Minggu, Juni 16, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Presiden Macron Temui Seluruh Wali Kota, Prancis Mulai Tenang

PARIS – Situasi di Prancis perlahan kondusif. Aksi dari massa di sejumlah wilayah mulai mereda seiring dengan turunnya para wali kota untuk turun ke jalan dan menenangkan massa.

”Saya tidak pernah menyangka bahwa keluarga saya bakal terancam dengan kematian,” ujar Vincent Jeanbrun, wali kota di wilayah satelit Paris, seperti dilansir Agence France-Presse.

Jeanbrun sempat begitu cemas. Dia turut menjadi korban amuk massa. Akhir pekan lalu, rumahnya dihantam sebuah mobil yang sudah terbakar. Seakan-akan ada yang ingin membakar rumahnya. Saat itu, di rumahnya hanya ada istri dan dua anaknya yang masing-masing berusia tujuh dan lima tahun.

Kabarnya, ada peserta aksi yang juga menembakkan roket ke arah istri dan anak-anaknya. Akibatnya, kaki istrinya patah dan kedua anaknya pun mengalami luka-luka. ”Mereka tahu bahwa ada orang di dalam (rumah). Tidak cukup itu, mereka juga meledakkan petasan mortar,” ucapnya.

Dalam pernyataan resminya, asosiasi wali kota di Prancis menyebut, situasi sudah tak masuk akal. Saat terjadi kerusuhan, banyak simbol republik yang diserang dengan brutal. Namun, Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin mengaku pihaknya masih belum bisa memastikan apakah insiden tersebut benar-benar terkait kerusuhan yang terjadi sepekan terakhir.

Sementara itu, Senin, 3 Juli 2023, warga ramai-ramai turun jalan. Namun, aksi mereka untuk mengutuk serangan dan kerusuhan yang terjadi selama sepekan terakhir itu. Mereka menyuarakan untuk mengembalikan ketenangan di Prancis terus menguat. ”Kemarin, seorang kopral (petugas pemadam kebakaran) meninggal setelah mencoba memadamkan berbagai titik api di Saint-Denis,” ucap Menteri Pertahanan Prancis Sebastien Lecornu melalui akun Twitternya.

Petugas pemadam kebakaran berusia 24 tahun itu meninggal saat berusaha menjinakkan kobaran api. Saat itu, api membakar beberapa mobil di sebuah lahan parkir bawah tanah. Insiden itu seakan menjadi bukti kerusuhan yang terjadi sudah di luar batas.

Keluarga Nahel Merzouk pun memiliki pendapat senada. Nadia, nenek Nahel, mengatakan, perusuh dan penjarah hanya menggunakan cucunya sebagai dalih untuk melakukan aksi mereka. Meski begitu, bukan berarti pihaknya sudah melupakan kematian cucunya. Perempuan keturunan Aljazair itu bahkan merasa dongkol karena masih ada yang berusaha mendukung pelaku pembunuhan cucunya. ”Hati saya masih sakit,” ucapnya dikutip BBC.

Seperti diberitakan, kematian Nahel menjadi pemantik kerusuhan di Prancis. Pada 27 Juni lalu, seorang polisi menembak mati pemuda 17 tahun itu dalam operasi lalu lintas. Isu rasisme dalam penegakan hukum oleh aparat Prancis pun kembali mengemuka. Peristiwa itu juga menjadi tantangam bagi Presiden Emmanuel Macron. Apalagi, kerusuhan terjadi saat Macron belum lama berhasil meredakan demo panjang tentang usia pensiun. Untuk meredam masalah ini, Macron juga menemui 220 wali kota yang terdampak kerusuhan. (kn)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular