Beranda blog Halaman 204

Km 15 Poros Bontang–Samarinda Kian Rusak, Mana Janji Kampanye?

TULISAN tentang Jalan Poros Samarinda–Bontang ini bukan catatan baru. Saya pernah menuliskannya Agustus lalu. Dari pengalaman bertahun-tahun melintasi jalur ini sejak 2010.

Saat itu, saya sudah mencatat kerusakan yang terus berulang, titik-titik rawan kecelakaan, serta perbaikan yang hampir selalu sifatnya sementara.

Hari ini saya menuliskannya lagi. Sebab, kondisinya ternyata tidak membaik, justru makin parah. Terutama di Km 15 dari arah Bontang menuju Samarinda.

Hampir tiap pekan saya melintasi ruas ini. Antrean kendaraan hampir selalu terjadi di titik ini. Truk-truk besar kerap berhenti saling berhadapan, sedangkan para sopir menunggu celah aman untuk bergerak satu per satu.

Siang ini (21/12), gambaran yang sama kembali saya lihat lewat kiriman video dari ketua BKL Perum BSD Bontang, Supriyadi, yang baru saja melintas. Antrean memanjang, jalan berlumpur, dan kendaraan harus bergantian melaju dengan jarak sangat sempit.

Yang lebih memprihatinkan, kondisi ini bahkan dimanfaatkan anak-anak turun ke titik jalan rusak itu. Seolah mengatur lalu lintas, dengan harapan mendapat uang dari pengendara.

Apa yang saya tulis berbulan-bulan lalu kini terbukti. Tingkat kerusakannya semakin berat.

Harapan warga tentu ingin jalan ini segera ditangani serius oleh Pemprov Kaltim. Namun yang tampak justru sebaliknya.

Tambal sulam memang ada, tetapi sering kali bukan di bagian paling rusak. Lubang-lubang besar di Km 15 masih dibiarkan, dan kondisinya makin parah ketika hujan turun. Praktis, jalan ini berubah menjadi jalur berisiko tinggi. Bukan hanya karena macet, tetapi juga karena rawan kecelakaan.

Ruas ini sudah lama mencatat korban. Pengendara motor terperosok lubang, kendaraan bertabrakan karena saling menghindar, hingga truk besar kehilangan kendali di permukaan jalan yang licin. Ini sudah menyangkut keselamatan.

Saya masih ingat janji kampanye Rudy Mas’ud yang menyebut jalan trans provinsi Samarinda–Bontang perlu ditingkatkan kualitasnya. Bahkan diwacanakan menjadi dua jalur demi keamanan, mengingat padatnya lalu lintas truk besar.

“Kalau tidak ada halangan, kami akan buatkan dua jalur dari Samarinda ke Bontang agar aksesnya lebih gampang dan lebih aman, karena jalur ini kerap dilalui truk-truk besar,” janji Rudy Mas’ud saat itu. Janji itu dicatat publik, termasuk warga yang setiap hari bergantung pada jalur ini.

Kini waktu berjalan. Tidak perlu dua jalur dulu. Mulus saja sudah cukup. Jalan ini menghubungkan Berau, Sangatta, Bontang, Samarinda, hingga Balikpapan dan Kutai Kartanegara. Sebab jalan ini sangat vital sebagai lalu lintas ekonomi, logistik, pendidikan, dan aktivitas harian ribuan warga.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi mengingatkan. Bahwa persoalan ini sudah lama, sudah sering disuarakan, dan masih dibiarkan berulang.

Pemprov memiliki peran koordinatif, balai jalan memegang mandat teknis. Bukankah para pejabat provinsi juga kerap melintas di jalur ini? Apalagi pejabat Pemkot Bontang dan Pemkab Kutai Timur.

Yang dibutuhkan adalah perbaikan menyeluruh di titik-titik kritis. Pembenahan struktur dasar jalan, drainase yang benar-benar berfungsi, serta pengaturan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung—bukan perbaikan sementara.

