Beranda blog Halaman 103

Kebakaran Meluas, Seluruh Akses Wisata Gunung Bromo Ditutup Total

0
Area tebing di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur dilanda kebakaran. Balai Besar TNBTS pun memutuskan menutup seluruh akses wisata ke lokasi tersebut, Sabtu (22/8/2026). ANTARA/HO-Balai Besar TNBTS

MALANG – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup total seluruh akses wisata ke Gunung Bromo untuk mengefektifkan upaya pemadaman kebakaran di kawasan tersebut, per Sabtu pukul 22.00 WIB.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha melalui keterangan resmi yang diterima di Kota Malang, Jawa Timur, menyampaikan, keputusan penutupan ini mengacu pada perkembangan kondisi terkini di lapangan, di mana kobaran api di area Kaldera Bromo semakin meluas.

“Dalam rangka efektivitas upaya pemadaman kebakaran, kunjungan ke Bromo dari semua pintu masuk ditutup untuk kunjungan wisata,” kata Rudi seperti dikutip dari Antara, Minggu (9/8/2026).

Akses wisata Gunung Bromo meliputi lima pintu masuk yang tersebar di empat daerah, yakni Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta Senduro di Kabupaten Lumajang.

Tak hanya menyangkut efektifitas pemadaman, pemberlakuan penutupan mempertimbangkan faktor keamanan dan keselamatan seluruh pengunjung.

“(Penutupan) sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan,” ujar dia.

Balai Besar TNBTS memastikan setiap wisatawan yang telah membeli tiket masuk ke kawasan Gunung Bromo lewat aplikasi booking online dan memilih hari kunjungan tepat saat pemberlakuan penutupan, maka diberi kesempatan untuk melakukan penjadwalan ulang.

Selain itu, pelancong juga diberikan opsi pengembalian uang atau refund oleh pihak Balai Besar TNBTS.

Masyarakat nantinya diminta terlebih dahulu melengkapi formulir yang dicantumkan di laman booking online tersebut.

Rudi mengimbau seluruh pelaku usaha jasa wisata sementara waktu tidak melakukan aktivitas apapun di kawasan TNBTS.

“Ini demi keselamatan, keamanan, dan keselamatan bersama,” tuturnya.

Berdasarkan video yang diunggah oleh Balai Besar TNBTS di laman instagram resmi lembaga tersebut, api nampak berkobar di area tebing yang letaknya di dekat kawasan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT).

Dalam video tersebut seorang petugas menyampaikan api juga merambah ke arah Gunung Kursi yang lokasi masih berada di kawasan TNBTS. (ANT/KN)

Endapan Hampir Tutup Sungai Kandilo, ESDM Kaltim Dorong Tambang Pasir Legal

0
Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto saat meninjau lokasi penambangan pasir di kawasan Sungai Kandilo, Kabupaten Paser. ANTARA/HO-Dinas ESDM Kaltim

SAMARINDA – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur memastikan kegiatan penambangan pasir secara legal di Kabupaten Paser mampu menjadi solusi ganda untuk mengatasi masalah sedimentasi parah di alur Sungai Kandilo sekaligus menggerakkan ekonomi warga.

Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto di Samarinda, Minggu (9/8/2026), menyatakan, pihaknya telah melakukan peninjauan ke lokasi PT Kandilo Pasir Pematang di Kabupaten Paser guna melihat kondisi tumpukan pasir pasang yang hampir menutupi alur sungai tersebut.

Bambang menjelaskan bahwa pengelolaan material pasir sungai yang dikerjakan secara tepat akan memberikan efek ganda yang menguntungkan bagi kelestarian alam maupun kesejahteraan masyarakat.

“Di satu sisi, kegiatan penambangan ini dapat membantu mengurangi sedimentasi dan menjaga kondisi alur sungai. Sementara di sisi lain, aktivitas ini memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” sebut Bambang seperti dikutip dari Antara.

Selain menjadi penggerak ekonomi warga sekitar, keberadaan tambang pasir yang beroperasi secara legal juga akan memberikan kontribusi nyata bagi penerimaan pemerintah daerah.

Meski memiliki potensi besar dalam memulihkan fungsi sungai, Bambang secara tegas mengingatkan bahwa seluruh kegiatan eksploitasi wajib mematuhi seluruh prosedur perizinan yang berlaku dan berwawasan lingkungan agar tidak memicu masalah ekologi.

Merespons arahan tersebut, Bambang meneruskan bahwa pihak manajemen PT Kandilo Pasir Pematang telah menyatakan kesiapan untuk mengikuti seluruh prosedur yang ditetapkan pemerintah serta berkomitmen menekan dampak lingkungan dari operasi penambangannya.

Kegiatan peninjauan lapangan yang turut didampingi oleh Kepala Dinas PTSP Kabupaten Paser, unsur Sumber Daya Air (SDA) Paser, serta Sultan Paser Aji Muhammad Jarnawi ini merupakan langkah pemerintah dalam menata kelola sumber daya mineral bukan logam dan batuan secara tertib.

