Beranda blog Halaman 117

Pendataan Warga Harus Dilakukan Rutin

BERAU – Wakil Ketua I DPRD Berau, Peri Kombong mendorong setiap ketua RT untuk rutin melakukan pendataan terhadap warga. Dia mengatakan, pendataan penting dilakukan karena menjadi dasar dalam penyaluran bantuan sosial dan pembaharuan data kependudukan.

“Di era digital seperti saat ini, data kependudukan yang valid sangat dibutuhkan pemerintah untuk memastikan setiap program sosial tepat sasaran,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, keberadaan warga baru atau keluarga dari luar daerah yang datang dan menetap sementara harus segera dilaporkan ke RT setempat agar data kependudukan selalu terbarui.

“Data warga yang mutakhir akan sangat membantu ketika pemerintah melakukan penyaluran bantuan, baik itu bantuan pangan, pendidikan, kesehatan, maupun program sosial lainnya. Jadi ini sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat juga,” tegasnya.

Lebih lanjut, Peri menyebutkan bahwa masih banyak kasus di mana warga yang berhak mendapatkan bantuan tidak terdaftar, hanya karena data kependudukan belum diperbarui atau tidak dilaporkan saat terjadi perubahan domisili. “Kadang mereka datang kerja, tinggal berbulan-bulan, tapi tidak pernah dilaporkan. Akibatnya, data kita tidak akurat dan itu bisa berpengaruh ke banyak hal, termasuk bantuan dan layanan publik,” jelasnya.

Kendati demikian, Peri Kombong mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap proses pendataan kependudukan. “Mari kita biasakan tertib melapor. Dengan data yang lengkap dan jelas, bukan hanya keamanan yang terjaga, tapi juga kesejahteraan masyarakat bisa lebih merata,” pungkasnya. (adv)

Wakil Ketua DPRD Bontang Meninggal, Sempat Jalani Dua Kali RJP

0

BONTANG — Wakil Ketua DPRD Bontang, Maming, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Taman Husada, Sabtu (4/4/2026) malam. Almarhum menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 22.15 Wita akibat penyakit jantung yang telah lama dideritanya.

Pihak keluarga mengungkapkan, riwayat penyakit jantung tersebut sudah dialami almarhum sejak lama, bahkan saat masih aktif bekerja di sektor pertambangan. Saat itu, almarhum sempat mengalami serangan jantung dan menjalani pemasangan ring.

“Untuk penyakitnya memang sudah lama. Dulu waktu masih aktif di tambang, bahkan pas sudah kena serangan jantung, bapak juga sudah dipasangkan ring di jantungnya,” ujar pihak keluarga.

Kondisi almarhum diketahui mulai menurun pada Sabtu siang sekitar pukul 12.30 Wita usai salat dzuhur. Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Amalia, namun kemudian dirujuk ke RSUD Taman Husada sekitar pukul 17.00 Wita karena keterbatasan dokter spesialis jantung.

Di RSUD Taman Husada, almarhum mendapatkan penanganan intensif. Tim medis bahkan sempat melakukan dua kali tindakan resusitasi jantung paru (RJP), namun upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.

“Dokter menyampaikan bapak meninggal sekitar jam 10 lewat 15. Sempat dua kali RJP, tapi saat pemeriksaan pupil sudah tidak merespons,” tambahnya.

Sebelum terjun ke dunia politik, almarhum memiliki perjalanan karier panjang di perusahaan tambang Indominco. Ia memulai sebagai petugas keamanan, kemudian naik menjadi kepala keamanan hingga bagian eksternal sebelum akhirnya memilih pensiun dini.

Di dunia politik, Maming dikenal sebagai sosok pekerja keras yang merintis karier dari bawah. Ia telah menjabat sebagai anggota DPRD Bontang selama dua periode dan dipercaya sebagai Wakil Ketua DPRD.

Rencananya, almarhum akan dimakamkan pada Minggu (5/4/2026) usai salat dzuhur di kawasan Pisangan. Sebelum pemakaman, akan dilakukan prosesi pelepasan dari Partai PDI Perjuangan Bontang.

Kepergian Maming meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, serta masyarakat Kota Bontang. (MK)

Penulis: Dwi S
Editor: Agus S

Pelayat Membludak, Kepergian Maming Sisakan Duka Mendalam

0

BONTANG — Duka mendalam menyelimuti Kota Bontang atas wafatnya Wakil Ketua DPRD Bontang, Maming, pada Sabtu (4/4/2026) malam. Kepergian almarhum langsung mengundang simpati luas dari berbagai kalangan.

