Beranda blog Halaman 590

Fokus pada Pertanian, Guntur Dukung Peningkatan Infrastruktur Pertanian di Loa Janan Ulu

SAMARINDA – Anggota DPRD Kalimantan Timur, Guntur, menyampaikan komitmennya untuk memperkuat sektor pertanian di Desa Loa Janan Ulu. Dalam reses yang digelar pada Senin (4/11/2024) di Aula Kantor Desa Loa Janan Ulu, Guntur mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat setempat yang berharap adanya perbaikan infrastruktur pertanian guna menunjang produktivitas.

Para petani di Loa Janan Ulu menyampaikan pentingnya pembangunan sarana seperti irigasi, embung, jalan tani, serta modernisasi peralatan pertanian. Mereka menganggap infrastruktur ini sangat penting untuk meningkatkan hasil panen dan memenuhi kebutuhan pangan lokal.

Guntur menegaskan bahwa ia akan mengupayakan peningkatan infrastruktur pertanian sebagai bagian dari program ketahanan pangan di Kalimantan Timur. “Kami akan memperkuat infrastruktur pertanian di Loa Janan Ulu, dari irigasi hingga mekanisasi. Dengan upaya ini, kita berharap bisa mencapai swasembada pangan,” ujar legislator dari Fraksi PDIP tersebut.

Ia juga menyoroti pentingnya mekanisasi atau penggunaan alat-alat pertanian modern untuk mempercepat proses produksi. Menurutnya, mekanisasi akan membuat petani lebih efisien dalam mengelola lahan mereka, sehingga hasil panen lebih optimal.

Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah pusat dan provinsi dalam mewujudkan Kalimantan Timur yang mandiri dalam hal pangan. Guntur berharap agar pembangunan infrastruktur ini mampu mendorong kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan di wilayah tersebut.

“Semoga perbaikan ini dapat memajukan para petani di Loa Janan Ulu dan mendukung ketahanan pangan Kalimantan Timur,” pungkas Guntur. (Adv)

Penulis: Hanafi

Warga Bontang, Kutai Timur, dan Berau Sampaikan Aspirasi Infrastruktur dan Dukungan UMKM kepada Anggota DPRD Kaltim

BONTANG – Dalam kegiatan reses yang berlangsung sejak 31 Oktober hingga 7 November 2024, anggota DPRD Kalimantan Timur, Sulasih, menyerap berbagai aspirasi masyarakat di wilayah Bontang, Kutai Timur, dan Berau.

Isu utama yang disampaikan oleh masyarakat meliputi kebutuhan pembangunan infrastruktur, bantuan sektor pertanian, serta dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pada pertemuan reses tersebut, masyarakat mengungkapkan harapan besar terhadap perbaikan infrastruktur, terutama pada pembangunan jalan dan jembatan, serta peningkatan akses layanan dasar seperti listrik dan air bersih.

“Infrastruktur seperti jalan, listrik, dan air bersih masih menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat,” jelas Sulasih, legislator dari Fraksi PKB.

Selain itu, di sektor pertanian, warga mengusulkan bantuan berupa pupuk dan bibit kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas pertanian di daerah mereka.

Usulan tersebut mencerminkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu penopang ekonomi lokal.

Tidak hanya itu, masyarakat juga menyuarakan pentingnya dukungan terhadap UMKM, khususnya melalui program pembinaan berkelanjutan bagi para pelaku usaha, termasuk kelompok ibu-ibu majelis.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat ekonomi lokal dan mendorong kemandirian masyarakat.

Sulasih berjanji akan membawa seluruh aspirasi ini ke pemerintah daerah agar menjadi prioritas dalam program pembangunan mendatang. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah agar kebutuhan di wilayah tersebut dapat terakomodasi dengan efektif.

“Harapannya, seluruh aspirasi yang disampaikan masyarakat dapat segera diwujudkan demi kesejahteraan mereka,” tutupnya. (ADV)

Penulis: Hanafi

Petani Loa Janan Ulu Keluhkan Harga dan Kelangkaan Pupuk, DPRD Kaltim Siapkan Solusi

0

SAMARINDA – Dalam kegiatan reses di Desa Loa Janan Ulu, anggota DPRD Kalimantan Timur dari Fraksi PDIP, Guntur, menerima aspirasi petani yang mengeluhkan masalah harga pupuk yang tinggi dan kelangkaan pasokan. Keluhan ini disampaikan dalam pertemuan yang berlangsung pada Senin (4/11/2024), di mana petani setempat berharap ada solusi untuk ketersediaan pupuk agar hasil pertanian mereka tidak terganggu.

