Beranda blog Halaman 153

Aset Gedung Metro Dikembalikan ke Pemprov, Samarinda Cari Lokasi Pengganti

0
Foto: Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Nurrahmani, saat diwawancarai. (Abdi/Media Kaltim)

SAMARINDA – Fasilitas pengujian kendaraan bermotor (Uji KIR) Kota Samarinda dipastikan akan segera berpindah tempat. Hal ini menyusul adanya permintaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) yang ingin mengambil kembali aset lahan dan bangunan Gedung Metro yang selama ini dipinjam pakai oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.

Kepala Dinas Perdagangan (Kadisdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, membenarkan kabar penarikan aset tersebut. Menurutnya, langkah yang diambil Pemprov Kaltim tidak dilakukan secara mendadak, melainkan sudah dikoordinasikan sejak tahun lalu.

“Jadi memang Gedung Metro itu lahan dan gedungnya milik provinsi. Mereka tidak mendadak, karena sejak tahun kemarin sudah menyampaikan bahwa aset tersebut harus dikembalikan. Penggunaannya juga melibatkan beberapa pihak lain, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Selama ini, Gedung Metro menjadi fasilitas vital bagi Dinas Perdagangan dalam melakukan pengujian kelaikan kendaraan bermotor, khususnya kendaraan angkutan berat. Di dalam area tersebut terdapat berbagai infrastruktur teknis yang mendukung proses pengujian kendaraan.

“Ketika ada pengujian mobil, kendaraan masuk ke sana. Di bawahnya ada bak kontrol dan fasilitas lainnya. Truk-truk besar masuk ke situ untuk pengujian. Kami juga memiliki layanan pengujian keliling yang mendatangi SPBU maupun pasar,” jelas Nurrahmani.

Meski layanan pengujian masih berjalan aktif, ia mengungkapkan fasilitas tersebut sudah tidak lagi memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi sejak dua tahun terakhir akibat perubahan regulasi dari pemerintah pusat.

Menurutnya, saat ini pihak legislatif tengah mengkaji kemungkinan adanya celah regulasi agar fungsi retribusi dapat kembali diterapkan dalam bentuk lain yang sesuai aturan.

“Dulu memang ada retribusi. Namun setelah ada perubahan aturan dari pemerintah pusat, retribusi itu tidak lagi diperbolehkan. Nanti akan dikaji kembali bersama DPRD untuk melihat kemungkinan pengaturannya melalui perda,” katanya.

Nurrahmani menegaskan fasilitas pengujian kendaraan merupakan kebutuhan wajib yang harus dimiliki setiap daerah karena memiliki standar teknis tersendiri.

“Bangunan ini bukan sekadar gedung biasa. Ada bak kontrol, fasilitas pengujian, indikator teknis, dan berbagai sarana pendukung yang memang harus tersedia,” paparnya.

Untuk itu, Disdag Samarinda telah mengusulkan pembangunan fasilitas baru kepada Pemerintah Kota Samarinda. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), pembangunan fisik nantinya akan ditangani Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

“Kami sudah mengusulkan ke pemerintah kota. Karena urusan pembangunan gedung tentu lebih tepat ditangani PUPR. Kami sudah berkoordinasi dengan Bappeda terkait hal tersebut,” ujarnya.

Terkait lokasi, Pemkot Samarinda telah menyiapkan lahan di kawasan Samarinda Seberang yang dinilai layak berdasarkan hasil kajian teknis dan kontur tanah.

“Kami sudah menyiapkan lokasi di wilayah Samarinda Seberang, tepatnya kawasan Mangkupalas atau Seko. Sudah dilakukan pembahasan bersama BPKAD dan pihak terkait. Lahan tersebut merupakan aset milik Pemkot Samarinda,” jelasnya.

