Beranda blog Halaman 2

PTKP Berpeluang Naik pada 2027, Pemerintah Masih Hitung Dampaknya

0
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/11/2026). (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)

JAKARTA – Pemerintah mulai membahas wacana kenaikan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk 2027. Namun, keputusan tersebut belum akan diambil dalam waktu dekat karena masih memerlukan kajian, terutama terkait dampaknya terhadap daya beli masyarakat dan penerimaan negara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pembahasan kenaikan PTKP masih berada pada tahap awal dan diarahkan untuk program tahun depan.

“Masih dalam pembahasan, karena ini untuk masih program di tahun 2027,” ujar Airlangga usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/11).

Senada, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut pembahasan kebijakan tersebut belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Masih lama,” kata Suahasil.

Pemerintah sebelumnya menyampaikan rencana penyesuaian batas PTKP pada 2027. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menyesuaikan batas penghasilan tidak kena pajak dengan Upah Minimum Provinsi (UMP).

Meski demikian, Kementerian Keuangan masih mengkaji besaran dan skema penyesuaian yang memungkinkan. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan, kajian dilakukan secara mendalam dengan mempertimbangkan berbagai konsekuensi kebijakan.

“Ini (PTKP) masih dikaji, masih kita kaji secara mendalam,” kata Juda dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (9/10).

Menurut Juda, kenaikan PTKP berpotensi mendorong daya beli masyarakat. Sebab, semakin tinggi batas penghasilan yang tidak dikenai pajak, semakin besar pula penghasilan pekerja yang terbebas dari pajak penghasilan.

Namun, pemerintah juga harus memperhitungkan potensi berkurangnya penerimaan negara akibat penyesuaian tersebut. Karena itu, Kementerian Keuangan masih mencari titik optimal agar kebijakan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengabaikan kondisi fiskal.

Di sisi lain, kalangan pengusaha menyambut positif wacana tersebut. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menilai kenaikan PTKP dapat mengurangi beban pajak pekerja dan membantu menjaga daya beli, terutama kelompok masyarakat kelas menengah.

Dengan demikian, rencana kenaikan PTKP pada 2027 masih bergantung pada hasil kajian pemerintah. Besaran kenaikan maupun mekanisme penyesuaiannya belum diputuskan. (ANT/KN)

Kemensos Siapkan Skema Baru PBI-JK 2027, Iuran Dibagi Berdasarkan Desil

0
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjawab pertanyaan pewarta selepas acara puncak peringatan Hari Pahlawan tahun 2026 yang digelar Kementerian Sosial bersama Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) di Taman Fatahillah, kawasan Kota Tua, Jakarta, Senin (2/11/2026) malam. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) menyiapkan skema baru pembiayaan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) berdasarkan kelompok desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Melalui skema ini, beban pembayaran iuran direncanakan dibagi antara pemerintah pusat, kabupaten/kota, pemerintah provinsi, hingga perusahaan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan, simulasi pembagian pembiayaan tersebut tengah dimatangkan bersama Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, dan Kementerian Keuangan.

Pemetaan penerima mengacu pada sistem Perlinsos Digital berbasis DTSEN yang mengintegrasikan data keluarga dari sejumlah instansi, antara lain Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Samsat, ATR/BPN, PLN, BPJS Kesehatan, hingga BPJS Ketenagakerjaan.

“Dengan adanya penyajian dengan sistem atau dengan model desil ini, disajikan dalam bentuk desil, ini memudahkan pemerintah untuk menentukan sasaran. Dan bahkan kita bisa berbagi intervensi,” kata Saifullah Yusuf di kawasan Kota Tua, Jakarta, Senin (2/11) malam.

Dalam simulasi yang dibahas, kelompok Desil 1 hingga 4 atau sekitar 40 persen penduduk dengan tingkat kesejahteraan terbawah diperkirakan mencakup 140 juta jiwa. Pembiayaan iuran kelompok ini direncanakan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui skema PBI.

Sementara itu, pembiayaan kelompok Desil 5 dan 6 direncanakan menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota. Adapun kelompok Desil 7 dan 8 akan diintervensi melalui anggaran pemerintah provinsi.

Meski demikian, pembagian tersebut tidak bersifat mutlak berdasarkan desil. Pemerintah juga memperhitungkan status pekerjaan dan kepesertaan jaminan kesehatan, termasuk kewajiban perusahaan membayarkan iuran pekerjanya.

