JAKARTA – Wakil Direktur Utama PT Pertamina, Oki Muraza, memaparkan strategi pengembangan bioetanol nasional dalam Sidang Terbuka Satuan Tugas Debottlenecking di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Dalam forum tersebut, Oki hadir bersama Direktur Keuangan PT Pertamina Mega Satria, Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Taufik Adityawarman, serta Vice President Government Assignment PT Pertamina Desy Anggia Wulandari.
Oki menegaskan bahwa Pertamina tengah mendorong peningkatan kapasitas produksi nasional dengan menambah fasilitas yang ada serta mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal.
“Dalam rangka memperkuat kapasitas produksi nasional, kami berupaya menambah kapasitas yang hilang sekaligus mengadopsi penggunaan bahan baku yang dapat diproduksi di dalam negeri. Harapannya, Indonesia mampu menciptakan banyak sentra ekonomi baru yang akan memperkokoh struktur perekonomian nasional,” ujarnya.
Menurut Oki, salah satu implementasi yang telah terbukti secara global adalah pemanfaatan bioetanol sebagai campuran bensin. Program serupa telah sukses diterapkan di Brasil, India, dan Amerika Serikat. Di Indonesia, produksi bioetanol mulai dijalankan untuk menekan ketergantungan impor bensin sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Saat ini, bahan baku utama yang digunakan berasal dari molase atau produk samping industri gula. Ke depan, Pertamina juga menyiapkan pengembangan bahan baku alternatif seperti aren, sorgum, dan komoditas lainnya.
Program tersebut disebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ketahanan energi serta pengolahan dan industrialisasi.
Sebagai tahap awal, Pertamina meluncurkan produk Pertamax Green 95 yang merupaka produk BBM unggulan dari Pertamina yang mencampurkan Pertamax (RON 92) dengan 5 persen bioetanol (E5) berbasis molase tebu, menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan dengan oktan (RON) 95 pada 2020.
Produk itu kini telah tersedia di 177 SPBU di Pulau Jawa, meliputi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hingga 2025, volume penjualan E5 tercatat melampaui 65 ribu kiloliter.
Meski demikian, Oki mengakui capaian tersebut masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan nasional, mengingat impor bensin Indonesia masih berada di kisaran 20 juta kiloliter per tahun.
Melalui program bioetanol, Pertamina berharap tercipta efek berganda bagi perekonomian, memperkuat ketahanan energi, menekan impor, memperbaiki neraca perdagangan, sekaligus menurunkan emisi dari sektor transportasi darat. Untuk sektor penerbangan, perusahaan juga tengah menyiapkan pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Dalam sidang tersebut, Oki juga memaparkan hasil diskusi dengan Kemenkeu terkait tata kelola fiskal, khususnya pembebasan cukai bioetanol. Ia menyebut tarif cukai sebesar Rp20.000 per liter selama ini menjadi tantangan utama bagi keekonomian program.
Pertamina telah mengajukan pembebasan cukai untuk satu lokasi, yakni Terminal BBM Surabaya. Untuk mendukung proses tersebut, perusahaan mengurus Izin Usaha Industri dari Kementerian Perindustrian, termasuk penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang biasanya memakan waktu dua hingga tiga tahun.
“Alhamdulillah proses itu berhasil kami lalui, sehingga pembebasan cukai di Terminal Surabaya dapat terealisasi setelah sekitar dua tahun,” kata Oki.
Ke depan, Pertamina akan melanjutkan pengembangan kapasitas serta perizinan di terminal-terminal lain. Saat ini, perusahaan mengelola sekitar 120 terminal BBM di seluruh Indonesia.
Oki juga mengapresiasi kesepakatan lintas kementerian yang melibatkan Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, serta Kementerian Perhubungan. Dalam kesepakatan tersebut, mekanisme perizinan untuk program bioetanol tidak lagi menggunakan Izin Usaha Industri, melainkan Izin Usaha Niaga dari Kementerian ESDM.
Ia menilai kebijakan tersebut akan menyederhanakan proses birokrasi yang sebelumnya harus ditempuh satu per satu.
“Kami mengapresiasi langkah pemerintah yang membuat proses perizinan menjadi lebih terpusat dan sederhana,” ujarnya.
Berdasarkan pembahasan dengan kementerian dan lembaga terkait, Pertamina berharap ke depan Izin Usaha Niaga dapat menjadi dasar pemberian pembebasan cukai bioetanol. Meski demikian, Oki mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama terkait pasokan bahan baku dari pabrik eksisting serta rencana peningkatan kapasitas produksi.
Pewarta/ Editor : Nicha R