Beranda blog Halaman 386

Edi Damansyah Tak Lagi Punya Kekuasaan, Tetap Dicintai Warganya

SAYA memang tidak hadir secara fisik di halaman Masjid Agung Tenggarong, saat serah terima memori jabatan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Senin, 30 Juni 2025. Tapi saya menyimaknya lewat video rekaman yang dikirim wartawan Media Kaltim Network dan potongan video dan foto dari akun TikTok Edi Damansyah serta Wakil Bupati Rendi Solihin.

Saya melihat wajah-wajah yang berkumpul. Warga menyimak dalam diam, sebagian menahan haru. Video itu merekam momen langka: seorang pemimpin pamit bukan dengan panggung, tapi dengan pelukan.

Suara Pak Edi rendah, tidak bergetar, tapi mengandung kepasrahan yang kokoh. Bukan politisi yang diturunkan kekuasaan, tapi pejuang yang menyerahkan amanah dengan kepala tegak.

“Saya didiskualifikasi oleh Mahkamah Konstitusi, air mata saya tidak menetes. Tapi subuh tadi, air mata saya menetes, karena masjid ini penuh dengan jemaahnya,” katanya.

Suasana haru menyelimuti pelepasan Edi Damansyah. Warga dan keluarga tak kuasa menahan air mata.
Edi Damansyah bersama Sekda Kukar, Sunggono, dalam momen serah terima memori jabatan.

Saya paham maksud kalimat itu. Ia tak bicara soal politik. Ia bicara soal rindu. Soal getar spiritual dari masyarakat yang setia padanya. Tak peduli ia masih menjabat atau tidak.

Sebab Edi Damansyah bukan hanya Bupati. Ia sahabat petani, guru untuk birokrat, pengayom nelayan, dan penyambung lidah warga kampung.

Air matanya tidak tumpah saat Mahkamah Konstitusi mendiskualifikasinya. Tapi subuh tadi, katanya, matanya menetes. Itulah Edi Damansyah. Pemimpin yang justru melembut saat kekuasaan dicabut. Bukan marah-marah. Bukan menyulut api.

Tak mudah menghapus jejak Edi, karena ia telah menanamkan banyak kerja nyata di daerah ini. Bukan jabatan yang membentuknya, tapi kedekatannya dengan rakyat

Dan Edi tidak ke mana-mana. Ia tetap di Kutai Kartanegara. Ia bahkan berjanji tugas sosial kemasyarakatan tidak akan berhenti. “Saya akan terus bersama para sahabat dan masyarakat Kukar,” ucapnya.

Ribuan warga yang hadir tahu, itu bukan sekadar janji. Mereka sudah melihatnya sendiri. Di ladang dan tambak, di dapur rumah dan halaman sekolah, bahkan di masjid-masjid subuh yang penuh pagi tadi. Di sana ada Edi Damansyah: hadir, mendengar, dan bekerja tanpa banyak bicara.

Selama memimpin, Edi Damansyah meninggalkan jejak prestasi yang konkret. Pelayanan publik di Kabupaten Kukar mencatat capaian membanggakan, dengan predikat A yang diraih DPMPTSP dan Disdukcapil.

Dari sisi pengelolaan keuangan, Kukar meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK, serta nilai B untuk reformasi birokrasi dan akuntabilitas kinerja pemerintah (SAKIP).

Di bidang kearsipan, Kukar mendapat predikat BB dari Arsip Nasional, dan dalam keterbukaan informasi publik, Kukar diganjar penghargaan nasional atas komitmennya terhadap transparansi.

Transformasi digital juga berjalan progresif dengan hadirnya 19 aplikasi layanan publik, sebagian besar telah terintegrasi dalam sistem DISAPA.

Program andalannya, Kukar Bebaya, mengalokasikan Rp50 juta per RT dan menjangkau lebih dari 2.800 RT, dilengkapi ribuan kendaraan operasional yang langsung menyentuh struktur komunitas paling bawah.

Capaian ini turut didukung penurunan angka pengangguran dari 5,66 persen menjadi 4,14 persen, memperkuat bukti bahwa kebijakan Edi berdampak nyata.

Di sektor infrastruktur, Kukar menuntaskan pembangunan embung, jaringan irigasi, jalan produksi, serta membuka akses digital dengan membebaskan 225 desa dari blankspot. Festival ekonomi kreatif meningkat drastis, dari hanya 11 event menjadi 60 per tahun, menunjukkan dorongan kuat pada pelaku UMKM dan sektor kreatif.

Dari sisi investasi dan tanggung jawab sosial, Kukar meraih CSR Award (kategori Gold) dan LKPM Award, serta tetap menjaga sinergi dengan pemerintah provinsi dan pusat dalam forum-forum strategis perencanaan.

