Beranda blog Halaman 56

Tangani Karhutla, Pemkab Kukar Siapkan Anggaran Rp10 Miliar dari Pemerintah Pusat

0
Kondisi Karhutla di Kukar. (Foto: Istimewa)

TENGGARONG – Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kutai Kartanegara (Kukar) belum sepenuhnya berhenti meski jumlah titik panas mulai menunjukkan penurunan.

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar menyiapkan dukungan anggaran hingga Rp10 miliar untuk memperkuat penanganan karhutla di sejumlah wilayah rawan.

Dana tersebut berasal dari bantuan pemerintah pusat dan telah dimasukkan dalam batang tubuh perencanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Kukar 2026.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono mengatakan anggaran itu sengaja disiapkan dengan ruang penggunaan yang fleksibel. Artinya, dana dapat diarahkan sesuai kebutuhan yang benar-benar muncul di lapangan.

“Peruntukannya itu open menu. Mulai dari penanganan, rehabilitasi, termasuk misalnya untuk pemenuhan kebutuhan infrastruktur yang dibutuhkan,” kata Sunggono di Ruang Rapat Sekda Kantor Bupati Kukar, Tenggarong, Kamis (24/9/2026).

Menurut Sunggono, kebutuhan penanganan Karhutla tidak hanya berkaitan dengan operasi pemadaman. Pemkab juga harus memastikan petugas memiliki perlengkapan dan dukungan logistik yang memadai ketika bekerja di lokasi kebakaran.

Karena itu, anggaran tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari peralatan pemadaman, selang, bahan bakar hingga kendaraan operasional.

“Misalnya bisa saja beli selang, bisa saja beli mobil, bisa saja untuk beli kebutuhan bahan bakar dan lain-lain. Konsumsi juga boleh,” jelasnya.

Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat langsung dalam penanganan Karhutla juga telah menyampaikan kebutuhan masing-masing.

Di antaranya Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Sosial Kukar.

Sunggono memastikan usulan tersebut tidak serta-merta dimasukkan ke dalam anggaran. Pemerintah daerah telah melakukan verifikasi untuk memastikan kebutuhan yang diajukan berkaitan dengan penanganan bencana.

“Semua sudah mengajukan usulan dan sudah kita verifikasi,” ujarnya.

Pemkab Kukar kini menunggu pengesahan APBD Perubahan 2026. Setelah proses tersebut rampung, anggaran Rp10 miliar itu dapat langsung digunakan sesuai kebutuhan penanganan di lapangan.

“Tinggal menunggu setelah pengesahan APBD Perubahan ini bisa langsung kita eksekusi untuk direalisasikan,” terangnya.

Kebutuhan dukungan anggaran tersebut tetap menjadi perhatian meski perkembangan karhutla di Kukar mulai membaik.

Sunggono menyebut laporan Satgas Tim Pengendalian Bencana Kebakaran Hutan dan Kekeringan menunjukkan jumlah titik panas atau hotspot di Kukar terus berkurang.

“Titik-titik hotspot-nya sudah semakin banyak berkurang. Sudah sangat banyak berkurang,” ungkapnya.

Penurunan hotspot tersebut menjadi sinyal positif setelah Kukar menghadapi karhutla yang cukup luas sepanjang periode kering 2026.

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat penanganan dihentikan. Pemerintah daerah masih harus menjaga kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang memiliki potensi kebakaran dan lahan yang mudah terbakar.

Terlebih, penanganan karhutla di Kukar melibatkan banyak unsur, mulai dari pemerintah daerah, satgas, petugas pemadam, BPBD, perusahaan hingga kelompok masyarakat.

Sunggono mengatakan, koordinasi lintas sektor yang semakin intensif turut berpengaruh terhadap membaiknya kondisi karhutla.

“Semakin lama semakin baik koordinasi penanganannya, baik antara kami di Satgas ataupun juga dengan entitas sektoral dan juga CSR yang ada di lapangan. Perusahaan-perusahaan khususnya,” tutupnya. (adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R

Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Pesisir Mukomuko, Basarnas Turun Evakuasi

0
Tim Basarnas bersama dengan kepolisian dan masyarakat setempat saat melakukan evakuasi terhadap jenazah tanpa identitas yang ditemukan di pesisir pantai Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, Kamis (24/9/2026). ANTARA/Anggi Mayasari

KOTA BENGKULU – Mayat tanpa identitas ditemukan di kawasan pesisir Desa Lubuk Sanai, Kecamatan Koto Jaya, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Kamis (24/9/2026) pagi. Tim gabungan kemudian mengevakuasi jenazah tersebut ke Rumah Sakit Mukomuko untuk proses penanganan lebih lanjut.

