Beranda blog Halaman 331

Sal Priadi, Ivan Gunawan, hingga Jordi Amat Meriahkan Karnaval Kemerdekaan di Jakarta

0

JAKARTA – Sejumlah figur publik ikut meramaikan sejumlah truk yang menampilkan berbagai kementerian/lembaga (K/L) dalam Karnaval Kemerdekaan, pada Minggu (17/8/2025).

Berdasarkan pantauan ANTARA di Kawasan Patung Kuda, Jakarta, figur publik yang tampak hadir yakni musisi Sal Priadi yang ikut naik dalam truk Karnaval Kemerdekaan Kementerian Kebudayaan.

Pelantun lagu “Gala Bunga Matahari” itu memakai busana batik berwarna merah dengan celana panjang hitam turut menyapa masyarakat dengan melambaikan tangan di atas truk dari Kementerian Kebudayaan yang bertuliskan “bukan sound horeg” dilengkapi dengan sebuah robot yang menarik perhatian.

Tak hanya Sal Priadi, desainer sekaligus presenter Ivan Gunawan juga turut ikut dalam truk Karnaval Kemerdekaan.

Ivan yang mengenakan pakaian berwarna cerah perpaduan hijau stabilo dan merah muda atau pink hadir dalam truk Karnaval Kemerdekaan dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.

Truk Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dihiasi dengan gelembung-gelembung cantik yang tentunya memeriahkan 17 subsektor yang kini digadang-gadang sebagai pilar ekonomi nasional.

Pemain bola Jordi Amat juga turut menyapa masyarakat dalam truk Karval Kemerdekaan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersama Menteri BUMN Erick Thohir.

Sebelumnya, truk peserta pawai Karnaval Kemerdekaan dilepas oleh Presiden RI Prabowo Subianto didampingi Wakil Presiden Gibran di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (17/8/2025) malam.

Adapun Karnaval Kemerdekaan merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam memperingati HUT Ke-80 Kemerdekaan RI, dengan rute yang dilalui mulai dari kawasan Monas, depan Istana Merdeka, Thamrin, hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Setiap truk dari K/L yang melintas memiliki keunikan tersendiri, karena dihias untuk menekankan program-program unggulan yang sedang dijalankan, di mana melibatkan perwakilan seluruh instansi pemerintah, kementerian, lembaga, TNI/Polri, maupun BUMN.

Peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2025 bertema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Tema tersebut mencerminkan semangat kebangsaan yang terus dijaga sebagai fondasi untuk melangkah ke masa depan. (ANT/KN)

Antisipasi Kelangkaan, Pertamina Tambah Pasokan BBM ke Labuan Bajo

0

LABUAN BAJO – PT Pertamina Patra Niaga Jatim Bali Nusa Tenggara (Jatimbalinus) mengerahkan armada tambahan dari dua fuel terminal di Flores yakni fuel terminal Maumere serta fuel terminal Ende di Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mengantisipasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Labuan Bajo dan sekitarnya.

“Dari Fuel Terminal Maumere, telah dioperasikan tiga unit mobil tangki berkapasitas 16.000 liter dengan total pasokan 48.000 liter produk Pertamina Dex,” kata Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi dari Surabaya, Minggu (17/8/2025).

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan perkembangan serta upaya, Pertamina Patra Niaga mengatasi masalah kelangkaan BBM baik di Labuan Bajo, Ende dan Ngada beberapa pekan terakhir.

Dia mengatakan, selain fuel terminal Maumere ada juga penambahan pasokan dari Fuel Terminal Ende yang terdiri dari enam unit mobil tangki dengan kapasitas yang sama dikerahkan, membawa total 96.000 liter produk Biosolar.

Selain penambahan pasokan,Pertamina juga kata dia melalukan suplai BBM ke SPBU selama 24 jam. Hal ini menjadi komitmen Pertamina Patra Niaga untuk mengamankan distribusi BBM di wilayah Labuan Bajo dan sekitarnya.

“Fuel terminal kami beroperasi 24 jam untuk memastikan ketersediaan BBM di Labuan Bajo dan sekitarnya tetap terjaga,” ujar Ahad.

Selain itu Pertamina juga ujar dia memprioritaskan pengiriman ke SPBU serta pengisian bagi konsumen kendaraan.

Sementara itu, pengisian untuk konsumen non-kendaraan dilakukan pengaturan mencegah potensi tindakan spekulatif.