Lanjut Bambang, melalui kolaborasi lintas sektor dan kepatuhan perizinan ini, ESDM Kaltim berharap pemanfaatan kekayaan alam daerah dapat terus berlangsung secara berkelanjutan tanpa harus mengorbankan fungsi ekologis sungai. (ANT/KN)

Juara Bertahan, Kaltim Gembleng 57 Peserta Sebulan Penuh Jelang MTQ Nasional

0

JAKARTA – Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki tahap akhir persiapan menghadapi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah.

Sebanyak 57 peserta menjalani pemusatan latihan atau training center (TC) terakhir selama satu bulan dengan target besar mempertahankan gelar juara umum.

Para peserta mulai diasramakan di Wisma Pamentas, Kelurahan Lebak Bulus, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, sejak 8 Agustus hingga 9 September 2026. TC kali ini menjadi pemusatan latihan terakhir yang dilaksanakan secara tatap muka sebelum kafilah Kaltim bertolak ke Semarang.

Koordinator pelatih, Hajarul Akbar, meminta seluruh peserta meningkatkan disiplin dan kesungguhan selama mengikuti TC. Menurutnya, seluruh kafilah dari berbagai provinsi juga melakukan persiapan maksimal menghadapi MTQ Nasional.

Selama pelatihan, peserta wajib mengikuti delapan kali try-out atau uji coba yang dilaksanakan setiap Rabu dan Sabtu.

Try-out setiap Rabu dilaksanakan di Wisma Pamentas dengan menghadirkan pelajar dan santri dari sekitar wisma. Sedangkan uji coba setiap Sabtu dilakukan di luar wisma. Hari Sabtu dipilih karena kondisi lalu lintas Jakarta dinilai lebih memungkinkan untuk mobilitas peserta.

“Selama pelatihan peserta dibimbing oleh para pelatih nasional. Di samping itu, diberikan pembinaan kedisiplinan dari institusi TNI Angkatan Darat. Selain itu, juga akan dilakukan penguatan motivasi bagi para peserta agar mereka bisa meraih prestasi maksimal,” kata Hajarul.

57 PESERTA DARI DELAPAN DAERAH

Wakil Ketua II LPTQ Kaltim yang juga Kepala Biro Kesra Kaltim, Dasmiah, menjelaskan 57 peserta TC berasal dari delapan kabupaten dan kota.

Kutai Timur menjadi daerah dengan peserta terbanyak, yakni 13 orang, disusul Samarinda 11 orang, Kutai Kartanegara 10 orang, Bontang enam orang, dan Balikpapan lima orang.

Berau, Paser, dan Penajam Paser Utara masing-masing mengirim empat peserta. Sedangkan Kutai Barat dan Mahakam Ulu tidak mengirimkan peserta.

Wakil Sekretaris I LPTQ Kaltim, Hamsani, mengatakan setelah TC ditutup pada 9 September, seluruh peserta akan langsung diberangkatkan menuju Semarang menggunakan dua bus.

“Usai penutupan pelatihan pada tanggal 9 September 2026, para peserta pelatihan langsung diberangkatkan ke Semarang dengan memakai dua kendaraan bus untuk menghadapi MTQ Tingkat Nasional Tahun 2026,” jelas Hamsani.

BEBAN PERTAHANKAN JUARA UMUM

Sekda Kaltim sekaligus Ketua LPTQ Kaltim, Sri Wahyuni, saat membuka TC mengingatkan bahwa tantangan mempertahankan gelar jauh lebih berat dibandingkan mengejar gelar juara.

Kaltim datang ke MTQ Nasional XXXI dengan catatan prestasi kuat. Pada MTQ Nasional XXX Tahun 2024 di Samarinda, Kaltim keluar sebagai juara umum. Prestasi kembali diraih pada Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Tingkat Nasional XXVIII Tahun 2025 di Kendari, Sulawesi Tenggara, dengan kembali menjadi juara umum.

“Kaltim pernah meraih juara umum berturut-turut. Pada MTQ Nasional XXX Tahun 2024 di Samarinda, Kaltim meraih juara umum. Selanjutnya pada Tahun 2025, lagi-lagi Kaltim meraih juara umum pada Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Tingkat Nasional XXVIII di Kendari, Sulawesi Tenggara,” kata Sri Wahyuni.

Capaian tersebut membuat target pada MTQ Nasional XXXI di Semarang semakin berat. Ajang tersebut dijadwalkan berlangsung 11–20 September 2026.

“Beban mempertahankan juara itu lebih berat dibandingkan baru berusaha meraih juara, karena untuk meraih juara itu tidak ada beban,” ujarnya.

Usai membuka TC, Sri Wahyuni meninjau ruang pelatihan berbagai cabang dan golongan serta asrama peserta. Ia menilai fasilitas yang disiapkan cukup representatif dan bersih untuk mendukung pemusatan latihan.