Sejak kabar wafatnya menyebar, kediaman almarhum di Tanjung Laut dipadati ratusan pelayat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Suasana haru tampak menyelimuti rumah duka, dengan pelayat yang terus berdatangan hingga malam hari.

Sejumlah anggota DPRD Bontang turut hadir, di antaranya Wakil Ketua DPRD Bontang, Siti Yara, Ketua Komisi A Heri Keswanto, Ketua Komisi C Alfin Rausan Rifky, serta anggota dewan lainnya seperti Winardi, Sarful Rizal, Joni Alla Padang, Sumardi, hingga Muhammad Irfan.

Siti Yara mengaku baru menerima kabar duka tersebut dan langsung menuju rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir.

“Saya juga baru saja mendapatkan kabar. Meninggalnya karena sakit jantung. Sudah sempat pemasangan ring di jantungnya, banyak. Tapi lebih baik konfirmasi ke pihak keluarga,” ujarnya.

Dari informasi yang dihimpun, almarhum memang memiliki riwayat penyakit jantung dan sebelumnya telah menjalani tindakan medis berupa pemasangan ring.

Hingga berita ini diturunkan, suasana rumah duka masih dipenuhi pelayat dari kalangan pejabat, kolega, hingga masyarakat umum yang datang untuk mendoakan almarhum.

Kepergian Maming menjadi kehilangan besar bagi DPRD Bontang dan masyarakat luas, mengingat dedikasinya selama menjabat sebagai wakil rakyat. (MK)

Penulis: Dwi S
Editor: Agus S

Kepergian Maming, dari Tambang ke Parlemen

MINGGU (5/4) subuh hari ini, saya baru membuka ponsel. Kabar itu sudah ada sejak malam tadi. Berita duka wafatnya Maming, Wakil Ketua II DPRD Bontang. Saya tertinggal informasi ini karena semalam tidur lebih cepat dari biasanya dan tidak melihat laporan wartawan di grup redaksi Mediakaltim.com. Padahal, berita tersebut sudah tayang di kanal Media Kaltim dan Radar Bontang.

Saya belum bisa langsung datang melayat pagi ini karena masih berada di Kota Malang, Jawa Timur. Namun ingatan saya langsung ke Bontang. Teringat interaksi yang pernah saya lakukan bersama almarhum.

Terakhir saya bertemu almarhum pada 25 Agustus 2025. Saat itu, rapat paripurna DPRD berlangsung di Gedung 3 Dimensi. Kondisinya terlihat sehat. Kami sempat berdiskusi ringan tentang banyak hal, mulai dari dinamika politik hingga kondisi daerah. Tidak ada tanda bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir.

Saya mengenal Maming jauh sebelum ia terjun ke dunia politik, saat masih bekerja di PT Indominco Mandiri. Ia memulai dari bawah, dari petugas keamanan, lalu naik menjadi kepala keamanan hingga akhirnya dipercaya di bagian eksternal sebagai Head of External Relations, yang banyak berhubungan langsung dengan masyarakat, pemerintah, hingga media. Semua dijalani bertahap.

Setelah keluar dari dunia tambang, ia masuk ke politik melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dari situ, ia membangun posisi hingga dipercaya memimpin PDIP Bontang, dan kemudian terpilih menjadi anggota DPRD.

Dalam banyak kesempatan, ia lebih sering berbicara soal penguatan SDM, pendidikan, dan tenaga kerja. Itu sejalan dengan latar belakangnya yang memulai dari bawah.

Almarhum lahir pada 8 Januari 1967 di Bone, Sulawesi Selatan, dan meninggal dunia dalam usia 59 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak banyak membuka kehidupan pribadinya ke publik.

Beberapa tahun lalu, saya sempat mendengar kondisinya menurun karena masalah kesehatan. Namun ia kembali bangkit, kembali aktif, dan tetap bekerja. Itu yang saya lihat terakhir—masih kuat dan tetap menjalankan perannya.

Sabtu malam, kabar itu datang. Almarhum meninggal dunia sekitar pukul 22.15 Wita di RSUD Taman Husada. Ia memiliki riwayat penyakit jantung yang sudah lama diderita. Sempat dilakukan dua kali tindakan resusitasi, namun tidak tertolong.

Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, membenarkan hal tersebut.
“Iya benar,” ujarnya singkat.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Bontang, Siti Yara, menyebut almarhum memiliki riwayat penyakit jantung.
“Saya juga baru saja mendapatkan kabar. Meninggalnya karena sakit jantung. Sudah sempat pemasangan ring di jantungnya,” ujarnya.

