaan. Basuki bahkan menyempatkan diri berfoto di dalam keraton serta berbincang langsung dengan Sultan mengenai nilai sejarah dan budaya Kutai.

“Warisan budaya dan sejarah Kesultanan Kutai sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara adalah kekayaan bangsa yang harus terus kita jaga dan lestarikan bersama,” tulis Basuki dalam unggahan di akun Instagram pribadinya.

Silaturahmi tersebut tidak hanya mempererat hubungan kelembagaan, tetapi juga menjadi simbol sinergi antara pembangunan modern IKN dengan pelestarian nilai-nilai budaya lokal di Kalimantan Timur. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S