Beranda blog Halaman 80

Jasa Nikah Siri Marak di Medsos, Kemenag Ingatkan Risiko Hukumnya

0
Ilustrasi

JAKARTA – Promosi jasa nikah siri semakin mudah ditemukan di media sosial. Tawaran menikah secara cepat, praktis hingga diklaim sesuai syariat beredar melalui berbagai platform. Kementerian Agama (Kemenag) meminta masyarakat tidak tergiur karena perkawinan yang tidak dicatat negara dapat menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan fenomena promosi jasa nikah siri melalui media sosial perlu mendapat perhatian serius.

Menurut dia, perkawinan bukan sekadar persoalan sah atau tidak menurut ketentuan agama. Pencatatan perkawinan dibutuhkan untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum kepada pasangan maupun anak yang lahir dari perkawinan tersebut.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak tergiur dengan jasa nikah siri yang marak di media sosial. Pernikahan harus dilaksanakan sesuai ketentuan agama dan dicatatkan secara resmi agar memiliki kekuatan hukum,” kata Abu Rokhmad.

Kemenag mengingatkan pencatatan pernikahan bukan sebatas urusan administratif. Dokumen perkawinan menjadi dasar dalam berbagai urusan hukum, mulai status suami-istri, administrasi kependudukan, hak anak, warisan hingga persoalan harta bersama.

Risiko terutama muncul ketika terjadi perceraian, sengketa harta, persoalan hak asuh maupun pemenuhan hak perempuan dan anak.

Perkawinan umat Islam di Indonesia dicatat melalui Kantor Urusan Agama (KUA). Pencatatan tersebut menghasilkan dokumen resmi yang menjadi bukti adanya perkawinan menurut hukum negara.

Maraknya promosi jasa nikah siri di media sosial juga dinilai perlu dicermati karena calon pengantin tidak selalu mengetahui siapa pihak yang menawarkan layanan tersebut, termasuk kompetensi maupun kewenangannya.

Tawaran yang beredar umumnya menjanjikan proses cepat dengan berbagai fasilitas. Kondisi ini dikhawatirkan membuat masyarakat mengambil keputusan tanpa memahami konsekuensi hukum setelah perkawinan berlangsung.

Kemenag menegaskan masyarakat dapat memperoleh pelayanan pernikahan melalui KUA dengan prosedur yang telah ditetapkan pemerintah.

Pencatatan pernikahan di KUA pada hari dan jam kerja tidak dipungut biaya apabila akad dilaksanakan di kantor. Sementara akad nikah yang dilakukan di luar KUA atau di luar hari dan jam kerja dikenakan biaya resmi Rp600 ribu sesuai ketentuan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Pemerintah juga terus mendorong digitalisasi pelayanan pernikahan melalui Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) untuk mempermudah proses administrasi calon pengantin.

Abu Rokhmad mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mempertimbangkan kemudahan proses ketika memilih menikah secara tidak tercatat.

Menurut Kemenag, pencatatan justru menjadi instrumen penting untuk melindungi hak-hak anggota keluarga apabila suatu saat muncul persoalan hukum.

Fenomena jasa nikah siri yang kini dipasarkan secara terbuka melalui media sosial menjadi perhatian karena ruang digital membuat layanan semacam itu semakin mudah menjangkau masyarakat.

Kemenag meminta masyarakat lebih berhati-hati serta memastikan proses perkawinan mengikuti ketentuan agama sekaligus peraturan perundang-undangan. (MK)

Editor: Agus S

Keracunan MBG Terulang, 500 Santri Sidoarjo Jadi Korban 

0
Sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, mendapat penanganan medis setelah mengalami gejala dugaan keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). (Istimewa)

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, harus mendapatkan penanganan medis setelah menyantap makanan yang dipasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.

Jumlah korban terus bertambah sejak Selasa (1/9/2026) sore. Data penanganan medis Rabu (2/9/2026) pagi mencatat sekitar 500 santri telah ditangani di delapan rumah sakit di Sidoarjo.

Dari 500 santri tersebut, 320 orang telah diperbolehkan pulang. Sebanyak 65 pasien masih menjalani rawat inap dan 115 lainnya dalam observasi.

RSUD Notopuro menjadi rumah sakit yang menerima korban terbanyak dengan 334 santri. Pasien lainnya tersebar di RS Siti Hajar, RSU Aisyiyah Siti Fatimah, RS Delta Surya, RS Pusura, RS Pusdik Bhayangkara Porong, RS Arafah Anwar Medika dan RS Anwar Medika.

Perkembangan berikutnya menunjukkan kasus tidak hanya menimpa santri Manbaul Hikam. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut total korban dugaan keracunan mencapai 512 orang yang berasal dari 19 lembaga pendidikan.

Seluruh korban memiliki satu kesamaan, yakni menerima makanan dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin.

“Ya, kita lihat faktor apa kesamaan dari semua adalah penerima dari SPPG yang sama. Mengonsumsi menu yang juga kebetulan sama,” kata Emil.

Operasional SPPG Kalitengah langsung dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Sampel makanan telah diambil Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan kepolisian untuk diperiksa di laboratorium.

Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan penghentian dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan.

“Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional. Selanjutnya, hasil lab dan lain-lain kita tunggu untuk satu minggu ke depan,” kata Teguh.