Tak hanya itu, di bidang olahraga dan kepemudaan, Edi mendorong lahirnya atlet berprestasi seperti Muhammad Taufany Muslihuddin, peraih emas di SEA Games 2023. Ia juga menetapkan struktur baru di KONI Kukar demi transparansi dan efektivitas pembinaan atlet jelang Porprov 2026.

Edi Damansyah disambut hangat oleh warga usai menyerahkan memori jabatan, suasana penuh keakraban dan penghormatan di halaman Masjid Agung Tenggarong.

Dan pada saat Aulia Rahman Basri dan Rendi Solihin resmi menerima tongkat estafet, mereka pun tahu: mereka tidak mulai dari nol.

Mereka meneruskan warisan. Seperti dikatakan Aulia, “Softwarenya adalah Edi Damansyah. Hardwarenya adalah Aul-Rendi.”

Pernyataan itu bukan basa-basi. Itu pengakuan. Dan pengakuan paling jujur seorang pemimpin baru bukan pada pidato, tapi pada siapa yang mereka sanjung dalam momen pengukuhan.

Video-video pendek yang saya saksikan menguatkan satu hal: jabatan bisa berganti, tapi kepercayaan rakyat tetap tinggal di hati mereka yang tulus.

Dan Edi Damansyah, meski tak lagi bupati, akan terus bekerja, menyatu dalam kehidupan warga Kukar. Tanpa panggung. Tanpa protokoler. Tapi dengan keberanian yang diam-diam, dengan pengabdian yang tak mengenal masa jabatan. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Soal Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Safardy Bora: Sejarah Bukan Hafalan, Tapi Kesadaran

0

SAMARINDA – Rencana revisi sejarah nasional oleh pemerintah mengundang polemik. Di tengah kekhawatiran manipulasi narasi, sejarawan Safardy Bora menegaskan sejarah bukan alat kekuasaan, tapi kesadaran kolektif yang harus dijaga dengan jujur dan objektif.

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia ini ditarget rampung pada peringatan 80 tahun kemerdekaan RI, 17 Agustus 2025. Pemerintah melibatkan sejumlah sejarawan dan arkeolog dengan misi memperkuat identitas nasional dan memperkaya pemahaman generasi muda.

Namun publik mengkhawatirkan lahirnya narasi tunggal yang mengaburkan fakta, khususnya soal pelanggaran HAM dan peran tokoh-tokoh dari luar Jawa.

Menanggapi isu ini, kami mewawancarai Safardy Bora, sejarawan asal Kaltim dan penulis buku Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris di Sulawesi Selatan.

Bagaimana Anda memandang rencana penulisan ulang sejarah Indonesia?
Sebagai penulis sejarah, saya menyambut baik inisiatif seorang menteri yang ingin menulis ulang sejarah Indonesia dengan satu syarat: bahwa hal ini dilakukan bukan demi pencitraan politik, melainkan untuk memperbaiki narasi nasional yang selama ini sering timpang. Sejarah kita terlalu luas untuk dipadatkan dalam satu naskah tunggal. Sejak migrasi Austronesia dari Formosa, lahirnya komunitas Melayu Tua dan Proto, hingga berdirinya kerajaan-kerajaan besar seperti Kutai (kerajaan Hindu tertua abad ke-4 M), Sriwijaya, Pajajaran, Majapahit, hingga Islamisasi di Kutai dan Kesultanan lainnya, terlalu banyak fragmen sejarah yang masih tersembunyi di balik “sejarah nasional” yang berpusat di Jawa.

Apa risiko dan potensi manfaat dari penulisan ulang sejarah oleh negara?
Risiko terbesar dari penulisan sejarah oleh negara adalah lahirnya narasi tunggal yang berfungsi sebagai alat legitimasi kekuasaan. Kita sudah belajar dari era Orde Baru, ketika sejarah G30S dan peran militer dikisahkan dengan satu sudut pandang. Tetapi penulisan ulang juga bisa memberi manfaat besar: memberi ruang bagi tokoh-tokoh dan peristiwa yang lama dibungkam. Misalnya, sosok Andi Depu, perempuan pejuang dari Mandar yang melawan kolonialisme Belanda, sering luput dari buku teks sejarah nasional. Atau peristiwa kelam yang selama ini hanya dikenal di tingkat lokal: pembantaian sekitar 40.000 warga sipil oleh tentara Belanda dalam operasi militer di Sulawesi Selatan dan Barat (1946–1947) yang dipimpin Westerling.

Prinsip apa yang harus dijaga dalam menulis ulang sejarah?
Prinsip Menulis Sejarah: Objektif, Inklusif, dan Berdasar Fakta
Menulis sejarah, apalagi menulis ulang, memerlukan prinsip ilmiah yang ketat: berdasar bukti, menyertakan beragam perspektif (terutama dari daerah-daerah luar Jawa), dan tidak tunduk pada kepentingan politik sesaat. Sejarah bukan milik penguasa. Ia adalah milik kolektif bangsa. Maka, tokoh seperti Prof. Dr. Susanto Zuhdi, akademisi dari Universitas Indonesia yang dikenal karena pendekatan kritis dan keterbukaannya dalam menelaah sejarah maritim dan Islam di Nusantara, menjadi penting dalam tim penulis ulang. Kehadirannya menjanjikan keseimbangan antara akademik dan narasi publik.

Apakah sejarah memang perlu ditulis ulang?
Secara akademik, sejarah memang perlu ditulis ulang jika:
– Ada temuan baru, seperti bukti arkeologis atau dokumen kolonial yang sebelumnya dirahasiakan.
– Terjadi bias historiografi, seperti dalam narasi “penjajahan Belanda selama 350 tahun”.
Angka 350 tahun ini sendiri problematis. Kutai sudah berdiri sejak abad ke-4, dan Belanda baru efektif menjajah seluruh wilayah Nusantara sekitar abad ke-19. Sebelumnya, dominasi mereka terbatas pada kota-kota pelabuhan di pesisir dan sangat tergantung pada VOC (1602–1799), bukan pemerintah kolonial langsung. Maka, kalimat “Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun” perlu direvisi dengan konteks wilayah dan waktu yang berbeda-beda.
Apakah ada kekhawatiran bahwa penulisan ulang ini akan disalahgunakan?
Tentu. Sejarah bisa jadi alat kekuasaan jika tidak dikawal. Tokoh dari daerah bisa dihapus, sejarah lokal dibungkam, penguasa diglorifikasi. Kita harus kritis, bukan sinis. Jangan biarkan sejarah jadi alat propaganda, tapi sarana refleksi dan penguatan identitas bangsa.

Apakah Indonesia pernah mengalami penulisan ulang sejarah yang mengaburkan fakta?
Jejak Penulisan Ulang yang Menghapus Fakta
Indonesia pernah mengalami sejarah yang “dibersihkan”. Penulisan sejarah resmi di era kolonial hanya mencatat Belanda dan VOC, tanpa menyebut pahlawan lokal kecuali jika melayani narasi kolonial. Era Orde Baru pun menegaskan sejarah yang sentralistik. Akibatnya, tokoh seperti Sultan Hasanuddin, Aru Palaka, hingga kerajaan Luwu atau Ternate terpinggirkan. Bahkan narasi Islamisasi pun direduksi dan dilekatkan hanya pada Jawa atau Sumatra.

Bagaimana menjamin objektivitas dalam penulisan ulang sejarah?
Menjaga Objektivitas Sejarah
Agar penulisan ulang sejarah tetap objektif:
– Harus melibatkan tim lintas disiplin dan daerah.
– Arsip harus terbuka bagi publik.
– Komunitas sejarawan dan jurnalis diberi ruang untuk mengkritisi hasil narasi resmi.
– Sekolah dan kampus tidak hanya mengajarkan hafalan, tetapi juga pemahaman kritis terhadap sejarah.

Seberapa inklusif sejarah yang diajarkan saat ini?
Keberagaman Perspektif dalam Penulisan Sejarah
Penulisan sejarah saat ini memang mulai terbuka. Namun ia masih belum cukup merepresentasikan keragaman Nusantara. Sejarah Mandar, Bugis, Dayak, Minahasa, hingga masyarakat Papua masih minim dalam buku sejarah sekolah. Padahal sejarah Indonesia adalah sejarah bahasa, darah, dan debu dari ratusan pulau dan ribuan komunitas. Maka menuliskan kembali sejarah bukanlah tindakan menyempurnakan satu buku, tetapi memperbaiki fondasi kesadaran kebangsaan.

Apa beda menulis ulang, merevisi, dan memperbarui sejarah?
Menulis Ulang vs Merevisi Sejarah
Perlu dibedakan antara:
– Menulis ulang sejarah: Rekonstruksi menyeluruh, bisa menyentuh narasi besar dan struktur interpretasi sejarah.
– Revisi sejarah: Perbaikan atas detail yang salah atau bias.
– Pembaruan sejarah: Penambahan informasi atau pendekatan baru, misalnya melalui sumber lisan, digitalisasi arsip, atau metode interdisipliner.

Apa peran komunitas sejarawan dan akademisi dalam proses ini?
Tugas akademisi dan sejarawan tidak sekadar menulis di jurnal ilmiah, tetapi menjadi penjaga moral sejarah. Merekalah yang mengawal agar sejarah tetap adil, akurat, dan membumi. Melibatkan masyarakat, mendidik guru, menulis buku sejarah daerah, bahkan menyusun kurikulum SD agar anak-anak tidak hanya menghafal angka penjajahan, tetapi memahami semangat perjuangan itulah tantangan sejarah hari ini.

Safardy menyimpulkan sejarah bukan hafalan, tapi kesadaran. Ia harus diajarkan sejak sekolah dasar bukan sebagai deretan nama dan angka, tapi sebagai refleksi tentang jati diri bangsa. Bahwa kita adalah pewaris Austronesia, pembentuk kerajaan maritim, penerus nilai-nilai Islam dan Hindu-Buddha, korban penjajahan, dan pemilik suara kemerdekaan.