Hingga kini, besaran anggaran pembangunan gedung baru masih menunggu penyusunan Detail Engineering Design (DED). Sementara itu, Pemprov Kaltim belum memberikan batas waktu khusus, namun meminta agar proses persiapan pengembalian aset dapat segera dilakukan.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

SMA Taruna Nusantara IKN Bersiap Terima 477 Siswa dari Seluruh Indonesia

0
Foto: Pamong administrasi SMA Taruna Nusantara Kampus IKN mulai berdatangan untuk mempersiapkan operasional tahun ajaran baru 2026/2027. (Humas Otorita IKN)

NUSANTARA – SMA Taruna Nusantara (TN) Kampus Ibu Kota Nusantara (IKN) semakin siap menyambut tahun ajaran 2026/2027. Puluhan pamong administrasi mulai berdatangan ke Nusantara sebagai bagian dari persiapan operasional sekolah yang dalam waktu dekat akan diisi siswa dari berbagai provinsi di Indonesia.

Di lingkungan SMA Taruna Nusantara, istilah pamong digunakan untuk menyebut tenaga pendidik, pengasuh, serta personel pendukung yang berperan dalam proses pembelajaran, pembinaan karakter, dan operasional sekolah berasrama.

Kepala SMA Taruna Nusantara IKN Brigjen TNI Rudi Setiawan mengatakan kedatangan para pamong menjadi tahapan penting dalam mempersiapkan aktivitas pendidikan di kampus baru yang berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN.

“Pamong administrasi sudah tiba di IKN. Sebagian datang melalui jalur udara sejak 21 Juni, sementara yang menggunakan jalur laut bersama material, kendaraan operasional, dan perlengkapan sekolah tiba hari ini. Saat ini seluruh pamong administrasi sudah berada di IKN,” ujarnya, Senin (23/6/2026).

Menurut Rudi, saat ini SMA Taruna Nusantara IKN memiliki 37 pamong pengajar dan pengasuh serta 72 pamong administrasi. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring perkembangan sekolah dan peningkatan jumlah peserta didik pada tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, para pamong pengajar dan pengasuh masih menjalani pembekalan di Magelang dan dijadwalkan bergabung ke IKN pada 25 Juni 2026.

Selain mempersiapkan sumber daya manusia, sekolah juga tengah menyambut kedatangan 477 siswa yang akan menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Sebanyak 237 siswa yang akan naik ke kelas XI dijadwalkan tiba di IKN pada 9 Juli 2026. Mereka merupakan angkatan pertama SMA Taruna Nusantara IKN yang sebelumnya menjalani pendidikan di Magelang karena kampus IKN masih dalam tahap pembangunan.

Sementara 240 siswa baru kelas X terlebih dahulu mengikuti Pendidikan Dasar Kedisiplinan (PDK) selama tiga bulan di Magelang sebelum bergabung ke kampus IKN pada awal Oktober 2026.

“Ketika sekolah ini mulai menerima siswa, bangunannya masih dalam proses pembangunan sehingga para siswa menjalani pendidikan terlebih dahulu di Magelang. Tahun ini mereka akan naik ke kelas XI dan mulai menempati kampus di IKN,” jelas Rudi.

Sebagai sekolah berasrama dengan sistem beasiswa penuh, SMA Taruna Nusantara terus menjadi salah satu sekolah unggulan yang diminati pelajar dari seluruh Indonesia. Seluruh siswa yang diterima memperoleh fasilitas pendidikan dan pembinaan tanpa biaya sehingga proses seleksi dilakukan secara ketat.

Rudi menjelaskan pembangunan kampus dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama yang telah selesai 100 persen mencakup ruang kelas, laboratorium, Main Hall, serta asrama putra dan putri.

Tahap kedua yang saat ini masih berlangsung meliputi pembangunan rumah dinas kepala sekolah dan pamong, tambahan asrama, lapangan upacara, poliklinik, laundry, garasi kendaraan, hingga fasilitas pengelolaan sampah.

“Pembangunan tahap kedua kami targetkan selesai sekitar Oktober atau November tahun ini,” katanya.

Selanjutnya, tahap ketiga akan difokuskan pada pembangunan fasilitas penunjang seperti Balairung Pancasila, Sport Center, lapangan sepak bola dan atletik, kolam renang, lapangan tenis, lapangan voli, fasilitas olahraga indoor, masjid, serta gereja.