Saifullah mencontohkan, sebagian warga yang masuk Desil 1 hingga 4 tidak perlu dibiayai melalui PBI apabila sudah bekerja di perusahaan yang berkewajiban membayar iuran BPJS Kesehatan.

“Kalau kita hitung-hitung, semestinya Desil 1 sampai 4 itu kira-kira 140 juta. Nah, dari 1 sampai 4 itu sekitar 140 jutaan jiwa ya. Nah itu nanti bisa jadi, kita hanya 120 (juta), karena yang 20 jutanya dibantu oleh perusahaan di mana mereka bekerja,” ujarnya.

Karena itu, jumlah penerima yang benar-benar dibiayai melalui APBN masih dalam penghitungan. Mekanisme serupa juga akan diterapkan pada kelompok Desil 5 dan 6 yang sebagian anggotanya mungkin telah mendapat perlindungan melalui perusahaan tempat bekerja.

Menurut Saifullah, penggunaan data tunggal diharapkan membuat intervensi antarlembaga lebih terkoordinasi dan mencegah tumpang tindih bantuan. Dengan pembagian tanggung jawab tersebut, pemerintah menargetkan masyarakat pada Desil 1 hingga 8 dapat memperoleh perlindungan jaminan kesehatan.

Kemensos menargetkan pemutakhiran data rampung pada akhir 2026. Selanjutnya, skema pembiayaan baru tersebut direncanakan mulai diajukan pada 2027 sebagai bagian dari upaya memperluas Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage (UHC) di seluruh kabupaten/kota.

Namun, skema tersebut masih dalam tahap simulasi dan pembahasan lintas kementerian. Besaran anggaran, jumlah penerima, serta mekanisme pembagian tanggung jawab pembiayaan masih menunggu hasil pemutakhiran data dan keputusan pemerintah. (ANT/KN)

Cuaca Ekstrem Mengintai Nataru 2026/2027, Menhub Siapkan Jalur Alternatif

0
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi. (ANTARA)

JAKARTA – Ancaman cuaca ekstrem menjadi salah satu perhatian utama pemerintah dalam menghadapi Angkutan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru). Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkuat koordinasi lintas instansi hingga menyiapkan jalur alternatif untuk mengantisipasi gangguan perjalanan akibat banjir, longsor, gelombang tinggi, dan angin kencang.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, informasi cuaca dan kondisi lintasan harus menjadi pertimbangan penting dalam menentukan kebijakan operasional transportasi, terutama di wilayah rawan bencana.

“Informasi cuaca dan kondisi lintasan harus menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan operasional, terutama dalam mengantisipasi cuaca ekstrem dan daerah rawan bencana,” kata Dudy di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Untuk memperkuat kesiapsiagaan, Kemenhub berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, serta pengelola prasarana transportasi.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah memetakan titik-titik rawan banjir dan longsor. Pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah operasional sekaligus mengantisipasi potensi gangguan mobilitas masyarakat selama libur akhir tahun.

Pemerintah juga menyiapkan mitigasi terhadap potensi gelombang tinggi dan angin kencang yang dapat mengganggu keselamatan pelayaran maupun operasional moda transportasi lainnya.

Selain itu, jalur alternatif disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan terputusnya akses atau terganggunya perjalanan akibat kondisi cuaca dan lingkungan. Kesiapan sarana transportasi serta petugas di lokasi rawan terdampak juga diperkuat agar penanganan keadaan darurat dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.

Dudy meminta seluruh operator transportasi menyusun rencana operasi yang mencakup pengendalian risiko, kesiapan menghadapi keadaan darurat, hingga penyesuaian operasional apabila kondisi lapangan berubah sewaktu-waktu.

Evaluasi penyelenggaraan angkutan Natal dan Tahun Baru pada tahun sebelumnya turut menjadi bahan penyempurnaan strategi mitigasi. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi berbagai potensi gangguan perjalanan.