Guntur menyampaikan bahwa masalah pupuk merupakan tantangan besar bagi petani di Kaltim dan memerlukan kerja sama lintas pemerintah daerah dan provinsi. “Kita butuh kolaborasi pemerintah daerah dan provinsi agar pasokan pupuk untuk petani di Kalimantan Timur dapat terpenuhi,” kata Guntur.

Selain itu, ia mendorong agar pemerintah mempertimbangkan kemitraan dengan Pupuk Kaltim untuk memastikan prioritas alokasi pupuk bagi petani lokal. Guntur juga mengusulkan produksi pupuk mandiri sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga kestabilan harga dan ketersediaan.

Menurut Guntur, produksi pupuk lokal akan membantu menekan harga dan menjamin suplai pupuk yang berkelanjutan, sehingga petani bisa terus produktif tanpa terganggu oleh kendala pupuk. “Kami berharap isu ini mendapat perhatian serius agar tidak menghambat produktivitas petani di Kaltim,” tutupnya. (Adv)

Penulis: Hanafi

Desa Loa Janan Ulu Akan Dimekarkan, Masyarakat Berharap Akses Layanan Lebih Mudah

0

TENGGARONG – Wacana pemekaran Desa Loa Janan Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara, terus mendapat sorotan dan dukungan dari masyarakat setempat.

Dalam reses yang dilakukan anggota DPRD Kaltim dari Fraksi PDI Perjuangan, Guntur, pada Senin (5/11/2024) malam, pemekaran desa disebut sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan akses layanan publik bagi masyarakat Loa Janan Ulu.

Menurut Guntur, pemekaran desa tidak hanya sekadar pembagian wilayah, namun juga harus direncanakan secara matang sesuai ketentuan yang berlaku.

Proses ini akan melibatkan pemenuhan syarat dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), serta mempertimbangkan aspirasi masyarakat dan kondisi sosial-budaya setempat.

“Pemekaran ini diharapkan tidak hanya memisahkan wilayah administrasi, tetapi juga membawa perubahan positif bagi desa baru nantinya,” kata Guntur.

Rencana ini mencakup pemisahan wilayah RT tertentu di Dusun Tegal Anyar untuk membentuk desa baru yang akan diberi nama “Loa Janan Raya”.

Wilayah yang akan dimekarkan antara lain RT 04, 05, 24, 25, 26, 31, 32, dan 33, yang saat ini dihuni oleh sekitar 13.447 jiwa.

Guntur menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses ini.

“Kami berharap agar masyarakat aktif menyampaikan masukan dan ide untuk membangun desa yang lebih baik,” ujarnya.

Pemekaran ini diharapkan mampu meningkatkan akses terhadap layanan publik serta membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar.

“Langkah pemekaran ini masih menunggu finalisasi oleh pemerintah daerah, namun aspirasi masyarakat telah tercatat dan akan menjadi bahan pertimbangan utama,” ujarnya. (Adv)

Penulis: Hanafi

Pemerintah Kecamatan Muara Muntai Fokus Tingkatkan Infrastruktur dengan Semenisasi Jalan

TENGGARONG – Pemerintah Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) prioritaskan progran peningkatan kualitas jalan penghubung antar desa dengan melakukan semenisasi di sejumlah akses yang sebekumnya terbuat dari jembatan kayu di tahun 2024.

Camat Muara Muntai, Mulyadi mengungkapakan semenisasi jalan ini dilakukan karena sudah berpuluh-puluh tahun jalan poros di kecamatannya adalah jembatan ulin. Dengan pertimbangan umur dan ketahanan kayu ulin. Selain disemen, jalanan disana juga diproyeksikan bakal dilebarkan.

“Sampai saat ini masih ada 40 persen jalan poros yang belum disemenisasi, ini menjadi penghubung antar desa kami,” ujar Mulyadi.

Kecamatan Muara Muntai memiliki kondisi geografis yang unik. Berada di kawasan hulu Kukar, terdapat 13 desa yang terpisah-pisah oleh perairan Sungai Mahakam. Mayoritas jalan disana dihubungkan dengan jembatan yang terbuat dari kayu ulin. Sehingga melapis jembatan ulin dengan semenisasi ini akan menjadi prioritasnya kedepan.

Peningkatan kualitas jalan disana diharapkan mempermudah akses transportasi masyarakat. “Insya Allah setidaknya tahun 2025 nanti semua jalan poros ini sudah disemenisasi, kita juga terus konsentrasi meningkatkannya,” tutupnya. (Yudi/Adv)

Sulasih Dukung Pemilihan Duta Pelajar Sadar Hukum sebagai Upaya Tingkatkan Kesadaran Generasi Muda

SAMARINDA – Pemilihan Duta Pelajar Sadar Hukum tingkat SLTA se-Kaltim yang digagas oleh Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur kembali mendapat apresiasi. Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Hj. Sulasih, menyambut positif program yang melibatkan pelajar dari 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur ini.

“Program ini memberikan pemahaman mendalam kepada pelajar tentang pentingnya kesadaran hukum sejak dini. Mereka juga bisa menjadi contoh di lingkungan mereka,” ujar Sulasih melalui pesan WhatsApp pada Selasa (5/11/2024).

Acara yang berlangsung di Swiss-Belhotel Balikpapan dari 4-8 November 2024 ini diikuti oleh 60 finalis, didampingi oleh pembimbing dan perwakilan dari Kejaksaan Negeri di seluruh wilayah Kaltim.

Menurut Sulasih, langkah Kejaksaan Tinggi Kaltim yang rutin menyelenggarakan kegiatan ini patut diapresiasi karena turut mendukung upaya penanaman nilai-nilai hukum di kalangan generasi muda.

Ia juga menyarankan agar pelajaran dasar hukum dimasukkan ke dalam kurikulum SMA untuk memperkuat pemahaman para siswa.

“SMA sebaiknya ada penambahan pelajaran dasar hukum. Ini penting agar mereka memahami aturan dan konsekuensi hukum sejak dini,” tambah politisi dari daerah pemilihan Bontang, Kutai Timur, dan Berau tersebut.

Lebih dari itu, Sulasih berharap para duta yang terpilih tidak hanya memahami hukum, tetapi juga mampu mengimplementasikan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Setelah menjadi duta, mereka harus bisa memberikan contoh yang baik dan membantu teman-temannya untuk menghindari hal-hal yang melanggar hukum,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kompleksitas masalah kekerasan di kalangan remaja, yang sering kali dipicu oleh faktor keluarga dan lingkungan.

Menurutnya, pendekatan dialogis menjadi kunci dalam menangani isu ini.

“Kita harus mengajak mereka berbicara, memahami masalah mereka. Pendekatan seperti ini lebih efektif dibanding hanya memberikan aturan atau ceramah,” jelasnya.

Sulasih berharap program seperti Duta Pelajar Sadar Hukum dapat menjadi salah satu solusi untuk menciptakan generasi muda yang lebih sadar hukum, beretika, dan mampu menjadi agen perubahan di masyarakat. “Dengan kesadaran hukum yang baik, generasi muda kita akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya. (Adv)

Penulis: Hanafi

Debat Pilkada Bontang Digelar 10 November, KPU Siapkan Panelis Profesional dan Format Enam Segmen

0

BONTANG –  Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bontang mempersiapkan debat perdana pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota yang akan diselenggarakan pada 10 November di Ballroom Hotel Grand Mutiara.

Debat publik ini akan disiarkan langsung melalui PKTV dan kanal YouTube resmi KPU, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal visi dan misi dari para calon pemimpin Kota Bontang.

Ketua KPU Bontang, Muzarroby Renfly, menjelaskan bahwa debat akan berlangsung dengan tema “Pembangunan Sumber Daya Manusia Kompetitif dalam Mewujudkan Bontang Sentosa 2045.”

Acara debat ini dijadwalkan dimulai pukul 14.00 hingga 17.00 WITA, berlangsung selama 180 menit dan terbagi dalam enam segmen. “Format enam segmen ini dirancang untuk memberikan ruang bagi pemaparan program sekaligus interaksi antarpaslon,” ujar Muzarroby pada Rabu (6/11/2024).

Format debat ini mengacu pada Surat Keputusan KPU Nomor 1363 Tahun 2024. Setiap segmen akan meliputi pembukaan, pembacaan tata tertib, penyampaian visi-misi, pendalaman program oleh moderator, sesi tanya jawab antar paslon, serta penutupan dengan pernyataan akhir dari masing-masing kandidat. Untuk memperkaya arah diskusi, KPU Bontang tengah menyusun tim perumus yang terdiri dari akademisi, profesional, dan praktisi dari berbagai bidang.