“Kami mengupayakan seluruh pembangunan SMA Taruna Nusantara IKN dapat selesai pada tahun 2027,” ujarnya.

SMA Taruna Nusantara IKN merupakan satu dari tiga kampus baru yang dibangun di luar Pulau Jawa. Selain di IKN, kampus serupa juga dibangun di Langowan, Sulawesi Utara, dan Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Menurut Rudi, seluruh kampus menerapkan standar pendidikan, kurikulum, dan sistem pembinaan yang sama dengan SMA Taruna Nusantara Magelang.

“Tujuan jangka panjang SMA Taruna Nusantara adalah mencetak calon-calon pemimpin bangsa dalam menghadapi Indonesia Emas 2045. Karena itu kami menjaring siswa terbaik dari seluruh provinsi untuk dididik bersama,” katanya.

Terkait peluang bagi pelajar Kalimantan Timur, ia menegaskan tidak ada jalur khusus maupun kuota daerah. Namun keberadaan sekolah di IKN diharapkan memudahkan pelajar Kaltim memperoleh informasi dan pembinaan untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi.

Sementara itu, Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik sekaligus Juru Bicara Otorita IKN, Troy Pantouw, menilai kehadiran SMA Taruna Nusantara semakin melengkapi ekosistem pendidikan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN.

Menurutnya, pembangunan kampus tersebut menjadi bukti tingginya kepercayaan institusi pendidikan nasional terhadap masa depan Nusantara.

“Keberadaan SMA Taruna Nusantara sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan pentingnya sekolah unggulan dalam menyiapkan kader-kader bangsa yang berkarakter kuat, berintegritas, dan berjiwa patriotik,” ujar Troy.

Ia menambahkan, kehadiran SMA Taruna Nusantara juga diharapkan membuka peluang kolaborasi lebih luas antara pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia usaha sehingga semakin memperkuat posisi IKN sebagai kota masa depan yang unggul dalam bidang pendidikan.

Penulis: Humas Otorita IKN
Editor: Agus S.

Pendapatan Seret, Kaltim Hadapi Tekanan Fiskal dan Pemangkasan Anggaran

0
Foto: Wakil Ketua I DPRD Kaltim, Ekti Imanuel saat diwawancarai di Kompleks DPRD Kaltim, Samarinda. (K. Irul Umam/Media Kaltim)

SAMARINDA – Ancaman defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kalimantan Timur tahun 2026 dipastikan semakin nyata. DPRD Kaltim memperkirakan defisit daerah dapat mencapai sekitar Rp2 triliun akibat target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tidak tercapai sesuai proyeksi.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua I DPRD Kaltim, Ekti Imanuel, usai mengikuti Rapat Paripurna ke-15 DPRD Kaltim di Gedung B DPRD Kaltim, Jalan Teuku Umar, Samarinda, Senin malam (22/6/2026).

Menurut Ekti, kondisi tersebut sudah sulit dihindari meski berbagai upaya penyesuaian anggaran tengah dilakukan pemerintah daerah.

“Defisit Rp2 triliun itu pasti. Sudah tidak tercapai seperti apa pun, pasti,” tegasnya.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama membengkaknya defisit adalah realisasi PAD yang jauh dari target. Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya sejumlah sumber pendapatan daerah yang sebelumnya menjadi andalan.

Di tengah situasi tersebut, DPRD meminta agar setiap kebijakan pergeseran maupun penyesuaian anggaran dilakukan secara transparan dan melibatkan Badan Anggaran (Banggar).

Menurut Ekti, selama ini informasi terkait pergeseran anggaran justru kerap lebih dulu diketahui publik dibandingkan DPRD yang memiliki fungsi pengawasan terhadap penggunaan APBD.

“Kadang-kadang media yang tahu duluan, Banggar belakangan yang tahu. Jadi kami minta transparansi,” ujarnya.

Meski menghadapi tekanan fiskal, Ekti memastikan pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas dan tidak akan terdampak signifikan oleh kebijakan efisiensi anggaran.

