Beranda blog Halaman 127

Kecelakaan Tunggal di Bontang, Innova Ringsek Tabrak Pohon

0

BONTANG – Kecelakaan tunggal terjadi di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Gunung Elai, Kecamatan Bontang Utara, Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 23.00 Wita. Sebuah mobil jenis Toyota Innova dilaporkan menabrak pohon yang berada di pembatas jalan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, insiden tersebut diduga akibat pengemudi mengantuk saat berkendara. Kendaraan yang melaju diduga kehilangan kendali hingga akhirnya menghantam pohon di median jalan.

Akibat benturan keras tersebut, bagian depan mobil mengalami kerusakan cukup parah hingga ringsek.

Salah satu petugas kepolisian di lokasi, Ridho, menyebutkan bahwa pengemudi dan penumpang telah dievakuasi ke RS Amalia Bontang untuk mendapatkan penanganan medis.

“Untuk sopir dan penumpang sudah dilarikan ke rumah sakit. Kami belum mengetahui pasti kondisi mereka, namun ada indikasi penumpang mengalami luka cukup serius,” ujarnya.

Petugas yang menerima laporan segera menuju lokasi kejadian untuk melakukan penanganan, sekaligus mengamankan arus lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan.

“Kejadian sudah berlangsung sekitar satu jam sebelum kami tiba. Saat ini masih dalam proses pendalaman penyebab kecelakaan,” tambahnya.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat agar selalu memastikan kondisi tubuh dalam keadaan prima saat berkendara, terutama pada malam hari, guna menghindari risiko kecelakaan akibat kelelahan atau mengantuk.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa faktor human error masih menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas di jalan raya. (MK)

Penulis: Dwi S
Editor: Agus S

OIKN Belum Tetapkan Pengelola Tetap Pasar Sepaku

0

NUSANTARA – Pengelolaan Pasar Segar Sepaku masih dalam tahap penyesuaian. Selama tiga bulan awal operasional, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memilih menerapkan sistem ad hoc sebagai langkah sementara sambil merumuskan pola pengelolaan yang lebih tepat.

Kepala Biro Keuangan, Barang Milik Negara (BMN), dan Aset Dalam Penguasaan OIKN, Muji Budda’wah, menjelaskan bahwa pihaknya tidak ingin tergesa-gesa dalam menentukan skema pengelolaan pasar yang baru dibangun tersebut.

“Salah satu yang menjadi pandangan sementara adalah pengelola pasar Perumda Pasar Jaya di Jakarta,” ujarnya.

OIKN berencana mempelajari sistem yang diterapkan Pasar Jaya yang telah berpengalaman mengelola ratusan pasar, baik tradisional maupun modern, khususnya dalam menjaga ketertiban, keamanan, dan stabilitas harga bahan pokok.

Menurut Muji, berbagai aspek masih akan dikaji secara menyeluruh, termasuk model kelembagaan pengelola, pembagian peran antar pihak, hingga skema pembagian pendapatan.

“Semua akan dipelajari dulu, supaya kita dapat bentuk pengelolaan yang pas. Di sini ada Otorita, Pemkab, kecamatan, sampai desa, semuanya perlu dikaji,” jelasnya.

Terkait kemungkinan keterlibatan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) maupun unsur kecamatan, hingga kini belum ada keputusan final. Namun OIKN membuka peluang keterlibatan berbagai pihak setelah formulasi pengelolaan ditetapkan.

Selama masa ad hoc, OIKN juga belum memberlakukan retribusi resmi pasar. Meski demikian, pedagang tetap dikenakan iuran tertentu, seperti biaya kebersihan, untuk menjaga operasional dasar pasar tetap berjalan.

Otorita mengakui, keterbatasan sumber daya manusia yang berpengalaman dalam pengelolaan pasar menjadi salah satu alasan kehati-hatian dalam menentukan kebijakan.

Dengan pendekatan ini, OIKN berharap dapat menghadirkan sistem pengelolaan pasar yang tidak hanya tertib dan profesional, tetapi juga mampu mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan IKN secara berkelanjutan. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Penataan Taman Baqa Samarinda Butuh Rp6 Miliar, Baru Terealisasi Separuh

SAMARINDA – Upaya Pemerintah Kota Samarinda untuk mempercantik kawasan Samarinda Seberang melalui proyek Taman Baqa terus berlanjut. Wali Kota Andi Harun memastikan penyelesaian sesuai desain utuh akan menjadi prioritas pada tahun anggaran berikutnya.