Wakil Ketua LPTQ Kaltim Jauhar Efendi melaporkan, pembukaan TC juga dihadiri Kakanwil Kementerian Agama Kaltim sekaligus Wakil Ketua I LPTQ Kaltim Abdul Kholiq, Sekretaris LPTQ Kaltim Rudi Kartono, Wakil Sekretaris I LPTQ Kaltim Hamsani, Prof. Dr. Bambang Iswanto, perwakilan pelatih, serta staf Sekretariat LPTQ Kaltim. (MJE)

Editor: Agus S.

Tanjung Santan Kembali Bergeliat, Ekspor Buka Ratusan Lapangan Kerja

0
Aktivitas pengapalan di Terminal Khusus PT Prima Dermaga Perkasa, Tanjung Santan, Kutai Kartanegara, yang kembali bergerak pada 2026. (Istimewa)

TENGGARONG – Aktivitas perdagangan luar negeri di Perairan Tanjung Santan, Kutai Kartanegara (Kukar), kembali bergerak pada 2026 setelah sempat meredup sejak pandemi Covid-19.

Geliat tersebut berlangsung melalui Terminal Khusus (Tersus) PT Prima Dermaga Perkasa di Tanjung Santan. Aktivitas pengapalan di kawasan ini disebut telah menyerap sekitar 700 tenaga kerja untuk menunjang kegiatan bongkar muat.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas III Tanjung Santan, Abdul Wahid, mengatakan aktivitas melalui Tersus PT Prima Dermaga Perkasa mulai berlangsung sejak pertengahan Januari 2026. Sebelum ekspor kembali berjalan, tercatat 16 kegiatan kapal yang masih melayani kebutuhan domestik.

“Bangkit lagi,” kata Abdul Wahid.

Meski demikian, ia menegaskan fasilitas PT Prima Dermaga Perkasa tetap berstatus Terminal Khusus, bukan Terminal Umum.

Karena itu, pelayanan ekspor melalui fasilitas tersebut hanya diperuntukkan bagi perusahaan yang telah memiliki kerja sama dengan PT Prima Dermaga Perkasa.

Berdasarkan paparan KUPP, terdapat 10 perusahaan pertambangan batu bara di Kukar dan Kutai Barat yang telah menjalin kerja sama dengan terminal tersebut.

JEJAK EKSPOR SEJAK 1973

Aktivitas perdagangan luar negeri di Tanjung Santan bukan hal baru.

Abdul Wahid menyebut jejak pengapalan ekspor di kawasan tersebut telah tercatat sejak 1973. Saat itu, Tanjung Santan berkembang seiring aktivitas migas dan pelayaran.

Aktivitas kemudian mengalami pasang surut. Sejak pandemi Covid-19, pengapalan melalui Pertamina disebut terus menurun hingga kegiatan ekspor tidak lagi berjalan.

Kini, setelah beberapa tahun meredup, aktivitas pengapalan kembali hidup.

Panjangnya sejarah pelayaran Tanjung Santan juga terlihat dari keberadaan layanan kepabeanan di kawasan tersebut.

Abdul Wahid mengatakan Bea Cukai telah lama hadir di Tanjung Santan. Kepala Desa Semangko, Ansar K, juga mengingat keberadaan layanan kepabeanan sejak masa aktivitas perusahaan migas terdahulu, termasuk untuk mendukung kegiatan tanker.

Secara administratif, layanan tersebut masih berlanjut. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-200/BC/2025 mencantumkan Tanjung Santan sebagai Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai dalam wilayah kerja KPPBC Samarinda.

Dengan demikian, aktivitas pada 2026 lebih tepat dilihat sebagai kembali aktifnya salah satu kawasan pesisir Kukar yang sejak lama terhubung dengan kegiatan maritim dan perdagangan luar negeri.

LEWATI SEJUMLAH TAHAP PERIZINAN

Kembali bergeraknya ekspor di Tanjung Santan melalui sejumlah tahapan perizinan.

PT Prima Dermaga Perkasa memperoleh Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) pada 4 April 2024.

Selanjutnya, pada 2 Oktober 2024, perusahaan memperoleh dukungan SKK Migas untuk kegiatan operasional pelayanan kepelabuhanan laut serta sarana penunjang lainnya.

Tahapan pembangunan dan pengoperasian berlanjut pada 2025. Sertifikat Standar Pembangunan Terminal Khusus terbit pada 29 Juli 2025, kemudian Sertifikat Standar Pengoperasian Terminal Khusus terbit pada 10 Oktober 2025.

Pada 15 April 2026, PT Prima Dermaga Perkasa juga memperoleh Pernyataan Pemenuhan Keamanan Fasilitas Pelabuhan atau Statement of Compliance of a Port Facility (SoCPF) dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Babak penting berikutnya terjadi pada Juli 2026.