Ia menegaskan proyek pembangunan jalan yang telah direncanakan tetap berjalan karena masih banyak kebutuhan infrastruktur dasar yang harus diselesaikan, terutama di wilayah pedalaman dan perbatasan.

“Kalau pembangunan jalan tetap berjalan. Yang mungkin dikurangi itu perjalanan dinas, makan minum, dan kegiatan-kegiatan operasional lainnya,” katanya.

Menurutnya, efisiensi lebih tepat diarahkan pada belanja operasional yang tidak bersentuhan langsung dengan pelayanan masyarakat.

Selain itu, DPRD juga menolak wacana pemangkasan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP). Ekti menilai kebijakan tersebut justru akan berdampak besar terhadap tenaga pelayanan publik seperti guru, perawat, tenaga kesehatan, dan ASN pelaksana lainnya.

Ia menegaskan TPP bukan hanya dinikmati pejabat struktural, melainkan juga menjadi bagian penting dari penghasilan aparatur yang bertugas melayani masyarakat setiap hari.

“Kalau TPP dipangkas, yang kena bukan hanya eselon dua atau eselon satu. Yang paling terasa justru guru dan perawat. Itu yang harus dipikirkan,” tandasnya.

DPRD Kaltim berharap pemerintah daerah dapat segera menyusun langkah penyesuaian anggaran secara terbuka dan terukur agar tekanan defisit tidak mengganggu pelaksanaan program prioritas maupun pelayanan dasar kepada masyarakat.

Penulis: K. Irul Umam
Editor: Agus S.

PLN Minta Gardu Khusus, Aktivasi Listrik Pasar Pagi Belum Temui Solusi

0
Foto: Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Nurrahmani saat menyampaikan keterangan terkait kendala kelistrikan Pasar Pagi. (Abdi/Media Kaltim)

SAMARINDA – Persoalan instalasi kelistrikan di Pasar Pagi Samarinda hingga kini belum menemukan titik terang. Belum adanya jaringan listrik yang mengalir langsung ke lapak para pedagang membuat pengoperasian pasar masih menghadapi kendala serius.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengungkapkan bahwa salah satu hambatan utama berasal dari persyaratan yang diajukan pihak PLN. Pemerintah Kota Samarinda diminta membangun gardu listrik sendiri sebelum sambungan dapat diteruskan ke tenant atau lapak pedagang.

“Dari PLN itu mensyaratkan supaya kita harus punya gardu sendiri. Gardu itu sendiri biayanya sekitar Rp2,7 miliar. Baru akan disambungkan ke masing-masing tenant,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Menurut Nurrahmani, kondisi tersebut menempatkan Pemkot Samarinda pada posisi yang cukup sulit. Di satu sisi, pemerintah berharap sistem penyambungan listrik dapat dilakukan seperti sambungan rumah tangga biasa, namun di sisi lain PLN memiliki standar teknis tersendiri yang harus dipenuhi.

“Diharapkan dari pemerintah kota meminta pembangunannya itu sama dengan listrik rumah biasa, yaitu menyambung dari rumah ke rumah. Makanya ini yang membuat kami berada di posisi sulit,” katanya.

Untuk mencari solusi, Disdag berharap DPRD Samarinda dapat memfasilitasi pertemuan antara pemerintah daerah dan PLN agar diperoleh kesepahaman mengenai standar dan mekanisme penyambungan listrik di Pasar Pagi.

“Bisakah kami mohon kepada dewan untuk memfasilitasi ini supaya SOP PLN dan standar yang diinginkan pemerintah kota bisa menemukan titik temu,” tambahnya.

Di tengah kebuntuan tersebut, Nurrahmani mengungkapkan bahwa para pedagang sebenarnya menunjukkan itikad baik untuk membantu pembiayaan. Hasil komunikasi yang dilakukan Disdag menunjukkan sebagian besar pedagang bersedia ikut menanggung biaya tambahan apabila diperlukan untuk percepatan penyediaan listrik.

“Kami sudah komunikasi dengan pedagang. Pada intinya mereka siap membantu pendanaan itu. Misalnya ada tambahan biaya untuk pembangunan trafo atau gardu, mereka bersedia ikut menanggung,” jelasnya.

