Beranda blog Halaman 391

Menpar Minta Pengawasan Ketat di Destinasi Wisata Ekstrem Pasca Insiden di Gunung Rinjani

0

JAKARTA – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meminta seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan wisata untuk memperketat pengawasan terhadap aspek keamanan dan keselamatan di destinasi wisata yang berisiko tinggi sampai ekstrem seperti gunung dan jembatan.

“Kami telah meminta seluruh instansi terkait untuk memperkuat standar operasional khusus serta meningkatkan pengawasan kepada kegiatan wisata berisiko tinggi,” kata Widiyanti dalam kunjungannya ke TMII, Jakarta, Selasa (24/6/2025).

Menanggapi adanya kabar soal kecelakaan yang menimpa wisatawan asal Brazil, Widiyanti menekankan bahwa keselamatan dan keamanan wisatawan menjadi prioritas utama dalam mengembangkan pariwisata nasional.

Pengawasan yang diperketat itu diharapkan dapat menekan kasus kecelakaan di area wisata hingga nihil kecelakaan (zero accident). Widiyanti mengatakan satu kejadian dapat berdampak besar bagi citra destinasi wisata di masa mendatang.

“Oleh karena itu, kami mengajak seluruh pelaku ekosistem para wisata untuk memberikan aspek keamanan dan keselamatan dari komitmen bersama,” ujar dia.

Widiyanti turut menyampaikan rasa empatinya pada keluarga atas musibah yang menimpa korban.
Di samping itu ia mengapresiasi Basarnas serta pengelola Balai Taman Nasional Gunung Rinjani yang cepat tanggap dan segera berkoordinasi dengan semua pihak terkait untuk proses evakuasi.

Hari ini Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan pendakian dari Pelawangan 4 menuju puncak kawasan Gunung Rinjani Lombok untuk sementara waktu ditutup, setelah seorang pendaki jatuh di kawasan tersebut.

Penutupan jalur dimaksudkan untuk mendukung proses evakuasi korban warga negara asing asal Brasil yang terjatuh dan mempertimbangkan aspek keselamatan pengunjung dan tim evakuasi serta menjaga kondusivitas kawasan.

Sebelumnya, Tim SAR gabungan menemukan seorang wisatawan perempuan berkebangsaan Brasil, JDSP (27), yang dilaporkan jatuh ke Danau Segara Anak di sekitar titik Cemara Nunggal, Gunung Rinjani.

Insiden tragis ini terjadi pada Sabtu (21/6) pagi saat korban sedang mendaki menuju puncak Gunung Rinjani.

Kepala Kantor SAR Mataram Muhamad Hariyadi mengatakan bahwa korban ditemukan pada Senin (23/6) pukul 07.05 WITA, kurang lebih 500 meter dari titik awal jatuhnya.
Berdasarkan pantauan dari drone, korban dalam kondisi tidak bergerak. (ANT/KN)

Polri Masih Dalami Kasus Dugaan Ijazah Palsu Presiden Joko Widodo

0

BLITAR – Polri hingga kini terus mendalami kasus laporan dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo.

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan proses pemeriksaan terkait dengan kasus tersebut masih terus dilakukan dengan mengumpulkan berbagai dokumen.

“Penyelidik saat ini sedang mengumpulkan keterangan-keterangan, dokumen-dokumen, kemudian pembanding-pembanding,” katanya setelah ziarah di makam Presiden pertama RI Soekarno di Kota Blitar, Jawa Timur, Rabu (25/6/2025).

Pihaknya menambahkan, nantinya dari hasil keterangan hingga dokumen tersebut akan dilakukan pemeriksaan scientific (ilmiah) melibatkan ahli, melibatkan laboratorium forensik.

“Dan semua informasi, keterangan yang ditemukan kemudian tentunya menjadi kajian penyidik mengambil langkah lebih lanjut,” kata dia.

Dalam perkara tersebut, Polda Metro Jaya juga telah melakukan klarifikasi ke sekolah dan universitas tempat Presiden RI ke-7 Joko Widodo menempuh pendidikan terkait dengan kasus tuduhan ijazah palsu.

Laporan terkait kasus tuduhan ijazah palsu semua sekarang ditarik ke Polda Metro Jaya. Total terdapat enam laporan polisi terkait rangkaian peristiwa terkait ijazah tersebut yakni dua LP di Polda Metro Jaya dan empat LP di polres yaitu Polres Metro Jakarta Selatan, Polres Metro Jakarta Pusat, Polres Metro Bekasi Kota, dan Polres Metro Depok.

Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan termasuk menerima pelimpahan berkas dari beberapa Polres terkait kasus tuduhan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tersebut.

Pelimpahan berkas dari sejumlah polres tersebut untuk memudahkan proses penyelidikan karena rangkaian peristiwa yang sedang didalami sama.

Polda Metro Jaya menyebutkan perkembangan kasus tuduhan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo masih proses pendalaman dan dibutuhkan ketelitian dalam mengungkapkan kasus tersebut.

Kapolri datang ke Blitar dalam rangka ziarah ke makam Presiden pertama RI Soekarno di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangkaian menyambut Hari Bhayangkara ke-79 tahun 2025 sekaligus ingin menggali nilai sejarah dan napak tilas dari para pemimpin bangsa.

Kapolri juga ziarah ke makam Presiden ke-2 RI Soeharto, makam Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang. (ANT/KN)

Dana Rp12 M Tertahan Gara-gara SK Tak Diteken, Atlet Bontang Jadi Korban, Siapa Bertanggung Jawab?

Saya tidak kaget, tapi tetap kecewa. Dua hari terakhir, warga Bontang disuguhi kabar yang bikin geleng kepala: dana hibah pembinaan atlet belum juga cair. Padahal, para atlet sedang bersiap menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026 yang akan digelar di Kabupaten Paser.

Saat ini, masa pra-Porprov bahkan sudah dimulai. Namun anggaran pembinaan yang seharusnya menopang persiapan justru masih tertahan—tanpa kejelasan. Total anggaran Rp12,7 miliar, terbagi ke lima organisasi: KONI Rp5,3 miliar, KORMI Rp4,5 miliar, BAPOPSI Rp1 miliar, NPCI Rp926 juta, dan Pramuka Rp1 miliar.

Yang bikin miris, semua macet hanya karena satu hal: Surat Keputusan (SK) Tim Verifikasi tak pernah dibuat. Alasan klasik. Pejabat lama tak sempat teken, pejabat baru takut ambil risiko. Sementara atlet yang tiap hari berlatih hanya bisa menunggu, dengan harap-harap cemas.

Pertanyaannya sederhana: apakah pantas satu SK yang seharusnya menjadi prosedur rutin malah membuat seluruh proses terhenti? Apa gunanya ada Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif kalau urusan mendasar seperti ini saja tak bisa dituntaskan?

Saya pun penasaran, dan pagi ini langsung menghubungi Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam. Dari beliau, saya mendapat penjelasan yang cukup tegas: akar masalah ini sebenarnya sederhana, dan seharusnya tidak perlu terjadi.

Menurut Andi Faiz, SK Tim Verifikasi yang menjadi syarat pencairan hibah seharusnya bisa diterbitkan pada bulan April 2024, karena Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 10 Tahun 2024 tentang Tata Cara Hibah, baru disahkan 17 April 2024. “Saya sudah cek itu dokumennya,” katanya.

Artinya, tidak masuk akal jika alasan Dispoparekraf adalah SK tidak dibuat karena usulan hibah masuk bulan Maret. Justru, kata dia, logikanya terbalik. SK itu dibuat setelah Perwali terbit, sebagai dasar menilai dan memproses usulan hibah yang masuk.

Lebih jauh, Andi Faiz juga menegaskan bahwa Rafidah telah resmi menjabat sebagai Kepala Dispoparekraf sejak 21 Maret 2024, menggantikan Ahmad Asnem. Maka sejak itu, segala tanggung jawab administratif berada di tangan kepala dinas yang baru.

“Kalau bilang usulannya tidak sah karena masuk bulan Maret, itu lucu. Perwalinya saja baru keluar 17 April 2024. Jadi SK bisa dibuat sesudah itu. Yang terlambat siapa? Yang tidak buat SK siapa?” katanya.

Ia menyayangkan sikap saling lempar tanggung jawab di lingkup Dispoparekraf dan bikin gaduh. Menurutnya, publik butuh kejelasan dan solusi, bukan alasan yang justru semakin membingungkan.

Karena itulah ia juga minta Dispoparekraf segera meminta pendapat hukum kepada kejaksaan, kepolisian, dan BPK. “Kalau nanti diperbolehkan, mereka juga bisa melaksanakan dengan tenang. Ya kita tunggu saja,” katanya.

Pagi ini, saya juga langsung menghubungi Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, untuk mendapat penjelasan langsung. Menurutnya, masalah ini tak akan muncul jika tahapan administratif dijalankan sesuai jadwal sejak awal.

