Beranda blog Halaman 13

RSUD Bontang Minta Alarm Kebakaran di Setiap Ruangan Diperiksa Ulang, Gedung Lama Jadi Perhatian

0
Kepala Bagian Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) RSUD Taman Husada Bontang, Muhammad Hatta, saat memberikan keterangan seusai kegiatan simulasi di lingkungan rumah sakit. (Dwi S/Radar Bontang)

BONTANG – Sistem peringatan dini kebakaran di RSUD Taman Husada Bontang menjadi perhatian manajemen rumah sakit. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) diminta memeriksa ulang alarm kebakaran di setiap ruangan, terutama gedung utama atau gedung lama. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh perangkat berfungsi optimal sehingga potensi kebakaran dapat segera terdeteksi sebelum membahayakan pasien, tenaga kesehatan, maupun pengunjung.

Kepala Bagian Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) RSUD Taman Husada Bontang, Muhammad Hatta, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Disdamkartan untuk melakukan pemeriksaan terhadap sistem alarm kebakaran di lingkungan rumah sakit.

Permintaan tersebut disampaikan pekan lalu sebagai bagian dari evaluasi kesiapan sarana keselamatan, khususnya pada bangunan yang telah lama digunakan untuk pelayanan kesehatan.

“Untuk minggu lalu memang pihak kami memanggil Disdamkartan untuk mengecek kondisi alarm kebakaran di setiap ruangan RSUD, khususnya di gedung utama. Kami meminta untuk bisa dicek ulang,” ujar Hatta, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, pemeriksaan ulang diperlukan untuk memastikan perangkat peringatan dini benar-benar dapat digunakan apabila terjadi keadaan darurat.

Terlebih, aktivitas pelayanan di rumah sakit berlangsung setiap hari dan melibatkan pasien dengan kondisi kesehatan berbeda, termasuk mereka yang membutuhkan bantuan petugas apabila harus dievakuasi.

Karena itu, kesiapan sistem proteksi kebakaran menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keselamatan seluruh penghuni dan pengguna layanan rumah sakit.

Menindaklanjuti koordinasi tersebut, Disdamkartan Bontang telah melakukan inspeksi sarana dan sistem proteksi kebakaran di RSUD Taman Husada pada Kamis (22/10/2026).

Pemeriksaan dipimpin Inspektur Kebakaran Nyoto Siswoyo bersama Penyuluh Kebakaran Rudi Kuncoro dan tim Seksi Pencegahan Kebakaran dan Pemberdayaan Masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, petugas melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan sarana proteksi kebakaran aktif maupun pasif di lingkungan rumah sakit.

Proteksi aktif mencakup perangkat yang digunakan untuk mendeteksi dan menangani kebakaran, termasuk alarm serta peralatan pemadaman. Sementara proteksi pasif berkaitan dengan unsur keselamatan bangunan yang membantu membatasi penyebaran api dan mendukung proses evakuasi.

Kepala Disdamkartan Bontang, Amiluddin, melalui Kepala Seksi Pencegahan Kebakaran dan Pemberdayaan Masyarakat, Zainal, mengatakan inspeksi dilakukan untuk memastikan seluruh sarana keselamatan kebakaran tidak sekadar tersedia secara fisik, tetapi juga layak digunakan.

“Kami ingin memastikan sarana proteksi kebakaran tidak hanya tersedia, tetapi juga dalam kondisi layak dan siap digunakan apabila terjadi keadaan darurat,” ujar Zainal.

Menurutnya, pemeriksaan menjadi bagian dari langkah pencegahan agar potensi gangguan pada sistem proteksi kebakaran dapat diketahui lebih awal.

Disdamkartan juga mendorong manajemen rumah sakit melakukan evaluasi dan pemeliharaan secara berkala terhadap seluruh perangkat keselamatan kebakaran.

Hasil pemeriksaan diharapkan menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut apabila ditemukan sarana yang memerlukan perawatan, perbaikan, maupun penyesuaian.

Namun, dalam keterangan yang disampaikan, belum dirinci apakah inspeksi tersebut menemukan alarm yang tidak berfungsi atau perangkat proteksi kebakaran yang harus segera diperbaiki.

Pemeriksaan ulang yang diminta manajemen RSUD terutama diarahkan untuk memastikan kesiapan sistem peringatan dini pada gedung utama, mengingat bangunan tersebut masih digunakan dalam aktivitas pelayanan kesehatan.

Zainal menegaskan pentingnya memastikan seluruh sarana proteksi kebakaran selalu dalam kondisi siap digunakan, bukan hanya ketika dilakukan pemeriksaan.

“Kami ingin memastikan sarana proteksi kebakaran tidak hanya tersedia, tetapi juga dalam kondisi layak dan siap digunakan apabila terjadi keadaan darurat,” tegasnya. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

Bahlil Bongkar Dugaan Tambang di Kebun Sawit, Sejumlah Perusahaan Mulai Diperiksa

0

JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap dugaan aktivitas pertambangan di kawasan perkebunan kelapa sawit. Sejumlah perusahaan kini menjalani pemeriksaan untuk memastikan legalitas kegiatan dan kepatuhan terhadap aturan pertambangan.