Bahkan, menurutnya, para pedagang tidak keberatan jika nantinya terdapat penyesuaian biaya layanan yang dibebankan secara bertahap sebagai bagian dari pengembalian investasi pembangunan fasilitas kelistrikan.

Meski demikian, persoalan ini dinilai mendesak karena Pemkot Samarinda telah menargetkan pengisian lapak yang masih kosong pada Agustus mendatang. Saat ini masih terdapat sekitar 1.500 lapak yang belum ditempati pedagang.

“Agustus ini kami sudah menyampaikan surat kepada pedagang bahwa lapak harus ditempati. Kalau tidak ditempati akan kami tarik dan diberikan kepada pedagang lain yang siap berjualan,” tegas Nurrahmani.

Ia juga mengingatkan bahwa meskipun anggaran pembangunan gardu disetujui sekarang, prosesnya tidak bisa dilakukan secara instan. Mulai dari tahapan administrasi, pengadaan hingga pembangunan fisik diperkirakan memerlukan waktu lebih dari tiga bulan.

“Kalau pun Rp2,7 miliar itu disetujui sekarang, prosesnya tidak seketika. Ada tahapan lelang, administrasi, kemudian pembangunan. Itu bisa memakan waktu lebih dari tiga bulan,” ujarnya.

Karena itu, Disdag berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan agar aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda dapat berjalan optimal sesuai target yang telah ditetapkan pemerintah kota.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

Kebocoran Pipa hingga Truk Tabrak Jaringan, Distribusi Air PTMB Terganggu

0
Foto: Tim PTMB berdialog dengan warga terdampak gangguan distribusi air bersih di kawasan BDS dan Jalan Manunggal. (Istimewa)

BALIKPAPAN – Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) terus mempercepat pemulihan layanan air bersih bagi pelanggan di kawasan Balikpapan Damai Sejahtera (BDS), Jalan Manunggal, Kampung Buton, dan wilayah sekitarnya yang terdampak gangguan distribusi dalam beberapa hari terakhir.

Gangguan tersebut terjadi akibat rangkaian persoalan yang berlangsung beruntun pada jaringan distribusi utama sehingga proses normalisasi membutuhkan waktu lebih lama dibanding penanganan gangguan biasa.

Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharddin, menjelaskan gangguan awal terdeteksi pada 15 Juni 2026 ketika tekanan distribusi air ke kawasan Jalan Manunggal, BDS 2, dan sekitarnya mulai mengalami penurunan.

Kondisi itu semakin memburuk setelah terjadi kebocoran pada pipa air baku Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kampung Damai pada 19 Juni 2026 yang berdampak pada menurunnya pasokan air ke pelanggan.

“Setelah perbaikan dilakukan dan proses normalisasi mulai berjalan, gangguan kembali terjadi pada 21 Juni 2026 akibat insiden eksternal berupa kecelakaan truk di Simpang Tiga BDS. Kendaraan tersebut menabrak jembatan pipa hingga merusak jaringan distribusi. Peristiwa ini membuat proses pemulihan layanan kembali tertunda,” ujar Yudhi, Selasa (23/6/2026).

Foto: Petugas PTMB melakukan perbaikan pipa distribusi untuk mempercepat normalisasi layanan air bersih. (Istimewa)

Sebagai bentuk tanggung jawab kepada pelanggan, Yudhi bersama jajaran manajemen turun langsung ke lapangan pada 21 Juni 2026 untuk berdialog dengan warga terdampak. Dalam pertemuan tersebut, PTMB menjelaskan kondisi teknis yang terjadi sekaligus langkah-langkah yang sedang dilakukan untuk mempercepat pemulihan.

Di tengah proses penanganan, PTMB juga melakukan berbagai metode investigasi jaringan guna memastikan sumber gangguan ditemukan secara tepat. Salah satunya dengan pemasangan gate valve di kawasan Gerbang BDS 2 pada 22 Juni 2026 untuk mempersempit area pencarian gangguan.