Ia menyebut, semua usulan hibah masuk pada Maret 2024, dan semestinya SK Tim Verifikasi sudah diterbitkan saat itu. Itu prosedur rutin, sama seperti yang dilakukan Dinas Kesehatan untuk hibah PMI. Tapi di Dispora, usulan dari KONI, KORMI, hingga Pramuka tidak diverifikasi. SK-nya tidak pernah dibuat. Padahal dananya sudah disiapkan Rp12 miliar.

“Kalau Asnem waktu itu buat SK, selesai urusannya. Tapi tidak dibuat. Dan ketika masuk ke Dispora bulan April, sudah tidak bisa lagi ditutupi,” kata Neni.

Ia menjelaskan, seluruh anggaran hibah senilai Rp12 miliar untuk lima organisasi itu sudah masuk dalam DPA dan diketok lewat APBD. Secara teknis, sudah jelas siapa yang bertanggung jawab: OPD. Tapi anehnya, SK tak juga terbit hingga masuk bulan Juni 2025. Ketika ditanya, justru muncul wacana untuk membuat SK dengan tanggal mundur, yang langsung ditolak oleh Neni.

“Itu pembohongan publik. Yang kena siapa? Bukan cuma kepala dinas, bisa-bisa semua yang terlibat. Apalagi ini bentuknya hibah, kelolaannya beda. Ada NPHD yang harus dibuat,” tegasnya.

Neni pun memaklumi ketakutan yang muncul, baik dari Kepala Dispoparekraf saat ini maupun Sekda yang sudah bolak-balik menyatakan enggan teken. Tapi menurutnya, sikap saling diam dan saling tunggu bukan solusi. “Kasihan Bu Sekda juga, katanya takut. Apalagi mau pensiun. Tapi ini tanggung jawab dinas. Jangan dilempar ke sana-sini,” tegasnya.

Neni menambahkan, Pemkot saat ini sedang menunggu legal opinion dari Kejaksaan Negeri Bontang. Karena kalau ke depan ada masalah hukum, yang akan menangani tetap Kejaksaan. Sebelumnya, dirinya juga sudah meminta pendapat lisan dari BPKP dan Inspektorat Jenderal Kemendagri. Jawabannya sama: pencairan tak bisa dilakukan tanpa dasar hukum yang sah. “Harapannya sekarang di Kejaksaan. Kalau mereka punya pertimbangan lain, bisa dibuka jalan,” kata Neni.

Neni juga menyebut kasus ini mirip dengan polemik pencairan anggaran DBON yang saat ini masuk dalam penyidikan Kejaksaksaan Tinggi Kaltim. “Itu juga sempat cair tanpa tahapan yang lengkap, akhirnya ribut sedunia. Jadi saya tidak mau terulang,” tegasnya.

Ia menegaskan kembali, tahapan harus dijalankan, SK harus ada. Dan jika itu tidak dibuat sesuai jadwal, maka wajar publik menilai ada maladministrasi. “Ketua DPRD juga marah kemarin. Ini bukan soal takut diperiksa, ini soal integritas,” tutupnya.

Sementara itu, pernyataan dari Kepala Dispoparekraf, Rafidah, bukannya memperjelas, malah semakin membuat publik bingung. Penjelasannya tak fokus, bahkan terkesan menghindar. Ia menyebut takut salah, menunggu proses, dan berbagai alasan lain—tanpa satu pun langkah konkret yang bisa menjawab keresahan masyarakat.

Rafidah mengatakan, dana hibah kepada lima organisasi tak bisa dicairkan karena kesalahan administrasi yang dilakukan pejabat sebelumnya. Menurutnya, mekanisme pengusulan hibah tahun anggaran 2025 cacat prosedural dan bertentangan dengan Peraturan Wali Kota Nomor 10 Tahun 2024.

Ia menjelaskan, idealnya setiap proposal dari organisasi harus diverifikasi oleh tim teknis yang dibentuk melalui SK resmi Dispoparekraf. Namun, SK itu tak kunjung diteken pejabat sebelum dirinya menjabat. Akibatnya, tidak ada dasar hukum untuk mencairkan dana tersebut.

“Proposal mereka tidak sesuai dengan Perwali. Siapa yang berani mencairkan? Bisa jadi temuan hukum, meski sudah ada DPA-nya,” ujarnya saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (25/6/2025).

