Beranda blog Halaman 122

Ular Piton Masuk Permukiman, Disdamkartan Bergerak Cepat

0

BONTANG – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang bergerak cepat menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan seekor ular piton di kawasan permukiman Jalan Keladi, RT 4, belakang Masjid Nurul Huda, Kelurahan Gunung Elai, Kamis (2/4/2026) dini hari.

Laporan tersebut disampaikan oleh warga yang melihat keberadaan ular di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Menanggapi informasi tersebut, Tim Rescue Regu Alfa Disdamkartan Bontang langsung bergerak menuju lokasi dengan menggunakan unit rescue.

Setibanya di lokasi, petugas segera melakukan evakuasi dengan mengedepankan standar operasional dan prosedur keselamatan. Proses penanganan berlangsung cepat dan terukur, sehingga ular piton berhasil diamankan tanpa menimbulkan korban maupun gangguan lanjutan di lingkungan warga.

Kepala Disdamkartan Bontang, Amiluddin, menyampaikan bahwa ular yang berhasil diamankan memiliki panjang sekitar 2,5 meter. Ia memastikan seluruh proses berjalan lancar berkat kesiapsiagaan tim di lapangan.

“Begitu laporan masuk, petugas piket langsung bergerak ke lokasi. Panjang ular yang diamankan sekitar 2,5 meter,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan evakuasi juga tidak lepas dari peran aktif masyarakat yang memberikan informasi secara cepat dan akurat, sehingga memudahkan petugas dalam melakukan penanganan.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mencoba menangani sendiri hewan liar yang berpotensi berbahaya, terutama tanpa peralatan dan keahlian yang memadai.

“Kalau ada kejadian serupa, sebaiknya langsung hubungi petugas damkar. Jangan mencoba menangkap sendiri karena berisiko tinggi,” tegasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kemunculan satwa liar di kawasan permukiman, terutama di wilayah yang masih berdekatan dengan area terbuka atau semak belukar.

Dengan respons cepat dari Disdamkartan, situasi dapat segera dikendalikan tanpa menimbulkan dampak yang lebih luas. (MK)

Penulis: Dwi S
Editor: Agus S

Tahu Sumedang Tetap Jalan, Sewa Lahan Baru di Samboja

0

NUSANTARA – Penutupan Rumah Makan (RM) Tahu Sumedang di Kilometer 50 Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Samboja Barat, yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial, ternyata tidak menghentikan operasional usaha tersebut secara keseluruhan.

Di lapangan, diketahui bahwa RM Tahu Sumedang masih beroperasi di lokasi lain, tepatnya di Kilometer 38 yang berada di wilayah Kelurahan Sungai Merdeka, tak jauh dari Gate Tol Samboja. Informasi ini disampaikan langsung oleh koordinator juru parkir di lokasi Km 50, Rabu (1/4/2026).

Selain di Km 38, usaha tersebut juga dikabarkan tengah merencanakan pembukaan lokasi baru di Km 36 jalan poros, sebagai bagian dari upaya mempertahankan aktivitas usaha di kawasan tersebut.

Namun, penutupan di Km 50 tetap menyisakan dampak sosial, khususnya bagi para juru parkir (jukir) dan pekerja yang menggantungkan penghasilan di lokasi tersebut.

Koordinator jukir, Daeng Santo, mengaku penutupan terjadi secara mendadak dan membuat para pekerja terkejut. Ia menyebut informasi yang diterima berasal dari pihak pemilik usaha setelah adanya pemanggilan oleh Otorita IKN bersama ketua RT setempat.

“Tiba-tiba saja ditutup. Kami juga kaget. Pagar seng ini dipasang oleh owner sendiri, sementara pihak otorita hanya datang untuk dokumentasi,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun usaha masih berjalan di Km 38, tidak semua pekerja bisa ikut berpindah. Hal ini karena tenaga kerja yang digunakan di lokasi baru sebagian besar berasal dari warga setempat.

“Yang di sana dijaga warga sekitar sana. Hanya sebagian ibu-ibu saja yang masih dipekerjakan di sana. Kami yang di sini jadi kehilangan pekerjaan,” tambahnya.

Dampak penutupan ini memicu aksi protes dari para jukir. Sedikitnya 24 orang menggelar aksi dengan menuliskan berbagai pesan di pagar seng yang menutup area rumah makan.

Tulisan tersebut berisi penolakan terhadap penutupan yang dianggap dilakukan secara sepihak, sekaligus menyuarakan nasib para pekerja dan pelaku UMKM yang terdampak.

