Beranda blog Halaman 105

Tabang Memanas, Dugaan Pengeroyokan Berujung Aksi Massa dan Pembakaran

0
Massa mendatangi sebuah warung di Desa Bilah Talang, Kecamatan Tabang, Kukar, Sabtu (8/8/2026). Warung tersebut kemudian dibakar setelah massa menuntut kejelasan terkait dugaan pengeroyokan yang menewaskan satu orang. (Istimewa)

TENGGARONG – Situasi di Desa Bilah Talang, Kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara (Kukar), memanas setelah satu orang meninggal dunia dalam peristiwa yang diduga merupakan pengeroyokan. Massa kemudian bergerak, merusak sejumlah rumah hingga membakar sebuah warung, Sabtu (8/8/2026).

Camat Tabang, Asmi Riyandi Elvander, mengatakan peristiwa yang menyebabkan satu orang meninggal dunia itu terjadi pada Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 22.00 Wita.

Awalnya, kejadian tersebut diduga merupakan kecelakaan. Namun setelah dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), muncul dugaan bahwa korban terlibat dalam pengeroyokan atau perkelahian.

“Dalam kejadian tersebut, satu orang meninggal dunia. Sementara satu orang lainnya mengalami luka dan kemudian menjalani perawatan,” kata Elvander saat dikonfirmasi, Sabtu (8/8/2026).

Informasi awal yang diterima menyebut sekitar 20 orang diduga terlibat dalam kejadian tersebut. Namun jumlah maupun keterlibatan masing-masing orang belum dapat dipastikan karena masih dalam penyelidikan Polsek Tabang.

“Sekarang ini proses penyelidikan oleh Polsek Tabang masih berjalan,” terangnya.

MASSA BERGERAK, WARUNG DIBAKAR

Dugaan pengeroyokan yang menyebabkan satu orang meninggal dunia itu kemudian memicu reaksi warga.

Pada Sabtu siang, massa bergerak mendatangi sejumlah lokasi yang disebut berkaitan dengan orang-orang yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut.

Sejumlah rumah dilaporkan mengalami perusakan. Massa juga mendatangi sebuah warung yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Menurut Elvander, warung tersebut selama ini menjadi salah satu tempat warga, termasuk anak muda, berkumpul pada malam hari.

“Warung tersebut selama ini menjadi salah satu tempat berkumpul warga, termasuk anak-anak muda, terutama pada malam hari,” tuturnya.

Massa datang untuk meminta penjelasan terkait kejadian yang menyebabkan satu orang meninggal dunia. Situasi kemudian memanas ketika massa merasa tidak mendapatkan penjelasan yang mereka harapkan.

Emosi massa memuncak hingga warung tersebut dibakar. Rekaman pembakaran kemudian beredar luas di media sosial.

“Massa itu pada waktu minta penjelasan, tidak kooperatif. Akhirnya, ya tadi ada beberapa emosi, sehingga terjadi pembakaran,” ujar Elvander.

TUNTUT POLISI SEGERA BERTINDAK

Setelah mendatangi sejumlah lokasi, massa menyampaikan tuntutan kepada aparat kepolisian. Mereka meminta kepastian hukum dan mendesak pihak-pihak yang terbukti terlibat segera diproses.

Menurut Elvander, massa memberikan waktu dua hari agar ada perkembangan penanganan perkara tersebut. Jika tidak ada kejelasan, massa disebut berpotensi kembali bergerak.

Meski terjadi perusakan dan pembakaran, Elvander memastikan tidak ada korban tambahan dalam aksi massa tersebut.

Pemerintah Kecamatan Tabang bersama aparat keamanan terus berupaya menjaga situasi agar tidak kembali memanas.

Masyarakat juga diminta tidak mengambil tindakan sendiri dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Penanganan perkara diminta sepenuhnya diserahkan kepada aparat kepolisian.

Elvander menegaskan tuntutan utama masyarakat adalah adanya kepastian hukum terhadap peristiwa yang menyebabkan satu orang meninggal dunia tersebut.

“Ini betul-betul real. Ini menuntutkan hukum, kemudian kepastian hukum dan secepatnya dalam langkah mengolah kejadian ini seperti itu,” tutupnya.

Reporter: Ady Wahyudi
Editor: Agus S.

Jangan Jual Wisata Sendiri-sendiri

0
Bersama Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Muhammad Faisal, didampingi Direktur Media Kaltim Rini Ernawati dan Direktur Radar Media Adhi Abdian, di Kantor Dinas Pariwisata Kaltim, Selasa (4/8).

SAYA mengenal Muhammad Faisal bukan setelah ia menjadi kepala dinas di Pemprov Kaltim. Jauh sebelum itu.

Waktu itu ia masih di bagian protokol Pemkot Samarinda. Saya juga masih wartawan lapangan dan kebetulan mendapat pos liputan di Pemkot Samarinda.

Kami cukup sering berkomunikasi. Terutama kalau berkaitan dengan agenda wali kota. Maklum, wartawan yang ngepos di pemkot memang hampir setiap hari berurusan dengan humas dan protokol.

Setelah itu, karier Pak Faisal terus naik. Ia menjadi Kabag Humas dan Protokol, kemudian beberapa kali memimpin organisasi perangkat daerah di Pemkot Samarinda.

Saya pun akhirnya meninggalkan pos liputan Kota Samarinda dan mendapat penugasan ke berbagai daerah. Mulai dari Balikpapan, Kutai Kartanegara, kemudian Bontang. Setelah itu, saya mulai membangun media sendiri. Kesibukan masing-masing membuat komunikasi kami tak lagi seintens ketika masih sering bertemu di lapangan.

Ngobrol soal pengembangan dan promosi pariwisata Kaltim bersama Muhammad Faisal di ruang kerjanya.

Pak Faisal kemudian pindah ke Pemprov Kaltim dan enam tahun memimpin Dinas Komunikasi dan Informatika. Kami sesekali masih bertemu. Namun tentu tidak lagi sesering dulu.