Ia menambahkan, tim verifikasi seharusnya dibentuk setelah Maret 2024, sesuai jadwal penganggaran. Namun dirinya baru menjabat pada April 2024. “Semua usulan bahkan melebihi batas. Itu miskomunikasi. Kami juga baru transisi. Tidak usah buka siapa yang seharusnya membuat SK itu,” lanjutnya.

Dispoparekraf pun telah menindaklanjuti permintaan Wali Kota untuk meminta legal opinion kepada aparat penegak hukum, termasuk Kejaksaan dan Inspektorat. Mereka juga telah memanggil perwakilan organisasi dua pekan lalu untuk menjelaskan duduk persoalan.

Dari sisi hukum, mari kita perjelas. Anggaran hibah sudah dimuat dalam DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran), bahkan telah disahkan dalam APBD 2024 sesuai ketentuan Pasal 298 ayat (4) dan Pasal 302 UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Dalam Perwali Bontang No. 10 Tahun 2024 tentang Tata Cara Hibah juga jelas: verifikasi administratif merupakan tanggung jawab OPD teknis. Tidak dijalankan, maka itu kelalaian administratif yang secara hukum masuk dalam kategori maladministrasi.

Ini bukan lagi soal “takut diperiksa”. Ini soal integritas dan keberanian. Jika tidak ada niat memperbaiki, saya setuju dengan Wali Kota—pejabat yang membuat gaduh dan mencederai kepercayaan publik layak diberi sanksi disiplin tingkat berat, sebagaimana dimungkinkan dalam PP No. 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS.

Saya memahami langkah Wali Kota yang memilih menunggu pendapat hukum resmi. Itu langkah hati-hati yang bisa dimaklumi dalam situasi penuh risiko seperti ini. Tapi di lapangan, waktu terus berjalan. Kontingen lain sudah bersiap, dan para atlet kita masih terjebak dalam tarik-menarik prosedur yang tak kunjung selesai.

Atlet bukan pelengkap seremoni. Mereka bukan sosok yang hanya diundang saat upacara lalu dilupakan begitu saja. Mereka punya ambisi, punya semangat, dan telah berlatih keras. Sayangnya, sistem yang seharusnya mendukung justru membuat mereka terhambat. Kita tidak sedang bicara soal anggaran semata, tapi soal keberpihakan. Dan saat ini, keberpihakan itu sedang diuji.

Saya percaya, Ketua DPRD dan Wali Kota punya niat yang sama: menginginkan yang terbaik bagi para atlet. Tinggal bagaimana langkah-langkah selanjutnya diambil dengan tepat, agar semangat mereka tidak padam sebelum sempat bertanding. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Diskop UKM Kukar Kebut Pembentukan Koperasi Merah Putih, 201 Akta Sudah Terbit

TENGGARONG – Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam mempercepat kelengkapan administrasi Koperasi Merah Putih, terus menunjukkan hasil positif. Setelah berhasil dibentuk di 237 desa dan kelurahan, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Kukar mencatat sudah ada 201 koperasi yang berhasil mendapatkan akta notaris.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskop UKM Kukar, Taufik Zulfian Noor, menjelaskan bahwa saat ini masih ada sekitar 36 koperasi yang sedang dalam proses pengesahan. Pihaknya menargetkan seluruhnya rampung sebelum tenggat waktu pembentukan pada 30 Juni 2025.

Ia menjelaskan jika kendala yang kami hadapi dalam memenuhi administrasi Koperasi Merah Putih di desa dan kelurahan cukup beragam, mulai pemahaman koperasi yang masih minim, kendala jaringan internet hingga faktor alam seperti banjir di Tabang.

“Belum lagi soal pembiayaan akta notaris yang berbeda-beda, tapi proses tetap berjalan dan beberapa berkas memang perlu dilengkapi ulang,” ungkap Taufik, Rabu (25/6/2025).

Meski dihadapkan pada tantangan teknis dan geografis, Taufik menegaskan bahwa komitmen Pemkab Kukar tetap tinggi untuk menyukseskan program ini. Ia menekankan pentingnya peran koperasi sebagai penggerak ekonomi lokal yang berbasis potensi wilayah.

Mengenai skema usaha, Taufik menjelaskan bahwa setiap koperasi Merah Putih dirancang untuk menjalankan tujuh jenis usaha. Enam di antaranya ditetapkan sebagai unit usaha wajib, sementara satu jenis usaha disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masing-masing daerah.