Pada 10 Juli, terminal memperoleh persetujuan sebagai Terminal Khusus terbuka bagi perdagangan luar negeri. Kemudian pada 23 Juli 2026, PT Prima Dermaga Perkasa memperoleh penetapan kawasan pabean melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 47/MK/WBC.16/2026.

700 TENAGA KERJA TERSERAP

Dampak yang mulai terlihat dari bergeraknya aktivitas tersebut adalah penyerapan tenaga kerja.

Paparan KUPP Kelas III Tanjung Santan mencatat sekitar 700 tenaga kerja terserap untuk menunjang kegiatan bongkar muat di Terminal Khusus PT Prima Dermaga Perkasa.

Menurut Abdul Wahid, tenaga kerja tersebut antara lain berasal dari kawasan Marang Kayu dan Muara Badak. Data itu bersumber dari pengurus Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Tanjung Santan.

Tokoh masyarakat pesisir Kukar, Anwar, mengatakan aktivitas melalui koperasi TKBM turut membuka kembali kesempatan kerja bagi warga yang sebelumnya kehilangan pekerjaan.

“Jalannya satu koperasi ini membantu teman-teman yang kena PHK untuk bekerja kembali, walaupun tidak rutinitas,” kata Anwar.

Kepala Desa Semangko, Ansar K, juga melihat peluang kerja yang semakin terbuka setelah kegiatan mulai berjalan.

“Sangat besar peluang untuk teman-teman pencari kerja,” ujarnya.

PT Prima Dermaga Perkasa juga tercatat memiliki kemitraan dengan Pemerintah Desa Semangko. Kemitraan tersebut diarahkan untuk membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

PRODUK LOKAL IKUT PUNYA PELUANG

Bagi masyarakat pesisir, geliat Tanjung Santan tidak hanya berkaitan dengan jumlah kapal atau komoditas yang diberangkatkan.

Ada harapan agar aktivitas perdagangan tersebut menciptakan perputaran ekonomi di daratan.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Kukar yang dimuat dalam RKPD Kukar 2026, sektor pertambangan berkontribusi 57,73 persen terhadap perekonomian Kukar pada 2024. Sementara sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan berkontribusi 14,48 persen.

Anwar berharap kebutuhan operasional kapal dapat dipenuhi dari produk masyarakat sekitar, seperti sayur, ikan, dan beras.

Jika berjalan berkelanjutan, kebutuhan tersebut berpotensi membuka pasar bagi petani, nelayan, pedagang, hingga penyedia barang dan jasa.

Namun dampak tersebut belum dapat dihitung secara pasti. Belum tersedia data mengenai kenaikan pendapatan masyarakat, pertumbuhan omzet usaha lokal, maupun nilai transaksi ekonomi setelah aktivitas ekspor kembali berjalan.

Karena itu, geliat Tanjung Santan saat ini masih lebih tepat dipandang sebagai peluang yang mulai terbuka.

KUPP DAN BEA CUKAI PUNYA PERAN BERBEDA

Meningkatnya aktivitas pelayaran juga membuat pembagian kewenangan antarlembaga menjadi penting.

KUPP Kelas III Tanjung Santan menjalankan fungsi penyelenggaraan dan pengawasan kegiatan pelayaran sesuai kewenangannya, termasuk keselamatan, keamanan, kelaiklautan kapal, serta ketertiban lalu lintas kapal.

Sementara urusan kepabeanan berada dalam kewenangan Bea Cukai.

Keberadaan Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Santan serta penetapan kawasan pabean PT Prima Dermaga Perkasa menjadi bagian dari ekosistem perdagangan luar negeri di kawasan tersebut.

Untuk mendukung keselamatan pelayaran, KUPP Kelas III Tanjung Santan juga bekerja sama dengan PT Pelindo Jasa Maritim dalam pelayanan pemanduan dan penundaan kapal di Perairan Tanjung Santan, termasuk di sekitar Terminal Khusus PT Prima Dermaga Perkasa.

Kerja sama tertanggal 25 Agustus 2025 itu diarahkan untuk mendukung keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan maritim.

PELUANG YANG MASIH HARUS DIBUKTIKAN

Bagi Ansar, bergeraknya kembali aktivitas perdagangan luar negeri membuka peluang bagi Tanjung Santan untuk mengambil peran lebih besar dalam kegiatan ekspor.

Namun keberhasilan geliat tersebut tidak cukup hanya diukur dari jumlah kapal maupun volume komoditas.

Ukuran yang lebih dekat dengan masyarakat adalah seberapa besar aktivitas itu mampu membuka pekerjaan, menciptakan pasar bagi produk lokal, dan menggerakkan ekonomi di daratan.

Tanjung Santan telah menjadi bagian dari aktivitas pengapalan sejak puluhan tahun lalu. Setelah ekspor meredup pada masa pandemi, jalur perdagangan luar negeri kini kembali bergerak pada 2026.

Tantangannya adalah memastikan kegiatan berjalan aman, tertib, sesuai ketentuan, sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.

