Beranda blog Halaman 260

Kukar Dorong Lahirnya Wasit Sepak Bola Profesional Lewat Pelatihan Lisensi Nasional

TENGGARONG – Langkah pembinaan olahraga di Kutai Kartanegara (Kukar) kembali mendapat sorotan positif. Melalui kolaborasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Kukar dengan melaksanakan pelatihan lisensi wasit C3 Nasional, yang diikuti 40 peserta dari berbagai kecamatan.

Pelatihan ini bukan sekadar agenda teknis, melainkan strategi membangun fondasi sumber daya manusia unggul di bidang perwasitan. Kukar menempatkan pelatih dan wasit sebagai elemen penting dalam ekosistem sepak bola yang sehat dan profesional.

Menariknya, pelatihan kali ini diwarnai kehadiran wasit-wasit perempuan dari kecamatan Kembang Janggut, Kota Bangun, dan Kenohan. Fenomena ini menjadi penanda perubahan paradigma dalam dunia olahraga yang kini semakin inklusif.

Asisten II Setkab Kukar, Ahyani Fadianur Diani, menilai keikutsertaan perempuan di dunia perwasitan sebagai kemajuan signifikan. Ia menekankan bahwa sepak bola bukan hanya milik kaum laki-laki, melainkan ruang bagi siapa pun yang berkompeten dan berkomitmen.

“Ini kemajuan yang membanggakan. Dunia perwasitan tidak membatasi gender, dan kehadiran wasit perempuan menjadi bukti bahwa olahraga sepak bola bisa digeluti siapa saja,” ujar Ahyani, Senin (27/10/2025).

Ia berharap pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan kali ini saja, melainkan dapat berkelanjutan agar melahirkan lebih banyak wasit muda di Kukar. “Kita ingin kegiatan seperti ini terus berjalan dan menjadi program pembinaan berkelanjutan,” tambahnya.

Ia juga berpesan, agar para peserta kegiatan ini dapat menjadi wasit yang andal dan berintegritas dimasa yang akan datang. Mengingat peran pengadil lapangan sangat fital dalam menentukan hadil dan jalannya pertandingan.

“Mental yang baik akan memengaruhi kualitas pertandingan. Karena itu, wasit harus mampu menjaga integritas, disiplin, dan menjunjung tinggi nilai sportivitas dalam setiap pertandingan yang dipimpinnya,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Seri Agus, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas SDM olahraga yang difasilitasi oleh Dispora Kukar.

“Tahun ini disiapkan 40 peserta dari 20 kecamatan. Hanya dua kecamatan yang tidak mengirimkan perwakilannya, yakni Muara Badak dan Kenohan,” terang Seri Agus.

Kegiatan ini menghadirkan dua instruktur nasional berlisensi dari PSSI Pusat, yaitu Nurdin dari Kota Bontang dan Budi Handayani dari Jakarta. Mereka memberikan materi teori dan praktik seputar regulasi FIFA, simulasi pertandingan, serta kebugaran fisik wasit.

“Target kami adalah mencetak generasi wasit berlisensi nasional yang profesional dan berintegritas. Nantinya mereka bisa memimpin pertandingan resmi hingga ke tingkat nasional maupun turnamen lokal di desa dan kecamatan,” jelas Seri Agus.

Ia berharap seluruh peserta dapat lulus 100 persen dan menjadi bagian dari upaya Kukar membangun ekosistem sepak bola yang berkualitas melalui SDM perwasitan yang kompeten.

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i

KPK: Penindakan Tambang Ilegal di Harus Dikerjakan Bersama

0

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merespons pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, dan menyatakan bahwa penindakan tambang ilegal di dekat Mandalika, Nusa Tenggara Barat, tidak bisa dilakukan lembaga antirasuah secara sendirian.

“Tentu langkah tindak lanjut ini juga tidak bisa dilakukan sendiri oleh KPK karena ini banyak stakeholder (pemangku kepentingan, red.) terkait lainnya,” ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (26/10/2025).

Oleh sebab itu, Budi mengatakan KPK memandang penindakan tambang ilegal tersebut menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama.

