Beranda blog Halaman 119

Sidang Korupsi Tambang Rp6,1 Triliun Dimulai, JMB Group Bantah Dakwaan

0
Saat sidang dugaan korupsi tambang Rp6,1 triliun PT JMB Group dimulai di Pengadilan Tipikor Samarinda. (Dimas/Media Kaltim)

SAMARINDA – Perkara dugaan korupsi tambang batu bara dengan nilai produksi mencapai Rp6,16 triliun resmi memasuki babak persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Samarinda, Selasa (28/7/2026).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur mendakwa petinggi PT JMB Group melakukan kegiatan produksi batu bara secara melawan hukum di kawasan transmigrasi.

Sementara kubu terdakwa langsung membantah seluruh dakwaan dan menyebut perkara tersebut salah sasaran serta merupakan bentuk kriminalisasi.

Sidang perdana dipimpin Ketua Majelis Hakim Jimmy Tanjung Utama didampingi Hakim Anggota Nur Salamah dan Kurnia Sari Alkas. Tim JPU yang berjumlah tujuh orang secara bergantian membacakan surat dakwaan terhadap mantan Direktur PT Jembayan Muarabara (JMB), Ginarsa Tandinegara. Dua petinggi perusahaan lainnya, Dany Aswin dan Budiono Tambun, disidangkan dalam berkas terpisah.

Perkara ini menjadi perhatian karena merupakan salah satu kasus dugaan korupsi sektor pertambangan dengan nilai produksi terbesar yang sedang diproses di Kalimantan Timur. Selain melibatkan jajaran direksi perusahaan, perkara tersebut juga menyeret empat mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara.

Dalam surat dakwaan, jaksa menyebut aktivitas yang dipersoalkan berlangsung sepanjang 2008 hingga 2012.

Menurut JPU, Ginarsa Tandinegara bersama Dany Aswin diduga melakukan operasi produksi batu bara di kawasan pengembangan transmigrasi tanpa memperoleh izin maupun kerja sama pemanfaatan kawasan dari Direktorat Jenderal Transmigrasi.

“Terdakwa Ginarsa Tandinegara bersama Dany Aswin diduga melakukan kegiatan operasi produksi batu bara di wilayah pengembangan transmigrasi tanpa izin dan kerja sama pemanfaatan dari Direktorat Jenderal Transmigrasi, sehingga memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi serta mengakibatkan kerugian negara,” ujar jaksa saat membacakan dakwaan.

Jaksa menjelaskan kegiatan pertambangan dilakukan di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Kemilau Rindang Abadi (KRA) dan PT Arzara Baraindo Energitama (ABE). Sebagian wilayah operasi tersebut berada di kawasan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) Nomor 01 Separi, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang merupakan kawasan pengembangan transmigrasi.

Penyidik menduga perusahaan melakukan pembebasan lahan seluas sekitar 302,472 hektare yang meliputi sekitar 147 Sertifikat Hak Milik (SHM) tanpa akta jual beli yang sah dan tanpa melibatkan instansi yang berwenang.

Dari kegiatan produksi tersebut, PT KRA disebut menghasilkan sekitar 11,17 juta metrik ton batu bara, sedangkan PT ABE memproduksi sekitar 1,31 juta metrik ton. Total produksi mencapai sekitar 12,48 juta metrik ton dengan nilai produksi yang dihitung penyidik mencapai sekitar Rp6,16 triliun.

Perkara ini bermula dari penyidikan dugaan aktivitas pertambangan pada kawasan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) transmigrasi di Separi. Penyidik Kejati Kaltim menilai sebagian wilayah operasi PT KRA dan PT ABE berada di atas kawasan transmigrasi yang pengelolaannya berada di bawah Direktorat Jenderal Transmigrasi. Karena itu, kegiatan produksi diduga dilakukan tanpa kerja sama pemanfaatan kawasan sebagaimana dipersyaratkan.

Dalam konstruksi perkara yang dibangun jaksa, aktivitas produksi tersebut diduga memperkaya diri sendiri, orang lain maupun korporasi serta menimbulkan kerugian negara.