SPPG Kalitengah pada Selasa mendistribusikan ribuan porsi MBG kepada penerima manfaat di wilayah Tanggulangin. Sekitar seribu porsi di antaranya dikirim ke lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Hikam.

Menu yang dibagikan berupa nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis dan baby corn, tempe bumbu Bali serta buah apel.

Makanan didistribusikan sekitar pukul 10.00 WIB dan disantap para santri sekitar pukul 12.00 WIB. Beberapa jam kemudian, sejumlah santri mulai mengalami keluhan.

Gejala yang muncul antara lain pusing, mual, muntah, lemas dan gangguan pencernaan. Jumlah santri yang mengalami keluhan kemudian terus bertambah hingga ambulans dikerahkan untuk membawa mereka ke sejumlah rumah sakit.

Salah seorang santriwati mengaku merasakan rasa tidak biasa pada sayuran yang disajikan.

“Sayur enggak habis, yang kecut dari sayurnya,” kata santriwati bernama Syaza.

Namun, belum dapat dipastikan apakah sayuran atau komponen makanan lainnya menjadi penyebab kejadian tersebut. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Pihak Pondok Pesantren Manbaul Hikam juga meluruskan informasi yang beredar mengenai pengelolaan makanan.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Manbaul Hikam KH Abdul Wahid Harun menegaskan makanan tersebut tidak dimasak oleh pihak pesantren.

“Soal SPPG bukan ditangani pesantren, tapi dari Kalitengah. Kami hanya menerima manfaat saja. Tidak benar kalau SPPG itu ada di pondok,” ujarnya.

Bupati Sidoarjo Subandi memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Ia menyebut sebagian pasien sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.

“Tidak ada yang meninggal, semua pasien tertangani dengan baik. Kalau ada berita yang menyatakan ada yang meninggal, itu tidak benar,” tegas Subandi.

Pemprov Jawa Timur bersama Pemkab Sidoarjo kini melakukan pemantauan terhadap seluruh lembaga pendidikan yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah. Langkah itu dilakukan untuk menemukan kemungkinan siswa atau santri lain yang mengalami gejala tetapi belum mendapatkan penanganan.

Seluruh biaya perawatan korban, baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta, ditanggung pemerintah daerah.

Kasus Sidoarjo kembali menyoroti keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Sebelumnya, BGN mengungkap telah menutup 1.300 SPPG yang tidak memenuhi standar keselamatan pangan.

BGN juga memperketat pengawasan dapur setelah muncul sejumlah kasus keracunan MBG di berbagai daerah. Pemeriksaan tidak hanya menyangkut proses pengolahan makanan, tetapi juga kebersihan dapur, sanitasi, penyimpanan bahan hingga distribusi makanan kepada penerima.

Untuk kasus Sidoarjo, pemerintah belum menetapkan penyebab pasti gangguan kesehatan massal tersebut. Penentuan sumber dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. (ant/MK)

Editor: Agus S

Asap Karhutla Ancam 3,8 Juta Lansia, Kasus ISPA Tembus 50 Ribu 

0

JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi mulai berkembang menjadi krisis kesehatan. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut hingga akhir Agustus 2026.

Hampir 40 ribu kasus terjadi pada penduduk berusia lebih dari lima tahun, termasuk kelompok lanjut usia. Sekitar 3,8 juta lansia tercatat tinggal di delapan provinsi terdampak karhutla.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan, lansia menghadapi risiko lebih besar karena asap mengandung partikel halus PM2.5 dan PM10 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

“Data Kemenkes mencatat lebih dari 50 ribu kasus ISPA hingga akhir Agustus, dengan hampir 40 ribu di antaranya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun, termasuk lansia,” kata Imran, Selasa (1/9/2026).

Kementerian Kesehatan belum membuka perincian kasus di seluruh delapan provinsi terdampak. Namun, Kalimantan Barat dilaporkan mencatat lebih dari 16 ribu kasus, sedangkan Kalimantan Tengah lebih dari 6.000 kasus.

Paparan asap dapat memicu gangguan pernapasan akut dan memperburuk penyakit kronis seperti asma, bronkitis serta penyakit paru obstruktif kronis. Risiko semakin tinggi terhadap lansia yang telah memiliki penyakit penyerta.

Dampaknya juga dapat menyerang sistem kardiovaskular. Paparan asap berpotensi meningkatkan tekanan darah, memicu peradangan, serangan jantung serta stroke.

Dokter Spesialis Paru RS Bhayangkara Anton Soedjarwo, Andreas Surbakti, memeriksa pasien pneumonia di Pontianak, Kalimantan Barat. Kasus pneumonia meningkat seiring memburuknya kualitas udara akibat karhutla.

Kondisi penderita diabetes, gagal ginjal dan gangguan saraf juga dapat memburuk akibat stres oksidatif. Sebagian lansia dapat mengalami penurunan konsentrasi dan daya ingat sementara.

“Studi resmi menunjukkan bahwa angka kematian mendadak pada lansia meningkat selama dan setelah episode kebakaran besar,” ujar Imran.

Menurut dia, dampak karhutla tidak berhenti pada penyakit fisik. Evakuasi, kehilangan tempat tinggal, terputusnya akses pelayanan kesehatan dan kecemasan selama bencana dapat meningkatkan stres, depresi serta isolasi sosial.