Melalui penguatan koordinasi lintas sektor dan mitigasi cuaca ekstrem, Kemenhub menargetkan penyelenggaraan Angkutan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 berlangsung aman, selamat, serta memberikan kepastian layanan bagi masyarakat. (ANT/KN)

APBD Belum Memadai, Program Rp100 Miliar per Kawasan Perdesaan Kukar Tertunda

0
Kepala DPMD Kukar, Arianto. (Foto: Ady/Koran Nusantara)

TENGGARONG – Program Rp100 miliar per kawasan perdesaan yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) belum dapat direalisasikan. Keterbatasan kemampuan keuangan daerah menjadi kendala utama dalam menjalankan program yang masuk dalam agenda Kukar Idaman Terbaik tersebut.

Program ini dirancang untuk memperkuat pembangunan desa melalui kolaborasi antarpemerintahan desa dengan mengoptimalkan potensi masing-masing wilayah. Namun, besarnya kebutuhan anggaran membuat pelaksanaannya harus menyesuaikan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, mengatakan program tersebut masih berada dalam tahap perencanaan. Pemerintah daerah telah membentuk enam kawasan perdesaan sebagai dasar penyusunan konsep pembangunan dan kebutuhan pembiayaannya.

“Program Rp100 miliar bagi Kawasan Perdesaan Idaman Terbaik merupakan dedikasi Kukar Idaman Terbaik. Program ini ditujukan untuk memberikan ruang kepada pemerintahan desa dalam memperkuat kolaborasi pembangunan berbasis potensi desa,” ujar Arianto, Senin (2/11/2026).

Pembentukan enam kawasan tersebut menjadi langkah awal untuk menentukan arah pembangunan yang sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing wilayah.

Melalui pendekatan kawasan, pembangunan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan satu desa. Pemerintah ingin mendorong kerja sama antardesa sehingga program yang dijalankan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

DPMD Kukar juga akan menginventarisasi kegiatan yang selama ini telah dilaksanakan organisasi perangkat daerah (OPD) di masing-masing kawasan. Pemetaan tersebut diperlukan agar perencanaan tidak berjalan sendiri-sendiri dan dapat diselaraskan dengan program pembangunan yang sudah tersedia.

Dengan demikian, konsep anggaran Rp100 miliar per kawasan nantinya tidak sepenuhnya disusun dari nol. Kegiatan OPD yang telah berjalan akan menjadi salah satu bahan untuk merumuskan kebutuhan pembangunan kawasan.

“Rencananya, kita akan menyusun konsep dengan melihat kegiatan apa saja yang sudah dilaksanakan oleh beberapa OPD di kawasan tersebut. Kegiatan-kegiatan itu nantinya akan menjadi bagian dari alokasi anggaran Rp100 miliar tersebut,” jelasnya.

Meski telah masuk dalam perencanaan, target anggaran Rp100 miliar untuk setiap kawasan belum dapat dipastikan realisasinya. Arianto mengakui, kemampuan keuangan daerah saat ini belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan anggaran sebesar itu.

Jika dihitung berdasarkan enam kawasan yang telah dibentuk, kebutuhan anggaran program tersebut berpotensi mencapai Rp600 miliar. Namun, angka itu merupakan gambaran kebutuhan berdasarkan target program, bukan anggaran yang telah dialokasikan atau tersedia dalam APBD.

Karena itu, pemerintah daerah masih perlu mempertimbangkan kondisi fiskal sebelum menentukan waktu pelaksanaan. Kesiapan anggaran menjadi faktor penting agar program dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa mengganggu pembiayaan kebutuhan pembangunan lainnya.

DPMD Kukar berharap kondisi keuangan daerah ke depan semakin memungkinkan sehingga program tersebut bisa segera dijalankan. Meski demikian, realisasi dalam satu hingga dua tahun mendatang masih bergantung pada kecukupan APBD.
Arianto menyebut besarnya kebutuhan pembiayaan menjadi alasan pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan tahapan pelaksanaan program.

“Mudah-mudahan, ketika APBD kita sudah memadai, program ini bisa direalisasikan dan semoga dalam satu hingga dua tahun ke depan program ini bisa dilaksanakan karena anggaran Rp100 miliar per kawasan memang cukup besar,” tutup Arianto. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R

Kukar Anggarkan Rp10 Miliar untuk Lindungi 48 Ribu Pekerja Rentan

0
Kepala Distransnaker Kukar, Dendy Irwan Fahriza. (Foto: Ady/Koran Nusantara)

TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) mengalokasikan anggaran sekitar Rp10 miliar untuk memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan kepada 48.000 pekerja rentan sepanjang 2026.

Program yang menjadi bagian dari dedikasi Kukar Idaman Terbaik, yakni Etam Sejahtera, menyasar masyarakat berpenghasilan rendah dan tidak memiliki pekerjaan tetap.

Melalui program tersebut, pemerintah daerah menanggung pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan agar pekerja rentan tetap memperoleh perlindungan dari berbagai risiko sosial ketenagakerjaan.

Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kukar, Dendy Irwan Fahriza, mengatakan pelaksanaan program tersebut sudah berjalan. Pembayaran iuran bahkan telah direalisasikan untuk dua triwulan atau enam bulan pertama 2026.

“Ini sudah berjalan, sudah ada pembayaran untuk enam bulan ini,” kata Dendy, Senin (2/11/2026).

Dendy menjelaskan, target penerima manfaat program Etam Sejahtera tahun ini mencapai 48.000 pekerja. Namun, jumlah penerima yang dapat dibayarkan pada setiap triwulan menyesuaikan hasil pemadanan data.

Pada triwulan pertama, pembayaran iuran mencakup sekitar 31.000 pekerja. Sementara pada triwulan kedua, jumlahnya sekitar 21.000 pekerja.

“Targetnya 48.000, cuma secara data yang bisa dibayarkan di triwulan satu itu kurang lebih 31.000, kemudian di triwulan kedua 21.000,” jelasnya.

Menurut Dendy, perbedaan jumlah tersebut berkaitan dengan proses verifikasi dan pemadanan data calon penerima. Pemerintah harus memastikan pekerja yang mendapatkan pembiayaan benar-benar memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

Adapun sasaran program ini adalah masyarakat dengan penghasilan di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK), serta tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Penentuan penerima mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya masyarakat kelompok desil 1 hingga 4.

Data dari pemerintah provinsi selanjutnya dipadankan dengan data Dinas Sosial Kukar. Hasil pemadanan tersebut menjadi dasar dalam menentukan pekerja yang berhak mendapatkan pembiayaan iuran BPJS Ketenagakerjaan.

“Dari data provinsi kita padankan di Dinas Sosial, kemudian dari Dinas Sosial nanti keluar data pemadanannya. Itulah yang menjadi dasar kita untuk membayarkan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja rentan,” terangnya.

Dendy menambahkan, program perlindungan jaminan sosial bagi pekerja rentan tersebut akan tetap dilanjutkan setiap tahun.

Namun, mulai 2027, pelaksanaan program tidak lagi berada di bawah Distransnaker Kukar, melainkan dialihkan kepada Dinas Sosial.

Perubahan ini dilakukan untuk menyesuaikan nomenklatur penganggaran dengan ketentuan administrasi pemerintahan daerah, termasuk Permendagri Nomor 90.

Seiring perubahan pelaksana tersebut, anggaran sekitar Rp10 miliar untuk program jaminan sosial pekerja rentan juga telah dialihkan ke Dinas Sosial untuk pelaksanaan tahun berikutnya.

“Jadi ini tahun terakhir Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja melaksanakan jaminan bagi tenaga kerja rentan. Tahun depan ada di Dinas Sosial dan anggarannya pun sudah berpindah Rp10 miliar ke Dinas Sosial tahun depan,” ungkapnya. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R

Program 100 Ribu Petani Tangguh Kukar Mulai Berjalan, 32 Ribu Orang Jadi Target Penerima

0
Kepala Distanak Kukar, Mohammad Rifani. (Foto: Ady/Koran Nusantara)

TENGGARONG – Program 100 Ribu Petani, Nelayan dan Peternak Tangguh mulai dijalankan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar). Dalam pelaksanaannya, program unggulan ini menargetkan 32.000 penerima manfaat selama lima tahun melalui peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta bantuan sarana dan prasarana produksi.

Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar mulai merealisasikan sejumlah kegiatan, mulai dari pelatihan petani dan peternak hingga bantuan fisik untuk mendukung usaha pertanian dan peternakan.

Kepala Distanak Kukar, Mohammad Rifani, mengatakan program tersebut dirancang tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan pelaku usaha sektor pertanian, tetapi juga memperkuat fasilitas pendukung agar produktivitas dapat berkembang.

“Kalau target kita itu 32.000 orang. Jadi ini sedang berjalan. Ada yang peningkatan SDM, ada yang bantuan fisik dan lain sebagainya,” ungkap Rifani.