Selain jukir, sejumlah pekerja lain, termasuk karyawan perempuan yang bekerja di rumah makan tersebut, juga ikut merasakan dampak langsung dari kebijakan penutupan tersebut.

Hingga kini, belum ada kejelasan terkait kelanjutan operasional di Km 50 maupun solusi bagi para pekerja terdampak. Kondisi ini memunculkan perhatian publik, terutama terkait dampak sosial dari penataan kawasan di wilayah yang masuk dalam delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN). (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

24 Jukir Aksi Tulis di Pagar Seng, Tolak Penutupan Mendadak

0

NUSANTARA – Penutupan Rumah Makan (RM) Tahu Sumedang di Kilometer 50 Jalan Soekarno-Hatta, Kutai Kartanegara, memicu aksi protes dari para juru parkir (jukir) yang selama ini menggantungkan penghasilan di lokasi tersebut.

Sedikitnya 24 jukir menggelar aksi dengan menuliskan protes di pagar seng biru yang dipasang sebagai penanda penutupan operasional, Rabu (1/4/2026). Aksi tersebut menjadi bentuk kekecewaan atas keputusan yang dinilai mendadak dan berdampak langsung terhadap mata pencaharian mereka.

Juru bicara jukir, Suardiansyah, menyampaikan bahwa kekecewaan mereka bukan ditujukan kepada pengelola, melainkan kepada Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dinilai tidak membuka ruang komunikasi.

“Hari Senin kami tunggu Otorita di sini, tapi tidak ada. Besoknya malah datang tanpa pemberitahuan hanya untuk foto-foto,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, para jukir menuliskan kalimat protes menggunakan cat semprot, di antaranya berbunyi, “Kami atas nama karyawan, jukir, UMKM dan masyarakat tidak terima penutupan RM Tahu Sumedang oleh otorita secara sepihak”.

Menurut Suardiansyah, penutupan ini membuat mereka kehilangan sumber penghasilan yang selama ini menjadi tumpuan hidup. Ia bersama rekan-rekannya meminta Otorita IKN datang langsung ke lokasi untuk berdialog dan memberikan solusi.

“Kami hanya ingin kejelasan. Kami kehilangan rezeki, jadi kami minta solusi,” tegasnya.

Tak hanya jukir, dampak penutupan juga dirasakan sekitar 25 pekerja perempuan yang selama ini bekerja di rumah makan tersebut. Mereka ikut kehilangan pekerjaan akibat penghentian operasional.

Koordinator jukir, Daeng Santo, mengungkapkan bahwa sebelumnya pihak pengelola sempat dipanggil oleh Otorita IKN. Tak lama setelah itu, lokasi langsung ditutup dengan pemasangan pagar seng.

“Beberapa karyawan bahkan langsung dipulangkan ke Sumedang,” katanya.

RM Tahu Sumedang yang berdiri sejak 2007 tersebut diketahui berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto. Lokasi tersebut secara hukum merupakan kawasan konservasi yang tidak diperuntukkan bagi aktivitas usaha.

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Keamanan dan Keselamatan Publik, Irjen Pol. Edgar Diponegoro, menjelaskan bahwa penutupan dilakukan secara mandiri oleh pemilik usaha tanpa paksaan.

“Pemilik secara sadar menghentikan aktivitas usahanya sebagai bentuk kepatuhan terhadap aturan,” ujarnya.

Ia menegaskan, penghentian operasional berlaku sejak 30 Maret 2026 karena lokasi usaha berada di kawasan hutan konservasi yang tidak boleh digunakan untuk kegiatan komersial.

Meski demikian, polemik ini masih menyisakan persoalan sosial di lapangan, terutama bagi para pekerja dan jukir yang terdampak langsung tanpa kepastian solusi lanjutan. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Menaker: Perusahaan Swasta Bebas Tentukan Hari WFH

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Koran Nusantara?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.koranusantara.com/

📱 Versi Mobile
https://digital.koranusantara.com/kn2apr2026/mobile/

Anak Muda Harus Siapkan Langkah Strategis dalam Hadapi Era Digitalisasi

BERAU – Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari menegaskan, tentang dampak positif dan negatifnya era digitalisasi saat ini. Dirinya menyebut menyebutkan perlu ada langkah strategis menyiapkan generasi muda Berau dalam menghadapi era digitalisasi.

Ia mengatakan, perlu adanya pendampingan dan perhatian khusus untuk mencegah generasi mudah larut dalam ganasnya era teknologi saat ini.

Menurutnya, Semua pihak tentunya juga memiliki peran dan tanggung jawab terhadap pembangunan daerah, khususnya peranan orang tua dan pengajar di sekolah.