Selain menjerat tiga petinggi perusahaan, penyidikan juga berkembang kepada empat mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara, yakni Hery Maryadi, Basri Hasan, Assobirin, dan Adinur. Keempatnya didakwa melakukan pembiaran serta tidak menjalankan fungsi pengawasan terhadap dugaan tumpang tindih antara wilayah IUP perusahaan dengan kawasan transmigrasi pada periode 2008 hingga 2012.

Selama proses penyidikan, Kejati Kaltim juga menerima penitipan uang sekitar Rp699,94 miliar sebagai bagian dari upaya pemulihan kerugian negara. Jaksa sebelumnya menegaskan penitipan tersebut tidak menghapus proses pidana, melainkan menjadi bagian dari alat bukti yang akan dipertimbangkan dalam persidangan.

Kuasa Hukum Sebut Dakwaan Keliru

Usai pembacaan dakwaan, tim penasihat hukum Ginarsa Tandinegara memastikan akan mengajukan nota keberatan atau eksepsi.

Kuasa hukum terdakwa, Sabri Noor Herman, menilai dakwaan jaksa keliru karena menempatkan kliennya sebagai pihak yang harus bertanggung jawab secara pribadi atas nilai produksi yang disebut mencapai Rp6,16 triliun.

“Kami mengajukan perlawanan karena kerugian yang disebut hampir Rp6,1 triliun itu dikaitkan kepada terdakwa secara pribadi. Padahal JMB Group adalah perseroan, sementara klien kami hanya direktur pekerja, bukan pemilik perusahaan. Menurut kami ini merupakan error in persona atau salah alamat,” katanya kepada wartawan usai sidang.

Sabri juga berpendapat perkara tersebut lebih tepat diselesaikan melalui mekanisme administrasi atau perdata karena berkaitan dengan dugaan tumpang tindih lahan.

Menurutnya, perusahaan telah memiliki Izin Usaha Pertambangan, dokumen lingkungan, serta selama beroperasi rutin membayar royalti dan kewajiban perpajakan kepada negara.

“Sebelum menambang, perusahaan sudah membebaskan lahan di atas IUP berdasarkan sertifikat maupun hak garap masyarakat. Jadi tidak tepat jika seluruh hasil produksi langsung diklaim sebagai kerugian negara. Ini bentuk kriminalisasi terhadap pihak yang menjalankan perusahaan berizin,” ujarnya.

Atas dasar itu, tim penasihat hukum meminta majelis hakim menyatakan surat dakwaan batal demi hukum atau setidaknya tidak dapat diterima karena dianggap tidak cermat (obscuur libel).

Dengan dimulainya persidangan, sejumlah isu hukum diperkirakan akan menjadi fokus pembuktian. Di antaranya apakah kawasan yang ditambang benar berada dalam HPL transmigrasi yang belum dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertambangan, apakah keberadaan IUP mengesampingkan kewajiban memperoleh persetujuan pemanfaatan kawasan transmigrasi, apakah perkara tersebut merupakan tindak pidana korupsi atau sengketa administrasi terkait tumpang tindih lahan, siapa yang bertanggung jawab secara pidana antara pengurus perusahaan dan korporasi, serta bagaimana dasar penghitungan nilai produksi sekitar Rp6,16 triliun yang dijadikan bagian dari konstruksi kerugian negara.

Majelis hakim menunda persidangan setelah mendengarkan pembacaan dakwaan dan rencana pengajuan eksepsi dari penasihat hukum. Sidang akan dilanjutkan dengan agenda pembacaan eksepsi dari para terdakwa sebelum Jaksa Penuntut Umum menyampaikan tanggapannya.

Apabila eksepsi ditolak, perkara akan memasuki tahap pembuktian melalui pemeriksaan saksi, ahli, terdakwa, hingga pembacaan tuntutan dan putusan. (MK)

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S.

Jaksa Nyatakan Berkas Lengkap, Oknum Pengajar Segera Diserahkan ke Kejari Berau

0
Ilustrasi dugaan kekerasan seksual terhadap anak berkebutuhan khusus. (Foto: Ilustrasi)

BERAU – Kasus dugaan pencabulan terhadap belasan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang diduga dilakukan seorang oknum tenaga pengajar di Kecamatan Tanjung Redeb memasuki tahap penuntutan. Berkas perkara tersangka berinisial A (44) telah dinyatakan lengkap atau P21 oleh jaksa peneliti Kejaksaan Negeri (Kejari) Berau.

