Melukis untuk Didengar, Kisah Inspiratif dari Siswa SLBN Tenggarong

TENGGARONG — Di sudut sebuah ruang kelas Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Tenggarong yang sederhana, tangan-tangan kecil itu menari dengan penuh kesabaran. Goresan warna yang mereka hasilkan bukan sekadar garis dan bentuk, melainkan kisah tentang keberanian, imajinasi, dan cara mereka memandang dunia.

Bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus, seni bukan hanya keterampilan, tapi juga menjelma sebagai bahasa yang membantu mereka bercerita tanpa kata. Di balik setiap lukisan mereka, ada cerita tentang ketekunan, tentang anak-anak yang sering kali tidak terdengar suaranya, tetapi mampu berbicara lantang lewat karya seni.

Di SLBN Tenggarong, seni lukis menjadi salah satu bidang yang paling bersinar. Dari tempat inilah lahir talenta-talenta yang tak hanya membuat bangga sekolah, tetapi juga mengharumkan nama Kutai Kartanegara (Kukar).

Salah satu siswa SLBN Tenggarong bahkan pernah membawa pulang juara seni lukis tingkat nasional tahun 2015 di Kota Semarang. Sebuah prestasi yang menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah batasan untuk bermimpi besar.

Koordinator keterampilan melukis sekaligus guru SLBN Tenggarong, Siti Masitoh, mengenang momen membanggakan lainnya. Pada tahun 2023, dua karya lukis siswa bernama Mila dan Lia dilelang dalam ajang Wonderful Kukar di Tenggarong Seberang.

Lukisan mereka laku terjual dan dibeli langsung oleh Bupati serta Wakil Bupati Kukar saat itu, Edi Damansyah dan Rendi Solihin. “Bahkan Mila juga berhasil meraih Juara 1 FLS2N Melukis Tingkat Provinsi Kalimantan Timur 2024,” ungkapnya.

Kegiatan melukis di SLBN Tenggarong berlangsung setiap Senin hingga Kamis, diikuti oleh peserta didik dengan ketunaan Autism, Tunarungu, dan Tunagrahita. Namun pembelajaran tidak selalu dilakukan di dalam ruang kelas.

Siti juga kerap mengajak siswa keluar, merasakan angin, melihat langit, memperhatikan jembatan, dan menangkap ekspresi manusia secara langsung. Dengan begitu, seni menjadi alat terapi. Mereka belajar fokus, merasakan ketenangan, dan menemukan cara untuk mengekspresikan diri.

READ  Penyusunan RPJMD Kukar Dimulai, Pemkab Libatkan Masyarakat Luas Termasuk Disabilitas

“Jadi mereka langsung melukis objek yang mereka lihat. Misalnya, secara langsung melukis jembatan atau bahkan melukis wajah secara langsung,” ujarnya.

Meski beragam karya indah tercipta setiap pekan, Siti mengakui perjalanan anak-anak ini belum sepenuhnya mendapat ruang yang layak. Karya mereka masih jarang dipamerkan dan kesempatan tampil dalam acara seni masih terbatas.

Ia menyimpan harapan besar agar lebih banyak pintu terbuka bagi anak-anak luar biasa ini. SLBN Tenggarong berhasil membuktikan bahwa semua anak bisa bersinar asal diberi ruang, didengar, dan dipercaya.

“Mudah-mudahan ke depannya bisa bekerja sama lebih baik lagi dan kami bisa diundang pada event-event selanjutnya. Misalnya, jika ada kegiatan kesenian, teater, atau acara pemerintah, kami berharap bisa dilibatkan,” harapnya.

Kisah inspiratif tidak berhenti pada seni lukis. Siti menjelaskan bahwa siswa SLBN Tenggarong memiliki bakat yang luar biasa beragam: mulai dari membatik, tata boga, tata rias, kriya kayu, IT, seni pertunjukan, hingga olahraga.

Prestasi mereka pun bukan sekadar deretan kegiatan kelas. Trofi dan piagam menjadi bukti kerja keras para siswa dan guru. “Untuk olahraga juga banyak yang mendapat penghargaan. Di kantor ada beberapa piala dan baru saja dapat empat trofi. Dari IT juga ada yang juara satu,” tutupnya.

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img