Pemeriksaan tersebut menjadi perhatian karena menyangkut penggunaan lahan perkebunan untuk aktivitas pertambangan. Pemerintah perlu memastikan kegiatan usaha berjalan sesuai perizinan serta menelusuri kemungkinan pelanggaran yang dapat menimbulkan persoalan hukum dan lingkungan.

Koran Nusantara edisi ini juga mengulas peluang pengembangan bahan bakar E50 untuk memperkuat industri dalam negeri. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong perguruan tinggi meningkatkan riset guna mendukung inovasi energi nasional.

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini Digital Koran Nusantara? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

https://koran.koranusantara.com
https://digital.koranusantara.com/kn27okt2026/mobile/

Koran Nusantara – Aktual dan Terpercaya.

Temui Warga saat Dini Hari, Bupati Sri Juniarsih Desak PLN Segera Perbaiki Aliran Listrik

0
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, saat menemui masyarakat di halaman rumah jabatannya.

BERAU – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Kabupaten Berau memicu aksi protes masyarakat. Setelah mendatangi kantor PLN UP3 Berau, sejumlah warga kembali mendatangi rumah jabatan Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, pada dini hari untuk menyampaikan keluhan mereka.

Menanggapi hal tersebut, Sri Juniarsih menjelaskan bahwa gangguan listrik terjadi akibat kerusakan pada sistem interkoneksi setelah sebuah pohon menimpa tower jaringan listrik.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan musibah di luar dugaan. Saat ini, pihak PLN tengah berupaya memulihkan pasokan listrik dengan memanfaatkan jaringan yang tersedia.

Bupati mengaku telah menghubungi pihak PLN untuk mendorong percepatan penanganan gangguan tersebut. Ia juga meminta masyarakat bersabar dan memahami situasi yang sedang terjadi.

“Bukan hanya teman-teman saja yang merasa terganggu, saya juga merasakan dampak dari pemadaman listrik ini,” ujarnya.

Meski demikian, Sri Juniarsih meminta PLN Berau tidak berlama-lama dalam melakukan perbaikan. Ia menilai estimasi waktu hingga tujuh hari untuk menyelesaikan persoalan tersebut terlalu lama.

“Kalau bisa lebih cepat dari 7 hari,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat tetap menjaga situasi kondusif dan tidak terpancing hingga menimbulkan gesekan.

“Saya tidak ingin terjadi gesekan-gesekan. Tolong pahami keadaan ini, karena ini terjadi di luar dugaan kita,” ucapnya.

Sementara itu, Manajer PLN UP3 Berau, Erwinton Naibaho, menjelaskan bahwa estimasi tujuh hari merupakan perkiraan waktu untuk menyelesaikan perbaikan tower yang roboh.

“Tower yang rubuh ini merupakan jalur utama sistem interkoneksi yang memasok listrik ke Berau,” ujarnya.

Ia mengatakan, tim pertama telah berada di lokasi untuk melakukan investigasi terhadap tower yang patah. Sementara tim kedua dan ketiga sedang dalam perjalanan dari Samarinda dan Balikpapan dengan membawa tower darurat atau tower emergency.

Menurut Erwinton, tower darurat tersebut dirancang untuk membantu memulihkan jaringan ketika tower utama mengalami kerusakan atau roboh.

“Untuk sementara, kita akan menggunakan tower emergency sampai sistemnya pulih kembali. Setelah itu, baru kita bangun tower permanen,” jelasnya.

Pihaknya pun berupaya semaksimal mungkin menyelesaikan perbaikan dalam beberapa hari ke depan agar pasokan listrik di Kabupaten Berau dapat kembali normal.

“Besok tim beserta peralatan pendukung akan tiba di lokasi,” pungkasnya. (adv)

Berupaya Menjaga Kelanjutan Pembangunan, Sri Juniarsih Jemput Anggaran ke Pusat

0
Bupati Berau, Sri Juniarsih.

BERAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus berupaya menjaga keberlanjutan pembangunan daerah di tengah kebijakan efisiensi anggaran.

Salah satu langkah yang ditempuh Bupati Berau, Sri Juniarsih, yakni melakukan pendekatan langsung ke sejumlah kementerian untuk mendapatkan dukungan pendanaan dari pemerintah pusat.

Upaya tersebut dilakukan agar program prioritas dan agenda pembangunan di Bumi Batiwakkal tetap berjalan, meskipun kemampuan keuangan daerah menghadapi keterbatasan.

Sri Juniarsih mengatakan, upaya memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tidak bisa dilakukan secara instan. Ada sejumlah mekanisme dan tahapan yang harus dipenuhi agar usulan pembangunan daerah dapat diakomodasi.

Karena itu, Pemkab Berau terus mengintensifkan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah di tingkat yang lebih tinggi, terutama untuk memperjuangkan program pembangunan yang dinilai penting bagi masyarakat.

“Mudah-mudahan saja upaya saya ke kementerian ini bisa segera terealisasi dan segera membangun,” ujarnya, Senin (26/10/2026).

Di sisi lain, Sri mengakui, kondisi anggaran saat ini turut memengaruhi pelaksanaan sejumlah proyek pembangunan yang telah direncanakan. Pemkab Berau harus melakukan penyesuaian dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah agar pelaksanaan pembangunan tidak menimbulkan persoalan fiskal di kemudian hari.