Salah satu upaya yang telah berjalan adalah peningkatan kapasitas SDM melalui kegiatan pelatihan. Distanak Kukar melalui bidang penyuluhan secara rutin memberikan pembinaan kepada petani dan peternak.

Untuk memperkuat pelaksanaan kegiatan tersebut, Distanak juga menjalin kerja sama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas). Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelaku sektor pertanian.

Selain pelatihan, pemerintah daerah menyiapkan bantuan fisik bagi kelompok tani. Sejumlah kegiatan saat ini masih dalam tahap pengerjaan dan pengadaan.

Rifani berharap pekerjaan yang sedang berjalan dapat diselesaikan pada awal Desember mendatang.

Target penyelesaian itu juga mencakup bantuan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sementara untuk alat dan mesin pertanian (alsintan), Distanak Kukar telah menyampaikan rekomendasi sejumlah kelompok tani kepada Kementerian Pertanian. Pemerintah daerah kini menunggu jadwal penyaluran bantuan dari pemerintah pusat.

Penguatan sektor tanaman pangan diarahkan pada lima kawasan pengembangan padi sawah yang tersebar di enam kecamatan. Kawasan tersebut meliputi Muara Kaman, Tenggarong Seberang, Tenggarong, Loa Kulu, serta Marangkayu.

Fokus pengembangan kawasan ini juga didukung pembangunan infrastruktur pengairan. Pada 2026, Distanak Kukar telah memulai sejumlah pekerjaan, seperti pembangunan pintu air, parit, dan sarana pendukung irigasi di beberapa lokasi.

Sementara untuk 2027, pemerintah daerah tengah memproses perencanaan pembangunan irigasi. Infrastruktur tersebut dibutuhkan untuk menunjang ketersediaan air sehingga kegiatan pertanian di kawasan pengembangan dapat berjalan lebih optimal.

Rifani menegaskan, pengembangan lima kawasan prioritas tidak berarti wilayah pertanian lainnya ditinggalkan. Pemerintah tetap memperhatikan kebutuhan pengembangan sektor pertanian di kecamatan lain.

“Untuk 2027 kita fokus di lima kawasan prioritas tanpa meninggalkan kawasan-kawasan lainnya,” jelasnya.

Selain tanaman pangan, program ini juga menyasar pengembangan sektor peternakan. Salah satu bentuk dukungan yang disiapkan adalah bantuan pembangunan kandang ayam petelur dengan kapasitas antara 100 hingga 200 ekor.

Bantuan tersebut diberikan dalam satu paket yang mencakup pembangunan kandang, pengadaan bibit ayam petelur, pakan, hingga obat-obatan. Saat ini, proses pengadaan dan pelaksanaannya masih berlangsung.

Rencana pengembangan bantuan peternakan tersebut mencakup sejumlah kecamatan, yakni Kota Bangun Darat, Kota Bangun, Muara Muntai, Muara Wis, Sebulu, Muara Kaman, Anggana, Loa Janan, dan Loa Kulu.

Namun, kelompok yang ingin memperoleh bantuan harus memenuhi sejumlah persyaratan. Salah satunya terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan).

Setelah persyaratan administrasi terpenuhi, tim penilai Distanak akan melakukan verifikasi. Penilaian terutama mencakup kesiapan lahan dan kelengkapan persyaratan pendukung lainnya.

Rifani mengingatkan agar kelompok tani tidak sekadar mengajukan bantuan, tetapi memastikan kebutuhan yang disampaikan benar-benar sesuai dengan kondisi usaha di lapangan.

Karena itu, pendampingan penyuluh pertanian dinilai penting agar usulan yang disampaikan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan kelompok.

“Kalau untuk usulan petani mohon didampingi oleh penyuluh, terus yang diusulkan itu sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” pungkasnya. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R

Truk Molen Tabrak 12 Orang di Bekasi, Enam Tewas, Sopir Diamankan Polisi

0
BEKASI — Kecelakaan maut melibatkan truk molen terjadi di Bekasi, Jawa Barat. Sebanyak 12 orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut, enam di antaranya meninggal dunia. Polisi telah mengamankan pengemudi truk untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Insiden tersebut menyisakan duka mendalam sekaligus memunculkan perhatian terhadap keselamatan kendaraan berat di jalan raya. Aparat kepolisian masih perlu memastikan penyebab kecelakaan, termasuk kondisi kendaraan dan faktor yang menyebabkan truk menabrak sejumlah orang.