Selain itu, dia mengatakan bahwa mulanya temuan tambang ilegal di dekat Mandalika tersebut berkaitan dengan tugas dan fungsi KPK untuk koordinasi dan supervisi, bukan penindakan.

“Artinya, ini menjadi concern (perhatian, red.) bersama untuk bagaimana kita mengidentifikasi permasalahan yang masih muncul di sektor pertambangan ini, yang kemudian PR ini kita garap dan kerjakan bersama-sama supaya tata kelola pertambangan bisa terus kita perbaiki, sehingga dalam proses-proses dari hulu sampai ke hilir ini betul-betul melaksanakan proses-proses bisnis yang berintegritas,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Satuan Tugas Koordinasi dan Supervisi KPK Wilayah V Dian Patria di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (21/10), mengungkapkan temuan tambang ilegal di dekat Mandalika, NTB.

Dian mengatakan KPK mendorong pemerintah yang mempunyai kewenangan terkait untuk menindak tambang ilegal tersebut.

“Kalau dia tidak tegakkan, ya kami tegakkan. Bisa jadi dia bagian dari masalah. Sengaja. Itu yang selama ini banyak terjadi,” katanya.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil pada Jumat (24/10), menyerahkan temuan tambang ilegal di dekat Mandalika untuk diproses hukum oleh aparat penegak hukum.

“Kementerian ESDM itu mengelola tambang yang ada izinnya. Kalau enggak ada izinnya, maka proses hukum saja,” kata Bahlil. (ANT/KN)

Presiden Prabowo Ajak ASEAN Tetap Berani dan Visioner Hadapi Ketidakpastian Global

KUALA LUMPUR – Presiden RI Prabowo Subianto mengajak negara-negara anggota ASEAN untuk tetap berani, adaptif dan visioner dalam menghadapi ketidakpastian global, yang disampaikannya pada sesi pleno KTT Ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/10/2025).

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa persatuan ASEAN merupakan kekuatan utama dalam menghadapi ketegangan global yang semakin meningkat.

“Menghadapi ketidakpastian global, mari kita memimpin dengan tujuan. Bukan hanya untuk kawasan kita, tetapi untuk dunia yang lebih stabil, adil, dan inklusif,” kata Presiden Prabowo dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (26/10/2025).

Menurut Presiden, di tengah ketegangan geopolitik dan perubahan global yang cepat, ASEAN harus terus memperkuat koordinasi ekonomi, integrasi regional, dan transformasi digital untuk menghadapi guncangan eksternal dan ketidakpastian masa depan.

Persatuan ASEAN, kata Prabowo, juga harus tercermin dalam koordinasi, integrasi, dan transformasi ekonomi yang lebih kuat untuk menghadapi guncangan eksternal dan ketidakpastian di masa depan.
Pada sesi pleno tersebut, Presiden Prabowo duduk berdampingan dengan Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone di sisi kiri dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet di sisi kanan.

Di hadapan para pemimpin ASEAN, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada tuan rumah, Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Anwar Ibrahim, atas penyelenggaraan KTT yang dinilainya sangat baik.

Kepala Negara juga menyambut Timor-Leste sebagai anggota ke-11 ASEAN, menyampaikan selamat kepada Perdana Menteri Thailand yang baru, Anutin Charnvirakul, serta menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Sri Ratu Sirikit, Ibunda dari Raja Maha Vajiralongkorn.

“Saya juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya dari rakyat Indonesia atas wafatnya Sri Ratu Sirikit, Ibu Suri Kerajaan Thailand,” ujar Presiden Prabowo.

Dalam pidatonya, Kepala Negara memuji kepemimpinan tegas Perdana Menteri Anwar Ibrahim dalam menyelesaikan sengketa yang baru-baru ini terjadi, serta menegaskan kesiapan Indonesia untuk mendukung langkah-langkah lanjutan dari perjanjian gencatan senjata yang dicapai.

Prabowo juga menekankan bahwa bagi negara anggota ASEAN, persatuan bukan sekadar slogan. Persatuan adalah strategi yang direncanakan untuk menjaga perdamaian dan keamanan regional, kata Prabowo.

