Dua remaja yang terekam CCTV saat merusak fasilitas umum di Jalan Ahmad Yani, Gunung Sari, berhasil diamankan aparat. Foto: Istimewa
BONTANG – Dua remaja yang terekam kamera pengawas (CCTV) saat merusak pot bunga di trotoar Jalan Ahmad Yani, kawasan Gunung Sari, Kecamatan Bontang Utara, akhirnya berhasil diamankan aparat gabungan.
Kedua remaja tersebut diketahui berinisial EA (19) dan AM (15). Salah satu pelaku diketahui masih berstatus pelajar.
Edo Olo Vrenson Limbong mengatakan kedua remaja tersebut selanjutnya diserahkan kepada Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bontang untuk menjalani pembinaan.
“Keduanya sudah diamankan dan untuk sanksinya kewenangan Satpol PP, sebab pihak Polres Bontang sudah mengembalikannya langsung ke orang tua masing-masing. Terkait pembinaan yang akan diberikan, akan dilanjutkan oleh dinas terkait,” jelasnya, Sabtu (6/6/2026).
Kedua pelaku diamankan setelah video aksi perusakan fasilitas umum tersebut viral di media sosial dan menuai kecaman masyarakat.
Dari hasil pemeriksaan awal, kedua remaja mengaku melakukan aksi perusakan saat berada di bawah pengaruh minuman beralkohol.
“Selain diamankan, kedua remaja juga telah diminta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari,” tambah Edo.
Sebelumnya, rekaman CCTV memperlihatkan aksi dua remaja merusak pot bunga di trotoar Jalan Ahmad Yani, Gunung Sari, pada Kamis (4/6/2026) dini hari.
Dalam video tersebut, keduanya terlihat merusak pot bunga yang berada di atas trotoar dan merupakan bagian dari fasilitas umum milik pemerintah.
Aksi vandalisme tersebut memicu reaksi keras warga karena dinilai merusak fasilitas publik yang dibangun untuk mempercantik kawasan kota dan kenyamanan masyarakat.
Pemerintah dan aparat keamanan pun mengingatkan masyarakat, khususnya kalangan remaja, untuk menjaga fasilitas umum serta tidak melakukan tindakan yang merugikan lingkungan dan masyarakat luas. (MK)
Salah satu ruas jalan cor di jalur alternatif Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak yang kini mulai banyak dilalui warga. Peta perjalanan saya dari Tenggarong Seberang hingga masuk jalur Batu Besaung menuju Simpang Muara Badak. Foto: Istimewa
JUMAT (5/6/2026) kemarin, saya kembali melakukan perjalanan ke luar daerah. Kali ini ke Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Seperti biasanya, setiap keluar daerah saya selalu berupaya menyempatkan singgah ke biro-biro Media Kaltim Network (MKN). Untuk berdiskusi langsung dengan tim di lapangan, melihat perkembangan daerah, sekaligus menjaga silaturahmi.
Dari Samarinda, perjalanan kami awali menuju Masjid Al Qamar di kawasan Teluk Dalam, Tenggarong Seberang. Setelah Salat Jumat, bersama istri dan anak, kami mulai mencari tempat makan khas Kutai.
Beberapa hari sebelumnya, istri sempat melihat review Rumah Makan Oemar di TikTok. Akhirnya saya meminta Direktur Radar Kukar, Muhammad Rafii, untuk sekalian memesankan tempat.
Dan ternyata memang layak dicoba.
Saya bersama Direktur Radar Kukar Muhammad Rafii saat menikmati makan siang khas Kutai di Rumah Makan Oemar, Tenggarong Seberang. Foto: Rini/Media Kaltim
Saat datang, pengunjung cukup ramai. Beberapa meja bahkan sudah terisi penuh. Menu yang tersaji di meja juga benar-benar khas Kutai.
Ada nila bakar, dan gence nila dengan bumbu yang terasa sampai ke dalam daging ikan. Lais goreng yang renyah. Sambal jaong dengan rasa pedas khas Kutai yang kuat. Sambal cacapan mangga yang segar. Ditambah sayur labu kuah kuning dan terong bakar yang jadi pelengkap pas.
Model masakannya terasa seperti masakan rumahan. Tidak terlalu banyak bumbu modern atau rasa instan. Justru ini yang bikin enak.
Sambil makan, saya dan Rafii juga berdiskusi banyak hal. Mulai perkembangan radarkukar.com, kondisi media saat ini, sampai jalur alternatif melalui Batu Besaung Tenggarong Seberang yang belakangan mulai ramai diperbincangkan warga Kukar dan Samarinda.
Dari obrolan itu akhirnya muncul niat spontan untuk mencoba langsung jalur tersebut menuju Simpang Muara Badak dan lanjut ke Bontang.
Harapannya, siapa tahu bisa memangkas waktu dibanding harus memutar lagi lewat Samarinda.
Apalagi saya memang sengaja menyiapkan dashcam sepanjang perjalanan. Rencananya perjalanan ini ingin saya dokumentasikan penuh dari awal sampai akhir. Mulai kondisi jalan, tikungan, titik rawan, sampai suasana jalur yang selama ini ramai dibicarakan di media sosial.