Koran Nusantara edisi Senin, 2 November 2026, juga mengulas pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. DPR meminta adanya mekanisme yang jelas untuk mengembalikan kerugian korban dalam penerapan aturan tersebut.

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini Digital Koran Nusantara? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

https://koran.koranusantara.com

https://digital.koranusantara.com/kn2nov2026/mobile/

Koran Nusantara – Aktual dan Terpercaya.

Kepala Ruangan hingga Manajemen RSUD Bontang Dibekali Pemahaman Hukum, Diminta Teruskan ke Staf

0
Jajaran RSUD Taman Husada Bontang mengikuti sharing session bersama Kejaksaan. (Dwi S/Media Kaltim)

BONTANG – RSUD Taman Husada Bontang melibatkan kepala ruangan, kepala unit, hingga jajaran manajemen dalam kegiatan sharing session bersama Kejaksaan. Pembekalan hukum tersebut tidak hanya ditujukan kepada peserta yang hadir, tetapi juga harus diteruskan kepada seluruh staf di masing-masing bagian agar pemahaman terhadap aturan dan tanggung jawab pekerjaan semakin merata.

Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP., FIHA, mengatakan peserta kegiatan sengaja diprioritaskan dari unsur pimpinan dan penanggung jawab unit pelayanan.

Menurutnya, para kepala ruangan dan unit memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kembali informasi yang diperoleh kepada pegawai di bawah koordinasi masing-masing.

“Untuk yang hadir di kegiatan sharing session ini dari para kepala, seperti kepala ruangan, unit, termasuk manajemen. Harapannya, lewat kepala-kepala ini bisa mentransfer informasinya kepada para staf di bawahnya,” ujar Suhardi, Senin (2/11/2026).

Ia menjelaskan, kegiatan bersama Kejaksaan tersebut difokuskan pada peningkatan wawasan mengenai ketentuan hukum yang berkaitan dengan pekerjaan di lingkungan rumah sakit.

Pemahaman tersebut diperlukan karena setiap unit memiliki tugas, kewenangan, dan tanggung jawab berbeda, baik dalam pelayanan kesehatan maupun pengelolaan administrasi.

Suhardi berharap materi yang diperoleh dapat menjadi bekal para pimpinan unit dalam memberikan arahan kepada staf, terutama ketika menghadapi persoalan yang berkaitan dengan ketentuan hukum.

Penyampaian informasi secara berjenjang juga dinilai lebih efektif untuk menjangkau pegawai yang tidak mengikuti kegiatan secara langsung.

“Melalui pola penyampaian informasi secara berjenjang tersebut, pemahaman hukum dapat menjangkau lebih banyak pegawai, bukan hanya mereka yang mengikuti kegiatan secara langsung,” jelasnya.

Menurut Suhardi, peningkatan pemahaman hukum perlu diikuti penerapan aturan dalam pekerjaan sehari-hari, termasuk kepatuhan terhadap regulasi dan standar operasional prosedur (SOP).

Ia berharap para kepala ruangan, kepala unit, dan manajemen dapat memastikan informasi yang diperoleh dari kegiatan tersebut diteruskan kepada staf sesuai kebutuhan masing-masing bagian. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

Sudah Berjalan Empat Tahun, RSUD Bontang Ingin Edukasi Hukum Bersama Kejaksaan Terus Berlanjut

0
RSUD Taman Husada Bontang menggelar kegiatan edukasi hukum bersama Kejaksaan. (Dwi S/Media Kaltim)

BONTANG – RSUD Taman Husada Bontang berupaya mempertahankan kerja sama edukasi hukum bersama Kejaksaan sebagai agenda rutin tahunan. Kegiatan yang diperkirakan telah berlangsung selama tiga hingga empat tahun terakhir itu dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman pegawai terhadap aturan, kewenangan, dan tanggung jawab hukum dalam menjalankan pelayanan kesehatan.

Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP., FIHA, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana pembekalan pegawai agar lebih memahami ketentuan hukum yang berkaitan dengan pekerjaan mereka.