Kepala Seksi Intelijen Kejari Berau, Imam Ramdhoni, membenarkan penyidik Satreskrim Polres Berau telah menyelesaikan administrasi perkara setelah seluruh petunjuk jaksa dipenuhi.

“Tahap II baru kemarin Kamis (23/7/2026),” ujar Imam saat dikonfirmasi, Senin (27/7/2026).

Namun, pelimpahan fisik tersangka dan barang bukti kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) masih menunggu pelaksanaan dari penyidik. Proses tersebut diperkirakan dilakukan dalam pekan ini.

“Untuk limpahnya, pelimpahan tersangka dan barang bukti, mungkin minggu ini,” katanya.

Setelah tersangka dan barang bukti diserahkan, kewenangan penanganan perkara beralih dari penyidik kepada JPU. Jaksa selanjutnya akan menyusun surat dakwaan sebelum melimpahkan perkara tersebut ke pengadilan untuk disidangkan.

Sebelumnya, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Berau memastikan seluruh rangkaian penyidikan telah rampung. Penyidik telah memenuhi petunjuk jaksa, termasuk melengkapi alat bukti dan memeriksa para saksi.

Kanit PPA Satreskrim Polres Berau, IPTU Siswanto, sebelumnya menyampaikan bahwa perkara tersebut segera memasuki pelimpahan tahap kedua.

“Insyaallah dalam waktu dekat akan tahap dua,” ujarnya.

Kasus ini menjadi perhatian karena melibatkan belasan anak berkebutuhan khusus sebagai korban. Selama penyidikan, kepolisian berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk memastikan hak-hak para korban tetap terpenuhi.

Pendampingan psikologis dan perlindungan juga diberikan kepada para korban selama proses hukum berlangsung.

Setelah pelimpahan tersangka dan barang bukti diselesaikan, JPU akan menyiapkan surat dakwaan dan membawa perkara tersebut ke Pengadilan Negeri untuk menjalani persidangan.

Atas dugaan perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal berlapis dalam Undang-Undang tentang Perlindungan Anak. Apabila terbukti bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, tersangka terancam pidana penjara paling lama 12 tahun. (MK)

Pewarta: Sahruddin
Editor: Agus S.

Prostitusi Masih Ditemukan di Sepaku, Penginapan Terancam Kehilangan Izin

0
Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP PPU, Ali Tubo. (Foto: Deddypz/MKNN)

PENAJAM PASER UTARA – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih menemukan aktivitas pekerja seks komersial (PSK) di wilayah Kecamatan Sepaku. Temuan tersebut diperoleh melalui pengawasan tertutup yang dilakukan petugas di lapangan.

Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP PPU, Ali Tubo, mengatakan praktik prostitusi di kawasan Sepaku masih menjadi perhatian pemerintah daerah.

Namun, keterbatasan personel dan operasional membuat pengawasan lebih banyak dikoordinasikan dengan petugas Bawah Kendali Operasi (BKO) yang bertugas di Kecamatan Sepaku.

“Memang masih ada ditemukan beberapa pekerja seks komersial di seputaran Kecamatan Sepaku. Karena keterbatasan operasional kami untuk menjangkau wilayah tersebut secara intensif, kami berkoordinasi dengan petugas BKO Kecamatan Sepaku,” ujarnya.

Menurut Ali, penindakan yang selama ini dilakukan belum memberikan efek jera secara maksimal. Satpol PP terus mengevaluasi langkah penanganan agar pengawasan dan penindakan dapat berjalan lebih efektif.

Berdasarkan data identitas yang ditemukan petugas, mayoritas PSK berasal dari berbagai daerah di Kalimantan, seperti Balikpapan dan Bontang. Sebagian lainnya berasal dari Sulawesi dan wilayah di luar Kalimantan.

“Kalau berdasarkan data identitas yang kami temukan, rata-rata berasal dari Kalimantan. Ada dari Balikpapan, Bontang, dan daerah lainnya. Dari Sulawesi juga ada,” katanya.

Ali memastikan hingga kini pihaknya belum menemukan keterlibatan anak di bawah umur dalam aktivitas prostitusi tersebut.

“Kalau anak di bawah umur belum ada yang kami temukan. Sampai sekarang belum ada laporan maupun hasil penelusuran yang mengarah ke sana,” tegasnya.