Selasa (4/8) lalu, saya kembali bertemu Pak Faisal. Kali ini di kantornya yang baru: Dinas Pariwisata Kaltim. Saya datang bersama Direktur Media Kaltim Rini Ernawati dan Direktur Radar Media Adhi Abdian.

Pak Faisal baru dilantik menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kaltim pada 29 Juni lalu. Pariwisata sebenarnya bukan barang baru. Ia pernah menjadi Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Kominfo Kota Samarinda, kemudian Kepala Dinas Pariwisata Samarinda. Istilah Pak Faisal: back to basic.

Menariknya, sebelum kepindahan Pak Faisal ke Dinas Pariwisata, saya dan teman-teman di Media Kaltim Network sebenarnya sudah cukup banyak berdiskusi tentang pariwisata.

Kami sedang mencoba memperbanyak tulisan wisata. Bukan sekadar memberitakan sebuah objek wisata, tetapi bagaimana membuat orang tertarik datang.

Karena itu, ketika ngobrol dengan Pak Faisal, pembicaraan cepat nyambung. Salah satunya soal pesut Mahakam.

Kalau kita hanya menulis ada pesut di Sungai Mahakam, mungkin biasa saja. Tetapi bagaimana kalau cara bercerita kita ubah?

Bahwa pesut Mahakam merupakan salah satu populasi lumba-lumba air tawar yang sangat langka di dunia. Bahwa wisatawan punya kesempatan melihat satwa langka itu langsung di habitatnya. Nilai ceritanya langsung berbeda.

Begitu juga Danau Kakaban di Berau. Orang selama ini mengenal Kakaban karena danaunya dan ubur-uburnya. Tetapi berapa banyak orang di luar Kaltim yang tahu bahwa wisatawan bisa berenang bersama ubur-ubur yang tidak menyengat di sana?

Hal-hal seperti itulah yang kami bicarakan cukup panjang. Kaltim sebenarnya tidak kekurangan objek wisata. Yang masih kurang adalah bagaimana mengemasnya menjadi alasan bagi orang untuk datang.

Pak Faisal kemudian memberi contoh yang lebih sederhana. Erau di Tenggarong. Selama ini masing-masing daerah cenderung mempromosikan acaranya sendiri. Tenggarong mempromosikan Erau. Samarinda mempromosikan Samarinda. Balikpapan juga berjalan sendiri.

Padahal wisatawan tidak mengenal batas administrasi seperti itu. Orang yang datang menonton Erau bisa saja menginap dua malam di Samarinda. Dari Samarinda disediakan transportasi pergi-pulang ke Tenggarong. Malam kembali lagi ke Samarinda.

Siapa yang mendapat uang? Hotel dapat. Rumah makan dapat. Sopir dapat. Pedagang oleh-oleh dapat. Tempat hiburan dapat. Tenggarong juga tetap mendapat kunjungan.

Satu wisatawan saja bisa mengeluarkan uang untuk hotel, makan beberapa kali sehari, transportasi, tiket, oleh-oleh, kopi, sampai hiburan.

Kalau datang satu keluarga? Kalau 20 orang? Kalau satu bus? Hitungannya tentu semakin besar.

Dari situ pembicaraan kami masuk ke persoalan yang menurut saya justru paling penting: ekosistem. Pak Faisal memberi contoh Jogja.

Wisatawan bisa ditawari becak dengan harga murah. Mengapa tukang becak mau? Karena perjalanan tidak berhenti pada ongkos becak. Wisatawan dibawa ke tempat batik, bakpia, kaus, dan tempat belanja lainnya. Semua kebagian.

Begitu pula paket wisata di banyak negara. Hotel memberikan harga khusus kepada travel. Restoran memberikan harga rombongan. Transportasi masuk dalam paket. Objek wisata ikut bergabung.

Masing-masing mungkin mendapat margin lebih kecil. Tetapi kalau wisatawannya jauh lebih banyak, semuanya tetap kebagian.

Di Kaltim, pola seperti ini yang masih perlu diperkuat. Hotel jangan hanya berpikir menjual kamar. Travel jangan hanya menjual perjalanan. Restoran jangan hanya menunggu orang datang. Pemerintah daerah juga jangan hanya sibuk mempromosikan objek wisatanya sendiri. Semua harus disambungkan.

Saya tertarik dengan cara Pak Faisal menghitung wisatawan. Bukan sekadar jumlah kunjungan.

Satu orang datang ke Kaltim berarti ada kursi pesawat yang terisi. Ada mobil yang digunakan. Ada kamar hotel yang terjual. Ada sarapan, makan siang dan makan malam. Ada kopi yang diminum. Ada oleh-oleh yang dibeli. Uangnya menyebar ke mana-mana.

Karena itulah pariwisata tidak bisa dikerjakan sendirian oleh Dinas Pariwisata.

Media juga punya bagian. Kami bisa membantu membuat orang tahu bahwa Pulau Segajah di Bontang hanya muncul ketika air laut surut. Bahwa Mahakam Ulu punya bentang alam dan budaya Dayak yang luar biasa. Bahwa Berau bukan hanya Derawan. Bahwa wisata Sungai Mahakam tidak berhenti pada melihat sungai dari tepian.

Bahkan orang Kaltim sendiri mungkin masih banyak yang belum tahu.

Obrolan kami sore itu akhirnya ke mana-mana. Dari pesut, Kakaban, Erau, hotel, travel, televisi, media digital, sampai bagaimana sebuah daerah seharusnya menjual pariwisatanya.

Tetapi ujungnya sama. Kaltim sudah punya bahannya. Tinggal dikemas. Dipromosikan. Lalu yang paling penting: jangan jalan sendiri-sendiri.

Pak Faisal baru kembali ke dunia pariwisata. Saya dan teman-teman Media Kaltim Network juga sedang semakin serius memberi ruang lebih besar untuk wisata melalui tulisan, video, hingga Weekend yang baru kami terbitkan.