Termasuk merasa turut bertanggung jawab dalam membentuk karakter generasi muda yang kuat dan tangguh sebagai jaminan keberlangsungan pembangunan negara dimasa datang.

Hal itu disampaikan Sri Kumalasari, dengan dasar melihat situasi dan kondisi anak, remaja usia sekolah di Berau saat ini. Menurutnya perlu ada pembekalan khusus dan menanamkan mindset sudah saatnya generasi muda terlibat langsung dalam pembangunan daerah. Dengan bekal pengetahuan memanfaatkan era digitalisasi sejak dini dimuai saat ini.

“Sudah siapkah kita khususnya generasi muda kita menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, karena melihat ada dampak negatifnya maka perlu ada perhatian khusus atau pendampingan,” jelasnya.

Generasi muda saat ini menjadi penentu perkembangan maju atau tidaknya suatu daerah bahkan satu negara. Dengan kata lain, jika ingin melihat kemajuan 10 atau 20 tahun akan datang harus memastikan kemampuan generasi mudanya sejak saat ini.

Pemberian gadget atau laptop untuk menunjang belajar, menurutnya sudah sanga diperlukan saat ini. Akan tetapi perlu pengawasan dan pembatasan. Terlebih jika terkoneksi ke internet. Ada banyak akses menuju dunia maya yan jika tidak disaring akan berdampak negatif bagi perkembangan otak dan mental anak.

“Misalkan anak-anak sekolah yang sedang mengerjakan tugas sekolah, membutuhkan sarana internet maka hal itu sah-sah saja, tetapi jangan dibebaskan, artinya perlu tetap ada pengawasan dari orang tua, jika perlu didampingi selalu,” imbaunya.

Kembali membahas masalah digitalisasi saat ini, peran media juga sangat kental dalam membentuk opini dan karakter masyarakat.

“Tantangan ke depan, pengaruh media sangat berpengaruh membawa perubahan era, bisa positif bisa negatif, hal ini akan berdampak pada perilaku kehidupan manusia, ancaman nyata jika negatif sudah sangat jelas,” sambungnya.

Generasi muda saat ini harus adaptif harus terbuka dengan situasi nasional dan global, jangan hanya melihat situasi lokal Kaltim apalagi hanya Berau saja.

Sri Kumalasari juga berharap agar pemerintah daerah bisa lebih care terhadap generasi muda dengan menyediakan media-media membangun karakter, mengasah keterampilan, meningkatkan SDM dan bentuk dukungan atau dampingan lainnya. (adv)

UMKM Harus Ikuti Perkembangan Digital

BERAU – Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau, Sakirman mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengikuti perkembangan zaman. Yakni dengan bercermin pada era modern yang serba digital.

Menurutnya, digital marketing menjadi bagian penting dalam perkembangan UMKM. Dengan meningkatnya pengguna internet akan menjadi kesempatan besar untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Ini menjadi tantangan pemerintah dalam upaya meningkatkan sektor UMKM. Juga menjadi peluang bagi para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya di pasar online,” tambahnya.

Melalui media sosial akan lebih luas menjangkau konsumen tanpa memandang batasa usia. Jika UMKM berkembang ini akan membantu mengurangi angka kemiskinan di daerah melalui peningkatan pendapatan usaha.

Pihaknya, terus mendorong pelaku usaha UMKM untuk mengikuti perkembangan zaman dan permintaan pasar, serta meningkatkan inovasi dan nilai tambah produk

“Kita berharap pelaku UMKM di Kabupaten Berau dapat dibekali dengan skill atau kemampuan digital marketing (pemasaran berbasis digital) dalam memasarkan produknya,” tandasnya. (adv)

Sektor Pertanian Perlu Dievaluasi

BERAU – Anggota Komisi I DPRD Berau, Nurung meminta Pemkab Berau untuk melakukan evaluasi terhadap sektor pertanian di Kabupaten Berau.

Pasalnya, hal itu dilakukan karena Kabupaten Berau masih bergantung kepada kebutuhan pangan yang diimpor dari luar daerah.

Kondisi itupun sangat disayangkan, karena kabupaten dengan julukan Bumi Batiwakkal ini memiliki sektor pertanian yang harus dikembangkan.

Nurung mengatakan selama ini produk hasil pertanian masih banyak didatangkan dari luar daerah, seperti beras, sayur dan buah-buahan dari Pulau Jawa maupun Sulawesi.

“Bagaimana cara menekannya, yaitu meningkatkan sektor pertanian kita. Makanya perlu evaluasi, apa saja kendala selama ini dan itu harus dituntaskan,” katanya.