Modus transaksi prostitusi juga disebut telah berubah. Jika sebelumnya praktik tersebut banyak berlangsung di tempat hiburan atau kafe, kini transaksi lebih banyak dilakukan melalui aplikasi pesan dan media daring.

“Mereka tidak lagi beroperasi secara terbuka. Transaksinya banyak dilakukan melalui aplikasi pesan. Kalau membuka aplikasi tertentu di wilayah Sepaku, keberadaan mereka cukup mudah ditemukan,” ungkapnya.

Selain menyasar pelaku prostitusi, Satpol PP juga menyoroti pihak-pihak yang diduga memfasilitasi praktik tersebut, termasuk penginapan maupun tempat usaha yang digunakan untuk aktivitas prostitusi.

Ali menegaskan pemerintah daerah memiliki kewenangan merekomendasikan pencabutan izin usaha apabila ditemukan pelanggaran terhadap peruntukan izin yang diberikan.

“Kalau ada tempat usaha atau penginapan yang terbukti memfasilitasi kegiatan prostitusi dan tidak sesuai dengan peruntukan izinnya, bisa direkomendasikan untuk dicabut izinnya sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkasnya. (MK)

Pewarta: Deddypz
Editor: Agus S.

Kejari Berau Musnahkan Barang Bukti dari 130 Perkara Berkekuatan Hukum Tetap

0
Pemusnahan barang bukti dari ratusan perkara di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Berau. (Foto: Istimewa)

BERAU – Kasus narkotika masih mendominasi perkara pidana yang ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Berau. Dari 130 perkara berkekuatan hukum tetap yang barang buktinya dimusnahkan, 63 di antaranya merupakan perkara narkotika.

Pemusnahan barang bukti dilaksanakan di halaman Kantor Kejari Berau, Selasa (28/7/2026), disaksikan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), aparat penegak hukum, serta sejumlah instansi terkait.

Kepala Seksi Pengelolaan Barang Bukti dan Barang Rampasan Kejari Berau, Deka Fajar Pranowo, mengatakan barang bukti tersebut berasal dari perkara pidana yang telah diputus berkekuatan hukum tetap selama periode Februari hingga Juli 2026.

“Seluruh barang bukti ini sudah inkracht, sehingga menjadi kewajiban Kejaksaan untuk melaksanakan putusan pengadilan melalui pemusnahan,” ujarnya.

Dari total 130 perkara, sebanyak 63 merupakan kasus narkotika. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan jenis tindak pidana lainnya.

Kejari Berau juga memusnahkan barang bukti dari 17 perkara tindak pidana asusila dan kekerasan seksual. Selain itu, terdapat 18 perkara tindak pidana terhadap orang dan harta benda yang meliputi pencurian, penipuan, penggelapan, perjudian, penganiayaan, hingga pembunuhan.

Barang bukti lain berasal dari satu perkara uang palsu serta minuman keras dari 31 perkara tindak pidana ringan.

Menurut Deka, pemusnahan barang bukti tidak hanya menjadi kewajiban hukum setelah putusan pengadilan berkekuatan tetap. Langkah tersebut juga menjadi bentuk akuntabilitas kepada masyarakat agar barang bukti tidak lagi berpotensi disalahgunakan.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menegaskan komitmen Kejaksaan Negeri Berau dalam mewujudkan penegakan hukum yang transparan, akuntabel, serta memberikan rasa keadilan kepada masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan, pemusnahan barang bukti merupakan bagian dari kewenangan Kejaksaan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan Undang-Undang tentang Kejaksaan Republik Indonesia, yakni melaksanakan eksekusi terhadap putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Deka juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan tugas Kejaksaan, mulai dari aparat penegak hukum, Pemerintah Kabupaten Berau, hingga masyarakat.

“Sinergi yang baik ini harus terus kita jaga demi menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan berkeadilan,” pungkasnya. (MK)

Pewarta: Srn
Editor: Agus S.