Jadi ketika bertemu lagi setelah perjalanan panjang masing-masing, ternyata frekuensinya masih sama. Dulu kami sering berkomunikasi soal jadwal wali kota. Sekarang yang dibicarakan sudah berbeda: bagaimana membuat orang datang ke Kaltim. (*)

Oleh: Agus Susanto

Sawit Melimpah, Potensi Ekonomi Masih Bocor ke Luar Kaltim

0
Wagub Kaltim Seno Aji didampingi Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, Ketua GAPKI Kaltim Rahmat Perdana Angga, serta sejumlah pemangku kepentingan membuka 9th Borneo Forum 2026 di Ballroom Platinum Hotel Balikpapan, Kamis (6/8/2026). Foto: Istimewa

BALIKPAPAN – Kaltim menghasilkan sekitar 4,3 hingga 4,9 juta ton crude palm oil (CPO) setiap tahun, hampir 10 persen dari produksi nasional. Luas perkebunan sawitnya mencapai sekitar 1,6 juta hektare. Namun, sebagian nilai tambah dari produksi sebesar itu belum dinikmati di daerah. CPO masih banyak dipasarkan sebagai bahan baku, sementara industri pengolahan dan produk turunannya di Kaltim belum berkembang sebanding dengan besarnya produksi.

Di tingkat pekebun, persoalannya berbeda. Pekebun rakyat masih banyak bergantung pada pabrik kelapa sawit (PKS) milik perusahaan untuk menjual hasil panen. Posisi tawar yang terbatas membuat persoalan harga tandan buah segar (TBS) masih kerap dikeluhkan.

Persoalan itu mengemuka dalam pembukaan 9th Borneo Forum 2026 yang digelar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kaltim di Ballroom Platinum Hotel Balikpapan, Kamis (6/8/2026). Forum yang berlangsung hingga 8 Agustus ini menjadi ajang bertemunya pemerintah, pelaku usaha, akademisi, peneliti, investor, hingga penyedia teknologi untuk membahas arah baru industri sawit Kalimantan.

Mengusung tema “Resilience, Innovation and Transformation: Empowering the Palm Oil Industry Beyond Sustainability”, forum tahun ini tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi. Pembahasan berkembang pada hilirisasi, keberlanjutan, investasi, tata niaga sawit, digitalisasi perkebunan, hingga posisi pekebun rakyat di tengah perubahan kebijakan global.

Wagub Kaltim Seno Aji yang membuka forum secara resmi menyampaikan apresiasi kepada GAPKI Kalimantan Timur yang kembali menghadirkan forum tersebut di Bumi Etam. Menurut Seno, tema yang diusung sangat sesuai dengan kondisi industri sawit saat ini. Ketahanan, inovasi, dan transformasi dinilai menjadi kunci agar industri sawit tetap mampu tumbuh sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

Ia menjelaskan, perkebunan kelapa sawit telah menjadi salah satu sektor strategis di berbagai daerah. Di Kaltim luas perkebunan sawit mencapai sekitar 1,6 juta hektare, sedangkan di Pulau Kalimantan secara keseluruhan mencapai sekitar 6 juta hektare.

Produksi CPO Kaltim saat ini berkisar 4,3 hingga 4,9 juta ton per tahun, atau hampir 10 persen produksi nasional. Namun, besarnya produksi tersebut, menurut Seno, belum sepenuhnya diikuti pemerataan manfaat bagi seluruh pelaku usaha, terutama pekebun rakyat.

Salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah keterbatasan akses terhadap pabrik kelapa sawit. “Kebun rakyat umumnya tidak memiliki pabrik kelapa sawit sendiri. Karena itu, forum ini diharapkan dapat membahas dan mengakomodasi berbagai solusi, termasuk tata cara dan standar operasional pendirian pabrik kelapa sawit nonkebun di daerah masing-masing,” ungkapnya.

Menurut Seno, persoalan itu juga berdampak terhadap posisi tawar petani saat menjual tandan buah segar (TBS). Ia mengaku masih sering menerima keluhan dari pekebun rakyat mengenai harga TBS yang lebih rendah ketika dijual ke PKS milik perusahaan.

“Kita perlu mendengarkan aspirasi pekebun rakyat. Forum Petani Kelapa Sawit juga membutuhkan perhatian bersama agar tercipta keadilan dalam tata niaga sawit,” ujarnya.

Selain memperkuat posisi petani, Seno juga mendorong percepatan hilirisasi industri sawit di Kaltim. Menurutnya, daerah tidak boleh hanya menjadi penghasil tandan buah segar maupun CPO, tetapi juga harus mampu mengembangkan industri pengolahan sehingga nilai tambah dinikmati di daerah.

Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN), lanjutnya, menjadi peluang besar untuk mendorong investasi sekaligus membangun ekosistem industri hilir berbasis sawit di Kaltim.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, ia mengapresiasi hubungan yang selama ini terjalin antara Pemprov Kaltim dan pelaku usaha sawit melalui komunikasi yang intensif bersama Dinas Perkebunan.

TANTANGAN MAKIN KOMPLEKS

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan industri sawit Indonesia kini menghadapi tantangan yang semakin besar. Implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR), tuntutan penurunan emisi karbon, kampanye negatif terhadap sawit, hingga persaingan global menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama.

Karena itu, peningkatan produktivitas dinilai jauh lebih penting dibanding terus melakukan perluasan lahan. Industri sawit harus bergerak melalui inovasi, efisiensi, serta penerapan prinsip keberlanjutan agar tetap kompetitif di pasar internasional.

Sementara Ketua GAPKI Kaltim Rahmat Perdana Angga menurutnya Borneo Forum bukan sekadar agenda tahunan. Forum ini menjadi ruang bersama untuk mempertemukan pemerintah, perusahaan, akademisi, peneliti, investor, hingga penyedia teknologi guna mencari solusi atas berbagai persoalan industri sawit. Dari forum ini diharapkan lahir rekomendasi yang dapat memperkuat daya saing industri sawit Kalimantan, sekaligus memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat dan daerah.

Perwakilan Kementerian Pertanian dalam forum tersebut juga mendorong percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penggunaan bibit unggul, serta digitalisasi perkebunan guna meningkatkan produktivitas tanpa membuka lahan baru.

Sementara dari Kementerian Keuangan menekankan pentingnya penguatan tata kelola industri, optimalisasi penerimaan negara dari sektor sawit, serta pemanfaatan dana sawit untuk mendukung keberlanjutan dan meningkatkan daya saing industri nasional.

PAMERAN, JOB FAIR HINGGA GAPKI Run

Borneo Forum tahun ini tidak hanya diisi seminar dan pembahasan kebijakan. Selama dua hari, 6–7 Agustus, panitia juga menggelar Palm Oil Exhibition yang mempertemukan perusahaan perkebunan, penyedia teknologi, produk dan jasa pendukung, hingga pelaku industri lainnya.

Pameran menjadi bagian dari upaya mempertemukan pelaku usaha sekaligus membuka peluang jaringan bisnis dan kolaborasi. Berbagai perkembangan teknologi dan inovasi yang berkaitan dengan industri perkebunan sawit turut diperkenalkan selama forum berlangsung.

Rangkaian lainnya yang cukup menyita perhatian adalah Regional Job Fair Kalimantan 2026. GAPKI Kaltim membuka akses langsung bagi pencari kerja, khususnya putra-putri daerah, untuk bertemu perusahaan perkebunan yang sedang membutuhkan tenaga kerja.

Enam grup perusahaan besar ikut membuka lowongan, yakni PT Dharma Satya Nusantara Tbk Group, PT Triputra Agro Persada Group, PT Eagle High Plantations Tbk Group, PT Gawi Makmur Kalimantan atau Wings Group, PT Kencana Agri Group, serta KLK Group atau PT Kuala Lumpur Kepong Group.

Sekitar 34 posisi jabatan ditawarkan. Dua grup perusahaan juga membuka kesempatan khusus bagi lulusan baru melalui program Management Training atau Management Trainee.

Sekretaris Eksekutif GAPKI Kaltim Dedy Aspian Nur mengatakan job fair tersebut sengaja digelar untuk memperbesar kesempatan tenaga kerja lokal masuk ke industri perkebunan. “Kami membuka akses seluas-luasnya secara langsung bagi putra-putri daerah. Perusahaan anggota kami hadir untuk memfasilitasi kebutuhan ini,” ujarnya.

Jumlah tenaga kerja yang akan direkrut belum ditetapkan. Masing-masing perusahaan masih menjalankan proses rekrutmen, termasuk di daerah lain.

Selain bursa kerja, rangkaian Borneo Forum juga diisi workshop dan pembahasan pengembangan sumber daya manusia. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja perkebunan menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan GAPKI Run 2026 pada Sabtu (8/8/2026). Lomba lari 5 kilometer itu digelar di kawasan Grand City Balikpapan dengan mengusung tema “Berlari untuk Energi, Bergerak untuk Negeri”.

GAPKI Run terbuka untuk kategori umum dan junior. Panitia menargetkan sekitar 1.200 peserta. Selain medali finisher dan berbagai fasilitas peserta, hadiah juga disiapkan bagi pelari terbaik di masing-masing kategori.

Rangkaian kegiatan tersebut membuat Borneo Forum tidak hanya menjadi tempat membahas kebijakan dan masa depan industri sawit. GAPKI juga membawanya ke persoalan yang lebih langsung: membuka peluang kerja, mempertemukan pelaku usaha, memperkenalkan perkembangan teknologi, sekaligus mendekatkan industri sawit dengan masyarakat.

Reporter: Andrie Aprianto
Editor: Agus S.

MHU Borong Dua Penghargaan Nasional di Indonesia Public Relations Awards 2026

0

JAKARTA – PT Multi Harapan Utama (MHU), anak perusahaan MMS Group Indonesia (MMSGI), kembali memperoleh pengakuan nasional atas upayanya membangun reputasi perusahaan melalui komunikasi korporat yang kredibel, transparan, dan berkelanjutan.

Pada ajang 7th Indonesia Public Relations Awards 2026 yang diselenggarakan oleh The Iconomics di Auditorium Dhanapala, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Kamis (6/8), MHU meraih PR Popular Companies Awards 2026 untuk kategori Perusahaan Pertambangan Batubara.

Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan yang dinilai mampu membangun dan menjaga reputasi positif di mata publik melalui komunikasi yang konsisten, adaptif, serta hubungan yang baik dengan para pemangku kepentingan. Penilaian dilakukan berdasarkan riset independen berbasis persepsi publik dan analisis reputasi digital yang melibatkan responden dari berbagai sektor.

Dalam penilaian tersebut, MHU mencatatkan capaian positif pada sejumlah indikator reputasi, antara lain Business & Commercial Reputation, People & Leadership Reputation, serta Social & Citizenship Reputation. Capaian tersebut mencerminkan persepsi positif terhadap kinerja perusahaan, kepemimpinan, dan kontribusi sosial yang dijalankan MHU.

Penghargaan diterima oleh GM Mining Support and Compliance PT Multi Harapan Utama, Wiwin Suhartanto, yang hadir mewakili perusahaan.

Wiwin mengatakan penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan atas komitmen MHU dalam membangun kepercayaan melalui komunikasi yang bertanggung jawab serta kinerja perusahaan yang berkelanjutan.

“Bagi MHU, komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun kepercayaan melalui konsistensi tindakan. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjalankan operasional pertambangan yang bertanggung jawab, menerapkan Good Mining Practice, serta memperkuat hubungan yang konstruktif dengan seluruh pemangku kepentingan. Reputasi yang baik dibangun dari komitmen yang dijalankan secara nyata setiap hari,” ujarnya.