Selama ini, kata dia, para petani kerap mengeluhkan masalah pupuk, alsintan dan sebagainya.

Bahkan, bantuan yang kurang diperhatikan menyebabkan banyak petani meninggalkan sektor pertanian dan memilih sektor lain, terutama pertambangan dan perkebunan sawit.

“Kalau masyarakat tidak dibantu, jelas mereka bisa alih fungsikan lahannya. Ini tentu harus diperhatikan secara serius dan OPD terkait harus cepat tanggap dalam menyikapi masalah ini,” terangnya.

Diakuinya, lahan persawahan di Berau cukup luas dan kualitas padi yang dihasilkan tidak kalah dibanding beras dari luar daerah.

Menurutnya, sangat disayangkan potensi ini dibiarkan begitu saja dan lahan pertanian, seperti sawah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit atau konsesi pertambangan batu bara.

“Nah ini yang perlu diperhatikan. Saya minta instansi terkait dapat segera turun tangan menanggapi ini karena sektor pertanian ini juga merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat,” tandasnya. (adv)

Menkeu Purbaya Pastikan Defisit APBN 2026 Tetap di Bawah 3 Persen

0

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 agar tetap di bawah 3 persen, atau berada di 2,9 persen di tengah lonjakan harga energi dunia.

“Ini sudah kami hitung semua. Nanti bahkan dengan rata-rata (harga minyak dunia) 100 (dolar AS per barel) pun kami sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen. Itu sekitar 2,9 persen. Jadi, nggak masalah,” ujar Purbaya ketika ditemui di Wisma Danantara Indonesia Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Adapun APBN 2026 semula diproyeksikan mengalami defisit Rp698,15 triliun, atau setara 2,68 persen terhadap PDB.
Dengan demikian, terdapat tambahan proyeksi defisit sebesar 0,12 persen akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

Peperangan tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak dunia di pasar internasional. Harga minyak dunia jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 100 dolar AS per barel.

Angka tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel.

“Kalau (defisit) dari 2,68 persen ke 2,9 persen kan 0,12 persen kan, dari PDB. Nggak besar-besar amat,” ucap Purbaya.

Purbaya memberi catatan bahwa defisit sebesar 2,9 persen itu dengan asumsi rata-rata harga minyak dunia berada di angka 100 dolar AS per barel sampai akhir tahun.

“Itu kalau setahun penuh 100 dolar AS per barel. Tapi sekarang kan udah turun lagi. Rata-ratanya 76–77 (dolar AS per barel). Jadi, masih di bawah asumsi yang 100 dolar AS per barel,” ucap Purbaya.

Purbaya juga menyampaikan bahwa pemerintah melakukan berbagai penghematan belanja kementerian untuk mengurangi defisit APBN.

Selain itu, Purbaya juga menyampaikan pemerintah memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun.

“Kalau kepepet, saya punya SAL. Sekarang naik Rp420 triliun. Bakal kepakai kalau kepepet banget,” kata Purbaya.

Hingga saat ini, meski pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan nonsubsidi di tengah meroketnya harga minyak dunia, Purbaya menyampaikan pemerintah belum menggunakan SAL.

“Nggak, belum (pakai SAL). Kondisi keuangan negara kita amat baik, saya punya bantalan cukup banyak,” ujar Purbaya. (ANT/KN)

Komnas HAM Dalami Peran TNI, 7 Perwira Diperiksa dalam Kasus Andrie Yunus

0

JAKARTA — Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memeriksa sejumlah perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) terkait penanganan kasus penyiraman terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Pemeriksaan berlangsung di Kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026).

Komisioner Komnas HAM Pramono Ubaid Tanthowi menyampaikan bahwa pemeriksaan tersebut menghadirkan unsur pimpinan dari berbagai satuan di tubuh TNI, termasuk Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI Mayjen Yusri Nuryanto.

“Kami hari ini telah meminta keterangan dari pihak TNI. Alhamdulillah tadi dari pihak TNI hadir paling tidak tiga unsur,” ujar Pramono.

Ia menjelaskan, unsur yang hadir meliputi Kababinkum, Danpuspom, Wakapuspen, serta sejumlah perwira lainnya. Secara keseluruhan, terdapat tujuh orang perwira yang dimintai keterangan, terdiri dari tiga perwira tinggi dan empat perwira menengah.

Selama pemeriksaan, Komnas HAM mengajukan sekitar 10 pertanyaan yang berfokus pada kronologi dan langkah penanganan kasus oleh TNI. Salah satu hal yang didalami adalah tindakan yang dilakukan TNI sebelum pengumuman penetapan tersangka pada 18 Maret 2026.