Siapa tahu bisa menjadi video eksklusif perjalanan jalur Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak yang benar-benar utuh menit per menit.
Namun ternyata ada kendala. Penyimpanan di dashcam penuh dan sistem rekam otomatisnya menimpa video lama. Akibatnya, yang tersimpan justru hanya bagian akhir perjalanan. Sementara rekaman awal hingga pertengahan jalur sebagian besar hilang.
Padahal justru di bagian awal itulah banyak momen menarik dan cukup menegangkan.
Bahkan awalnya saya sempat kelewatan sampai L4. Baru sadar setelah bertanya di sebuah warung bakso di pinggir jalan. Saat itu sempat terpikir untuk putar balik lagi ke Samarinda.
Namun setelah melihat plang besar yang menunjukkan arah Samarinda dan Batu Besaung di L2, perjalanan akhirnya tetap saya lanjutkan.
Dan terus terang, jalur ini memang belum sepenuhnya nyaman.
Awalnya saya mengira jalur ini sudah benar-benar mulus. Sebab dari berbagai review TikTok yang saya lihat, banyak yang mulai menyebut jalur ini sudah layak menjadi alternatif utama menuju Simpang Muara Badak, jalur poros Samarinda-Bontang.
Jalur alternatif Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak mulai ramai digunakan sebagai akses menuju Bontang tanpa masuk Kota Samarinda. Foto: Istimewa
Dan memang sebagian besar jalan sudah jauh berubah.
Banyak ruas sudah dicor beton dan diperlebar. Beberapa bagian jalan provinsi bahkan cukup nyaman dilalui mobil keluarga seperti Veloz, Avanza, atau Innova. Tapi untuk jenis sedan, saya pribadi belum terlalu merekomendasikan.
Begitu masuk kawasan Batu Besaung, suasananya langsung berubah.
Jalan mulai menyempit. Tikungan demi tikungan muncul cukup panjang. Di kanan kiri didominasi hutan, kebun sawit, lembah, dan sesekali rumah warga yang berjauhan.
Ada satu simpang yang sempat membuat bingung. Antara arah Batu Cermin dan Batu Besaung. Untung masih sempat bertanya.
Memang sekitar 90 persen jalur sudah cukup baik. Tetapi masih ada beberapa titik yang menurut saya cukup rawan.
Ada tanjakan curam berbatu walaupun jaraknya mungkin hanya sekitar 100 meter. Ada juga badan jalan yang tinggal separuh akibat longsoran di sisi tebing.
Di satu titik bahkan sempat terlihat seperti jalan putus karena badan jalan menyempit cukup ekstrem.
Kalau malam hari atau saat hujan deras, saya pribadi benar-benar tidak merekomendasikan jalur ini untuk kendaraan atau motor yang belum familiar dengan medan.
Karena selain minim penerangan, suasananya juga sangat sepi. Di beberapa titik bahkan nyaris tidak ada rumah penduduk. Sinyal telepon juga kadang hilang muncul. Kalau kendaraan bermasalah di tengah jalan malam hari, situasinya tentu cukup berisiko.
Belum lagi potensi tindak kejahatan tentu tidak bisa diabaikan. Jalur yang panjang, sepi, dan jauh dari permukiman memang selalu menyimpan potensi kerawanan tersendiri, apalagi jika melintas sendirian pada malam hari.
Karena itu, kalau memang harus melintas, saya pribadi lebih menyarankan dilakukan siang atau sore hari. Pastikan kendaraan benar-benar prima dan BBM cukup sebelum masuk jalur ini.
Meski begitu, saya melihat jalur ini sangat penting untuk masa depan konektivitas Kukar, Samarinda hingga Bontang.
Karena sebenarnya titik rawannya tidak banyak. Hanya sekitar lima titik yang memang perlu benar-benar diselesaikan pemerintah. Sisanya sudah cukup layak.
Dari berbagai review yang saya lihat sebelumnya, beberapa bulan lalu jalur ini masih dipenuhi aktivitas alat berat dan pekerjaan jalan. Namun saat saya melintas kemarin, praktis sudah tidak terlihat lagi pekerjaan berarti di sepanjang jalur tersebut.
Artinya progresnya memang sudah jauh berkembang.
Hanya saja jalur ini masih membutuhkan sentuhan akhir. Terutama pengaman longsor, pelebaran beberapa titik sempit, penerangan, dan rambu penunjuk arah yang lebih jelas.
Soal waktu tempuh sendiri ternyata tidak terlalu berbeda jauh dibanding jalur biasa lewat Samarinda. Dari Tenggarong Seberang menuju Simpang Muara Badak berkisar sekitar 60–70 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, tergantung kondisi jalan dan cuaca. Saat saya melintas, cuaca cukup cerah sehingga perjalanan relatif lancar.
Tetapi perjalanan ini tetap memberi pengalaman berbeda. Sunyi. Hijau. Berliku. Kadang membuat waswas, tapi sekaligus menarik.
Dan mungkin justru karena rekaman dashcam itu tidak tersimpan utuh, perjalanan ini akhirnya lebih banyak tersimpan di ingatan dibanding di video. (*)
Jumat (5/6/2026) kemarin, saya kembali melakukan perjalanan ke luar daerah. Kali ini ke Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Seperti biasanya, setiap keluar daerah saya selalu berupaya menyempatkan singgah ke biro-biro Media Kaltim Network (MKN). Untuk berdiskusi langsung dengan tim di lapangan, melihat perkembangan daerah, sekaligus menjaga silaturahmi.