Presiden Prabowo juga memberikan apresiasi kepada para Menteri Luar Negeri dan Menteri Ekonomi ASEAN yang telah menunjukkan solidaritas dan kerja sama erat dalam menghadapi tantangan geoekonomi saat ini.

Presiden Prabowo menekankan pentingnya inisiatif baru di bidang perdagangan barang, pembaruan ASEAN-China Free Trade Agreement (FTA), serta kerangka ekonomi digital kawasan.

“Kita akan terus menegaskan peran ASEAN sebagai penggerak pertumbuhan dan pusat inovasi dan peluang,” ucap Presiden.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa kekuatan ASEAN di kancah global harus berakar pada pondasi yang kuat di dalam negeri.

Dengan pondasi tersebut, kata Presiden, ASEAN dapat memainkan peran yang kredibel dan konstruktif dalam membentuk tatanan dunia yang adil dan inklusif.

“Pondasi yang kuat di rumahlah yang memampukan kita membangun jembatan ke dunia. Pondasi ini memberi kita kredibilitas untuk terlibat dan membantu membentuk masa depan di luar batas-batas kita,” tutur Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo juga mengingatkan bahwa perjalanan ASEAN dari masa konflik menuju kerja sama merupakan bukti nyata kekuatan solidaritas kawasan.

Kepala Negara menegaskan pentingnya menjadikan peringatan 50 tahun Treaty of Amity and Cooperation (TAC) dan 15 tahun East Asia Summit Bali Principles pada tahun depan bukan hanya seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan. (ANT/KN)

Mahfud MD: Secara Yuridis, Soeharto Penuhi Syarat Jadi Pahlawan Nasional

0

YOGYAKARTA – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Prof Mahfud MD menilai Presiden Ke-2 Republik Indonesia Soeharto secara yuridis memenuhi syarat untuk diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Kalau secara yuridis formal kan memenuhi syarat,” kata Mahfud MD di Kompleks Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-alun Selatan, Kota Yogyakarta, Minggu (26/10/2025).

Menurut Mahfud, secara prinsip, semua mantan presiden semestinya tidak perlu lagi melalui proses penelitian ulang untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
Dia berpendapat bahwa posisi sebagai presiden sudah menjadi bukti bahwa tokoh tersebut memenuhi kriteria kepahlawanan dari sisi hukum.

“Saya pernah usul dulu, semua mantan presiden enggak usah lagi pakai persyaratan untuk diteliti ulang dan sebagainya. Sudah jadi presiden itu kan sudah pasti memenuhi syarat ya, untuk jadi pahlawan. Tapi silakan saja kan masyarakat juga yang nanti menilai,” ujar pakar hukum tata negara itu.

Mahfud menegaskan bahwa penilaian terhadap aspek sosial dan politik dalam pengusulan gelar Pahlawan Nasional tetap menjadi ranah masyarakat untuk menilai dan tim kajian pemerintah.

“Kalau aturan-aturannya memang memenuhi syarat, tapi politisnya bagaimana, ya sosiopolitisnya kan masyarakat yang menilai,” kata dia.

Berdasarkan pengalamannya, Mahfud menyebut proses seleksi pengusulan gelar pahlawan nasional dilakukan oleh tim khusus di Kementerian Sosial dan dikoordinasikan bersama Menkopolhukam.

“Nanti diseleksi dalam sebuah tim khusus yang dipimpin oleh Menkopolkam kalau sekarang. Dulu begitu (saat) saya jadi Menkopolhukam lima tahun, nunggu dari Kementerian Sosial dan departemen lain siapa yang mau diusulkan,” ucapnya.

Sebelumnya, sebanyak 40 tokoh diusulkan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional oleh Kementerian Sosial. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyerahkan daftar usulan tersebut kepada Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, Fadli Zon.

Dalam daftar itu, terdapat sejumlah nama besar yang mencuri perhatian publik, di antaranya Soeharto, Presiden Ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), serta aktivis buruh asal Nganjuk, Marsinah.

Selain mereka, muncul pula nama tokoh agama dan daerah seperti Syaikhona Muhammad Kholil dari Madura, Bisri Syansuri, Muhammad Yusuf Hasyim, serta dua jenderal purnawirawan M. Jusuf dari Sulawesi Selatan dan Ali Sadikin dari Jakarta.