“Pertama, kita ingin meminta informasi, kira-kira apa yang dilakukan oleh pihak TNI sebelum tanggal 18 Maret,” kata Pramono.

Selain itu, Komnas HAM juga menelusuri proses penyidikan yang dilakukan oleh Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI setelah menerima pelimpahan perkara dari Polda Metro Jaya pada 19 Maret 2026.

“Itulah yang kita gali dari Puspom sampai mereka menetapkan empat tersangka hari kemarin,” lanjutnya.

Komnas HAM menegaskan pemeriksaan ini merupakan bagian dari upaya pengumpulan data untuk memastikan proses hukum berjalan transparan dan akuntabel.

Kasus ini bermula dari insiden penyiraman yang terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Saat itu, Andrie Yunus diserang oleh dua orang tak dikenal sepulang dari aktivitas di kantor YLBHI.

Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka serius, termasuk cedera pada mata kanan dan luka bakar sekitar 20 persen pada tubuhnya. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk mendapatkan perawatan intensif.

Dalam perkembangan kasus, empat prajurit BAIS TNI telah ditetapkan sebagai tersangka pada 18 Maret 2026. Mereka masing-masing berinisial Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 467 KUHP tentang penganiayaan berencana, yang mengatur ancaman pidana penjara minimal empat tahun dan maksimal tujuh tahun.

Kasus ini juga berdampak pada internal TNI, termasuk mundurnya Kepala BAIS TNI Letjen Yudi Abrimantyo sebagai bentuk tanggung jawab institusional di tengah sorotan publik. (MK/KN)

Pewarta: M Adi Fajri
Editor : Nicha R

Perempuan Banyak Putus Sekolah, Menteri PPPA: Akses Pendidikan Masih Belum Setara

0

JAKARTA — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa upaya pemberdayaan perempuan di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan serius, mulai dari ketimpangan akses pendidikan hingga tingginya kerentanan terhadap kekerasan.

Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan di Gedung Badan Bahasa, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Di tengah komitmen pemerintah mendorong kesetaraan gender, Arifah mengingatkan bahwa agenda tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolik.

“Momentum ini bukan sekadar seremoni. Ini harus menjadi titik tolak gerakan nasional yang terukur, terarah, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan perempuan mencakup 49,85 persen populasi Indonesia, sementara anak-anak mencapai 29,15 persen. Namun, menurut Arifah, besarnya proporsi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan akses dan perlindungan yang diterima.

Ia menyoroti masih banyak anak perempuan yang putus sekolah akibat perkawinan anak, keterbatasan ekonomi, hingga norma sosial yang belum berpihak pada kesetaraan.

“Kita tidak bisa menutup mata. Ketimpangan itu masih nyata,” ujarnya.

Meski demikian, Arifah mencatat adanya kemajuan di sektor pendidikan tinggi, di mana jumlah mahasiswa perempuan di sejumlah perguruan tinggi telah melampaui 50 persen. Namun, capaian tersebut dinilai belum cukup jika tidak diikuti pemerataan akses di semua jenjang pendidikan.

Dalam konteks kebijakan, pemerintah telah menetapkan pengarusutamaan gender sebagai strategi nasional pembangunan. Di sektor pendidikan, implementasinya mencakup penguatan kebijakan responsif gender, transformasi kurikulum, hingga penciptaan lingkungan belajar yang aman dan inklusif.

Namun, Arifah mengakui pelaksanaannya masih menghadapi berbagai kendala, seperti rendahnya pemahaman tentang perspektif gender, keterbatasan sumber daya manusia, dan belum optimalnya sinergi lintas sektor.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman bagi anak.

“Tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal dan tidak boleh ada satu pun yang merasa tidak aman di lingkungan pendidikan,” katanya.

Lebih jauh, Arifah menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan perempuan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Kolaborasi lintas kementerian, lembaga, dan masyarakat menjadi kunci utama, sejalan dengan arahan Presiden agar pembangunan dilakukan secara sinergis.

“Kita butuh gerakan bersama, bukan kerja sendiri-sendiri,” ujarnya.

Kementerian PPPA, lanjut Arifah, berkomitmen memperkuat sinergi lintas sektor serta memastikan perlindungan perempuan dan anak menjadi prioritas dalam pembangunan nasional.

Ia berharap pencanangan bulan pemberdayaan ini menjadi awal dari langkah konkret yang berkelanjutan, bukan sekadar agenda tahunan.

“Kita ingin memastikan perempuan berdaya, anak terlindungi, menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Pewarta/ Editor : Nicha R