SAMARINDA – Dinas Sosial Kalimantan Timur terus memperkuat program pemberdayaan masyarakat guna mendorong penerima bantuan sosial agar mampu mandiri secara ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Melalui sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota hingga pemerintah pusat, berbagai program pemberdayaan dijalankan untuk membantu masyarakat memperoleh tambahan penghasilan dan mengembangkan usaha produktif.
Kepala Dinas Sosial Kalimantan Timur, Andi Muhammad Ishak, menjelaskan pendekatan yang dilakukan pemerintah tidak hanya sebatas penyaluran bantuan, tetapi juga pendampingan berkelanjutan agar masyarakat dapat keluar dari ketergantungan bantuan sosial.
Menurutnya, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu langkah penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan hidup secara berkelanjutan.
“Program ini sudah berjalan baik oleh Dinas Sosial provinsi, kabupaten/kota maupun pemerintah pusat. Pendekatannya memang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi,” katanya.
Ia menuturkan, penerima bantuan juga mendapatkan pemantauan secara berkala agar program yang diberikan tepat sasaran dan benar-benar berdampak terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat.
Selain itu, seluruh data penerima bantuan telah tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Data tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menyalurkan bantuan, melakukan evaluasi, hingga memastikan program berjalan efektif sesuai kebutuhan masyarakat.
Dinsos Kaltim berharap program pemberdayaan yang terus diperkuat ini dapat membantu masyarakat bertransformasi menjadi lebih produktif dan mandiri secara ekonomi.
“Harapannya masyarakat penerima bantuan dapat terus berkembang, memiliki penghasilan yang lebih baik, dan secara bertahap mampu mandiri sehingga kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat,” tutup Andi. (MK)
Sabtu (16/5) siang itu kawasan Gedung Nommensen Balikpapan terlihat cukup ramai.
Parkiran di depan gedung sudah penuh. Banyak tamu akhirnya memarkir kendaraan di area bawah, lalu berjalan menuju lokasi acara yang berada di samping Gereja Katolik Santo Martinus Lanud Balikpapan, tidak jauh dari Hotel Sagita Balikpapan.
Saya datang bersama rombongan keluarga besar Media Kaltim Network (MKN). Ada Direktur MediaKaltim.com Rini Ernawati, Direktur Radarmedia.id Adhi Abdian, Direktur RadarKukar.com Muhammad Rafii, Direktur RadarBalikpapan.com Andrie Aprianto, para wartawan, tim multimedia, dan beberapa kru redaksi dari berbagai daerah.
Hari itu, Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing resmi menikahi Theresia Anna Fransiska Samosir.
Sesuai undangan, pemberkatan dijadwalkan pukul 10.00 WITA di Gereja Katolik Santo Martinus Lanud Balikpapan. Setelah itu dilanjutkan resepsi adat Batak mulai pukul 11.30 WITA hingga selesai di Gedung Nommensen. Sementara jamuan makan bersama nasional dijadwalkan pukul 13.00 sampai 15.00 WITA.
Saat kami tiba sekitar pukul 13.00 WITA, suasana di lokasi acara masih cukup padat. Tamu undangan resepsi nasional mulai berdatangan dan diarahkan menuju meja prasmanan di luar gedung. Dari dalam aula, musik gondang Batak masih terdengar karena prosesi adat masih berlangsung.
Di tengah suasana itu, kami melihat Bhakti dan istrinya berada di depan pintu masuk gedung sebelum kembali masuk ke dalam aula. Akhirnya kami sempat “menculik” Bhakti untuk foto bersama lebih dulu.
Begitu bertemu, suasananya langsung akrab. Rombongan kami yang tadi sebagian sedang makan dan berbincang kemudian berkumpul menyapa Bhakti. Semua langsung ikut bergabung untuk foto bersama. Bhakti dan istrinya juga terlihat santai melayani satu per satu.
Keluarga besar Media Kaltim Network foto bersama pengantin usai prosesi adat Batak di Gedung Nommensen Balikpapan.
Karena sudah cukup lama mengenal Bhakti, suasana siang itu memang terasa berbeda.
Bhakti menjadi bagian dari perjalanan Media Kaltim sampai tumbuh seperti sekarang. Saya masih ingat saat dia pertama kali bergabung. Waktu itu masih berstatus wartawan biasa, lalu pelan-pelan ikut berkembang bersama perjalanan media ini.
Dia termasuk orang yang lebih banyak bekerja daripada banyak bicara. Pelan-pelan ritme kerjanya mulai terlihat. Dari liputan biasa, ikut memahami ritme redaksi, membangun relasi, sampai akhirnya saya percaya memimpin media RadarPaser.com.
Media itu memang kami siapkan untuk menyasar segmen pembaca di Kabupaten Paser dengan pendekatan media digital yang lebih dekat dengan masyarakat daerah.
Saya bersama Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing sebelum prosesi resepsi adat dimulai.
Dan Bhakti ikut tumbuh bersama proses itu. Karena itu, saat melihat dia berdiri sebagai pengantin, rasanya memang berbeda.
Begitu masuk ke dalam aula Gedung Nommensen, suasana adat Batak langsung terasa. Musik gondang terus mengiringi jalannya acara. Keluarga besar kedua mempelai dipanggil satu per satu sesuai posisi adat dan marganya.