Usulan ini berasal dari masyarakat melalui tim kajian daerah (TP2GD), lalu disaring dan dikaji oleh tim pusat (TP2GP) di Kementerian Sosial.

Setelah melalui proses panjang yang melibatkan kajian ilmiah dan seminar, nama-nama tersebut diajukan kepada Dewan Gelar untuk dinilai lebih lanjut. (ANT/KN)

Atap Lapangan Padel dan Tenis di Meruya Ambruk Diterjang Angin

0

JAKARTA – Atap lapangan padel dan tenis di Taman Villa Meruya, Kembangan, Jakarta Barat, Minggu, ambruk akibat diterjang angin kencang dan hujan deras.

“Awal mula kejadian ketika hujan deras disertai angin kencang menerjang atap lapangan, sehingga atap itu pun terhempas,” kata Wali Kota Jakarta Barat Uus Kuswanto melalui pesan singkat di Jakarta, Minggu (26/10/2025).

Atap yang menaungi enam bidang lapangan pun rusak dan ambruk. Beruntung, pemain yang tengah berada di lapangan segera mengevakuasi diri, sehingga tidak ada korban jiwa atau pun luka.

“Nihil korban jiwa atau luka. Kerusakan atap enam lapangan. Atas kejadian itu, karyawan memanggil pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti,” kata Uus.

Seorang penonton pertandingan bernama Aliyah (48), warga Cinere menceritakan detik-detik saat peristiwa itu terjadi.

“Kebetulan hujan. Kita kirain aman aja, biasa. Tapi air udah sedikit-sedikit masuk gitu,” katanya.

Tak lama kemudian, hujan semakin deras disertai angin kencang, sehingga atap lapangan pun tiba-tiba runtuh.

“Anginnya kenceng banget. Angin sama air. Karena kan angin sama hujan, tempias gitu kan,” tutur Aliyah.

Sebelum atap ambruk, Aliyah dan sejumlah orang yang tengah di lapangan pun telah menyelamatkan diri.

“Kita langsung lari semuanya. Amanin diri sendiri, sama barang-barang. Alhamdulillah, aman-aman. Kita semua tim aman,” kata Aliyah lega.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 14.30 WIB. Meski tak menimbulkan korban, Aliyah mengaku trauma atas insiden tersebut.

“Trauma sekali. Waduh, maksudnya, enggak berkelanjutan lah,” ucapnya. (ANT/KN)

Mendagri dan Menkeu Tegaskan Dana Daerah Jangan Mengendap di Bank

0

JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan dirinya dan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa satu suara terkait dana daerah yang tidak boleh mengendap di bank dan harus segera digunakan untuk kepentingan masyarakat.

“Tujuan kita sama, dana daerah jangan mengendap di bank, tapi segera dibelanjakan untuk masyarakat,” kata Tito dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (25/10/2025).

Kemudian saat ditanya soal perbedaan data simpanan pemda antara Kemendagri dan Kemenkeu. Menurut Tito, tidak ada perbedaan prinsip antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), melainkan hanya perbedaan teknis dalam metode pelaporan.

Tito menjelaskan, selisih sekitar Rp18 triliun antara data yang dirilis Kemenkeu dan Kemendagri bersifat wajar.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD) per Oktober 2025, dana simpanan Pemda tercatat Rp215 triliun. Sementara data Bank Indonesia (BI) yang dikutip Menkeu menunjukkan angka Rp233 triliun per Agustus 2025.

Menurut Tito, selisih dua bulan waktu pelaporan itulah yang menjelaskan perbedaan angka.

“Sangat wajar jika berkurang. Kalau Agustus Rp233 triliun, lalu Oktober Rp215 triliun, artinya Rp18 triliun itu sudah dibelanjakan,” ujarnya.

Tito juga menegaskan bahwa semangat antara Kemenkeu dan Kemendagri tetap sejalan, yakni sama-sama ingin mempercepat penyerapan anggaran dan memastikan dana daerah memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Hukum Pemerintahan Daerah Universitas Atma Jaya Yogyakarta Hestu Cipto Handoyo juga menyatakan dirinya sepakat dengan kedua menteri tersebut soal penggunaan dana daerah.