Menurutnya, rumah sakit memiliki beragam aktivitas pelayanan dan administrasi yang harus dijalankan sesuai regulasi. Karena itu, pemahaman hukum tidak hanya diperlukan tenaga medis, tetapi juga pegawai yang menangani bidang lainnya.

“Untuk bekerja sama dengan pihak kejaksaan terkait hukum, kami inginnya kegiatan seperti ini bisa terlaksana setiap tahunnya. Dengan begitu, para pegawai di lingkungan RSUD Taman Husada lebih paham mengenai hukum dalam bekerja,” ujar Suhardi, Senin (2/11/2026).

Ia menjelaskan, kegiatan bersama Kejaksaan bukan kali pertama dilaksanakan. RSUD Taman Husada telah beberapa kali menggelar sosialisasi dan diskusi mengenai persoalan hukum dalam lingkungan kerja.

“Di tahun sebelumnya juga kita sempat menggelar kegiatan seperti ini. Kalau tidak salah, sudah berjalan di tiga atau empat tahun terakhir ini,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, pegawai mendapat kesempatan memperluas pengetahuan mengenai ketentuan hukum yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas masing-masing.

Suhardi menilai pemahaman terhadap batas kewenangan, regulasi, dan standar operasional prosedur (SOP) perlu terus diperkuat untuk mengurangi risiko kesalahan dalam bekerja.

Selain memberikan pembekalan, kegiatan bersama Kejaksaan juga diharapkan menjadi ruang diskusi ketika pegawai menghadapi persoalan hukum yang berkaitan dengan tanggung jawab pekerjaan.

Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga pegawai semakin cermat dalam mengambil keputusan dan menjalankan pelayanan sesuai ketentuan yang berlaku. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

Operator Endoskopi RSUD Bontang Masih Terbatas, Baru Satu Dokter Miliki Kompetensi Terverifikasi

0
Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP., FIHA. (Dwi S/Media Kaltim)

BONTANG – RSUD Taman Husada Bontang masih memiliki keterbatasan tenaga dokter untuk menjalankan layanan endoskopi. Hingga kini, baru satu dokter yang memiliki kompetensi terverifikasi sebagai operator tindakan tersebut. Meski demikian, pelayanan tetap didukung tim keperawatan dan anestesi untuk memastikan prosedur medis berjalan sesuai standar keselamatan pasien.

Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP., FIHA, mengatakan tindakan endoskopi membutuhkan keterampilan khusus sehingga tidak dapat dilakukan oleh sembarang tenaga medis.

Menurutnya, dokter yang bertindak sebagai operator harus memiliki kompetensi sesuai jenis tindakan yang dilakukan. Kualifikasi tersebut menjadi salah satu persyaratan penting dalam penyelenggaraan pelayanan.

“Kalau untuk operator dokternya hanya satu saja yang punya kompetensi terverifikasi. Untuk dokter gigi sebagai pelaksana endoskopinya dibantu dengan tim keperawatan, sama dari tim anestesi untuk pembiusan. Tapi dokternya dokter gigi spesialis bedah,” jelas Suhardi, Senin (2/11/2026).

Ia menjelaskan, pelaksanaan tindakan yang dimaksud melibatkan dokter gigi spesialis bedah sebagai operator, dengan dukungan tenaga kesehatan dari bidang lain.

Tim keperawatan bertugas membantu persiapan dan kebutuhan selama prosedur berlangsung. Sementara tim anestesi menangani pembiusan pasien sesuai kebutuhan tindakan.

Keterlibatan tenaga medis lintas bidang tersebut diperlukan karena prosedur endoskopi tidak hanya bergantung pada keterampilan dokter operator, tetapi juga kesiapan tim pendukung.

Suhardi menegaskan, kompetensi tenaga pelaksana menjadi perhatian rumah sakit dalam menjaga mutu pelayanan.

Selain penguasaan penggunaan peralatan, tindakan medis juga harus mengikuti prosedur yang berlaku untuk mengurangi risiko terhadap pasien.

Dengan ketersediaan satu dokter operator yang telah terverifikasi, RSUD Taman Husada tetap menjalankan layanan sesuai kemampuan tenaga medis dan dukungan fasilitas yang tersedia.

“Dengan dukungan tenaga medis tersebut, RSUD Taman Husada Bontang berupaya memastikan pelayanan endoskopi tetap berjalan dengan memperhatikan kompetensi tenaga pelaksana serta keselamatan pasien,” ungkapnya. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S