Beranda blog Halaman 144

DPRD Berau Dorong Pemasangan Hydrant Siaga di Wilayah Padat Penduduk

BERAU – Upaya penguatan sistem mitigasi kebakaran di kawasan permukiman menjadi sorotan DPRD Berau. Anggota DPRD Berau, Ichsan Rapi, menilai pemasangan hydrant di titik-titik strategis merupakan langkah preventif untuk meminimalisir risiko kebakaran.

Dikatakannya, sejumlah wilayah padat penduduk di Bumi Batiwakkal masih kerap menghadapi kendala akses air saat terjadi kebakaran, dan membuat proses pemadaman kurang maksimal.

“Memang kita membutuhkan beberapa titik yang harus dipasang hydrant. Ini sangat penting untuk membantu pemadam supaya tidak terlalu kesusahan saat terjadi kebakaran,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan hydrant akan memudahkan petugas pemadam kebakaran mendapatkan sumber air secara cepat tanpa harus mencari suplai dari lokasi yang jauh.

“Saya sangat mendukung usulan pemasangan hydrant di setiap kelurahan sebagai bagian dari langkah antisipatif jangka panjang,” katanya.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya pemetaan wilayah rawan kebakaran terlebih dulu agar penempatan fasilitas tersebut tepat sasaran.

Selain itu, ia juga mendorong koordinasi lintas instansi agar perencanaan hingga pelaksanaan program berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Jangan sampai hanya menjadi pelengkap infrastruktur, tetapi tidak bisa digunakan saat dibutuhkan,” tutupnya. (adv)

DPRD Berau Dorong Edukasi Seksual Sejak Dini

BERAU – Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menyoroti lonjakan kasus asusila terhadap anak di Kabupaten Berau. Ia mendorong langkah edukatif di lingkungan keluarga dan sekolah guna mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

Elita menilai, sebagian besar kasus terjadi karena anak belum memiliki pemahaman memadai tentang batasan tubuh dan tidak mampu mengenali situasi berbahaya.

“Banyak anak berada dalam tekanan atau ancaman dari pelaku yang justru berasal dari lingkungan terdekat. Ini yang harus jadi perhatian kita,” ujarnya.

Menurutnya, dampak kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya bersifat sementara, tetapi bisa meninggalkan trauma panjang yang memengaruhi perkembangan psikologis korban hingga dewasa.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya peran orang tua sebagai garda terdepan dalam perlindungan anak. Anggapan bahwa pendidikan seksual adalah topik yang tidak pantas dibicarakan dinilai justru membuka celah kerentanan.

Elita pun mendorong penguatan sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah agar upaya perlindungan anak berjalan lebih efektif.

“Kita berharap angka kasus asusila terhadap anak dapat ditekan dan anak-anak bisa tumbuh dalam lingkungan yang aman,” tutupnya. (adv)

Minta Pemetaan Pembangunan Lebih Detail

BERAU – Pembangunan di Kecamatan Kelay dinilai tidak bisa disamaratakan dengan wilayah lain di Kabupaten Berau. Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris, menegaskan perlunya strategi khusus yang disesuaikan dengan karakter geografis dan sosial masyarakat setempat.

Ia menjelaskan, Kelay memiliki tiga zona utama dengan kebutuhan berbeda, yakni kawasan di jalur jalan poros, wilayah bantaran Sungai Kelay, serta permukiman kampung seperti Lesan dan sekitarnya.

“Kondisi ini membuat perencanaan pembangunan tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama,” katanya.

Menurutnya, kawasan di sepanjang jalan poros cenderung membutuhkan penguatan infrastruktur pendukung aktivitas ekonomi dan konektivitas.

“Sementara masyarakat di bantaran sungai lebih memerlukan fasilitas penunjang transportasi air dan pengamanan wilayah,” ujarnya.

Adapun kampung-kampung pedalaman seperti Lesan, kata dia, masih tertahan pada kebutuhan dasar, mulai dari akses jalan hingga sarana pelayanan publik.

“Karakter tiap wilayah berbeda. Program pembangunan harus benar-benar disesuaikan agar manfaatnya merata dan tidak menimbulkan ketimpangan,” ungkapnya.

