Beranda blog Halaman 201

Tahun 2026, PPh 21 Pegawai di Lima Sektor Ditanggung Negara

0

JAKARTA – Pemerintah resmi menanggung Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 periode 2026 untuk pekerja di lima sektor padat karya tertentu.

Kebijakan tersebut termaktub dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 105 Tahun 2025 sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi tahun anggaran 2026.

“Bahwa untuk menjaga keberlangsungan daya beli masyarakat dan menjalankan fungsi stabilisasi ekonomi dan sosial pada tahun 2026, telah ditetapkan paket stimulus ekonomi sebagai upaya pemerintah dalam menjaga tingkat kesejahteraan masyarakat antara lain dengan pemberian fasilitas fiskal,” demikian bunyi pertimbangan PMK 105/2025, dikutip di Jakarta, Minggu (4/1/2026).

Kelima sektor usaha yang termasuk penerima fasilitas PPh Pasal 21 ditanggung pemerintah (DTP) di antaranya industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta pariwisata.

Insentif diberikan untuk PPh 21 atas seluruh penghasilan bruto yang bersifat tetap dan teratur sepanjang tahun 2026. Penghasilan bruto yang dimaksud mencakup gaji dan tunjangan tetap/teratur serta imbalan sejenis yang ditetapkan menurut peraturan perusahaan atau kontrak kerja.

Pekerja yang berhak menerima fasilitas PPh 21 DTP merupakan pegawai tetap tertentu serta pegawai tidak tetap tertentu yang menerima upah di bawah Rp10 juta per bulan.

Khusus untuk pegawai tidak tetap tertentu yang menerima upah secara harian, mingguan, satuan, atau borongan, berhak menerima fasilitas bila nilai rata-rata upah dalam satu hari tidak melebihi Rp500 ribu.

Pekerja penerima fasilitas PPh 21 DTP, baik pegawai tetap maupun tidak tetap, harus mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terintegrasi dengan sistem administrasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Pegawai juga tidak boleh menerima insentif PPh 21 DTP lainnya berdasarkan ketentuan perpajakan. Terkait mekanisme penanggungan pajak, Pasal 5 PMK 105/2025 menyebutkan, PPh 21 yang dipotong atas penghasilan pegawai dibayarkan secara tunai oleh pemberi kerja pada saat pembayaran penghasilan. Kewajiban tetap berlaku meski pemberi kerja memberikan tunjangan PPh 21 atau menanggung PPh 21 bagi pegawai.

“Pembayaran tunai PPh 21 ditanggung pemerintah tidak diperhitungkan sebagai penghasilan yang dikenakan pajak,” bunyi Pasal 5 ayat (2) PMK 105/2025.

Pemberi kerja juga harus membuat bukti potong atas pemberian fasilitas PPh 21 DTP serta melaporkannya dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 21.

PMK 105/2025 ditetapkan pada 29 Desember 2025 oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan diundangkan pada 31 Desember 2025. (ANT/KN)

Polisi Pastikan Jenazah yang Ditemukan di Labuan Bajo adalah Pelatih Valencia

0

KUPANG – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur memastikan bahwa jasad yang ditemukan oleh Tim SAR gabungan dalam operasi pencarian korban kapal tenggelam di Labuan Bajo adalah pelatih tim B wanita Valencia Spanyol, Fernando Martin Carreras (FMC).

“Benar yang bersangkutan adalah pelatih Valencia untuk tim B yang teridentifikasi melalui cincin dan jam tangan,” kata Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra di Kupang, Minggu (4/1/2026).

Selain itu kepastian lainnya juga adalah ditemukan kesesuaian antara data ante mortem dan post mortem antara lain jenis kelamin pria dewasa, tinggi badan, ciri khusus seperti tato juga.

Dia mengatakan seluruh temuan tersebut dikonfirmasi oleh pihak keluarga langsung yang masih berada di Labuan Bajo hingga Minggu (4/1) hari ini.

Dia mengungkapkan proses identifikasi dilakukan secara menyeluruh oleh Tim DVI Biddokkes Polda NTT, dengan membandingkan data ante mortem (AM) dari keluarga dan kedutaan, serta data post mortem (PM) hasil pemeriksaan medis forensik.

Tentunya ujar dia proses identifikasi juga dilakukan secara hati-hati dengan mengedepankan prinsip ilmiah dan kemanusiaan.