Dari Samarinda, perjalanan kami awali menuju Masjid Al Qamar di kawasan Teluk Dalam, Tenggarong Seberang. Setelah Salat Jumat, bersama istri dan anak, kami mulai mencari tempat makan khas Kutai.
Beberapa hari sebelumnya, istri sempat melihat review Rumah Makan Oemar di TikTok. Akhirnya saya meminta Direktur Radar Kukar, Muhammad Rafii, untuk sekalian memesankan tempat.
Dan ternyata memang layak dicoba.
Saat datang, pengunjung cukup ramai. Beberapa meja bahkan sudah terisi penuh. Menu yang tersaji di meja juga benar-benar khas Kutai.
Ada nila bakar, dan gence nila dengan bumbu yang terasa sampai ke dalam daging ikan. Lais goreng yang renyah. Sambal jaong dengan rasa pedas khas Kutai yang kuat. Sambal cacapan mangga yang segar. Ditambah sayur labu kuah kuning dan terong bakar yang jadi pelengkap pas.
Model masakannya terasa seperti masakan rumahan. Tidak terlalu banyak bumbu modern atau rasa instan. Justru ini yang bikin enak.
Sambil makan, saya dan Rafii juga berdiskusi banyak hal. Mulai perkembangan radarkukar.com, kondisi media saat ini, sampai jalur alternatif melalui Batu Besaung Tenggarong Seberang yang belakangan mulai ramai diperbincangkan warga Kukar dan Samarinda.
Dari obrolan itu akhirnya muncul niat spontan untuk mencoba langsung jalur tersebut menuju Simpang Muara Badak dan lanjut ke Bontang.
Harapannya, siapa tahu bisa memangkas waktu dibanding harus memutar lagi lewat Samarinda.
Apalagi saya memang sengaja menyiapkan dashcam sepanjang perjalanan. Rencananya perjalanan ini ingin saya dokumentasikan penuh dari awal sampai akhir. Mulai kondisi jalan, tikungan, titik rawan, sampai suasana jalur yang selama ini ramai dibicarakan di media sosial.
Siapa tahu bisa menjadi video eksklusif perjalanan jalur Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak yang benar-benar utuh menit per menit.
Namun ternyata ada kendala. Penyimpanan di dashcam penuh dan sistem rekam otomatisnya menimpa video lama. Akibatnya, yang tersimpan justru hanya bagian akhir perjalanan. Sementara rekaman awal hingga pertengahan jalur sebagian besar hilang.
Padahal justru di bagian awal itulah banyak momen menarik dan cukup menegangkan.
Bahkan awalnya saya sempat kelewatan sampai L4. Baru sadar setelah bertanya di sebuah warung bakso di pinggir jalan. Saat itu sempat terpikir untuk putar balik lagi ke Samarinda.
Namun setelah melihat plang besar yang menunjukkan arah Samarinda dan Batu Besaung di L2, perjalanan akhirnya tetap saya lanjutkan.
Dan terus terang, jalur ini memang belum sepenuhnya nyaman.
Awalnya saya mengira jalur ini sudah benar-benar mulus. Sebab dari berbagai review TikTok yang saya lihat, banyak yang mulai menyebut jalur ini sudah layak menjadi alternatif utama menuju Simpang Muara Badak, jalur poros Samarinda-Bontang.
Dan memang sebagian besar jalan sudah jauh berubah.
Banyak ruas sudah dicor beton dan diperlebar. Beberapa bagian jalan provinsi bahkan cukup nyaman dilalui mobil keluarga seperti Veloz, Avanza, atau Innova. Tapi untuk jenis sedan, saya pribadi belum terlalu merekomendasikan.
Begitu masuk kawasan Batu Besaung, suasananya langsung berubah.
Jalan mulai menyempit. Tikungan demi tikungan muncul cukup panjang. Di kanan kiri didominasi hutan, kebun sawit, lembah, dan sesekali rumah warga yang berjauhan.
Ada satu simpang yang sempat membuat bingung. Antara arah Batu Cermin dan Batu Besaung. Untung masih sempat bertanya.
Memang sekitar 90 persen jalur sudah cukup baik. Tetapi masih ada beberapa titik yang menurut saya cukup rawan.
Ada tanjakan curam berbatu walaupun jaraknya mungkin hanya sekitar 100 meter. Ada juga badan jalan yang tinggal separuh akibat longsoran di sisi tebing.
Di satu titik bahkan sempat terlihat seperti jalan putus karena badan jalan menyempit cukup ekstrem.
Kalau malam hari atau saat hujan deras, saya pribadi benar-benar tidak merekomendasikan jalur ini untuk kendaraan atau motor yang belum familiar dengan medan.
Karena selain minim penerangan, suasananya juga sangat sepi. Di beberapa titik bahkan nyaris tidak ada rumah penduduk. Sinyal telepon juga kadang hilang muncul. Kalau kendaraan bermasalah di tengah jalan malam hari, situasinya tentu cukup berisiko.