Menulis ulang sejarah bukan membongkar masa lalu, tapi membangun masa depan dengan pijakan yang lebih adil, lebih dalam, dan lebih jujur.

Penulis: Hanafi
Editor: Agus S

Fadli Zon: Penulisan Ulang Sejarah Nasional Sudah 80 Persen

0

BOGOR – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyebut proses penulisan ulang sejarah nasional Indonesia mencapai 80 persen dengan melibatkan para sejarawan dari 34 perguruan tinggi di seluruh Indonesia melalui pendekatan ilmiah dan faktual.

“Itu kan para sejarawan yang nulis ya, jadi progresnya sekitar 80 persen. Penulisan sejarah itu yang menulis adalah para sejarawan yang memang profesional,” kata Fadli Zon di fasilitas penyimpanan koleksi ilmiah arkeologi milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (30/6/2025).

Menbud Fadli Zon menyampaikan bahwa Indonesia telah lebih dari dua dekade tidak melakukan penulisan sejarah secara menyeluruh.

Ia menilai banyak peristiwa penting dalam lintasan kepemimpinan nasional, mulai dari era Presiden Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono yang belum tercatat secara utuh dalam narasi sejarah nasional.

Fadli menegaskan bahwa revisi sejarah bukan bertujuan untuk mengubah fakta, melainkan untuk memperbarui dan melengkapi narasi berdasarkan temuan arkeologis dan dokumentasi yang selama ini terabaikan.

Ia mencontohkan temuan penting seperti situs Bongal yang mengindikasikan masuknya Islam ke Indonesia sejak abad ke-7, serta sejumlah prasasti dan artefak yang belum banyak diteliti secara serius.

“Jadi nggak ada hal-hal yang aneh-aneh gitu. Jadi kita justru meng-update yang belum ada, tadi seperti temuan-temuan situs Bongal apalagi yang prasejarahnya,” ujarnya.

“Ini bagian dari kerja peradaban. Kita ingin sejarah kita tidak stagnan, tapi terus berkembang seiring dengan penemuan baru dan kajian ilmiah,” ujarnya.

Lebih lanjut Fadli Zon menekankan bahwa penulisan sejarah merupakan bagian dari kerja peradaban.

Menbud Fadli juga menepis anggapan bahwa penulisan ulang ini bermuatan politik karena seluruh proses diserahkan sepenuhnya kepada para sejarawan profesional dan akademisi.

Diharapkan, hasil penulisan ulang ini akan menjadi rujukan utama dalam pendidikan dan kebijakan kebudayaan nasional, sekaligus memperkuat identitas dan memori kolektif bangsa.

“Kita hanya ingin menghadirkan sejarah yang adil, lengkap, dan relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.  (ANT/KN)

Keisya Levronka dan Nyoman Paul Rilis Lagu Romantis “Denganmu Saja”

0

JAKARTA – Musisi Keisya Levronka dan Nyoman Paul menghadirkan single romantis bertajuk “Denganmu Saja” yang menggambarkan manisnya hidup jika dihabiskan dengan orang yang tepat.

Lagu romantis ini ditulis oleh Krisna Trias dan disiapkan memadukan karakter suara Keisya dan Nyoman Paul sebagai pasangan kekasih yang saling melengkapi satu sama lain. Aransemen musiknya juga dibuat sangat nyaman baik untuk dinyanyikan maupun didengar.

“Saat mendengar pertama kali lagu ini, baik saya dan Paul langsung mengiyakan. Karena memang lagunya indah banget, notasi nadanya juga enak, juga bisa menjadi sebuah statement cinta yang pas,” ujar Keisya Levronka dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/6/2025).

Nada-nada romantis dan kombinasi suara Keisya dan Paul terasa hangat menjadi salah satu senjata utamanya. Adanya unsur string section yang disajikan juga membuat lagunya terasa penuh dengan keindahan.

Kehangatan lagu “Denganmu Saja” turut dilengkapi dengan musik videonya yang apik disiapkan mengambil latar pegunungan Papandayan, Keisya dan Paul menyajikan chemistry romantis mereka secara utuh ditambah dengan keindahan latar tempat yang dipilih.

Musik video ini dikerjakan oleh You Know Who Film dengan David Christover sebagai sutradaranya.

“Kami berharap ini bisa menjadi soundtrack yang indah bagi kalian yang sedang jatuh cinta dan semoga kita semua bisa selalu dikelilingi mereka yang membuat hidup ini jadi terasa lebih indah seperti di lagu ini,” Nyoman dan Keisya berharap dengan kompak.