Ada prosesi mangulosi atau pemberian ulos sebagai simbol restu keluarga. Setelah itu dilanjutkan manortor atau tarian adat Batak yang diikuti keluarga besar secara bergantian.
Bhakti tampil mengenakan jas abu-abu gelap lengkap dengan penutup kepala adat Batak. Sementara Theresia mengenakan kebaya adat bernuansa cokelat keemasan.
Prosesi adat berlangsung cukup panjang, tapi suasananya tetap terasa akrab. Banyak keluarga besar yang saling menyapa dan berbincang di sela-sela acara.
Setelah doa penutup prosesi adat selesai, keluarga besar Media Kaltim mendapat kesempatan pertama naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat sekaligus foto bersama pengantin.
Tim redaksi dan direktur media jaringan langsung naik ke atas panggung. Sebagian masih sempat bercanda sambil mengatur posisi foto.
Begitu berkumpul, suasananya terasa seperti reuni kecil. Banyak cerita lama keluar lagi. Ada yang mengenang masa-masa awal Media Kaltim berkembang. Ada juga yang sekadar meledek Bhakti karena akhirnya resmi melepas lajang.
Tontong Bhakti Sihombing bukan sekadar direktur media jaringan. Dia sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang Media Kaltim sampai sekarang.
Dari wartawan biasa, kini berdiri sebagai pemimpin media daerah sekaligus kepala keluarga baru. Dan saya senang bisa melihat proses itu dari awal. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.
Sabtu (16/5) siang itu kawasan Gedung Nommensen Balikpapan terlihat cukup ramai.
Parkiran di depan gedung sudah penuh. Banyak tamu akhirnya memarkir kendaraan di area bawah, lalu berjalan menuju lokasi acara yang berada di samping Gereja Sopo Nommensen HKBP Balikpapan, tidak jauh dari Hotel Sagita.
Saya datang bersama rombongan keluarga besar Media Kaltim Network (MKN). Ada Direktur MediaKaltim.com Rini Ernawati, Direktur Radarmedia.id Adhi Abdian, Direktur RadarKukar.com Muhammad Rafii, Direktur RadarBalikpapan.com Andrie Aprianto, para wartawan, tim multimedia, dan beberapa kru redaksi dari berbagai daerah.
Hari itu, Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing resmi menikahi Theresia Anna Fransiska Samosir.
Sesuai undangan, pemberkatan dijadwalkan pukul 10.00 WITA di Gereja Katolik Santo Martinus Lanud Balikpapan. Setelah itu dilanjutkan resepsi adat Batak mulai pukul 11.30 WITA hingga selesai di Gedung Nommensen. Sementara jamuan makan bersama nasional dijadwalkan pukul 13.00 sampai 15.00 WITA.
Saat kami tiba sekitar pukul 13.00 WITA, suasana di lokasi acara masih cukup padat. Tamu undangan resepsi nasional mulai berdatangan dan diarahkan menuju meja prasmanan di luar gedung. Dari dalam aula, musik gondang Batak masih terdengar karena prosesi adat masih berlangsung.
Di tengah suasana itu, kami melihat Bhakti dan istrinya berada di depan pintu masuk gedung sebelum kembali masuk ke dalam aula. Akhirnya kami sempat “menculik” Bhakti untuk foto bersama lebih dulu.
Begitu bertemu, suasananya langsung akrab. Rombongan kami yang tadi sebagian sedang makan dan berbincang kemudian berkumpul menyapa Bhakti. Semua langsung ikut bergabung untuk foto bersama. Bhakti dan istrinya juga terlihat santai melayani satu per satu.
Karena sudah cukup lama mengenal Bhakti, suasana siang itu memang terasa berbeda.
Bhakti menjadi bagian dari perjalanan Media Kaltim sampai tumbuh seperti sekarang. Saya masih ingat saat dia pertama kali bergabung. Waktu itu masih berstatus wartawan biasa, lalu pelan-pelan ikut berkembang bersama perjalanan media ini.
Dia termasuk orang yang lebih banyak bekerja daripada banyak bicara. Pelan-pelan ritme kerjanya mulai terlihat. Dari liputan biasa, ikut memahami ritme redaksi, membangun relasi, sampai akhirnya saya percaya memimpin media RadarPaser.com.
Media itu memang kami siapkan untuk menyasar segmen pembaca di Kabupaten Paser dengan pendekatan media digital yang lebih dekat dengan masyarakat daerah.
Dan Bhakti ikut tumbuh bersama proses itu. Karena itu, saat melihat dia berdiri sebagai pengantin, rasanya memang berbeda.
Begitu masuk ke dalam aula Gedung Nommensen, suasana adat Batak langsung terasa. Musik gondang terus mengiringi jalannya acara. Keluarga besar kedua mempelai dipanggil satu per satu sesuai posisi adat dan marganya.
Ada prosesi mangulosi atau pemberian ulos sebagai simbol restu keluarga. Setelah itu dilanjutkan manortor atau tarian adat Batak yang diikuti keluarga besar secara bergantian.
Bhakti tampil mengenakan jas abu-abu gelap lengkap dengan penutup kepala adat Batak. Sementara Theresia mengenakan kebaya adat bernuansa cokelat keemasan.