Belum lagi potensi tindak kejahatan tentu tidak bisa diabaikan. Jalur yang panjang, sepi, dan jauh dari permukiman memang selalu menyimpan potensi kerawanan tersendiri, apalagi jika melintas sendirian pada malam hari.
Karena itu, kalau memang harus melintas, saya pribadi lebih menyarankan dilakukan siang atau sore hari. Pastikan kendaraan benar-benar prima dan BBM cukup sebelum masuk jalur ini.
Meski begitu, saya melihat jalur ini sangat penting untuk masa depan konektivitas Kukar, Samarinda hingga Bontang.
Karena sebenarnya titik rawannya tidak banyak. Hanya sekitar lima titik yang memang perlu benar-benar diselesaikan pemerintah. Sisanya sudah cukup layak.
Dari berbagai review yang saya lihat sebelumnya, beberapa bulan lalu jalur ini masih dipenuhi aktivitas alat berat dan pekerjaan jalan. Namun saat saya melintas kemarin, praktis sudah tidak terlihat lagi pekerjaan berarti di sepanjang jalur tersebut.
Artinya progresnya memang sudah jauh berkembang.
Hanya saja jalur ini masih membutuhkan sentuhan akhir. Terutama pengaman longsor, pelebaran beberapa titik sempit, penerangan, dan rambu penunjuk arah yang lebih jelas.
Soal waktu tempuh sendiri ternyata tidak terlalu berbeda jauh dibanding jalur biasa lewat Samarinda. Dari Tenggarong Seberang menuju Simpang Muara Badak berkisar sekitar 60–70 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, tergantung kondisi jalan dan cuaca. Saat saya melintas, cuaca cukup cerah sehingga perjalanan relatif lancar.
Tetapi perjalanan ini tetap memberi pengalaman berbeda. Sunyi. Hijau. Berliku. Kadang membuat waswas, tapi sekaligus menarik.
Dan mungkin justru karena rekaman dashcam itu tidak tersimpan utuh, perjalanan ini akhirnya lebih banyak tersimpan di ingatan dibanding di video. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.H.
Jumat (5/6/2026) kemarin, saya kembali melakukan perjalanan ke luar daerah. Kali ini ke Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Seperti biasanya, setiap keluar daerah saya selalu berupaya menyempatkan singgah ke biro-biro Media Kaltim Network (MKN). Untuk berdiskusi langsung dengan tim di lapangan, melihat perkembangan daerah, sekaligus menjaga silaturahmi.
Dari Samarinda, perjalanan kami awali menuju Masjid Al Qamar di kawasan Teluk Dalam, Tenggarong Seberang. Setelah Salat Jumat, bersama istri dan anak, kami mulai mencari tempat makan khas Kutai.
Beberapa hari sebelumnya, istri sempat melihat review Rumah Makan Oemar di TikTok. Akhirnya saya meminta Direktur Radar Kukar, Muhammad Rafii, untuk sekalian memesankan tempat.
Dan ternyata memang layak dicoba.
Saat datang, pengunjung cukup ramai. Beberapa meja bahkan sudah terisi penuh. Menu yang tersaji di meja juga benar-benar khas Kutai.
Ada nila bakar, dan gence nila dengan bumbu yang terasa sampai ke dalam daging ikan. Lais goreng yang renyah. Sambal jaong dengan rasa pedas khas Kutai yang kuat. Sambal cacapan mangga yang segar. Ditambah sayur labu kuah kuning dan terong bakar yang jadi pelengkap pas.
Model masakannya terasa seperti masakan rumahan. Tidak terlalu banyak bumbu modern atau rasa instan. Justru ini yang bikin enak.
Sambil makan, saya dan Rafii juga berdiskusi banyak hal. Mulai perkembangan radarkukar.com, kondisi media saat ini, sampai jalur alternatif melalui Batu Besaung Tenggarong Seberang yang belakangan mulai ramai diperbincangkan warga Kukar dan Samarinda.
Dari obrolan itu akhirnya muncul niat spontan untuk mencoba langsung jalur tersebut menuju Simpang Muara Badak dan lanjut ke Bontang.
Harapannya, siapa tahu bisa memangkas waktu dibanding harus memutar lagi lewat Samarinda.
Apalagi saya memang sengaja menyiapkan dashcam sepanjang perjalanan. Rencananya perjalanan ini ingin saya dokumentasikan penuh dari awal sampai akhir. Mulai kondisi jalan, tikungan, titik rawan, sampai suasana jalur yang selama ini ramai dibicarakan di media sosial.
Siapa tahu bisa menjadi video eksklusif perjalanan jalur Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak yang benar-benar utuh menit per menit.
Namun ternyata ada kendala. Penyimpanan di dashcam penuh dan sistem rekam otomatisnya menimpa video lama. Akibatnya, yang tersimpan justru hanya bagian akhir perjalanan. Sementara rekaman awal hingga pertengahan jalur sebagian besar hilang.
Padahal justru di bagian awal itulah banyak momen menarik dan cukup menegangkan.
Bahkan awalnya saya sempat kelewatan sampai L4. Baru sadar setelah bertanya di sebuah warung bakso di pinggir jalan. Saat itu sempat terpikir untuk putar balik lagi ke Samarinda.