Single “Denganmu Saja” dapat kalian dengarkan di semua platform layanan musik digital yang ada di Indonesia. (ANT/KN)

Serangan Udara Israel Tewaskan Sedikitnya 92 Warga Palestina di Gaza

ISTANBUL – Sedikitnya 92 warga Palestina tewas dan beberapa lainnya luka-luka pada Senin, ketika pesawat tempur dan artileri Israel menyerang beberapa lokasi di Jalur Gaza, termasuk beberapa area yang menampung sejumlah keluarga yang mengungsi.

Tentara Israel telah meningkatkan serangan udara dan penembakan artileri di bagian selatan dan timur Kota Gaza, terutama di lingkungan Zeitoun, Shejaiya, dan al-Tuffah, kata para saksi.

Tentara juga melancarkan serangan udara terhadap empat sekolah yang menampung warga Palestina yang mengungsi setelah mereka mengeluarkan peringatan evakuasi — tiga di antaranya di lingkungan Zeitoun dan satu di lingkungan al-Tuffah di sebelah timur Kota Gaza, menurut sumber setempat.

Dalam serangan terbaru, sedikitnya 34 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam serangan Israel yang menargetkan pantai Kota Gaza, kata seorang sumber medis.

Pada serangan terbaru itu, sedikitnya 34 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan Israel yang menargetkan pantai Kota Gaza, kata sumber medis.

Menurut para saksi, sebuah jet tempur menembakkan sedikitnya satu rudal ke sebuah kafe dan tempat istirahat di sebelah barat Kota Gaza, sehingga menghancurkan keduanya.

Lima jenazah dibawa ke Kompleks Medis Al-Shifa menyusul serangan pesawat tak berawak yang menargetkan sekelompok warga sipil di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, kata sumber medis kepada Anadolu.

Satu warga Palestina lainnya tewas dan 23 lainnya luka-luka setelah menjadi sasaran tentara Israel saat mencari bantuan di Jalan Salah al-Din, di selatan wilayah Wadi Gaza, menurut pernyataan dari Rumah Sakit Al-Awda di Gaza tengah.

Pasukan Israel juga menewaskan satu warga Palestina dan melukai beberapa lainnya dalam penembakan yang menargetkan tenda mereka di daerah al-Mawasi sebelah barat Khan Younis di Gaza selatan, menurut sumber medis.

Potongan tubuh 10 warga Palestina dan sejumlah orang yang terluka dibawa ke Rumah Sakit Baptis Al-Ahli menyusul serangan udara Israel yang menargetkan gudang komersial di lingkungan Sabra, Kota Gaza, kata sumber medis kepada Anadolu.

Gudang komersial itu digunakan oleh organisasi amal untuk menerima dan mendistribusikan bantuan kemanusiaan kepada orang-orang di daerah kantong tersebut.

Sementara itu, jenazah seorang wanita dan beberapa orang lainnya yang luka-luka dibawa ke Rumah Sakit Baptis setelah helikopter Israel menjatuhkan bom di Jalan Al-Sikka di lingkungan Zeitoun di Kota Gaza, kata sumber medis.

Satu orang lagi warga Palestina tewas dan satu orang lainnya luka-luka dalam serangan pesawat tak berawak di dekat sebuah pom bensin di daerah yang sama, kata sumber itu.

Empat jenazah dan beberapa orang yang luka-luka juga tiba di rumah sakit menyusul serangan udara Israel yang menargetkan sekelompok warga di kota Jabalia di Gaza utara, menurut sumber tersebut.

Secara terpisah, tiga warga Palestina, termasuk seorang perempuan, tewas dalam serangan pesawat tak berawak Israel di Katiba, Khan Younis, kata sumber medis di Rumah Sakit Nasser kepada Anadolu.
Tiga belas orang lagi tewas dan 50 lainnya luka-luka akibat serangan udara Israel yang menargetkan pencari bantuan di barat daya Khan Younis, kata sumber medis lainnya.

Sumber itu juga mengatakan bahwa warga Palestina lainnya tewas dalam serangan udara Israel di Rafah di Gaza selatan. Satu lagi warga Palestina tewas dan beberapa lainnya luka-luka dalam serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di dekat Kompleks Medis Al-Sahaba di pusat Kota Gaza.

Serangan pesawat tak berawak Israel menewaskan tiga warga Palestina lainnya dan melukai beberapa lainnya di lingkungan Al-Tuffah di timur laut Kota Gaza, kata seorang sumber medis.

Sumber tersebut menambahkan bahwa sedikitnya 10 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka ketika sebuah pesawat tak berawak menghantam kerumunan di Jalan Al-Wahda di pusat Kota Gaza.

Di daerah yang sama, empat warga Palestina tewas dan beberapa lainnya luka-luka dalam serangan lain ke sebuah delman, kata petugas medis.

Meskipun masyarakat internasional menyerukan gencatan senjata, tentara Israel telah menewaskan lebih dari 56.500 warga Palestina dalam serangan mematikan di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.

Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di daerah kantong tersebut. (ANT/KN)

Sumber: Anadolu

Rencana Penutupan Selat Hormuz Bakal Picu Gangguan Pasokan Minyak Indonesia

0

JAKARTA – Rencana penutupan Selat Hormuz yang akan dilakukan oleh pemerintah Iran berpotensi mempengaruhi pasokan minyak dunia termasuk Indonesia, kata Menteri Luar Negeri Sugiono.

“Penutupan Selat Hormuz apabila dilakukan oleh pemerintah Iran akan berpengaruh terhadap pasokan minyak kita di Indonesia karena impor minyak Pertamina juga melintasi Selat Hormuz. Sekitar 20,4 persen,” kata Sugiono saat rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (30/6/2025).

Menlu menjelaskan rencana penutupan Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu 20 persen pasokan minyak dunia yang melintasi wilayah tersebut.

Menurut Sugiono, pemerintah Indonesia terus mengamati konflik di kawasan Timur Tengah. “Kita juga terus mencermati gencatan senjata dan perdamaian yang saat ini sedang berlangsung di kawasan,” katanya.

Lebih lanjut, Sugiono berharap gencatan senjata dan perdamaian tersebut dapat berlangsung lebih lama.

Parlemen Iran sebelumnya menyetujui rancangan undang-undang (RUU) untuk menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas angkatan laut, menyusul serangan udara Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran, menurut pernyataan seorang anggota parlemen senior pada Minggu (23/6).

Selat Hormuz adalah selat yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab dan terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia. Selat ini merupakan satu-satunya jalur untuk mengirim minyak keluar Teluk Persia. (ANT/KN)

Tom Lembong Sebut Hanya Lanjutkan Kebijakan Gula Era Rachmat Gobel

0

JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag) periode 2015—2016 Thomas Trikasih Lembong (Tom Lembong) menyebutkan bahwa dirinya hanya melanjutkan kebijakan importasi gula yang sudah ada sejak Mendag periode 2014-2015 Rachmat Gobel menjabat.

Ia mengatakan Gobel telah memberikan penugasan kegiatan importasi kepada PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sejak menjabat sebagai mendag.

“Saya menindaklanjuti dan dengan persetujuan dari Menteri BUMN, saya memperpanjang penugasan yang diberikan kepada PT PPI dalam rangka upaya pemerintah untuk menstabilkan harga dan untuk stok gula nasional,” ujar Tom Lembong saat diperiksa sebagai saksi mahkota dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (30/6/2025).

Selain memberikan penugasan kepada PT PPI, dirinya turut menindaklanjuti hasil diskusi rapat koordinasi (rakor) di tingkat kementerian, yang mengusulkan agar BUMN yang ditugaskan untuk menekan harga dan menstabilkan stok gula nasional, yakni PT PPI.

Saat itu, Tom Lembong menyebutkan Gobel juga telah menugaskan peminjaman 100 ribu ton stok gula terlebih dahulu dari PT Angels Product untuk digelontorkan ke pasar pada musim kemarau, yang bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri pada 2015, yang juga diteruskan oleh dirinya.

Dia membeberkan bahwa arahan penekanan harga gula nasional berasal dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi kala itu lantaran harga bahan pokok, termasuk gula, sedang melonjak pada tahun 2015.

Arahan tersebut, kata dia, disampaikan Jokowi dalam sidang kabinet, secara langsung kepada dirinya, maupun melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian kala itu.

“Gula tentunya salah satu dari bahan pokok pangan yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan di kurun waktu 2015,” tuturnya.

Tom Lembong diperiksa sebagai saksi mahkota alias saksi sekaligus terdakwa terkait kasus dugaan korupsi importasi gula di Kementerian Perdagangan pada tahun 2015–2016, yang menyeret mantan Direktur Pengembangan Bisnis PT PPI Charles Sitorus sebagai terdakwa.

Dalam kasus itu, Charles didakwa turut serta memperkaya pihak lain senilai Rp295,15 miliar, yang merupakan bagian dari total kerugian negara sebesar Rp578,1 miliar.

Charles diduga tidak melaksanakan penugasan pembentukan stok gula nasional dan pembentukan harga gula nasional sesuai dengan harga patokan petani (HPP) dan tidak melakukan kerja sama dengan dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen gula sebagaimana dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) PT PPI tahun 2016.

Akan tetapi, Charles telah melakukan kesepakatan pengaturan harga jual gula kristal putih dari produsen gula rafinasi kepada PT PPI, termasuk pengaturan harga jual gula dan produsen kepada PT PPI dan pengaturan harga jual dari PT PPI kepada distributor di atas HPP bersama-sama dengan delapan perusahaan.

Kedelapan perusahaan dimaksud, yakni dengan Direktur Utama PT Angels Products Tony Wijaya, Direktur PT Makassar Tene Then Surianto Eka Prasetyo, Direktur Utama PT Sentra Usahatama Jaya Hansen Setiawan, serta Direktur Utama PT Medan Sugar Industry Indra Suryadiningrat.