Warga ujar dia tidak perlu khawatir juga karena pada Selasa (19/8) pekan depan kapal tanker dijadwalkan melakukan bongkar muat di Fuel Terminal BBM Reo dengan membawa 250.000 liter Pertamina Dex dan 800.000 liter Biosolar untuk menambah stok BBM di wilayah tersebut.

Sebagai informasi rata-rata konsumsi penggunaan BBM SPBU wilayah Labuan Bajo untuk produk Pertalite 6.090 liter, Pertamax 7.020 liter, Biosolar 2.220 liter, Pertamina Dex 5.940 liter.

“Dengan tambahan pasokan ini, didukung dua titik alih suplai dan optimalisasi distribusi yang kami lakukan, kami mengamankan distribusi BBM tercukupi,” pungkasnya.

Pertamina juga ujar Ahad menyampaikan terima kasih atas kesabaran dan pengertian masyarakat, yang sepenuhnya dipicu oleh faktor cuaca ekstrem yang berdampak pada mobilisasi kapal suplai ke Fuel Terminal BBM Reo. (ANT/KN)

Panjat Pinang Kalimalang Jadi Ikon Pesta Rakyat 17 Agustus di Jakarta

0

JAKARTA – Jika di banyak tempat perayaan 17 Agustus identik dengan lomba sederhana di halaman rumah atau lapangan, maka di Jakarta ada satu momen yang selalu dinanti yakni panjat pinang di Kalimalang.

Tradisi yang telah melekat sejak puluhan tahun ini menjelma menjadi ikon perayaan kemerdekaan di ibu kota, menghadirkan ribuan warga yang rela berdesakan di bantaran sungai hanya untuk menyaksikan keseruan dan simbol perjuangan kolektif itu.

Bukan sekadar lomba, panjat pinang Kalimalang telah menjelma menjadi pesta rakyat khas Jakarta yang tak tergantikan oleh event mana pun. Suasana 17 Agustus 2025 menegaskan reputasi itu. Sejak pagi, bantaran Kalimalang dipenuhi warga lintas usia.

Di antara ragam lomba rakyat, sorak paling riuh pecah ketika giliran panjat pinang berlangsung dengan format khas Kalimalang yang berbeda, bukan memanjat tiang tegak, melainkan meniti batang pinang atau bambu yang dilumuri oli, dibentangkan melintang di atas aliran air.

Setiap ada peserta terpeleset disambut tawa, setiap bangkit lagi dibalas tepuk tangan. Keriuhan ini dirawat oleh warga dan pemuda setempat. Tahun ini rangkaian hajat warga ini turut didukung Rampai Nusantara sebagai penyelenggara kegiatan 17-an, dengan hadiah puncak panjat pinang berupa dua sepeda sumbangan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Namun, inti pesona Kalimalang bukan pada hadiahnya, melainkan pada pengalaman kolektif yang mempertemukan orang asing menjadi sesama, sesama penonton, sesama penyemangat, dan sesama perayap licin di atas air. Semuanya untuk sehari merayakan kebersamaan tanpa sekat.

Ketua Umum Rampai Nusantara, Mardiansyah Semar, menggarisbawahi bahwa perayaan HUT RI di Kalimalang adalah tradisi rakyat yang kelestariannya dijaga dari tahun ke tahun.

Ia menekankan makna yang sering luput dalam seremoni yaitu semangat persatuan dan gotong royong yang dihidupkan, bukan sekadar dikutip.

Di Kalimalang, nilai itu tampak konkret. Kelompok peserta menyusun strategi, tubuh-tubuh menjadi pijakan, tangan saling mengangkat, dan yang jatuh kembali didorong untuk bangkit.

Inilah kurikulum kebangsaan yang diajarkan tanpa papan tulis. Kemerdekaan sebagai hasil kerja bersama, bukan hadiah yang jatuh dari langit.

De Klimmast
Agar tradisi ini semakin kaya makna, penting melihat akar sejarahnya. Mayoritas kajian populer dan arsip media menyebut panjat pinang sebagai warisan dari masa kolonial Belanda.

Pada awal abad ke-20, permainan memanjat tiang licin (dalam istilah Belanda sering dirujuk sebagai de klimmast) digelar dalam perayaan tertentu, dengan hadiah yang menggoda di puncak batang pinang, berupa barang-barang mewah bagi ukuran kala itu.