Sebagai perusahaan pertambangan yang mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), MHU terus memperkuat keterbukaan informasi mengenai berbagai aspek operasional perusahaan, mulai dari pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, keselamatan pertambangan, hingga berbagai inisiatif keberlanjutan.

Informasi tersebut disampaikan melalui berbagai kanal komunikasi perusahaan serta didukung dengan hubungan yang aktif bersama media dan para pemangku kepentingan. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya MHU untuk memastikan publik memperoleh informasi perusahaan yang akurat, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Fungsi Corporate Communications dan Public Relations turut berperan dalam membangun narasi perusahaan berbasis fakta serta menjembatani komunikasi antara perusahaan dan para pemangku kepentingan. Melalui pendekatan yang proaktif dan kolaboratif, MHU terus memperkuat hubungan dengan media, pemerintah, akademisi, masyarakat, dan mitra usaha.

Pada kesempatan yang sama, Wiwin Suhartanto juga menerima Popular PR Person Awards 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi kepada figur yang dinilai berkontribusi dalam memperkuat reputasi organisasi melalui kepemimpinan, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta dukungan terhadap implementasi komunikasi perusahaan yang efektif.

Pencapaian tersebut menegaskan bahwa reputasi perusahaan dibangun melalui sinergi antara kepemimpinan, budaya perusahaan, kinerja operasional, serta komunikasi yang dijalankan secara konsisten. Bagi MHU, reputasi bukan sekadar memperoleh pengakuan, tetapi menjaga kepercayaan publik melalui praktik pertambangan yang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari MMSGI, PT Multi Harapan Utama akan terus memperkuat komunikasi yang adaptif dan berbasis nilai, sejalan dengan komitmen perusahaan untuk menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan nasional. (MK/ADV)

Editor: Agus S.

Bertemu Pak Husni, dari Award sampai Masa Depan Sawit

0
⁠Penyerahan Media Kaltim Network Appreciation Award 2026 kepada Vice President Corporate Communication PT Astra Agro Lestari Mochamad Husni.

SAYA sudah berada di Balikpapan sejak Rabu (6/8). Awalnya karena mendapat undangan Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim Ajid Kurniawan untuk berdiskusi bersama sejumlah pimpinan media.

Rencana saya tidak lama. Kamis (7/8) sudah kembali. Ternyata ada agenda lain yang baru saya ketahui setelah berada di Balikpapan.

Direktur Radar Ibukota Nur Robbi Syai’an mengabarkan bahwa Vice President Corporate Communication PT Astra Agro Lestari Mochamad Husni sedang berada di Balikpapan. Pak Husni menghadiri 9th Borneo Forum 2026 yang digelar GAPKI Kaltim di Platinum Hotel & Convention Hall.

Saya langsung teringat, masih ada Media Kaltim Network Appreciation Award 2026 untuk Pak Husni yang belum sempat diserahkan.

PT Astra Agro Lestari selama ini sudah cukup dekat dengan jaringan kami, terutama di Penajam Paser Utara (PPU). Di sana ada PT Waru Kaltim Plantation (WKP) dan PT Sukses Tani Nusasubur (STN), dua perusahaan perkebunan sawit yang merupakan bagian dari grup Astra Agro.

Mumpung Pak Husni berada di Balikpapan, saya langsung menyempatkan diri untuk ikut menyerahkannya. Saya datang bersama Direktur Radar Ibukota Robbi Syai’an, Direktur Radar Balikpapan Andrie Aprianto, serta tim Radar PPU dan Balikpapan.

Kami sempat menunggu karena Pak Husni masih mengikuti rangkaian Borneo Forum di lantai 3. Setelah agendanya selesai, kami diarahkan menuju stan PT Astra Agro Lestari yang juga berada di lantai yang sama.

Itulah pertama kali saya bertemu langsung dengan Pak Husni. Sebelumnya saya mengenalnya dari komunikasi dengan tim. Saat HUT ke-6 Media Kaltim, Pak Husni juga menyempatkan membuat video ucapan. Ia sempat meminta maaf karena tidak bisa hadir pada Media Kaltim Network Appreciation Night di Samarinda, 14 Juli lalu.

Bagi saya tentu tidak masalah. Justru akhirnya kami bisa bertemu langsung di Balikpapan. Award kami serahkan di stan Astra Agro. Setelah foto bersama, Pak Husni ternyata masih punya waktu. Kami turun ke kafe di lantai 2 hotel. Duduk satu meja, pesan minuman, lalu ngobrol cukup lama.

PHOTO 2026 08 07 15 27 45
Ngobrol bersama Pak Husni di kafe lantai 2 Platinum Hotel Balikpapan.

Awalnya soal media. Saya baru tahu Pak Husni bukan orang baru di dunia pers. Ia pernah menjadi wartawan dan sampai sekarang masih dekat dengan lingkungan media. Saat ini ia juga menjadi salah satu Dewan Pakar PWI Pusat.

Pantas saja kalau bicara soal media cepat nyambung. Kami bicara soal perkembangan perusahaan pers, hubungan media dengan perusahaan, sampai kondisi industri media sekarang yang pilihannya semakin banyak.

Saya sampaikan, bagi kami membangun hubungan dengan mitra tidak selalu harus dimulai dengan urusan kerja sama. Komunikasi dan kepercayaan lebih dulu. Media menunjukkan kualitas kerjanya. Kalau kemudian ada ruang untuk berkolaborasi, tentu bisa dibicarakan.

Dari media, obrolan bergeser ke sawit. Borneo Forum yang dihadiri Pak Husni memang membahas berbagai persoalan industri kelapa sawit. Mulai produktivitas, inovasi, regulasi hingga keberlanjutan.

Salah satu yang cukup lama kami bicarakan adalah bagaimana informasi mengenai sawit sampai kepada masyarakat.

Pak Husni mengakui industri sawit punya banyak tantangan. Salah satunya persepsi negatif yang masih cukup kuat. Menurutnya, kalau penjelasan selalu datang dari perusahaan atau asosiasi, masyarakat bisa saja menganggapnya sebagai pembelaan dari pelaku industri.