“Tim DVI mengumpulkan dan mencocokkan data primer dan sekunder sesuai protokol Interpol, meskipun data primer seperti sidik jari tidak dapat digunakan secara optimal akibat kondisi jenazah,” tambah dia.

Saat ini, jenazah korban kecelakaan kapal wisata itu berada di fasilitas kesehatan di Labuan Bajo untuk penanganan lanjutan.

Karena masih menunggu proses koordinasi pemulangan ke negara asal bersama pihak keluarga dan perwakilan kedutaan.

Sebelumnya, kecelakaan laut menimpa kapal motor Putri Sakinah yang mengangkut wisatawan di perairan Selat Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Kapal pinisi itu membawa 11 penumpang yang terdiri dari enam wisatawan mancanegara asal Spanyol, satu orang pemandu wisata, serta empat orang kru kapal.

Dari total 11 orang yang berada di atas kapal, tujuh orang berhasil diselamatkan. Sedangkan empat orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian. (ANT/KN)

Pelaku Perampokan Taksi Daring di Makassar Dibekuk Setelah Buron 3 Bulan

0

MAKASSAR – Pelaku perampokan taksi daring berinisial AP akhirnya dibekuk tim Resmob Polda Sulsel setelah buron selama tiga bulan usai menganiaya dan merampas barang berharga milik korbannya di Jalan Baji Ateka, Kecamatan Mamajang, Makassar, Sulawesi Selatan.

“Pelakunya kita tangkap saat nongkrong di Jalan Once Daeng Oyo, Kecamatan Panakukang,” ujar Panit I Resmob Polda Sulsel Iptu Dendi Eriyan di Makassar, Minggu (4/1/2026).

Pelaku terindentifikasi setelah rekaman CCTV yang diperoleh sedang menganiaya korban yang dilakukan dua orang. Korbannya dipukuli dan barang berharganya dirampas para pelaku pada Oktober 2024.

“Jadi, pelaku ini ada dua orang, yang satu inisial AP sudah kita amankan, dan salah seorang lainnya masih dalam proses pengejaran,” katanya lagi.

Modus operandi yang dilancarkan pelaku dengan memesan taksi daring melalui aplikasi media sosial. Tujuan awalnya, diantar ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Kabupaten Maros.

Namun dalam perjalanan menuju bandara, pelaku meminta korban berhenti sejenak di Jalan Baji Ateka, Kecamatan Mamajang, selanjutnya korban menepikan kendaraannya.

Naas, barang berharga milik korban seperti ponsel dan tasnya kecilnya akan dirampas pelaku. Spontan korban lalu meninggalkan mobilnya berlari keluar, tetapi dikejar dua pelaku.

Terlihat pada rekaman video CCTV, korban sempat masuk ke salah satu ruko untuk menyelamatkan diri, tapi korban menemukannya kemudian dipukuli berkali-kali, ponsel dan tasnya akhirnya berhasil dibawa kabur pelaku.

“Korban mengalami luka memar di bagian kepala dan luka lebam pada pipi kanan dan kiri. Setelah itu, pelaku merampas HP (ponsel) korban dan langsung melarikan diri,” tuturnya.

Dari pengakuan pelaku usai diinterogasi, hasil penjualan ponsel itu digunakan berfoya-foya berpesta miras dan narkotika. Sedangkan barang buktinya yaitu ponsel dari hasil pencarian aplikasi sudah dikirim dan kini berada di Papua.

“Barang bukti HP itu sudah di jual, yang mana HP ini sudah ada di Timika (Papua) dan hasil penjualannya digunakan untuk pesta miras serta beli narkoba,” ungkap Dendi.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku telah diserahkan ke Polsek Mamajang yang menjadi wilayah hukum saat kejadian itu berlangsung untuk diproses lebih lanjut. (ANT/KN)

Presiden Prabowo dan CEO Danantara Bahas Proyek Hilirisasi Rp100 Triliun

0

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menerima CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, di kediaman pribadi Kepala Negara di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/1/2026) sore.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, sebagaimana dikutip dari unggahan akun Instagram Sekretariat Kabinet, Minggu (4/1/2026), mengatakan dalam pertemuan tersebut dibahas sejumlah hal, termasuk perkembangan proyek hilirisasi yang dijalankan Danantara dengan nilai investasi mencapai Rp100 triliun.