Gideon mengatakan, sebagian besar aspirasi masyarakat Kelay masih terfokus pada pemenuhan infrastruktur dasar dan fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari.

“Ini sangat berbeda dengan kecamatan lain yang mulai mengusulkan program pengembangan sektor unggulan atau peningkatan ekonomi,” tuturnya.

DPRD Berau, lanjutnya, akan terus mengawal agar organisasi perangkat daerah (OPD) teknis melakukan pemetaan kebutuhan secara komprehensif.

“Saya berharap kebijakan pembangunan di Kelay bisa tepat sasaran dan selaras dengan regulasi yang berlaku,” pungkasnya. (adv)

ADK Turun 50 Persen, Dorong Kampung Perkuat Kemandirian Fiskal

BERAU – Penurunan Alokasi Dana Kampung (ADK) hingga 50 persen menjadi sorotan serius DPRD Berau. Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menyebut kondisi tersebut sebagai tanda peringatan bagi pemerintah maupun pihak swasta agar segera merumuskan solusi konkret demi menjaga stabilitas pembangunan di tingkat kampung.

Menurut Sumadi, ketergantungan kampung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak bisa terus dipertahankan. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, hingga perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah kampung untuk menciptakan sumber pendapatan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

“Di Kecamatan Segah ada 13 kepala kampung dan 22 perusahaan. Kalau satu perusahaan saja bisa mendukung satu kampung, persoalan pendanaan sebenarnya bisa diatasi. Tinggal komitmen kita bersama untuk mengawal,” ujarnya.

Ia menilai, keberadaan perusahaan di sekitar kampung seharusnya tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek, melainkan juga mendorong program pemberdayaan ekonomi yang berdampak jangka panjang. Sumadi menegaskan, bantuan seperti kendaraan operasional atau dana hibah sesaat tidak cukup untuk menjamin kemandirian fiskal kampung.

Sebagai solusi, ia mendorong setiap kampung memanfaatkan lahan produktif yang dimiliki untuk dikembangkan menjadi sumber Pendapatan Asli Kampung (PAK). Komoditas seperti kelapa sawit, kakao, maupun kelapa dinilai memiliki potensi besar jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

Sumadi mencontohkan, terdapat kampung yang hanya memiliki lahan 10 hektare namun mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp500 juta per tahun. Hal itu, menurutnya, membuktikan bahwa pengelolaan aset secara optimal dapat meningkatkan kemandirian keuangan kampung.

“Kalau setiap kampung punya minimal 10 sampai 20 hektare lahan produktif dan dikelola dengan baik, 20 hektare bisa menghasilkan Rp600 juta sampai Rp1 miliar per tahun. Ini yang harus kita dorong,” jelasnya.

Selain itu, Sumadi juga menyoroti penyusutan luas lahan operasional PT Berau Coal yang sebelumnya mencapai 108 ribu hektare dan kini menjadi sekitar 70 ribu hektare. Ia meminta pemerintah daerah mengawal pemanfaatan sisa sekitar 30 ribu hektare lahan yang dilepas agar dapat dimaksimalkan untuk kepentingan masyarakat dan mendukung PAK jangka panjang.

Menurutnya, pelepasan lahan tersebut harus menjadi peluang strategis untuk memperkuat ekonomi kampung, bukan justru menimbulkan persoalan baru dalam tata kelola aset.

“Perusahaan di Segah harus berpikir jangka panjang. Bantuan bersifat sementara seperti ambulans atau Rp10 juta tidak cukup. Kampung harus bisa mandiri dan punya sumber pendapatan tetap,” pungkasnya. (adv)

Soroti Kesenjangan Pembangunan di Kelay

BERAU – Pemerataan pembangunan di wilayah pedalaman kembali menjadi perhatian serius anggota DPRD Berau, Gideon Andris.

Dirinya menilai hingga saat ini masih terjadi kesenjangan pembangunan antara Kelay dan sejumlah kecamatan lain di Kabupaten Berau.

Menurut Gideon, ada empat sektor krusial yang harus menjadi prioritas pemerintah daerah untuk mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat pedalaman, yakni pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, dan jaringan telekomunikasi.