Hingga kini, progres pembangunan Taman Baqa baru terealisasi sebagian. Hal tersebut disebabkan keterbatasan anggaran yang membuat pengerjaan harus dilakukan secara bertahap.

“Kita sudah memiliki full design-nya, tapi karena anggaran terbatas, saat ini baru berjalan separuh,” ujarnya.

Salah satu fokus penataan adalah integrasi ruang terbuka publik dengan fasilitas sanitasi. Untuk menjaga estetika kawasan, akses masuk Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Sungai Keledang kini dialihkan menghadap ke Sungai Mahakam, tidak lagi ke arah taman.

Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus menjaga tampilan kawasan tetap bersih dan tertata.

Selain itu, konsep penataan tidak hanya mencakup taman, tetapi juga meliputi infrastruktur jalan di sekitar akses jembatan, jalur pedestrian yang ramah bagi warga, hingga penyelarasan lanskap dengan bantaran sungai.

“Penataan ini mencakup jalan, pedestrian, dan lanskap kawasan agar terintegrasi,” jelasnya.

Untuk merealisasikan seluruh konsep tersebut, dibutuhkan anggaran sekitar Rp6 miliar. Namun pada tahap awal, Pemkot Samarinda baru mengalokasikan sekitar Rp3 miliar.

“Kalau full design dengan TPS, taman, dan jalannya itu kurang lebih Rp6 miliar. Tapi baru kita anggarkan sekitar Rp3 miliaran. Insyaallah tahun depan kita bangun secara utuh,” tambahnya.

Pemkot optimistis, Taman Baqa dengan konsep baru nantinya dapat menjadi ikon ruang terbuka hijau di Samarinda Seberang sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.

“Doakan saja, mudah-mudahan bisa kita selesaikan secara full design tahun depan,” pungkasnya. (MK)

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S

Meski Belum Rampung, Masjid Ash Shobirin Sudah Difungsikan untuk Ibadah

SAMARINDA – Kawasan Samarinda Seberang kini memiliki penanda baru. Masjid Ash Shobirin di Jalan Bung Tomo, Kelurahan Sungai Keledang, mulai difungsikan meski pembangunan belum sepenuhnya rampung.

Wali Kota Samarinda Andi Harun meninjau langsung progres pembangunan pada Kamis (26/3/2026). Ia memastikan fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah sudah berjalan sejak Ramadan lalu.

“Pekerjaannya belum seratus persen, mungkin masih butuh sekitar tiga bulan lagi untuk finishing. Tapi sejak 21 Ramadan kemarin sudah mulai dipakai masyarakat,” ujarnya.

Pembangunan ulang masjid ini dilakukan karena kondisi bangunan lama dinilai tidak lagi layak. Posisi masjid yang lebih rendah dari badan jalan membuat area kerap tergenang air, ditambah keterbatasan ruang parkir.

Menjawab keluhan tersebut, Pemkot Samarinda melakukan perombakan total. Kini, masjid berdiri dengan elevasi lebih tinggi serta penataan ruang yang lebih modern dan representatif.

“Dulu posisinya di bawah, sering tergenang, dan penataan ruangnya kurang mendukung. Karena itu kita bangun ulang agar lebih nyaman bagi jemaah,” jelasnya.

Salah satu daya tarik utama Masjid Ash Shobirin adalah desain arsitekturnya yang berbeda dari masjid pada umumnya. Konsep visual dibuat lebih ikonik agar mudah dikenali sebagai penanda kawasan.

Desain ini tidak hanya mempertimbangkan estetika, tetapi juga fungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan ruang interaksi masyarakat.

“Kita pilih desain yang unik supaya mudah dikenali. Harapannya bisa menjadi kebanggaan sekaligus tujuan wisata religi,” tambahnya.

Pemkot menargetkan seluruh proses finishing dapat diselesaikan dalam tiga bulan ke depan. Setelah itu, masjid akan diresmikan secara penuh sebagai fasilitas ibadah sekaligus ruang publik baru bagi warga Samarinda Seberang. (MK)

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S

Kasus Bumdes Bumi Harapan Berlanjut, IL Ditangkap Lagi Usai Menang Praperadilan

0

PENAJAM PASER UTARA – Penanganan kasus dugaan penyelewengan dana kepelabuhanan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Makmur Mandiri, Desa Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku, memasuki babak baru.