Kepala Basarnas Bengkulu Muslikun Sodik mengatakan pihaknya menerima laporan penemuan mayat dari masyarakat sekitar pukul 08.20 WIB.

“Memang benar ada penemuan mayat tanpa identitas di pesisir pantai di Kabupaten Mukomuko dan saat ini korban sudah dibawa ke Rumah Sakit Mukomuko,” kata Muslikun di Kota Bengkulu, Kamis (24/9/2026).

Setelah menerima laporan, Basarnas mengerahkan tim rescue dari Pos SAR Mukomuko untuk melakukan evakuasi.

Proses tersebut melibatkan unsur TNI, kepolisian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah setempat, serta masyarakat.

Jenazah selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Mukomuko untuk penanganan sesuai prosedur. Hingga laporan ini disampaikan, identitas korban belum diketahui.

*Sebelumnya Mayat Ditemukan di Enggano*

Penemuan mayat tanpa identitas juga terjadi di kawasan pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu (12/9).

Jenazah dari Enggano kemudian dievakuasi menggunakan pesawat Susi Air dari Bandara Enggano menuju Bandara Fatmawati Soekarno pada Senin (14/9) pukul 07.58 WIB.

Jenazah didampingi dua petugas kepolisian untuk menjalani autopsi guna membantu memastikan identitas serta penyebab kematian.

Berdasarkan keterangan Polda Banten, hasil pencocokan DNA dengan sampel antemortem kemudian menunjukkan jenazah tersebut identik dengan Surakman atau Sukarman (60).

Korban diketahui merupakan salah satu kru kapal cepat KM Arupadatu I yang membawa rombongan jurnalis dan dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Pandeglang, pada Senin (7/9).

Sementara itu, untuk penemuan mayat di pesisir Desa Lubuk Sanai, proses identifikasi dan penanganan masih dilakukan oleh pihak terkait. (ANT/KN)

Yusril: Pemerintah Hormati KPK Jika Ingin Periksa Nusron Wahid

0
Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra (pertama kanan) dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (23/9/2026). (ANTARA/Agatha Olivia Victoria)

JAKARTA – Pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menentukan pihak yang perlu diperiksa dalam kasus dugaan suap di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), termasuk Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah menghormati independensi KPK dalam menjalankan proses penegakan hukum.

Menurut Yusril, posisi Nusron sebagai menteri tidak menghalangi kewenangan KPK apabila penyidik membutuhkan keterangannya dalam perkara tersebut.

“Bahkan jangankan KPK, lembaga penegak hukum di internal pemerintah sendiri seperti Kepolisian dan Kejaksaan pun, kami sudah punya sikap yang sama seperti itu,” kata Yusril dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Yusril mengatakan KPK memiliki kewenangan untuk menghimpun data dan informasi dalam proses pengusutan dugaan korupsi.

Jika dari data yang telah dikumpulkan terdapat kebutuhan untuk memeriksa Nusron, keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan penyelidik dan penyidik KPK.

“Ini kami serahkan sepenuhnya kepada independensi dari para penyelidik dalam proses penegakan hukum,” ujarnya.

Menurut Yusril, KPK nantinya yang menentukan langkah hukum berdasarkan hasil proses penyelidikan dan penyidikan, termasuk apakah seseorang perlu diperiksa, perkara ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan, atau dilanjutkan ke tahap penuntutan.

Sebelumnya, Nusron Wahid mengaku tidak mengetahui secara rinci perkara dugaan suap terkait hak guna bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk yang tengah ditangani KPK.

“Enggak tahu (duduk perkara kasus suap di Summarecon itu seperti apa),” kata Nusron saat ditemui di Jakarta, Jumat (18/9).

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Nusron ditanya mengenai perkara dugaan suap yang menyeret sejumlah pihak di lingkungan Kementerian ATR/BPN.

Nusron juga membantah anggapan bahwa dirinya menghilang setelah perkara tersebut mencuat.

“Masa kita bisa menghilang kayak jin, ya?,” ujarnya.

Ia menegaskan Kementerian ATR/BPN menghormati proses hukum yang sedang dijalankan KPK. Kementerian, kata dia, akan mengikuti proses tersebut dan memberikan dukungan yang diperlukan kepada aparat penegak hukum sesuai ketentuan.

Nusron juga menyerahkan proses pembuktian perkara kepada KPK ketika ditanya mengenai penyebutan namanya dalam konferensi pers lembaga antirasuah tersebut.

KPK sebelumnya melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di kawasan Jabodetabek pada 14 September 2026. Operasi tersebut berkaitan dengan dugaan korupsi dalam pengurusan HGB PT Summarecon Agung Tbk di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sehari setelah OTT, KPK menetapkan delapan orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap di lingkungan Kementerian ATR/BPN.

Mereka antara lain Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Kementerian ATR/BPN Lampri, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I Sontang Coin Manurung, Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk Adrianto Pitojo Adhi, serta Rizal Pahlevi yang disebut sebagai pihak swasta atau perantara Summarecon.

Tersangka lainnya yakni mantan Bupati Kebumen Arif Sugiyanto, Ketua DPP Partai Golkar Fahd El Fouz alias Fahd Arafiq, serta pihak swasta Erwin dan Muhammad Fakhry.

Dalam keterangan KPK sebagaimana diberitakan sebelumnya, empat tersangka disebut diduga merupakan orang kepercayaan Nusron Wahid.

Pada 17 September 2026, penyidik KPK juga melakukan penggeledahan di sejumlah ruangan di Kementerian ATR/BPN, termasuk ruangan Lampri, Dirjen Survei, Pemetaan Pertanahan dan Ruang Virgo Eresta Jaya, Dirjen Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah Asnaedi, serta ruangan direktorat terkait perkara.

KPK, berdasarkan informasi tersebut, tidak melakukan penggeledahan terhadap ruangan Nusron Wahid.

Hingga kini, keputusan mengenai pihak-pihak yang akan diperiksa lebih lanjut tetap menjadi kewenangan penyidik KPK berdasarkan kebutuhan penyidikan perkara. (ANT/KN)

Sekolah Negeri Gratis Tak Dapat Anggaran Baru, Menkeu: Pakai Dana Pendidikan 2027

0
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan presentasi khusus pada Antara Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta, Rabu (23/9/2026). Menkeu Suahasil Nazara memaparkan tema “Arah Kebijakan dan Strategi Ekonomi Indonesia” dalam presentasinya. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/kye (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)

JAKARTA – Pemerintah tidak menyiapkan anggaran tambahan khusus untuk program sekolah negeri gratis pada 2027. Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengatakan pembiayaan program tersebut akan menggunakan anggaran pendidikan yang telah dialokasikan dalam RAPBN 2027 sebesar Rp820,9 triliun.

Suahasil mengatakan anggaran pendidikan tetap dialokasikan sebesar 20 persen dari APBN. Pemerintah kini membahas kembali desain penggunaannya agar dapat mendukung program pendidikan gratis sekaligus memperkuat kualitas pendidikan yang sudah berjalan.

“Kalau APBN selalu 20 persen untuk pendidikan. Jadi pertanyaannya anggaran pendidikan itu Rp800 triliun lebih, bagaimana mendesainnya,” kata Suahasil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Menurut Suahasil, pemerintah sedang mengevaluasi kembali penggunaan anggaran pendidikan yang tersebar di pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta kementerian dan lembaga.

Total anggaran pendidikan yang sedang dibahas berada di kisaran Rp820 triliun hingga Rp824 triliun. Anggaran tersebut akan didesain ulang agar penggunaannya dapat mendukung berbagai kebutuhan pendidikan, termasuk rencana penerapan sekolah negeri gratis.

“Ini termasuk 2027, anggaran ada sekian bagaimana desainnya paling baik,” ujarnya.

Dengan demikian, program sekolah negeri gratis tidak menggunakan pos anggaran baru di luar alokasi pendidikan yang telah ditetapkan dalam RAPBN 2027.

Pemerintah kini mematangkan skema penggunaan anggaran pendidikan 2027 seiring arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas akses pendidikan gratis.

Suahasil mengatakan pemerintah perlu menentukan desain penggunaan anggaran agar berbagai program pendidikan dapat berjalan dengan alokasi yang tersedia.

Pembahasan tersebut mencakup anggaran yang berada di pemerintah pusat maupun daerah serta kementerian dan lembaga yang berkaitan dengan sektor pendidikan.

Desain ulang anggaran menjadi bagian dari proses pemerintah menyiapkan pembiayaan pendidikan gratis tanpa menambah alokasi khusus di luar anggaran pendidikan yang telah ditetapkan.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan kebutuhan anggaran untuk penerapan pendidikan gratis di perguruan tinggi negeri (PTN) masih dalam tahap penghitungan.

Menurut Brian, pemerintah masih membahas berbagai kemungkinan skema dan tahapan penerapannya.

“Ini yang kami sedang lakukan hitung-hitungan, makanya hari ini ada rapat untuk membicarakan skema-skema, tahapan-tahapan dan lain-lainnya,” kata Brian.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajaran menteri menyusun rencana serta kebutuhan anggaran untuk memperluas pendidikan gratis, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi negeri.

Arahan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.

Pemerintah selanjutnya masih akan mematangkan desain pembiayaan, termasuk penggunaan anggaran pendidikan 2027 untuk mendukung program sekolah negeri gratis serta menghitung kebutuhan anggaran pendidikan gratis di PTN. (ANT/KN)

Soal Pendidikan Gratis, Hetifah Minta Madrasah dan PT Keagamaan Tak Ditinggalkan

0
Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian. (foto: Istimewa)

JAKARTA – Rencana pemerintah mempercepat pendidikan gratis di sekolah negeri dan mematangkan kebijakan perguruan tinggi negeri (PTN) bebas biaya kuliah mendapat perhatian dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian.

Ia meminta kebijakan tersebut disusun dengan mempertimbangkan seluruh jalur pendidikan agar peserta didik di madrasah, pesantren, perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), hingga lembaga pendidikan keagamaan lainnya tidak tertinggal.

Hetifah menyambut baik arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pendidikan gratis di sekolah negeri serta mematangkan kebijakan PTN bebas biaya kuliah.

Menurutnya, kebijakan tersebut penting agar kondisi ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi anak-anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

“Saya menyambut baik arahan Presiden Prabowo untuk mempercepat pendidikan gratis di sekolah negeri dan mematangkan kebijakan perguruan tinggi negeri bebas biaya kulia,” ungkap Hetifah, Kamis (24/9/2026).

Ia juga mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap pesantren, termasuk penguatan kelembagaan melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama.

Namun, Hetifah meminta pemerintah melihat sistem pendidikan nasional secara lebih utuh ketika menyusun skema pendidikan gratis.

Menurut dia, perbedaan jalur pendidikan tidak semestinya membuat peserta didik kehilangan kesempatan memperoleh dukungan pembiayaan pendidikan dari negara.

“Jika sekolah negeri mendapatkan pendidikan gratis, maka perlu dipastikan bagaimana dengan madrasah negeri. Jika PTN akan dibebaskan dari UKT dan Iuran Pengembangan Institusi, maka mahasiswa PTKIN juga harus memperoleh perhatian yang setara. Demikian pula pesantren serta pendidikan keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu perlu ditempatkan secara proporsional dalam desain kebijakan ini,” tuturnya.

Prinsipnya, menurut Hetifah, adalah keadilan bagi peserta didik. Negara dapat merancang skema pembiayaan yang berbeda sesuai karakter dan tata kelola masing-masing lembaga, tetapi jangan sampai pilihan seorang anak untuk belajar di madrasah, pesantren, PTKIN, atau lembaga pendidikan keagamaan lainnya membuat haknya atas dukungan pendidikan dari negara menjadi berbeda.

“Saya mendorong agar Kementerian Agama dilibatkan secara penuh dalam pembahasan kebijakan pendidikan gratis ini sejak tahap perencanaan dan penganggaran. Momentum ini sekaligus dapat menjadi langkah besar menuju sistem pembiayaan pendidikan nasional yang lebih adil, inklusif, dan tidak membedakan anak-anak Indonesia berdasarkan jalur pendidikan yang mereka pilih,” pungkasnya.

Editor : Nicha R

Pemerintah Siapkan Rp100,1 Triliun untuk Rehab Rekon Pascabencana Sumatra

0
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/9/2026). (ANTARA/Fianda Sjofjan Rassat)

JAKARTA – Pemerintah menyiapkan anggaran Rp100,1 triliun untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Anggaran tersebut dialokasikan untuk program pemulihan selama tiga tahun berdasarkan rencana induk yang telah disusun pemerintah.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan Presiden telah memberikan arahan terkait kebutuhan anggaran berdasarkan rencana induk rehabilitasi dan rekonstruksi yang disusun pemerintah.

“Bapak Presiden sudah mengeluarkan direktif dalam bentuk jumlah anggaran yang diajukan berdasarkan reninduk tersebut, yaitu Rp100,1 triliun untuk tiga tahun,” kata Tito dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Rencana induk tersebut disusun Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dengan menghimpun usulan program dan kegiatan dari kementerian/lembaga serta pemerintah daerah di tiga provinsi terdampak.

Dokumen tersebut kemudian dibahas bersama DPR sebelum diajukan kepada Presiden untuk mendapatkan arahan mengenai kebutuhan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi.

Selain alokasi untuk program rehabilitasi dan rekonstruksi selama tiga tahun, pemerintah telah memberikan dukungan anggaran langsung kepada pemerintah daerah terdampak.

Dukungan tersebut antara lain berasal dari belanja tidak terduga. Pemerintah memberikan sekitar Rp20 miliar kepada pemerintah provinsi dan sekitar Rp4 miliar kepada masing-masing kabupaten/kota, dengan total mencapai sekitar Rp268 miliar.

Pemerintah juga memberikan tambahan transfer keuangan daerah sebesar Rp10,6 triliun kepada pemerintah daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada Februari 2026.

Dukungan kembali diberikan pada 5 Agustus 2026 dengan total hampir Rp196 miliar untuk membantu mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah terdampak.

Dukungan anggaran juga disiapkan melalui kementerian dan lembaga pemerintah pusat.

Tito mengatakan Menteri Keuangan telah menyetujui anggaran untuk 25 kementerian/lembaga dengan nilai total sekitar Rp38,5 triliun.

“Dan Menteri Keuangan sudah menyetujui 25 kementerian/lembaga, totalnya lebih kurang Rp38,5 triliun,” ujarnya.

Selanjutnya, pemerintah akan memastikan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dijalankan kementerian/lembaga tersinkronisasi dengan pemerintah daerah.

Kementerian dan lembaga yang memperoleh anggaran juga akan menyampaikan program yang dikerjakan kepada pemerintah daerah terdampak secara berkala.
Menurut Tito, penyampaian perkembangan tersebut dilakukan setiap Rabu agar pemerintah daerah mengetahui program yang sedang dilaksanakan kementerian/lembaga di wilayah masing-masing.

Program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di tiga provinsi tersebut mencakup berbagai sektor.

Tito menyebut sektor yang menjadi bagian dari pemulihan antara lain pendidikan, infrastruktur jalan dan jembatan, kesehatan, pertanian, hingga perikanan.

Dengan rencana induk dan dukungan anggaran yang telah disiapkan, pemerintah selanjutnya akan menyelaraskan pelaksanaan program antara kementerian/lembaga dan pemerintah daerah di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. (ANT/KN)

Pinjaman Rp820 Miliar Bankaltimtara Lunas, Pemkab Kukar Bereskan Administrasi

0
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri. (Foto: Ady/KoranNusantara)

TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) akhirnya menuntaskan seluruh kewajiban pinjaman kepada Bankaltimtara senilai Rp820 miliar. Pelunasan tersebut dipastikan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri usai mengikuti rangkaian acara Beseprah pada Kamis (24/9/2026).

Dengan demikian, pinjaman yang sebelumnya digunakan untuk membantu menyelesaikan kewajiban pembayaran kepada pihak ketiga atau rekanan pembangunan tahun anggaran 2025 itu kini tidak lagi menyisakan saldo utang.

“Sudah lunas. Kita sudah membayar sesuai dengan jumlah pinjaman yang ada,” sebutnya.

Meski pembayaran secara substantif telah tuntas, Pemkab Kukar masih harus menyelesaikan tahapan administratif setelah pelunasan. Penatausahaan menjadi bagian penting agar seluruh transaksi dan kewajiban tersebut tercatat sesuai ketentuan pengelolaan keuangan daerah.

“Sekarang kami dalam tahap melakukan proses penata usahaannya sehingga ini sesuai dengan ketentuan yang kita punya,”ujarnya.

Aulia mengatakan proses penatausahaan tersebut dilakukan dengan pendampingan pihak-pihak terkait. Menurutnya, pelunasan secara finansial harus diikuti dengan penyelesaian administrasi agar tidak menyisakan persoalan di kemudian hari.

“Kita juga didampingi oleh pihak-pihak terkait, sehingga kita tidak mau hal yang substantif sudah kita laksanakan dengan baik, ini haruslah diikuti dengan hal yang sifatnya administratif. Itu harus dilakukan dengan baik dan benar,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, pinjaman Rp820 miliar tersebut menjadi salah satu episode penting dalam pengelolaan keuangan Pemkab Kukar sepanjang tahun ini. Pemkab Kukar menandatangani akad kredit dengan Bankaltimtara pada 13 Maret 2026.

Langkah tersebut ditempuh untuk membantu memenuhi kebutuhan arus kas daerah dan menyelesaikan kewajiban kepada pihak ketiga, terutama rekanan yang mengerjakan proyek pembangunan tahun anggaran 2025.

Saat itu, Pemkab Kukar menargetkan pembayaran kepada pihak ketiga dapat segera dituntaskan setelah pinjaman dicairkan.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono sebelumnya menjelaskan, pembayaran pinjaman kepada Bankaltimtara dilakukan secara bertahap dengan menyisihkan sekitar 10 hingga 20 persen setiap kali Dana Bagi Hasil (DBH) diterima pemerintah daerah.

Skema tersebut berjalan di tengah kondisi penerimaan daerah yang belum sepenuhnya stabil. Dana transfer dari pemerintah pusat, termasuk DBH, belum seluruhnya diterima Pemkab Kukar sehingga pembayaran pinjaman dilakukan menyesuaikan kemampuan kas daerah.

Pada awal September 2026, progres pembayaran disebut telah mendekati 80 persen. Kemudian pada 19 September, Sunggono menyebut sisa kewajiban tinggal sekitar Rp100 miliar lebih. Pemkab Kukar saat itu menargetkan seluruh pinjaman dapat dilunasi pada akhir September karena dana untuk pembayaran telah tersedia.

Target tersebut ternyata dapat direalisasikan lebih cepat. Pelunasan pinjaman ini, kini mengakhiri kewajiban Pemkab Kukar kepada Bankaltimtara dari skema Rp820 miliar tersebut.

“Dan memang utang kita itu kan jangka pendek, harus dilunasi sebelum habis masa tahun anggaran,” tutupnya. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R

Raja Menjamu Rakyatnya, Beseprah Erau 2026 Jadi Ruang Tanpa Sekat

0
Foto : Suasana pelaksanaan Beseprah dalam rangkaian Erau Adat Kutai (Foto: Ady/Koran Nusantara)

TENGGARONG – Tak ada meja khusus pejabat, tak ada kursi yang memisahkan tamu dan rakyat. Dalam hamparan makanan yang sama, Sultan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), pejabat pemerintah, kerabat kesultanan hingga masyarakat duduk bersama dan menyantap hidangan dalam satu ruang yang setara.

Suasana itu terlihat dalam tradisi Beseprah di depan Museum Mulawarman, Kamis (24/9/2026), yang menjadi salah satu rangkaian Erau Adat Kutai 2026.

Beseprah bukan sekadar agenda makan bersama. Tradisi ini menjadi gambaran hubungan antara raja dan rakyat yang dibangun tanpa sekat. Nilai itulah yang kembali dihidupkan dalam Erau tahun ini melalui tema “Raja Menjamu Rakyatnya”.

Dalam tradisi Beseprah, perbedaan jabatan dan status sosial seolah ditanggalkan. Semua duduk bersama, menyantap menu yang sama dan berinteraksi dalam suasana yang cair.

Pemerintah Kabupaten Kukar bahkan mengubah pola penempatan peserta agar semangat tersebut benar-benar terasa. Masyarakat ditempatkan berhadapan langsung dengan jajaran pemerintah dan kerabat Kesultanan, sementara organisasi perangkat daerah (OPD) disebar di sejumlah titik.

Tujuannya sederhana. Pejabat tidak berkumpul dengan sesama pejabat, tetapi membaur dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan Beseprah tidak tepat jika hanya dimaknai sebagai kegiatan makan bersama. Di dalamnya terdapat nilai kesetaraan yang menjadi roh utama tradisi tersebut.

“Dalam tradisi Beseprah, kita makan bersama dengan seluruh warga masyarakat. Kita duduk bersama, menyantap menu yang sama, dan merasakan kenikmatan yang sama dengan seluruh masyarakat yang hadir,” kata Aulia.

“Kalau sesama pejabat hanya duduk bersama pejabat, itu bukan Beseprah. Beseprah berarti duduk bersama dengan rakyat, membaur bersama masyarakat,” timpalnya menegaskan.

Pola penempatan peserta pun diubah. Masyarakat ditempatkan berhadapan langsung dengan jajaran pemerintah dan kerabat Kesultanan, sementara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) disebar di berbagai titik. Tujuannya agar para pejabat tidak terkonsentrasi dalam satu kelompok, tetapi benar-benar duduk dan berinteraksi dengan warga.

“Konsepnya kita ubah. Masyarakat yang berhadapan langsung dengan kami, termasuk Ayahanda Sultan, adalah warga masyarakat. Semuanya membaur,” ujarnya.

Pemandangan semacam itu memang menjadi ruh Beseprah sejak dahulu. Tradisi makan bersama masyarakat Kutai dilakukan dengan duduk bersila dan menempatkan orang dari berbagai latar belakang dalam posisi yang sejajar.

Dalam sejarahnya, Beseprah juga dikenal sebagai cara Sultan menjamu sekaligus berinteraksi dengan rakyat. Tradisi tersebut bukan hanya tentang makanan, tetapi menjadi ruang untuk berbagi cerita, mendengarkan persoalan masyarakat dan mempererat hubungan antara pemimpin dengan rakyat.

Bagi Aulia, nilai tersebut masih relevan untuk kehidupan pemerintahan saat ini. Ia berharap suasana tanpa sekat yang tercipta melalui Beseprah dapat terbawa ke dalam proses pembangunan Kukar.

Ia menegaskan Kukar bukan milik satu kelompok. Kukar adalah milik kita bersama. Kesultanan juga adalah milik kita bersama. Ia berharap agar semangat dan spirit Beseprah hari ini menjadi modal dasar dan modal yang kuat bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berkontribusi membangun daerah.

“Harapan kita, dengan adanya Beseprah ini, semangat kebersamaan, semangat untuk saling mendukung, saling membantu, serta duduk setara satu dengan yang lain dapat menginspirasi kita dalam proses pembangunan di Kabupaten Kutai Kartanegara,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Bupati juga memberikan perhatian serius terhadap keterlibatan generasi muda. Ia berharap anak-anak muda Kukar tidak hanya datang untuk menikmati hidangan, tetapi memahami nilai yang berada di balik tradisi tersebut.

“Pesan saya kepada generasi muda adalah agar mereka bersatu dengan budaya ini, karena budaya merupakan identitas kita, identitas Kutai Kartanegara,” ujarnya.

Menurutnya, banyaknya generasi muda yang ikut Beseprah menjadi tanda bahwa tradisi tersebut masih memiliki ruang di tengah perubahan zaman.

“Sekali lagi, Beseprah bukan sekadar makan bersama. Banyak nilai yang terkandung di dalamnya,” katanya.

Ia berharap generasi muda dapat menghayati tradisi tersebut sehingga Beseprah tidak berhenti sebagai agenda tahunan Erau, tetapi terus menjadi warisan budaya yang dipahami dan diteruskan lintas generasi.

“Sehingga nantinya menjadi warisan budaya yang dapat diteruskan secara turun-temurun, serta terus kita jaga dan pertahankan,” pungkasnya. (Adv)

Penulis: Ady Wahyudi
Editor: Nicha R

Pendidikan Gratis Dipercepat, Prabowo Bidik Sekolah Negeri hingga PTN Bebas UKT

0
Presiden Prabowo Subianto (tengah), Mensesneg Prasetyo Hadi (kedua kanan) dan Seskab Teddy Indra Wijaya (kanan) dalam rapat terbatas di Jakarta, Rabu (23/9/2026) ANTARA/Instagram/@sekretariat.kabinet

JAKARTA — Pemerintah diminta bergerak cepat mewujudkan pendidikan gratis di sekolah negeri. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran menteri mempercepat penerapannya mulai dari PAUD/TK hingga SMA/SMK, sementara skema kuliah gratis di perguruan tinggi negeri (PTN) tengah dimatangkan.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengatakan arahan tersebut disampaikan Prabowo dalam rapat terbatas yang membahas perluasan akses pendidikan negeri gratis.

“Penerapan pendidikan gratis di sekolah negeri, mulai dari PAUD/TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 164 ribu sekolah negeri pada jenjang tersebut di seluruh Indonesia,” kata Teddy dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Tak hanya pendidikan dasar dan menengah, pemerintah juga menyiapkan rencana pembebasan biaya kuliah di PTN. Komponen yang akan dibahas mencakup Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga uang pangkal.

Teddy mengatakan pemerintah menargetkan pematangan rencana tersebut dalam waktu dua hingga empat minggu ke depan.

“Dalam 2-4 minggu ke depan, pemerintah akan mematangkan rencana penerapan Pendidikan Tinggi Negeri bebas biaya kuliah, termasuk Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan uang pangkal,” ujarnya.

Dengan demikian, arahan pemerintah mencakup perluasan akses pendidikan gratis dari jenjang pendidikan dasar dan menengah hingga pendidikan tinggi. Namun, berdasarkan keterangan tersebut, pemerintah masih perlu mematangkan mekanisme penerapan pendidikan gratis di PTN.

Selain sekolah negeri dan PTN, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap jalur pendidikan pesantren.

Penguatan tersebut ditandai dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 yang mengubah struktur Kementerian Agama dan membentuk Direktorat Jenderal Pesantren.

Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren menjadi bagian dari penguatan kelembagaan pemerintah dalam menangani urusan pesantren, termasuk pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Teddy mengatakan berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memberikan dukungan terhadap berbagai jalur pendidikan.

“Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memastikan setiap jalur pendidikan mendapat perhatian dan dukungan yang dibutuhkan,” kata Teddy. (ANT/KN)

15 Kampung di Berau Masih Belum Berlistrik, Pemkab Kejar Dukungan Pusat

0
Sekkab Berau, Muhammad Said.

BERAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus mengejar pemerataan akses listrik hingga ke wilayah pedalaman. Hingga kini, masih terdapat 15 kampung di Kabupaten Berau yang belum menikmati aliran listrik secara penuh.

Kondisi geografis Berau yang luas menjadi salah satu tantangan utama dalam memperluas jaringan kelistrikan. Jarak antarkampung yang berjauhan, ditambah karakter medan di sejumlah wilayah pedalaman, membuat pembangunan infrastruktur listrik membutuhkan perencanaan dan dukungan anggaran yang tidak sedikit.

Untuk mempercepat penyelesaian persoalan tersebut, Pemkab Berau memilih memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat. Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, memimpin langsung koordinasi dengan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Berau memastikan data kampung yang belum teraliri listrik telah terverifikasi sekaligus membuka peluang masuknya program listrik masuk desa dari pemerintah pusat.

“Agendanya adalah memverifikasi sekaligus mengusulkan program listrik masuk desa,” katanya.

Menurutnya, persoalan elektrifikasi di Berau tidak hanya berkaitan dengan pembangunan jaringan. Kondisi geografis menjadi faktor yang harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan agar jaringan yang dibangun benar-benar menjangkau permukiman masyarakat.

“Kendala utamanya adalah jarak antarkampung yang sangat jauh,” jelasnya.

Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Kelay, Segah hingga Biduk-Biduk menjadi gambaran tantangan tersebut. Sebaran permukiman yang tidak berdekatan serta kondisi medan membuat pembangunan jaringan listrik membutuhkan pemetaan yang lebih detail.

Karena itu, pemerintah tidak bisa menerapkan pola pembangunan jaringan yang sama untuk seluruh wilayah. Setiap lokasi harus disesuaikan dengan kondisi lapangan, termasuk akses menuju kampung, jarak antarpemukiman dan kebutuhan infrastruktur pendukung.

Di tengah persoalan tersebut, Pemkab Berau telah memetakan dukungan pembangunan jaringan listrik di 30 titik strategis sepanjang tahun ini. Pemetaan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas cakupan pelayanan listrik sekaligus mempercepat penyelesaian kampung-kampung yang hingga kini belum teraliri listrik.

Berau sendiri bukan satu-satunya daerah di Kalimantan Timur yang menghadapi persoalan pemerataan listrik. Sejumlah kabupaten lain, seperti Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Timur dan Paser, juga masih menghadapi tantangan serupa.

Bagi Berau, percepatan elektrifikasi menjadi bagian penting dari pembangunan wilayah pedalaman. Sebab, keberadaan listrik tidak hanya berdampak pada kebutuhan penerangan rumah tangga, tetapi juga berkaitan dengan pelayanan publik, pendidikan, komunikasi hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan dukungan pemerintah pusat dan koordinasi lintas sektor, Pemkab Berau menargetkan persoalan kampung yang belum menikmati listrik dapat dituntaskan secara bertahap.

Pemkab Berau optimistis seluruh kampung yang saat ini masih menghadapi keterbatasan akses listrik dapat menikmati layanan energi secara lebih merata pada 2027 mendatang.

“Listrik bukan sekadar penerangan, melainkan urat nadi untuk mendongkrak pelayanan dasar, aktivitas sosial, dan roda ekonomi masyarakat pedalaman,” tandasnya. (adv)