BGN Tutup 833 Dapur SPPG Bermasalah, Tak Dibayar karena Langgar SOP

0

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Koran Nusantara?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper lengkap
https://koran.koranusantara.com/

📱 Versi Mobile
https://digital.koranusantara.com/kn28juli2026/mobile/

BGN Tutup 833 Dapur SPPG Bermasalah, Tak Dibayar karena Langgar SOP

0
Ilustrasi - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menginspeksi mendadak salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Barat, Jumat (24/7/2026). Sidak tersebut dilakukan untuk memantau langsung proses pembuatan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan disalurkan kepada para siswa sesuai dengan standar yang diberlakukan. ANTARA FOTO/Sahira Safarina/nz

JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) menutup sebanyak 833 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Ada 833 dapur yang kami suspend hari ini,” kata Kepala BGN, Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (27/6/2026).

Ratusan dapur yang dihentikan operasionalnya tersebut terdiri atas 98 dapur SPPG di Sumatera, 424 dapur SPPG di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua, kemudian 311 dapur SPPG di Jawa dan Madura.

Pihaknya memastikan bahwa dapur yang ditutup tidak akan dibayar, karena mereka terbukti melanggar SOP, seperti makanan tidak higienis, ada kasus keracunan, kualitas makanan tidak sesuai dengan standar, dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) yang belum memenuhi syarat.

“Dapur yang di-suspend ini bukan seperti yang lalu. Dulu di-suspend, tapi tetap dibayar. Kalau sekarang ditutup, tidak dibayar, karena pelanggaran,” kata Sudaryono.

Selain menutup ratusan SPPG yang melanggar, pihaknya juga menghentikan 261 pegawai non-ASN yang terdiri atas 224 pegawai non-ASN dan 37 tenaga ahli.

Kemudian, pihaknya juga memberikan hukuman disiplin berat kepada 9 ASN yang melakukan pelanggaran berat dan 39 ASN lainnya mendapat hukuman disiplin ringan.

“Kami menemukan sembilan ASN melakukan pelanggaran berat atau disiplin berat. Besar kemungkinan yang bersangkutan akan kami proses pemberhentiannya. Kemudian, ditemukan 39 pelanggaran disiplin ringan yang akan kami tindak dengan mutasi, demosi, serta sanksi administrasi maupun peringatan,” kata Sudaryono.

Sudaryono menegaskan bahwa BGN di bawah kepemimpinannya terus berupaya membenahi BGN dari perilaku koruptif.

“Penting bagi kami memastikan abdi negara di setiap dapur itu bekerja dengan sebaik-baiknya, sebersih-bersihnya, dan memastikan menu yang tersaji itu baik. Karena Kepala SPPG adalah pegawai kami, abdi negara di bawah BGN. Kami coba selesaikan bagaimana dari sisi keterbukaan, transparansi, komunikasi, pelibatan banyak pihak, pelibatan instansi lain, kementerian lain, lembaga lain, pemda, dinas-dinas, serta keterlibatan publik dalam mengawasi apakah itu menu, penyaluran, dapur, kebersihan,” kata dia. (ANT/KN)

Kemenhub Kawal Pemulangan Dua Awak Kapal Indonesia Korban Serangan Misil di Selat Hormuz

0
Dua orang awak kapal Indonesia (kedua dan ketika kanan) yang bekerja di kapal tanker MT Belma yang terdampak insiden serangan misil di perairan Selat Hormuz, Timur Tengah, tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tanggerang, Banten. ANTARA/HO-Kemenhub

JAKARTA – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengawal proses pemulangan dua orang awak kapal Indonesia yang bekerja di kapal tanker MT Belma yang terdampak insiden serangan misil di perairan Selat Hormuz, Timur Tengah.

Direktur Perkapalan dan Kepelautan Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub Samsuddin mengatakan negara hadir untuk memastikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak pelaut Indonesia yang menghadapi situasi darurat saat bekerja di luar negeri.

“Pemerintah terus berkomitmen memberikan perlindungan kepada pelaut Indonesia, termasuk dalam kondisi darurat akibat konflik atau gangguan keamanan di wilayah pelayaran internasional,” kata Samsuddin dalam keterangan terkonfirmasi di Jakarta, Selasa (27/6/2026).

Kedua awak kapal tersebut tiba di Indonesia melalui Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (22/7) pukul 18.30 WIB.

Proses penjemputan dilakukan oleh perwakilan Direktorat Perkapalan dan Kepelautan dan turut dihadiri oleh Direktur PT Utama Bahari Indonesia, Nur Suwanto, selaku perusahaan pemegang Surat Izin Usaha Keagenan Awak Kapal (SIUKAK).