Guna menjaga ketertiban dan menghindari kerumunan, KPU Bontang membatasi jumlah pendukung yang dapat hadir langsung di lokasi debat. Setiap paslon hanya diperbolehkan membawa 25 pendukung tanpa arak-arakan massa. “Kami berharap para pendukung dapat menyaksikan jalannya debat dari tempat masing-masing,” tambah Muzarroby.

KPU Bontang mengajak masyarakat untuk turut serta dalam proses demokrasi melalui pemahaman yang lebih mendalam mengenai program-program paslon. Debat ini diharapkan dapat membantu masyarakat Bontang dalam menentukan pilihan yang terbaik untuk masa depan kota. (adv/kn)

Pemkab PPU Gelar Pelatihan Konvensi Hak Anak untuk Wujudkan KLA

PPU – Dalam rangka mendukung terwujudnya Kabupaten Layak Anak (KLA), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengadakan Pelatihan Konvensi Hak Anak (KHA). Kegiatan yang berlangsung dari 5 hingga 7 November 2024 di Hotel Aqilah, Kecamatan Penajam.

Pelatihan ini melibatkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, serta Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai narasumber utama. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat komitmen bersama dalam memastikan pemenuhan hak-hak anak dan perlindungan khusus anak di PPU.

Dalam acara pembukaan, Kepala Dinas DP3AP2KB, Chairur Rozikin, menekankan pentingnya pelatihan ini sebagai bagian dari evaluasi Kabupaten Layak Anak. “Pelatihan Konvensi Hak Anak adalah salah satu tolak ukur dalam Evaluasi KLA, yang menjadi dasar bagi kabupaten/kota untuk memiliki sistem pembangunan yang menjamin hak-hak anak dan perlindungan khusus anak,” ujarnya.

Chairur juga menambahkan bahwa anak adalah aset bangsa yang sangat berharga. Pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak adalah tanggung jawab bersama.

“Anak adalah masa depan bangsa yang akan melanjutkan estafet pembangunan, oleh karena itu penting untuk memastikan hak-hak mereka terpenuhi dengan baik,” tegasnya.

Lebih lanjut, Chairur menjelaskan bahwa untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak, terdapat 24 indikator yang harus dipenuhi. Indikator-indikator tersebut meliputi lima klaster utama hak-hak anak dalam Konvensi Hak Anak, yaitu: (1) hak sipil dan kebebasan, (2) lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, (3) kesehatan dasar dan kesejahteraan, (4) pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya, serta (5) perlindungan khusus.

Ia juga memastikan DP3AP2KB PPU akan terus bersinergi dengan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan instansi terkait dalam rangka mewujudkan KLA.

“Pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak memerlukan kolaborasi lintas sektoral yang melibatkan pemerintah, lembaga masyarakat, forum anak, media massa, serta dunia usaha,” tambahnya.

Sebagai informasi, Kabupaten Penajam Paser Utara telah berhasil meraih Penghargaan KLA dengan predikat Pratama selama empat tahun berturut-turut dan pada tahun 2023, naik menjadi predikat Madya. Chairur Rozikin berharap, dengan pelatihan ini, Kabupaten PPU dapat meningkatkan prestasinya dan meraih predikat Nindya pada tahun mendatang.

Pelatihan yang diikuti oleh 50 peserta dari perwakilan seluruh organisasi perangkat daerah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan para peserta, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam implementasi kebijakan dan program yang mendukung pemenuhan hak-hak anak di Kabupaten PPU.

“Kami berharap para peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat dalam rangka mewujudkan Kabupaten Layak Anak di PPU,” tutup Chairur. (ADV/DiskominfoPPU/SBK)

Pemkab PPU Ajak DMI Perluas Peran Masjid sebagai Pusat Aktivitas Sosial

PPU – Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Muhammad Daud, membuka kegiatan Musyawarah Daerah Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten PPU, Selasa (5/11/2024). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) PPU Muhammad Syahrir, Sekretaris Umum Pimpinan Wilayah DMI Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Muhammad Idris, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) PPU Abu Hasan Mubarok.

Dalam sambutannya, Muhammad Daud yang mewakili Pj Bupati PPU Zainal Arifin, menekankan bahwa masjid seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial. Ia berharap keberadaan DMI di PPU dapat memperluas peran masjid dalam memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dalam aspek spiritual maupun sosial.

“DMI yang terbentuk nantinya diharapkan dapat mengangkat nama pengurus masjid secara umum dan DMI khususnya, serta dapat menjadi lebih dikenal dan bermanfaat bagi umat,” ungkapnya.