Pada masa itu, panjat pinang mengandung ironi bahwa hadiah mengilap di atas, tapi jarak sosial di bawah. Setelah kemerdekaan, tradisi ini “diindonesiakan” dengan maknanya yang bertransformasi dari tontonan bernada sindiran menjadi perayaan kebersamaan.

Batang licin berubah menjadi metafora jalan terjal bangsa, dengan hadiah di pucuk menandai cita-cita kolektif. Transformasi makna ini menjadikan panjat pinang relevan, bukan sekadar romantika masa lampau, melainkan wadah aktualisasi nilai gotong royong di ruang publik modern.
Kalimalang memberi bab tambahan pada kisah itu. Di sini, panjat pinang bukan sekadar meniru pola vertikal yang umum, melainkan mengembangkan bentuk khas meniti “jembatan” licin di atas air.

Kekhasan yang sudah terdokumentasi media sejak beberapa tahun lalu ini lahir dari kreativitas warga Cipinang Melayu dalam memanfaatkan lanskap sungai sebagai panggung.

Tradisi air di Kalimalang juga memperkenalkan variasi lain seperti gebuk bantal. Namun ingat, di sini panjat pinanglah yang lebih tua dan menjadi poros identitas perayaan.

Kesaksian tokoh lingkungan menyebut “Semarak Kalimalang” sudah ada sejak era 1930-an. Sempat jeda pada masa perang, dan dihidupkan kembali pada awal 1980-an.

Kronologi lisan ini, meski perlu terus ditopang arsip tertulis, memperkuat kesan bahwa Kalimalang bukan fenomena musiman, melainkan warisan yang diwariskan antar-generasi.

Kekuatan Kalimalang justru terletak pada cara komunitas memelihara tradisi. Tidak ada satu “pencetus” tunggal yang secara kredibel ditahbiskan sebagai penggagas. Tradisi ini lahir dari gotong royong pemuda dan warga, lalu tumbuh bersama dukungan kelurahan, perangkat RW, dan relawan, termasuk koordinasi keselamatan dengan dinas terkait saat pelaksanaan.

Karena itu, setiap tahun Kalimalang terasa baru sekaligus akrab dengan formatnya yang sama; energi sosialnya selalu diperbarui.

Di sinilah semua bisa melihat fenomena yang oleh sosiolog Emile Durkheim disebut “gejolak kebersamaan” bahwa momen ketika individu larut dalam emosi kolektif yang meneguhkan solidaritas. Bagi banyak orang Jakarta yang sehari-hari hidup dalam ritme kota yang terfragmentasi, Kalimalang adalah ruang rekat sosial yang langka.

Inklusivitas Tinggi
Keunikan lain Kalimalang adalah inklusivitasnya. Tidak ada tiket mahal, tidak ada pagar sosial. Warga sekitar menyatu dengan pendatang, bahkan wisatawan mancanegara kerap ikut mencoba peruntungan di atas batang licin.

Tradisi ini menjadi magnet tahunan, menyaingi gegap-gempita panggung hiburan modern yang sering eksklusif. Justru karena diakses semua orang, panjat pinang Kalimalang memancarkan rasa kepemilikan yang seakan menyerukan bahwa “ini pesta kami, milik kami, dirayakan bersama”.

Efek rambatnya pun nyata, UMKM lokal hidup oleh arus penonton, pedagang kaki lima kebagian rezeki, dan jejaring sosial warga melebar. Melihat semua itu, wajar bila banyak yang mengusulkan Kalimalang dimasukkan ke dalam kalender budaya resmi Jakarta dan diusulkan sebagai warisan budaya takbenda tingkat kota.

Ini bukan sekadar memberi stempel “prestise”, melainkan memastikan keberlanjutan: penataan ruang bantaran, standar keselamatan, pelibatan komunitas, dokumentasi arsip, dan dukungan logistik lintas instansi.

Jika ditata baik, Kalimalang dapat menjadi rujukan nasional untuk festival tradisi berbasis sungai, tanpa kehilangan jiwa rakyatnya. Pembelajaran dari kota-kota lain menunjukkan, ketika pemerintah bertindak sebagai fasilitator dan pelindung, bukan pengambil alih, tradisi justru tumbuh subur dan berdaya.

Puncaknya, panjat pinang Kalimalang mengajarkan cara merayakan kemerdekaan yang mencerahkan dengan memadukan ingatan sejarah, kreativitas lokal, dan keberanian bersolidaritas.