Prosesi adat berlangsung cukup panjang, tapi suasananya tetap terasa akrab. Banyak keluarga besar yang saling menyapa dan berbincang di sela-sela acara.
Setelah doa penutup prosesi adat selesai, keluarga besar Media Kaltim mendapat kesempatan pertama naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat sekaligus foto bersama pengantin.
Tim redaksi dan direktur media jaringan langsung naik ke atas panggung. Sebagian masih sempat bercanda sambil mengatur posisi foto.
Begitu berkumpul, suasananya terasa seperti reuni kecil. Banyak cerita lama keluar lagi. Ada yang mengenang masa-masa awal Media Kaltim berkembang. Ada juga yang sekadar meledek Bhakti karena akhirnya resmi melepas lajang.
Tontong Bhakti Sihombing bukan sekadar direktur media jaringan. Dia sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang Media Kaltim sampai sekarang.
Dari wartawan biasa, kini berdiri sebagai pemimpin media daerah sekaligus kepala keluarga baru. Dan saya senang bisa melihat proses itu dari awal. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.
Sabtu (16/5) siang itu kawasan Gedung Nommensen Balikpapan terlihat cukup ramai.
Parkiran di depan gedung sudah penuh. Banyak tamu akhirnya memarkir kendaraan di area bawah, lalu berjalan menuju lokasi acara yang berada di samping Gereja Sopo Nommensen HKBP Balikpapan, tidak jauh dari Hotel Sagita.
Saya datang bersama rombongan keluarga besar Media Kaltim Network (MKN). Ada Direktur MediaKaltim.com Rini Ernawati, Direktur Radarmedia.id Adhi Abdian, Direktur RadarKukar.com Muhammad Rafii, Direktur RadarBalikpapan.com Andrie Aprianto, para wartawan, tim multimedia, dan beberapa kru redaksi dari berbagai daerah.
Hari itu, Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing resmi menikahi Theresia Anna Fransiska Samosir.
Sesuai undangan, pemberkatan dijadwalkan pukul 10.00 WITA di Gereja Katolik Santo Martinus Lanud Balikpapan. Setelah itu dilanjutkan resepsi adat Batak mulai pukul 11.30 WITA hingga selesai di Gedung Nommensen. Sementara jamuan makan bersama nasional dijadwalkan pukul 13.00 sampai 15.00 WITA.
Saat kami tiba sekitar pukul 13.00 WITA, suasana di lokasi acara masih cukup padat. Tamu undangan resepsi nasional mulai berdatangan dan diarahkan menuju meja prasmanan di luar gedung. Dari dalam aula, musik gondang Batak masih terdengar karena prosesi adat masih berlangsung.
Di tengah suasana itu, kami melihat Bhakti dan istrinya berada di depan pintu masuk gedung sebelum kembali masuk ke dalam aula. Akhirnya kami sempat “menculik” Bhakti untuk foto bersama lebih dulu.
Begitu bertemu, suasananya langsung akrab. Rombongan kami yang tadi sebagian sedang makan dan berbincang kemudian berkumpul menyapa Bhakti. Semua langsung ikut bergabung untuk foto bersama. Bhakti dan istrinya juga terlihat santai melayani satu per satu.
Karena sudah cukup lama mengenal Bhakti, suasana siang itu memang terasa berbeda.
Bhakti menjadi bagian dari perjalanan Media Kaltim sampai tumbuh seperti sekarang. Saya masih ingat saat dia pertama kali bergabung. Waktu itu masih berstatus wartawan biasa, lalu pelan-pelan ikut berkembang bersama perjalanan media ini.
Dia termasuk orang yang lebih banyak bekerja daripada banyak bicara. Pelan-pelan ritme kerjanya mulai terlihat. Dari liputan biasa, ikut memahami ritme redaksi, membangun relasi, sampai akhirnya saya percaya memimpin media RadarPaser.com.
Media itu memang kami siapkan untuk menyasar segmen pembaca di Kabupaten Paser dengan pendekatan media digital yang lebih dekat dengan masyarakat daerah.
Dan Bhakti ikut tumbuh bersama proses itu. Karena itu, saat melihat dia berdiri sebagai pengantin, rasanya memang berbeda.
Begitu masuk ke dalam aula Gedung Nommensen, suasana adat Batak langsung terasa. Musik gondang terus mengiringi jalannya acara. Keluarga besar kedua mempelai dipanggil satu per satu sesuai posisi adat dan marganya.
Ada prosesi mangulosi atau pemberian ulos sebagai simbol restu keluarga. Setelah itu dilanjutkan manortor atau tarian adat Batak yang diikuti keluarga besar secara bergantian.
Bhakti tampil mengenakan jas abu-abu gelap lengkap dengan penutup kepala adat Batak. Sementara Theresia mengenakan kebaya adat bernuansa cokelat keemasan.
Prosesi adat berlangsung cukup panjang, tapi suasananya tetap terasa akrab. Banyak keluarga besar yang saling menyapa dan berbincang di sela-sela acara.
Setelah doa penutup prosesi adat selesai, keluarga besar Media Kaltim mendapat kesempatan pertama naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat sekaligus foto bersama pengantin.