Dari hasil evaluasi teknis dan pengukuran debit, tim akhirnya menemukan kebocoran pada pipa induk utama di jalur distribusi Jalan Manunggal yang selama ini menghambat proses normalisasi.

Pada Selasa (23/6/2026), sejumlah warga kembali menyampaikan aspirasi terkait belum normalnya distribusi air di beberapa kawasan. Menanggapi hal tersebut, PTMB kembali membuka ruang komunikasi melalui dialog langsung yang dipimpin Direktur Operasional Ali Rachman, didampingi Manajer Sekretaris Perusahaan Abdul Ramli dan Manajer Distribusi Indra Gunawan.

“Setiap keluhan pelanggan menjadi perhatian serius karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Selama proses penanganan berlangsung, tim teknis terus bekerja melakukan penelusuran, penggalian, perbaikan hingga pengujian jaringan distribusi,” katanya.

PTMB menyampaikan bahwa proses perbaikan pada jalur pipa distribusi di Jalan Manunggal telah selesai dilaksanakan pada Selasa (23/6/2026) pukul 16.15 Wita.

Meski demikian, aliran air belum dapat langsung normal karena masih harus melalui tahapan pengisian jaringan pipa, pengaturan tekanan, dan stabilisasi sistem distribusi secara bertahap.

“Masyarakat perlu memahami bahwa proses normalisasi tidak dapat terjadi secara instan setelah perbaikan selesai dilakukan. Air harus terlebih dahulu mengisi jaringan pipa yang kosong, membangun kembali tekanan distribusi, dan memastikan seluruh sistem beroperasi dalam kondisi aman dan stabil,” tegas Yudhi.

Karena itu, pemulihan aliran akan berlangsung secara bertahap menyesuaikan kondisi jaringan dan topografi wilayah pelayanan.

PTMB juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat atas kesabaran dan pengertian selama proses penanganan berlangsung.

“Hingga saat ini seluruh tim masih bekerja di lapangan untuk memastikan proses normalisasi berjalan dengan baik. Kami memahami kebutuhan masyarakat akan layanan air bersih dan akan terus berupaya semaksimal mungkin sampai distribusi kembali normal,” tutupnya.

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S.

BLT-DD Triwulan II Cair, Warga Tondoh Diharap Gunakan untuk Kebutuhan Pokok

0
Foto: Petinggi Kampung Tondoh, Rendy Saputra, saat mendampingi penyerahan BLT-DD kepada keluarga penerima manfaat di Kantor Satu Atap Kampung Tondoh. (Dok. Istimewa)

SENDAWAR – Pemerintah Kampung Tondoh, Kecamatan Mook Manaar Bulant, menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) Triwulan II Tahap II Tahun 2026 di Kantor Satu Atap Kampung Tondoh, Senin (22/6/2026).

Penyaluran bantuan tersebut diberikan kepada 11 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) untuk periode April hingga Juni 2026.

Masing-masing KPM menerima bantuan sebesar Rp900 ribu yang disalurkan secara rapel untuk tiga bulan. Total anggaran yang disalurkan dalam kegiatan tersebut mencapai Rp9,9 juta.

Petinggi Kampung Tondoh, Rendy Saputra, mengatakan program BLT-DD merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

“Kami berharap kepada Keluarga Penerima Manfaat agar bantuan Rp900 ribu ini digunakan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi masyarakat di tengah berbagai kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat.

Rendy juga menjelaskan bahwa mekanisme penyaluran BLT-DD dilakukan setiap tiga bulan sekali atau secara rapel sesuai ketentuan yang berlaku.

“Pencairannya dilakukan tunai setiap tiga bulan sekali atau dirapel, sehingga masyarakat dapat langsung memanfaatkannya sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Pemerintah Kampung Tondoh memastikan proses penyaluran berjalan tertib dan tepat sasaran sesuai data penerima manfaat yang telah ditetapkan sebelumnya.

Melalui program tersebut, pemerintah kampung berharap bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta membantu menjaga ketahanan ekonomi keluarga penerima manfaat.

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.