Sejak malam hingga dini hari, rumah duka di Tanjung Laut dipadati pelayat. Rekan-rekan anggota DPRD, pejabat daerah, hingga masyarakat datang memberikan penghormatan terakhir.

Saya memahami satu hal. Maming tidak banyak membuka kehidupan pribadinya ke publik. Saya lebih mengenalnya dari kerja dan perannya sebagai wakil rakyat.

Yang ditinggalkan adalah perjalanan hidupnya. Dari dunia tambang, memulai dari bawah, hingga duduk di kursi pimpinan DPRD Bontang. Semua dijalani bertahap.

Kepergiannya tentu menjadi kehilangan, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi DPRD Bontang, PDIP, dan rekan-rekan yang pernah bekerja bersamanya.

Bagi saya pribadi, ini kehilangan sosok yang saya kenal cukup lama. Tidak selalu dekat, tetapi saya tahu bagaimana ia bekerja dan menjalani prosesnya.

Selamat jalan, Pak Maming.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Seleksi JPT Kutim Membludak, Ardiansyah: Jangan Hanya Duduk Jabatan

0

SANGATTA — Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendapat respons tinggi dari aparatur sipil negara. Sebanyak 26 peserta mendaftar untuk memperebutkan empat posisi kepala perangkat daerah, dengan 23 di antaranya dinyatakan lolos seleksi administrasi.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menilai tingginya minat tersebut sebagai hal wajar. Namun ia menegaskan bahwa kualitas peserta jauh lebih penting dibandingkan jumlah pendaftar.

“Silakan saja mau berapa yang mendaftar, itu hak mereka. Tapi yang kita butuhkan hanya empat,” ujarnya.

Ardiansyah menekankan bahwa jabatan pimpinan tinggi tidak boleh dimaknai sebagai posisi nyaman. Ia meminta calon pimpinan OPD memiliki kompetensi, inovasi, kecerdasan, serta kemampuan manajerial yang kuat.

“Jangan sekadar duduk jabatan. Harus punya inovasi, kemampuan, dan kecerdasan. ASN juga wajib menguasai core value BerAKHLAK,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, tantangan pembangunan di Kutim masih cukup besar. Dengan usia daerah yang baru 27 tahun dan wilayah yang luas, pembangunan infrastruktur dasar masih perlu digenjot.

“Jalan kita tingkat kematangannya masih di bawah 40 persen. Ini artinya pekerjaan rumah kita masih sangat banyak,” jelasnya.

Di sisi lain, Kutim memiliki potensi besar dari sektor sumber daya alam serta kemampuan fiskal daerah yang kuat. Hal tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong diversifikasi ekonomi di luar sektor batu bara.

“Kita sudah mulai dorong ekonomi di luar batu bara, dan itu sudah on the track,” katanya.

Bupati juga mengingatkan pentingnya percepatan implementasi visi-misi kepala daerah, termasuk 50 program prioritas yang telah ditetapkan.

“Jangan sampai bupati kerja sendiri. Program harus diterjemahkan dalam bentuk kegiatan nyata, bukan sekadar konsep,” sindirnya.

Selain itu, penguatan disiplin ASN juga menjadi perhatian serius. Pemerintah akan memperketat sistem absensi dan pengawasan kinerja yang terintegrasi.

“Absensi akan kita perketat. Ini bagian dari memastikan ASN benar-benar bekerja dengan baik,” pungkasnya. (MK)

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S

Polemik Pokir Memanas, DPRD Kaltim Tolak Penyederhanaan Usulan

SAMARINDA — Polemik antara DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) dan pemerintah provinsi terkait kamus usulan pokok-pokok pikiran (pokir) kian memanas. DPRD tetap bersikukuh mempertahankan 160 usulan hasil pembahasan Panitia Khusus, sementara Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) mengarah pada penyederhanaan hingga hanya sekitar 25 kegiatan.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi, menegaskan bahwa pokir merupakan representasi langsung aspirasi masyarakat yang dikumpulkan melalui reses, kunjungan daerah pemilihan, hingga rapat dengar pendapat.

“Ini pokir dewan. Aspirasi masyarakat yang kami kawal. Masa arahnya harus mengikuti program unggulan gubernur,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Menurut Reza, pendekatan yang dilakukan eksekutif berpotensi menempatkan DPRD sebagai pelaksana agenda politik kepala daerah. Padahal, pokir merupakan hasil kerja politik legislatif yang memiliki mandat berbeda.

Ia menegaskan bahwa program unggulan gubernur seharusnya dijalankan melalui jalur eksekutif, bukan dengan membatasi ruang aspirasi DPRD.