Menurutnya, proyek yang telah memasuki tahap lelang dan mulai dikerjakan dipastikan tetap berlanjut. Namun, proyek yang masih dalam proses lelang tetapi belum menunjukkan progres pengerjaan berpotensi ditunda.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah antisipasi pemerintah daerah dalam menyikapi keterbatasan anggaran, sekaligus memastikan belanja pembangunan tetap berjalan sesuai kemampuan keuangan yang tersedia.

“Karena kami tidak mau berutang,” tegasnya.

Untuk memperbesar peluang mendapatkan tambahan dukungan pendanaan, Sri memastikan agenda kunjungan ke sejumlah kementerian masih akan berlanjut hingga akhir November mendatang.

Beberapa instansi yang masuk dalam agenda tersebut di antaranya Kementerian Ekonomi Kreatif, kementerian yang membidangi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) RI, serta sejumlah direktorat di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Kunjungan tersebut diarahkan untuk memperjuangkan berbagai kebutuhan pembangunan daerah sesuai dengan kewenangan dan program masing-masing instansi.

Melalui langkah itu, Pemkab Berau berharap sejumlah usulan yang disampaikan dapat memperoleh dukungan konkret, sehingga pembangunan tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Sri menilai, upaya jemput bola menjadi penting di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang turut memengaruhi ruang fiskal pemerintah daerah. Dukungan pendanaan dari pemerintah pusat maupun provinsi diharapkan dapat membantu menjaga kesinambungan pembangunan dan pelaksanaan program prioritas.

“Kita mengetuk pintu pemerintah kementerian di tengah efisiensi yang ada saat ini, karena kita berupaya agar Berau, tetap bisa membangun. Semoga upaya yang kita lakukan bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (adv)

Camat Sepaku Tekankan Kesiapsiagaan Dini dalam Pengurangan Risiko Bencana

0
Suasana Focus Group Discussion (FGD) Kecamatan Sepaku. (Ist)

PENAJAM PASER UTARA — Pemerintah Kecamatan Sepaku mendukung penyusunan Kajian Risiko Bencana Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pengumpulan data tingkat desa dan kelurahan. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memetakan potensi ancaman bencana sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah Sepaku.

FGD tersebut bertujuan menghimpun data dan informasi mengenai potensi ancaman bencana, tingkat kerentanan wilayah, serta kapasitas masyarakat dalam menghadapi situasi darurat. Data yang dikumpulkan diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan mitigasi dan penanggulangan bencana yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Camat Sepaku, G. Abimanyu Arliandito, menyampaikan bahwa pengumpulan data di tingkat desa dan kelurahan merupakan bagian penting dalam mengidentifikasi potensi risiko bencana. Menurutnya, informasi yang akurat akan membantu pemerintah menentukan langkah antisipasi dan penanganan yang lebih tepat.

“Penyusunan kajian risiko bencana ini penting untuk mengetahui potensi ancaman dan kerawanan di wilayah kita. Dengan data yang akurat, langkah pencegahan dan penanganan dapat direncanakan lebih baik sesuai kondisi masing-masing desa dan kelurahan,” ujarnya.

Ia menegaskan, upaya pengurangan risiko bencana tidak cukup hanya mengandalkan penanganan ketika bencana terjadi. Pemerintah dan masyarakat perlu membangun kesiapsiagaan sejak dini, termasuk memahami potensi ancaman yang ada di lingkungan masing-masing.

“Kesiapsiagaan harus dimulai sebelum bencana terjadi. Karena itu, pemetaan risiko menjadi salah satu dasar untuk meningkatkan kewaspadaan, sehingga masyarakat dan pemerintah dapat mengetahui langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi keadaan darurat,” jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan pemerintah desa dan kelurahan sangat diperlukan karena mereka lebih memahami kondisi wilayah, karakteristik lingkungan, serta potensi kerawanan yang dihadapi masyarakat setempat.

Melalui koordinasi lintas sektor, informasi dari tingkat desa dan kelurahan diharapkan dapat dihimpun secara menyeluruh. Dengan demikian, kajian risiko bencana yang disusun tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi juga dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan prioritas mitigasi.

“Peran pemerintah desa dan kelurahan sangat penting dalam memberikan informasi sesuai kondisi wilayah masing-masing. Kolaborasi semua pihak diperlukan agar data yang dihimpun benar-benar menggambarkan potensi risiko dan kebutuhan penanganan di lapangan,”ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan, serta masyarakat dalam membangun wilayah yang tangguh terhadap bencana. Menurutnya, kesadaran masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan.

Pemerintah Kecamatan Sepaku pun mendorong masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana di lingkungan sekitar serta mendukung berbagai upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah.

Melalui kegiatan FGD tersebut, Pemerintah Kecamatan Sepaku berharap penyusunan Kajian Risiko Bencana Kabupaten PPU dapat menghasilkan data yang komprehensif dan menjadi landasan bagi perencanaan mitigasi yang lebih terarah, guna mewujudkan wilayah yang aman, tangguh, dan siap menghadapi potensi bencana.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memperkuat koordinasi dan meningkatkan kesadaran semua pihak terhadap pentingnya pengurangan risiko bencana. Kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat,” pungkasnya. (ADV)

Pewarta : Deddypz

E50 Jadi Peluang Industri Dalam Negeri, Mendiktisaintek Dorong Riset Kampus

0
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyoroti peluang pengembangan industri dalam negeri melalui pemanfaatan kebutuhan energi nasional, termasuk rencana pengembangan E50, dalam diskusi panel DTIIF 2026 di Jakarta.