Lebih lanjut, Samsuddin mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses penanganan pemulangan tersebut, mulai dari perusahaan keagenan awak kapal, pemilik kapal, otoritas setempat, hingga Direktorat PWNI Kementerian Luar Negeri serta perwakilan pemerintah yang terlibat dalam proses koordinasi dan pemulangan.

Kemenhub memastikan proses penanganan, koordinasi, hingga pemulangan awak kapal dapat berjalan dengan baik bersama Direktorat PWNI Kementerian Luar Negeri sehingga para awak kapal dapat kembali ke tanah air dengan selamat.

“Untuk itu, kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang turut berkontribusi dalam proses pemulangan ini,” ujarnya.

Kapal MT Belma diketahui berlayar melewati Selat Hormuz menuju Kharg Island Anchorage pada 15 Juli 2026. Dalam perjalanan tersebut, kapal mengalami dua kali serangan misil yang mengenai bagian funnel dan menyebabkan sejumlah kerusakan pada kapal.

Akibat kerusakan tersebut, mesin kapal tidak dapat beroperasi sehingga kapal terombang-ambing dan hampir mendekati daratan. Nakhoda kemudian memutuskan untuk berlabuh pada 16 Juli.

Pada 17 Juli, saat kapal berlabuh, MT Belma kembali mengalami serangan misil pada bagian funnel. Nakhoda segera menginstruksikan seluruh awak kapal untuk berkumpul di haluan sambil menunggu evakuasi.

Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, seluruh awak kapal berhasil dievakuasi oleh kapal bantuan menuju Pulau Kharg, Iran, untuk selanjutnya mendapatkan penanganan lebih lanjut. (ANT/KN)

Cuaca Ekstrem Tekan Produksi Perikanan Tangkap di PPN Kwandang

0
Aktivitas bongkar muat ikan oleh nelayan yang diawasi petugas pegawai PPN Kwandang Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. ANTARA/Susanti Sako

GORONTALO – Cuaca ekstrem atau berangin kencang dan bergelombang tinggi, mempengaruhi produksi perikanan tangkap di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kwandang Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

“Saat ini produksi ikan mengalami penurunan, dampak dari cuaca berangin kencang dan gelombang tinggi,” kata Ketua Tim Kerja (Katimja) Kesyahbandaran PPN Kwandang Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo Rustam Abdullah di Gorontalo, Selasa (27/6/2026).

Ia mengatakan di waktu normal, rata-rata pendaratan ikan dalam sehari mencapai 20 ton, namun saat ini turun di kisaran delapan sampai 10 ton per hari.

“Kadang-kadang masih bisa sampai 15 ton, namun sesekali saja,” kata dia.

Produksi perikanan tangkap di pendaratan ikan tersebut, dipasok oleh kapal-kapal ikan yang sandar di Pelabuhan Kwandang, termasuk dari perahu nelayan yang datang dari desa-desa pesisir setempat, seperti dari Kecamatan Ponelo Kepulauan.

Khusus kapal ikan di atas 10 Gross Ton (GT) mencapai sembilan unit, sementara kapal di bawah 10 GT yang beroperasi di PPN Kwandang mencapai 59 unit.

Menghadapi cuaca ekstrem, pihaknya terus menyampaikan imbauan langsung kepada para nakhoda kapal untuk memperhatikan cuaca.

Adapula disampaikan melalui pemberitahuan yang ditempelkan dalam surat persetujuan berlayar akan cuaca.

Selain itu kata Rustam, setiap hari pihaknya menyampaikan imbauan tersebut melalui pengeras suara di lokasi pelabuhan.

“Pemberitahuan melalui pengeras suara, kami sampaikan setiap jam di area pelabuhan. Seluruh nakhoda diminta tertib mematuhinya untuk mencegah kecelakaan saat melaut mengingat cuaca ekstrem dapat berlaku kapan saja,” kata Rustam. (ANT/KN)

Komisi III DPR Serap Aspirasi Daerah, Matangkan RUU Perampasan Aset

0
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (14/7/2026). ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi

JAKARTA – Komisi III DPR RI menyerap berbagai aspirasi mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset terkait dengan tindak pidana dari masyarakat di sejumlah daerah dalam reses Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026.