Gangguan infrastruktur juga menyulitkan lansia mendapatkan obat dan pemeriksaan rutin. Kondisi tersebut berbahaya untuk penderita penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan.

Kemenkes menyiapkan layanan kesehatan di puskesmas, rumah sakit rujukan dan pos pengungsian. Fasilitas tersebut dilengkapi oksigen konsentrator, tabung oksigen dan obat-obatan.

Pemerintah juga mendistribusikan masker ke wilayah terdampak. Lebih dari 267 ribu masker dikirim ke Kalimantan Tengah dan lebih dari 470 ribu masker disalurkan ke Jambi.

Pemantauan dilakukan setiap hari melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons Situasi Khusus. Public Safety Center 119 dan tenaga cadangan kesehatan turut disiagakan untuk membantu evakuasi darurat.

“Surveilans harian melalui SKDR Situasi Khusus terus memantau tren ISPA pada lansia, sementara PSC 119 dan tenaga cadangan kesehatan disiagakan untuk evakuasi darurat,” jelas Imran.

Keluarga yang merawat lansia diminta memastikan penggunaan masker, memenuhi kebutuhan cairan dan membatasi aktivitas fisik berat. Tanda bahaya seperti sesak napas, nyeri dada atau kebingungan mendadak harus segera mendapat pertolongan medis.

Kalimantan Timur termasuk daerah yang sedang menghadapi peningkatan gangguan pernapasan selama musim kemarau. Data daerah mencatat kenaikan kasus ISPA sekitar 10–20 persen, meski pemerintah setempat menyatakan penyebabnya tidak hanya asap karhutla, tetapi juga debu akibat cuaca kering dan angin kencang.

Kondisi serupa terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra. Kebakaran yang berulang membuat penanganan tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga perlindungan kesehatan masyarakat.

“Kebakaran hutan telah membuktikan bahwa krisis lingkungan dapat dengan cepat berubah menjadi krisis kesehatan. Lansia adalah wajah paling nyata dari kerentanan tersebut,” kata Imran. (MK)

Editor: Agus S

Ekonomi 2027 Dipacu 6 Persen, Pemerintah Genjot Investasi

0
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa

JAKARTA – Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027. Untuk mencapai angka tersebut, investasi ditargetkan tumbuh lebih agresif hingga 7 persen, dengan mengandalkan kolaborasi pemerintah, sektor swasta, dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Target tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI yang membahas Asumsi Dasar Ekonomi Makro dalam penyusunan RAPBN Tahun Anggaran 2027, Selasa (1/9/2026).

Purbaya menegaskan, akselerasi investasi menjadi salah satu kunci untuk membawa pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi.

“Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, mencapai 6 persen di tahun 2027 dibutuhkan akselerasi pertumbuhan investasi hingga 7 persen. Target ini akan dicapai melalui kolaborasi Pemerintah, Swasta dan Danantara,” ujar Purbaya.

Pemerintah menilai target tersebut masih realistis dengan melihat kondisi fundamental ekonomi nasional yang relatif terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pada Semester I 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,45 persen secara cumulative-to-cumulative. Inflasi juga masih terkendali, sementara likuiditas perbankan dinilai memadai untuk menopang penyaluran kredit ke sektor ekonomi.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada Januari–Juni 2026 masih mencatat surplus. Cadangan devisa hingga Juli 2026 mencapai USD145,3 miliar.

Sentimen positif juga terlihat di pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah mengalami apresiasi, IHSG menguat, sementara perkembangan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dinilai tetap kondusif.

Aliran modal masuk hingga 28 Agustus 2026 bahkan tercatat mencapai Rp140,6 triliun.

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga disebut tetap solid. Hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara tumbuh 21,3 persen secara year-on-year (yoy), sementara belanja negara tetap tumbuh kuat dengan defisit yang masih terkendali pada level 0,91 persen terhadap PDB.

Untuk mengejar target pertumbuhan 6 persen, Pemerintah akan memperkuat sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara.

APBN tidak hanya diarahkan untuk membiayai kebutuhan publik, tetapi juga digunakan sebagai instrumen katalis untuk mendorong investasi dan memperbesar peran sektor swasta.

“APBN difokuskan untuk memenuhi kebutuhan publik dan berperan sebagai katalis untuk membangkitkan peran swasta dalam akselerasi pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan,” jelas Purbaya.

Dalam skema tersebut, pemerintah akan berperan sebagai katalisator investasi, sedangkan sektor swasta diharapkan menjadi motor utama penggerak pertumbuhan.

Sementara itu, Danantara didorong untuk mempercepat investasi produktif, khususnya pada sektor strategis dan hilirisasi yang memiliki nilai tambah tinggi serta berpotensi memberikan dampak besar terhadap transformasi ekonomi nasional.

Strategi mengejar pertumbuhan juga akan dibarengi dengan penguatan sektor keuangan dan kebijakan moneter.

Pemerintah akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi makro melalui pengendalian inflasi, menjaga suku bunga tetap kompetitif, serta mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah.

Di sektor keuangan, pemerintah mendorong sistem yang semakin inklusif, dalam, dan stabil. Tujuannya memperluas akses pembiayaan sekaligus memastikan sektor keuangan mampu menopang pergerakan sektor riil.