“Saat ini kami sedang merekap jenis-jenis usaha yang diajukan. Prinsipnya, koperasi dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengoptimalkan potensi desa. Jadi orientasinya tidak hanya ke dalam desa, tapi juga bisa menjadi peluang bisnis ke luar,” jelasnya. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i

Distribusi Gas LPG Jadi Usaha yang Paling Diminati Koperasi Merah Putih di Kukar

TENGGARONG – Ditengah percepatan pembentukan Koperasi Merah Putih di Kutai Kartanegara (Kukar), distribusi tabung gas LPG muncul sebagai sektor usaha paling banyak diminati oleh para pengurus koperasi. Pilihan ini dinilai strategis dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kukar, Taufik Zulfian Noor, menjelaskan bahwa koperasi Merah Putih diinstruksikan untuk menjalankan tujuh sektor usaha. Enam diantaranya bersifat seragam dan ditentukan langsung oleh pemerintah pusat. Yakni pengadaan sembako, unit simpan pinjam, klinik kesehatan, apotek, sistem pergudangan/cold storage, serta sarana logistik desa atau kelurahan.

Sementara satu sektor usaha lainnya disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan lokal di masing-masing wilayah. Ia juga menuturkan bahwa dari sekian banyak potensi usaha, yang paling banyak diajukan adalah distribusi gas LPG.

“Ini tidak lepas dari pengalaman masyarakat menghadapi kelangkaan LPG beberapa waktu lalu yang sempat menyebabkan lonjakan harga,” ungkap Taufik, Rabu (25/6/2025).

Ia menambahkan, sektor ini sangat krusial bagi UMKM, terutama pelaku usaha kuliner. Kestabilan harga LPG akan sangat membantu mereka menjaga margin keuntungan tanpa harus menaikkan harga jual.

“LPG menjadi salah satu komoditas yang dibutuhkan UMKM. Kalau harganya mahal, mereka kesulitan. Sementara pelaku UMKM ini baru belajar, kalau jual mahal kehilangan daya saing, kalau jual murah bisa rugi. Harapannya, produk UMKM tetap murah tapi tidak murahan,” paparnya. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i

Taman Adipura dan Bontang Kuala-Edukasi Kian Terlupakan

Selasa, 24 Juni 2025. Seusai meninjau Stadion Bessai Berinta (Lang-Lang), saya mengarahkan kendaraan menuju dua taman kota yang dulu disebut-sebut sebagai simbol ruang terbuka hijau dan wajah ramah Kota Bontang: Taman Adipura dan Taman Bontang Kuala-Edukasi.

Letaknya tak jauh dari stadion. Tapi yang saya temukan justru menyisakan keprihatinan. Terutama saat tiba di Taman Bontang Kuala-Edukasi—sebuah taman yang dulu digagas sebagai ruang belajar terbuka, kini tampak redup, nyaris seperti ditinggalkan.

Taman Adipura menjadi lokasi pertama yang saya datangi. Aksesnya melalui Jalan KS Tubun, lalu belok ke Jalan Balsalt. Sekitar 150 meter dari simpang jalan, taman itu tampak dari kejauhan.

Dulu tempat ini dibanggakan karena menghadirkan perpaduan antara elemen hijau kota, sarana rekreasi publik, dan fasilitas edukatif yang menunjang interaksi sosial warga.

Darnan menunjukkan, salah satu alat olahraga di Taman Adipura terlihat rusak dan membahayakan.

Fasilitasnya tergolong lengkap. Pos penjagaan, mini theatre, gazebo nyaman, toilet umum, area terapi kaki, Wi-Fi gratis, spot swafoto, hingga status sebagai Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA). Bahkan sejak 2018, taman ini dilengkapi dengan alat-alat fitnes outdoor dan pernah menjadi titik favorit warga untuk olahraga pagi maupun sore hari.

Anggaran pembangunan taman ini tidak kecil. Dana miliaran rupiah digelontorkan dari APBN dan APBD untuk mendukung terciptanya ruang terbuka hijau representatif. Luasnya lebih dari 1 hektare, termasuk pembangunan jembatan penghubung serta penambahan berbagai elemen rekreasi dan edukasi.

Gerbangnya memang masih berdiri, tetapi catnya mulai pudar. Di dalamnya, alat bermain anak-anak tampak lusuh. Ada yang berkarat, sebagian patah, bahkan beberapa hilang.

Saya ditemani Darman, Direktur Radar Bontang, menyusuri area taman. Ia sempat menjajal salah satu alat fitnes yang tersedia. Baru disentuh sebentar, bautnya goyah dan struktur besinya terasa tajam.