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman mengatakan penyusunan RUU tersebut tidak boleh hanya berangkat dari perspektif nasional, tetapi juga harus mengakomodasi karakteristik persoalan hukum dan tindak pidana di setiap daerah.

“Ini menjadi komitmen Komisi III DPR RI dalam memastikan proses pembentukan undang-undang berlangsung secara terbuka, partisipatif, dan mengakomodasi berbagai perspektif dari para pemangku kepentingan di daerah,” kata Habiburokhman di Jakarta, Selasa (27/6/2026).

Adapun pada masa reses sejauh ini, Komisi III DPR telah melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Papua Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara. Dari kunjungan itu, dia mengatakan masyarakat termasuk aparat penegak hukum menginginkan agar negara memiliki instrumen hukum yang lebih kuat untuk mengejar hasil kejahatan, bukan hanya menghukum pelakunya.

Namun demikian, dia juga menegaskan bahwa penguatan kewenangan negara harus tetap diimbangi dengan perlindungan terhadap hak asasi manusia, penghormatan terhadap prinsip due process of law, kepastian hukum, pengawasan yang efektif, serta perlindungan terhadap pihak ketiga yang beritikad baik.

Dia pun ingin memastikan bahwa RUU Perampasan Aset itu nantinya bukan hanya menjadi instrumen hukum yang kuat, tetapi juga tetap adil, proporsional, dan tidak membuka ruang penyalahgunaan kewenangan.

Dia berharap pembentukan RUU tersebut dapat menghasilkan regulasi yang komprehensif, implementatif, dan memperoleh legitimasi publik karena disusun melalui proses yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat serta para pemangku kepentingan di berbagai daerah.

“Setiap masukan yang disampaikan selama masa reses ini akan menjadi bahan penting dalam proses penyusunan RUU Perampasan Aset terkait dengan Tindak Pidana di Komisi III DPR RI,” katanya. (ANT/KN)

Kejagung Periksa 3 Saksi, 6 Lainnya Mangkir di Kasus TPPU Febrie Adriansyah

0
Foto: Kepala Pusat Penerangan Kejagung, Anang Supriatna. (Dok. Kejagung)

JAKARTA – Tim penyidik Kejaksaan Agung kembali melanjutkan penyidikan perkara dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah. Dalam agenda pemeriksaan terbaru, penyidik memanggil sembilan orang saksi untuk dimintai keterangan.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Anang Supriatna mengatakan pemanggilan tersebut dilakukan oleh Tim Penyidik yang menangani perkara TPPU berdasarkan surat perintah penyidikan khusus terhadap tersangka Febrie Adriansyah.

“Kejaksaan Agung melalui Tim Penyidik (Tim Sembilan) telah melakukan pemanggilan terhadap 9 orang saksi terkait sprindik perkara khusus tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang melibatkan Tersangka FA,” kata Anang dalam keterangannya, Senin (27/7/2026).

Namun, dari sembilan orang yang dipanggil, hanya tiga saksi yang memenuhi panggilan penyidik. Mereka masing-masing berinisial HK yang merupakan penyidik Polri, serta HH dan HJ dari unsur pihak swasta.

“Dari 9 orang saksi yang dipanggil Tim Penyidik, sebanyak 3 orang saksi hadir memenuhi panggilan, sedangkan 6 orang saksi lainnya tidak hadir,” ujar Anang.

Menurutnya, enam saksi yang belum hadir akan kembali dipanggil untuk menjalani pemeriksaan pada kesempatan berikutnya guna melengkapi proses penyidikan.

“Oleh karena itu, 6 orang saksi tersebut akan dilakukan pemanggilan ulang oleh Tim Penyidik Kejaksaan Agung (Tim Sembilan) untuk dimintai keterangannya,” jelasnya.

Sebelumnya, Febrie Adriansyah ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pada Jumat (24/7/2026) berdasarkan surat perintah penyidikan (Sprindik) baru yang diterbitkan Kejaksaan Agung setelah menerima pelimpahan perkara dari Polri.

Dalam pelimpahan tersebut, turut diserahkan barang bukti berupa emas seberat 74 kilogram serta valuta asing bernilai ratusan miliar rupiah. Selain perkara TPPU, Kejagung juga tengah menyidik tiga perkara lain yang berkaitan dengan dugaan korupsi PT KNI, tata kelola batu bara untuk PLTU, dan PT Asabri. (Fajri)