“Kalau kami yang ngomong, orang bilang ya sudah jelas, dari industri. Tapi kalau akademisi yang bicara berdasarkan riset, orang lebih percaya,” katanya.

Dari situlah kami bicara soal akademisi di daerah. Menurut Pak Husni, banyak kampus di Kalimantan sebenarnya punya peluang melakukan penelitian mengenai sawit. Industri dan perkebunannya juga berada di daerah. Namun ketika ada pembahasan soal sawit di tingkat nasional, pengamat dan ahli yang muncul masih banyak berasal dari Jakarta.

PHOTO 2026 08 07 15 28 14

Ia ingin lebih banyak akademisi daerah melakukan riset dan menyampaikan hasilnya kepada publik. Media bisa ikut memberi ruang.

Saya tertarik dengan gagasan itu. Kaltim punya banyak kampus dan peneliti. Industri sawitnya juga besar. Mestinya banyak persoalan bisa diteliti langsung dari daerah, kemudian hasilnya disampaikan kepada masyarakat.

Media tetap harus kritis. Tetapi kritik juga harus berdasarkan data. Kalau ada hasil penelitian yang menunjukkan sisi positif maupun persoalan yang harus diperbaiki dari industri sawit, semuanya layak disampaikan.

Kami juga sempat membicarakan peluang kolaborasi antara industri, akademisi dan media. Pak Husni menjelaskan ada ruang pendanaan untuk riset dan promosi sawit melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Selama ini, menurutnya, kegiatan seperti itu masih banyak melibatkan lembaga maupun media di Jakarta. Media dan perguruan tinggi di daerah juga semestinya bisa mengambil bagian.

Obrolan kemudian masuk ke produktivitas. Menurut Pak Husni, inilah salah satu tantangan utama industri sawit sekarang. Permintaan terus meningkat, sementara penambahan lahan semakin terbatas. Karena itu, produksi harus ditingkatkan dari kebun yang sudah ada.

Riset menjadi penting. Mulai pengembangan bibit, pemupukan hingga pengelolaan tanaman agar produksi per hektare meningkat.

Ia memberi gambaran, produktivitas yang saat ini berada di kisaran 3,8 hingga 4 ton per hektare perlu terus didorong lebih tinggi. “Lahannya tidak mungkin terus ditambah. Jadi bagaimana lahan yang ada bisa menghasilkan lebih banyak,” katanya.

Persoalan itu bukan hanya di perusahaan besar. Pekebun rakyat juga menghadapi tantangan produktivitas yang sama.

Dari produktivitas, kami masuk ke regulasi. Kalau ditanya salah satu persoalan yang paling dirasakan industri sawit sekarang, jawaban Pak Husni adalah kepastian hukum.

Ia menyinggung perubahan kebijakan yang berkaitan dengan lahan dan kawasan hutan. Menurutnya, perusahaan membutuhkan aturan yang jelas dan konsisten. Jangan sampai perusahaan sudah mengikuti ketentuan yang berlaku, kemudian muncul aturan baru yang membuat persoalannya berubah lagi. “Kalau saya bilang, salah satu yang paling penting itu kepastian hukum,” ujarnya.

Cukup lama kami membicarakan bagian ini. Pak Husni memberikan beberapa contoh persoalan yang dihadapi perusahaan. Saya lebih banyak mendengar.

Bagi saya, informasi seperti ini penting untuk mengetahui persoalan sawit dari sisi pelaku usaha. Tentu bukan satu-satunya sisi. Ada pemerintah, petani, masyarakat, akademisi dan kelompok yang selama ini kritis terhadap industri sawit.

Media harus mendengar semuanya.

Pak Husni juga menilai masyarakat dan pemerintah daerah di Kalimantan maupun Sumatera relatif lebih memahami industri sawit karena merasakan langsung dampaknya. Ada tenaga kerja yang terserap, kegiatan ekonomi yang bergerak, sampai usaha masyarakat yang ikut tumbuh.

Namun perusahaan juga tetap harus terbuka terhadap kritik dan terus memperbaiki diri.

Tidak terasa kami sudah cukup lama ngobrol. Padahal awalnya saya hanya ingin datang untuk menyerahkan award. Akhirnya bukan hanya award yang tersampaikan. Saya juga mendapat banyak informasi soal sawit dan beberapa gagasan yang mungkin bisa ditindaklanjuti.

Untung hari itu saya belum keburu pulang dari Balikpapan. (*)

Oleh: Agus Susanto

Menhub Ungkap China dan Rusia Jajaki Proyek Kereta Trans Kalimantan

0

Pembaca Setia Koran Nusantara!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Koran Nusantara?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper lengkap
https://koran.koranusantara.com/

📱 Versi Mobile
https://digital.koranusantara.com/kn7agt2026/mobile/

Menunggu Dokter Suhardi dari Ruang Operasi | MEDIA KALTIM

0
Saya bersama Direktur Radar Bontang Darman menyerahkan Media Kaltim Network Appreciation Award 2026 kepada Direktur RSUD Taman Husada Bontang dr. Suhardi. Turut mendampingi Wakil Direktur Administrasi Umum dan Keuangan Muhammad Syaifullah serta Kepala Bagian Hukum, Kehumasan dan Kerja Sama Romy Rizka.

Satu lagi Appreciation Award 2026 yang ingin saya serahkan langsung di Bontang adalah untuk Direktur RSUD Taman Husada dr. Suhardi. Hubungan Media Kaltim dengan rumah sakit milik Pemkot Bontang ini sudah terjalin cukup lama. Begitu pula komunikasi saya dengan Pak Direktur.

Terakhir kami bertemu langsung pada November tahun lalu. Saat itu saya menghadiri Forum Konsultasi Publik (FKP) RSUD Taman Husada. Saya sempat menulis perkembangan rumah sakit, termasuk layanan jantung yang terus berkembang.