Pemerintah juga memberi perhatian pada sektor minyak dan gas bumi. Optimalisasi produksi didorong melalui reaktivasi sumur tidak aktif, percepatan pengembangan cadangan, pemanfaatan teknologi, penguatan pengawasan, serta perbaikan iklim investasi di sektor hulu migas.

Defisit RAPBN 2027 Dijaga 2,40 Persen

Di tengah ambisi mengejar pertumbuhan lebih tinggi, Pemerintah memastikan kesehatan APBN tetap menjadi perhatian.

Reformasi fiskal akan dilanjutkan melalui optimalisasi penerimaan dengan tetap menjaga iklim investasi, peningkatan kualitas belanja melalui efisiensi dan refocusing, serta pembiayaan defisit yang inovatif, prudent, dan berkelanjutan.

“Berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, memperkuat investasi, dan menjaga stabilitas ekonomi tersebut harus didukung oleh APBN yang sehat, kredibel, dan berkelanjutan,” tegas Purbaya.

Dalam rancangan RAPBN 2027, pendapatan negara direncanakan mencapai Rp3.426 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp4.097,2 triliun.

Defisit anggaran dijaga sebesar 2,40 persen terhadap PDB.

Sejumlah asumsi dasar ekonomi makro juga ditetapkan sebagai fondasi penyusunan RAPBN 2027. Pertumbuhan ekonomi dipatok 6 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp17.500 per dolar AS, serta tingkat imbal hasil SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9 persen.

Sementara itu, asumsi Indonesian Crude Price (ICP) ditetapkan sebesar USD75 per barel. Lifting minyak dipatok 610 ribu barel per hari dan lifting gas 954 ribu barel setara minyak per hari.

Dalam pembahasan bersama Komisi XII DPR RI dan kementerian/lembaga terkait, target lifting minyak kemudian berubah menjadi 612,5 ribu barel per hari.

Pemerintah menegaskan target pertumbuhan ekonomi tidak hanya mengejar peningkatan angka Produk Domestik Bruto (PDB).

Pertumbuhan yang lebih tinggi diharapkan berdampak langsung terhadap penurunan kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Pada 2027, tingkat kemiskinan ditargetkan turun ke rentang 6,0–6,5 persen. Tingkat pengangguran terbuka ditargetkan berada pada kisaran 4,30–4,87 persen, sedangkan rasio Gini ditargetkan berada di rentang 0,362–0,367.

Pemerintah juga menargetkan Indeks Modal Manusia meningkat menjadi 0,575.

Dengan demikian, akselerasi investasi dan pertumbuhan ekonomi pada 2027 diarahkan bukan sekadar untuk meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi juga memastikan manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Target 6 persen pertumbuhan ekonomi dengan investasi 7 persen kini menjadi salah satu agenda utama Pemerintah dalam RAPBN 2027, dengan APBN, swasta, dan Danantara ditempatkan sebagai tiga kekuatan yang diharapkan mampu mendorong mesin ekonomi nasional. (Cha/KN)

Editor: Agus S

14.795 Hotspot Terdeteksi di Kaltim, Mayoritas Berada di Konsesi Perusahaan

0
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menjadi narasumber Dialog Indonesia Bicara TVRI bertema “Borneo Bergerak, Tangani Bencana Asap”, Jumat (28/8/2026). (Koran Nusantara/HO-Adpimprov Kaltim)

SAMARINDA – Sebanyak 14.795 titik panas terdeteksi di Kaltim sepanjang 1–26 Agustus 2026. Sebagian besar titik tersebut berada di kawasan konsesi perusahaan, mulai sektor kehutanan, pertambangan batu bara hingga perkebunan.

Data itu disampaikan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji dalam Dialog Indonesia Bicara TVRI bertema “Borneo Bergerak, Tangani Bencana Asap”.

Berau menjadi daerah dengan sebaran titik panas tertinggi, mencapai 6.004 titik. Kutai Timur berada di urutan kedua dengan 3.003 titik, disusul Kutai Kartanegara sebanyak 2.426 titik.

Jika digabungkan, ketiga daerah tersebut menyumbang 11.433 titik atau lebih dari 77 persen total hotspot yang terdeteksi di Kaltim selama periode tersebut.

Seno mengakui sebagian besar titik panas berada di dalam area konsesi perusahaan. Kawasan itu mencakup Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan, tambang batu bara, dan perkebunan.

Seno menyebut kondisi Kaltim relatif lebih stabil dibandingkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

“Dibandingkan jumlah sebaran hotspot di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, tentu Kaltim relatif stabil, bahkan menurun,” kata Seno.

Menurutnya, kondisi tersebut didukung penanganan bersama Pemprov Kaltim, pemerintah kabupaten dan kota, TNI, Polri, BPBD, BMKG, perusahaan, serta masyarakat.

Empat daerah di Kaltim telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan untuk mempercepat penanganan.

“Bahkan, empat daerah telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan untuk mempercepat penanganan,” tegasnya.

Pemerintah juga menambah armada mobil tangki dan pompa air di kawasan rawan. Masyarakat dan petani dilibatkan melalui kelompok tani peduli api, brigade pengendalian kebakaran lahan dan kebun, serta organisasi kemasyarakatan.

Pemprov Kaltim juga berkomunikasi dengan para pemegang hak guna usaha perkebunan agar meningkatkan pemantauan di wilayah konsesi dan kawasan sekitarnya.

Operasi Modifikasi Cuaca telah dilakukan untuk membantu penanganan karhutla. Pelaksanaannya masih difokuskan di kawasan Ibu Kota Nusantara, Sepaku, Penajam Paser Utara, serta Kabupaten Berau.

“Alhamdulillah sudah mulai turun hujan dan sudah banyak titik api yang padam,” ujar Seno.

Berau menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca setelah mencatat jumlah hotspot tertinggi di Kaltim, yakni 6.004 titik sepanjang 1–26 Agustus 2026.

Dialog yang dipandu Happy Goeritman itu juga menghadirkan Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Hariqo Wibawa Satria, Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan, dan Ketua Bidang Kampanye Positif GAPKI Edi Suhardi.

Turut hadir Kepala Stasiun TVRI Kaltim Febriani dan Ketua Tim Perencanaan dan Pengendalian Produksi Berita Dwi Rahmawati. (adm/MK)

Editor: Agus S

Udara Kaltim Memburuk, Cuma Bontang Masih Baik, Tambang dan Perkebunan Ikut Disorot

0
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud memimpin Morning Briefing di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (31/8/2026). (Koran Nusantara/HO-Adpimprov Kaltim)

SAMARINDA – Kualitas udara di Kaltim sedang tidak baik-baik saja. Dari 10 kabupaten dan kota, hanya Bontang yang tercatat masih berada dalam kategori baik. Daerah lainnya sudah masuk kategori sedang hingga tidak sehat, bahkan beberapa titik di Kutai Barat menembus level berbahaya.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Ia menilai pencemaran udara tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan. Aktivitas pertambangan batu bara dan perkebunan juga ikut disorot.

“Saya minta Dinas Lingkungan Hidup buat kajian komprehensif untuk masalah ini,” tegas Rudy saat memimpin Morning Briefing di Ruang Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim, Senin (31/8/2026).

Berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara, Bontang masih berada dalam kategori baik dengan skor 0–50. Sementara kabupaten dan kota lainnya berada pada kategori sedang dengan skor 51–100 serta tidak sehat pada rentang 101–200.

Kondisi paling mengkhawatirkan terpantau di Kabupaten Kutai Barat. Sejumlah titik pemantauan mencatat ISPU lebih dari 300 atau sudah masuk kategori berbahaya.

Pada level tersebut, paparan udara tidak hanya berisiko bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan, tetapi juga dapat berdampak terhadap masyarakat secara umum.

Memburuknya kualitas udara membuat Rudy meminta sekolah di daerah dengan ISPU kategori berbahaya mengalihkan kegiatan belajar mengajar secara daring.

“Untuk daerah-daerah yang masuk kategori berbahaya, saya minta sekolah-sekolah sementara daring dulu,” katanya.

Masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar rumah juga diminta selalu mengenakan masker. Aktivitas luar ruangan perlu dikurangi, terutama di kawasan yang tertutup kabut asap.

Rudy mengingatkan bahwa api mungkin dapat dipadamkan, tetapi asap yang sudah menyebar ke atmosfer sulit dikendalikan dan dapat bertahan lebih lama.

“Kalau kita membakar, mungkin apinya bisa padam atau kita padamkan. Tapi asapnya tidak bisa kita kendalikan. Ini akan menjadi masalah dan berbahaya bagi kesehatan,” tandasnya.

Parameter yang digunakan untuk mengukur ISPU meliputi karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, ozon permukaan, dan partikel debu. Peningkatan konsentrasi zat pencemar dapat memicu gangguan pernapasan apabila terhirup dalam waktu lama.

Karhutla memang menjadi salah satu pemicu utama kabut asap selama musim kemarau. Namun, Rudy meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap kontribusi sektor lain.

Aktivitas pertambangan batu bara dapat menghasilkan debu dari proses penggalian, pengangkutan, dan penumpukan material. Sementara perkebunan berpotensi menyumbang pencemaran apabila pembukaan atau pembersihan lahan dilakukan dengan cara dibakar.

Kajian DLH diperlukan untuk memetakan sumber pencemar di setiap daerah. Hasil kajian diharapkan dapat menjawab apakah penurunan kualitas udara lebih banyak dipengaruhi karhutla, pertambangan, perkebunan, industri, transportasi, atau gabungan dari seluruh aktivitas tersebut.

Sambil menunggu kajian, Rudy meminta pencegahan karhutla diperkuat hingga tingkat desa. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa diperintahkan segera menyurati seluruh kepala desa.

Para kepala desa diminta mencegah warga membakar sampah maupun membuka dan membersihkan lahan menggunakan api.

“Segera lakukan langkah-langkah persuasif. Poinnya, lebih baik kita mencegah daripada memadamkan. Kebakaran yang meluas akan menyebabkan banyak kerugian, salah satunya menimbulkan asap dan pencemaran udara,” ujar Rudy.

Kepala desa juga diminta berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas dan Babinsa untuk memperkuat sosialisasi, patroli, serta deteksi dini di wilayah masing-masing.