JAKARTA – Rencana pengembangan bahan bakar campuran etanol 50 persen atau E50 membuka peluang bagi penguatan industri dalam negeri. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menilai kebutuhan energi nasional perlu dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan teknologi, memperkuat kapasitas produksi domestik, dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Pesan tersebut disampaikan Brian dalam diskusi panel Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026, Senin (26/10/2026).

Ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghasilkan riset dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Menurut Brian, riset kampus tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Hasil penelitian perlu dikembangkan menjadi teknologi, produk, dan proyek yang dapat diterapkan di sektor industri.

“Kami mendorong di kampus-kampus, penelitian dan riset tidak hanya berhenti sampai publikasi, tetapi lebih lanjut bagaimana kita bisa menghasilkan proyek-proyek dan karya-karya yang sinergis dengan industri,” tegas Brian.

Dalam konteks kemandirian energi, Brian mencontohkan peluang pengembangan industri yang muncul dari kebutuhan nasional, termasuk melalui program B50 dan E50. Kebutuhan tersebut dapat menjadi pijakan untuk membangun kapasitas produksi di dalam negeri sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya industri baru.

Pemerintah sendiri tengah menyiapkan pengembangan E50 sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. Program ini diarahkan pada pencampuran etanol dengan bensin, dengan kesiapan pasokan bahan baku dan kapasitas industri domestik menjadi aspek penting dalam pelaksanaannya.

Peluang tersebut juga berkaitan dengan potensi sumber daya alam Indonesia. Namun, potensi bahan baku perlu didukung teknologi pengolahan, riset, dan pengembangan kemampuan industri agar dapat menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.

Brian menegaskan, perguruan tinggi memiliki peran penting untuk menjawab tantangan tersebut melalui pengembangan keahlian, riset terapan, serta penyelesaian persoalan yang dihadapi pelaku industri.

“Ini tugas besar para teknokrat kampus untuk bekerja keras, memastikan kesiapan perguruan tinggi untuk mendukung kebutuhan industri melalui pengembangan sumber daya manusia dan riset yang relevan,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menyoroti pentingnya inovasi teknologi untuk mengubah potensi dan keunggulan komparatif Indonesia menjadi nilai tambah ekonomi.

“Jadi, semuanya membutuhkan teknologi inovasi. Tanpa inovasi, kita hanya bisa menjual bahan asli,” ujar Rachmat.

Diskusi panel DTIIF 2026 tersebut juga menghadirkan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri menjadi salah satu langkah untuk memastikan kebutuhan strategis nasional dapat mendorong tumbuhnya kemampuan teknologi di dalam negeri. Melalui riset yang relevan dan pengembangan SDM, kampus diharapkan berkontribusi dalam membangun industri bernilai tambah, termasuk industri pendukung kebutuhan energi nasional.

 

Pewarta/ Editor : Nicha R

Uji Coba Parkir RSUD Bontang, Petugas Disiagakan Bantu Pengunjung di Jam Sibuk

0
Loket pengambilan karcis parkir di RSUD Taman Husada Bontang yang mulai diuji coba selama lima hari, 26–30 Oktober 2026. (Dwi S/Media Kaltim)

BONTANG – RSUD Taman Husada Bontang menyiagakan petugas keamanan hingga petugas kesehatan lingkungan (Kesling) untuk mendampingi pasien dan pengunjung selama simulasi sistem parkir baru. Petugas ditempatkan di pintu masuk dan loket pengambilan karcis guna mencegah kebingungan pengendara serta mengantisipasi antrean kendaraan yang berpotensi mengganggu akses menuju rumah sakit.

Simulasi yang dimulai Senin (26/10/2026) tersebut berlangsung selama lima hari hingga Jumat (30/10/2026). Pelaksanaannya difokuskan pada dua periode, yakni pukul 07.00–09.00 Wita dan 15.00–17.00 Wita, ketika aktivitas kendaraan pasien dan pengunjung cukup padat.

Kepala Bagian Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) RSUD Taman Husada Bontang, Muhammad Hatta, mengatakan pendampingan dilakukan agar masyarakat dapat memahami mekanisme penggunaan portal parkir sebelum sistem baru diberlakukan.

“Untuk mengatur kegiatan simulasi ini, saya sudah mengarahkan petugas sementara untuk menunjukkan jalur yang harus dilalui pengunjung maupun pasien. Mulai dari teman-teman dari security, hingga petugas kesling,” ujarnya, Senin (26/10/2026).

Menurut Hatta, petugas ditempatkan di sejumlah titik, terutama di pintu masuk dan sekitar mesin pencetak karcis parkir.

Mereka bertugas membantu pengendara yang belum memahami tata cara pengambilan tiket, penggunaan portal, maupun jalur yang harus dilalui untuk menuju lokasi parkir.

Pendampingan tersebut diperlukan karena pada hari pertama simulasi masih ditemukan sejumlah kendala.