“Empat sektor ini adalah fondasi utama. Jika tidak dibenahi secara serius, sulit berharap kesejahteraan masyarakat pedalaman bisa sejajar dengan wilayah perkotaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam setiap agenda reses yang digelarnya, persoalan infrastruktur jalan selalu menjadi keluhan utama warga. Akses penghubung antarkampung di Kelay dinilai masih terbatas, bahkan di beberapa titik belum memadai untuk mendukung mobilitas orang dan distribusi barang.

Kondisi tersebut, lanjutnya, diperumit dengan status sebagian wilayah Kelay yang masuk dalam Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK). Hal ini membuat pembangunan infrastruktur fisik, terutama jalan, harus melalui proses regulasi yang tidak sederhana.

“Sebagian wilayah kita masuk KBK, sehingga pembangunan jalan menghadapi sejumlah kendala administrasi dan perizinan. Ini perlu koordinasi lintas sektor agar tidak terus menjadi hambatan,” jelasnya.

Di sektor pendidikan, Gideon menyoroti minimnya tenaga pengajar yang bersedia bertugas di wilayah pedalaman. Ia mengakui, keterbatasan fasilitas serta akses yang cukup sulit menjadi faktor utama rendahnya minat guru untuk ditempatkan di Kelay.

“Tenaga pendidik sangat sulit didapatkan di Kelay. Perlu kebijakan insentif khusus dan dukungan fasilitas, baik perumahan maupun tunjangan tambahan, agar guru mau dan betah mengabdi,” tegasnya.

Selain pendidikan, layanan kesehatan juga menjadi perhatian serius. Menurutnya, masyarakat pedalaman masih menghadapi tantangan dalam mengakses fasilitas kesehatan yang memadai dan tenaga medis yang lengkap. Dalam situasi darurat, keterbatasan akses jalan dan komunikasi bisa berdampak besar terhadap keselamatan warga.

Tak kalah penting, ia menekankan urgensi penguatan jaringan telekomunikasi. Kestabilan sinyal dan akses internet dinilai bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian dari pelayanan dasar, termasuk untuk mendukung pendidikan berbasis digital dan layanan administrasi pemerintahan.

“Layanan kesehatan yang mudah dijangkau dan komunikasi yang lancar bukan sekadar penunjang aktivitas, tetapi juga menyangkut keselamatan warga,” katanya.

Gideon menegaskan komitmennya untuk terus mengawal aspirasi masyarakat pedalaman dalam setiap pembahasan anggaran dan program pembangunan di DPRD. Ia berharap ada keberpihakan nyata terhadap wilayah-wilayah yang selama ini masih tertinggal dari sisi infrastruktur dan layanan dasar.

“Ini tanggung jawab saya sebagai legislator. Saya akan terus kawal aspirasi masyarakat pedalaman, terutama akses jalan dan fasilitas dasar lainnya, agar pembangunan benar-benar dirasakan merata,” pungkasnya. (adv)

Ingatkan Pentingnya Pemeliharaan RKB

BERAU – Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menegaskan bahwa pembangunan fasilitas pendidikan di Kabupaten Berau harus diiringi dengan komitmen pemeliharaan yang berkelanjutan.

Menurutnya, ruang kelas baru (RKB) yang dibangun setiap tahun melalui anggaran daerah tidak boleh hanya berhenti pada tahap peresmian, tetapi harus dirawat agar dapat dimanfaatkan secara optimal dalam jangka panjang.

Elita menyampaikan, setiap tahun Pemerintah Kabupaten Berau melalui instansi teknis terus mengalokasikan anggaran cukup besar untuk peningkatan sarana dan prasarana sekolah.

Pembangunan RKB tersebar di berbagai kampung dan kecamatan sebagai upaya pemerataan akses pendidikan. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan fisik semata.

“Perhatian tidak bisa berhenti pada seremonial peresmian saja. Setelah RKB dibangun, pemeliharaan menjadi tanggung jawab kita bersama. Kalau tidak dirawat, bangunan yang baru pun bisa cepat rusak,” ujarnya.

Menurutnya, perawatan rutin perlu dilakukan secara berkala, terutama pada bagian-bagian vital seperti atap, plafon, instalasi listrik, lantai, hingga kebersihan ruang kelas. Ia menilai, kerusakan kecil yang diabaikan berpotensi berkembang menjadi kerusakan besar yang justru akan menyedot anggaran lebih besar untuk perbaikan.