Jika rantai ekonomi tersebut mampu terbentuk secara berkelanjutan, Tanjung Santan bukan hanya menjadi pintu keluarnya komoditas dari Kukar, tetapi juga jalur masuknya peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.

Reporter: Ady Wahyudi
Editor: Agus S.

Teras Samarinda Tahap II Bersiap Dibuka, Pemkot Atur Pengelolaan dan Parkir

0
Kawasan Teras Samarinda Tahap II di tepian Sungai Mahakam yang ditarget mulai dibuka untuk publik pada 1 September 2026. Fasilitas yang disiapkan meliputi dermaga, pedestrian, dan area UMKM. (Foto: Istimewa)

SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda menargetkan Teras Samarinda Tahap II mulai dibuka untuk publik pada 1 September 2026. Sejumlah fasilitas telah disiapkan, mulai dari dermaga, pedestrian di tepi Sungai Mahakam, hingga area bagi pelaku UMKM.

Target pembukaan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi lintas instansi. Sebelum dibuka, Pemkot akan menuntaskan masa pemeliharaan proyek yang dijadwalkan berakhir pada 20 Agustus 2026.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan hasil rapat menyepakati usulan pembukaan pada awal September.

Namun keputusan akhir masih akan dilaporkan kepada Wali Kota Samarinda.

“Usulan dari tim ini akan saya laporkan dulu ke Pak Wali Kota,” ujar Marnabas.

Untuk memastikan kawasan dapat beroperasi hingga akhir tahun, Pemkot mulai membagi tanggung jawab pengelolaan kepada sejumlah organisasi perangkat daerah.

Dinas Perhubungan (Dishub) akan mengelola area dermaga sekaligus memfasilitasi penataan pelaku UMKM.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bertanggung jawab terhadap perawatan taman, pedestrian, kebersihan kawasan, hingga penyiraman vegetasi.

Sementara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akan menangani keamanan, ketertiban umum, serta pengawasan pengunjung.

Pemkot juga dijadwalkan turun langsung ke lapangan pada Senin (10/8/2026) setelah apel pagi untuk menentukan secara lebih rinci batas wilayah kerja antara Dishub dan DLH.

Kebutuhan biaya operasional, mulai dari pemeliharaan taman, penyiraman, listrik, air, hingga pengamanan akan diusulkan melalui APBD Perubahan.

PEDESTRIAN TENGAH BELUM DIBUKA

Meski infrastruktur utama di area yang akan dioperasikan telah selesai, Pemkot belum akan membuka seluruh akses.

Pedestrian di bagian tengah yang mengarah langsung ke sungai masih ditutup karena proses pengerjaan belum selesai. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari risiko keselamatan pengunjung.

“Yang kita buka adalah pedestrian di pinggir sungai dan area dermaga. Untuk pedestrian tengah yang ke arah sungai belum dibuka dulu karena masih ada pengerjaan, takut masalah keamanan,” tegas Marnabas.

Untuk pengelolaan jangka panjang, Pemkot membuka kemungkinan melibatkan pihak ketiga maupun badan usaha milik daerah.

Namun pada tahap awal, pola pengelolaan akan mengikuti Teras Samarinda Tahap I.

Pada tahap pertama, pengelolaan dilakukan melalui kolaborasi Pemkot Samarinda dengan Perumda Varia Niaga. Kawasan dibagi menjadi area akses publik gratis dan area komersial yang diarahkan untuk mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD).

PARKIR DIARAHKAN KE PASAR PAGI

Pemkot juga mengantisipasi lonjakan pengunjung setelah Teras Samarinda Tahap II dibuka.

Salah satu persoalan yang diperhitungkan adalah kebutuhan lahan parkir dan potensi kemacetan di sekitar kawasan.

Untuk itu, kendaraan pengunjung akan diarahkan menggunakan kantong parkir di kawasan Pasar Pagi.

Penataan lalu lintas, keamanan, dan pola pergerakan pengunjung juga akan dimatangkan sebelum pembukaan agar aktivitas di kawasan tepian Mahakam tidak mengganggu arus kendaraan di pusat kota.

Dengan target pembukaan 1 September, Pemkot kini memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk menuntaskan masa pemeliharaan, pembagian pengelolaan, pengamanan, hingga penataan area UMKM sebelum Teras Samarinda Tahap II resmi menerima pengunjung.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

Pemkab Mahulu Jadikan Kerukunan Umat Beragama Fondasi Pembangunan

0
Wakil Bupati Mahakam Ulu, Suhuk, saat membacakan sambutan Bupati Mahulu dalam Dialog Penguatan Kerukunan Umat Beragama di Ujoh Bilang. (Foto: Istimewa)

UJOH BILANG – Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu menilai kerukunan umat beragama menjadi salah satu modal penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pembangunan daerah.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati Mahulu, Suhuk, saat menerima kunjungan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kalimantan Timur dalam Dialog Penguatan Kerukunan Umat Beragama di Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) Kampung Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Rabu (5/8/2026).