Di atas batang licin itu, kita melihat miniatur republik orang yang kuat merunduk agar yang di atas bisa melangkah, yang jatuh ditarik naik lagi, dan kemenangan dirayakan sebagai milik bersama.

Tahun ini, hadiah sepeda dari Wakil Presiden menambah semarak, tetapi hadiah terbesar selalu sama: rasa bahwa kita masih punya ruang untuk menjadi Indonesia yang riang, berani, dan saling menopang.

Mungkin itulah alasan sederhana mengapa panjat pinang Kalimalang selalu ditunggu warga Jakarta, berbeda dengan event lain yang datang dan pergi.  Panjat pinang Kalimalang bukan sekadar menambah daftar hiburan, melainkan menegakkan kembali cermin yang memantulkan siapa kita.

Selama batang pinang itu terus dibentangkan di atas air, selama tawa dan sorak masih bercampur dengan cipratan sungai, selama tangan-tangan itu masih saling mengangkat, Kalimalang akan tetap menjadi kabar gembira yang bisa ditonton setiap 17 Agustus, sebuah janji kecil bahwa kemerdekaan selalu bisa dirayakan bersama.(ANT/KN)

Trump Rencanakan Pertemuan Trilater dengan Putin dan Zelensky

ISTANBUL – Presiden Amerika Serikat Donald Trump bermaksud mengadakan pertemuan trilateral dengan mitra Rusia dan Ukraina secepatnya pada 22 Agustus, demikian lapor Axios pada Sabtu (16/8/2025).

Menyusul pertemuan pada Jumat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, Trump mengatakan kepada para pemimpin Eropa melalui telepon bahwa dia akan mengatur pertemuan dengan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenksyy.

Sebelumnya Trump telah bertemu Zelensky pada Senin lalu di Gedung Putih dan sekaligus mengundang para pemimpin Eropa untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Namun, Putin belum memberi jawaban terkait usulan pertemuan trilateral tersebut.
Trump dan Putin mengadakan pertemuan puncak penting di Anchorage, Alaska, pada Jumat, menandai pertemuan tatap muka pertama antara kedua pemimpin sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari 2022. Ini juga merupakan kunjungan pertama Putin ke AS untuk berunding dengan seorang presiden AS sejak 2007.

Putin mengatakan dalam konferensi pers setelah pertemuan puncak bahwa ia dan Trump telah mencapai “kesepahaman.”
Trump, di sisi lain, mengatakan mereka telah mencapai “beberapa kemajuan” tetapi mengakui belum ada kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. (ANT/KN)

Potret Jalur Pesisir Samarinda–Bontang: Indah Pantainya, Rusak Jalannya

Minggu (17/8), saya memilih jalur pesisir pantai untuk pulang dari Samarinda ke Bontang. Ini bukan pengalaman pertama. Beberapa kali saya sudah melintasi jalur Muara Badak–Marangkayu–Bontang Lestari. Terakhir sekitar 8 bulan lalu. Jalurnya relatif lurus, tidak terlalu banyak kelokan dan tanjakan. Tetapi jelas bukan jalur utama. Jalan pesisir melewati kawasan pedesaan di tepian pantai dan sejumlah kecamatan di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar).

Sebagai patokan perjalanan, dalam tulisan ini, saya menghitung kilometer dari Tugu Ulin Simpang Badak–Bontang–Samarinda di Desa Tanah Datar, Muara Badak. Pada tugu itu terukir ikon Burung Enggang, satwa khas Kalimantan yang masih dapat dijumpai di Muara Badak meski kini semakin terancam punah. Dari Samarinda, jarak ke tugu ini sekitar 20 kilometer. Jika berbelok ke kanan, kendaraan masuk jalur pesisir Muara Badak, sementara lurus saja berarti tetap di poros utama Samarinda–Bontang.

Beberapa kilometer setelah simpang Muara Badak, jalan masih terasa mulus. Perbaikan beberapa tahun lalu masih bertahan di sebagian titik. Tetapi memasuki kilometer 20 hingga 25, kondisi mulai berubah. Lubang besar muncul, tambalan aspal terkelupas, dan jembatan lama terlihat cepat rusak karena dilalui kendaraan berat.

Masih di Muara Badak, saya sempat berhenti sebentar. Di pinggir jalan ada pedagang kepiting, kerang, dan hasil laut segar. Pemandangan yang kerap saya temui di jalur ini.