“Kerusakan ringan harus segera ditangani dan dilaporkan. Jangan menunggu sampai rusak parah baru diperbaiki, karena itu akan membebani anggaran lagi. Laporan dari sekolah harus cepat ditindaklanjuti,” tegasnya.

Elita juga mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Berau untuk memastikan adanya alokasi anggaran khusus pemeliharaan dalam setiap perencanaan pembangunan sarana pendidikan. Ia menilai, selama ini fokus anggaran cenderung lebih besar pada pembangunan fisik, sementara aspek perawatan belum memiliki sistem yang kuat dan terencana.

Menurutnya, diperlukan koordinasi yang solid antara pihak sekolah, dinas terkait, dan pemerintah daerah agar fasilitas pendidikan tetap dalam kondisi layak pakai. Ia menegaskan, Komisi I DPRD Berau akan terus menjalankan fungsi pengawasan guna memastikan pembangunan dan pemeliharaan berjalan seimbang.

“Kami akan tetap melakukan fungsi pengawasan. Pembangunan sudah bagus, tetapi sistem perawatan yang berkelanjutan juga harus jelas dan terukur,” tambahnya.

Lebih lanjut, Elita berharap seluruh elemen sekolah, mulai dari kepala sekolah, tenaga pendidik, hingga siswa, turut memiliki rasa tanggung jawab dalam menjaga fasilitas yang telah dibangun. Lingkungan belajar yang bersih, aman, dan nyaman dinilainya sangat berpengaruh terhadap kualitas proses belajar mengajar.

Ia pun optimistis, dengan pemeliharaan yang konsisten dan koordinasi yang baik antarinstansi, fasilitas pendidikan di Kabupaten Berau akan mampu bertahan lama dan terus mendukung peningkatan kualitas pendidikan daerah.

“Fasilitas yang baik harus dirawat bersama. Ini demi kenyamanan anak-anak kita dalam menempuh pendidikan,” pungkasnya. (adv)

Dari Buka Puasa Bersama, Awal Kerja Forum DAS Kaltim

Sabtu sore (7/3), Ballroom Hotel Midtown Samarinda mulai ramai. Meja-meja bundar sudah tertata rapi dengan taplak putih. Kursi berbalut kain kuning mengelilinginya. Di depan ruangan terbentang spanduk bertuliskan Buka Puasa Bersama dan Silaturahmi Penasihat Ahli dan Pengurus Forum DAS Kalimantan Timur 2025–2030.

Tamu datang satu per satu. Ada yang langsung duduk, ada yang berdiri sebentar menyapa teman lama. Suasananya santai. Obrolan ringan mengalir sambil menunggu waktu berbuka.

Acara ini bukan pelantikan resmi. Pelantikan pengurus Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kalimantan Timur (Forum DAS Kaltim) semula direncanakan berlangsung Januari 2026 lalu. Namun waktunya belum memungkinkan. Pertemuan sore kemarin lebih sebagai silaturahmi awal setelah terbitnya SK Gubernur Kaltim tentang kepengurusan Forum DAS Kaltim periode 2025–2030.

Saya hadir sebagai salah satu pengurus forum ini. Ketika sebelumnya dihubungi untuk masuk dalam jajaran pengurus, saya langsung mengiyakan. Bidang ini tidak jauh dari latar belakang keilmuan saya di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Fahutan Unmul).

Saya bersama Dr. Sarkowi V. Zahry, H.M. Darlis Pattalongi, dan Dwi Purnomosidhi pada acara buka puasa bersama Forum DAS Kaltim di Samarinda. Foto: Istimewa
Saya bersama Hasanuddin Mas’ud. Foto: Istimewa

Menariknya, dari yang hadir sore itu sebagian besar sebenarnya sudah saya kenal lama. Banyak di antaranya satu almamater dengan saya di Fahutan Unmul.

Prof. Daddy Ruhiyat, misalnya. Saat saya masih aktif kuliah dulu, beliau menjabat sebagai Dekan Fahutan. Sosok yang tentu tidak asing bagi mahasiswa kehutanan pada masa itu.