Namun setelah melihat plang besar yang menunjukkan arah Samarinda dan Batu Besaung di L2, perjalanan akhirnya tetap saya lanjutkan.
Dan terus terang, jalur ini memang belum sepenuhnya nyaman.
Awalnya saya mengira jalur ini sudah benar-benar mulus. Sebab dari berbagai review TikTok yang saya lihat, banyak yang mulai menyebut jalur ini sudah layak menjadi alternatif utama menuju Simpang Muara Badak, jalur poros Samarinda-Bontang.
Dan memang sebagian besar jalan sudah jauh berubah.
Banyak ruas sudah dicor beton dan diperlebar. Beberapa bagian jalan provinsi bahkan cukup nyaman dilalui mobil keluarga seperti Veloz, Avanza, atau Innova. Tapi untuk jenis sedan, saya pribadi belum terlalu merekomendasikan.
Begitu masuk kawasan Batu Besaung, suasananya langsung berubah.
Jalan mulai menyempit. Tikungan demi tikungan muncul cukup panjang. Di kanan kiri didominasi hutan, kebun sawit, lembah, dan sesekali rumah warga yang berjauhan.
Ada satu simpang yang sempat membuat bingung. Antara arah Batu Cermin dan Batu Besaung. Untung masih sempat bertanya.
Memang sekitar 90 persen jalur sudah cukup baik. Tetapi masih ada beberapa titik yang menurut saya cukup rawan.
Ada tanjakan curam berbatu walaupun jaraknya mungkin hanya sekitar 100 meter. Ada juga badan jalan yang tinggal separuh akibat longsoran di sisi tebing.
Di satu titik bahkan sempat terlihat seperti jalan putus karena badan jalan menyempit cukup ekstrem.
Kalau malam hari atau saat hujan deras, saya pribadi benar-benar tidak merekomendasikan jalur ini untuk kendaraan atau motor yang belum familiar dengan medan.
Karena selain minim penerangan, suasananya juga sangat sepi. Di beberapa titik bahkan nyaris tidak ada rumah penduduk. Sinyal telepon juga kadang hilang muncul. Kalau kendaraan bermasalah di tengah jalan malam hari, situasinya tentu cukup berisiko.
Belum lagi potensi tindak kejahatan tentu tidak bisa diabaikan. Jalur yang panjang, sepi, dan jauh dari permukiman memang selalu menyimpan potensi kerawanan tersendiri, apalagi jika melintas sendirian pada malam hari.
Karena itu, kalau memang harus melintas, saya pribadi lebih menyarankan dilakukan siang atau sore hari. Pastikan kendaraan benar-benar prima dan BBM cukup sebelum masuk jalur ini.
Meski begitu, saya melihat jalur ini sangat penting untuk masa depan konektivitas Kukar, Samarinda hingga Bontang.
Karena sebenarnya titik rawannya tidak banyak. Hanya sekitar lima titik yang memang perlu benar-benar diselesaikan pemerintah. Sisanya sudah cukup layak.
Dari berbagai review yang saya lihat sebelumnya, beberapa bulan lalu jalur ini masih dipenuhi aktivitas alat berat dan pekerjaan jalan. Namun saat saya melintas kemarin, praktis sudah tidak terlihat lagi pekerjaan berarti di sepanjang jalur tersebut.
Artinya progresnya memang sudah jauh berkembang.
Hanya saja jalur ini masih membutuhkan sentuhan akhir. Terutama pengaman longsor, pelebaran beberapa titik sempit, penerangan, dan rambu penunjuk arah yang lebih jelas.
Soal waktu tempuh sendiri ternyata tidak terlalu berbeda jauh dibanding jalur biasa lewat Samarinda. Dari Tenggarong Seberang menuju Simpang Muara Badak berkisar sekitar 60–70 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, tergantung kondisi jalan dan cuaca. Saat saya melintas, cuaca cukup cerah sehingga perjalanan relatif lancar.
Tetapi perjalanan ini tetap memberi pengalaman berbeda. Sunyi. Hijau. Berliku. Kadang membuat waswas, tapi sekaligus menarik.
Dan mungkin justru karena rekaman dashcam itu tidak tersimpan utuh, perjalanan ini akhirnya lebih banyak tersimpan di ingatan dibanding di video. (*)
Foto: RDP Gabungan Komisi DPRD Bontang dengan lembaga Adat Kutai Bontang Kuala. (ist)
BONTANG – Banjir rob masih jadi persoalan yang belum terselesaikan bagi warga Bontang Kuala. Karenanya hal itu menjadi sorotan Komisi B DPRD Bontang.
Ketua Komisi B DPRD Bontang, Rustam, mengatakan DPRD terus mendorong pemerintah daerah mengalokasikan program dan anggaran, untuk mengurangi dampak banjir rob yang terjadi hampir setiap tahun.
Menurutnya, berbagai usulan pembangunan infrastruktur telah dibahas bersama pemerintah daerah guna meningkatkan perlindungan kawasan pesisir.