“Coba lihat ini, Bos. Goyang semua. Kalau anak kecil sampai jatuh atau kejedot, bisa luka,” ujarnya sambil menunjukkan.

Padahal, taman ini masih ramai dikunjungi. Anak-anak tetap bermain. Ibu-ibu berolahraga. Remaja nongkrong. Tapi di balik keceriaan itu, tersembunyi banyak risiko. Lantai licin, fasilitas aus, hingga pencahayaan yang redup. Citra “Adipura” masih melekat, tapi kondisinya hari ini mengisyaratkan perlunya perhatian lebih serius.

Kami lalu melanjutkan ke Taman Bontang Kuala-Edukasi. Letaknya, sebelum gerbang masuk kawasan Bontang Kuala, ada jalan cukup besar belok ke arah kantor Kelurahan Bontang Kuala. Taman ini berdiri tepat di sisi kantor, hanya dipisahkan jalan kecil.

Tembok tempat berdirinya plang nama masih ada, tapi cat biru dan kuningnya mulai terkelupas. Huruf-huruf metalik yang dulunya berkilau, kini kusam dan berkarat. Bahkan nyaris tak terbaca. Dari kesan pertama saja, sudah terasa muram.

Jalur pedestrian di Bontang Kuala Edukasi, dari conblock bergelombang, licin, dan tak nyaman dilalui.

Saat melangkah masuk, kesan itu semakin kuat. Tanaman liar tumbuh tanpa kendali. Jalur pedestrian dari conblock bergelombang dipenuhi lumpur. Bahkan ada yang terangkat. Gazebo rapuh. Semua memberi kesan taman ini tak lagi dipedulikan.

Padahal sejak dibangun pada 2021, taman ini digagas dengan konsep mulia: sebagai ruang edukasi lingkungan. Ia menggabungkan unsur konservasi mangrove, budaya pesisir, dan aktivitas belajar terbuka.

“Dulu saya sering ajak keluarga duduk-duduk di sini. Gazebonya adem. Tapi karena sering kena banjir rob, lama-lama rusak semua,” kata Darman mengenang.

Intrusi air laut kini menjadi ancaman nyata. Saluran air rusak. Jalan setapak ke area belakang yang dirancang sebagai jalur edukasi mangrove nyaris tak bisa dilalui. Lumpur dan endapan pasang laut mendominasi. Bekas genangan menjadi bukti bahwa taman ini bukan hanya terlupakan, tapi juga kalah oleh alam.

Padahal, Bontang beberapa kali meraih Adipura, bahkan Adipura Kencana. Taman-taman ini dibangun untuk mendukung reputasi itu.

Bontang tidak kekurangan ruang hijau. Mungkin yang berkurang justru semangat merawatnya. Kalau dibiarkan, taman-taman ini hanya akan jadi bangunan usang. Bukan lagi ruang bermain, belajar, atau tempat warga berkumpul. (*)

Oleh: Agus Susanto

Kemenko PM Siapkan Tim Khusus Razia Pesantren Ilegal

0

JAKARTA – Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) telah membentuk sebuah tim khusus (timsus) untuk merazia pesantren-pesantren ilegal, terutama di Jawa Barat.

“Banyak pesantren palsu, dan terbanyak di Jawa Barat. Saya akan razia itu sebentar lagi,” ujar Menko PM Muhaimin Iskandar alias Cak Imin usai menghadiri acara International Conference on The Transformation of Pesantren, di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Selasa (24/6/2025) malam.

Ia menjelaskan razia akan dilakukan terutama terhadap pesantren ilegal yang membuat sejumlah berita negatif, sehingga berdampak merusak citra atau nama baik sekitar 39 ribu pesantren di Indonesia saat ini.

Ia juga mengatakan bahwa razia akan dilakukan timsus terhadap pesantren yang praktik pengelolaannya dinilai eksploitatif.

“Saya dan teman-teman akan melakukan penyadaran, razia untuk mengingatkan karena kita tidak boleh diam melihat terjadinya penyelewengan,” katanya.

“Saya kan menteri ya, dan tentu menggunakan kewenangan saya agar pesantren yang tidak tertib, kami tertibkan,” tegas Muhaimin.

Walaupun demikian, dia berharap pemangku kepentingan lain turut berupaya untuk mencegah tumbuhnya pesantren ilegal di tanah air.