“Dalam pertemuan tersebut dibahas tiga poin, yakni, pertama, perkembangan 5 titik proyek hilirisasi oleh Danantara yang akan melakukan groundbreaking diawal bulan depan,” kata Teddy saat dikonfirmasi dan dikutip dari ANTARA.

Seskab Teddy menuturkan program hilirisasi tersebut direncanakan berlangsung di beberapa provinsi di Indonesia dengan nilai investasi mencapai sekitar 6 miliar dolar AS atau setara Rp100 triliun, yang diarahkan untuk mendukung penguatan struktur industri nasional.

Selain proyek hilirisasi, kata dia, pertemuan itu juga membahas perkembangan proyek waste to energy yang berfokus pada penertiban pengelolaan sampah, sehingga volume sampah terbuka dapat berkurang sekaligus memberikan manfaat dari sisi ekonomi.

“Perkembangan Projects Waste to Energy (Penertiban Pengelolaan Sampah) sehingga volume sampah terbuka tidak hanya berkurang namun akan sangat bermanfaat dari segi ekonomi,” ujar Seskab Teddy. (ANT/KN)

Truk Muatan Besi Jatuh, 1 Tewas dan 5 Luka-luka di Tol Batang–Semarang

0

BATANG – Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan tiga kendaraan terjadi di KM 354 ruas Tol Batang–Semarang, tepatnya di Desa Karanggeneng, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang mengakibatkan seorang korban meninggal dunia serta lima lainnya mengalami luka berat dan ringan, Minggu (4/1/2026) siang.

Kepala Kepolisian Resor Batang AKBP Edi Rahmat Mulyana di Batang, Minggu (4/1/2026), mengatakan bahwa saat ini, petugas kepolisian masih melakukan proses evaluasi di tempat kejadian perkara.

“Ya, kami masih melakukan proses evakuasi dan pengamanan di lokasi. Kecelakaan ini mengakibatkan satu korban meninggal dunia,” katanya.

Kecelakaan ini melibatkan satu unit truk trailer bernomor polisi L 8524 UN yang mengangkut besi, sebuah mobil minibus Toyota Rocky yang membawa lima orang penumpang, serta satu unit sedan Mercedes-Benz dengan satu orang pengemudi.

Diduga kuat, kata Kapolres yang didampingi Kasatlantas AKP Rka Hendra Ardiansyah, besi muatan dari truk trailer tersebut jatuh di ruas tol dan menimpa dua kendaraan yang berada di belakangnya.

Ia mengatakan terjatuhnya muatan besi truk yang menimpa dua mobil itu mengakibatkan mengalami kerusakan parah di bagian bodi kendaraan.

“Dua kendaraan mengalami kerusakan cukup berat karena tertimpa besi muatan trailer. Untuk kronologi lengkapnya masih dalam proses penyelidikan,” katanya.

Berdasar data, satu orang penumpang mobil Toyota Rocky dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut sedang lainnya mengalami luka-luka. (ANT/KN)

Waspada Tilang Elektronik Palsu, Sasar Warga lewat WhatsApp

PENIPUAN digital masih marak. Modusnya berganti, sasarannya makin luas. Ada yang menyasar pimpinan perusahaan dengan dalih perpajakan. Ada yang mengaku perekrut kerja, menyatakan lulus wawancara lalu meminta mengikuti “tes lanjutan”. Ada pula pesan kemenangan hadiah dari bank, lengkap dengan logo dan ucapan selamat.

Terbaru, yang muncul dan sudah terjadi adalah modus tilang elektronik palsu.

Saya mengalaminya sendiri. Bukan ke ponsel saya, tetapi ke ponsel anak saya. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Isinya tautan tilang elektronik.

Tampilannya rapi. Ada logo institusi negara. Nominal dendanya kecil. Bahkan disertai hitung mundur waktu pembayaran. Sekilas tampak resmi dan meyakinkan. Di situlah jebakannya.

Penipuan saat ini tidak lagi dengan ancaman. Tapi dikemas normal, seolah prosedural. Nominalnya cukup kecil untuk membuat orang lengah dan menekan klik tanpa berpikir panjang.

Kejadian ini bukan satu-satunya. Kasus serupa sebelumnya juga dialami warga Bontang.

Seorang warga bernama Dwi melaporkan menerima SMS mencurigakan yang mengatasnamakan tilang ETLE. Dalam pesan tersebut disebutkan adanya denda sebesar Rp150 ribu yang diklaim belum dibayarkan, lengkap dengan tautan pembayaran dari nomor tak dikenal.

Merasa curiga, Dwi memilih mengonfirmasi pesan itu. Dan benar, pesan tersebut adalah penipuan.

Dikonfirmasi terpisah, Kasat Lantas Polres Bontang AKP Purwo Asmadi menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengirimkan pemberitahuan tilang ETLE melalui SMS berisi tautan atau permintaan pembayaran langsung.

“Jika ada masyarakat yang menerima SMS terkait dengan ETLE, agar bisa konfirmasi terlebih dahulu ke bagian tilang Sat Lantas Polres Bontang,” ujarnya.

AKP Purwo juga menegaskan, notifikasi tilang ETLE resmi tidak pernah meminta data sensitif, seperti nomor rekening, kode OTP, maupun pembayaran melalui SMS atau aplikasi pesan instan pribadi. Pemberitahuan resmi hanya disampaikan melalui saluran terverifikasi, seperti surat fisik ke alamat pemilik kendaraan, laman resmi kepolisian, atau nomor WhatsApp resmi yang telah ditetapkan secara nasional.

Jika dicermati, polanya selalu sama. Pesan datang tiba-tiba. Bahasanya formal. Nominal dendanya kecil. Dan selalu disertai tautan yang mendorong penerima segera mengklik.

Di sinilah bahayanya. Banyak orang merasa aman dan menganggap sepele. “Cuma lima puluh ribu,” lalu diklik. Padahal yang dibuka bukan sekadar tautan, melainkan pintu ke data pribadi dan akses ke akun digital.

Karena itu, kewaspadaan harus dimulai dari hal paling kecil. Jangan klik tautan dari pesan acak. Kalau mengatasnamakan lembaga resmi, cek dulu. Tekanan waktu bukan perintah, melainkan peringatan.

Penipuan digital bukan soal pintar atau bodoh. Ini soal lengah. Dan kelengahan itu sering datang ke orang-orang terdekat yang kita kira aman.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.., M.H.

Pasca Haul Guru Sekumpul, Tak Sampai Kubah, Salat Asar di Ar Raudhah

BERADA di Martapura, Kalimantan Selatan (Kalsel), rasanya tak lengkap jika belum masuk ke Kawasan Sekumpul. Termasuk menunaikan salat di Musala Ar Raudhah dan berziarah ke makam Guru Sekumpul di Kubah Sekumpul.

Namun, datang tepat pada hari puncak haul seperti yang saya alami membuat hal itu nyaris mustahil, kecuali datang jauh-jauh hari dan menginap di kawasan tersebut. Tahun ini, puncak Haul Guru Sekumpul dilaksanakan Minggu malam, 28 Desember 2025. Dari informasi yang kami terima, pada puncak haul tersebut lebih dari 4,6 juta jemaah mengikuti rangkaian kegiatan di Kawasan Sekumpul dan sekitarnya.

Karena itulah, saya memilih datang kembali pasca haul. Senin (29/12) pukul 10.00 WITA, saya dan istri berangkat menggunakan sepeda motor dari Banjarbaru menuju Martapura. Tujuan awal kami Pasar Martapura. Google Maps mengarahkan ke beberapa jalur tembus, dan arus lalu lintas terlihat lancar.

Namun ketika jarak tersisa sekitar lima kilometer, perjalanan terhenti. Sejumlah ruas jalan masih terendam banjir. Kami sempat masuk ke Jalan Veteran, tetapi kendaraan tidak bisa melanjutkan.

“Tidak bisa lewat. Di dalam sudah sepinggang,” ujar seorang warga yang berjaga di lokasi.

Kami diminta memutar lewat Jalan Ahmad Yani, melewati RSUD Ratu Zalecha. Jalur ini lebih panjang, tetapi masih bisa dilalui. Siang itu, arus kendaraan cukup padat. Banyak mobil dan motor dari luar kota bergerak keluar Martapura.

Arus jemaah dan kendaraan melintas di jalur menuju Kawasan Sekumpul pasca puncak Haul Guru Sekumpul.

Kami tiba di Pasar Martapura sekitar pukul 12.00 WITA. Di kawasan ini berdiri Masjid Agung Al Karomah, salah satu masjid tertua di Martapura. Masjid ini dikenal dengan empat tiang utama berbahan kayu ulin yang masih berdiri kokoh sejak dibangun pada 5 Desember 1897. Kayu ulin, kayu khas Kalimantan yang keras dan tahan air, menjadi penyangga utama bangunan hingga hari ini.

Saya dan istri memilih menunaikan salat zuhur di Masjid Agung Al Karomah, sekaligus beristirahat dan menyusun kembali rencana perjalanan. Sekitar pukul 14.00 WITA, hujan turun cukup deras dan berlangsung hampir satu jam. Kami menunggu hingga hujan mulai reda.

Sekitar pukul 15.15 WITA, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sekumpul. Jalur ke arah kawasan ini relatif lancar. Tidak terlihat antrean panjang. Kemacetan sore hari justru terjadi di arah sebaliknya, menuju jalur keluar kota ke Samarinda.

“Macetnya dari tadi karena banjir bandang,” kata seorang warga di pinggir jalan.

Mendekati Kawasan Sekumpul, kendaraan tidak lagi diperbolehkan masuk. Relawan berjaga di mulut jalan. Motor dan mobil diminta parkir. Saya mengecek jarak ke Musala Ar Raudhah sekitar 230 meter. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki.

Akses pejalan kaki menuju Musala Ar Raudhah Sekumpul, dengan jemaah berjalan tertib dan relawan masih berjaga. Foto: Agus S

Sepanjang jalan menuju Sekumpul, suasana jauh lebih lengang dibanding malam puncak haul. Beberapa jemaah masih terlihat berjalan kaki. Spanduk penunjuk arah Kubah Sekumpul terpasang jelas. Di beberapa titik, relawan masih berjaga. Papan larangan dokumentasi mulai terlihat mendekati area musala.

Kami tiba menjelang waktu Asar. Saya diperbolehkan masuk untuk salat, sementara istri diminta menunggu di luar.

“Hanya laki-laki yang boleh masuk untuk salat. Perempuan menunggu di luar,” ujar petugas di pintu masuk.

Di depan gerbang juga terpampang pengumuman bahwa area kubah atau tempat ziarah masih ditutup. Musala Ar Raudhah tetap dibuka bagi jemaah yang ingin menunaikan salat.

Begitu masuk, saya memahami mengapa hampir tidak pernah ada dokumentasi dari dalam musala ini. Di area Musala Ar Raudhah, dilarang mendokumentasikan dan menjadikan konten dalam bentuk apa pun. Larangan tersebut tertulis jelas dan dijaga dengan ketat.

Spanduk larangan dokumentasi di area Musala Ar Raudhah Sekumpul yang dijaga ketat petugas. Foto: Agus S

Saya tidak mengambil foto atau video. Musala Ar Raudhah masih dalam tahap renovasi. Beberapa bagian terlihat ditutup. Namun suasana di dalam tetap tertib. Jemaah datang, salat, lalu keluar dengan tenang. Tidak ada keramaian. Tidak ada aktivitas lain selain ibadah.

Usai salat Asar, saya keluar dari area musala. Di luar, beberapa jemaah duduk beristirahat. Ada yang menunggu keluarga, ada pula yang berbelanja di toko-toko sekitar yang menawarkan berbagai kebutuhan, mulai dari perlengkapan salat hingga makanan.

Jalan kecil di Sekumpul masih basah oleh sisa hujan. Relawan tetap berjaga. Papan larangan dokumentasi terpasang di beberapa titik.

Saya tidak sempat masuk ke kubah. Namun bagi saya, bisa menunaikan salat di Musala Ar Raudhah sudah cukup. Yang lebih penting adalah kesempatan untuk hadir dan menunaikan ibadah dengan tertib. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Pasar Terapung Lok Baintan yang Masih Bertahan

SUDAH lama sekali saya tidak ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Terakhir sekitar tahun 2005. Dua puluh tahun lebih berlalu. Ada satu tempat yang sejak lama ingin saya datangi lagi: Pasar Terapung Lok Baintan. Apakah pasar itu masih hidup seperti dulu, atau sudah berubah oleh waktu?

Selasa pagi (30/12), saya memutuskan kembali ke tempat ini sebelum pulang ke Bontang. Kami berangkat dari Banjarbaru menggunakan mobil pinjaman keluarga, bersama istri dan istri sepupu yang menetap di sana. Pukul 06.00 Wita kami berangkat. Google Maps mengarahkan kami ke kawasan Siring, yang ternyata menjadi dermaga utama wisata susur sungai.

Perjalanan darat memakan waktu sekitar satu jam. Setiba di lokasi, kami langsung menemukan dermaga keberangkatan kapal wisata. Tarifnya Rp50 ribu per orang. Kapal berkapasitas hingga 30 penumpang, namun tidak harus menunggu penuh. Tepat pukul 07.15 WITA, kapal berangkat menyusuri sungai. Arusnya tenang, rumah-rumah panggung berjejer di tepian, dan aktivitas warga mulai terlihat di sepanjang alur sungai.

⁠Suasana di atas kapal wisata saat susur sungai menuju pasar terapung. Foto: Agus S

Sekitar 50 menit kemudian, kami tiba di titik pasar. Begitu mesin kapal melambat, perahu-perahu kecil langsung mendekat. Pedagang datang dari segala arah. Ada yang membawa buah-buahan, kue tradisional, peyek, hingga kebutuhan harian. Bukan hanya kapal kami yang didatangi, tetapi juga kapal-kapal wisata lain yang sudah lebih dulu tiba atau baru saja merapat. Pasar itu langsung hidup.

⁠Jukung pedagang penuh hasil kebun dan pangan lokal. Foto: Agus S

Pasar Terapung Lok Baintan ternyata masih bertahan. Hingga hari ini, lebih dari 100 pedagang masih turun berjualan di atas sungai. Mereka berangkat dari rumah masing-masing usai salat Subuh, mendayung jukung melawan arus, dengan harapan dagangan laku dan pulang membawa rezeki.

Saya berbincang dengan seorang ibu pedagang yang perahunya merapat ke kapal kami. Tuturnya apa adanya.

“Kalau ramai bisa bawa pulang Rp300 ribu. Tapi kalau sepi, ya kadang pulang tanpa uang sama sekali,” katanya.

⁠Kapal wisata dan pedagang berdampingan di tengah aktivitas pasar. Foto: Agus S

Ia bercerita tentang pasar yang tidak pernah “macet”. Di atas sungai tidak ada klakson, tidak ada kemacetan seperti di darat. Semua bergerak mengikuti arus.

“Di sini kebanyakan pakai perahu, Pak. Jadi nggak macet. Saya sudah jualan dari masih perawan, sampai sekarang anak saya juga sudah perawan,” ujarnya sambil tertawa.

Menurutnya, Pasar Terapung Lok Baintan bertahan karena warganya adalah penduduk asli. Pasar ini diwariskan lintas generasi. Bukan sekadar tempat jual beli, tetapi ruang hidup yang menyatu dengan sungai. Dagangan mereka beragam—buah, sayur, ikan, sembako, tas, kopi, teh, soto, hingga pakaian. “Yang nggak ada di sini itu cuma HP sama emas,” katanya, masih sambil tertawa.

Ia juga menyinggung pasar terapung lain yang perlahan menghilang karena warganya tidak terbiasa hidup di sungai dan memilih cara yang lebih praktis. Lok Baintan berbeda. Sungai adalah rumah mereka.

Selain transaksi jual beli, suasana pasar pagi itu juga diwarnai aktivitas wisata. Beberapa pedagang menawarkan jasa naik klotok kecil untuk berfoto dan berkeliling di antara perahu-perahu. Kamera ponsel terus terangkat. Senyum, tawar-menawar, dan percakapan sederhana mengisi pagi.

Saya memperhatikan kesibukan jual beli di atas perahu-perahu itu. Sesekali menoleh ke arus sungai yang tak pernah berhenti. Sempat terlintas rasa khawatir, takut dagangan terbalik atau perahu bersenggolan.

⁠Menyusuri Sungai Martapura menuju Pasar Terapung Lok Baintan. Foto: Agus S

Namun kekhawatiran itu cepat hilang. Meski usia pedagang rata-rata di atas 40 tahun, mereka lincah mengendalikan jukung, berpindah dari buritan ke haluan dengan keseimbangan yang terlatih oleh waktu.

Dua puluh tahun berlalu, pasar ini masih bertahan. Bukan karena promosi atau viral, tetapi karena tradisi yang dijaga dan kehidupan yang terus dijalani.