Daud juga mengusulkan agar pelantikan DMI PPU dilakukan setelah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Dengan alasan agar suasana lebih kondusif dan terhindar dari kaitannya dengan politik.

“Kita tidak ingin urusan keagamaan ini terhubung dengan politik,” tambahnya.

Sementara Kepala Kantor Kemenag PPU, Muhammad Syahrir, turut memberikan tanggapan, menyatakan bahwa Kemenag berperan dalam hal regulasi dan fasilitasi kegiatan terkait masjid, salah satunya adalah melalui Badan Kesejahteraan Masjid. Ia berharap, dengan adanya kerjasama antara pemerintah daerah, Kemenag, dan DMI, masjid dapat lebih banyak memberikan manfaat bagi umat.

“Kemenag berharap DMI dapat menjadi jembatan antara masjid, masyarakat, dan lembaga keagamaan lainnya. Seiring dengan pemindahan ibukota ke IKN, DMI PPU juga berpeluang untuk berperan di tingkat nasional,” kata Syahrir.

Sekretaris Umum Pimpinan Wilayah DMI Provinsi Kaltim, Muhammad Idris, mengingatkan bahwa DMI harus turut berperan dalam membangun peradaban, salah satunya dengan menjadikan masjid sebagai tempat untuk mewujudkan cita-cita PPU yang maju, modern, dan religius.

“Sebagai Serambi Nusantara, DMI PPU harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya,” pungkas Idris. (ADV/DiskominfoPPU/SBK)

Peningkatan Daya Saing Sawit PPU, Kolaborasi Akademisi dan Pemerintah

PPU – Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Penajam Paser Utara (PPU), Tohar, secara resmi membuka Fokus Group Discussion (FGD) dengan tema “Sawit Berkelanjutan” yang digelar di Ballroom Hotel Ika Petung, Selasa (5/11/2024). Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian yang diinisiasi oleh LPPM Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dengan judul “Pengembangan Model New Market Entry Capability dengan Product Innovativeness, Brand Resonance, dan Marketing Capability pada Industri Sawit Berkelanjutan”.

Dalam sambutannya, Tohar menyampaikan bahwa FGD ini tidak hanya merupakan bagian dari penelitian UPN Veteran Yogyakarta, tetapi juga merupakan salah satu inisiatif Badan Pengelola Dana Sawit Perkebunan Kelapa Sawit untuk memperluas pemahaman serta mendalami pengembangan sektor kelapa sawit di Indonesia melalui kolaborasi strategis antar pihak.

“Semoga ini menjadi langkah awal dari banyak kolaborasi yang mengarah pada kemajuan dan keberlanjutan industri sawit di Indonesia,” ungkap Tohar.

Tohar juga menekankan pentingnya tema “Sawit Berkelanjutan” dalam konteks Kabupaten PPU, yang memiliki peran besar dalam sektor agrikultur, khususnya perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, industri sawit di PPU memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah, namun ia juga menegaskan bahwa perkembangan industri ini harus diimbangi dengan pendekatan yang berorientasi pada keberlanjutan.

“Kita harus memastikan kelapa sawit tidak hanya membawa manfaat ekonomi, tetapi juga tetap menjaga keseimbangan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam industri ini,” ujar Tohar.

Tohar menyambut baik kolaborasi yang terjalin antara UPN Veteran Yogyakarta dengan universitas-universitas lainnya, seperti Universitas Terbuka, Universitas Borneo, Universitas Fajar, dan Universitas Mulawarman, dalam riset ini. Kehadiran para akademisi dan pakar dari berbagai universitas, menurutnya, akan memberi nilai positif pada diskusi hari ini dan mendorong inovasi dalam industri sawit.

Tohar berharap bahwa riset ini, dengan fokus pada Product Innovativeness, Brand Resonance, dan Marketing Capability, dapat memperkuat daya saing produk sawit Indonesia. Ia juga berharap ke depannya produk sawit dari PPU akan dikenal tidak hanya karena kuantitasnya, tetapi juga karena kualitas dan keberlanjutannya.

“Saya yakin kolaborasi antar lembaga ini akan mendorong solusi dan inovasi untuk menghadapi berbagai tantangan dalam industri sawit, serta menciptakan model bisnis yang lebih adaptif, inovatif, dan mampu bersaing di pasar internasional,” tutupnya. (ADV/DiskominfoPPU/SBK)