Dalam kesempatan itu, Suhuk membacakan sambutan Bupati Mahulu. Ia mengatakan pembangunan yang sejalan dengan visi Mahulu Melaju: Maju, Merata, Berkelanjutan membutuhkan kondisi sosial yang aman, damai, dan harmonis.

“Upaya tersebut membutuhkan dukungan dari semua pihak. Pembangunan akan berjalan lebih baik apabila masyarakat hidup dalam suasana yang aman, damai, dan rukun,” ujarnya.

Menurut Suhuk, keberadaan FKUB memiliki posisi strategis dalam menjaga keharmonisan kehidupan beragama. Forum tersebut dinilai dapat menjadi ruang untuk memperkuat dialog, komunikasi, sekaligus membangun saling pengertian antarpemeluk agama.

Ia menekankan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat diperlukan untuk mencegah sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan sosial melalui musyawarah.

Mahakam Ulu, lanjut Suhuk, merupakan daerah dengan keberagaman suku, adat, dan keyakinan. Kondisi tersebut menjadi kekuatan sosial yang harus terus dirawat bersama.

“Kabupaten Mahakam Ulu adalah rumah bagi keberagaman. Kita hidup berdampingan dengan berbagai suku, adat, dan keyakinan. Oleh karena itu, menjaga toleransi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Ia mengingatkan toleransi tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum formal. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati dan menjaga hubungan baik antarwarga.

Dalam konteks pembangunan daerah, suasana sosial yang kondusif dinilai akan memberikan ruang lebih besar bagi pemerintah dan masyarakat untuk menjalankan berbagai program pembangunan.

Karena itu, Pemkab Mahulu menyambut positif kunjungan FKUB Kaltim yang menggelar dialog langsung di wilayah tersebut.

Menurut Suhuk, pertemuan itu menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara FKUB Provinsi Kaltim, FKUB Mahulu, pemerintah daerah, tokoh agama, dan berbagai unsur masyarakat.

“Saya berharap kunjungan dan dialog pada hari ini semakin mempererat hubungan antara FKUB Provinsi Kalimantan Timur, FKUB Kabupaten Mahakam Ulu, pemerintah daerah, para tokoh agama, serta seluruh pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Ia berharap forum tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian dan memperkuat toleransi di Mahakam Ulu.

“Semoga pertemuan ini menghasilkan gagasan dan semangat baru untuk terus menjaga kerukunan umat beragama di Kabupaten Mahakam Ulu,” tambahnya.

Pemkab Mahulu berharap penguatan kerukunan menjadi bagian dari fondasi pembangunan daerah. Dengan masyarakat yang hidup berdampingan secara harmonis, visi Mahulu Melaju diharapkan dapat diwujudkan secara lebih kuat dan berkelanjutan.

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.

Jalan Alternatif 4,8 Km Dibangun di Mook Manaar Bulant, Akses Warga Tetap Dijaga

0
Bupati Kutai Barat Frederick Edwin bersama Direktur PT Bina Insan Sukses Mandiri (BISM) Chai Chon Chon menunjukkan berita acara kesepakatan pembangunan jalan alternatif di Kecamatan Mook Manaar Bulant. (Foto: Istimewa)

SENDAWAR – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Pemkab Kubar) bersama PT Bina Insan Sukses Mandiri (BISM) menyepakati pembangunan jalan alternatif sepanjang 4,8 kilometer di Kecamatan Mook Manaar Bulant (MMB). Jalan tersebut disiapkan untuk menggantikan akses milik pemerintah daerah sekaligus memastikan transportasi masyarakat tetap terjaga.

Kesepakatan dituangkan dalam Naskah Kesepakatan Bersama tentang sinergitas pembangunan jalan alternatif pengganti jalan milik pemerintah daerah. Penandatanganan dilakukan Bupati Kutai Barat Frederick Edwin bersama Direktur PT BISM Chai Chon Chon di Kantor Bupati Kutai Barat, Jumat (7/8/2026).

Jalan alternatif tersebut akan dibangun di wilayah Kampung Linggang Marimun. Pembangunan menjadi bagian dari penyelesaian penataan ruang yang bersinggungan dengan aset jalan pemerintah daerah.

Direktur PT BISM Chai Chon Chon mengapresiasi dukungan Pemkab Kubar hingga tercapainya kesepakatan. Menurutnya, pembangunan jalan alternatif merupakan bentuk komitmen perusahaan mengikuti ketentuan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami melihat sisi positifnya. Walaupun prosesnya cukup panjang, kami harus memahami dan mengikuti aturan yang ada. Kami berterima kasih kepada Bupati dan seluruh pihak yang telah membantu. Ke depan, kami berharap pembangunan ini dapat berjalan lebih baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Chai, jalan alternatif yang disiapkan memiliki panjang sekitar 4,8 kilometer dan berada di wilayah Kampung Linggang Marimun.