Menurutnya, baik Mendagri maupun Menkeu memiliki semangat yang sama, yaitu memastikan dana daerah tidak menumpuk di perbankan.

“Baik Kemenkeu maupun Kemendagri berupaya memperkuat disiplin fiskal daerah. Perbedaan data jangan diartikan perbedaan arah, karena tujuannya tetap sama: memastikan uang daerah bekerja untuk rakyat, bukan mengendap di rekening,” kata Hestu dalam keterangannya, Sabtu (25/10/2025).

Hestu menilai perbedaan angka Rp18 triliun tidak menunjukkan konflik atau penyimpangan, melainkan disebabkan oleh perbedaan teknis dan metodologis dalam pelaporan data.

Menurutnya, data BI yang digunakan Menkeu menggambarkan posisi simpanan Pemda di bank pada waktu tertentu, umumnya di akhir bulan.

Sementara data yang digunakan Mendagri melalui SIPD bersumber dari laporan administratif Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD), yang bersifat dinamis dan harian, sebagaimana diatur dalam Permendagri Nomor 70 Tahun 2019.

“SIPD merekam kondisi kas daerah yang terus bergerak, sementara data BI bersifat posisi tetap (cut-off), jadi wajar jika angkanya berbeda,” tutur Hestu.

Hestu menjabarkan, ada tiga faktor utama yang menyebabkan selisih data, pertama perbedaan waktu pelaporan (cut-off date) antara BI dan SIPD.

Kedua, perbedaan definisi akun, di mana rekening tertentu yang masih atas nama Pemda bisa jadi bukan kas daerah operasional.

Ketiga, kesalahan input atau keterlambatan pelaporan di daerah karena keterbatasan SDM dan sistem.

Menurut Hestu, semua faktor tersebut bisa diklarifikasi melalui proses rekonsiliasi administratif, tanpa harus diasumsikan sebagai pelanggaran.

“Rekonsiliasi data antara ketiga lembaga ini sangat penting untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas keuangan negara,” tegas Hestu.

Ia menyarankan agar hasil rekonsiliasi nantinya diumumkan bersama oleh BI, Kemenkeu, dan Kemendagri, sehingga publik mendapatkan data yang sudah tervalidasi dan tidak menimbulkan tafsir berbeda. (ANT/KN)

Gempa Magnitudo 6,3 Guncang Barat Laut Timor Tengah Utara

0

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi dengan magnitudo 6,3 mengguncang wilayah barat laut Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Senin, pukul 00.04.28 WIB.

Berdasarkan laman resmi BMKG yang dipantau di Jakarta,, titik gempa berada di laut pada koordinat 9,06 derajat Lintang Selatan dan 123,97 derajat Bujur Timur, sekitar 82 kilometer barat laut Timor Tengah Utara, dengan kedalaman 75 kilometer.

Guncangan gempa dirasakan pada skala intensitas III–IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di sejumlah wilayah, meliputi Maumere, Ende, Kefamenanu, Kupang, Waingapu, dan Lembata.

Skala Mercalli merupakan salah satu satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi, terutama jika tidak terdapat peralatan sesimometer di tempat kejadian, seperti dikutip dari laman BMKG.

Pada skala III MMI, getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Sedangkan pada skala IV MMI, getaran pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk waspada atas kemungkinan gempa susulan. (ANT/KN)

Ketua DPRD Berau Minta Pengawasan Ketat Program Makanan Bergizi Gratis di Sekolah

0

BERAU – Ketua DPRD Kabupaten Berau, Dedy Okto Nooryanto, menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap makanan yang disajikan kepada siswa, khususnya yang berasal dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengingatkan agar seluruh pihak terkait, terutama Dinas Kesehatan, aktif melakukan pemeriksaan rutin guna memastikan keamanan dan kualitas pangan di setiap sekolah.

Menurut Dedy, langkah tersebut penting dilakukan sebagai bentuk pencegahan dini agar tidak terjadi kasus keracunan makanan seperti yang sempat menimpa peserta didik di sejumlah daerah lain di Indonesia.