“Kami di DPRD sangat peduli terhadap persoalan banjir rob. Berbagai program dan usulan terus kami dorong agar penanganannya bisa lebih maksimal,” katanya. (Al/adv)
Foto: RDP DPRD Bontang bersama Lembaga Adat Kutai Bontang Kuala beberapa waktu lalu. (Ist)
BONTANG – Selain banjir rob, persoalan lingkungan juga menjadi perhatian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPRD Bontang dengan Lembaga Adat Kutai Bontang Kuala beberapa waktu lalu.
Ketua Lembaga Adat Kutai Bontang Kuala, Halimah, meminta pemerintah memperhatikan aspek keselamatan instalasi listrik yang kini semakin banyak berdiri di kawasan permukiman atas laut.
Ia mengingatkan potensi bahaya yang dapat muncul, apabila jaringan listrik mengalami kerusakan akibat cuaca buruk dan bersentuhan dengan air laut.
“Kami khawatir ketika cuaca tidak bersahabat dan jaringan listrik putus, bisa menimbulkan risiko bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya volume sampah seiring bertambahnya jumlah wisatawan yang datang ke Bontang Kuala.
Menurutnya, pemerintah perlu menambah armada pengangkut sampah serta mempertimbangkan penerapan teknologi tepat guna untuk membantu pengelolaan sampah di kawasan wisata tersebut.
Selain itu, ia meminta perhatian terhadap pemeliharaan fasilitas umum agar pembangunan yang telah dilakukan pemerintah dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang. (Al/adv)
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus saat meninjau langsung proses debarkasi atau pemulangan jamaah haji kloter perdana Provinsi Banten di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (2/6/2026). ANTARA/HO - Kemenkes
JAKARTA – Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus menegaskan bahwa kolaborasi dan penguatan deteksi dini melalui active case finding di pintu masuk negara, seperti Bandara Soekarno-Hatta, menjadi kunci keberhasilan dalam melindungi kesehatan jamaah haji dan masyarakat.
Benny mengatakan di Jakarta, Rabu (4/6/2026), bahwa fase debarkasi merupakan tahapan yang sangat penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pada tahap ini, pihaknya memastikan tiap jamaah mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal serta dilakukan pemantauan kesehatan secara menyeluruh untuk mendeteksi secara dini kemungkinan adanya penyakit menular maupun masalah kesehatan lainnya yang memerlukan tindak lanjut.
Dia juga menyoroti efektivitas skrining kesehatan ketat yang telah dimulai sejak fase keberangkatan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Kebijakan pembatalan keberangkatan bagi calon jamaah yang tidak memenuhi syarat kesehatan terbukti berdampak signifikan terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian.
“Jadi waktu sebelumnya saya ke Asrama Haji Pondok Gede saat pemberangkatan, saya cek ada 14 calon jamaah haji yang dibatalkan pemberangkatannya karena kondisi kesehatannya tidak baik. Buktinya, angka kesakitan dan angka meninggal otomatis turun jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” tegasnya.
Pola deteksi dini ini berlanjut di Bandara Soekarno-Hatta saat jamaah kembali. Wamenkes meninjau langsung pos kesehatan di area debarkasi, di mana petugas melakukan observasi visual dan menggunakan alat pemindai suhu tubuh (thermo scanner) terhadap para jamaah yang baru tiba. Jamaah yang terlihat tidak sehat atau diduga mengalami masalah kesehatan langsung dibawa ke pos kesehatan untuk pemeriksaan lebih intensif.
“Begitu kelihatan jamaah yang sudah pulang ini ada suspek tidak sehat, langsung dilakukan cek kesehatan. Dalam kloter ini ada enam orang yang dicek kesehatannya, sekarang masih ada yang diobservasi karena kondisi fisik menurun akibat kelelahan hingga timbul sakit. Nah, ini bisa langsung dikontrol dari sini,” katanya.
Dia menyebutkan bahwa keberhasilan pengamanan kesehatan jamaah haji ini bukanlah kerja satu pihak, melainkan buah dari kerja sama erat lintas sektor.
“Ada teman-teman dari AirNav yang mengatur lalu lintas udara, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, hingga Angkasa Pura yang menyiapkan ruangan dan alat-alat dengan sangat bagus. Ambulans standby untuk kondisi darurat. Ini membuktikan sinergi lintas sektor berdampak pada penurunan kasus yang sangat drastis,” tutupnya.
Senada, Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta Naning Nugrahini menjelaskan bahwa proses aktif menemukan kasus (active case finding) dilakukan terhadap seluruh jamaah yang tiba di wilayah kerjanya.
Bandara Soekarno-Hatta melayani pemulangan jamaah dari Embarkasi Jakarta, yaitu di Asrama Haji Pondok Gede (DKI Jakarta dan Lampung), Embarkasi Banten, dan Embarkasi Jakarta-Bekasi (wilayah Jawa Barat bagian barat seperti Bekasi dan Bogor).
“Pada saat jamaah haji lewat, petugas kami melakukan observasi visual untuk melihat ada tidaknya tanda dan gejala sakit seperti batuk, pilek, atau panas. Jika ditemukan gejala tersebut, jamaah akan dibawa ke pos kesehatan untuk registrasi, pemeriksaan tensi, asesmen dokter, hingga pemeriksaan laboratorium,” kata Naning.
Dia menambahkan bahwa kondisi kegawatdaruratan yang paling sering ditemukan pada jamaah yang baru tiba adalah serangan jantung dan sesak napas.