Bupati Kutai Barat Frederick Edwin mengatakan pembangunan infrastruktur jalan menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah karena berkaitan langsung dengan konektivitas wilayah, pelayanan publik, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Ia menilai Kecamatan Mook Manaar Bulant memiliki potensi berkembang sebagai kawasan ekonomi sekaligus permukiman. Karena itu, persoalan penataan ruang dan aset jalan pemerintah harus diselesaikan tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat.

“Kesepakatan bersama ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah. Investasi harus tetap berjalan, namun hak masyarakat terhadap fasilitas publik juga harus terjamin,” ujar Frederick.

Frederick juga mengapresiasi komitmen PT BISM menyediakan jalan alternatif sebagai pengganti akses yang terdampak.

Ia meminta pembangunan jalan baru memperhatikan kualitas konstruksi, keselamatan dan kenyamanan pengguna, serta memenuhi standar teknis yang berlaku. Kualitas jalan pengganti diharapkan setara atau bahkan lebih baik dibandingkan jalan sebelumnya.

“Pertama, pembangunan jalan alternatif harus dilaksanakan secara optimal dengan memperhatikan kualitas konstruksi, aspek keselamatan, dan kelayakan fasilitas sehingga setara atau bahkan lebih baik dibandingkan jalan sebelumnya,” tegasnya.

Selain kualitas konstruksi, pemerintah daerah meminta pengerjaan dilakukan secara efektif dan efisien agar tidak mengganggu aktivitas transportasi masyarakat.

Pemkab Kubar juga menyiapkan pengawasan lintas perangkat daerah untuk memastikan pelaksanaan kesepakatan berjalan sesuai ketentuan.

Frederick meminta Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Dinas Perhubungan (Dishub), Bagian Kerja Sama, serta Pemerintah Kecamatan Mook Manaar Bulant melakukan pengawasan, pendampingan, dan koordinasi secara intensif selama pembangunan berlangsung.

“Proses pembangunan diharapkan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga tidak mengganggu aktivitas transportasi masyarakat sehari-hari,” tandasnya.

Pemkab Kubar berharap pembangunan jalan alternatif tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan akses, tetapi juga memperkuat konektivitas wilayah dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di Kecamatan Mook Manaar Bulant.

Kesepakatan Pemkab Kubar dan PT BISM juga diharapkan menjadi bentuk kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha yang tetap menjaga kepentingan masyarakat di tengah kegiatan investasi.

Penandatanganan turut dihadiri Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Nopandel, Kabag Kerja Sama Darius Kamuntik, Kepala Diskominfo Yuli Permata Mora, Kepala DPMPTSP Philip Silitonga, Sekretaris Satpol PP, serta perwakilan TNI-Polri.

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.

Ter?

0

Catatan: SB Silaban*

40 persen kios dan lapak masih kosong.
Pembeli tak sesuai harapan. Omzet kecil. Syukur-syukur kalau cukup untuk makan.

Itulah kabar tentang Pasar Pagi (baru) Samarinda. Bangunannya megah sekali untuk kelas pasar. Tujuh lantai. 2.500 kios dan lapak. Eskalator. Eksterior yang cukup menarik.

Baru-baru ini, ketua dan anggota sebuah komisi di DPRD Samarinda berkeliling di sini. Empat jam. Kesimpulan sementara: pasar ini belum memberi hasil secara signifikan bagi (sebagian besar) pedagang.

Sejak awal, saya termasuk yang heran kenapa Pasar Pagi dibangun dalam skala yang sekarang. Dengan biaya hampir Rp500 miliar. Saya membatin: untuk apa? Kenapa tak merenovasi total 3-4 pasar lainnya? Agar konsumen tak menumpuk di situ.

Saat membaca rencana pembangunannya beberapa tahun lalu, saya terpikir tentang perubahan pola belanja masyarakat yang sebagian bergeser ke belanja online.

Lalu: kebutuhan menyebarkan lebih banyak pusat belanja di antara 10 kecamatan di kota ini. Kaitannya dengan memecah kepadatan agar tak menumpuk di titik tertentu.

Beberapa bulan lalu, Pasar Pagi pun selesai dibangun. Setelah ditempati, dalam tiga bulan terakhir, tiap kali ada pemberitaan tentang Pasar Pagi, di luar kisruh pembagian kios dan lapak, saya agak jarang menemukan apresiasi seperti ini: Bangunan baru pasti mendatangkan cuan lebih besar. Pasar begini yang dibutuhkan masyarakat. Pas untuk perkembangan kota. Dan lain-lain dengan apresiasi senada itu.

Tentu terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kondisi “kurang cuan” saat ini akan terus begitu. Atau lebih jelek. Bisa saja tahun depan situasinya bikin sebagian besar pedagang tersenyum lebar.

Namun, jika yang terjadi adalah kondisi stagnan dan situasi kurang cuan terus berlangsung, Pasar Pagi tampaknya akan menjadi catatan minus bagi Andi Harun sebagai wali kota.