Sekitar kilometer 29, perjalanan melintasi Jembatan Sambera di Desa Tanjung Limau. Jembatan ini sempat berkali-kali viral karena rusak parah dan hanya mendapat perbaikan darurat. Kini kondisinya sudah mulus, pasca direhabilitasi dan diresmikan di era Bupati Kukar, Edi Damansyah, pada Februari 2024. Julukan “Jembatan Kobra” pun berganti dengan jembatan yang lebih kokoh dan layak dilalui.

Selepas Sambera, di kilometer 30–35, jalan cukup kontras. Di kiri kanan terbentang deretan pantai dan lokasi wisata yang dikelola warga. Kali ini saya hanya melintas. Tidak singgah. Namun beberapa pantai itu pernah saya kunjungi sebelumnya. Ada Pantai Panrita Lopi dengan lorong cemara yang ikonik dan Pantai Mutiara Indah yang bisa dicapai hanya menggunakan kapal klotok di dermaga ini. Ada pula Pantai Pelangi dengan payung warna-warni di bibir pantainya, serta Pantai Kurma yang unik karena terdapat kebun kurma di sekitarnya.

Tak ketinggalan Pantai Ceria dan Pantai Malabar yang menawarkan gazebo, lorong bakau, dan nuansa alami khas pesisir. Semua pantai itu menarik, meski sayang, kondisi jalan menuju dan di sekitarnya justru banyak yang rusak parah.

Memasuki Marangkayu, tantangan semakin terasa. Mulai kilometer 42, banyak titik yang sudah ditambal tapi rusak lagi. Jalan sempit, dan kerap berhadapan dengan truk sawit dan truk tambang. Di depan SMK Negeri 1 Marangkayu, jalan bergelombang hingga mobil benar-benar bergoyang keras. Ironis, karena titik itu berada tepat di depan fasilitas publik.

Sejak Agustus 2024, jalan utama di Marangkayu ini sudah berstatus jalan provinsi. Kepada wartawan, Camat Marangkayu, Ambo Dalle, menegaskan bahwa hampir semua desa, ada 11 desa di kecamatan ini, selalu mengusulkan peningkatan jalan dan jembatan dalam Musrenbang. “Dulunya jalan kabupaten, sekarang jalan provinsi. Banyak masyarakat bertanya, bagaimana kelanjutannya? Saya bilang, iya, kita sudah perjuangkan, dan sekarang statusnya sudah menjadi jalan provinsi hingga ke Bontang Lestari,” ujarnya. Dikatakannya, keberadaan jalan ini vital mengingat banyak perusahaan tambang dan perkebunan beroperasi di Marangkayu.

Apa yang disampaikan Camat itu persis dengan apa yang saya lihat dan rasakan sepanjang perjalanan. Kendaraan berat membuat jalan cepat rusak. Beton baru sekalipun tak bertahan lama, pecah dan berlubang hanya dalam hitungan bulan. Maka tak heran bila keluhan jalan rusak selalu terulang, meski perbaikan sudah dilakukan berulang kali.

Lepas Marangkayu menuju Santan hingga Bontang Lestari, jalur tetap menantang. Ada tikungan tajam hampir 90 derajat, dan beberapa segmen jalan yang masih dalam proses perbaikan. Kontur tanah labil membuat permukaan cepat retak. Meski begitu, di sepanjang perjalanan terlihat pasar rakyat Marangkayu, warung kecil penjual hasil laut, hingga pantai-pantai sederhana yang kerap jadi tempat singgah warga.

Dari perjalanan terakhir ini, satu hal yang bisa saya simpulkan: bila ingin tiba lebih cepat, sebaiknya jangan lewat jalur ini. Dari segi jarak, sebenarnya tidak banyak berbeda dengan poros utama. Dari Samarinda hingga Bontang, tepat di simpang RSUD Taman Husada, saya mencatat total 118 kilometer. Selisihnya hanya tipis dengan jalur poros yang berjarak 115 kilometer. Persoalan bukan pada jarak tempuh, melainkan pada kualitas jalan yang masih jauh dari harapan, meski statusnya sudah menjadi jalan provinsi.

Dengan status jalan provinsi, jalur Muara Badak–Marangkayu–Bontang Lestari seharusnya segera mendapat perhatian serius Pemprov Kaltim. Bagi masyarakat pesisir, jalan ini bukan lagi sekadar alternatif, tapi urat nadi utama ekonomi dan kehidupan.