Tim redaksi dan direktur media jaringan langsung naik ke atas panggung. Sebagian masih sempat bercanda sambil mengatur posisi foto.
Begitu berkumpul, suasananya terasa seperti reuni kecil. Banyak cerita lama keluar lagi. Ada yang mengenang masa-masa awal Media Kaltim berkembang. Ada juga yang sekadar meledek Bhakti karena akhirnya resmi melepas lajang.
Tontong Bhakti Sihombing bukan sekadar direktur media jaringan. Dia sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang Media Kaltim sampai sekarang.
Dari wartawan biasa, kini berdiri sebagai pemimpin media daerah sekaligus kepala keluarga baru. Dan saya senang bisa melihat proses itu dari awal. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.
Sabtu (16/5) siang itu kawasan Gedung Nommensen Balikpapan terlihat cukup ramai.
Parkiran di depan gedung sudah penuh. Banyak tamu akhirnya memarkir kendaraan di area bawah, lalu berjalan menuju lokasi acara yang berada di samping Gereja Sopo Nommensen HKBP Balikpapan, tidak jauh dari Hotel Sagita.
Saya datang bersama rombongan keluarga besar Media Kaltim Network (MKN). Ada Direktur MediaKaltim.com Rini Ernawati, Direktur Radarmedia.id Adhi Abdian, Direktur RadarKukar.com Muhammad Rafii, Direktur RadarBalikpapan.com Andrie Aprianto, para wartawan, tim multimedia, dan beberapa kru redaksi dari berbagai daerah.
Hari itu, Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing resmi menikahi Theresia Anna Fransiska Samosir.
Sesuai undangan, pemberkatan dijadwalkan pukul 10.00 WITA di Gereja Katolik Santo Martinus Lanud Balikpapan. Setelah itu dilanjutkan resepsi adat Batak mulai pukul 11.30 WITA hingga selesai di Gedung Nommensen. Sementara jamuan makan bersama nasional dijadwalkan pukul 13.00 sampai 15.00 WITA.
Saat kami tiba sekitar pukul 13.00 WITA, suasana di lokasi acara masih cukup padat. Tamu undangan resepsi nasional mulai berdatangan dan diarahkan menuju meja prasmanan di luar gedung. Dari dalam aula, musik gondang Batak masih terdengar karena prosesi adat masih berlangsung.
Di tengah suasana itu, kami melihat Bhakti dan istrinya berada di depan pintu masuk gedung sebelum kembali masuk ke dalam aula. Akhirnya kami sempat “menculik” Bhakti untuk foto bersama lebih dulu.
Begitu bertemu, suasananya langsung akrab. Rombongan kami yang tadi sebagian sedang makan dan berbincang kemudian berkumpul menyapa Bhakti. Semua langsung ikut bergabung untuk foto bersama. Bhakti dan istrinya juga terlihat santai melayani satu per satu.
Karena sudah cukup lama mengenal Bhakti, suasana siang itu memang terasa berbeda.
Bhakti menjadi bagian dari perjalanan Media Kaltim sampai tumbuh seperti sekarang. Saya masih ingat saat dia pertama kali bergabung. Waktu itu masih berstatus wartawan biasa, lalu pelan-pelan ikut berkembang bersama perjalanan media ini.
Dia termasuk orang yang lebih banyak bekerja daripada banyak bicara. Pelan-pelan ritme kerjanya mulai terlihat. Dari liputan biasa, ikut memahami ritme redaksi, membangun relasi, sampai akhirnya saya percaya memimpin media RadarPaser.com.
Media itu memang kami siapkan untuk menyasar segmen pembaca di Kabupaten Paser dengan pendekatan media digital yang lebih dekat dengan masyarakat daerah.
Dan Bhakti ikut tumbuh bersama proses itu. Karena itu, saat melihat dia berdiri sebagai pengantin, rasanya memang berbeda.
Begitu masuk ke dalam aula Gedung Nommensen, suasana adat Batak langsung terasa. Musik gondang terus mengiringi jalannya acara. Keluarga besar kedua mempelai dipanggil satu per satu sesuai posisi adat dan marganya.
Ada prosesi mangulosi atau pemberian ulos sebagai simbol restu keluarga. Setelah itu dilanjutkan manortor atau tarian adat Batak yang diikuti keluarga besar secara bergantian.
Bhakti tampil mengenakan jas abu-abu gelap lengkap dengan penutup kepala adat Batak. Sementara Theresia mengenakan kebaya adat bernuansa cokelat keemasan.
Prosesi adat berlangsung cukup panjang, tapi suasananya tetap terasa akrab. Banyak keluarga besar yang saling menyapa dan berbincang di sela-sela acara.
Setelah doa penutup prosesi adat selesai, keluarga besar Media Kaltim mendapat kesempatan pertama naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat sekaligus foto bersama pengantin.
Tim redaksi dan direktur media jaringan langsung naik ke atas panggung. Sebagian masih sempat bercanda sambil mengatur posisi foto.
Begitu berkumpul, suasananya terasa seperti reuni kecil. Banyak cerita lama keluar lagi. Ada yang mengenang masa-masa awal Media Kaltim berkembang. Ada juga yang sekadar meledek Bhakti karena akhirnya resmi melepas lajang.