Selain pengendara yang belum memahami pembagian lokasi parkir, antrean sepeda motor juga sempat memanjang di akses masuk rumah sakit.

Kondisi itu menjadi perhatian manajemen karena antrean kendaraan berpotensi mencapai jalan raya yang berada di sekitar akses masuk RSUD.

Karena itu, keberadaan petugas diharapkan dapat mempercepat proses pengambilan karcis sekaligus mengarahkan kendaraan agar tidak berhenti terlalu lama di depan portal.

“Karena itu, petugas tidak hanya membantu kelancaran kendaraan di pintu masuk, tetapi juga memberikan arahan langsung kepada pasien dan pengunjung selama masa uji coba,” jelas Hatta.

Selama simulasi, pengendara sepeda motor diwajibkan mengambil karcis melalui mesin parkir sebelum memasuki lingkungan rumah sakit.

Pengendara cukup menekan tombol berwarna hijau untuk mencetak tiket. Setelah karcis keluar, portal akan terbuka dan kendaraan dapat melanjutkan perjalanan.

Karcis tersebut harus disimpan karena akan diserahkan kepada petugas ketika kendaraan keluar dari area parkir.

Sementara itu, kendaraan roda empat masih diperbolehkan masuk tanpa melewati portal, tetapi ketika keluar harus melalui jalur portal dengan bantuan petugas.

Hatta menjelaskan, pemilihan waktu simulasi pada pagi dan sore hari dilakukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya ketika arus kendaraan sedang ramai.

Dengan demikian, manajemen dapat mengamati berbagai kendala yang muncul, mulai dari panjang antrean, penggunaan mesin karcis, hingga pergerakan kendaraan menuju lokasi parkir.

“Selama simulasi ini kami mengambil waktu hanya dua jam saja, pagi dan sore, karena itu jam-jam padat saat pengunjung dan pasien berdatangan,” bebernya.

Selain penggunaan portal, rumah sakit juga mulai menerapkan pembagian lokasi parkir untuk mengurangi penumpukan kendaraan.

Sepeda motor pasien dan pengunjung diarahkan ke tiga lokasi, yakni basement, area bawah dekat layanan hemodialisis (HD), serta bagian belakang dekat gudang.

Sementara area parkir di bagian atas dekat kantin diperuntukkan khusus bagi pegawai rumah sakit.

Pengaturan tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan lahan parkir yang selama ini terbatas dibandingkan kebutuhan kendaraan yang masuk setiap hari.

Hatta mengatakan hasil simulasi akan digunakan sebagai bahan evaluasi sebelum sistem parkir diterapkan lebih lanjut.

Manajemen masih akan mengamati kelancaran arus kendaraan, efektivitas penempatan petugas, serta kemungkinan penyesuaian jalur masuk dan keluar.

“Lewat kegiatan simulasi ini, kami juga ingin melihat apa lagi yang harus dibenahi terkait parkir,” katanya.

Selama masa uji coba hingga Jumat (30/10/2026), pengendara belum dikenakan biaya parkir.

Pasien dan pengunjung diminta mengikuti petunjuk yang tersedia serta arahan petugas keamanan dan Kesling, terutama ketika mengambil karcis dan memasuki area parkir.

Petugas akan tetap melakukan pendampingan selama periode simulasi untuk membantu pengguna kendaraan sekaligus mencatat kendala yang perlu diperbaiki sebelum penerapan sistem parkir baru. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

Antrean Parkir RSUD Bontang Nyaris Meluber ke Jalan Raya, Dua Jalur Motor Disiapkan

0
Kepala Bagian Umum dan SDM RSUD Taman Husada Bontang, Muhammad Hatta, memberikan keterangan terkait evaluasi antrean kendaraan pada hari pertama simulasi portal parkir. (Dwi S/Media Kaltim)

BONTANG – Hari pertama simulasi portal parkir di RSUD Taman Husada Bontang langsung memunculkan persoalan baru. Antrean sepeda motor yang hendak masuk ke lingkungan rumah sakit mengular pada Senin (26/10/2026) pagi. Manajemen khawatir antrean meluas hingga ke jalan raya dan membahayakan pengendara, terutama karena akses menuju rumah sakit berada di jalur menanjak yang dilalui kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi.

Kondisi tersebut membuat manajemen RSUD Taman Husada menyiapkan perubahan alur masuk kendaraan. Salah satu langkah yang direncanakan adalah membagi antrean sepeda motor menjadi dua baris agar kendaraan tidak menumpuk terlalu panjang di depan portal.

Kepala Bagian Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) RSUD Taman Husada Bontang, Muhammad Hatta, mengatakan antrean panjang menjadi salah satu temuan penting pada hari pertama simulasi.

“Tadi kami melakukan simulasi, antrean untuk masuk ke RS ternyata mengalami antrean panjang. Kami khawatir antrean sampai ke jalan raya, sementara banyak kendaraan berlalu lalang,” katanya, Senin (26/10/2026).

Menurut Hatta, kondisi tersebut perlu segera diantisipasi karena akses masuk rumah sakit terhubung dengan ruas jalan yang memiliki arus kendaraan cukup ramai.