Pasar Pagi yang megah, yang diharapkan sebagai landmark Samarinda, justru bisa menjadi penanda buram era Andi Harun yang menjabat sejak 2020.

Saya hampir yakin, Andi Harun pasti ingin dikenang lewat warisannya ini. Seperti juga Terowongan Samarinda. Dua proyek Andi Harun dengan biaya terbesar.

Saya kerap membayangkan, Samarinda punya 3-4 pasar yang mantap. Bangunan maupun fasilitasnya. Selain Pasar Pagi (yang tak perlu sebesar itu), satu di Samarinda Utara dan satu lagi di Samarinda Seberang.

Kenapa? Agar jangkauan publik lebih mudah. Yang di Samarinda Seberang untuk konsumen hingga ke Loa Janan dan Palaran, yang di Samarinda Utara menjangkau hingga 2-3 kecamatan terdekat. Selain tentu, merenovasi Pasar Segiri agar layak sebagai pasar di ibu kota provinsi.

Andi Harun dan jajarannya harus bekerja keras untuk membuat Pasar Pagi benar-benar hidup.

Dengan cara apa? Biarlah mereka yang berpikir, tak perlu pembaca Media Kaltim.

Satu hal: Pemkot Samarinda tampaknya tak belajar dari kegagalan Pasar Pandan Sari Balikpapan. Dibangun hingga menjadi lima lantai, yang “laku” hanya dua lantai. Pedagang ogah ke lantai 3 dan seterusnya, apalagi pembeli.

Saya khawatir Pasar Pagi Samarinda itu berkategori: T.
Terlalu terlambat hadir. (Saat belanja online sudah jadi kebiasaan).
Terlalu besar. (Biaya perawatannya tak murah).
Terlalu menuruti kemauan yang punya gawe.

Oh ya, tarif parkir di Pasar Pagi juga mahal. Jauh di atas tarif di mal-mal pada umumnya. Rp10 ribu untuk motor, mobil Rp25.000. Truk? Rp35.000. Tarif yang bisa disimpulkan dengan satu kata: terlalu.

*/Praktisi jurnalistik

Mengapa Harus Jauh?

0

ADA satu pertanyaan yang belakangan ini sering muncul di kepala saya. Mengapa harus jauh?

Mengapa harus terbang ke luar negeri untuk mencari pantai yang indah? Mengapa harus ke kota lain untuk menikmati festival, mencoba kuliner, atau menginap di hotel yang nyaman? Padahal, banyak jawabannya justru ada di Kalimantan Timur (Kaltim).

Mungkin karena kita terlalu dekat. Terlalu sering melihatnya, sehingga lupa bahwa banyak orang dari luar justru ingin datang ke sini.

Lewat edisi perdana Weekend ini, kami ingin mengajak pembaca melihat Kaltim dari sudut yang berbeda. Bukan dari berita politik dan bukan pula dari angka-angka investasi. Tetapi dari tempat-tempat yang bisa dinikmati bersama keluarga, sahabat, maupun orang-orang terdekat.

Di halaman-halaman berikutnya, ada Wedding Festival Week yang memperlihatkan geliat industri kreatif. Ada Pulau Segajah di Bontang yang muncul dan menghilang mengikuti pasang surut air laut. Ada Batoq Tenevang di Mahakam Ulu yang menyimpan perpaduan alam dan budaya Dayak. Ada sensasi menikmati Sungai Mahakam dengan jetski listrik. Ada pula cerita tentang industri perhotelan yang terus berbenah menyambut semakin banyaknya kunjungan ke Kaltim.

Semuanya menunjukkan bahwa Kaltim punya banyak hal menarik untuk dinikmati.

Pariwisata hari ini bukan lagi sekadar soal destinasi. Hotel, restoran, kafe, pelaku UMKM, fotografer, event organizer, transportasi, hingga komunitas kreatif saling terhubung. Ketika wisatawan datang, bukan hanya tempat wisata yang mendapat manfaat. Banyak usaha lain ikut bergerak.

Karena itu, Weekend kami hadirkan untuk menceritakan sisi lain Kaltim. Cerita tentang wisata, kuliner, hotel, event, industri kreatif, dan banyak hal menarik lainnya yang mungkin selama ini belum banyak kita ketahui.

Saya ingin Weekend juga membuat kita lebih tertarik menikmati akhir pekan di daerah sendiri. Datang ke destinasi lokal. Mencoba kulinernya. Menginap di hotelnya. Menghadiri event yang digelar. Ujungnya, perputaran ekonomi juga kembali ke masyarakat.

Kaltim punya banyak tempat menarik untuk dikunjungi dan banyak cerita untuk dinikmati.

Jadi, mengapa harus jauh?

Oleh: Agus Susanto

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.897 per Dolar AS, Ditopang Cadangan Devisa RI yang Stabil

0

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Koran Nusantara?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper lengkap
https://koran.koranusantara.com/

📱 Versi Mobile
https://digital.koranusantara.com/kn8agt2026/mobile/