IL, mantan direktur Bumdes yang sebelumnya sempat menang dalam gugatan praperadilan, kembali diamankan oleh pihak Kejaksaan Negeri Penajam Paser Utara pada Jumat (27/3/2026) malam.

Dalam video yang beredar di media sosial, IL terlihat keluar dari gedung Kejari PPU dengan pengawalan petugas. Ia enggan memberikan banyak keterangan kepada wartawan dan hanya menjawab singkat.

“Aman,” ucapnya sebelum masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan petugas.

Kepala Seksi Intelijen Kejari PPU, Eko Purwanto, menjelaskan bahwa penangkapan kembali terhadap IL dilakukan setelah penyidik memperkuat alat bukti melalui pemeriksaan intensif.

Sedikitnya 50 saksi telah dimintai keterangan, disertai hasil audit yang menunjukkan adanya kerugian negara dalam jumlah besar.

“Sudah kita periksa 50 saksi, dan total kerugian negara sudah dihitung melalui audit, kurang lebih Rp9 miliar,” ungkapnya.

Kasus ini bermula dari laporan masyarakat pada awal 2025 terkait dugaan penyimpangan pengelolaan bongkar muat barang dan jasa di pelabuhan rakyat Desa Bumi Harapan.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari PPU, Christopher Bernata, menyebut penyelidikan mengarah pada dugaan tindak pidana korupsi yang berlangsung sejak 2022 hingga 2024, dengan estimasi awal kerugian mencapai Rp5 miliar.

Dalam perkembangannya, penyidik menetapkan dua tersangka, yakni mantan Kepala Desa Bumi Harapan periode 2018–2024 berinisial K, serta IL selaku mantan Direktur Bumdes periode 2022–2024.

Tak lama kemudian, tersangka lain berinisial MF yang menjabat sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan juga ikut ditahan pada akhir Januari 2026.

Dengan adanya penangkapan kembali IL, Kejari PPU menegaskan proses hukum tetap berjalan dan akan terus dikembangkan untuk mengungkap secara menyeluruh dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan pelabuhan desa tersebut. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Manfaatkan Lahan Tidur untuk Wujudkan Swasembada Pangan

BERAU – Pemanfaatan lahan tidur kembali didorong Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi. Hal itu agar program ketahanan pangan daerah dapat berjalan maksimal.

Dia mengatakan, potensi pertanian di Berau sangat besar. Untuk memaksimalkannya, menurut Sumadi, diperlukan juga luas lahan yang memadai.

“Kita sudah sampaikan bahwa banyak lahan yang sebenarnya bisa dikelola. Ini bukan lahan tidur, tapi memang belum digarap secara serius,” bebernya.

Dirinya mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mengambil langkah konkret agar potensi tersebut tidak terabaikan. Salah satu upaya yang disarankan Sumadi adalah peningkatan alokasi anggaran untuk Dinas Pertanian, termasuk dalam bentuk bantuan pupuk dan penguatan koperasi petani.

“Saat ini ada perkembangan positif dalam pemanfaatan lahan. Kita sudah mulai menanam padi di lahan seluas 895 Hektare. Ke depan, direncanakan ada tambahan lahan yang siap digarap,” jelasnya.

Politikus PKS ini juga mengapresiasi langkah Bulog yang mulai menyerap hasil panen petani lokal. Namun, masih diperlukan infrastruktur pendukung seperti gudang penyimpanan hasil pertanian yang memadai.

“Kita ingin Berau mandiri secara pangan, agar kebutuhan pokok kita tak terus bergantung dari luar daerah,” tegasnya. (adv)

Sorot Wilayah yang Belum Terpasang PJU

BERAU – Kondisi Penerangan Jalan Umum (PJU) yang padam di sejumlah titik wilayah Tanjung Redeb, mendapat sorotan dari Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman. Dirinya mendesak Dinas Perhubungan, untuk segera memasang lampu jalan di kawasan yang gelap, pasalnya hal itu telah menimbulkan keluhan dari masyarakat.