“Jadi, saya berharap Kementerian Agama, pemerintah daerah, di-back up oleh aparat untuk benar-benar meregistrasi, melakukan review atau peninjauan ulang, dan mendeteksi pesantren palsu yang tumbuh di mana-mana yang mengeksploitasi kemiskinan untuk kepentingan beberapa orang mengatasnamakan pesantren,” katanya. (ANT/KN)

Israel-Iran Sepakat Gencatan Senjata, 11 Rudal Hantam Sebelum Damai

ISTANBUL – Gencatan senjata antara Israel dan Iran mulai berlaku pada pukul 04.00 GMT (11:00 WIB), Selasa (24/6/2025), setelah berjam-jam eskalasi konflik di mana Iran meluncurkan enam gelombang serangan rudal ke wilayah Israel.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa total 11 rudal ditembakkan dalam enam gelombang berturut-turut dari Iran menjelang dimulainya gencatan senjata.

Layanan medis darurat Israel melaporkan sedikitnya enam orang tewas dan 15 lainnya terluka — beberapa di antaranya dalam kondisi kritis — akibat sebuah roket yang menghantam bangunan permukiman di Kota Beersheba, Israel selatan.

Ledakan juga dilaporkan terjadi di Tel Aviv dan wilayah tengah Israel, menurut media setempat.

Media Iran juga mengonfirmasi dimulainya gencatan senjata, yang disebut mulai berlaku setelah “tembakan salvo terakhir” dari rudal mereka.

Otoritas Penyiaran Israel dan radio militer sebelumnya melaporkan bahwa gencatan senjata telah dimulai, meskipun pejabat Israel belum memberikan pernyataan resmi.

Kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah menginstruksikan para menteri untuk tidak memberikan komentar publik terkait kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan dimulainya gencatan senjata, yang akan dilakukan secara bertahap, dimulai oleh Iran lebih dulu, kemudian disusul Israel 12 jam setelahnya. Penghentian total permusuhan akan diumumkan pada jam ke-24.

Media Israel menyebut bahwa Qatar berperan sebagai mediator dalam tercapainya kesepakatan ini. (ANT/KN)

Sumber: Anadolu

Bank Kaltimtara Sabet Dua Penghargaan di Ajang Banking Service Excellence Awards 2025

0

JAKARTA – Bank Kaltimtara kembali mencatat prestasi gemilang di tingkat nasional. Pada ajang “Infobank–MRI 22nd Banking Service Excellence Awards (BSEA) 2025” yang digelar di Hotel Shangri-La Jakarta, Selasa (24/6/2025), bank pembangunan daerah ini sukses menyabet dua penghargaan bergengsi.

Bank Kaltimtara dinobatkan sebagai “The Best Region Bank in Service Excellence for 5 Consecutive Years (2020–2024)” dan juga meraih penghargaan sebagai “The 2nd Best Region Bank in Excellence Website.”

Kedua penghargaan tersebut diberikan oleh Majalah Infobank bekerja sama dengan Marketing Research Indonesia (MRI) sebagai bentuk apresiasi terhadap bank-bank yang dinilai unggul dalam memberikan layanan terbaik kepada nasabahnya, baik melalui kanal tatap muka di kantor cabang maupun layanan digital.

Direktur Utama Bank Kaltimtara, Mohamad Yamin, menyampaikan rasa terima kasihnya atas pencapaian ini dan mendedikasikan penghargaan tersebut kepada seluruh tim Bank Kaltimtara.

“Ini tentunya untuk seluruh insan Bank Kaltimtara, mulai dari security, teller, hingga petugas di lini pelayanan lainnya. Saya memberikan apresiasi atas kerja keras dan dukungan mereka selama ini,” ujar Yamin uasi menerima penghargaan.

Menurutnya, penghargaan ini bukan sekadar bentuk pengakuan, melainkan juga hasil dari komitmen kolektif seluruh jajaran untuk terus meningkatkan mutu layanan perbankan.

“Penghargaan kali ini adalah anugerah yang berharga. Kami merasa bangga karena telah mendapat kepercayaan kembali dari Infobank dan MRI, yang secara konsisten menilai kualitas layanan perbankan nasional,” tambahnya.

Survei Bank Service Excellence Monitor (BSEM) 2025 yang menjadi dasar penilaian dilakukan dari akhir 2024 hingga Maret 2025 oleh MRI. Penilaian dilakukan menggunakan metode mystery shopping untuk mengevaluasi langsung pengalaman nasabah saat berinteraksi dengan layanan bank. Metode ini menilai efisiensi operasional dan konsistensi pelayanan, baik secara langsung maupun melalui kanal digital.

