BANDA ACEH – Dua layanan medis kategori berat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Aceh Tamiang kembali berfungsi optimal seiring tahap rekonstruksi dan pemulihan pascabencana banjir bandang di wilayah tersebut.
“Saat ini ada dua layanan berat sudah aktif, yaitu hemodialisis (cuci darah) dan ‘Intensive Care Unit’ (ICU),” kata Direktur RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, Andika Putra di Aceh Tamiang, Ahad (25/1/2026) .
Andika mengatakan, layanan hemodialisis atau cuci darah termasuk rusak total saat peristiwa bencana banjir bandang pada 27 November 2025. Kini seluruh peralatan sudah dipulihkan dan mulai beroperasi sejak 24 Desember 2025.
“Total pasien kami itu ada 47 orang yang terdaftar untuk cuci darah rutin dengan 10 alat. Pas kami sudah aktif separuh dari pasien 23 orang sudah kembali cuci darah ke rumah sakit ini,” ujarnya.
Ia menceritakan, ketika banjir semua pasien cuci darah (47 orang) menjalani perawatan keluar wilayah tersebut, yaitu ke rumah sakit Langsa hingga Medan (Sumatera Utara).
Sekitar 24 pasien yang belum kembali mungkin dikarenakan belum bisa pulang karena rumahnya rusak berat.
“Mungkin kalau rumah mereka di sini sudah pulih, pasien akan kembali ke sini. Ini merupa salah satu prioritas layanan yang dibuka setelah UGD, rawat inap dan alat-alat, maka cuci darah,” katanya.
Fasilitas cuci darah harus steril menggunakan instalasi RO. Saat ini kondisi mesin dan instalasi cuci darah di RSUD semuanya telah diganti baru sehingga dalam sehari bisa melayani sekitar lima sampai enam pasien dan aktif pada Senin-Sabtu.
“Biasanya pasien cuci darah itu kan, minimal seminggu dua kali. Kalau hari Sabtu layanan dilakukan setengah hari, tapi sejauh ini cuci darah ini sudah layanan optimal 100 persen,” ujar Andika.
Selain itu, saat ini RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang juga menerima bantuan pengadaan inkubator bayi dari alumni Ikatan Kedokteran Universitas Indonesia (IKUI) dan bantuan tempat tidur pasien dari pihak ketiga.
Dari total 243 tempat tidur (bed) di rumah sakit tinggal tersisa 60 bed akibat banjir. Padahal, dalam kondisi normal RSUD Aceh Tamiang masih kekurangan bed.
“Sekarang sudah banyak bantuan, mungkin ada sekitar 80 bed tempat tidur. Tapi masih butuh banyak lagi karena 243 bed saja itu kurang,” katanya.
Pihaknya masih menerima rawat inap di IGD karena di ruangan lain belum ada tempat tidur. (ANT/KN)
BANDUNG – Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengatakan bahwa pihaknya akan menindak tegas praktik alih fungsi lahan di wilayah hutan Perhutani, yang diduga kuat menjadi pemicu longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Di sela peninjauan lokasi terdampak pada Minggu (25/1/2026) , Erwan menyoroti penggunaan lahan hutan sebagai area pertanian yang tidak sesuai peruntukannya, sehingga memperlemah struktur tanah di kawasan Cisarua tersebut.
“(Karena) ini lahan hutan, bukan lahan pertanian. Kita akan kembalikan hijau, kita kembalikan sesuai fungsinya, yaitu hutan,” ujar Erwan.
Menyikapi risiko longsor susulan, Pemprov Jabar memastikan warga terdampak tidak akan kembali ke titik semula. Erwan menjamin pemerintah segera menyiapkan skema relokasi berdasarkan kajian teknis untuk menentukan lokasi yang aman, namun tetap dekat dengan lingkungan sosial warga.
“Relokasi tidak boleh ke tempat yang berisiko lagi. Kami akan menentukan lokasi yang aman dan tidak terlalu jauh dari lingkungan hidup warga. Keselamatan menjadi prioritas utama,” katanya.
Meski fokus pada pemulihan jangka panjang, Erwan memastikan operasi pencarian korban yang masih hilang tetap menjadi prioritas utama tim gabungan dari Basarnas, BNPB, BPBD, TNI-Polri, hingga relawan.
“Saat ini kami terus bekerja. Semua unsur turun ke lapangan untuk mencari korban yang masih belum ditemukan. Insyaallah, dengan cuaca yang mendukung, pencarian bisa dilanjutkan secara maksimal,” ucapnya.
Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno yang turut hadir, menekankan bahwa penanganan bencana ini harus menjadi momentum transformasi wilayah menjadi lebih tangguh.
Pratikno mendorong percepatan penyediaan hunian tetap (huntap) agar warga tidak terkatung-katung di pengungsian.
Menurutnya, stabilitas hunian sangat krusial untuk memulihkan tekanan psikologis warga.
“Bencana ini harus menjadi pelajaran. Kita tidak hanya membangun kembali, tetapi membangun kembali dengan lebih baik dan lebih aman,” kata Pratikno.
Hingga saat ini, selain upaya evakuasi fisik, pemerintah juga telah menerjunkan tim pemulihan trauma (trauma healing) untuk mendampingi warga, terutama anak-anak yang terdampak secara psikologis akibat musibah tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mengungkapkan hingga saat ini, akibat kejadian longsor pada Sabtu (24/1) dini hari, terdata 19 orang dinyatakan meninggal dunia, 73 jiwa masih dinyatakan hilang, 666 orang mengungsi, dan 51 unit rumah mengalami rusak berat. (ANT/KN)
JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) meminta nasabah mewaspadai modus terhadap berbagai modus penipuan, termasuk phishing melalui website palsu yang mengatasnamakan BCA, menyusul laporan nasabah bisnis yang disampaikan melalui media sosial terkait transaksi transfer dana.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn menyampaikan bahwa perseroan telah berkomunikasi dengan nasabah dan melakukan investigasi lebih lanjut.
“Berdasarkan kronologis yang disampaikan nasabah dan hasil penelusuran yang kami lakukan, kejadian ini merupakan modus penipuan phishing melalui situs web palsu,” kata Hera dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (25/1/2026).
Lebih lanjut, ujar Hera, perseroan juga telah melakukan penelusuran internal dan memastikan bahwa sistem BCA aman.
Oleh sebab itu, BCA mengimbau nasabah untuk selalu berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan, termasuk website palsu yang bukan website resmi BCA.
Nasabah diminta untuk tidak membagikan data perbankan yang bersifat rahasia antara lain Appli Token Key BCA, PIN, OTP, dan password.
Nasabah juga harus memastikan informasi hanya dari channel resmi BCA yaitu aplikasi haloBCA, nomor resmi Halo BCA 1500888 (tanpa 021, +0621, atau tambahan lainnya), WhatsApp Bank BCA 08111500998 (ada centang biru), Instagram @goodlifebca (sudah centang biru), serta website www.bca.co.id.
Sebelumnya, beredar di media sosial mengenai laporan nasabah bisnis yang kehilangan dana hingga miliaran rupiah.
Akun Instagram @realmrbert membahas kasus ini dengan menjelaskan bahwa korban seharusnya mengakses KlikBCA Bisnis melalui vpn.klikbca.com.
Namun, korban justru terjebak pada website palsu dengan alamat yang nyaris menyerupai situs resmi, diawali “vpk”, serta memiliki tampilan yang mirip dengan website resmi.
Ketika korban masuk ke website palsu tersebut, dana tidak masuk ke rekening tujuan melainkan ke rekening penipu.
Sementara itu, akun Instagram @tommy**** juga melaporkan kejadian serupa, yakni kehilangan dana sekitar Rp500 juta setelah mengakses website palsu KlikBCA Bisnis melalui mesin pencari Google.
Dana tersebut mulanya gaji yang akan ia bayarkan kepada karyawan-karyawannya, namun justru masuk ke rekening penipu. (ANT/KN)
DAVOS – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan keinginannya untuk terus memajukan sepak bola nasional saat bertemu dengan legenda sepak bola Prancis Zinedine Zidane, seusai menyampaikan konsep Prabowonomics dalam World Economic Forum (WEF), Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dalam unggahan di akun Instagram Sekretariat Kabinet (@sekretariat.kabinet), Minggu, menyampaikan pertemuan antara Presiden Prabowo dan Zidane berlangsung sekitar 45 menit.
“Dalam pertemuan sekitar 45 menit itu, Presiden Prabowo menyampaikan keinginan besarnya untuk terus memajukan sepak bola Tanah air dan Tim Nasional,” kata Seskab Teddy saat dikonfirmasi dan dikutip dari ANTARA.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga memaparkan rencana agar ke depan setiap sekolah baru memiliki lapangan sepak bola.
Fasilitas tersebut dirancang tidak hanya untuk kegiatan siswa sekolah, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh anak-anak di lingkungan sekitar sebagai sarana berlatih.
Selain menyampaikan gagasan pengembangan infrastruktur, Prabowo turut meminta masukan dan pandangan dari Zidane terkait perkembangan dan pembinaan sepak bola nasional agar dapat tumbuh lebih baik.
“Presiden Prabowo juga meminta masukan dan saran sang maestro Zidane terhadap perkembangan sepak bola nasional,” ucap Teddy.
Presiden Prabowo mencuri perhatian dunia dalam WEF 2026 di Davos dengan memperkenalkan Prabowonomics sebagai strategi ekonomi inklusif berbasis kesejahteraan sosial.
Di hadapan ribuan pemimpin global dan CEO, Prabowo mengemukakan bahwa fondasi ekonomi Indonesia ke depan bertumpu pada penguatan sumber daya manusia melalui program makan bergizi gratis, hilirisasi industri, serta penegakan hukum yang tegas guna menjamin kepastian investasi.
Dalam pidato kuncinya, Presiden menekankan prinsip bahwa tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian, sembari mempromosikan peran Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Kehadiran perdana Prabowo di Davos setelah satu dekade absennya pemimpin Indonesia ini telah memposisikan RI sebagai mitra strategis global yang berkomitmen pada pertumbuhan ekonomi yang mandiri namun tetap terbuka bagi kolaborasi internasional. (ANT/KN)
PEMALANG – Basarnas Semarang, Jawa Tengah, menginformasikan bahwa dua korban longsor yang terjadi di Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, hingga Minggu (25/12/2026) petang belum ditemukan.
“Pencarian terhadap dua korban akan kami lanjutkan Senin (26/1) pagi,” kata Staf Kantor Basarnas Semarang Handika Hengki di Pemalang, Minggu (25/1/2026).
Menurut dia, intensitas curah hujan yang cukup tinggi dan kondisi faktor alam, serta hari sudah petang menjadikan kendala dalam pencarian terhadap dua korban sehingga akan dilanjutkan Senin pagi.
Selain itu, kata dia, dengan luas material yang cukup luas atau mencapai sekitar satu hektare menjadi kendala anggota Basarnas dan tim SAR menemukan para korban longsor.
Ia mengatakan dua korban diduga tertimbun longsor saat bekerja di area pertanian/perkebunan dan jauh dari pemukiman penduduk.
“Informasinya, mereka sedang bekerja di perbukitan Desa Bongas,” katanya.
Kepala Kepolisian Sektor Watukumpul AKP M. Haris mengatakan 100 personel tim gabungan terdiri atas Polri, TNI, Basarnas, BPBD, dan relawan hingga Minggu (25/1/2026) sore belum ditemukan.
“Kami mengimbau warga jangan mendekat ke lokasi yang berpotensi longsor mengingat intensitas curah hujan tinggi. Ini untuk mengantisipasi longsor susulan,” katanya. (ANT/KN)
BEKASI – Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mencatat sebanyak 5.168 hektare areal persawahan di wilayah itu terdampak banjir hingga mengakibatkan ancaman gagal panen setelah terendam air dalam sepekan terakhir.
“Total lahan terdampak banjir ada 5.168,9 hektare dan 132,8 hektare di antaranya lahan persemaian,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Abdillah Majid di Cikarang, Minggu (25/1/2026).
Ia mengatakan luas lahan sawah terendam banjir itu tersebar di total 78 desa pada 16 wilayah kecamatan. Petugas masih terus melakukan pembaruan data di lapangan mengingat kondisi banjir masih berlangsung dengan kemungkinan penambahan area terdampak.
“Sehingga kami juga belum bisa menghitung kerugian petani karena kondisi tanaman saat ini masih terdampak banjir dan juga belum ada laporan puso,” katanya.
Pihaknya telah menyiapkan benih serta pestisida kepada petani dari program bantuan direktorat serealia pada ditjen tanaman pangan Kementerian Pertanian RI yang digulirkan setiap tahun.
Bantuan reguler program peningkatan indek pertanaman (PIP) itu menjangkau 11.247 hektare sawah dengan rencana periode masa tanam pada Januari-Februari 2026.
“Sementara bantuan untuk sawah yang terdampak banjir saat ini sedang dalam pengajuan ke kementerian,” ujarnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi Dodi Supriadi mengatakan genangan air yang bertahan selama berhari-hari berpotensi menyebabkan kerusakan tanaman dan mengancam keberlangsungan musim tanam petani.
“Genangan terjadi di lahan pertanian yang berada di dataran rendah dan dekat aliran sungai. Jika air tidak segera surut, tanaman padi yang sedang dalam masa tanam maupun menjelang panen sangat berisiko mengalami puso,” katanya.
Sebaran wilayah pertanian terdampak ada di sejumlah kecamatan antara lain Pebayuran, Sukakarya, Sukawangi, Cabangbungin, Babelan, Tambun Utara hingga Karangbahagia.
Ketinggian air di lahan pertanian bervariasi, mulai dari 20 hingga 60 sentimeter menyebabkan tanaman terendam dan tidak bisa diolah sementara waktu.
Selain merusak tanaman, banjir juga menghambat aktivitas pertanian. Akses menuju sawah terputus, saluran irigasi meluap serta alat dan sarana produksi pertanian milik petani ikut terendam.
“Kondisi ini membuat petani terpaksa menunda pemupukan, penyiangan, hingga panen. Dampaknya bukan hanya hari ini. Kalau gagal panen, petani akan kesulitan modal untuk musim tanam berikutnya. Ini juga bisa berpengaruh pada ketersediaan beras di tingkat lokal,” kata dia. (ANT/KN)
RANGKAIAN Wisuda XIV Sekolah Tinggi Teknologi (STITEK) Bontang ditutup dengan pesan-pesan reflektif dari para pemangku kepentingan. Mulai dari pembina yayasan, Pemkot Bontang, hingga LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan. Ketiganya memberi satu benang merah: perubahan STITEK menuju universitas harus dibarengi keberanian riset, kedekatan dengan industri, dan keberpihakan pada masa depan lulusan.
Prosesi wisuda Angkatan XIV berlangsung tanpa euforia berlebihan. Di balik pelepasan 87 wisudawan, perhatian justru tertuju pada arah kampus ke depan. Wisuda ini jadi momentum untuk melihat langkah STITEK Bontang saat bertransformasi menjadi universitas.
Pesan itu datang dari berbagai pihak. Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Bessai Berinta, Yhenda Permana, berbicara dari sisi visi dan pengalaman panjang mengawal kampus.
Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menekankan tanggung jawab akademik yang ikut membesar seiring perubahan status.
Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menyampaikan sambutan pada Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan XIV STITEK Bontang.
Sementara Pemkot Bontang, melalui sambutan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni yang dibacakan Pj Sekda Ahmad Suharto, menegaskan komitmen Pemkot terhadap pendidikan tinggi yang selaras dengan kebutuhan lokal.
Intinya sama: STITEK tidak boleh berhenti pada pergantian nama.
Dalam sambutannya, Yhenda Permana mengingatkan bahwa wisuda bukan titik akhir perjalanan. “Justru ini awal dari perjuangan yang lebih berat,” ujarnya di hadapan wisudawan.
Ia menegaskan bahwa gelar sarjana tidak boleh berhenti sebagai simbol akademik. “Gelar itu harus dibawa ke dunia kerja, ke persoalan nyata, dan memberi manfaat,” pesannya.
Yhenda juga merefleksikan perjalanan STITEK yang telah ia kawal lebih dari satu dekade. Dari dua program studi hingga kini enam program studi aktif. Dari kampus kecil hingga institusi yang bersiap naik kelas.
Dalam konteks itulah ia menyebut satu arah besar yang ingin dituju. “Kita ingin STITEK, kelak Universitas Sains dan Teknologi Bontang, menjadi ITB-nya Indonesia bagian timur,” ucapnya.
Bukan meniru bentuk, tetapi meniru watak. Watak kampus yang kuat pada riset terapan, dekat dengan industri, dan relevan dengan kebutuhan daerah. Menurut Yhenda, di kota industri seperti Bontang, kampus harus berani membuka program studi yang benar-benar dibutuhkan.
“Kita punya LNG, pabrik pupuk, energi. Kenapa kampus tidak menyiapkan SDM-nya dari sekarang?” katanya.
Ia juga menyinggung pentingnya riset yang membumi. “Riset itu tidak harus besar dan rumit. Mulai saja dari masalah di sekitar kita,” ujarnya.
Yhenda memberi contoh pengelolaan sampah menjadi energi yang ia lihat langsung di luar negeri. “Kalau di sana (Jerman, Red.) bisa, kenapa kita tidak mulai dari TPA kita sendiri? Riset kecil dulu, tapi nyata,” katanya.
Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, memberikan arahan terkait peran perguruan tinggi dalam peningkatan mutu pendidikan dan penguatan riset.
Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menguatkan arah tersebut. Ia mengapresiasi capaian STITEK, termasuk penambahan dua program studi baru dan konsistensi dosen dalam riset serta pengabdian.
Menurut Akbar, kualitas perguruan tinggi sangat ditentukan oleh dosennya. “Dosen adalah aset utama perguruan tinggi. Kalau dosennya kuat, kampusnya akan maju,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan status membawa tanggung jawab yang lebih besar. “Universitas tidak cukup hanya mengajar. Riset harus diperkuat, publikasi ditingkatkan, dan kerja sama industri diperluas,” katanya.
Akbar menegaskan bahwa pemerintah telah membuka ruang pendanaan riset yang lebih besar. “Tinggal keberanian kampus untuk mengambil peran,” ujarnya.
Sementara itu, Pemkot Bontang melalui sambutan Wali Kota yang dibacakan Sekda Ahmad Suharto menegaskan dukungan terhadap pendidikan tinggi. “Pemerintah Kota Bontang menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang,” ucapnya.
Pj Sekda Bontang Ahmad Suharto menyampaikan sambutan mewakili Wali Kota Bontang pada Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan XIV STITEK Bontang.
Program beasiswa, kebijakan serapan tenaga kerja lokal, hingga keberpihakan pada SDM lokal disebut sebagai upaya agar lulusan kampus tidak terputus dari dunia kerja. “Kami ingin lulusan perguruan tinggi di Bontang punya ruang kerja yang nyata,” kata Sekda membacakan sambutan Wali Kota.
Semua pesan tersebut memperlihatkan posisi STITEK Bontang saat ini. Kampus ini sedang berada pada fase penentuan. Perubahan yang ditempuh bukan semata soal status kelembagaan, melainkan tentang arah universitas yang ingin dibangun.
Di kota industri seperti Bontang, kampus teknologi dituntut lebih dari sekadar meluluskan sarjana. Kampus harus mampu menumbuhkan riset dan inovasi yang dekat dengan kebutuhan daerah serta dunia usaha di sekitarnya.
Wisuda Angkatan XIV menandai berakhirnya satu tahap perjalanan STITEK Bontang. Jika proses transformasi berjalan sesuai rencana, ini menjadi wisuda terakhir dengan nama sekolah tinggi. Setelah itu, langkah berikutnya akan ditempuh dengan nama Universitas Sains dan Teknologi Bontang.
Ikhtiar menjadi ITB-nya Indonesia bagian timur akan diuji oleh waktu. Namun dari wisuda ini terlihat, arah perubahan STITEK sedang disiapkan secara serius. (Habis)
MOMEN wisuda juga dimanfaatkan Sekolah Tinggi Teknologi (STITEK) Bontang untuk memberi apresiasi atas satu proses penting lain dalam perjalanan menuju universitas: penetapan logo Universitas Sains dan Teknologi Bontang (USTB).
Di hadapan forum wisuda, panitia mengumumkan pemenang sayembara logo yang akan menjadi identitas resmi universitas ke depan. Pengumuman ini menjadi tahap akhir dari rangkaian penjurian yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Dari belasan karya yang masuk, dewan juri terlebih dahulu menetapkan lima besar logo terbaik. Penilaian dilakukan secara bertahap, mencakup kekuatan konsep, kejelasan visual, kedalaman filosofi, serta kesesuaiannya dengan visi Universitas Sains dan Teknologi Bontang.
Proses penjurian melibatkan unsur yayasan dan pimpinan kampus. Saya dilibatkan sebagai juri eksternal untuk memberi sudut pandang di luar struktur internal kampus.
Logo yang akhirnya ditetapkan sebagai juara pertama merupakan karya Belva Pranama Sriwibowo, mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2023. Karyanya dinilai paling mampu merepresentasikan arah perubahan STITEK menjadi universitas. Baik dari sisi konsep, keterbacaan visual, maupun kesesuaian dengan karakter kampus sains dan teknologi.
Logo pemenang sayembara USTB ditampilkan pada jas almamater, kop surat dan amplop.
Secara visual, logo pemenang menampilkan bentuk perisai akademik yang diperkaya elemen simbolik. Di dalamnya tergambar nilai sains, teknologi, kolaborasi, serta kebajikan akademik. Desainnya sederhana namun kuat, mudah dikenali, dan tidak lekang ketika diterapkan pada berbagai media.
Dalam simulasi penerapannya, logo ini telah ditampilkan pada beragam kebutuhan kelembagaan. Mulai dari sampul dokumen resmi, kop surat dan amplop, pin dan jas almamater, hingga visual gedung kampus. Ini memberi nilai lebih, karena logo memang disiapkan untuk digunakan dalam keseharian kampus
Selain juara pertama, dewan juri juga menetapkan Muhammad Salvatore, S.Pd., staf humas STITEK Bontang, sebagai juara kedua. Sementara juara ketiga diraih Irfani Zuhrufillah, S.Kom., M.Kom., dosen Sistem Informasi STITEK Bontang. Ketiga karya tersebut dinilai menonjol karena memiliki konsep yang jelas, visual yang rapi, serta mampu menjelaskan keterkaitan desain dengan visi universitas.
Apresiasi di forum wisuda ini tidak berhenti pada karya logo semata. STITEK Bontang juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang mencatatkan prestasi di berbagai level.
Sejumlah mahasiswa menerima apresiasi atas capaian mereka dalam bidang inovasi dan teknologi tepat guna.
Di antaranya Muhammad Shafdan Alfas, S.T., yang meraih Gold Winner kategori eksternal pada Pupuk Kaltim Innovation Summit 2024, serta Izhar Meidiansyah, S.T., yang menorehkan prestasi di berbagai ajang inovasi, mulai dari tingkat kota hingga provinsi. Sementara Azwa Liza, S.T. mencatatkan prestasi melalui lomba Teknologi Tepat Guna, baik di tingkat kecamatan maupun Kota Bontang pada 2025.
Penghargaan juga diberikan kepada dosen berprestasi penerima hibah DPPM Kemdiktisaintek, baik pada skema penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun program Kosabangsa.
Nama-nama seperti Nur Imansyah, S.Kom., M.Kom., Hardianto, S.T., M.Eng., dan Akbar, S.Pd., M.Pd. disebut sebagai bagian dari tim yang mengharumkan institusi melalui kerja akademik yang konsisten.
Apresiasi turut diberikan kepada tenaga kependidikan berdedikasi tinggi, Ibu Hajjah Farida Ariana, S.T., atas pengabdian dan kontribusinya bagi kampus.
Rangkaian apresiasi ini menunjukkan bahwa perubahan STITEK Bontang tidak hanya soal pergantian nama. Di tengah proses menuju universitas, kampus juga memberi ruang pada prestasi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang selama ini bekerja nyata di balik layar.
Logo baru menandai arah perubahan. Prestasi mahasiswa dan dosen menunjukkan kualitasnya. Dari keduanya, langkah STITEK menuju Universitas Sains dan Teknologi Bontang mulai terlihat. (Bersambung)
Salah satu bagian yang paling menyita perhatian dalam Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bontang (STITEK) Bontang Angkatan XIV adalah sesi orasi ilmiah. Bukan semata karena siapa yang tampil, tetapi karena isi yang dibawa terasa tepat dengan posisi STITEK saat ini. Sebuah kampus teknologi yang sedang bersiap melangkah ke fase berikutnya sebagai universitas.
Forum wisuda ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Pemkot Bontang diwakili Pj Sekda Bontang Ahmad Suharto. Hadir pula Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan Dr. Muhammad Akbar, jajaran pembina dan pengurus Yayasan Pendidikan Besai Berinta yang menaungi STITEK Bontang, pimpinan perguruan tinggi di Kota Bontang, perwakilan industri, termasuk dari PT Badak NGL, serta senat akademik, pimpinan kampus, dosen, dan tentu para wisudawan beserta keluarga.
Orasi ilmiah disampaikan Dr. Rino R. Mukti, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Rino Mukti merupakan alumnus ITB yang melanjutkan studi magister di Malaysia dan pendidikan doktoral di Jerman. Ia sempat menjalani program postdoktoral di Jepang sebelum kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai dosen dan peneliti di ITB.
Dalam kesehariannya, Rino membimbing mahasiswa dari jenjang sarjana hingga doktoral. Fokus risetnya berada pada material berpori, bidang yang banyak dimanfaatkan dalam industri energi, pupuk, hingga lingkungan.
Suasana sidang terbuka wisuda STITEK Bontang Angkatan XIV yang dihadiri senat akademik, pimpinan kampus, dan tamu undangan. Foto: Agus S
Di hadapan forum wisuda, Rino membuka orasinya dengan satu gagasan: tidak ada negara maju tanpa teknologi, dan teknologi tidak lahir tanpa riset yang dikerjakan secara konsisten. Gagasan itu ia jabarkan dengan berbagai contoh. Dari sejarah hingga riset mutakhir, disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Ia menjelaskan bahwa banyak teknologi besar justru lahir dari riset yang pada awalnya tidak terlihat praktis. Salah satunya material berpori seperti zeolit, bidang yang ia tekuni. Ia menggambarkan material ini sebagai bahan dengan rongga sangat halus dan luas permukaan yang besar, sehingga mampu menyerap, mempercepat reaksi, dan berfungsi sebagai katalis di berbagai sektor industri.
Dari situ, Rino mengaitkan riset dengan kebutuhan nyata. Ia menyinggung pengembangan material yang dapat meningkatkan efisiensi pupuk pertanian, hingga riset yang memungkinkan air diekstraksi dari udara, solusi yang relevan bagi wilayah dengan keterbatasan sumber air. Semua disampaikan lebih sebagai gambaran arah teknologi ke depan.
Pada bagian lain orasinya, Rino mengangkat contoh konkret dari Jerman. Ia bercerita tentang sebuah kawasan tempat pembuangan sampah yang diubah menjadi pusat riset, edukasi, sekaligus destinasi wisata. Gunung sampah yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan, diolah dengan pendekatan teknologi dan riset hingga mampu menghasilkan energi, ruang belajar, dan area rekreasi.
Materi orasi ilmiah tentang transformasi institusi pendidikan teknologi di Eropa dari politeknik menuju universitas berbasis riset. Foto: Agus S
Transformasi itu, menurutnya, tidak terjadi secara instan. Kuncinya, keberanian menjadikan masalah sebagai objek riset, lalu melibatkan kampus, industri, dan pemerintah dalam satu ekosistem. Dari tempat yang dulu dihindari, kawasan tersebut justru berubah menjadi ruang publik yang bernilai ekonomi dan edukatif.
Contoh itu ia sampaikan untuk menegaskan bahwa teknologi bukan konsep jauh dari kehidupan sehari-hari. Dengan riset yang tepat, persoalan lingkungan, energi, hingga tata kota dapat diubah menjadi peluang.
Rino juga mengajak forum wisuda menengok sejarah sains. Ia mengulas bagaimana lonjakan besar peradaban manusia, termasuk pertumbuhan penduduk dunia, tidak lepas dari penemuan teknologi seperti sintesis amonia yang menjadi dasar pupuk modern. Teknologi, menurutnya, bukan sekadar alat, tetapi penentu arah hidup manusia.
Ia turut berbagi pengalaman saat berdiskusi dengan almarhum Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie. Rino menyebut Habibie bukan hanya memahami teknologi secara umum, tetapi mengikuti perkembangan sains hingga ke detail, termasuk katalis dan material berpori. Sosok Habibie, baginya, menunjukkan bahwa pemimpin yang memahami sains akan melihat teknologi sebagai kebutuhan strategis, bukan pelengkap.
Slide presentasi orasi ilmiah yang menampilkan contoh kampus teknologi di Jerman sebagai rujukan pengembangan riset dan kolaborasi industri. Foto: Agus S
Dalam konteks perubahan STITEK menuju universitas, Rino berpesan bahwa perubahan bentuk kelembagaan tidak boleh berhenti pada urusan administrasi dan nama. Jika ingin naik kelas menjadi universitas, maka budaya riset juga harus naik kelas.
Kampus teknologi, menurutnya, harus berani hidup dari riset. Dosen aktif meneliti, mahasiswa dilibatkan, dan kampus hadir menyelesaikan persoalan nyata di sekitarnya, terutama di daerah industri seperti Bontang.
Di kota industri seperti Bontang, tantangan kampus teknologi bukan sekadar meluluskan sarjana, tetapi membuktikan bahwa riset bisa tumbuh, hidup, dan menjawab persoalan nyata di sekitarnya.
Di akhir orasi, Rino menyinggung bahwa Indonesia sejatinya memiliki jejak panjang dalam dunia sains. Tantangannya bukan pada kemampuan, melainkan pada konsistensi dan keberanian membangun ekosistem riset yang berkelanjutan, dimulai dari kampus, dosen, dan mahasiswa.
Dari orasi ilmiah ini, arah STITEK ke depan mulai terbaca. Bukan sekadar soal berganti nama, tetapi soal pilihan. Apakah berhenti sebagai sekolah tinggi yang diperluas, atau benar-benar tumbuh sebagai universitas yang hidup dari teknologi, riset, dan kebermanfaatan nyata. (Bersambung)
SABTU (24/1), saya menghadiri prosesi Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bontang (STITEK) Angkatan XIV yang digelar di Hotel Grand Mutiara Bontang. Saya hadir sebagai undangan resmi dan masuk dalam jajaran undangan VIP. Ini pengalaman pertama saya menghadiri wisuda bukan sebagai wisudawan, tapi tamu perguruan tinggi.
Undangan VIP diisi jajaran Pembina, Pengawas, dan Pengurus Yayasan Pendidikan Bessai Berinta, Ketua LLDIKTI Wilayah XI, unsur Pemkot Bontang, dan pimpinan perusahaan yang beroperasi di Bontang. Hadir juga mewakili perbankan, rumah sakit, pimpinan perguruan tinggi, dan organisasi alumni. Kehadiran lintas unsur ini memperlihatkan posisi STITEK sebagai kampus yang memiliki keterkaitan langsung dengan dunia industri, pemerintah daerah, dan ekosistem pendidikan tinggi di Bontang.
Saya pernah dua kali mengikuti prosesi wisuda, yakni saat menyelesaikan studi S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda, dan saat lulus S2 Ilmu Hukum di Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Untuk S1 Ilmu Hukum di Universitas Trunajaya Bontang, saya hanya mengikuti yudisium dan tidak mengikuti prosesi wisuda. Karena itulah, menghadiri wisuda kali ini dari sisi undangan memberi perspektif berbeda.
Prosesi sidang terbuka senat Wisuda STITEK Bontang Angkatan XIV di Hotel Grand Mutiara Bontang. Foto: Agus S
Prosesi wisuda berlangsung tertib sejak pagi. Jajaran senat STITEK terlebih dahulu memasuki ruang sidang terbuka dan seluruh hadirin berdiri. Setelah senat menempati tempat duduk, tarian penyambutan khas daerah ditampilkan sebagai bagian dari pembukaan acara.
Saya masuk bersama iring-iringan senat STITEK, mengikuti alur prosesi akademik. Setelah itu, jajaran pimpinan kampus dan senat duduk berbaris di depan panggung, sementara undangan VIP telah disiapkan kursi sofa di baris depan.
Tarian penyambutan ditampilkan usai senat menempati ruang sidang terbuka Wisuda STITEK Bontang Angkatan XIV. Foto: Agus S
Prosesi pemindahan tali toga kepada wisudawan dilakukan secara bergantian. Satu per satu nama dipanggil. Wisudawan naik ke panggung, menjalani pemindahan tali toga sebagai tanda kelulusan, menerima dokumen kelulusan, lalu kembali ke tempat duduk masing-masing.
Raut tegang bercampur lega tampak jelas. Baik dari wisudawan maupun keluarga yang menyaksikan dari kursi undangan.
Wisuda Angkatan XIV meluluskan 87 wisudawan dari Program Studi Teknik Informatika dan Teknik Elektro. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dan menunjukkan konsistensi tingkat kelulusan STITEK dalam beberapa tahun terakhir.
Ketua STITEK Bontang, Zaini, dalam sambutannya menyampaikan arah kebijakan kampus ke depan. Ia menyebut periode 2025 hingga awal 2026 sebagai fase awal kepemimpinannya dalam melanjutkan penguatan tata kelola institusi.
“Usia STITEK yang akan memasuki 21 tahun menjadi momentum untuk memperkuat fondasi kelembagaan dan tata kelola kampus secara lebih matang,” ujar Zaini.
Ketua STITEK memimpin prosesi pemindahan tali toga sebagai tanda kelulusan wisudawan STITEK Bontang Angkatan XIV. Foto: Agus S
STITEK Bontang akan memasuki usia 21 tahun pada Mei 2026. Pada usia ini, STITEK dinilai telah memiliki fondasi kelembagaan dan sistem manajemen yang semakin mapan untuk melangkah ke fase pengembangan berikutnya, termasuk rencana transformasi menjadi universitas.
Fokus pengembangan STITEK diarahkan pada peningkatan mutu tridharma perguruan tinggi serta keterkaitannya dengan kebutuhan industri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Zaini menegaskan bahwa kampus harus mampu menjawab kebutuhan riil daerah.
“Kampus tidak boleh berjalan sendiri. STITEK harus relevan dengan kebutuhan industri, pemerintah daerah, dan masyarakat,” katanya.
Dalam sambutannya, Zaini juga menyampaikan sejumlah capaian STITEK sepanjang 2025 hingga awal 2026. Di antaranya peningkatan jabatan fungsional dosen, bertambahnya dosen bersertifikasi, serta penguatan sumber daya manusia melalui studi lanjut. STITEK juga memperoleh hibah penelitian dan pengabdian, termasuk pendanaan riset kolaboratif dengan perusahaan di Kota Bontang.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah dibukanya dua program studi baru mulai Januari 2026, yakni Teknik Industri dan Teknik Lingkungan. Dengan tambahan ini, STITEK kini memiliki enam program studi aktif.
“Pembukaan program studi ini merupakan bagian dari upaya STITEK menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri dan tantangan pembangunan daerah,” ujar Zaini.
Ketua STITEK juga menyampaikan bahwa institusinya telah memperoleh rekomendasi atas usulan perubahan bentuk menjadi Universitas Sains dan Teknologi Bontang. Proses tersebut masih berjalan, namun secara administratif dan akademik telah memasuki tahap penting dalam pengembangan kelembagaan.
Dalam wisuda ini diumumkan wisudawan terbaik dari masing-masing program studi. Wisudawan terbaik Program Studi Teknik Informatika diraih oleh Sherly Rahmawati Putri, S.Kom., dengan IPK 3,80. Sementara wisudawan terbaik Program Studi Teknik Elektro diraih oleh Izhar Meidiansyah, S.T., dengan IPK 3,47. Keduanya mendapat apresiasi khusus dari pimpinan kampus sebagai representasi capaian akademik tertinggi pada Wisuda Angkatan XIV.
Di akhir sambutannya, Zaini menyampaikan pesan kepada para wisudawan agar menjaga integritas dan tanggung jawab setelah menyandang gelar sarjana.
“Gelar akademik bukan akhir dari proses belajar, tetapi awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat dan dunia kerja,” ujarnya.
Prosesi wisuda juga dirangkai dengan orasi ilmiah, pengumuman, serta pemberian penghargaan kepada mahasiswa dan dosen berprestasi. Panitia juga mengumumkan dan menyerahkan hadiah kepada pemenang sayembara logo universitas sebagai bagian dari tahapan perubahan bentuk kelembagaan.
Wisuda Angkatan XIV ini sekaligus menjadi wisuda terakhir yang digelar dengan nama Sekolah Tinggi Teknologi Bontang, dengan catatan proses perubahan bentuk kelembagaan berjalan sesuai target. Jika tahapan tersebut dapat dituntaskan, mulai tahun depan STITEK direncanakan bertransformasi menjadi Universitas Sains dan Teknologi Bontang. Artinya, prosesi wisuda berikutnya akan dilaksanakan atas nama universitas. (bersambung)