Tontong Bhakti Sihombing bukan sekadar direktur media jaringan. Dia sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang Media Kaltim sampai sekarang.
Dari wartawan biasa, kini berdiri sebagai pemimpin media daerah sekaligus kepala keluarga baru. Dan saya senang bisa melihat proses itu dari awal. (*)
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya membangun ekonomi rakyat dari desa saat meresmikan operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang dipusatkan di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Prabowo menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan KDKMP menjadi fondasi penting untuk menggerakkan ekonomi masyarakat hingga tingkat akar rumput.
Menurut Prabowo, program MBG bukan hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang besar di desa. Ia mengatakan dana dari program tersebut mampu menghidupkan berbagai sektor usaha masyarakat setempat.
“Saudara, nilai apa yang kita buat hari ini. Yang kita buat adalah hal-hal yang mendasar. Kita bikin MBG. Mendasar. Artinya adalah bahwa tiap hari di desa beredar uang,” ujar Prabowo.
Kepala Negara kemudian memaparkan simulasi perputaran ekonomi dari program MBG. Dalam satu desa, menurutnya, peredaran uang bisa mencapai lebih dari Rp10 miliar per tahun yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
Prabowo menjelaskan dampak ekonomi itu akan langsung dirasakan pelaku usaha kecil di desa, mulai dari petani, peternak, hingga produsen pangan lokal. Hasil produksi masyarakat pun dapat terserap di lingkungan mereka sendiri tanpa bergantung pada rantai distribusi panjang.
“Satu desa Rp10.800.000.000 beredar di situ. Artinya, yang tanam ikan lele bisa dijual. Yang tanam bawang merah bisa terjual. Yang bikin tempe bisa terbeli. Yang jual telur bisa. Semua produsen di desa itu hidup,” ungkapnya.
Ia menilai kombinasi program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi motor baru kebangkitan ekonomi nasional berbasis kerakyatan.
Menurut Prabowo, pendekatan ekonomi dari desa menjadi jawaban atas sistem yang selama ini terlalu dikuasai pemodal besar.
“MBG ditambah dengan Koperasi Desa Merah Putih ini akan membangkitkan ekonomi kita,” tegasnya.
Meski begitu, Prabowo mengakui program berskala besar tersebut berpotensi menghadapi penyimpangan dalam pengelolaan anggaran. Karena itu, ia memastikan pemerintah akan bertindak tegas terhadap pihak yang menyalahgunakan kewenangan.
“Tapi saya sudah katakan, pemerintah saya tidak ragu-ragu, siapapun yang melanggar, yang menyimpang, yang menyalahkan kewenangan, akan kita tertibkan, kita bersihkan, kita copot dari jabatan,” katanya.
Prabowo juga mengungkapkan banyak masyarakat kecil yang meminta program MBG tetap dilanjutkan karena dianggap sangat membantu kehidupan mereka sehari-hari.
“MBG begitu penting untuk bangsa kita. Ke mana-mana saya ketemu rakyat kecil, petani, ‘Pak, tolong Pak MBG jangan diberhentikan. Ini sangat membantu cucu-cucu saya bisa makan, sangat membantu saya, sangat membantu keluarga saya,’” tuturnya.
Selain koperasi desa, Prabowo turut menyoroti akses pembiayaan murah bagi masyarakat kecil. Ia mengaku telah meminta penurunan bunga kredit ultra mikro PNM Mekaar agar lebih ringan bagi pelaku usaha kecil.
“Tadinya bunganya itu 24 persen, 22 saya perintahkan harus turun, di bawah 10 persen,” ujar Prabowo.
Ke depan, koperasi desa juga diproyeksikan menjadi pusat layanan keuangan rakyat dengan akses kredit murah bagi masyarakat desa guna memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendorong industrialisasi berbasis desa. (MK)
TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) membongkar sejumlah bangunan yang berdiri di atas lahan aset daerah di Kelurahan Baru, Kecamatan Tenggarong, Sabtu (16/5/2026).
Penertiban dilakukan terhadap tiga bangunan yang selama bertahun-tahun berdiri di atas tanah milik pemerintah. Satpol PP Kukar menurunkan sekitar 20 personel untuk mengamankan jalannya eksekusi bersama pihak kecamatan dan kelurahan.
Pemerintah menyebut lahan tersebut telah dikuasai dan berubah fungsi menjadi kawasan permukiman selama kurang lebih 21 tahun.
Lurah Kelurahan Baru, Bayu Ramanda Baninugraha, mengatakan lahan itu awalnya dipersiapkan pemerintah untuk pembangunan pasar rakyat.
Rencana tersebut muncul pada 2005 setelah adanya dorongan peningkatan pendapatan asli desa dan kelurahan. Namun proyek itu tidak pernah terealisasi.
Seiring waktu, kawasan yang semestinya menjadi fasilitas publik justru berubah menjadi tempat tinggal warga.
“Karena tidak jadi, akhirnya terjadi juga peralihan penggunaan dan pemanfaatan yang seharusnya untuk pasar, pasar tidak jadi, jadilah tempat tinggal-tempat tinggal yang bisa kita lihat sampai saat ini,” ujar Bayu.