Setelah itu, tidak ada komunikasi lagi. Termasuk ketika Pak Suhardi tidak bisa hadir pada Media Kaltim Network Appreciation Night 2026 di Samarinda, 14 Juli lalu.

Karena itu, saat berada di Bontang beberapa waktu lalu, saya bersama Direktur Radar Bontang Darman dan Redaktur Media Kaltim Yahya Yabo menjadwalkan datang ke RSUD Taman Husada. Sekalian menyerahkan langsung award yang belum sempat diterima Pak Suhardi.

Saat kami tiba, Pak Suhardi masih berada di ruang operasi. Kami lebih dulu ditemui Kepala Bagian Hukum, Kehumasan dan Kerja Sama Romy Rizka. Tak lama kemudian, kami diantar ke ruang kerja Wakil Direktur Administrasi Umum dan Keuangan Muhammad Syaifullah.

Keduanya baru menempati jabatan tersebut tahun ini. Pertemuan itu sekalian menjadi kesempatan bagi saya untuk ngobrol setelah keduanya mendapat amanah baru. Meski sebenarnya Pak Syaifullah dan Pak Romy sudah tidak asing bagi saya.

Pak Syaifullah sebelumnya menjabat Sekretaris Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bontang. Tahun ini ia dipercaya menjadi Wakil Direktur Administrasi Umum dan Keuangan RSUD Taman Husada.

Pak Romy juga bukan orang baru di RSUD. Sebelumnya ia menjabat Kepala Bagian Keuangan. Kini ia menangani Bagian Hukum, Kehumasan dan Kerja Sama.

Kami ngobrol sambil menunggu. Beberapa saat kemudian, staf menyampaikan Pak Suhardi akan segera ke ruang kerjanya. Tak lama, Pak Suhardi datang.

Barulah saya tahu, hari itu ada empat pasien yang menunggu giliran pemasangan ring jantung. Pak Suhardi memang dokter spesialis jantung. Selain menjalankan tugas sebagai direktur, ia masih menangani pasien.

“Ya beginilah situasinya. Susah kalau meninggalkan Bontang. Karena itu saya minta maaf tidak bisa hadir undangan Media Kaltim. Apalagi di hari kerja,” katanya.

Saya jadi teringat FKP November lalu. Saat itu Pak Suhardi menyampaikan layanan Cathlab RSUD Taman Husada sudah menangani hampir 900 pasien jantung. Layanan ini membuat banyak pasien tidak perlu lagi keluar Bontang untuk mendapatkan penanganan tertentu.

Kali ini saya melihat sendiri kesibukannya. Empat pasien menunggu pemasangan ring dalam satu hari.

Saya pun menyampaikan maksud kedatangan kami. Media Kaltim Network Appreciation Award 2026 kemudian kami serahkan kepada Pak Suhardi. Pak Syaifullah dan Pak Romy ikut mendampingi.

Setelah itu obrolan berlanjut. Salah satunya soal hubungan rumah sakit dengan media. Pak Suhardi mengingatkan pentingnya informasi yang benar, lengkap dan berimbang ketika menyangkut RSUD.

Ia mengaku terbuka terhadap kritik. Kalau ada informasi atau persoalan terkait pelayanan rumah sakit, ia berharap media melakukan konfirmasi.

“Agar kami bisa menjelaskan secara utuh dan informasinya tidak berkembang ke mana-mana,” katanya.

Saya kira itu memang penting. Persoalan rumah sakit sering berkaitan langsung dengan pasien dan keluarga. Informasinya juga cepat menyebar, terutama di media sosial. Kalau ada persoalan, konfirmasi harus dilakukan. Rumah sakit diberi ruang untuk menjelaskan dan media tetap menyampaikan fakta kepada publik secara utuh.

Sebelum pamit, saya juga menyerahkan buku kumpulan Kolom Agus Susanto yang saya launching saat HUT ke-6 Media Kaltim, Juli lalu.

PHOTO 2026 08 07 14 03 17
Saya menyerahkan buku kumpulan Kolom Agus Susanto kepada Direktur RSUD Taman Husada Bontang dr. Suhardi.

Pak Suhardi langsung membuka dan melihat beberapa bagian.

“Wah, menarik. Terima kasih. Saya bisa membacanya sampai habis,” katanya.

Saya sampaikan buku tersebut memang dicetak terbatas. Namun versi digitalnya bisa dibaca gratis melalui website Media Kaltim.

Belum lama kami melanjutkan obrolan, seorang staf datang. Pasien berikutnya sudah siap di meja operasi.

Mendengar itu, saya tak ingin berlama-lama. Kami bersalaman dan pamit. Pak Suhardi kembali ke ruang operasi.

Selamat bertugas, Dok. Pasien sudah menunggu. (*)

Oleh: Agus Susanto

Masih Berjuang Pulih dari Stroke, Harsono Terima Appreciation Award | MEDIA KALTIM

0
Saya bersama Direktur Radar Bontang Darman dan Redaktur Media Kaltim Yahya Yabo menyerahkan Appreciation Award 2026 kepada H. Harsono, Owner Empek-Empek Anda sekaligus Ketua DPD IKA Pakarti Bontang, di kediamannya di Tanjung Limau, Bontang.

Tidak semua penerima Media Kaltim Network Appreciation Award 2026 bisa hadir pada malam penganugerahan di Samarinda pada 14 Juli lalu. Beberapa di antaranya berhalangan karena agenda masing-masing.

Penghargaannya tentu tetap kami serahkan. Para direktur dan kepala biro menjadwalkan pertemuan langsung dengan para penerima di daerah masing-masing. Untuk beberapa kota, saya memilih ikut mendampingi.

Bontang menjadi yang pertama. Kota ini punya tempat tersendiri karena menjadi tempat Media Kaltim pertama kali berdiri pada 14 Juli 2020.

Salah satu yang kami datangi adalah H. Harsono, Owner Empek-Empek Anda yang juga Ketua DPD IKA Pakarti Bontang. Saya datang bersama Direktur Radar Bontang Darman dan tim ke kediamannya di Tanjung Limau beberapa waktu lalu.