Morning Briefing tersebut dimoderatori Sekretaris Daerah Kaltim Sri Wahyuni dan dihadiri para kepala organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemprov Kaltim. (adm/MK)

Editor: Agus S

63.548 Siswa Kaltim Dapat Seragam Gratis, Ditarget Sampai Pelosok Awal Oktober

0
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bersama Disdikbud Kaltim dan perwakilan siswa penerima perlengkapan sekolah gratis. (adpimprov)

SAMARINDA – Sebanyak 63.548 pelajar SMA/MA, SMK, dan SLB di Kaltim akan menerima paket perlengkapan sekolah gratis. Bantuan yang menyasar sekolah negeri dan swasta tersebut mulai didistribusikan secara bertahap ke seluruh kabupaten dan kota.

Distribusi ditandai dengan penyerahan simbolis oleh Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud kepada siswa kelas X SMA Negeri 10 Samarinda di Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (1/9/2026).

Paket yang diberikan tidak hanya berupa seragam putih abu-abu. Setiap penerima juga memperoleh topi atau jilbab, tas, dan sepatu.

“Terima kasih ya. Pak Kadis, Ibu Kepala Sekolah. Sudah selesai. Semoga semuanya sukses. Terus belajar ya,” kata Rudy kepada para siswa.

Penyerahan tersebut turut dihadiri Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim Armin, kepala sekolah dan guru SMAN 10 Samarinda, serta perwakilan orang tua siswa.

Armin mengatakan bantuan perlengkapan sekolah merupakan bagian dari program Gratispol Pendidikan yang dijalankan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji.

Program tersebut disiapkan untuk meringankan beban orang tua sekaligus memastikan kebutuhan dasar siswa tidak menjadi penghambat dalam mengikuti pendidikan.

“Ini adalah bentuk kepedulian yang tinggi Pemprov Kaltim kepada anak-anak dan para orang tua supaya anak-anak kita semangat. Mudah-mudahan anak-anak kita menjadi sukses,” ujar Armin.

Secara keseluruhan, Pemprov Kaltim menyiapkan 34.389 paket bagi pelajar di 332 SMA dan MA. Jenjang SMK memperoleh 28.308 paket yang disalurkan ke 208 sekolah, sedangkan 851 paket lainnya diperuntukkan bagi siswa di 36 SLB.

Dengan demikian, program tersebut menjangkau 63.548 siswa di 576 sekolah negeri dan swasta di seluruh Kaltim.

Distribusi tahap awal dilakukan kepada tiga SMA negeri unggulan. SMAN 10 Samarinda mendapat 355 paket, SMAN 3 Tenggarong sebanyak 144 paket, dan SMAN 2 Sangatta Utara memperoleh 36 paket.

Penyaluran untuk jenjang SLB dijadwalkan mulai Rabu (2/9/2026). Sebanyak 851 paket akan dibagikan kepada siswa di 36 sekolah yang tersebar di berbagai daerah.

Sementara itu, pembagian perdana untuk jenjang SMK direncanakan mulai Jumat (4/9/2026) di Samarinda dan Balikpapan. Tahap tersebut mencakup sekitar 3.700 siswa di 14 sekolah.

“Alhamdulillah, hari ini Pak Gubernur sudah menyerahkan secara simbolis pakaian seragam Gratispol kepada siswa-siswi di Kalimantan Timur. Selanjutnya, Dinas Pendidikan akan melakukan distribusi secara bertahap,” jelas Armin.

Ia mengatakan proses produksi dan pengadaan perlengkapan bagi siswa SMA dan SMK ditargetkan selesai pada akhir September 2026. Setelah seluruh paket tersedia, distribusi dilanjutkan ke kabupaten dan kota, termasuk sekolah yang berada di kawasan pedalaman.

“Semua target kita paling tidak akhir September sudah rampung. Karena ini bertahap, kita harus bawa ke daerah-daerah dan menyerahkannya di sana. Mudah-mudahan awal Oktober semua sudah sampai ke pelosok,” pungkasnya. (adm/MK)

Editor: Agus S

Rp41,52 Triliun Masuk Kutim, Pabrik Metanol Butuh 7,7 Juta Ton Batu Bara Setahun

0
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung meresmikan dimulainya pembangunan pabrik metanol PT Bumi Etam Chemical di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, Senin (31/8/2026). (istimewa)

SANGATTA – Investasi jumbo senilai Rp41,52 triliun mulai masuk ke Kutai Timur (Kutim). Proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol milik PT Bumi Etam Chemical (BEC) resmi memasuki tahap pembangunan di kawasan Batuta Chemical Industrial Park, Kecamatan Bengalon.

Proyek yang masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) 2026 itu bukan proyek kecil. Pabrik dirancang mengolah sekitar 7,70 juta hingga 7,78 juta ton batu bara berkalori rendah setiap tahun untuk menghasilkan sekitar dua juta ton metanol.

Pembangunan dimulai setelah Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung melakukan peletakan batu pertama, Senin (31/8/2026). Pabrik ditargetkan memasuki tahap commissioning dan mulai beroperasi pada 2029.

“Groundbreaking ini menandai dimulainya langkah nyata pembangunan industri metanol berbasis hilirisasi batu bara,” kata Yuliot.

Ia mengatakan proyek tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, serta mendukung ketahanan energi nasional.

PT Bumi Etam Chemical merupakan perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal. Proyek tersebut akan dibangun di atas lahan sekitar 93 hektare di kawasan industri Batuta Chemical Industrial Park.

Batu bara yang digunakan memiliki nilai kalori sekitar 3.400 kilokalori per kilogram. Selama ini, batu bara berkalori rendah memiliki nilai ekonomi lebih kecil dibandingkan batu bara berkalori tinggi. Melalui proses gasifikasi, komoditas tersebut diolah menjadi metanol berstandar internasional.

Produksi metanol dari Bengalon nantinya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri domestik, terutama sektor petrokimia, formaldehida, Fatty Acid Methyl Ester, serta mendukung program campuran biodiesel B50.

Kebutuhan metanol nasional diperkirakan terus meningkat apabila pemerintah melanjutkan program biodiesel dari B50 menuju B60. Pada 2025, Indonesia masih mengimpor sekitar 1,3 juta ton metanol dengan nilai mencapai Rp7,1 triliun.

Dengan target produksi dua juta ton per tahun, pabrik di Kutim berpotensi menutup kebutuhan impor sekaligus membuka peluang ekspor. Pasar metanol dunia diproyeksikan mencapai sekitar 56 miliar dolar Amerika Serikat pada 2030.

“Kita ingin investasi ini memberikan efek ganda yang besar guna mendukung terwujudnya visi Indonesia Maju 2045,” ujar Yuliot.

Selain fasilitas gasifikasi dan reaktor sintesis, kawasan industri tersebut akan dilengkapi pembangkit listrik, pengolahan air, serta terminal pelabuhan. Pembangkit listrik yang disiapkan memiliki kapasitas sekitar 3 x 400 megawatt.

Proyek juga dirancang menggunakan teknologi pengendalian emisi dan terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage atau CCS. Teknologi ini diarahkan untuk menangkap dan menyimpan karbon yang dihasilkan dari proses industri.

Presiden Direktur PT Bumi Etam Chemical, Rio Supin, mengatakan perusahaan telah memasuki tahap engineering melalui penyusunan Front-End Engineering Design serta kesepakatan kerangka Engineering, Procurement, Construction and Commissioning.

Tahapan tersebut dilakukan bersama PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co., Ltd sejak 29 Juli 2026.

“Proyek gasifikasi batu bara pertama di Indonesia siap memasuki implementasi dengan target commissioning tahun 2029. BEC siap mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional,” kata Rio.

Proyek ini sebenarnya telah dirintis sejak 2010. Butuh waktu sekitar 15 tahun dari tahap persiapan hingga akhirnya memasuki pembangunan fisik.

Nilai investasi Rp41,52 triliun membuat proyek tersebut berpotensi membawa perubahan besar bagi struktur ekonomi Kutai Timur. Namun, pemerintah daerah mengingatkan agar manfaatnya tidak hanya berputar di dalam kawasan industri.

Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto meminta perusahaan memberikan ruang nyata bagi tenaga kerja lokal, kontraktor daerah, pelaku UMKM, dan penyedia jasa di Kutai Timur.

“Investasi Rp41 triliun ini jangan hanya berhenti di dalam pagar kawasan industri. Dampaknya harus keluar dari pagar,” tegas Bambang.

Besarnya investasi harus diikuti keterbukaan mengenai kebutuhan pekerja selama konstruksi maupun setelah pabrik beroperasi. Pemerintah daerah juga perlu memastikan persentase tenaga kerja lokal, kebutuhan kompetensi, peluang perusahaan daerah, serta potensi penerimaan bagi Kutai Timur dan Kaltim.

Kebutuhan bahan baku hingga 7,78 juta ton batu bara per tahun juga menjadi bagian penting yang perlu dibuka kepada publik. Termasuk asal tambang, skema pengangkutan, penggunaan jalan dan pelabuhan, serta dampaknya terhadap produksi batu bara Kutai Timur.

Aspek lingkungan menjadi perhatian lain. Gasifikasi batu bara merupakan industri berskala besar yang membutuhkan pasokan air, pembangkit listrik, pengelolaan limbah, dan pengendalian emisi. Klaim penggunaan teknologi CCS perlu disertai target penangkapan karbon, lokasi penyimpanan, standar keamanan, dan sistem pengawasan yang dapat diuji.

Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, Kutai Timur tidak lagi hanya menjadi daerah penghasil batu bara. Bengalon akan menjadi lokasi pengolahan jutaan ton batu bara menjadi produk industri bernilai lebih tinggi. (MK)

Editor: Agus S
Sumber: Kementerian ESDM

Tambang Ilegal Kuasai 111 Hektare Penyangga IKN, Negara Tagih Denda Rp147 Miliar

0
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud (tengah) bersama Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono menghadiri pemasangan tanda penguasaan kembali kawasan hutan di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, Kecamatan Samboja, Kukar, Senin (31/8/2026).

TENGGARONG – Kawasan hutan seluas 111,71 hektare di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar), akhirnya kembali dikuasai negara. Lahan yang berada di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) itu sebelumnya digunakan PT Singlurus Pratama untuk kegiatan pertambangan batu bara tanpa Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).