Menurut Bayu, persoalan penguasaan lahan tersebut berlangsung cukup lama dan melewati pergantian sejumlah lurah di wilayah itu.
Pemerintah kelurahan, kata dia, sebenarnya telah mulai melakukan penertiban secara bertahap sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2025 lalu, sebagian penghuni disebut sudah meninggalkan lokasi.
Namun masih ada beberapa bangunan yang tersisa hingga akhirnya dilakukan pembongkaran.
“Kami sudah mencoba, dan Alhamdulillah di 2025 lalu itu sudah membersihkan dari orang-orangnya, walaupun masih menyisakan beberapa bangunan yang ada di sini,” katanya.
Sebelum pembongkaran dilakukan, petugas lebih dahulu memutus aliran listrik dan air PDAM untuk memastikan bangunan benar-benar kosong dari aktivitas.
Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Kukar, Awang Indra, menyebut proses penertiban berjalan tanpa hambatan.
Menurut dia, pemerintah telah melayangkan beberapa kali surat peringatan sebelum eksekusi dilakukan.
Petugas juga memberikan tenggat waktu hingga tujuh hari menjelang pembongkaran, namun tidak ada respons dari penghuni bangunan.
“Alhamdulillah dari kegiatan kita pada hari ini tidak ada perlawanan karena kami sudah melakukan himbauan dari surat kegiatan satu, dua, dan tiga sampai himbauan menjelang eksekusi ini selama tujuh hari,” ujar Awang.
Bayu menegaskan penertiban dilakukan untuk mengamankan kembali aset pemerintah yang tersisa di Kelurahan Baru.
Ia menyebut lahan tersebut menjadi aset terakhir yang dimiliki kelurahan dan diproyeksikan untuk pembangunan kantor di masa mendatang.
“Karena lahan ini lahan terakhir yang dimiliki Kelurahan Baru untuk dipersiapkan membangun kantor. Walaupun di kondisi defisit ini belum jadi, tapi setidaknya lahan ini harus betul-betul kami ambil kembali dari orang-orang yang tidak memiliki,” tutupnya. (MK)
SAMARINDA – Mahkamah Konstitusi (MK) resmi menolak permohonan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara (UU IKN).
Dalam putusan perkara Nomor 71/PUU-XXIV/2026 yang dibacakan Ketua MK Suhartoyo, ditegaskan bahwa hingga saat ini Provinsi DKI Jakarta masih berstatus sebagai ibu kota negara.
Dalam permohonannya, pemohon menilai terdapat ketidaksinkronan antara norma Pasal 2 ayat (1) UU 2/2024 dengan Pasal 39 ayat (1) UU 3/2022.
Namun MK menjelaskan bahwa berlakunya pemindahan ibu kota negara sepenuhnya bergantung pada penerbitan Keputusan Presiden (Keppres).
Hakim Konstitusi Adies Kadir dalam pertimbangannya menegaskan, tanpa adanya Keppres, pemindahan ibu kota dari Jakarta ke IKN di Kalimantan Timur belum memiliki kekuatan hukum yang mengikat.
“Artinya, dalam konteks permohonan a quo berlakunya waktu pemindahan ibu kota negara ke Ibu Kota Nusantara tergantung pada penetapan dan pemberlakuan keputusan presiden dimaksud,” demikian pertimbangan MK.
Menanggapi putusan tersebut, Anggota DPD RI Dapil Kaltim, Yulianus Henock Sumual, mengingatkan pemerintah pusat agar tetap konsisten terhadap komitmen pembangunan IKN di Kalimantan Timur.
Pernyataan itu disampaikan Yulianus di sela kegiatan Persekutuan Dayak Kalimantan Timur di Gedung Olah Bebaya, Samarinda, Sabtu (16/5/2026).
“Kita warga Dayak, masyarakat Dayak Kalimantan, prinsipnya selama ini mendukung adanya ibu kota ada di Kalimantan Timur, yaitu di Sepaku PPU. Sekarang sudah dibangun mulai dari istana negara, istana wapres, kementerian, bahkan sekarang dibangun legislatif, DPR, DPD maupun DPR RI,” ujar Yulianus.
Ia mengatakan masyarakat Kalimantan pada prinsipnya telah menerima dan mendukung pemindahan ibu kota negara ke wilayah Kalimantan Timur.
Terkait proses hukum yang kini bergantung pada penerbitan Keppres, Yulianus menyatakan pihaknya tetap menghormati mekanisme konstitusi yang berlaku.
“Adapun keputusan dari MK ataupun pemerintahan berikutnya ya berarti kita serahkan kembali, tapi prinsipnya sudah menjadi keputusan bersama ya kita ikuti sesuai aturan,” katanya.
Sebagai wakil daerah di Senayan, Yulianus memastikan dirinya tetap mendukung keberlanjutan pembangunan IKN di Kalimantan Timur.
“Kita sebagai anggota DPD RI Dapil Kaltim tetap mendukung IKN ada di Kalimantan Timur. Kemudian masalah kelanjutannya, sekali lagi pemerintah punya otoritas, kita kembali kepada Pak Presiden,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah agar tidak berubah-ubah sikap terhadap proyek strategis nasional tersebut, mengingat anggaran besar yang telah digelontorkan negara untuk pembangunan IKN.