Saya juga bertemu Dwi Purnomosidhi, mantan anggota DPRD Samarinda. Wajah lain yang juga sudah lama saya kenal adalah H. M. Darlis Pattalongi, anggota DPRD Kaltim sekarang. Kami sudah saling mengenal sejak saya masih aktif menjadi wartawan sekitar tahun 2004.

Begitu juga dengan anggota DPRD Kaltim Dr. Sarkowi V. Zahry. Bagi saya pribadi, beliau bukan sekadar politisi. Ia juga salah satu orang yang banyak memberi pelajaran tentang dunia jurnalistik ketika saya masih aktif menjadi wartawan.

Sementara Hasanuddin Mas’ud, meskipun saya sudah lama mengenalnya sebagai politisi Golkar dan Ketua DPRD Kaltim, justru baru pada kesempatan ini saya bisa berbincang lebih dekat dan berkenalan dalam suasana yang lebih santai.

Beberapa nama lain yang hadir juga tidak asing. Banyak di antaranya para alumni kehutanan, dosen Fakultas Kehutanan Unmul, serta orang-orang yang selama ini memang bergelut di isu lingkungan.

Forum DAS Kaltim sendiri dipimpin Dr. Ir. H. Hasanuddin Mas’ud, S.Hut., M.E. sebagai Ketua Umum dengan Dr. Saut Marisi H. sebagai Ketua Harian.

Di jajaran wakil ketua terdapat Dr. Sarkowi V. Zahry, H. M. Darlis Pattalongi, Ir. H. Agus Suwandy, dan Prof. Dr. Muhammad Husni Fahruddin.

Sekretaris dijabat Dr. H. Agus Setiawan, didampingi Asbudin sebagai wakil sekretaris, sementara bendahara dipercayakan kepada Melan Hasanah.

Prof Daddy Ruhiyat menyampaikan pandangan dalam diskusi santai pada acara buka puasa bersama Forum DAS Kaltim di Hotel Midtown Samarinda. Foto: Agus S

Forum ini juga diperkuat sejumlah akademisi dan pakar sebagai penasihat ahli, di antaranya Prof. Daddy Ruhiyat, Prof. Soeyitno Soedirman, Prof. Marlon Ivanhoe Aipassa, Prof. Sigit Hardwinarto, Dr. Mislan, Prof. Iwan Suyatna, Ir. Niel Makinuddin, dan Dr. Tunggul Butarbutar.

Namun dalam acara buka puasa kemarin, dari jajaran penasihat ahli yang hadir hanya Prof. Daddy Ruhiyat dan Ir. Niel Makinuddin.

Dalam sambutannya, Ketua Forum DAS Kaltim Hasanuddin Mas’ud mengatakan forum ini memiliki posisi penting dalam pengelolaan lingkungan di Kaltim. “Forum DAS ini sebenarnya sangat strategis. Ia bisa menjadi benteng terakhir mitigasi lingkungan,” ujarnya.

Ia menyinggung berbagai persoalan yang berkaitan dengan daerah aliran sungai. Mulai dari aktivitas tambang, perkebunan, hingga alih fungsi lahan yang berdampak pada lingkungan.

Suasana diskusi santai pengurus Forum DAS Kaltim menjelang buka puasa bersama di Hotel Midtown Samarinda. Foto: Agus S

Menurutnya, banyak persoalan lingkungan di Kaltim tidak bisa dilepaskan dari kondisi daerah aliran sungai, termasuk banjir yang hampir setiap tahun terjadi di berbagai daerah.

Karena itu ia berharap Forum DAS dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah, bahkan masuk dalam perencanaan pembangunan seperti RPJMD maupun RKPD.

Sementara itu Prof. Daddy Ruhiyat menekankan pentingnya inovasi dari para anggota forum agar fungsi pengelolaan DAS dapat berjalan maksimal.

Menurutnya tantangan pengelolaan lingkungan di Kaltim akan semakin besar, terlebih dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).

Menjelang waktu berbuka, percakapan di meja-meja sempat terhenti. Gelas minuman mulai terangkat. Hidangan di meja perlahan disantap.

Tak lama kemudian azan Magrib berkumandang. Sebagian peserta menuju mushala hotel untuk menunaikan salat Magrib. Sebagian lainnya tetap di ruangan, berbincang ringan sambil menunggu rekan-rekan yang sedang beribadah.