“Ada yang sudah ditangani dengan CPR di atas pesawat, ada yang baru turun langsung mengalami serangan jantung, atau penyakit kronis lainnya. Prinsip kami adalah memberikan pertolongan pertama dan langsung merujuk ke rumah sakit terdekat dari lokasi kegawatdaruratan,” ujarnya.
Untuk melayani kedatangan hampir 1.600 jemaah haji pada Selasa, BBKK Soekarno-Hatta menyiagakan tenaga kesehatan lengkap yang bekerja dalam sistem 24 jam, mencakup dokter spesialis kedokteran penerbangan, dokter umum, epidemiolog, entomolog, sanitarian, perawat, sopir ambulans, tenaga humas, hingga tenaga pendukung lainnya. (ANT/KN)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (5/6/2026). ANTARA/Lifia Mawaddah Putri.
JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengaku tengah mempertimbangkan untuk menggratiskan sejumlah destinasi wisata yang dikelola pemerintah daerah, di antaranya Ancol, Taman Margasatwa Ragunan, museum, dan perpustakaan saat Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta.
“Kalau untuk tempat-tempat pariwisata yang dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta, kami akan pertimbangkan untuk kita gratiskan, misalnya masuk di Ancol, masuk di Ragunan, kemudian museum-museum yang ada, perpustakaan, dan sebagainya,” kata Pramono di Jakarta Pusat, Jumat (5/6).
Meski belum dapat merinci hal tersebut, dia memastikan pihaknya memberikan layanan transportasi umum gratis bagi masyarakat pada momen tertentu menjelang perayaan HUT Jakarta.
Pria yang akrab disapa Pram itu pun menegaskan detail pelaksanaannya akan diumumkan sebelum hari perayaan.
“Nanti akan kami adakan, tepat sebelum tanggal 22, pasti akan kami umumkan,” ungkap Pramono.
Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga akan meresmikan sejumlah proyek dan fasilitas publik menjelang perayaan HUT ke-499 DKI Jakarta pada 22 Juni 2026.
Pramono menyebutkan salah satu proyek yang akan diresmikan, yaitu kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, yang kini dalam tahap penataan.
Dia mengatakan kawasan tersebut telah direvitalisasi menjadi koridor yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi umum dengan penataan halte serta peningkatan konektivitas antarmoda transportasi. Rasuna Said juga dijadikan sebagai penambahan ruang hijau.
Selain itu, Pramono akan meresmikan Rasuna Said sebagai lokasi pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di luar kawasan Sudirman-Thamrin pada Minggu, 7 Juni 2026.
Kemudian, sambung dia, Pemprov DKI akan meresmikan stasiun KRL yang melayani kawasan Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara.
Kehadiran stasiun tersebut diharapkan dapat mempermudah akses masyarakat menuju JIS.
Proyek lain yang akan diresmikan, yaitu termasuk jembatan penghubung antara JIS dan Ancol, yang dibangun untuk menyatukan kawasan wisata Ancol dan JIS sehingga memudahkan mobilitas pengunjung. (ANT/KN)
Foto: Mendikdasmen, Abdul Mu'ti, saat melakukan peninjauan pelaksanaan Program MBG di SMP Negeri 14 Balikpapan.
BALIKPAPAN – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, melakukan peninjauan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 14 Balikpapan saat melakukan kunjungan kerja ke Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (5/6/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Abdul Mu’ti menilai pelaksanaan program MBG yang telah berjalan hampir 10 bulan di sekolah tersebut menunjukkan hasil yang positif dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Meski demikian, ia menilai masih ada sejumlah aspek yang dapat terus disempurnakan guna meningkatkan kualitas program.
Kepala SMPN 14 Balikpapan, Eny Fitriyati, menjelaskan bahwa sekolahnya mulai menjalankan Program Makan Bergizi Gratis sejak Agustus 2025. Selama hampir satu tahun pelaksanaan, program tersebut berlangsung tanpa kendala berarti dan memberikan manfaat nyata bagi para siswa.
“Alhamdulillah selama 10 bulan pelaksanaan tidak pernah ada permasalahan. Program berjalan dengan baik dan lancar,” ujarnya.
Menurut Eny, kehadiran program MBG membantu meningkatkan kesiapan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Siswa yang sebelumnya datang ke sekolah tanpa sarapan kini dapat memperoleh asupan makanan bergizi sebelum memulai pelajaran.
“Pengaruhnya cukup besar terhadap semangat belajar dan kehadiran siswa. Anak-anak yang biasanya belum sempat sarapan menjadi lebih fokus dan antusias saat mengikuti pembelajaran karena sudah mendapatkan makanan bergizi,” tambahnya.
Sementara itu, Abdul Mu’ti mengatakan bahwa berdasarkan hasil dialog langsung dengan para siswa, mayoritas peserta didik menyambut baik program tersebut. Salah satu hal yang mendapat apresiasi adalah variasi menu makanan yang berbeda setiap hari.
“Secara umum pelaksanaannya sudah sesuai. Saya juga sempat bertanya kepada siswa dan mereka merasa senang karena menu yang disajikan selalu berganti,” ujarnya.