“Sebagai pemerintah jangan plin-plan. Presiden sudah menetapkan, bahkan ada keputusan presiden, itu harus kita laksanakan, jangan plin-plan. Sudah banyak uang negara yang habis untuk membangun IKN, masa kita tidak hargai? Untuk apa itu? Apa jadi bangunan mangkrak lagi?” tegasnya. (MK)
TENGGARONG – Seorang pria bernama Johansyah ditemukan meninggal dunia di Sungai Mahakam, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar), setelah sebelumnya dilaporkan hilang saat pergi mencuci pakaian di tepi sungai.
Korban yang diketahui berusia 54 tahun itu merupakan warga Jalan S Riyadi Gang 4, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda.
Koordinator Lapangan BPBD Kukar, Eko Suryawinata, menuturkan Tim SAR gabungan menemukan jasad korban pada Jumat (16/5/2026) pagi setelah melakukan penyisiran di aliran Sungai Mahakam sejauh dua kilometer dari lokasi awal korban diduga terjatuh.
“Korban ditemukan sekitar 893 meter ke arah hilir dari titik kejadian dalam kondisi meninggal dunia,” ujarnya.
Sebelumnya, Johansyah dilaporkan pergi ke tepian Sungai Mahakam di kawasan Pasiran, Desa Loa Kulu Kota, pada Kamis (14/5/2026) sekitar pukul 18.00 Wita. Namun hingga malam hari, korban tak kunjung kembali.
Di lokasi kejadian, warga hanya menemukan sandal dan pakaian cucian milik korban di tepi sungai.
Temuan tersebut kemudian memicu pencarian awal oleh warga sebelum akhirnya dilaporkan ke petugas SAR.
Operasi pencarian dimulai sejak pagi hari dengan melibatkan sejumlah unsur gabungan mulai dari Pos SAR Samarinda, BPBD Kukar, Polair, Polsek, relawan hingga warga sekitar.
“Tim SAR membagi pencarian menjadi dua sektor,” tambah Eko.
Satu tim menggunakan speedboat Polair dan perahu BPBD untuk menyisir area hilir. Sementara tim lain menggunakan rubber boat Basarnas guna memperluas area pencarian di sekitar lokasi korban diduga tenggelam.
Proses pencarian sempat terkendala arus Sungai Mahakam yang cukup deras.
Meski demikian, tim gabungan akhirnya menemukan korban pada pukul 08.59 Wita.
Setelah ditemukan, jasad korban langsung dievakuasi menuju RSUD Aji Muhammad Parikesit menggunakan ambulans untuk penanganan lebih lanjut.
Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi diusulkan ditutup dan seluruh personel gabungan kembali ke satuan masing-masing.
Dalam operasi tersebut, petugas mengerahkan sejumlah peralatan pendukung seperti rubber boat Basarnas, speedboat Polair, peralatan SAR air, alat selam, hingga perangkat komunikasi dan medis.
Selain aparat, proses pencarian juga dibantu relawan dari berbagai komunitas di Loa Kulu dan Tenggarong. (MK)
NUSANTARA – Libur memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus 2026 di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) terasa lebih spesial. Tak hanya melihat perkembangan pembangunan, pengunjung juga diajak ikut meninggalkan jejak hijau di jantung Nusantara.
Melalui kegiatan penanaman pohon di kawasan Miniatur Hutan Hujan Tropis (MHHT), Otorita IKN membuka ruang partisipasi publik untuk ikut terlibat dalam pembangunan konsep kota hutan di Kalimantan Timur.
Kegiatan tersebut digelar mulai Jumat hingga Minggu, 15–17 Mei 2026, dan terbuka bagi seluruh pengunjung, baik individu, keluarga maupun rombongan.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, mengatakan kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mengembalikan fungsi ekosistem hutan hujan tropis Kalimantan di kawasan IKN.
“Kita semua tahu bahwa IKN adalah kota hutan. Artinya, kota ini dibangun dalam ekosistem hutan hujan tropis Kalimantan,” ujarnya.
Menurut Myrna, konsep kota hutan tidak cukup hanya dibangun pemerintah atau Otorita IKN semata, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat secara langsung.
Karena itu, pengunjung diberikan kesempatan ikut menanam berbagai jenis pohon endemik Kalimantan di area yang telah disiapkan.
Pada kegiatan tersebut, Otorita IKN menyediakan sekitar 150 bibit tanaman, di antaranya Balangeran, Kapur, Tengkawang, Meranti dan Nyatoh.
“Kota hutan bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan gerakan bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Selain aksi penghijauan, pengunjung selama libur panjang juga dapat mengunjungi kawasan Istana Negara dan area glamping di IKN yang dibuka hingga pukul 17.00 Wita setiap hari.
Otorita IKN turut mengingatkan pengunjung untuk tetap menjaga ketertiban selama berada di kawasan IKN dengan mengenakan pakaian sopan serta tidak membawa drone, hewan peliharaan, senjata tajam maupun melakukan aktivitas yang mengganggu ketertiban umum.
Sementara itu, antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke IKN sejak awal libur panjang disebut terus meningkat.
Juru Bicara OIKN, Troy Pantouw, mengatakan masyarakat tidak hanya datang untuk berwisata, tetapi juga ingin melihat langsung progres pembangunan Nusantara.
“Masyarakat tidak hanya menikmati berbagai fasilitas dan berfoto di kawasan IKN, tetapi juga menyaksikan secara langsung pembangunan di berbagai sektor yang terus berjalan dan tidak berhenti,” ujarnya. (MK)
TENGGARONG – Dugaan keterlibatan Kepala Satuan Reserse Narkoba (Kasat Resnarkoba) Polres Kutai Kartanegara, AKP Yohanes Bonar Adiguna, dalam perkara narkoba akhirnya diakui jajaran kepolisian.
Kapolres Kukar, AKBP Khairul Basyar, membenarkan bahwa anggotanya tersebut kini tengah menjalani pemeriksaan terkait dugaan penyalahgunaan narkoba jenis liquid.
Pengakuan itu disampaikan setelah muncul informasi mengenai penindakan terhadap Kasat Resnarkoba Polres Kukar oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Timur.
“Liquid iya, narkoba jenis liquid itu yang dimiliki oleh Kasat Resnarkoba,” ujar AKBP Khairul Basyar.
Meski membenarkan adanya dugaan keterlibatan AKP Yohanes Bonar Adiguna, Kapolres menegaskan perkara tersebut bersifat pribadi dan tidak melibatkan personel lain di lingkungan Polres Kukar.
“Tidak, dia pribadi,” tegasnya.
Sementara itu, Kapolda Kaltim, Irjen Pol Endar Priantoro, juga mengonfirmasi adanya penindakan terhadap Kasat Resnarkoba Polres Kukar tersebut.
Menurut Endar, saat ini AKP Yohanes Bonar Adiguna masih menjalani pemeriksaan intensif dan kasusnya masih terus didalami penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Kaltim.
“Ya, Kasat Narkoba dilakukan penindakan, masih dalam proses pemeriksaan. Karena masih dalam proses pemeriksaan, kita belum bisa menyampaikan lebih lanjut,” kata Endar.
Kapolda belum membeberkan secara rinci kronologi pengungkapan perkara tersebut. Penyidik disebut masih melakukan pendalaman sehingga detail kasus belum dapat disampaikan ke publik.
Saat ditanya terkait kemungkinan adanya jaringan atau keterlibatan pihak lain, Endar juga belum memberikan penjelasan lebih jauh.
Ia menegaskan seluruh proses masih berada pada tahap pemeriksaan dan pengembangan kasus.
Meski demikian, Kapolda memastikan institusinya tidak akan memberikan toleransi terhadap anggota kepolisian yang terlibat penyalahgunaan narkoba, termasuk aparat yang selama ini bertugas menangani kasus narkotika.
“Kita zero tolerance terhadap kasus narkoba, baik oleh anggota kepolisian ataupun masyarakat,” tegasnya.
Kasus ini menjadi perhatian publik lantaran melibatkan pejabat kepolisian yang memiliki tugas utama memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkotika di wilayah Kutai Kartanegara.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait status hukum AKP Yohanes Bonar Adiguna maupun hasil pemeriksaan lanjutan dari Polda Kaltim.
Polisi juga masih menutup detail terkait asal-usul narkoba jenis liquid yang diduga dimiliki oknum perwira tersebut.
Perkara ini sekaligus menambah daftar kasus dugaan penyalahgunaan narkoba yang melibatkan aparat penegak hukum. Polda Kaltim memastikan proses pemeriksaan akan dilakukan secara profesional dan transparan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (MK)
BALIKPAPAN – Polda Kalimantan Timur melalui Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) mengamankan Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Kutai Kartanegara (Kukar), AKP Yohanes Bonar Adiguna, karena diduga terlibat dalam perkara narkoba.
Informasi tersebut dibenarkan Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Yuliyanto, saat dikonfirmasi, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Yuliyanto, perwira polisi tersebut telah diamankan sejak awal Mei 2026 dan kini masih menjalani proses pemeriksaan oleh Ditresnarkoba Polda Kaltim.
“Iya, yang bersangkutan sudah diamankan Ditresnarkoba Polda,” ujar Yuliyanto.
Meski demikian, pihak kepolisian belum membeberkan secara rinci terkait perkara yang menjerat AKP Yohanes Bonar Adiguna.
Polda Kaltim menyebut proses penyelidikan dan pengembangan kasus masih terus dilakukan penyidik sehingga detail perkara belum dapat disampaikan ke publik.
“Kasus belum dirilis dan masih dikembangkan lebih lanjut,” jelasnya.
AKP Yohanes Bonar Adiguna diketahui merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 2015.
Ia baru menjabat sebagai Kasat Resnarkoba Polres Kutai Kartanegara sejak Desember 2025.
Sebelum bertugas di Kukar, Yohanes sempat menjabat sebagai Kapolsek Sungai Kunjang, Samarinda.
Hingga kini, Polda Kaltim masih belum memberikan penjelasan lebih lanjut terkait dugaan keterlibatan yang bersangkutan dalam kasus peredaran narkoba tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian publik lantaran melibatkan pejabat kepolisian yang memiliki tugas utama dalam pemberantasan narkotika di wilayah Kutai Kartanegara.
Polda Kaltim memastikan proses pemeriksaan dan pengembangan kasus akan dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (MK)