Setiap kali hujan turun, antrean itu kembali terlihat. Kendaraan merayap. Orang-orang melintas dengan sangat hati-hati. Km 15 sudah memberi sinyal keras. Tinggal apakah kita memilih mendengar dan bertindak sekarang, atau kembali menunggu sampai kerusakan ini memakan korban berikutnya. Jangan lagi berlindung di balik alasan akhir tahun, anggaran habis, dan menunggu tahun depan. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

ESDM Tegaskan SPBU Swasta Setop Impor Solar Mulai 2026

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Koran Nusantara?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.koranusantara.com/

📱 Versi Mobile
https://digital.koranusantara.com/kn20des2025/mobile/

Gunung Semeru Erupsi Beruntun, Letusan Capai 1.000 Meter

0

LUMAJANG – Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur kembali erupsi dengan letusan setinggi 1.000 meter di atas puncak pada Sabtu (20/12/2025) pagi.

“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada Sabtu, 20 Desember 2025, pukul 07.30 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.

Menurutnya, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur dan erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 18 mm dengan durasi 130 detik.

Berdasarkan data petugas, pada Sabtu sejak pukul 00.22 WIB hingga pukul 07.30 WIB tercatat Gunung Semeru mengalami 11 kali erupsi dengan tinggi letusan bervariasi 700 meter hingga 1.100 meter di atas puncak.

Tinggi letusan mencapai 1.100 meter di atas puncak terjadi saat erupsi pada pukul 05.35 WIB dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah timur laut. Saat laporan itu dibuat, erupsi masih berlangsung.

Berdasarkan pengamatan kegempaan, aktivitas Gunung Semeru juga masih didominasi oleh gempa letusan yang tercatat sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB sebanyak 50 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 13-22 mm dan lama gempa 68-141 detik, serta 7 kali gempa guguran dengan amplitudo 4-7 mm dan lama gempa 41-76 detik.

Pengamatan secara visual, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu terlihat jelas dan asap kawah tidak teramati, serta cuaca cerah, angin lemah ke arah utara dan timur laut.

Sigit menjelaskan, status Gunung Semeru masih pada Level III atau siaga, sehingga pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberi sejumlah rekomendasi yakni tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

“Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

Masyarakat juga diminta untuk mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan. (ANT/KN)

ESDM Tegaskan SPBU Swasta Setop Impor Solar Mulai 2026, Wajib Serap Produksi Dalam Negeri

0

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan badan usaha pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta  berhenti impor solar pada 2026.

“Yang dimaksud dengan penghentian impor itu, ya, termasuk SPBU swasta,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman dalam acara Temu Media Sektor ESDM yang digelar di Jakarta, Jumat (19/12/2025) malam.

Rencana penghentian impor solar pada 2026 telah disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia seiring beroperasinya proyek refinery development master plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, serta program mandatori biodiesel 50 (B50).

Biodiesel B50 mulai dijalankan pada semester II 2026.

Oleh karena itu, apabila badan usaha pengelola SPBU swasta ingin membeli solar, maka bisa membeli dari kilang dalam negeri.

“Jadi, seperti itu pemahaman dari stop impor. Swasta pun harus beli dari dalam negeri, ini saya bicaranya (solar) CN 48 ya,” kata Laode.

Selain menghentikan impor solar pada 2026, Laode juga membuka opsi Indonesia mengekspor solar. Untuk mengekspor, lanjut dia, Indonesia perlu menyiapkan produk kilang yang berstandar internasional.

Apabila produk kilang yang dijual sudah berstandar internasional, Laode meyakini akan lebih mudah untuk menjualnya di pasar luar negeri.

“Solar CN 51 itu lebih mudah untuk kita ekspor. CN 48 kan standarnya masih Euro 4, dengan kandungan sulfurnya masih tinggi, di atas 2 ribu ppm, jadi sulit (untuk diekspor),” kata Laode.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto bahwa Indonesia tidak akan lagi mengimpor solar mulai 2026.

Proyek RDMP Balikpapan akan berperan penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional. Selain RDMP, pemerintah juga terus mendorong pengembangan program bahan bakar nabati melalui kebijakan biodiesel B50.

Dia mengatakan kombinasi antara produksi dari RDMP dan implementasi B50 diperkirakan dapat menciptakan kelebihan pasokan solar, sehingga Indonesia berpotensi mengekspor bahan bakar tersebut di masa mendatang. (ANT/KN)

KPK Duga Bupati Bekasi Terima Suap Rp14,2 Miliar, Uang Proyek Mengalir Sejak 2024

0

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Ade Kuswara Kunang (ADK) selama menjabat sebagai Bupati Bekasi periode 2025-2030, menerima uang suap dan penerimaan lainnya hingga Rp14,2 miliar.

Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu menjelaskan uang tersebut diduga diterima Ade Kuswara melalui dua penerimaan.

“Sepanjang tahun 2025, ADK diduga mendapatkan penerimaan lainnya yang berasal dari sejumlah pihak dengan total mencapai Rp4,7 miliar,” ujar Asep di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Sabtu (20/12/2025).

Selain itu, kata dia, Ade Kuswara diduga menerima ijon atau uang proyek sejak Desember 2024-Desember 2025 kepada pihak swasta yang jumlahnya mencapai Rp9,5 miliar.

Dengan demikian, bila dijumlahkan maka Ade Kuswara diduga menerima uang hingga Rp14,2 miliar.

Sebelumnya, KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) kesepuluh di tahun 2025, dan menangkap sepuluh orang di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 18 Desember 2025.

Pada 19 Desember 2025, KPK mengungkapkan sebanyak tujuh dari sepuluh orang dibawa ke Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, untuk diperiksa secara intensif. Dua dari tujuh orang tersebut termasuk Ade Kuswara dan ayahnya, HM Kunang.

Pada tanggal yang sama, KPK mengumumkan menyita uang ratusan juta rupiah dalam kasus yang diduga terkait suap proyek di Kabupaten Bekasi.

Pada 20 Desember 2025, KPK mengumumkan Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang (ADK), ayah Bupati Bekasi sekaligus Kepala Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, HM Kunang (HMK), serta pihak swasta bernama Sarjan (SRJ) sebagai tersangka kasus dugaan suap tersebut.

KPK mengatakan Ade Kuswara dan HM Kunang merupakan tersangka dugaan penerima suap, sedangkan Sarjan sebagai tersangka dugaan pemberi suap. (ANT/KN)

ESDM Pangkas Target Produksi Nikel dan Batu Bara 2026 demi Dongkrak Harga

0

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan target produksi nikel dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 akan lebih rendah untuk mengangkat harga nikel.

“Semuanya kami pangkas. Bukan hanya nikel, batu bara pun kami pangkas,” ujar Bahlil ketika dijumpai setelah Konferensi Pers Kesiapan Sektor ESDM Menghadapi Periode Hari Raya Natal Tahun 2025 dan Tahun Baru 2026 di Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Pemangkasan target produksi nikel dan batu bara bertujuan untuk mengangkat harga kedua komoditas tersebut dengan cara mengatur pasokan dan permintaan.

Hari ini, lanjut Bahlil, harga batu bara mengalami penurunan, sebab jumlah batu bara yang diperjualbelikan kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton.

“Indonesia sendiri menyuplai sekitar 500–600 juta ton, hampir 50 persen,” ucapnya.

Tingginya batu bara yang disuplai oleh Indonesia menyebabkan harga batu bara anjlok.

Harga acuan batu bara menunjukkan tren penurunan sejak periode I November. Pada periode I November, harga komoditas batu bara turun dari 109,74 dolar AS per ton pada periode II Oktober, menjadi 103,75 dolar AS per ton pada periode I November.

Kemudian, harga komoditas batu bara kembali turun dari 103,75 dolar AS per ton pada periode I November, menjadi 102,03 dolar AS per ton pada periode II November.

Selain HBA dengan nilai kalor 6.322 kcal/kg yang mengalami penurunan, harga batu bara acuan (HBA) I, II, dan III juga turut mengalami perubahan. Lalu, harga batu bara periode I Desember turun lagi menjadi 98,26 dolar AS per ton, dari yang sebelumnya 102,03 dolar AS per ton pada periode II November.

Harga tersebut juga lebih rendah apabila dibandingkan harga batu bara pada November 2024 yang berada di angka 114,43 dolar AS per ton.

“Ini kami mengontrol bagi perusahaan-perusahaan yang tidak menaati aturan, ya mohon maaf. RKAB-nya juga mungkin akan dilakukan peninjauan,” ujar Bahlil. (ANT/KN)

Menkeu Pastikan Dana Penanganan Bencana Sumatra Aman, Anggaran 2026 Disiapkan Rp60 Triliun

0

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan ketersediaan dana bantuan pemerintah untuk penanganan bencana di Sumatra dalam kondisi aman dan mencukupi.

Purbaya, seusai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (19/12/2025), menegaskan tidak ada kendala pembiayaan, baik untuk kebutuhan penanganan darurat saat ini maupun untuk anggaran tahun mendatang.

“Ada informasi yang dicek Presiden ke saya dan saya beri informasinya saya pikir sudah baik,” katanya saat ditanya terkait kondisi dana bantuan bencana ke Sumatra.

Purbaya menjelaskan, sejumlah informasi terkait bantuan bencana telah dicek dan diklarifikasi langsung kepadanya. Hasilnya, pemerintah menyebut seluruh dukungan pendanaan telah disiapkan sesuai kebutuhan di lapangan.

Ia mengatakan, untuk tahun depan pemerintah telah menyiapkan anggaran penanggulangan bencana sebesar Rp60 triliun yang telah melalui proses penyisiran anggaran.

Sementara untuk tahun berjalan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih memiliki cadangan dana sekitar Rp1,3 triliun.

Selain itu, BNPB juga telah mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp1,6 triliun dan pengajuan tersebut sudah masuk ke Kementerian Keuangan.

Menurut Purbaya, dengan sisa cadangan yang masih tersedia serta pengajuan anggaran yang telah diproses, pendanaan penanganan bencana di Sumatra tidak menjadi persoalan.

“Begitu ada pengajuan, kami langsung cairkan. Pemerintah siap, uangnya ada di bank,” katanya. (ANT/KN)

Respons Bendera Putih di Aceh, Mendagri: Kami Mendengar Keluhan Korban

0

JAKARTA – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan pemerintah pusat mendengar seluruh keluh kesah korban bencana di Sumatera, termasuk aksi pengibaran bendera putih di Aceh.

“Kami mendengar, pemerintah mendengar, memahami berbagai kritik masukan dan sikap masyarakat,” kata Tito dalam jumpa pers yang digelar di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (19/12/2025).

Tito mengatakan, sejauh ini pemerintah telah berupaya memberikan penanganan yang terbaik untuk para korban bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.

Dari upaya mitigasi bencana, evakuasi hingga pendistribusian logistik telah dilakukan dengan maksimal oleh pemerintah.

Namun demikian, Tito menyadari masih banyak kekurangan dari kinerja pemerintah. Karenanya, dia meminta maaf kepada masyarakat jika sampai saat upaya pertolongan pemerintah belumlah memuaskan.

“Dengan segala kerendahan hati kami minta maaf bila ada kekurangan. Memang kendala yang dihadapi cukup besar karena medan yang cukup berat ya,” kata Tito.

“Namun sebagai pemerintah Indonesia kami berkewajiban untuk terus bekerja mengatasi berbagai kendala, memperbaiki kinerja, dan secepatnya memenuhi kebutuhan darurat saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” tambah Tito.

Sebelumnya, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengartikan fenomena pengibaran bendera putih di sejumlah daerah pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh merupakan bentuk rasa solidaritas ingin dibantu.

“Kalau bendera putih, kalau kita artikan semua masuk, menurut kacamata saya ya, sebagai solidaritas rasa simpatisan, dan rasa ingin dibantu. Seperti itu,” kata Gubenur Aceh Mualem di Aceh Utara, Kamis (18/12/2025)

Pernyataan itu disampaikan Mualem kepada awak media di sela-sela menerima bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan)/Bapanas di Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara.

Dalam beberapa hari terakhir banyak masyarakat Aceh mengibarkan bendera putih, terutama di daerah terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor, seperti Aceh Tamiang, Bireuen, Aceh Utara, Pidie Jaya, hingga di ibu kota provinsi yakni Banda Aceh.

Mualem menyampaikan aksi pengibaran bendera putih itu agar mendapatkan perhatian orang banyak baik dalam maupun luar negeri, tidak lebih.

“Kemana kita arah, yang jelas, bendera putih itu dapat seperti ada untuk perhatian orang lain, baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya pikir tidak lebih dari pada itu. Bukan menyerah,” ujar Gubernur Aceh itu.

Ia menegaskan provinsi hingga pemerintah pusat terus berupaya menyalurkan (bantuan), tentunya hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Seperti saya bilang tadi, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hari ini banjir, besok dibangun A,B,C,D, semua infrastruktur kan nggak mungkin,” kata Mualem.

“Kita lihat sendiri, kita bukan duduk diam semuanya, juga pemerintah pusat bukan duduk diam, mengusahakan juga. Kita paham-paham lah, ngerti lah,” sambungnya. (ANT/KN)

Seskab Teddy: Pemerintah Bergerak Cepat Tanpa Sorot Kamera di Lapangan

0

JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa penanganan bencana di Sumatera telah dilakukan pemerintah sejak detik pertama tanpa menunggu sorotan kamera.

Hal itu disampaikan Teddy Indra saat Konferensi Pers Perkembangan Penanggulangan Bencana Sumatera di Posko Terpadu Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (19/12/2025).

“Yang di lapangan ini, seluruh petugas TNI, Polri, Basarnas, yang disampaikan Pak Panglima TNI, BNPB daerah, semuanya di detik pertama, hari pertama (bencana, red), tanpa kamera,” katanya.

Teddy menjelaskan sejak hujan ekstrem melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 24–26 November 2025, seluruh unsur TNI, Polri, BNPB, Basarnas, pemerintah daerah, serta masyarakat langsung bergerak melakukan evakuasi dan penanganan darurat.

Presiden Prabowo Subianto, kata Teddy, pada hari pertama langsung menginstruksikan Menko PMK untuk memobilisasi seluruh kekuatan nasional guna menangani bencana di tiga provinsi tersebut.

Pada 27 November, seluruh helikopter dan pesawat di Pulau Sumatera serta sebagian dari Jawa digerakkan ke wilayah terdampak untuk mengangkut logistik, genset, dan bantuan penting lainnya.

Menurut Teddy, operasi tersebut dilakukan tanpa kehadiran media.

Dalam dua hari pertama, sekitar 20 ribu personel gabungan telah berada di lapangan, dan jumlahnya terus bertambah hingga lebih dari 50 ribu personel TNI, Polri, Basarnas, relawan, serta unsur swasta.
Teddy juga menepis anggapan bahwa penanganan bergantung pada penetapan status bencana nasional.

Menurutnya, sejak hari pertama pemerintah pusat telah melakukan penanganan berskala nasional, termasuk mengucurkan dana pusat secara bertahap untuk pembangunan hunian sementara dan hunian tetap, pemulihan infrastruktur, serta bantuan langsung kepada pemerintah daerah terdampak.

“Hingga kini, puluhan pesawat, helikopter, kapal, serta ratusan alat berat telah dikerahkan untuk mempercepat pemulihan,” kata Teddy menambahkan.

Ia mengatakan meski belum semua kebutuhan terpenuhi secara sempurna, konektivitas jalan, jembatan, dan listrik di 52 kabupaten terdampak terus dipulihkan secara bertahap melalui kerja gotong royong petugas dan masyarakat.

Teddy mengajak semua pihak, termasuk masyarakat dan media, untuk saling mendukung, menyampaikan kekurangan di lapangan secara konstruktif, serta menebarkan energi positif demi mempercepat pemulihan.

“Sejak hari pertama, pemerintah dan masyarakat berjuang bersama, baik yang terlihat kamera maupun yang bekerja tanpa sorotan. Yang dibutuhkan saat ini adalah kerja sama, empati, dan optimisme agar wilayah terdampak bisa segera pulih,” katanya. (ANT/KN)

Pilkada ke DPRD: Kita Pernah Mencoba, dan Gagal!

MESKI komunikasi kami tak lagi seintens saat saya masih berkiprah di Bawaslu Kota Bontang, saya tetap menjaga hubungan baik dengan Dr. Saipul, S.Sos., M.Si., dosen Universitas Mulawarman sekaligus mantan Ketua Bawaslu Kaltim dua periode. Karena itu, ketika ia memberi kabar sedang berada di Bontang, sesibuk apa pun agenda, saya berusaha menyempatkan diri untuk menemaninya.

Rabu (17/12) malam, kami bertemu sambil ngopi di The Bahagia Kaffee. Turut hadir Muzarrobi Renfly, Ketua KPU Bontang, dan Aldy Artrian, Ketua Bawaslu Bontang. Suasananya cair. Obrolan mengalir ringan. Khas pertemuan lama yang tak perlu banyak basa-basi.

Namun ketika percakapan mulai menyentuh isu politik kebijakan, Aldy memilih menjaga posisi. Ia tertawa sambil menggeleng pelan. “Kalau soal itu, saya no comment ya,” ucapnya singkat. Sikap yang wajar bagi penyelenggara pemilu yang harus berdiri di jarak aman. Muzarobbi pun mengambil sikap serupa. Diskusi soal politik akhirnya lebih banyak saya lanjutkan bersama Saipul.

Isu yang kami bicarakan malam itu sebenarnya sudah lebih dulu ramai di ruang lain. Saya tergabung dalam sebuah grup WhatsApp jurnalis nasional bersama Perludem, bernama Jaringan Pemilu. Beberapa hari terakhir, grup itu dipenuhi pertanyaan yang sama. Wacana mengembalikan pemilihan presiden dan kepala daerah ke DPR RI dan DPRD. Apakah demokrasi langsung dianggap gagal? Apakah efisiensi dijadikan alasan sah untuk menarik kembali hak pilih rakyat?

Wacana ini menguat setelah disampaikan langsung oleh Prabowo Subianto dalam sejumlah pernyataan yang membuka ruang diskusi tentang kemungkinan mengembalikan pemilihan presiden dan kepala daerah ke mekanisme perwakilan. Pernyataan itu segera memantik respons luas—dari politisi, akademisi, pegiat demokrasi, hingga jurnalis. Bukan semata karena substansinya, tetapi karena sinyal tersebut datang dari Presiden.

Diskusi yang mengemuka di Jaringan Pemilu itulah yang membuat saya semakin tertarik mendengar pandangan Saipul secara langsung.

Saipul memulai dari sejarah. Pemilihan kepala daerah oleh DPRD, kata Saipul, bukan hal baru. Indonesia sudah pernah mengalaminya, baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru. Bahkan menjelang runtuhnya Orde Baru, mekanisme pemilihan melalui DPRD sudah berjalan cukup luas.

Masalahnya, pengalaman itu meninggalkan catatan pahit. Kepala daerah yang dipilih DPRD cenderung lebih loyal kepada pihak yang memilihnya, bukan kepada rakyat. Kepentingan publik kerap tersisih karena pertanggungjawaban politik berhenti di ruang-ruang elite.

Fakta itulah yang kemudian melahirkan tuntutan Reformasi 1998. Kepala daerah harus dipilih langsung oleh rakyat agar mandatnya jelas dan keberpihakannya terukur.

Pilkada langsung mulai dijalankan setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan diimplementasikan pada 2005. Kaltim termasuk daerah awal yang melaksanakannya. Tentu saja sistem ini tidak steril dari masalah. Politik uang, konflik, dan partisipasi yang fluktuatif adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri.

Namun menurut Saipul, persoalan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menarik kembali kedaulatan rakyat. Justru sejak awal, ia melihat ada ketidakikhlasan elite politik terhadap pilkada langsung. Undang-undang tahun 2014 yang sempat mengembalikan pilkada ke DPRD menjadi bukti.

Reaksi publik kala itu keras. Demonstrasi mahasiswa, kritik akademisi, penolakan pegiat pemilu. Pemerintah akhirnya menerbitkan Perppu yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 dan menandai pilkada serentak langsung.

Dalam pandangan Saipul, setiap kali pilkada bermasalah, sasaran kritik selalu mengarah ke rakyat atau penyelenggara. Padahal hulunya sering justru berada di partai politik. Partai menentukan calon dari tingkat pusat, bukan dari aspirasi daerah. Ketika kandidat yang diusung tidak dikehendaki publik, partisipasi menurun adalah konsekuensi logis.

Sebelum meninggalkan Bontang, Saipul menyempatkan makan siang di Nasi Pecel Bu Choirul Jalan HM Ardans. Kali ini turut hadir Nasrullah (paling kiri), mantan Ketua Bawaslu Bontang. Foto: Istimewa

Soal manipulasi politik pun demikian. Mayoritas kandidat pemenang berasal dari partai. Mesin kampanye, tim sukses, hingga praktik curang di lapangan juga digerakkan oleh struktur partai. Sementara calon perseorangan jumlahnya sangat kecil dan hampir selalu kalah.

Persoalan profesionalitas penyelenggara, menurut Saipul, juga kerap dibaca secara tidak adil. Penyelenggara ad hoc dibayar minim, dituntut bekerja profesional di bawah tekanan politik yang kuat, lalu disalahkan ketika sistem tidak ideal. Belum lagi proses pembekalan dan rekrutmen yang sering kali lebih mempertimbangkan afiliasi dibanding kapasitas.

Pandangan itu mendapat penguatan dari diskusi di grup Jaringan Pemilu. Salah satu respons yang cukup komprehensif datang dari Haekal, peneliti Perludem.

Ia menegaskan bahwa kualitas dan integritas calon kepala daerah pada prinsipnya sangat ditentukan oleh proses kaderisasi dan kandidasi di partai politik.

Masalahnya, proses itu hari ini banyak yang tidak berjalan. Popularitas dan kemampuan finansial sering kali lebih menentukan dibanding kapasitas dan rekam jejak.

Karena itu, menurut Haekal, keliru jika kegagalan tersebut lalu dibebankan kepada sistem pilkada langsung.

Ia juga menggarisbawahi soal mahalnya biaya politik. Biaya tinggi dalam pilkada bukan disebabkan oleh mekanisme pemilihan langsung, melainkan oleh biaya politik “gelap” yang mendominasi kontestasi.
Pertanyaannya, apakah jika pemilihan dikembalikan ke DPRD persoalan itu otomatis selesai? Jawabannya tidak! Selama watak politik partai masih sama, perubahan sistem hanya akan memindahkan biaya politik gelap ke DPRD dan justru memperparah wajah demokrasi lokal.

Haekal menutup dengan catatan penting: tidak ada jaminan bahwa pemilihan kepala daerah melalui DPRD akan menghasilkan pemimpin yang lebih berintegritas. Bahkan kecenderungannya adalah meningkatnya transaksi politik di ruang tertutup yang pada akhirnya menyandera kepala daerah ketika menjabat.

Dari meja kopi di Bontang hingga diskusi di grup Jaringan Pemilu, benang merahnya jelas. Kritik terhadap pilkada langsung sah dan perlu. Tetapi solusi dengan menarik kembali kedaulatan rakyat ke ruang elite, tanpa membenahi partai politik dan tata kelola kekuasaan, bukanlah jawaban.

Jika persoalan hulunya adalah partai politik, maka memperbaiki demokrasi seharusnya dimulai dari sana. Bukan dengan memotong hak rakyat untuk memilih, lalu berharap hasilnya otomatis lebih baik.

Sejarah sudah memberi pelajaran. Kita pernah mencoba. Kita tahu hasilnya. Mengulanginya dengan dalih efisiensi hanya akan membawa kita mundur, bukan maju.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.