Komisi II Soroti Dominasi Belanja Operasional di Dinas Perdagangan Samarinda

0
Foto: Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, saat menyampaikan pandangannya dalam pembahasan serapan anggaran Dinas Perdagangan. (Abdi/Media Kaltim)

SAMARINDA – Komisi II DPRD Kota Samarinda melontarkan kritik tajam terhadap struktur realisasi anggaran Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda pada Semester I Tahun Anggaran 2026.

Meski secara administratif tingkat serapan anggaran dinilai cukup baik, DPRD menemukan sebagian besar anggaran justru terserap untuk kebutuhan birokrasi dan operasional internal dibanding program yang langsung menyentuh pedagang maupun pasar rakyat.

Berdasarkan data per 18 Juni 2026 setelah pergeseran anggaran kedua, Disdag Samarinda mencatat realisasi anggaran sebesar Rp17,95 miliar atau 54,25 persen dari total pagu Rp33,77 miliar.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan angka tersebut memang terlihat baik dari sisi administratif. Namun, pihaknya menilai perlu ditelusuri lebih jauh apakah tingginya serapan itu benar-benar berasal dari pelaksanaan program atau justru didominasi pembayaran kewajiban dan operasional rutin.

“Memang serapannya lumayan, sudah 54,25 persen di pertengahan tahun setelah pergeseran kedua. Secara administratif ini bagus. Tapi yang terpenting bagi saya, serapan tinggi ini karena program berjalan atau karena pembayaran utang tahun sebelumnya?” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Setelah menelaah laporan anggaran secara rinci, Iswandi mengaku menemukan fakta bahwa lebih dari 95 persen penggunaan anggaran masih berada pada program penunjang birokrasi.

“Dari data yang satu lembar ini, kesimpulan saya, 95 persen lebih anggaran Dinas Perdagangan masih terserap pada program penunjang dibanding program langsung yang menyentuh pedagang dan pasar rakyat,” tegasnya.

Menurut Iswandi, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan anggaran pada organisasi perangkat daerah yang seharusnya fokus pada pelayanan publik dan pengembangan sektor perdagangan.

Ia juga menyoroti kemungkinan adanya kecenderungan sejumlah OPD memasukkan berbagai kegiatan ke dalam kategori program penunjang sehingga porsi belanja operasional terlihat lebih besar.

“Mungkin kita belum bisa melihat secara detail. Tetapi sering kali kegiatan-kegiatan tertentu disamarkan melalui program penunjang. Hampir semua OPD saya baca seperti itu, hanya saja kadang tidak kita kritisi,” katanya.

Berdasarkan kalkulasi sementara yang dilakukan Komisi II, sekitar 94,7 persen realisasi anggaran Disdag digunakan untuk kebutuhan birokrasi dan operasional internal.

Sementara program yang langsung berkaitan dengan fungsi utama dinas seperti pembinaan perdagangan, pasar rakyat, dan perlindungan konsumen hanya memperoleh porsi sekitar 3 hingga 4 persen.

“Dari serapan 54 persen tadi, sekitar 94,7 persen digunakan untuk birokrasi dan operasional. Sedangkan hanya 3 sampai 4 persen yang benar-benar digunakan untuk fungsi inti Dinas Perdagangan. Ini menjadi catatan penting,” ujarnya.

Selain itu, DPRD juga menyoroti lambatnya penyelesaian kewajiban utang belanja tahun sebelumnya. Dari total utang yang mencapai sekitar Rp536 juta, realisasi pembayaran pada semester pertama baru sekitar Rp17 juta.

Iswandi menegaskan ke depan DPRD akan meminta penjelasan lebih rinci terkait struktur penggunaan anggaran tersebut agar fungsi pelayanan kepada masyarakat tidak kalah besar dibanding kebutuhan birokrasi internal.

“Yang menjadi pertanyaan, apakah Dinas Perdagangan ini lebih banyak mengurus perdagangan, pasar rakyat, dan perlindungan konsumen, atau justru lebih banyak mengurus operasional birokrasi internalnya sendiri. Pertanyaan itu muncul karena saya menemukan angka 95 persen lebih tadi,” pungkasnya.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

Prabowo Sahkan Revisi UU Polri, Atur Jabatan Sipil hingga Usia Pensiun

0

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Koran Nusantara?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper lengkap
https://koran.koranusantara.com/

📱 Versi Mobile
https://digital.koranusantara.com/kn23juni2026/mobile/

Telurkan Beragam Prestasi di Tingkat Nasional, Andi Faiz Apresiasi Pegiat Pickleball Bontang

0
Foto: Ketua DPRD Bontang, sekaligus Ketua IPF Kaltim, Andi Faizal Sofyan Hasdam saat menghadiri pertandingan pickleball. (Ist). 

BONTANG – Pengurus dan pegiat pickleball di Kota Bontang mendapat apresiasi dari Ketua Indonesia Pickleball Federation (IPF) Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Faizal Sofyan Hasdam, lantaran berhasil mendorong perkembangan olahraga tersebut secara pesat.

Menurut Andi Faiz, antusiasme masyarakat terhadap pickleball di Bontang menjadi salah satu yang terbaik di Kaltim. Ia menilai semangat para atlet, pelatih, dan pengurus telah berkontribusi besar dalam meningkatkan kualitas dan prestasi olahraga yang tengah berkembang tersebut.

“Kalau kita lihat di Kota Bontang, alhamdulillah pegiat pickleball luar biasa. Tidak hanya di Bontang, tetapi di seluruh daerah di Kaltim terus meningkatkan kompetensi, kemampuan, dan keterampilan para atlet,” ujarnya, Minggu (21/6/2026).

Menurutnya, pembinaan yang dilakukan selama ini mulai menunjukkan hasil nyata, melalui prestasi di berbagai kejuaraan tingkat nasional.

Ia menyebut Kaltim telah berhasil melahirkan sejumlah atlet berprestasi, mulai dari kategori usia dini hingga mahasiswa. Bahkan, atlet-atlet daerah mampu bersaing dan meraih gelar juara dalam berbagai ajang nasional.

“Kita sudah melahirkan berbagai macam juara di tingkat nasional, baik untuk usia dini, kemudian pada Kejuaraan Nasional Mahasiswa, hingga Indonesia American Games. Bahkan dari Penajam Paser Utara (PPU) juga berhasil menjadi juara,” katanya. (Al/Adv)

Editor: Yusva Alam

Legislatif Pertanyakan Kelanjutan Wacana Proyek Pelabuhan Peti Kemas dan Industri Ikan

0
Foto: Anggota DPRD Bontang, Suharto (ist). 

BONTANG – Anggota DPRD Bontang menyoroti sejumlah proyek strategis yang pernah diwacanakan pemerintah, namun hingga kini belum terlihat kejelasan realisasinya.

Anggota Komisi B DPRD Kota Bontang, Suharno mempertanyakan perkembangan rencana pembangunan pelabuhan peti kemas dan industri pengalengan ikan, yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik.

Pasalnya, kedua proyek tersebut pernah digadang-gadang sebagai peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja baru, bagi masyarakat.

“Ada dua wacana, pelabuhan peti kemas dan pengalengan ikan. Itu bagaimana, saya mempertanyakannya,” katanya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas terkait komitmen pemerintah dalam mengembangkan potensi investasi yang ada.

Ia kembali menegaskan, pihaknya sangat perlu mengetahui sejauh mana progres dari kedua rencana tersebut, apakah masih menjadi prioritas investasi atau justru telah dihentikan.

“Sejauh mana sudah perkembangannya, apakah masih akan dilanjutkan atau tidak. Itu yang masih menjadi pertanyaan bagi saya,” ungkapnya.

Politisi itu menilai kepastian status proyek menjadi penting, agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. Selain itu, kejelasan investasi strategis juga dinilai dapat meningkatkan kepercayaan calon investor, terhadap iklim usaha di Kota Bontang.

Pertanyaan tersebut mencerminkan perhatian DPRD Bontang terhadap keberlanjutan program-program investasi yang pernah dijanjikan, sebagai bagian dari upaya diversifikasi ekonomi daerah. (Al/adv)

Editor: Yusva Alam