Apabila antrean terus memanjang hingga keluar kawasan rumah sakit, kendaraan yang menunggu giliran mengambil karcis berpotensi mengganggu arus lalu lintas.

Terlebih, kondisi jalan yang menanjak menjadi perhatian karena kendaraan dari arah jalan raya harus menyesuaikan kecepatan ketika mendekati akses masuk rumah sakit.

Untuk mengurangi risiko tersebut, manajemen merencanakan pengaturan dua baris antrean sepeda motor sebelum mencapai mesin pengambilan karcis.

Namun, Hatta menegaskan jumlah mesin pencetak karcis belum bertambah. Selama simulasi, hanya tersedia satu mesin yang digunakan pengendara untuk mengambil tiket sebelum portal terbuka.

Artinya, pembagian dua baris kendaraan masih merupakan langkah penataan antrean, bukan penambahan kapasitas pelayanan mesin parkir.

Pengaturan tersebut akan dievaluasi untuk mengetahui apakah mampu mengurangi panjang antrean tanpa menimbulkan penumpukan baru di depan portal.

Hatta menjelaskan, simulasi memang dilakukan untuk menemukan kendala teknis sebelum sistem parkir diterapkan secara penuh.

Dengan melakukan pengujian langsung, manajemen dapat mengetahui kondisi sebenarnya ketika kendaraan pasien, pengunjung, dan pegawai datang dalam waktu bersamaan.

“Kenapa harus kami simulasikan dulu. Untuk mengantisipasi dan mengetahui secara riil di lapangan bagaimana kendaraan saat ingin masuk ke wilayah RSUD,” jelasnya.

Sebelumnya, RSUD Taman Husada Bontang mulai menggelar simulasi portal parkir selama lima hari, yakni 26–30 Oktober 2026.

Simulasi berlangsung dalam dua periode setiap hari, pukul 07.00–09.00 Wita dan 15.00–17.00 Wita.

Selama masa uji coba, sepeda motor diwajibkan melewati portal saat masuk dan keluar rumah sakit.

Pengendara harus menekan tombol berwarna hijau pada mesin untuk mencetak karcis. Setelah tiket diambil, portal akan terbuka dan kendaraan dapat melanjutkan perjalanan menuju area parkir.

Karcis tersebut wajib disimpan karena harus diserahkan kepada petugas ketika kendaraan keluar.

Sementara kendaraan roda empat masih diperbolehkan masuk tanpa melewati portal, tetapi saat keluar diarahkan melalui jalur portal dengan bantuan petugas.

Selain persoalan antrean, manajemen rumah sakit juga melakukan penataan lokasi parkir agar kendaraan tidak menumpuk di satu kawasan.

Untuk sepeda motor pasien dan pengunjung, tersedia tiga lokasi parkir, yakni basement, area bawah dekat layanan hemodialisis (HD), serta bagian belakang dekat gudang.

Adapun area parkir di bagian atas dekat kantin dikhususkan bagi kendaraan pegawai rumah sakit.

Pembagian tersebut menjadi bagian dari persiapan penerapan sistem parkir baru yang direncanakan mulai diberlakukan pada awal November 2026.

Meski demikian, hasil simulasi hari pertama menunjukkan bahwa pengaturan kendaraan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lahan parkir, tetapi juga kelancaran akses masuk dan keluar rumah sakit.

Karena itu, manajemen masih melakukan evaluasi terhadap alur kendaraan, termasuk rencana pembagian antrean sepeda motor menjadi dua baris.

Selama pelaksanaan simulasi hingga Jumat (30/10/2026), seluruh kendaraan belum dikenakan biaya parkir.

Petugas keamanan juga disiapkan untuk membantu pengendara yang mengalami kesulitan menggunakan mesin karcis maupun mengikuti alur kendaraan yang telah ditentukan.

Hatta mengatakan hasil pengamatan selama simulasi akan digunakan untuk menentukan pola pengaturan kendaraan sebelum sistem parkir diterapkan lebih lanjut.

“Kenapa harus kami simulasikan dulu. Untuk mengantisipasi dan mengetahui secara riil di lapangan bagaimana kendaraan saat ingin masuk ke wilayah RSUD,” ujarnya. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

Parkiran RSUD Bontang Masih Semrawut, Pengunjung Belum Pahami Pembagian Lokasi

0
Sejumlah kendaraan pasien dan pengunjung masih memenuhi area parkir RSUD Taman Husada Bontang pada hari pertama simulasi sistem parkir, Senin (26/10/2026). (Dwi S/Media Kaltim)

BONTANG – Hari pertama simulasi sistem parkir di RSUD Taman Husada Bontang belum sepenuhnya berjalan tertib. Sejumlah kendaraan pasien dan pengunjung masih menumpuk di beberapa titik, Senin (26/10/2026). Kondisi ini terjadi karena belum seluruh pengguna kendaraan memahami pembagian lokasi parkir yang telah ditetapkan manajemen rumah sakit.

Padahal, RSUD Taman Husada telah menyiapkan tiga lokasi khusus untuk sepeda motor pasien dan pengunjung. Sementara kendaraan pegawai diarahkan ke area terpisah agar tidak mengurangi kapasitas parkir yang tersedia bagi masyarakat.