Kemudian, bersama-sama dengan Direktur Utama PT Permata Dunia Sukses Utama Eka Sapanca, Presiden Direktur PT Andalan Furnindo Wisnu Hendraningrat, Direktur PT Duta Sugar International Hendrogiarto Tiwow, serta Direktur Utama PT Berkah Manis Makmur Hans Falita Hutama.

Atas perbuatannya, Charles terancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (ANT/KN)

Wisma Danantara Diresmikan, Prabowo: Rumah Besar Investasi Indonesia

0

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto meresmikan Wisma Danantara Indonesia di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (30/6/2025), menjadikan gedung tersebut sebagai “rumah besar” pengelolaan investasi negara.

Sebagaimana keterangan yang diterima, Senin, peresmian tersebut digelar secara sederhana, menandai babak baru kiprah Danantara Indonesia sebagai Lembaga Pengelola Investasi Negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025.

Presiden Prabowo tiba di lokasi peresmian dan disambut langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming serta Kepala BPI Danantara Indonesia Rosan Roeslani.

Acara dilanjutkan dengan laporan singkat dari Kepala BPI Danantara, doa bersama yang dipimpin oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta pemotongan tumpeng oleh Presiden Prabowo yang kemudian diserahkan kepada Kepala BPI Danantara sebagai bentuk syukur.

Dalam laporannya, Rosan Roeslani menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas arahan langsung Presiden Prabowo untuk mendirikan kantor pusat lembaga tersebut di Wisma Danantara.

Dia menegaskan bahwa Danantara Indonesia saat ini mengelola aset lebih dari 1 miliar dolar AS dan menaungi 889 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis.

“Yang terjadi adalah tanggung jawab yang sangat besar, yang kami berkomitmen penuh, Bapak Presiden, Bapak Wakil Presiden, untuk menjaga amanah ini sebaik-baiknya,” ujar Rosan.

Menurut Rosan, Wisma Danantara akan menjadi “rumah besar” bagi negara, dunia usaha, kalangan akademisi, dan pemangku kepentingan untuk berkolaborasi menuju Indonesia Emas 2045.

“Dan dengan adanya keberadaan danantara ini, Insyaallah kita bisa mengakselerasi pembangunan ekonomi Indonesia, mencanangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen sesuai dengan arahan Bapak Presiden,” ungkap Rosan.

Rosan juga menegaskan komitmen lembaganya untuk menjaga amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945, dalam pengelolaan sumber daya alam demi kemakmuran rakyat.

Sejak diluncurkan oleh Presiden Prabowo pada 24 Februari 2025, Danantara Indonesia telah menunjukkan capaian signifikan, dengan kerja sama investasi internasional senilai 7 miliar dolar AS yang berasal dari Qatar, Rusia, China, dan Australia.

Bahkan, pada Juli mendatang, lembaga ini diproyeksikan mendapatkan tambahan pendanaan baru sebesar 10 miliar dolar AS dari perbankan luar negeri.

“Kepercayaan itu sangat-sangat luar biasa dari luar negeri dan kita pun masih menjajaki beberapa kerja sama lain dan juga pendanaan lain,” ucap Rosan.

Turut hadir dalam peresmian tersebut adalah Wakil Presiden Gibran Rakabuming, para Menteri Kabinet Merah Putih, para kepala badan, dan jajaran manajemen Danantara Indonesia. (ANT/KN)

Claudia Scheunemann Ingin Timnas Putri Lebih Tenang Hadapi Pakistan

0

JAKARTA – Striker timnas putri Indonesia Claudia Scheunemann menegaskan tak ingin fokus pada jumlah gol yang akan dicetak timnya melawan Pakistan, setelah negara Asia Selatan itu menelan kekalahan telak 0-8 dari Taiwan pada laga pembuka Grup D kualifikasi Piala Asia Putri 2026 di Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Minggu (29/6/2025).

Menurut Claudia, yang terpenting bukan berapa banyak gol, melainkan bagaimana bermain lebih bagus dan lebih kompak. Ia percaya jika timnya bermain lebih solid, maka gol akan datang dengan sendirinya.

“Jangan lihat dari skor aja ya, yang penting kita mainnya sebagai tim, mainnya kompak, mau menang berapa kosong itu nanti urusan besok,” kata Claudia kepada wartawan setelah pertandingan melawan Kirgistan yang diakhiri dengan kemenangan 1-0 di Indomilk Arena, Minggu.
Claudia, yang tampil penuh melawan Kirgistan, memuji penampilan timnya yang menurutnya dalam hal kerja sama tim, sudah baik. Namun, yang ia catat, Garuda Pertiwi masih kerap bermain terburu-buru, sehingga serangan yang dibangun menemui jalan buntu.