Setelah salat Magrib, para peserta kembali ke ruangan. Suasana semakin cair. Percakapan kembali mengalir. Ada yang berbagi pengalaman lapangan, ada pula yang mulai membahas berbagai persoalan lingkungan di Kaltim.

Pertemuan sore itu memang hanya buka puasa bersama. Tetapi dari situlah percakapan dimulai. Dan bagi Forum DAS Kaltim, silaturahmi sore itu menjadi awal untuk mulai bekerja bersama menjaga daerah aliran sungai di Kaltim.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

SMURP Serukan Boikot Produk Terafiliasi Israel-Amerika Usai Serangan ke Iran

0

JAKARTA – Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat Palestina (SMURP) menggelar aksi solidaritas di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2026). Aksi tersebut menjadi bentuk protes terhadap serangan militer yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Koordinator SMURP, Andrian, menyebut serangan tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa gerakan boikot terhadap produk yang terafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat tidak boleh berhenti.

“Serangan militer Israel-Amerika yang dilancarkan terhadap Iran ini jadi pengingat kita bahwa agenda boikot produk terafiliasi Israel dan Amerika, tidak boleh dan tidak pernah akan berakhir,” ujar Andrian kepada awak media di lokasi aksi.

Menurutnya, gerakan boikot yang selama ini digaungkan di Indonesia sebenarnya telah memberikan dampak terhadap pola konsumsi masyarakat. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya penggunaan produk-produk dalam negeri.

Namun ia menilai dalam beberapa waktu terakhir semangat boikot mulai terlihat menurun. Karena itu, situasi geopolitik terbaru di Timur Tengah dinilai perlu menjadi momentum untuk kembali menguatkan kampanye tersebut.

“Kita sesungguhnya sudah dapat melihat hasil kampanye boikot selama ini. Ada peralihan penggunaan masyarakat Indonesia kepada produk-produk nasional. Tetapi belakangan kayaknya spirit boikot mulai agak berkurang. Serangan terhadap Iran ini harus menjadi momentum aksi boikot produk Israel dan Amerika,” katanya.

SMURP juga menyebut daftar produk yang menjadi sasaran boikot masih merujuk pada daftar yang pernah dirilis Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) pada 2024.

“Belum ada perubahan. Kami masih merujuk pada daftar produk boikot yang dirilis YKMI beberapa tahun lalu. Buat kami, daftar tersebut masih sangat relevan,” ujar Andrian.

Beberapa produk yang tercantum dalam daftar tersebut antara lain Starbucks, Danone Aqua, Nestle, Zara, Kraft Heinz, Unilever, Coca Cola Group, McDonalds, Mondelez, Burger King, serta sejumlah produk kurma asal Israel.

Selain menyerukan boikot produk, SMURP juga menyampaikan tuntutan politik kepada pemerintah Indonesia. Mereka meminta Presiden Prabowo Subianto keluar dari Board of Peace (BoP) yang disebut sebagai inisiatif mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Kami mendesak Presiden Prabowo untuk keluar dari BoP karena lembaga tersebut hanya akan menjadi alat legitimasi Amerika dan Israel untuk berbuat semaunya menyerang Palestina, negara Muslim dan negara lainnya. Ini tidak sejalan dengan amanat konstitusi yang mendukung kemerdekaan semua bangsa dan menolak segala bentuk penjajahan,” tutup Andrian.

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S

BEM SI Desak Pemerintah Keluar dari Board of Peace dalam Aksi Solidaritas Palestina

0

JAKARTA – Aksi solidaritas untuk Palestina kembali digelar di kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2026). Dalam aksi tersebut, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Muzammil Ihsan, secara terbuka mendesak pemerintah Indonesia untuk keluar dari Board of Peace (BoP).

Aksi yang diikuti oleh sejumlah organisasi mahasiswa serta koalisi masyarakat sipil itu menjadi forum penyampaian aspirasi terkait dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sekaligus kritik terhadap keterlibatan Indonesia dalam lembaga internasional tersebut.

Dalam orasinya di hadapan massa aksi, Muzammil Ihsan menilai langkah pemerintah yang bergabung dalam BoP tidak sejalan dengan sikap Indonesia yang selama ini dikenal konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina.

“Saudaraku-saudaraku semua sebangsa dan setanah air, kita melihat hari ini pemerintahan Republik Indonesia yang tadinya menyiapkan niat baik untuk perdamaian dunia, tetapi yang kita lihat adalah mereka masuk ke dalam lubang-lubang kemunafikan,” kata Muzammil Ihsan dalam orasinya.

Ia menegaskan bahwa lembaga yang diklaim sebagai forum perdamaian dunia tersebut justru dinilai tidak memberikan kontribusi nyata dalam menghentikan konflik yang terus terjadi di Palestina.

“Ketika lembaga perdamaian dunia katanya yang tidak mendamaikan dunia, maka kita tuntut pemerintah Republik Indonesia untuk keluar dari BoP,” ujarnya.

Selain menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, Muzammil juga mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak bersikap pasif terhadap dinamika geopolitik global yang dinilainya semakin memengaruhi kehidupan masyarakat dunia.

“Hari ini pemuda Indonesia tidak lagi boleh diam terhadap apa yang kita lihat sekarang. Kita melihat Zionis-Zionis Israel dan Amerika telah membalikkan dunia untuk kepentingan politiknya,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung potensi dampak konflik global terhadap kondisi ekonomi dan energi nasional. Menurutnya, pemerintah harus memastikan stabilitas pasokan energi dan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.

“Maka kita menuntut Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan bahwa pasokan energi dan ekonomi kita tetap berjalan dan tidak merugikan masyarakat,” tutur Muzammil.

Sepanjang aksi berlangsung, massa membawa berbagai poster serta spanduk yang berisi tuntutan agar pemerintah Indonesia keluar dari Board of Peace dan mempertegas dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Aparat kepolisian terlihat melakukan pengawalan selama aksi berlangsung. Arus lalu lintas di sekitar kawasan Silang Monas tetap berjalan meskipun sempat melambat akibat konsentrasi massa di sekitar lokasi demonstrasi.

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S

Pedagang Pasar Sepaku Diundang Buka Puasa, Bahas Polemik Pembagian Lapak

0
NUSANTARA — Polemik pembagian kios dan los di Pasar Segar Sepaku yang belakangan ramai disorot publik mulai memicu respons dari pihak terkait. Sejumlah pedagang yang sebelumnya dilaporkan tidak mendapatkan lapak kini diundang untuk menghadiri pertemuan guna membahas persoalan tersebut.
Informasi mengenai pertemuan itu beredar melalui pesan WhatsApp yang diterima sejumlah pedagang pada Sabtu (7/3/2026) sore. Dalam undangan tersebut, para pedagang diminta hadir pada pukul 18.00 WITA di Masjid Negara untuk mengikuti buka puasa bersama sekaligus membahas persoalan lapak pasar.
Berikut isi undangan yang beredar di kalangan pedagang:
“Yth Bapak dan Ibu berkenan untuk hadir pada undangan kami di Masjid Negara Jam 18.00 WITA untuk:
1.Buka puasa bersama
2.Membahas tentang lapak pasar
Demikian undangan ini kami sampaikan.
Wassalamualaikum Wr. Wb.”
Muslikah, salah satu pedagang yang sebelumnya mengaku tidak mendapatkan kios di Pasar Segar Sepaku, mengaku menerima undangan digital tersebut. Awalnya ia sempat meragukan keabsahan informasi itu sebelum akhirnya mencoba memastikan kebenarannya.
Menurut Muslikah, undangan tersebut dikirim oleh salah satu pihak yang terlibat dalam pengurusan pembangunan pasar.
“Saya akan hadir pak. Semoga ada solusi di pertemuan nanti,” tegas pemilik kios “Warung Mba Mus” itu.
Pertemuan ini menjadi perhatian karena sebelumnya sejumlah pedagang lama mengeluhkan tidak mendapatkan kios atau los di pasar baru meskipun mereka telah terdaftar dalam data calon pedagang.
Terpisah, Deputi Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, membenarkan adanya undangan pertemuan tersebut.
“Iya, beberapa orang kan,” jelas Alimuddin saat dikonfirmasi Media Kaltim pada Sabtu sore (7/3/2026).
Para pedagang berharap pertemuan tersebut dapat menjadi ruang dialog yang menghasilkan solusi atas persoalan pembagian lapak yang selama ini menjadi polemik.
Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S