Direktur Utama MRI, Harry Puspito, menjelaskan bahwa survei dilakukan untuk menjawab tantangan layanan perbankan yang kian kompleks di tengah tren digitalisasi dan meningkatnya ekspektasi nasabah.

“Hasil survei ini bisa menjadi bahan refleksi penting bagi bank-bank dalam memperbaiki mutu layanan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Chairman Infobank Media Group, Eko B. Supriyanto, menyoroti tantangan yang kini dihadapi industri perbankan, termasuk meningkatnya ancaman kejahatan siber yang menuntut bank untuk tetap waspada dalam menyediakan layanan digital yang aman.

Bank Kaltimtara menjadi salah satu dari sembilan bank pembangunan daerah (BPD) yang meraih penghargaan dalam BSEA 2025, menunjukkan konsistensinya sebagai bank regional yang tak hanya kuat di daerah, tetapi juga diakui secara nasional.

Pewarta : M Adi Fajri
Editor : Nicha R

Ranking QS Naik 46 Persen, Menteri Brian Serukan Kolaborasi dan Riset Berkualitas

0

JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyelenggarakan sosialisasi strategis untuk penguatan program World Class University (WCU) di Gedung D Kemdiktisaintek, Jakarta, pada Selasa (24/6/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, Dirjen Sains dan Teknologi, Direktur Riset LPDP, serta pimpinan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), wakil rektor, dan tim pakar.

Sosialisasi ini menjadi forum awal untuk mengoordinasikan kebijakan dan pengarahan teknis lintas institusi dalam mendorong transformasi pendidikan tinggi yang kolaboratif, inklusif, dan berdampak global.

Indonesia tahun ini mencatat kenaikan signifikan sebesar 46 persen dalam pemeringkatan QS World University Ranking. Prestasi tersebut menjadi landasan penting bagi Kemdiktisaintek untuk memperkuat arah pembangunan perguruan tinggi menuju level internasional.

Dalam sambutannya, Menteri Brian menekankan penguatan riset dan kolaborasi antarinstitusi merupakan kunci keberhasilan. Ia mendorong kerja sama yang cair antarperguruan tinggi, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga integritas akademik.

Sosialisasi yang berlangsung dalam dua sesi ini juga memperkenalkan skema lanjutan Program Equity yang mencakup kemitraan antara PTN-BH, PTN BLU, PTN Satker, dan PTS. Selain untuk meningkatkan kualitas riset dan reputasi akademik, program ini diarahkan untuk memperluas akses pendidikan tinggi secara merata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Angka Artisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi nasional hanya naik 0,5 persen dalam setahun. Tanpa intervensi yang lebih besar, APK diperkirakan tidak dapat menyentuh target 38 persen pada 2029.

Ketua Tim World Class University (WCU) Kemdiktisaintek Hermawan menegaskan bahwa reputasi akademik dalam skala global sangat bergantung pada kekuatan riset yang dimiliki oleh para dosen dan institusi. Hermawan juga mengingatkan pentingnya kepemimpinan yang konsisten dan berorientasi pada mutu untuk menjamin keberhasilan transformasi jangka panjang pendidikan tinggi.

Ketua Tim WCU Hermawan, menyoroti tiga tantangan utama pendidikan tinggi di Indonesia yaitu, akses, relevansi, dan mutu. Transformasi menuju universitas berkelas dunia harus bertumpu pada peningkatan kualitas dan reputasi dalam skala global.

Hermawan menekankan academic reputation tidak dapat dibangun secara instan, melainkan melalui riset yang berkualitas, konsisten, dan menjadi rujukan dunia. Inilah yang menjadi fondasi bagi universitas Indonesia untuk diakui secara global dan memberikan nilai tambah secara ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pada sesi teknis akan dihadiri oleh tim task force dari masing-masing perguruan tinggi bersama para pakar. Agenda ini akan difokuskan pada pendalaman teknis implementasi program, termasuk strategi peningkatan mutu riset, penguatan kolaborasi lintas institusi, serta langkah-langkah percepatan transformasi sistemik.

Sosialisasi ini menjadi pondasi awal dalam konsolidasi nasional menuju kampus berdampak. Dengan strategi yang menekankan kualitas akademik, kemitraan yang inklusif, dan keadilan akses, perguruan tinggi Indonesia diharapkan mampu bertransformasi menjadi pusat pengetahuan global yang menjunjung integritas dan mendorong kemajuan bersama. (MK)

Editor : Nicha R