“Dalam hal ini gubernur tidak boleh mendiskreditkan dewan dan mencederai hak politik perjuangan dewan,” tegasnya.

Reza juga mengingatkan bahwa secara regulasi, posisi DPRD dalam perencanaan pembangunan telah diatur dalam Permendagri Nomor 86 Tahun 2017. Dalam aturan tersebut, DPRD memiliki kewenangan mengusulkan pokir secara mandiri selama tetap selaras dengan RPJMD dan kemampuan fiskal daerah.

“Tidak ada pembatasan kamus usulan. Sinkronisasi itu bukan berarti menyeragamkan seluruh kebijakan,” katanya.

Situasi semakin mendesak karena batas waktu penginputan pokir ke dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) semakin dekat. Jika usulan tidak dimasukkan sesuai tenggat, seluruh pokir berpotensi gugur secara sistem.

“Kalau tidak diinput, aspirasi masyarakat ini bisa hilang. Bukan karena aturan, tapi karena dihambat,” pungkasnya.

DPRD Kaltim berharap komunikasi dengan pihak eksekutif segera menemukan titik temu agar seluruh aspirasi masyarakat tetap terakomodasi dalam perencanaan pembangunan daerah. (MK)

Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S

Maming Meninggal Dunia, DPRD Bontang Berduka

0

BONTANG — Kabar duka datang dari dunia politik Kota Bontang. Wakil Ketua DPRD Bontang, Maming, dikabarkan meninggal dunia pada Sabtu (4/4/2026).

Informasi wafatnya Maming dengan cepat menyebar di kalangan pejabat dan masyarakat. Kabar tersebut juga telah dibenarkan oleh Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam.

“Iya benar adanya kabar meninggalnya H. Maming,” ujarnya saat dihubungi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait penyebab meninggalnya almarhum, termasuk jadwal prosesi pemakaman.

Pantauan di rumah duka, suasana dipenuhi pelayat sejak malam hari. Sejumlah anggota DPRD Bontang, pejabat daerah, serta masyarakat tampak hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.

Kepergian Maming menjadi kehilangan bagi dunia politik Bontang, mengingat perannya sebagai pimpinan legislatif yang selama ini aktif dalam berbagai agenda pemerintahan dan pelayanan masyarakat.

Informasi lanjutan terkait penyebab wafat serta jadwal pemakaman masih menunggu keterangan resmi dari pihak keluarga. (MK)

Penulis: Dwi S
Editor: Agus S

Edukasi Soal Hewan Dilindungi Harus Digencarkan

BERAU – Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris, menyoroti kejadian viral beberapa waktu lalu saat sejumlah pemuda terekam menunggangi penyu hijau di kawasan wisata Pulau Derawan.

Ia menilai peristiwa tersebut mencerminkan masih minimnya pemahaman masyarakat maupun wisatawan terhadap satwa yang dilindungi.

Menurutnya, langkah sosialisasi perlu segera dilakukan oleh pemerintah kampung maupun instansi terkait, agar pengunjung mengetahui batasan aktivitas saat berada di kawasan konservasi.

“Saran dari saya harus diadakan sosialisasi. Artinya ada himbauan atau larangan terkait apa yang boleh dan tidak,” ujarnya.

Ia mencontohkan, masih banyak masyarakat yang berasal dari daerah hulu atau pedalaman, seperti Kelay, yang mungkin belum mengetahui status perlindungan satwa laut tersebut.

“Setiap masyarakat berbeda latar belakangnya. Ada yang dari pedalaman dan tidak tahu bahwa hewan itu dilindungi, karena di wilayah mereka hewan itu tidak ada,” jelasnya.

Untuk itu, ia mendorong agar pemerintah kampung bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) gencar melakukan sosialisasi, edukasi, maupun pemberitahuan secara langsung di lapangan.

“Ini harus jelas, dalam bentuk sederhana saja, bahwa ini hewan yang dilindungi maka tidak boleh sembarangan. Sehingga wisatawan maupun masyarakat lokal lebih paham,” tutupnya. (adv)

Perlu Peran Keluarga dalam Cegah Kekerasan Seksual

BERAU – Anggota Komisi III DPRD Berau, Oktavia menyerukan peningkatan edukasi kepada keluarga sebagai langkah utama mencegah kasus pelecehan seksual terhadap anak.

Ia menyoroti tingginya angka kasus yang justru dilakukan oleh keluarga terdekat, termasuk ayah kandung korban, sebagai persoalan yang memerlukan perhatian khusus.

“Pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat menunjukkan bahwa edukasi keluarga masih sangat kurang. Ini perlu menjadi fokus utama dalam pencegahan,” ungkap Oktavia.

Oktavia menegaskan bahwa keluarga harus menjadi benteng pertama dalam melindungi anak dari ancaman kekerasan seksual. Edukasi terkait bahaya pelecehan seksual, termasuk pengetahuan anak tentang bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun, harus dimulai sejak dini di lingkungan keluarga.

“Orangtua harus membekali anak-anak mereka dengan informasi dasar tentang batasan tubuh. Hal ini tidak hanya melindungi anak, tetapi juga membuat mereka lebih berani berbicara jika merasa tidak nyaman,” ujarnya.

Menurut Oktavia, pelecehan seksual memiliki dampak serius terhadap perkembangan anak, baik secara psikologis, fisik, maupun sosial. Trauma yang dialami korban dapat mengganggu kehidupan mereka di masa depan, mulai dari hubungan sosial hingga pendidikan.

“Ketika anak menjadi korban, tidak hanya kehidupannya yang terpengaruh, tetapi juga masa depan mereka. Oleh karena itu, pencegahan adalah langkah terbaik yang bisa kita lakukan,” tegasnya.

Ia mendorong Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) untuk lebih intensif melakukan sosialisasi pencegahan pelecehan seksual di masyarakat. Sosialisasi ini harus menjangkau sekolah-sekolah, tempat ibadah, dan lingkungan keluarga.

“Kegiatan sosialisasi tidak boleh hanya sekadar seremonial. Harus ada pendampingan berkelanjutan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat,” tambah Oktavia.

Oktavia berharap pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dapat bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak, termasuk tokoh masyarakat dan tokoh agama, untuk menghilangkan stigma terhadap korban sehingga mereka merasa nyaman untuk melapor.

“Lingkungan yang aman dan suportif adalah kunci. Dengan kerja sama yang baik, kita bisa melindungi anak-anak kita dari ancaman kekerasan seksual,” tutupnya. (adv)

Sutami: Industri Kreatif Sangat Berpotensi

BERAU – Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami menilai sektor ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi pilar utama perekonomian di Kabupaten Berau. Ia mengajak generasi muda untuk menjadikan bisnis kreatif sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi lokal.

“Ekonomi kreatif bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga kontribusi terhadap identitas dan daya saing daerah. Anak-anak muda Berau perlu melihat ini sebagai peluang untuk membangun bisnis yang inovatif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sutami menyebutkan bahwa anak muda Berau memiliki kreativitas dan semangat tinggi, tetapi masih membutuhkan dorongan dalam bentuk pelatihan dan akses informasi. Ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif dalam memberikan fasilitas dan pendampingan bagi generasi muda yang ingin memulai bisnis di sektor kreatif.

“Pemkab harus berperan sebagai katalis. Program seperti inkubator bisnis, pelatihan digital marketing, dan akses permodalan harus lebih digencarkan agar anak muda bisa memulai usaha mereka dengan langkah yang lebih kokoh,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan kearifan lokal sebagai basis dari bisnis kreatif. Menurut Sutami, produk-produk berbasis budaya dan sumber daya lokal memiliki nilai tambah yang tinggi di pasar, baik nasional maupun internasional.

“Potensi alam dan budaya Berau sangat besar. Dengan inovasi, kita bisa mengolah ini menjadi produk bernilai jual tinggi, seperti kerajinan tangan, kuliner khas, atau pariwisata berbasis pengalaman,” tambahnya.

Sutami mengajak sektor swasta untuk ikut serta dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif di Berau. Ia mengusulkan kemitraan strategis antara pemerintah, perusahaan lokal, dan anak-anak muda kreatif untuk menciptakan ekosistem bisnis yang lebih solid.

“Kolaborasi antara sektor pemerintah dan swasta sangat penting. Dengan bantuan teknologi dan jaringan, bisnis kreatif anak muda Berau bisa menembus pasar yang lebih luas,” tegasnya.

Melihat potensi besar yang ada, Sutami optimistis bahwa ekonomi kreatif dapat menjadi tonggak baru perekonomian Berau. Ia percaya dengan dukungan yang tepat, generasi muda akan mampu menciptakan peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sutami berharap pemerintah dapat menjadikan pengembangan ekonomi kreatif sebagai salah satu prioritas utama dalam perencanaan pembangunan Kabupaten Berau di masa mendatang.

“Anak muda adalah aset masa depan Berau. Jika mereka diberi ruang dan dukungan yang cukup, saya yakin bisnis kreatif akan membawa dampak besar bagi perekonomian kita,” pungkasnya. (adv)