Kepala Bagian Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) RSUD Taman Husada Bontang, Muhammad Hatta, mengatakan keterbatasan lahan menjadi alasan utama manajemen melakukan penataan sekaligus simulasi sebelum sistem parkir baru diberlakukan.

“Kenapa harus simulasi dulu terkait parkir. Karena lahan parkir di RS sangat terbatas. Kalau langsung diberlakukan, kami khawatir masyarakat belum memahami alurnya,” ujarnya, Senin (26/10/2026).

Menurut Hatta, pada hari pertama masih ditemukan kendaraan yang terpusat di sejumlah titik parkir, terutama area pertama dan kedua.

Sebagian pengunjung belum mengetahui bahwa rumah sakit telah menyediakan beberapa lokasi alternatif untuk menempatkan kendaraan.

Akibatnya, kendaraan tetap menumpuk di area tertentu meskipun manajemen telah mengatur pembagian tempat parkir.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, RSUD Taman Husada menetapkan tiga lokasi parkir sepeda motor khusus pasien dan pengunjung.

Lokasi pertama berada di basement rumah sakit. Lokasi kedua di area bawah dekat layanan hemodialisis (HD), sedangkan lokasi ketiga berada di bagian belakang dekat gudang.

Ketiga lokasi tersebut disiapkan agar kendaraan pengunjung tidak hanya terpusat pada satu area.

Sementara itu, area parkir di luar bangunan rumah sakit, tepatnya di bagian atas dekat kantin, diperuntukkan khusus bagi pegawai RSUD Taman Husada.

Pengaturan tersebut dilakukan untuk memisahkan kendaraan pegawai dari kendaraan pasien dan pengunjung.

“Untuk pasien dan pengunjung kami tempatkan di dalam. Ada tiga lokasi parkir bagi roda dua. Sedangkan yang di bagian luar, yang di atas dekat kantin itu, hanya untuk karyawan,” jelasnya.

Hatta mengatakan pembagian lokasi parkir perlu dipahami seluruh pengguna kendaraan agar kapasitas lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih merata.

Terlebih, aktivitas pelayanan RSUD Taman Husada setiap hari melibatkan banyak pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, dan pegawai yang menggunakan kendaraan pribadi.

Sebelumnya, manajemen rumah sakit juga mengungkapkan persoalan kepadatan parkir yang kerap terjadi hingga sebagian kendaraan harus ditempatkan di luar kawasan RSUD.

Bahkan, terdapat kendaraan yang ditinggalkan selama berhari-hari sehingga mengurangi ketersediaan ruang parkir bagi pengunjung lainnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan manajemen menyiapkan sistem parkir menggunakan portal otomatis.

Melalui sistem baru, kendaraan yang masuk dan keluar akan diarahkan melewati jalur yang telah ditentukan sehingga pengelolaan parkir dapat dilakukan lebih tertib.

Namun, sebelum sistem tersebut diterapkan, manajemen memilih melakukan simulasi selama lima hari, mulai Senin (26/10/2026) hingga Jumat (30/10/2026).

Hatta memperkirakan masyarakat membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk mulai terbiasa dengan pembagian lokasi parkir dan mekanisme penggunaan portal.

Selama masa simulasi, petugas akan memberikan arahan kepada pengendara agar menempatkan kendaraan sesuai lokasi yang telah disiapkan.

Simulasi berlangsung dalam dua periode setiap hari, yakni pukul 07.00–09.00 Wita dan 15.00–17.00 Wita.

Pengendara sepeda motor mulai diperkenalkan dengan penggunaan mesin pengambilan karcis saat masuk dan penyerahan tiket ketika keluar.

Sementara kendaraan roda empat masih diperbolehkan masuk tanpa melewati portal, tetapi wajib melalui jalur portal saat keluar dengan bantuan petugas.

Seluruh kendaraan belum dikenakan biaya parkir selama pelaksanaan simulasi.

“Adapun simulasinya dilaksanakan dalam dua periode setiap hari, yakni pukul 07.00–09.00 Wita dan 15.00–17.00 Wita. Selama masa uji coba, pengendara belum dikenakan biaya parkir,” jelas Hatta.

Manajemen RSUD Taman Husada mengimbau pasien, keluarga pasien, dan pengunjung memperhatikan petunjuk lokasi parkir serta mengikuti arahan petugas keamanan.

Simulasi akan terus dilakukan hingga Jumat (30/10/2026), dengan pengaturan kendaraan roda dua milik pasien dan pengunjung di tiga lokasi parkir yang telah ditetapkan, sementara area atas dekat kantin dikhususkan untuk pegawai rumah sakit. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

RSUD Bontang Uji Coba Portal Parkir Lima Hari, Pengunjung Belum Dikenakan Biaya

0
Petugas RSUD Taman Husada Bontang melakukan simulasi penggunaan portal parkir di pintu masuk rumah sakit, Senin (26/10/2026). (Dwi S/Media Kaltim)

BONTANG – Pengunjung RSUD Taman Husada Bontang mulai dibiasakan menggunakan portal parkir otomatis sebelum sistem parkir baru diterapkan. Simulasi berlangsung selama lima hari, mulai Senin (26/10/2026) hingga Jumat (30/10/2026). Selama masa uji coba, seluruh kendaraan yang masuk dan keluar dari lingkungan rumah sakit belum dikenakan biaya parkir.