“Kami tidak ingin ada kejadian serupa seperti di daerah lain menimpa anak-anak di Berau,” tegasnya.

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto

Ia menekankan, setiap tahapan dalam penyediaan makanan sekolah harus memenuhi standar higienitas tinggi — mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga penyajian kepada siswa. Semua proses, kata dia, wajib dipastikan berada dalam pengawasan ketat dan sesuai dengan prosedur kesehatan yang berlaku.

“Setiap tahap harus diawasi dengan ketat. Bahan makanan harus segar, tempat penyimpanan bersih, dan peralatan seperti tray makan dicuci dengan benar. Kecerobohan sekecil apa pun bisa berdampak besar pada kesehatan anak-anak,” ujarnya.

Dedy juga menegaskan bahwa tujuan utama dari program MBG adalah untuk meningkatkan kesehatan dan gizi pelajar, bukan justru menimbulkan risiko baru bagi mereka. Karena itu, ia mendorong adanya koordinasi yang solid antara pihak sekolah, penyedia makanan, dan instansi pengawas, agar pelaksanaan program benar-benar berjalan aman dan sesuai standar.

“Tujuan program MBG adalah menyehatkan generasi muda kita. Maka kualitas dan kebersihan harus menjadi prioritas mutlak. Jangan sampai ada kelalaian dalam pengawasan,” tegasnya.

Ia berharap, pelaksanaan program MBG di Berau benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi tumbuh kembang anak-anak, sekaligus memperkuat upaya menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan mendukung pembentukan generasi yang unggul. (gs/ADV)

DPRD Berau Peringatkan Maraknya Uang Palsu, Dorong Transaksi Digital untuk Lindungi Pelaku Usaha

0

BERAU – Maraknya peredaran uang palsu di Kabupaten Berau mulai menimbulkan keresahan, terutama di kalangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Fenomena ini mendapat sorotan serius dari Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, yang menilai penyebaran uang palsu semakin meluas dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi lokal.

Menurut Sutami, peredaran uang palsu tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung pada masyarakat dan dunia usaha. Ia bahkan menduga Berau mulai menjadi salah satu target penyebaran uang palsu oleh jaringan terorganisir.

“Saya pernah berbelanja di supermarket dan uang saya tidak diperiksa oleh kasir. Ini menunjukkan bahwa kewaspadaan masyarakat dan pelaku usaha masih sangat rendah,” ujarnya.

Politikus Partai Gerindra tersebut menyoroti bahwa kualitas uang palsu yang beredar kini semakin canggih hingga sulit dibedakan dari uang asli, bahkan ada yang mampu lolos dari deteksi sinar ultraviolet (UV).

“Kalau uang palsu sudah bisa lolos dari sinar UV, itu tandanya kualitasnya semakin tinggi. Ini bahaya dan perlu langkah konkret dari pemerintah daerah,” tegasnya.

Ia menyebut sejumlah sektor seperti SPBU dan pasar tradisional menjadi titik rawan peredaran uang palsu karena tingginya aktivitas transaksi tunai. Oleh karena itu, Sutami mendorong masyarakat untuk mulai beralih ke metode pembayaran digital guna meminimalkan risiko.

“Sosialisasi mengenai transaksi digital harus terus digencarkan. Semakin banyak masyarakat yang beralih ke pembayaran digital, semakin kecil peluang uang palsu beredar,” katanya.

Sutami menekankan, penanganan masalah ini tidak cukup hanya dengan penindakan hukum, tetapi juga perlu diimbangi dengan transformasi sistem transaksi yang lebih modern, aman, dan minim risiko.

“Saya mendorong pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk meningkatkan pengawasan, memperkuat edukasi masyarakat, serta memperluas akses terhadap layanan pembayaran digital,” tambahnya.

Sebelumnya, kasus uang palsu juga terungkap di salah satu warung kopi di Tanjung Redeb. Pemilik warkop, Ruswana, mengaku menemukan uang palsu pecahan Rp50.000 dari pelanggan yang bertransaksi di tempatnya.

“Untung saja kami memiliki alat pendeteksi uang palsu yang memang sengaja saya beli untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini,” ujarnya.