Maka untuk saat ini, jalur ini hanya layak dipilih bila ingin perjalanan santai sambil menikmati pesisir pantai. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Dorong Ekonomi Kreatif, Wabup Gamalis Ingin Perempuan Berau Lebih Mandiri

BERAU – Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan pentingnya dukungan berbagai pihak dalam mendorong kemajuan perempuan di Kabupaten Berau. Menurutnya, peran aktif semua elemen akan menjadi energi positif untuk mewujudkan perempuan yang semakin maju dan mandiri.

“Pemkab Berau terus mendorong agenda pemberdayaan perempuan, termasuk di sektor ekonomi kreatif,” ujarnya.

Wabup Gamalis juga menekankan agar organisasi wanita di Berau dapat menjalankan program kerja yang berfokus pada pembinaan dan pemberdayaan.

Ia yakin, langkah tersebut akan memperkuat peran perempuan dalam pembangunan di berbagai tingkatan, baik di keluarga, masyarakat, maupun pemerintahan.

Kemudian, Gamalis menyinggung pentingnya mempersiapkan generasi muda menghadapi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Ia menilai, peran perempuan sebagai ibu sangat menentukan kualitas generasi mendatang.

“Kami berharap perempuan semakin berkontribusi dalam pembangunan daerah kita,” pungkasnya. (adv/srn/set)

Wabup Berau Dorong Kampung Gurimbang Jadi Kampung Budaya

BERAU – Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis, menyampaikan harapannya agar Kampung Gurimbang dapat berkembang menjadi kampung budaya yang mampu melestarikan kearifan lokal sekaligus menarik minat wisatawan.

Menurutnya, pengembangan Kampung Gurimbang harus dilakukan secara terarah, dengan memperhatikan potensi budaya, ekonomi, dan pariwisata yang dimiliki.

“Kami sangat berharap Kampung Gurimbang bisa berkembang menjadi kampung budaya sekaligus mempertahankan statusnya sebagai kampung mandiri,” ujarnya, baru-baru ini.

Wabup Gamalis menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan pembangunan di Kampung Gurimbang.

Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar program yang direncanakan tepat sasaran dan berdampak langsung pada masyarakat.

“Saya minta OPD terkait memantau perkembangan Kampung Gurimbang, mulai dari infrastruktur, pelestarian budaya, hingga pemberdayaan ekonomi. Semua program harus disusun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.

Ia yakin, dengan dukungan pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat, Kampung Gurimbang dapat menjadi ikon budaya di Kabupaten Berau sekaligus mempertahankan statusnya sebagai Kampung Mandiri.

“Semuanya harus berkolaborasi. Kampung Gurimbang memiliki adat budaya yang harus dilestarikan, agar terus dikenal dan menarik wisatawan,” pungkasnya. (adv/srn/set)

Wabup Berau Buka PW2K, Tekankan Peran Tokoh Lintas Agama Perkuat Persatuan

BERAU – Wakil Bupati Berau, Gamalis, secara resmi membuka kegiatan Pembinaan Wawasan Kebangsaan dan Kepemimpinan (PW2K) bagi tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan pelajar lintas agama se-Kabupaten Berau, di Aula Kantor Kemenag Berau, Jumat (15/8/2025).

Kegiatan yang diinisiasi Badan Kesbangpol Berau ini bertujuan meningkatkan pemahaman kebangsaan sekaligus mengembangkan jiwa kepemimpinan di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Wabup Gamalis menegaskan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada kemajuan ekonomi atau teknologi, tetapi juga pada kokohnya persatuan di tengah perbedaan.

“Para tokoh yang hadir di sini adalah perekat masyarakat. Mereka bisa menjadi jembatan yang menyatukan, pembawa pesan damai, sekaligus penangkal isu-isu yang memecah belah,” ujarnya.

Ia mengingatkan, maraknya hoaks dan ujaran kebencian di ruang publik dapat menjadi ancaman nyata bagi keharmonisan sosial. Untuk itu, peran tokoh lintas agama dan pemuda dinilai semakin penting untuk mengedepankan dialog, membangun kesepahaman, serta mencegah polarisasi.

Wabup Gamalis juga mengajak peserta untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila di setiap lini kehidupan. Menurutnya, Pancasila tidak boleh berhenti pada teks atau slogan, tapi harus diimplementasikan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Kalau semangat Pancasila kuat, bangsa ini, termasuk Kabupaten Berau, akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” katanya.