Tak hanya mengganggu visibilitas pengguna jalan, kondisi gelap gulita juga meningkatkan risiko tindak kriminalitas, terutama saat malam hari. “Kami menerima banyak laporan dari warga. Ini sangat mengganggu, dan bisa membahayakan. Kami minta OPD teknis segera turun tangan,” tegasnya.

Dirinya menekankan bahwa penerangan jalan merupakan bagian dari infrastruktur dasar yang harus menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Lampu jalan, menurutnya, bukan sekadar fasilitas, tapi penunjang utama keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

Sakirman juga mendorong agar dinas terkait melakukan pendataan dan pemeliharaan rutin terhadap seluruh PJU yang tersebar di wilayah Kabupaten Berau. Dengan begitu, kasus serupa tak terulang di tempat lain.

“Kita tidak ingin kejadian ini terus berulang. Maka dari itu, penting dilakukan pengecekan berkala, serta harus ada alokasi anggaran yang jelas untuk pemeliharaannya,” pungkasnya. (adv)

Maksimal Awasi Penggunaan APBD

BERAU – Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin berkomitmen akan menjalankan fungsi pengawasan terhadap penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja(APBD). Dia menuturkan, pengawasan perlu dilakukan, terlebih di tengah perubahan regulasi saat ini yang membatasi kewenangan legislatif daerah.

“Menjaga akuntabilitas sangat penting, terlebih juga mengenai transparansi penggunaan anggaran daerah,” tuturnya.

Dijelaskannya, meski kewenangan DPRD mengalami perubahan signifikan sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Pemda), legislatif tidak akan mengendurkan fungsi kontrol terhadap jalannya pemerintahan, khususnya dalam pengelolaan keuangan daerah.

“Kalau dulu DPRD bisa menolak Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) bupati, sekarang tidak lagi. Sesuai undang-undang, kami hanya memberikan rekomendasi, tapi bukan berarti kami tinggal diam. Fungsi pengawasan tetap kami jalankan,” tegasnya.

Ia menyebut kini kewenangan audit dan evaluasi akhir terhadap LKPJ kepala daerah berada sepenuhnya di tangan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Tapi DPRD tetap memiliki peran strategis dalam memberikan catatan, koreksi, maupun masukan atas pelaksanaan APBD.

“Makanya dalam setiap pembahasan anggaran dan evaluasi program, kami selalu aktif menyuarakan aspirasi masyarakat dan memastikan program pemerintah benar-benar menyentuh kebutuhan dasar warga,” tambahnya.

Menurut Thamrin, peran DPRD tidak hanya aktif dalam pengawasan pasca-pengesahan anggaran, tetapi juga sejak tahap awal perencanaan hingga pembahasan. Setiap proses tersebut menjadi ruang bagi DPRD untuk menilai prioritas program, memastikan kesesuaian anggaran dengan kebutuhan riil daerah dan mencegah penyimpangan.

Thamrin juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas anggota DPRD melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek). Sebab bimtek bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan instrumen penting untuk memperkuat pemahaman terhadap regulasi serta peran dan fungsi DPRD sebagai lembaga legislatif.

“Bimtek itu bagian dari penguatan kita. Semua tugas, dari penyusunan perda, pembahasan anggaran hingga pengawasan, memang harus dipahami secara mendalam agar pelaksanaannya maksimal. Itu bentuk tanggung jawab kita sebagai wakil rakyat,” ucapnya.

Dengan keterbatasan kewenangan yang ada, ia berharap anggota DPRD tetap adaptif, kritis dan solutif dalam setiap tahapan pengawasan.

DPRD Berau, lanjut Thamrin, akan terus berupaya menjaga fungsi kontrol yang konstruktif agar penyelenggaraan pemerintahan di daerah dapat berjalan lebih transparan, akuntabel dan berpihak pada kepentingan masyarakat. (adv)

Pariwisata Harus Siap Maksimal, Sutami: Kalau Ingin jadi Penyumbang PAD

BERAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau harus gencar mempersiapkan pariwisata. Pasalnya, kini penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari pertambangan.

Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami menegaskan, pariwisata dapat diandalkan ketika sektor tambang sudah tidak lagi berproduksi tinggi.

“Pariwisata harus jadi tumpuan pasca tambang, maka dari itu eksekutif, legislatif hingga kalangan masyarakat harus bersama menyiapkan wisata,” ungkapnya.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis harus benar-benar menyiapkan pariwisata secara maksimal.

“Promosi harus digencarkan, karena jika wisata yang kita miliki dikenal hingga mancanegara, tentunya bisa menggantikan tambang sebagai penyumbang besar PAD,” imbuhnya.

Meskipun promosi membutuhkan anggaran yang besar, lanjut Sutami, langkah tersebut akan lebih efektif dalam menjangkau wisatawan baru.

“Kami ingin Disbudpar melakukan promosi di tempat-tempat umum dan transportasi umum, baik di kota besar maupun di bandara. Ini bukan hanya untuk wisatawan yang sudah pernah ke Berau, tetapi untuk mereka yang belum mengenal Berau,” terangnya.

Sutami juga mendukung rencana pemisahan Dinas Pariwisata dengan Dinas Kebudayaan agar kedua sektor tersebut dapat lebih fokus dalam pengelolaannya.

“Menurut saya, pemisahan antara pariwisata dan kebudayaan akan lebih maksimal. Kedua sektor ini memiliki peran penting dan tantangan yang berbeda, sehingga perlu pengelolaan yang lebih spesifik,” katanya.

Lebih lanjut, Sutami menyampaikan bahwa Komisi II DPRD Berau membuka ruang untuk mendukung pariwisata, termasuk dari sisi anggaran.

“Alhamdulillah, semua anggota Komisi II sangat mendukung pariwisata. Sekecil apa pun anggaran yang masuk, itu sangat dibutuhkan. Kami juga terus memberikan masukan kepada Dinas Pariwisata, begitu juga sebaliknya,” bebernya.

Kendati demikian, politikus Gerindra ini menegaskan bahwa penguatan pariwisata bukan hanya soal promosi atau infrastruktur, tetapi juga memastikan keberlanjutan sektor ini sebagai tulang punggung ekonomi Berau di masa depan.

“Pariwisata bukan sekadar jualan semata. Ini adalah persiapan kita ke depan, sehingga harus dikelola secara serius dan berkesinambungan,” tutupnya. (adv)

Perlu Keterlibatan Dinkes dalam Penanggulangan Bencana

BERAU – Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin menilai Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau harus terlibat di setiap penanggulangan bencana. Dia mengatakan, ketika terdapat korban dalam bencana tentu bisa dilakukan secara cepat, tepat dan terkoordinasi.

“Penanganan bencana tidak hanya dilakukan saat kejadian berlangsung, tetapi harus mencakup prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana,” jelasnya.

Menurut Thamrin, dalam fase tersebut peran Dinkes Berau sangat krusial. Pasalnya untuk memastikan kesehatan masyarakat tetap terjaga.

“Setiap bencana harus ditangani secara menyeluruh. Dinkes harus turun langsung ke lapangan, tidak hanya saat tanggap darurat, tapi juga sebelum dan sesudah bencana terjadi,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan pengalamannya saat masih menjabat sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, di mana koordinasi lintas sektor menjadi kunci percepatan penanganan.

Menurutnya, kehadiran tim medis di lokasi bencana sangat penting, terutama untuk mengantisipasi munculnya penyakit pascabanjir seperti diare, infeksi kulit, dan gangguan pernapasan. “Waktu saya masih di BPBD, saya langsung koordinasikan seluruh OPD terkait. Tim medis kami bawa langsung ke lapangan,” ucapnya.

“Karena dampak kesehatan pascabanjir sering kali muncul belakangan, dan itu harus cepat ditangani,” sambungnya.

Thamrin juga memastikan bahwa Komisi I DPRD Berau akan terus mendorong Dinkes agar meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam pemulihan pascabencana.

“Pemda harus terus waspada. Dampak bencana tidak hanya soal kerusakan fisik, tapi juga kesehatan masyarakat. Dinkes harus jadi garda terdepan dalam pemulihan pascabencana,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya percepatan perbaikan infrastruktur dan sarana kesehatan yang terdampak bencana, agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu. Koordinasi yang solid antarinstansi dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam meminimalkan dampak bencana.

“Semuanya harus bekerja sama. Kalau ada sarana yang rusak, segera diperbaiki. Jangan tunggu terlalu lama, karena masyarakat yang jadi korban butuh perhatian segera,” tutupnya. (adv)