Meski demikian, Ruswana tidak menuduh pelanggan itu sebagai pelaku, karena diduga yang bersangkutan juga tidak menyadari bahwa uang yang dibawanya palsu. “Saya tidak menuduh. Bisa saja dia tidak tahu. Tapi dari bentuk dan teksturnya memang berbeda,” jelasnya.

Ia berharap kejadian tersebut menjadi peringatan bagi pelaku usaha lain agar lebih waspada. “Ini menjadi pelajaran bagi kami semua agar lebih berhati-hati dalam menerima uang tunai,” pungkasnya. (gs/ADV)

Ultimatum Wali Kota Neni: Masjid Terapung Harus Rapi dalam Seminggu!

SAYA masih ingat betul kunjungan ke Masjid Terapung Darul Irsyad Al Muhajirin di Kampung Selambai, Loktuan, pada 18 Juli 2025. Saat itu saya bersama Jauhar Efendi, sahabat lama yang kini menjadi widyaiswara senior di BPSDM Kaltim.

Kami datang malam hari. Lampu-lampu masjid berpendar di permukaan laut, memantulkan bayangan kubah emas di antara riak air. Indah. Tapi jujur, masih banyak yang belum tertata. Area parkir semrawut. Sisa bongkaran bangunan berserakan. Dan akses masuk belum ramah bagi pengunjung. “Harusnya dirapikan, karena kawasan ini bisa jadi wisata religi,” kata Jauhar kala itu.

Saya melihat potensi sekaligus kekosongan pengelolaan yang belum tersentuh serius. Masjid yang dibangun menyerupai bahtera ini sebenarnya memukau, dengan balkon menjorok ke laut dan lantai kaca di beberapa titik. Kapasitasnya sekitar 300 jemaah.

Namun keindahan arsitektur tidak cukup tanpa sentuhan perawatan dan tata ruang yang rapi. Apalagi masjid ini sudah diresmikan sejak Maret 2022, dibangun dengan dana puluhan miliar, dan seharusnya menjadi ikon wisata religi seperti Masjid Terapung di Makassar.

Sabtu pagi, 25 Oktober 2025 kemarin, saya melihat banyak unggahan di media sosial. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, melakukan sidak di kawasan Pelabuhan Loktuan dan halaman Masjid Terapung.

Menariknya, sidak dilakukan di hari libur kerja. Ia datang tanpa seremoni, didampingi Sekda, Asisten Pembangunan, Kepala Dinas PUPR, Dishub, anggota DPRD, hingga Camat dan Lurah Loktuan. Fokusnya: menata ulang kawasan pelabuhan dan halaman masjid agar kembali bersih dan tertib.

“Ini pintu gerbang ekonomi kota. Kalau dibiarkan kotor dan berantakan, orang tidak akan datang lagi ke sini. Visi tanpa aksi hanya halusinasi,” tegasnya. Ia memberi instruksi agar pembongkaran bangunan liar, relokasi toilet, dan pembersihan sisa material diselesaikan dalam waktu satu minggu.

Perintahnya tegas, diucapkan dengan nada jujur bercampur rasa kecewa. Bahwa kawasan yang seharusnya membanggakan justru tampak kumuh di pintu gerbang kota.

Langkah ini penting, karena sering kali masalah bukan pada kurangnya anggaran, melainkan lemahnya tanggung jawab bersama. Masjid megah tak bermakna jika sekelilingnya kotor dan tak terurus. Penataan Loktuan bukan soal tampilan, tapi cerminan cara kita menghormati ruang publik.

Langkah Wali Kota Neni Moerniaeni turun langsung ke lapangan patut diapresiasi. Ia tak menunggu laporan. Tak bersembunyi di balik meja. Tegas, cepat, dan tanpa basa-basi. Sikap yang kini makin jarang terlihat di pemerintahan.

Sidak itu bukan rutinitas, tapi pesan moral. Bahwa menata kota berarti menata mental. Semoga kawasan Masjid Terapung benar-benar berubah, karena kota yang bersih mencerminkan warganya yang beradab. Seperti kata Neni, visi tanpa aksi hanyalah halusinasi. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.