Penguasaan kembali dilakukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), Senin (31/8/2026). Petugas memasang papan penguasaan negara di lokasi tambang sebagai penanda bahwa kawasan tersebut tidak lagi dapat dikuasai atau dimanfaatkan perusahaan.

Juru Bicara Satgas PKH, Barita Simanjuntak, mengatakan tindakan tersebut dilakukan setelah tim gabungan menjalankan verifikasi dan validasi lapangan, menelusuri dokumen, serta memeriksa perusahaan.

Hasil pemeriksaan menemukan aktivitas pertambangan berlangsung di kawasan hutan konservasi tanpa dilengkapi PPKH. Dari total kawasan terdampak 111,71 hektare, lahan yang menjadi objek pengenaan denda administratif mencapai 101,44 hektare.

Pemerintah menghitung potensi denda administratif terhadap PT Singlurus Pratama mencapai Rp147,31 miliar. Perusahaan dilaporkan telah membayar Rp25 miliar sehingga masih terdapat sekitar Rp122,31 miliar dari total potensi denda tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebut surat ketetapan tagih telah disampaikan kepada perusahaan pada 28 Januari 2026. Pembayaran awal Rp25 miliar kemudian dilakukan pada 15 Februari 2026. Namun, belum dijelaskan tenggat pelunasan maupun langkah pemerintah apabila sisa kewajiban tidak dibayarkan.

Ketua Pelaksana Satgas PKH yang juga Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Kuntadi, menegaskan penertiban tersebut memiliki arti strategis karena lokasi tambang berdekatan dengan IKN.

Menurutnya, penindakan diperlukan untuk memberikan efek jera sekaligus menegaskan bahwa aktivitas ilegal tidak akan ditoleransi, terutama di kawasan hutan yang menjadi penyangga ibu kota baru.

“Satgas PKH akan terus menyisir dan menindak tegas seluruh aktivitas ilegal perkebunan dan pertambangan di dalam kawasan hutan di seluruh wilayah Indonesia tanpa pandang bulu,” kata Kuntadi dalam keterangan Satgas PKH.

Ia menegaskan penguasaan kembali kawasan bukan akhir penanganan. Langkah tersebut menjadi pintu masuk untuk menata kembali kawasan hutan, memulihkan lingkungan, dan menyelamatkan potensi kerugian negara.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud yang menghadiri pemasangan tanda penguasaan negara menyatakan Pemprov Kaltim mendukung penuh tindakan Satgas PKH.

“Jika terjadi penyimpangan di sektor pertambangan harus ditindak karena tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga negara,” kata Rudy.

Rudy menilai penguasaan kembali kawasan penting untuk menjaga Tahura Bukit Soeharto sekaligus melindungi wilayah penyangga IKN dari pertambangan ilegal dan penguasaan kawasan hutan secara tidak sah.

Persoalannya tidak berhenti pada ketiadaan PPKH. Aktivitas pertambangan di kawasan konservasi berpotensi meninggalkan lubang tambang, perubahan bentang alam, kerusakan vegetasi, sedimentasi, serta gangguan terhadap fungsi kawasan sebagai penyangga ekologis IKN.

Karena itu, penanganan berikutnya perlu memastikan siapa yang bertanggung jawab melakukan reklamasi dan rehabilitasi. Belum dijelaskan pula berapa volume batu bara yang telah diambil, sejak kapan aktivitas berlangsung, nilai keuntungan yang diperoleh, serta apakah penanganannya hanya berujung pada denda administratif atau berlanjut ke proses pidana.

Status perizinan pertambangan PT Singlurus Pratama juga perlu dipisahkan dari persoalan izin penggunaan kawasan hutan. Perusahaan dapat saja memiliki izin usaha pertambangan, tetapi kegiatan di dalam kawasan hutan tetap membutuhkan PPKH. Temuan Satgas menunjukkan persetujuan penggunaan kawasan itulah yang tidak dimiliki pada areal yang ditertibkan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ditemukan keterangan terbuka dari PT Singlurus Pratama mengenai hasil verifikasi Satgas PKH, nilai denda, pembayaran awal Rp25 miliar, maupun tanggung jawab pemulihan kawasan. Konfirmasi perusahaan diperlukan agar penjelasan tidak hanya berasal dari pemerintah dan Satgas.(riz/MKN)

Editor: Agus S

Sesak, Lapas Narkotika Samarinda Kapasitas 450 Orang Diisi 955 Napi

0

SAMARINDA — Persoalan kelebihan penghuni masih membelit Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda. Kapasitas idealnya hanya 450 orang, tetapi saat ini harus menampung 955 warga binaan.

Jumlah tersebut lebih dari dua kali daya tampung yang tersedia. Kelebihannya mencapai 505 orang atau sekitar 112 persen dari kapasitas normal, menggambarkan beratnya persoalan overcrowding di dalam lapas.

Di tengah kondisi tersebut, pelayanan terhadap warga binaan tetap harus berjalan, termasuk pemenuhan akses kesehatan. Seluruh warga binaan dipastikan mendapatkan akses pelayanan kesehatan melalui kepesertaan BPJS Kesehatan.

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini Digital Koran Nusantara? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

https://koran.koranusantara.com

https://digital.koranusantara.com/kn1sept2026/mobile/

Koran Nusantara – Aktual dan Terpercaya.