Meski demikian, Mendikdasmen menegaskan bahwa evaluasi tetap diperlukan agar kualitas layanan terus meningkat. Ia menilai variasi menu yang ada saat ini sudah cukup baik, namun masih perlu penyesuaian dengan arahan Presiden yang telah disampaikan dalam pertemuan sebelumnya.
“Menurut saya masih ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Variasi menunya sudah baik, tinggal menyesuaikan dengan arahan Bapak Presiden agar pelaksanaannya semakin optimal,” jelasnya.
Sebagai bagian dari proses evaluasi, pihaknya akan meminta seluruh sekolah penerima Program MBG untuk menyampaikan laporan terkait jenis dan kualitas menu yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Nantinya sekolah-sekolah akan diminta memberikan laporan mengenai menu yang disediakan oleh SPPG masing-masing. Dari yang saya lihat saat ini sudah cukup baik, meskipun masih ada ruang untuk peningkatan,” tambah Abdul Mu’ti.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik. Selain mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesiapan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira saat rapat dengar pendapat dengan Kantor Staf Presiden di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026). ANTARA/HO-DPR RI
JAKARTA – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira meminta lembaga yang mengurus keimigrasian agar diisi oleh sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kapasitas di bidang tersebut, setelah adanya operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di lingkungan kantor Imigrasi.
Menurut dia, kasus OTT itu kembali mengingatkan publik bahwa praktik korupsi di sektor pelayanan publik masih menjadi tantangan serius. Terlebih lagi, skandal di Imigrasi itu bisa mencoreng citra Indonesia di dunia internasional.
“Kita harus memastikan agar kasus ini tidak berhenti sebagai peristiwa hukum semata, melainkan menjadi momentum evaluasi sistemik terhadap tata kelola keimigrasian nasional,” kata Andreas di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Dia menilai kasus dugaan suap dalam pengurusan izin tinggal warga negara asing (WNA) yang menyeret nama Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim sebagai tersangka itu bukan sekadar persoalan pelanggaran hukum biasa.
Kasus yang terjadi itu, kata dia, menimbulkan pertanyaan besar terkait pengawasan lalu lintas orang asing di Indonesia karena seharusnya Imigrasi menjadi garda terdepan.
Pelayanan keimigrasian, kata dia, merupakan salah satu sektor strategis yang berhubungan langsung dengan investor, tenaga kerja asing, wisatawan, hingga ekspatriat yang tinggal di Indonesia.
Jika pengurusan izin tinggal dapat diperjualbelikan melalui praktik suap, dia menilai akan muncul risiko besar berupa masuknya individu yang tidak memenuhi persyaratan dan bahkan berpotensi mengancam keamanan dan ketertiban.
Namun, dia mengingatkan bahwa keberhasilan pemberantasan korupsi bukan hanya diukur dari banyaknya operasi tangkap tangan, tetapi dari kemampuan negara mencegah praktik serupa terjadi kembali.
Maka dari itu, menurut dia, perlu ada evaluasi berkala terhadap pejabat yang menduduki posisi strategis, terutama pada unit pelayanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan WNA.
“Rotasi jabatan, audit integritas, serta penguatan budaya antikorupsi harus menjadi bagian dari reformasi berkelanjutan. Pendekatan ini penting agar kasus serupa tidak terus berulang setiap beberapa tahun dengan pola yang hampir sama,” kata dia. (ANT/KN)
JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah isu yang menyebut dirinya akan mundur dari jabatannya. Ia menegaskan tetap fokus menjalankan tugas pemerintahan dan mengikuti arahan Presiden.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat menjawab pertanyaan wartawan terkait kabar yang beredar mengenai kemungkinan dirinya meninggalkan Kabinet.
“Saya orangnya tidak suka mundur. Saya sukanya maju,” kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Menurut Purbaya, informasi yang beredar luas di media maupun media sosial tidak sepenuhnya benar. Ia mengakui sebagian informasi yang beredar memang berkaitan dengan sejumlah rapat yang dihadirinya bersama Presiden, namun terdapat sejumlah bagian yang telah dipelintir sehingga menimbulkan kesimpulan yang keliru.
“Saya baca informasi yang beredar itu. Sebagian memang benar, tetapi sebagian juga salah. Ada informasi yang ditwist sehingga seolah-olah terlihat benar,” ujarnya.
Purbaya mengatakan dirinya mengetahui konteks pembahasan yang menjadi sumber informasi tersebut karena turut hadir dalam rapat bersama Presiden. Namun, ia menilai narasi yang berkembang tidak mencerminkan keseluruhan fakta yang terjadi dalam forum tersebut.
Ia menduga penyebaran informasi yang tidak utuh tersebut dapat memicu spekulasi di pasar keuangan. Meski demikian, Purbaya menegaskan tidak ada rencana pengunduran diri maupun perubahan sikap dalam menjalankan tugasnya sebagai Menteri Keuangan.
“Kalau ditanya apakah ada rencana mundur, tidak ada. Kami tetap menjalankan tugas dan mengikuti perintah Bapak Presiden,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi klarifikasi pemerintah terhadap berbagai spekulasi yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir terkait posisi Purbaya di kabinet. Pemerintah memastikan agenda pengelolaan fiskal dan pelaksanaan APBN tetap berjalan sesuai rencana.