Pasar Terapung Lok Baintan bukan hanya destinasi wisata. Pasar ini menjadi ruang hidup yang mengajarkan bahwa sungai bukan sekadar alur air, melainkan nadi yang menghidupi, dan selama nadi itu dijaga, cerita ini akan terus berjalan. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Niat Tetap Sampai di Sekumpul

SEJAK beberapa hari terakhir, saya rutin menerima laporan dari lapangan. Adhi Abdian, Kepala Kantor Media Kaltim Samarinda, bersama Dimas, wartawan Mediakaltim.com, terus mengirimkan perkembangan situasi Haul Guru Sekumpul hingga Minggu (28/12).

Keduanya memang lebih dulu tiba di Martapura melalui jalur darat. Adhi berangkat menggunakan mobil bersama keluarga, sementara Dimas memilih bergabung dalam rombongan jemaah bermotor.

Saya sendiri baru bisa menyusul pada Minggu (28/12). Selain agenda kerja yang masih padat, hari itu saya harus lebih dulu mengantar anak ke bandara untuk kembali ke pondok setelah libur semester.

Karena alasan itu pula, saya memilih menempuh perjalanan udara dari Samarinda. Kebetulan, jadwal penerbangan ke Banjarbaru, waktunya hampir bersamaan.

Pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto pukul 11.25 WITA dan mendarat di Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarbaru sekitar pukul 12.35 WITA. Waktu tempuh di udara hanya sekitar satu jam. Jauh lebih singkat dibandingkan perjalanan darat Bontang–Samarinda yang bisa memakan waktu hingga 2,5 jam.

Datang belakangan bukan berarti datang tanpa niat. Banyak jemaah berada di posisi yang sama. Di perjalanan, saya menjumpai beberapa jemaah yang juga baru berangkat dari Samarinda pada hari yang sama. Ada yang bersama keluarga, ada pula yang berombongan.

Tidak ada rasa tertinggal. Seolah semua sudah paham, haul bukan soal siapa yang datang paling awal, tetapi siapa yang tetap menyempatkan diri hadir.

Saya sempat berbincang dengan seorang warga Sempaja yang datang bersama ibunya. Saya bertanya apakah ia tidak khawatir berangkat di hari yang sudah mendekati puncak haul, terutama soal tempat beristirahat.

Ia tersenyum sebelum menjawab, “Tidak perlu khawatir. Apalagi soal tidur atau makan, biasanya sudah ada saja yang menawarkan kalau sudah sampai di sana,” ucapnya.

Jawaban itu bukan tanpa alasan. Saat Haul Guru Sekumpul, gotong royong memang menjadi pemandangan yang lazim. Relawan dari berbagai daerah bergerak membantu jemaah, menyediakan makanan, tempat beristirahat, hingga bantuan lain. Kebiasaan baik ini teruji dan berulang dari tahun ke tahun.

Saya sendiri menyaksikannya sepanjang perjalanan dari Bandara menuju Banjarbaru.

Di sela perjalanan, pertanyaan lain juga kerap muncul. Termasuk dari pembaca di kolom komentar Instagram @mediakaltim. Mengapa Guru Sekumpul begitu dicintai? Mengapa jutaan orang terus datang, bahkan lebih dari dua dekade setelah beliau wafat?

Yang dicintai jutaan orang itu adalah KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, ulama kharismatik yang dikenal dengan sebutan Guru Sekumpul. Sekumpul sendiri adalah kawasan di Martapura yang menjadi pusat dakwah dan pengajian beliau semasa hidup. Kini, kawasan itu menjelma menjadi ruang spiritual bersama, tempat orang-orang datang membawa doa, rindu, dan niat yang sama.

Cinta umat kepada beliau tidak lahir dari simbol atau gelar, melainkan dari keteladanan. Ilmu yang diajarkan tidak berhenti di majelis, tetapi terlihat dalam sikap hidup sehari-hari. Sederhana, lembut, dan konsisten.

Suasana khidmat jemaah saat salat dan bershalawat bersama dalam rangkaian Haul Guru Sekumpul. Foto: Agus S

Cara beliau berdakwah juga menjadi alasan kuat. Tidak menghakimi, tidak meninggikan suara, dan tidak memaksa. Banyak orang datang dengan persoalan hidup masing-masing.

Mereka tidak selalu pulang dengan jawaban, tetapi sering pulang dengan hati yang lebih tenang. Bagi banyak jemaah, itu sudah cukup.

Cinta umat kepada Guru Sekumpul juga tidak bertumpu pada garis keturunan. Dalam tradisi Islam, kemuliaan tidak diwariskan begitu saja, tetapi dibangun melalui amal, ilmu, dan akhlak. Karena itu, wajar jika yang dicintai umat adalah sosok yang paling banyak memberi manfaat, meski beliau memiliki keluarga dan keturunan.

Meski wafat pada 2005, jejak beliau tidak berhenti. Pengajian, amalan, dan nilai-nilai yang ditanamkan terus hidup dan dipraktikkan. Haul bukan sekadar mengenang wafatnya seorang ulama, tetapi mengingat kembali warisan akhlak dan ilmu yang masih relevan hingga hari ini.

Bagi sebagian jemaah, Guru Sekumpul bahkan dipandang sebagai orang tua rohani, tempat bersandar batin dan menata niat.

Saya sendiri memilih menghubungi saudara di Banjarbaru untuk tempat menginap. Bukan karena takut tidak kebagian, tetapi agar perjalanan tetap terukur.

Saya dan istri, mengikuti rangkaian doa bersama di tengah kepadatan jemaah Haul Guru Sekumpul, Minggu malam. Foto: Agus S

Setiap orang punya caranya sendiri dalam menyiapkan diri. Ada yang sepenuhnya menyerahkan pada keadaan, ada pula yang mengatur sebisanya. Keduanya sama-sama sah.

Di Sekumpul, tidak ada yang bertanya Anda datang lewat mana, berangkat kapan, atau menginap di mana. Semua itu bukan ukuran. Yang lebih penting adalah niat untuk hadir dan mengikuti rangkaian doa bersama dengan tertib.

Saya bersyukur tahun ini bisa ikut dan menyaksikannya langsung. Saya memang tidak sampai ke titik pusat Sekumpul karena kondisi sudah sangat padat. Saya bergabung bersama jemaah di Lapangan Murjani, depan Balai Kota Banjarbaru.

Di lokasi ini, suasana haul tetap terasa. Puluhan ribu jemaah mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari salat Magrib berjamaah, bershalawat, hingga salat Isya. Seluruh rangkaian dapat disaksikan melalui layar LED besar yang disiapkan panitia.

Meski berada di titik yang berbeda, niat para jemaah tetap sama. Dan di Sekumpul, itu sudah lebih dari cukup.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Libur Sekolah, Program MBG Tetap Prioritaskan Ibu Hamil dan Balita

0

JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat libur sekolah memprioritaskan ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita atau kelompok B3.

BGN menegaskan intervensi pemenuhan gizi bagi mereka merupakan prioritas utama dalam Program MBG yang tidak terpengaruh kalender pendidikan.

Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan, kontinuitas layanan gizi bagi kelompok tersebut sangat krusial karena berada dalam fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang merupakan masa emas bagi pertumbuhan anak dan tidak dapat ditunda.

“Intervensi pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita adalah bagian yang sangat penting dan tidak boleh terputus. Periode 1.000 hari pertama kehidupan waktunya pendek, dan kita harus menjaga golden time (masa emas) ini sebaik mungkin. Mereka tidak ada hubungannya dengan waktu sekolah,” ujar Dadan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (26/12/2025).

Ia menegaskan, untuk kalangan anak sekolah, BGN menerapkan kebijakan yang lebih fleksibel selama masa libur. Program MBG bagi anak sekolah bersifat opsional, menyesuaikan dengan kondisi teknis di lapangan maupun aktivitas keluarga penerima manfaat.

“Untuk anak sekolah sifatnya opsional. Jika ada yang tidak memungkinkan mengambil atau dikirim karena alasan teknis, atau sedang berlibur, itu tidak menjadi masalah. Namun bagi yang membutuhkan, layanan tetap kami berikan,” paparnya.

BGN juga menginformasikan bahwa pelaksanaan MBG pada akhir tahun 2025 masih berlangsung pada 26, 27, 29, 30, dan 31 Desember 2025, khususnya untuk memastikan keberlanjutan layanan bagi kelompok prioritas.

Sedangkan pada awal tahun 2026, program MBG akan dimulai secara serempak pada 8 Januari 2026.

Sebelumnya, pada tanggal 2, 3, 5, 6, dan 7 Januari 2026 ditetapkan sebagai hari persiapan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia, mencakup kesiapan dapur, distribusi, sumber daya manusia, serta penguatan standar keamanan pangan. (ANT/KN)