Simulasi tersebut menjadi tahap persiapan penerapan sistem parkir yang direncanakan mulai diberlakukan pada awal November 2026. Pengunjung, pasien, keluarga pasien, hingga pegawai rumah sakit mulai diperkenalkan dengan mekanisme pengambilan karcis dan penggunaan portal.

Kepala Bagian Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) RSUD Taman Husada Bontang, Muhammad Hatta, mengatakan simulasi dilakukan dalam dua periode setiap hari, yakni pukul 07.00–09.00 Wita dan 15.00–17.00 Wita.

Pengaturan tersebut diterapkan untuk membiasakan pengguna kendaraan dengan sistem baru sekaligus memastikan mekanisme keluar masuk kendaraan dapat berjalan sesuai prosedur.

“Selama simulasi ini, pengendara belum dikenakan biaya parkir,” ujar Hatta, Senin (26/10/2026).

Menurutnya, terdapat perbedaan mekanisme antara kendaraan roda dua dan roda empat selama pelaksanaan simulasi.

Untuk sepeda motor, pengendara diwajibkan melewati portal parkir ketika masuk maupun keluar dari lingkungan rumah sakit.

Sementara kendaraan roda empat masih diperbolehkan langsung masuk tanpa melewati portal. Namun, ketika keluar, pengendara tetap harus melalui jalur portal parkir yang telah disiapkan.

Pengaturan tersebut dilakukan agar pengguna kendaraan dapat menyesuaikan diri secara bertahap sebelum sistem diterapkan secara penuh.

Hatta menjelaskan, pengendara sepeda motor yang memasuki kawasan rumah sakit harus berhenti di sisi mesin pengambilan karcis.

Selanjutnya, pengendara menekan tombol berwarna hijau untuk mencetak tiket parkir.

Setelah karcis keluar, portal akan terbuka sehingga kendaraan dapat melintas menuju area parkir.

“Setelah karcis tercetak, pengendara wajib mengambil dan menyimpannya karena akan digunakan saat keluar dari area RS,” jelasnya.

Pengunjung diminta tidak meninggalkan karcis karena tiket tersebut menjadi bagian dari mekanisme pemeriksaan ketika kendaraan keluar.

Apabila mesin tidak mengeluarkan tiket atau portal mengalami kendala, pengendara dapat meminta bantuan petugas keamanan yang berjaga di lokasi.

Petugas juga disiapkan untuk memberikan arahan kepada pengunjung yang belum memahami penggunaan mesin parkir.

Saat hendak keluar, pengendara sepeda motor diwajibkan menyerahkan karcis kepada petugas di pos portal.

Sementara untuk kendaraan roda empat, portal keluar akan dibuka langsung oleh petugas selama masa simulasi berlangsung.

“Sementara itu, saat keluar dari area RS, pengendara roda dua maupun roda empat diminta menepi ke sisi pos portal parkir,” katanya.

Setelah pemeriksaan selesai, pengendara dapat melanjutkan perjalanan melalui portal keluar.

Selain mengatur kendaraan pengunjung, pihak rumah sakit juga menyiapkan ketentuan khusus untuk pegawai.

Pegawai RSUD Taman Husada yang menggunakan sepeda motor diwajibkan menempatkan kendaraan di lokasi parkir yang telah ditentukan.

Pengaturan tersebut dilakukan agar area parkir lebih tertib dan tidak mengganggu pergerakan kendaraan pasien maupun pengunjung.

Sebelumnya, RSUD Taman Husada Bontang telah menyiapkan penerapan sistem parkir baru untuk mengatasi persoalan kepadatan kendaraan di lingkungan rumah sakit.

Jumlah kendaraan yang masuk setiap hari menjadi perhatian karena area parkir kerap dipenuhi kendaraan pengunjung, bahkan sebagian terpaksa menggunakan ruang parkir di luar kawasan rumah sakit.

Pihak rumah sakit juga sebelumnya menemukan adanya kendaraan yang ditinggalkan di area parkir selama berhari-hari.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pembenahan tata kelola parkir agar ketersediaan ruang dapat digunakan sesuai kebutuhan pelayanan.

Dalam pengaturan yang telah disiapkan, rumah sakit tetap memberikan akses bagi kendaraan yang hanya mengantar atau menjemput pasien, termasuk layanan transportasi daring.

Namun, ketentuan teknis mengenai batas waktu dan mekanisme pembebasan biaya untuk aktivitas antar-jemput masih perlu mengikuti kebijakan resmi ketika sistem parkir mulai diberlakukan.

Untuk tahap simulasi pada 26–30 Oktober, pengunjung tidak dikenakan biaya dan hanya diminta mengikuti mekanisme penggunaan portal sesuai jenis kendaraan.

Hatta mengimbau masyarakat yang datang ke RSUD Taman Husada Bontang agar memperhatikan petunjuk penggunaan mesin dan mengikuti arahan petugas keamanan.

“Sehingga setelah melewati proses tersebut, pengendara dapat melanjutkan perjalanan keluar melalui portal parkir,” jelasnya.

Simulasi dijadwalkan berakhir Jumat (30/10/2026), sebelum rumah sakit melanjutkan tahapan penerapan sistem parkir baru yang telah direncanakan. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S