JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan global. Bank sentral belum berencana mengubah strategi intervensi karena gejolak yang terjadi dinilai masih merupakan dinamika pasar yang terus dicermati.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi dinamika permintaan dan penawaran (supply and demand). Karena itu, BI terus memantau perkembangan nilai tukar sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya.
“Ya, kita (BI) tetap ada di pasar. Ya, ini tergantung supply demand hari ini, ya mungkin lagi. Ya, pokoknya tetaplah. Tetap ya, tetap kita monitor pergerakannya,” kata Destry setelah menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Saat ditanya mengenai kemungkinan perubahan strategi intervensi untuk meredam gejolak rupiah, Destry menyatakan belum ada rencana untuk mengubah pendekatan tersebut.
Ia menilai volatilitas yang terjadi masih merupakan dinamika pasar yang terus dipantau BI. Bank sentral juga mencermati faktor mendasar yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.
“Enggak, enggak. Ini kita ya (menghadapi) volatility biasa, ya. Tapi kita kan ada terus monitor, ya. Kita lihat root-cause-nya juga,” ujarnya.
Di pasar valuta asing, rupiah tercatat melemah 0,30 persen ke level Rp18.135 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia turut menjadi perhatian pasar. Mengutip Xinhua, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember ditutup pada level 116,72 dolar AS per barel pada Sabtu (24/10/2026), naik 3,14 persen. Harga tersebut dilaporkan mencapai level tertinggi sejak akhir April.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember ditutup pada level 103,27 dolar AS per barel, menguat 3,82 persen.
Pergerakan harga minyak dan perkembangan geopolitik menjadi bagian dari dinamika global yang dicermati pelaku pasar. BI menyatakan akan terus memantau pergerakan rupiah dan menilai faktor-faktor yang memengaruhinya. (ANT/KN)