“Kita sebagai tim yang mainnya kerjasamanya udah bagus ya, paling lebih tenang aja main kayak umpan satu duanya,” kata pemain berusia 16 tahun itu.

“Jangan buru-buru mau main ke depan aja pokoknya. Tapi menurut saya, di game berikutnya kita akan kasih 100 persen lagi dan semoga bisa dapet tiga poin lagi,” tambah dia.

Gol tunggal kemenangan Indonesia tercipta melalui tendangan keras Isa Warps pada menit ke-66. Kemenangan ini membawa Garuda Pertiwi menempati posisi kedua klasemen Grup D dengan tiga poin, hanya kalah selisih gol dari Taiwan yang memuncaki klasemen.

Pada laga kedua, tim asuhan Satoru Mochizuki ini akan menghadapi Pakistan di Indomilk Arena pada Rabu (2/7) pukul 20.00 WIB. (ANT/KN)

Pesan Edi Damansyah untuk Aul-Rendi: Politik di Kukar Kadang Tragis, Jangan Terlalu Bersikut-sikut

TENGGARONG – Di pagi yang syahdu, ketika cahaya mentari baru menyentuh kubah Masjid Agung Sultan Aji Muhammad Sulaiman, sejarah baru ditulis di tanah Kutai Kartanegara (Kukar), pada Senin (30/6/2025).

Ribuan pasang mata menjadi saksi saat Edi Damansyah, bupati Kukar periode 2019-2026 menyerahkan memori jabatan kepada pasangan pemimpin baru, dr Aulia Rahman Basri dan Rendi Solihin sebagai Bupti dan Wakil Bupati Kukar periode 2024-2029.

Dalam momentum ini, yang diserahkan Edi Damansyah bukan hanya dokumen dan tanggung jawab, melainkan juga sebuah pesan mendalam tentang kerasnya realitas politik Kukar. Di hadapan masyarakat dan jajaran pemerintahan, ia menyampaikan pesan penuh makna kepada penerusnya.

“Saya ingatkan bahwa pemain, aktor-aktor politik di Kukar orangnya itu-itu saja. Saya juga selalu mengingatkan bahwa kontestasi terkait dengan agenda demokrasi sudah selesai di Kukar,” tegas Edi Damansyah.

Ia melanjutkan dengan peringatan yang disampaikan dengan nada bergetar, sebuah ungkapan dari pengalaman pribadi yang tak selalu mudah selama memimpin.

“Tapi ingat, politik di Kukar kadang-kadang tragis dan kejam. Kita bekerja baik saja, dilaporkan ke sana ke mari, apalagi kalau tidak bekerja dengan baik,” pesan Edi Damansyah dengan nada bergetar.

Ia mengingatkan Aulia-Rendi agar tetap waspada, tidak terbuai euforia kemenangan, dan fokus menjaga integritas dalam menjalankan roda pemerintahan.

“Jangan terlalu bersikut-sikut lima tahun ke depan. Ingat, kita semua pasti mati. Pada akhirnya, bukan hanya rakyat yang akan menilai, tapi Tuhan juga akan meminta pertanggungjawaban,” ucapnya lirih.

Pesan ini tentu bukan tanpa alasan. Pilkada Kukar 2024 hingga Pemungutan Suara Ulang (PSU) 2025 mencatat sejarah politik yang tak biasa. Dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Pilkada Kukar pada 27 November 2024 dinyatakan harus diulang, serta mengeliminasi Edi Damansyah yang saat itu mencalonkan diri kembali.

Putusan tersebut menjadi titik balik. Nama Edi digantikan oleh Aulia Rahman Basri untuk mendampingi Rendi Solihin di PSU 19 April 2025. Meski pada akhirnya, dalam proses demokrasi yang panjang, masyarakat memberikan mandat kepada pasangan Aul-Rendi.

Di tengah arus politik yang deras, Edi Damansyah memilih untuk tidak menjauh, melainkan tetap menjadi bagian dari denyut kehidupan Kukar. Ia menyampaikan bahwa pengabdian sejati tidak mengenal masa jabatan.

“Kedinasan memang ada masanya. Tapi tugas sosial dan kemasyarakatan itu tak pernah berakhir. Kami tidak ke mana-mana, kami tetap di mana-mana. Di desa-desa, di kelurahan, di kecamatan-kecamatan Kukar,” ujarnya.

Baginya, keberadaan pemimpin bukan sekadar jabatan struktural, tapi peran aktif di tengah masyarakat. Ia menitipkan harapan besar agar tradisi silaturahmi, etika politik, dan kerja nyata tetap menjadi fondasi utama pemerintahan Kukar ke depan.

“Mari kita bangun Kukar dengan politik yang bermartabat, etis, dan beradab. Jangan biarkan dendam politik mengalahkan niat baik untuk rakyat,” pesannya mengakhiri sambutan.

Penulis: Ady Wahyudi
Editor: Muhammad Rafi’i