INDONESIA adalah anugerah besar dengan keragaman yang sulit dicari tandingannya di dunia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, terbentang lebih dari 1.340 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, serta berbagai agama dan kepercayaan yang hidup berdampingan. Semua itu membentuk mozaik indah bernama Indonesia.
Namun, mozaik tersebut tidak otomatis terjalin rapi. Keragaman bisa menjadi perekat bangsa, tetapi juga berpotensi melahirkan konflik bila komunikasi sosial gagal dikelola. Karena itu, harmoni sosial harus dirawat dengan kesadaran kolektif, dibangun lewat dialog, serta dijaga melalui sikap saling menghormati.
Di sinilah pentingnya komunikasi kebangsaan—komunikasi yang membuka ruang perjumpaan, merangkul keberagaman, dan menegaskan kembali bahwa meski berbeda-beda, bangsa Indonesia tetap satu dalam ikatan kebhinekaan.
Relevansi Komunikasi Kebangsaan
Era globalisasi membawa kemajuan besar, seperti demokratisasi, kebebasan berekspresi, hingga kemudahan akses digital. Namun, di sisi lain juga muncul tantangan: polarisasi politik, memudarnya gotong royong, konflik horizontal, serta maraknya ujaran kebencian di media sosial.
Di tengah kondisi ini, komunikasi kebangsaan menjadi instrumen strategis untuk menjaga harmoni dan memperkuat persatuan. Alumni Lemhannas melalui IKAL didorong untuk hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai aktor yang ikut mengatasi polarisasi dan melemahnya kohesi sosial.

Nilai-Nilai dalam Komunikasi Kebangsaan
Komunikasi kebangsaan berakar pada nilai-nilai luhur bangsa: religiusitas, kekeluargaan, keselarasan, kerakyatan, keadilan, demokrasi, kesetaraan, ketaatan hukum, persatuan, kemandirian, toleransi, keharmonisan, hingga gotong royong.
Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam praktik nyata:
- Toleransi, dengan menghargai perbedaan dan memberi ruang aman bagi semua.
- Gotong royong, sebagai DNA bangsa yang mampu mengatasi masalah kolektif.
- Keharmonisan, dengan menjaga relasi sosial melalui musyawarah dan empati.
- Literasi digital, untuk mencegah hoaks dan polarisasi di media sosial.
Tantangan dan Ancaman
Beberapa ancaman yang nyata dihadapi bangsa saat ini antara lain:
- Polarisasi politik yang memecah belah masyarakat.
- Individualisme akibat urbanisasi yang melemahkan solidaritas sosial.
- Kesenjangan sosial-ekonomi yang memicu rasa ketidakadilan.
- Arus digitalisasi yang rawan disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks.
Peran Pentahelix
Untuk menjawab tantangan tersebut, kolaborasi dari berbagai unsur bangsa sangat penting:
- Pemerintah, memperkuat pendidikan kebangsaan dan literasi digital.
- Masyarakat, melestarikan gotong royong dengan format modern.
- Akademisi, membangun riset dan ruang diskursus kebangsaan.
- Media, menjaga akal sehat publik dengan narasi konstruktif.
- Alumni Lemhannas dan FPK, menjadi motor gerakan kebangsaan di daerah.
Simpulan dan Rekomendasi
Komunikasi kebangsaan yang berlandaskan semangat Bhinneka Tunggal Ika adalah jalan untuk merawat harmoni negeri. Toleransi, gotong royong, dan keharmonisan menjadi fondasi utama menghadapi tantangan globalisasi, polarisasi, dan disrupsi digital.
Rekomendasi utama dari Kelompok Bhinneka Tunggal Ika antara lain:
- Narasi komunikasi kebangsaan perlu diviralkan di berbagai platform digital.
- Masyarakat harus menghidupkan kembali gotong royong sesuai tuntutan zaman.
- Media wajib memberi ruang bagi narasi positif dan konstruktif.
- Alumni Lemhannas harus meneguhkan diri sebagai penggerak dialog, kepemimpinan, dan aksi sosial nyata.
Ditulis oleh Kelompok Bhinneka Tunggal Ika – Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia
Ketua: Dr. Eki Baihaki, M.Si.
Sekretaris: Dr. Tina Amelia, S.H., M.H., M.M.
Anggota:
- H. Asep Mulyadi, S.H.
- Agam Ramdan Prasetya, A.Md.Par.
- Dr. H. Aprizal Y, S.Kom, M.Si.
- Dr. Arie Ramaliansyah, S.H., M.H.
- Attu Fattchurochman, S.H., M.Hum.
- Ayi Jaja Jamaludin, M.Pd.
- Dr. Azis Zulficar Aly Yusca, S.STP., M.Si.
- Bayu Setyowati, S.Sos., CPSp.
- Berty Alfrets Ponto
- Dicky Aprilianto, S.Ak.
- Dudy Himawan, S.H.
- Erick Darmajaya, B.Sc., M.K.P.
- Fasha Maulana, S.Tr.P.
- Felix Wangsaatmaja, S.H.
- Jayanto Arus Adi
- Mochamad Boogie Gustara Manggala, S.H.
- Esau Obet Surabut, S.E.
- Nadia Warianti, S.Pd.
- Prastiwanto, S.E., M.I.Pol.
- Sisti Reita
- Slamet Winarto
- Tegar Akhirul Kholiq, S.Tr.IP.
- Wisnu Murti Wibowo, S.H.