Ia menekankan agar PW2K tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi membuahkan hasil di lapangan, baik melalui pembinaan, aksi sosial, maupun program kolaborasi antar komunitas.

“Saya minta Badan Kesbangpol dan FKUB terus turun ke masyarakat. Lakukan pendampingan supaya tokoh masyarakat dan pemuda bisa menjalankan perannya secara maksimal,” pungkasnya. (adv/srn/set)

PT ABN Hibahkan Aset ke Perumda Tirta Mahakam, Warga Sangasanga dan Muara Jawa Segera Nikmati Air Bersih

TENGGARONG – Harapan masyarakat Kecamatan Sangasanga dan Muara Jawa untuk mendapatkan akses air bersih segera terwujud. Setelah lama menghadapi persoalan ketersediaan air, kini solusi datang melalui hibah aset dari PT Adimitra Bara Nusantara (ABN) kepada Perumda Tirta Mahakam.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) hibah aset tersebut digelar tepat setelah Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, di Lapangan Upacara Kantor Bupati Kukar, Minggu (17/8/2025).

MoU ditandatangani perwakilan PT ABN bersama Direktur Perumda Tirta Mahakam, Suparno, disaksikan langsung Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri.

Bupati Aulia menegaskan, aset yang dihibahkan akan difungsikan sebagai sumber air baku yang kemudian diolah dan disalurkan ke masyarakat.

“Tanda tangan MoU pemberian hibah dari PT ABN ini berupa pelimpahan aset. Aset tersebut digunakan sebagai air baku Perumda Tirta Mahakam untuk memenuhi kebutuhan warga,” ujar Aulia.

Menurut Aulia, hibah ini menjadi bukti nyata kemitraan strategis antara pemerintah daerah dan dunia usaha. Terlebih, status Perumda Tirta Mahakam yang juga berbadan hukum swasta memungkinkan proses hibah dilakukan dari swasta ke swasta, meski tetap dalam pengawasan Pemkab Kukar.

“Insya Allah, kebutuhan air bersih di Sanga-Sanga dan Muara Jawa sekarang bisa kita pecahkan,” tegasnya.

Langkah ini disambut positif karena selama ini masyarakat di dua kecamatan tersebut kerap mengalami keterbatasan pasokan air bersih. Dengan adanya aset baru dari PT ABN, Perumda Tirta Mahakam optimistis dapat memperluas jaringan pelayanan dan menjamin distribusi yang lebih merata.

Bagi Pemkab Kukar, hibah ini menjadi tonggak penting dalam mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, sekaligus memperkuat komitmen membangun layanan publik yang lebih inklusif. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i

HUT RI ke-80, Bupati Aulia Dorong Pemuda Kukar Jadi Motor Perubahan dengan Karya Nyata

TENGGARONG – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan hanya seremoni, tetapi juga momentum penting untuk menyalakan semangat baru bagi generasi muda. Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, mengingatkan bahwa pemuda harus mampu mengisi kemerdekaan dengan kontribusi nyata bagi bangsa dan daerah.

“Generasi muda adalah penerus estafet bangsa, termasuk di Kukar. Harapan kita, mereka bisa terus semangat, berkarya nyata, dan pemerintah daerah akan mendukung penuh seluruh pemuda,” kata Aulia, Minggu (17/8/2025).

Aulia menegaskan, pemerintahannya bersama Wakil Bupati Rendi Solihin memberi perhatian khusus pada pengembangan kepemudaan. Dukungan itu tidak hanya berupa program, tetapi juga dengan pembagian peran kepemimpinan.

“Kami bagi tugas, agar pembangunan di Kukar bisa berjalan baik di semua sektor. Termasuk memastikan pemuda mendapat ruang untuk berkembang,” tambahnya.

Menurut Aulia, pemuda Kukar harus hadir sebagai motor penggerak dalam pembangunan daerah. Dari sektor pangan, pariwisata, hingga industri hijau yang berkelanjutan, semua membutuhkan energi dan kreativitas generasi muda.

Lebih jauh, Aulia mengaitkan semangat kemerdekaan dengan cita-cita besar daerah. Ia percaya, jika pemuda ikut terlibat aktif, maka visi pembangunan Kukar akan lebih cepat terwujud.

“Kalau generasi muda Kukar ikut bergerak, Insya Allah apa yang kita harapkan bisa terwujud,” tutupnya. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi