Beranda blog Halaman 158

Potensi UMKM Dapat Ciptakan Lapangan Pekerjaan

BERAU – Anggota Komisi II DPRD Berau, Agus Uriansyah menyoroti potensi yang dimiliki Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Berau dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Menurutnya, dalam kondisi seperti itu, peran kepala kampung dalam mengembangkan UMKM dinilai sangat penting.

UMKM memiliki peran strategis dalam memperkuat perekonomian Berau yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki beragam potensi bisnis lokal.

Dalam konteks ini, kepala kampung di Berau diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam memfasilitasi pengembangan UMKM di tingkat lokal.

“Saya mengajak para kepala kampung untuk aktif dalam mengidentifikasi potensi-potensi UMKM yang ada di wilayah mereka dan memberikan dukungan serta bimbingan yang dibutuhkan bagi para pelaku usaha mikro di kampung,” ujarnya.

Dikatakannya, kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan pelaku UMKM untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan UMKM juga sangat penting dilakukan.

Dengan demikian, diharapkan UMKM di Bumi Batiwakkal dapat berkembang lebih pesat dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat. Peningkatan dukungan dan perhatian terhadap UMKM menjadi salah satu fokus utama dalam upaya membangun ketahanan ekonomi daerah, terutama di tengah tantangan ekonomi global yang terus berubah.

“Saya berharap semua kepala kampjng bisa menangkap peluang untuk meningkatkan UMKM di masing-masing kampung mereka,” tandasnya. (adv)

Desak Perusahaan Tingkatkan Transparansi Penyaluran CSR

BERAU – Wakil Ketua Komisi II DPRD Berau, Arman Nofriansyah meminta perusahaan lebih terbuka dalam mempublikasikan penyaluran program Corporate Social Responsibility (CSR) kepada masyarakat.

“Perusahaan tidak harus membuka angka anggarannya, tapi kegiatan CSR itu wajib dipublikasikan. Masyarakat berhak tahu apa saja program yang sudah dijalankan,” tegasnya.

Menurut Arman, selama ini penyaluran CSR cenderung tertutup dan jarang disampaikan secara terbuka. Sehingga agar hal tersebut dilakukan perusahaan perlu ada ketegasan.

“Padahal, CSR itu berkontribusi ke berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, pembangunan infrastruktur hingga program sosial yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan warga,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, Komisi II DPRD Berau akan memanggil perusahaan-perusahaan yang beroperasi. Pemanggilan itu bertujuan menanyakan secara langsung arah penyaluran dana CSR sekaligus memastikan program yang dijalankan benar-benar tepat sasaran.

“Kita ingin tahu kemana saja CSR disalurkan dan apakah sudah benar-benar menyentuh masyarakat,” ujarnya.

Kendati demikian, keterbukaan CSR bukan sekadar imbauan, melainkan bagian dari tanggung jawab perusahaan yang juga diatur dalam regulasi.

“Saya berharap keterbukaan penyaluran CSR dapat memperkuat kepercayaan masyarakat. Kalau semua terbuka, masyarakat tahu kontribusi perusahaan, pemerintah juga terbantu, dan pembangunan bisa berjalan lebih baik,” pungkasnya. (adv)

APBD Menciut, TPP ASN Kutim Dipangkas Hingga 65 Persen

0

SANGATTA – Postur APBD 2025 Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyusut drastis dan berdampak langsung pada kesejahteraan aparatur. Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi ASN dan PPPK dipangkas hingga 65 persen akibat keterbatasan ruang fiskal.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menjelaskan, secara administratif APBD 2025 tercatat sebesar Rp5,1 triliun. Namun dana efektif yang benar-benar bisa dimanfaatkan hanya sekitar Rp4,6 triliun karena sebagian harus digunakan untuk menyelesaikan kewajiban program tahun sebelumnya.

“Anggaran efektif kita hanya Rp4,6 triliun. Sisanya terserap untuk menyelesaikan kewajiban yang sudah berjalan. Ini yang membuat ruang fiskal kita sangat terbatas,” ujarnya.

Kondisi ini sangat kontras dibanding periode sebelumnya yang sempat diproyeksikan menyentuh Rp10 triliun. Artinya, terdapat potensi sekitar Rp6 triliun yang kini tidak lagi tersedia untuk mendukung belanja daerah.

Mengacu regulasi, belanja pegawai dibatasi maksimal 30 persen dari total APBD. Dengan anggaran sekitar Rp5 triliun, alokasi untuk belanja pegawai otomatis hanya sekitar Rp1,7 triliun.

“Saat anggaran Rp10 triliun, belanja pegawai bisa Rp3 triliun. Sekarang maksimal hanya Rp1,7 triliun. Kalau total turun, komponen di dalamnya pasti ikut turun,” tegas Mahyunadi.

Dampaknya, TPP yang sebelumnya rata-rata Rp4,5 juta per bulan kini hanya berada di kisaran Rp1,6 juta hingga Rp1,8 juta.

Sejumlah pegawai mengaku terdampak langsung. Salah seorang ASN di lingkungan Pemkab Kutim yang enggan disebutkan namanya mengatakan harus menyesuaikan ulang pengeluaran rumah tangga.

“Biasanya TPP jadi penyangga cicilan rumah dan kendaraan. Sekarang turun jauh. Mau tidak mau harus atur ulang semuanya,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengaku memahami kondisi keuangan daerah. Namun penurunan yang drastis tetap mengejutkan.

“Kami paham daerah lagi sulit. Tapi kalau turunnya lebih dari separuh, tentu terasa sekali. Semoga ke depan kondisi fiskal membaik,” tambahnya.

Di tengah tekanan fiskal, Pemkab Kutim memastikan 50 program strategis tetap dijalankan. Strateginya, program tetap berjalan secara simultan dengan skala yang disesuaikan.

“Kami tidak mau menyerah dengan keadaan. Minimal roda program unggulan tetap berputar demi kepentingan masyarakat,” tandas Mahyunadi. (MK)

Editor: Agus S

23 Tahun Menjaga Warisan, Pengabdian Pak Sufyan di Masjid Tertua Samarinda

SAMARINDA – Sore menjelang magrib di kawasan Samarinda Seberang terasa berbeda. Asap tipis mengepul dari dapur sederhana di depan Masjid Shiratal Mustaqiem. Aroma bubur peca memenuhi udara, bercampur suara sendok beradu dan percakapan warga yang bersiap menyambut waktu berbuka.

Di tengah kesibukan itu, Pak Sufyan melangkah tenang dari rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari masjid. Selama sekitar 23 tahun, sejak 2003, ia menjadi salah satu penjaga Masjid Shiratal Mustaqiem—masjid tertua di Samarinda yang telah berdiri lebih dari 145 tahun.

“Sudah sekitar 23 tahun saya di sini,” ujarnya pelan.

Sebagai marbot sekaligus Juru Pelihara (Jupel) PPPK Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Kalimantan Timur, tugasnya bukan sekadar membersihkan dan merawat. Masjid ini berstatus cagar budaya, sehingga bentuk aslinya tak boleh diubah.

“Kalau rusak boleh diperbaiki, tapi tidak boleh mengubah bentuk aslinya,” katanya, menunjuk bagian atap yang pernah bocor diterpa hujan dan angin kencang.

Dinding kayu ulin yang menghitam dimakan usia tetap dipertahankan. Jika ada bagian rusak, penggantian harus menggunakan material serupa dan melalui prosedur pelestarian. Seolah waktu dibiarkan berjalan, tetapi tanpa menghapus jejak sejarahnya.

Pak Sufyan bukan warga asli Samarinda. Ia perantau dari Kalimantan Selatan yang datang ke lingkungan mayoritas Bugis. Adaptasi awal tak mudah—bahasa dan kebiasaan berbeda. Namun masjid menjadi ruang pertemuan yang melampaui sekat identitas.

“Kita kerja dengan keikhlasan saja. Alhamdulillah masyarakat menerima,” tuturnya.

Di masa awal pengabdian, ia juga sering membantu memandikan jenazah warga sekitar. Dari gang ke gang, panggilan datang tanpa jeda. Kini, masyarakat sudah banyak yang mampu melakukannya sendiri.

“Dulu hampir semua kami yang urus,” kenangnya.

Bagi Pak Sufyan, perubahan itu bukan kehilangan peran, melainkan tanda masyarakat semakin kuat dalam pemahaman keagamaan.

Ramadan menjadi momen paling terasa. Tradisi bubur peca, pengajian rutin, dan belajar Al-Qur’an bagi anak-anak tetap berlangsung. Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi ruang sosial yang menjaga kebersamaan.

Masjid tua itu sehari-hari dirawat dua orang petugas. Perbedaan latar belakang tak menjadi penghalang.

“Yang penting saling mengerti,” ujarnya ringan.

Saat langit berubah jingga, jamaah berdatangan membawa takjil. Anak-anak berlarian di halaman. Ketika ditanya apa yang ia rasakan selama lebih dari dua dekade menjaga masjid ini, jawabannya sederhana.

“Keberkahan. Ketenangan hati itu yang paling besar,” katanya. (MK)

Editor: Agus S

Berenang Saat Air Pasang, Bocah 12 Tahun Diterkam Buaya di Loktuan

0

BONTANG – Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun menjadi korban serangan buaya saat berenang di wilayah rawa-rawa RT 8, Kelurahan Loktuan, Sabtu (28/2/2026) sekitar pukul 14.00 Wita. Korban kini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit PKT akibat luka gigitan dan cakaran.

Peristiwa itu terjadi saat korban bersama sejumlah temannya berenang di luar rumah ketika kondisi air sedang pasang. Tanpa diduga, seekor buaya muncul dari perairan dan langsung menerkam korban.

Bhabinkamtibmas Loktuan, Aiptu Bambang Sumantri, menjelaskan bahwa korban sempat diseret dan ditenggelamkan oleh buaya tersebut.

“Korban sedang berenang ketika air pasang. Tiba-tiba buaya muncul dan langsung menggigit. Sempat diseret dan ditenggelamkan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Kejadian itu sontak membuat panik warga sekitar. Sejumlah saksi langsung berupaya memberikan pertolongan. Bahkan, seorang warga nekat terjun ke air untuk mengejar buaya tersebut. Dalam upaya penyelamatan, warga memukul buaya menggunakan linggis hingga akhirnya hewan tersebut melepaskan gigitannya.

“Iya, ada warga yang nekat terjun membantu. Buaya sempat dipukul pakai linggis supaya lepas,” tambahnya.

Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka gigitan di bagian lengan kanan, luka di punggung sebelah kanan, serta cakaran di dada. Setelah berhasil diselamatkan, korban segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

“Anaknya langsung dibawa ke rumah sakit. Saat ini dalam kondisi kritis dan masih menjalani perawatan,” tutup Bambang.

Peristiwa ini menambah daftar kasus kemunculan buaya di wilayah perairan Bontang, khususnya kawasan rawa dan sungai. Aparat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak berenang di area terbuka, terutama saat kondisi air pasang.

Warga yang tinggal di sekitar perairan juga diminta lebih berhati-hati dan segera melapor jika melihat keberadaan buaya di sekitar permukiman guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. (MK)

Editor: Agus S

Ramadan–Lebaran, Polisi Ingatkan Warga Kukar Waspada Uang Palsu

0

TENGGARONG – Meningkatnya perputaran uang tunai menjelang Idulfitri 2026 membuat kepolisian mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi peredaran uang palsu. Aktivitas belanja kebutuhan Lebaran, pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR), hingga penukaran uang pecahan baru dinilai menjadi momen rawan penyalahgunaan.

Kabag Ops Polres Kutai Kartanegara (Kukar), Kompol Roganda, mengatakan Ramadan hingga Idulfitri kerap dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk menyisipkan uang palsu di tengah tingginya transaksi masyarakat.

“Kami mengimbau masyarakat benar-benar waspada terhadap peredaran uang palsu. Periksa setiap lembar uang yang diterima, jangan sampai lengah,” ujarnya.

Menurutnya, kelengahan sering terjadi saat transaksi berlangsung cepat, seperti di pasar takjil, pusat perbelanjaan, maupun saat penukaran uang pecahan kecil untuk kebutuhan berbagi THR kepada anak-anak.

Roganda mengingatkan masyarakat agar menerapkan metode 3D dalam memeriksa keaslian uang, yakni dilihat, diraba, dan diterawang.

Secara visual, uang asli memiliki warna dan detail cetakan yang tajam. Saat diraba, terdapat bagian tertentu yang terasa lebih kasar karena teknik cetak khusus. Sementara saat diterawang ke arah cahaya, akan terlihat benang pengaman serta tanda air yang menjadi ciri khas uang asli.

“Kalau ada yang mencurigakan, jangan ragu untuk menolak. Jangan pula mengedarkan kembali uang yang diduga palsu,” tegasnya.

Ia menekankan, mengedarkan kembali uang yang diduga palsu, meski dengan alasan tidak ingin merugi, tetap berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum.

Selain itu, Polres Kukar juga menyoroti maraknya jasa penukaran uang tidak resmi yang biasanya bermunculan di pinggir jalan menjelang Lebaran. Praktik ini dinilai berisiko karena tidak ada jaminan keaslian uang yang ditukarkan.

Masyarakat disarankan melakukan penukaran uang di bank atau lembaga resmi guna meminimalkan potensi kerugian.

“Jangan tergiur kemudahan atau selisih kecil. Pastikan menukar uang di tempat resmi agar lebih aman,” tandas Roganda.

Apabila terlanjur menerima uang yang dicurigai palsu, warga diminta segera melapor ke kantor kepolisian terdekat untuk ditindaklanjuti.

Selama Ramadan hingga Idulfitri, kepolisian memastikan akan terus melakukan sosialisasi dan pengawasan. Partisipasi masyarakat dalam memeriksa keaslian uang serta melaporkan temuan mencurigakan dinilai menjadi kunci menekan potensi peredaran uang palsu di Kukar. (MK)

Editor: Agus S

Gelapkan Racun Perusahaan, Dua Pria Muara Kaman Ditahan Polisi

0

TENGGARONG – Jajaran Polsek Muara Kaman mengungkap dugaan tindak pidana penggelapan dalam jabatan dan penadahan yang melibatkan dua pria berinisial HR dan CU. Keduanya kini telah diamankan dan menjalani proses hukum setelah diduga terlibat dalam penjualan racun rumput milik perusahaan serta penimbunan solar untuk diperjualbelikan kembali.

Kasus ini bermula dari laporan hilangnya racun rumput merek Rollup milik PT SHJ. Dari hasil penyelidikan, polisi menduga racun tersebut digelapkan oleh HR yang memiliki akses terhadap barang tersebut. Selanjutnya, racun rumput itu dijual kepada CU.

Kapolsek Muara Kaman, IPTU Herwin, mengatakan pihaknya langsung bergerak setelah menerima laporan dugaan penyimpangan tersebut.

“Kami menerima laporan adanya dugaan penggelapan racun rumput milik perusahaan. Setelah dilakukan penyelidikan, kami mengamankan dua orang yang diduga terlibat,” ujarnya.

Dalam pendalaman kasus, polisi juga menemukan dugaan tindak pidana lain. CU diduga tidak hanya membeli racun hasil penggelapan, tetapi juga membeli atau menimbun solar dari sopir-sopir truk pengangkut kayu milik PT RTS untuk kemudian dijual kembali.

“Selain racun rumput, tersangka CU juga diduga menimbun solar yang dibeli dari sopir truk pengangkut kayu untuk dijual kembali,” jelas Herwin.

Dari tangan para tersangka, polisi menyita 157 galon racun rumput merek Rollup, uang tunai sebesar Rp1 juta yang diduga hasil transaksi, serta satu unit sepeda motor Honda Supra Fit tanpa nomor kendaraan.

“Barang bukti yang kami amankan berupa 157 galon racun rumput, uang tunai satu juta rupiah, dan satu unit sepeda motor tanpa nomor kendaraan,” ungkapnya.

Saat ini, kedua tersangka telah dititipkan di Rumah Tahanan Polres Kutai Kartanegara untuk proses hukum lebih lanjut. Penyidik masih mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat, termasuk alur distribusi solar yang diduga diperjualbelikan secara ilegal.

Kapolsek menegaskan komitmennya untuk menindak tegas setiap praktik penyalahgunaan jabatan maupun penadahan yang merugikan perusahaan dan berpotensi mengganggu ketertiban masyarakat.

“Kami akan menindak tegas setiap tindak pidana yang merugikan masyarakat maupun perusahaan. Proses hukum akan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya. (MK)

Editor: Agus S

Kemunculan Paus Orca di Maratua, Rudi: Jadi Promosi Wisata

BERAU – Beberapa pekan terakhir, kemunculan paus orca di Pulau Maratua ramai dijadikan konten sosial media. Hal itu tentu berdampak positif terhadap sektor pariwisata Kabupaten Berau.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi Parasian Mangunsong menyebut kemunculan paus orca menjadi sinyal penting tentang kesehatan ekosistem laut.

Selama ini, Maratua dikenal sebagai surga penyelam dengan spot yang paling ikonik adalah barakuda Point.

“Kemunculan paus orca memberikan dimensi baru. Fenomena ini tak boleh hanya dipandang sebagai momen viral semata,” tuturnya.

“Ini harus dikaji secara ilmiah. Apakah mereka hanya melintas atau ada perubahan pola migrasi akibat faktor lingkungan, termasuk perubahan iklim global,” sambungnya.

Menurutnya, keberadaan orca bisa menjadi indikator bahwa ekosistem laut Maratua sedang dalam kondisi tertentu entah karena melimpahnya plankton, ikan atau faktor suhu perairan yang berubah.

“Jika benar rantai makanan di wilayah Pulau Maratua sedang kaya, maka itu kabar baik bagi sektor perikanan dan pariwisata,” imbuhnya.

Rudi menekankan pentingnya kolaborasi antara dinas pariwisata daerah dan instansi kelautan provinsi untuk melakukan riset terpadu.

“Data ilmiah diperlukan agar pemerintah tidak hanya bangga sesaat tetapi mampu merumuskan kebijakan berbasis konservasi,” terangnya.

Kendati demikian, fenomena ini menjadi pengingat bahwa pariwisata masa depan bukan lagi sekadar eksploitasi panorama, melainkan pengelolaan ekologi secara berkelanjutan.

“Maratua kini tidak hanya dikenal sebagai destinasi diving kelas dunia, tetapi juga berpotensi menjadi laboratorium alam untuk memahami dinamika mamalia laut di perairan tropis,” pungkasnya. (adv)

Sistem Pengelolaan Sampah di Pasar SAD Perlu Dibenahi

BERAU – Pengelolaan sampah di Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD) disorot Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi. Dirinya mendorong adanya pembenahan.

Dia menuturkan, pengelolaan sampah di pasar tersebut belum maksimal, sehingga perlu adanya langkah serius dari pemerintah daerah.

“Dari dulu saya lihat pengelolaannya belum maksimal. Kalau kita lewat di belakang pasar, sampah sayur itu terlihat sangat banyak,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, salah satu kendala yang terjadi adalah keterbatasan petugas dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Berau yang bertanggung jawab terhadap pengangkutan sampah.

“Tetapi kondisi ini tidak sepenuhnya bisa dibebankan kepada DLHK, apalagi di tengah keterbatasan anggaran daerah,” ungkapnya.

Dia menekankan pentingnya jadwal pengangkutan sampah yang lebih rutin, terutama sisa sayur dari aktivitas pasar, seharusnya tidak dibiarkan menumpuk hingga berhari-hari.

“Kalau bisa pengangkutan dilakukan lebih sering, misalnya pagi, siang, dan sore. Jangan sampai menumpuk sampai tiga hari, karena volumenya sangat besar,” tegasnya.

Dengan sistem yang lebih teratur dan pembagian jadwal pengangkutan yang jelas, Sumadi berharap persoalan sampah di Pasar Sanggam Adji Dilayas dapat teratasi.

“Menjaga kebersihan dan kenyamanan aktivitas perdagangan di pasar harus menjadi perhatian,” pungkasnya. (adv)

Usai Musrenbang, Kebutuhan Dasar Masyarakat jadi Catatan Penting

BERAU – Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto menyebut usulan pembangunan dari kampung-kampung yang disampaikan dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) sebagian besar berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Dia mengatakan, meski saat ini pemerintah daerah dalam kondisi efisiensi anggaran, kebutuhan dasar masyarakat tetap harus menjadi perhatian utama.

“Karena itu kami berharap usulan-usulan yang sudah direalisasikan pada 2026 bisa dilanjutkan lagi pada 2027, terutama yang sifatnya lanjutan pembangunan,” ujarnya.

Dirinya juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan menuju wilayah pesisir yang dinilai sudah cukup baik. Bahkan sebagian besar ruas jalan di kawasan tersebut telah beraspal dan dapat dilalui dengan nyaman.

“Kalau kita melihat jalan ke pesisir, itu sudah sangat bagus. Hampir semua sudah aspal,” katanya.

Namun demikian, Dedy Okto berharap pada tahun anggaran 2027 nanti pemerintah daerah dapat mengalihkan prioritas pembangunan ke wilayah pedalaman, khususnya Kecamatan Kelay, yang masih membutuhkan peningkatan infrastruktur.

“Karena memang itu sangat diharapkan masyarakat,” tegasnya.

Kendati demikian, pemerataan pembangunan infrastruktur menjadi hal penting agar seluruh wilayah di Kabupaten Berau dapat merasakan manfaat pembangunan secara adil, baik kawasan pesisir maupun pedalaman.

“Pembangunan mengenai kebutuhan dasar masyarakat menjadi catatan penting. Maka dari itu harus dikawal hingga terealisasi,” tandasnya. (adv)