PHOTO 2026 08 07 12 13 34
H Harsono, owner Empek-Empek Anda Bontang

Darman menyerahkan langsung Appreciation Award kepada Harsono. Setelah itu kami duduk dan berbincang cukup lama.

Saya memang sudah cukup lama mengenal Harsono. Sejak Media Kaltim masih merintis di Bontang, ia termasuk pengusaha UMKM yang beberapa kali saya temui. Hubungan itu terus terjaga sampai sekarang. Harsono juga rutin mendukung berbagai kegiatan Media Kaltim.

Terakhir saya menulis tentang Harsono pada Juni 2025, tahun lalu. Ketika itu saya menemuinya di tempat usaha barunya di Jalan Mulawarman yang masih dalam tahap penyelesaian.

Sekarang tempat itu sudah beroperasi dan hampir setiap hari ramai pengunjung. Empek-Empek Anda tetap menjadi andalan, ditambah sejumlah menu lainnya. Saya tentu ikut senang melihat perkembangannya. Terlebih Harsono menjalankan semua itu di tengah kondisi kesehatannya yang belum sepenuhnya pulih.

Stroke yang dialaminya sejak 2021 masih menyisakan keterbatasan. Geraknya belum sepenuhnya normal. Berbagai pengobatan dan terapi juga sudah dijalani. “Sudah banyak cara untuk penyembuhan. Tapi ya belum banyak perubahan,” katanya.

Harsono tetap seperti yang saya kenal. Kami masih bisa berbincang banyak hal. Dan seperti biasanya setiap kali bertemu, empek-empek kembali tersaji menemani obrolan.

Ada satu kebetulan yang selalu saya ingat. Harsono lahir 13 Juli 1968. Media Kaltim lahir sehari setelahnya, 14 Juli. Karena itu saya senang bisa ikut mengantarkan langsung award ini. Sekaligus sebagai bentuk terima kasih atas dukungannya kepada Media Kaltim selama ini.

Kini Harsono berusia 58 tahun. Kondisi kesehatannya memang belum sepenuhnya pulih. Namun ia tetap aktif mengurus usaha dan menjalani aktivitasnya.

Setelah cukup lama berbincang, kami pun pamit. Semoga ikhtiarnya untuk pulih terus membuahkan hasil. Sehat selalu, Pak Harsono. (*)

Oleh: Agus Susanto

IDI: Burnout Tak Bisa Jadi Pembenaran Komentar Nirempati terhadap Pasien BPJS

0
Wakil Ketua PB IDI Wiweka di Jakarta, Kamis (6/8/2026). ANTARA/Mecca Yumna

JAKARTA – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan, burnout bukan alasan bagi tenaga kesehatan dan tenaga medis untuk bersikap buruk ke pasien, merespons dugaan komentar nirempati di media sosial dari nakes ke seorang pasien BPJS Kesehatan.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar IDI Wiweka mengatakan di Jakarta, Kamis (6/8/2026) bahwa berdasarkan pasal 21 Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), dokter harus menjaga kesehatannya baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental, termasuk dari risiko burnout.

“Ya mungkin dia kelelahan atau apa, tapi dalam ranah atau rangka pelaksanaan pelayanan kesehatan atau praktek profesinya dia harus mampu mengedepankan etika. Itu tidak dibenarkan,” katanya.

Dia menyebutkan, menjadi tenaga kesehatan dan tenaga medis berarti menjunjung etika terhadap pasien, terlebih pelayanan kesehatan berkaitan dengan nyawa orang. Dokter, katanya, bukan menjanjikan hasil, namun menjanjikan perbuatan yang terbaik.

Wiweka menyebutkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) guna klarifikasi, merespons identifikasi 10 tenaga kesehatan dan tenaga medis yang diduga mengirimkan komentar-komentar nirempati tersebut.

Setelah itu, katanya, akan dilakukan pembinaan.

Terkait sanksi, Wiweka menyebutkan bahwa sanksi diberikan sesuai pendalaman. Apabila perilaku tersebut sarat dengan dugaan pelanggaran etik, maka dilakukan sidang etik.

“Sanksinya juga sesuai dengan gradasi dugaan pelanggaran. Tapi konsepnya kita tetap adalah pembinaan, karena etika itu perlu dilakukan pembinaan, drill yang berulang-ulang sehingga bisa menjadi budaya,” katanya.

Konsil Kesehatan Indonesia mengatakan, pihaknya mengidentifikasi 10 tenaga kesehatan dan tenaga medis yang diduga berkomentar nirempati ke seorang almarhum peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di media sosial, dan akan melakukan investigasi lebih lanjut.

Anggota Pimpinan KKI dr. Mohammad Syahril menyebutkan, pihaknya akan melakukan investigasi bersama organisasi profesi, institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, pemerintah daerah untuk menentukan jenis pelanggaran yang dilakukan, apakah pelanggaran etika, disiplin profesi, atau pelanggaran hukum.

Seiring investigasi, katanya, ada potensi diidentifikasinya lebih banyak tenaga kesehatan dan tenaga medis yang diduga mengirimkan komentar nirempati ke almarhum peserta JKN Yusrizal Tri Chaerawan. (ANT/KN)

Menhub Ungkap China dan Rusia Jajaki Proyek Kereta Trans Kalimantan

0
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi. ANTARA/Harianto.

JAKARTA – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyatakan pemerintah menjajaki potensi investasi dari dalam negeri dan luar negeri, termasuk Rusia dan China untuk pembangunan jaringan rel kereta api Trans-Kalimantan.

Langkah itu merupakan tindak lanjut dari perintah Presiden Prabowo Subianto kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan PT KAI untuk segera membangun dan mengembangkan jaringan rel kereta api di Sumatra (Trans-Sumatra) dan Kalimantan (Trans-Kalimantan).

“Kami sudah berkoordinasi dengan KAI yang sudah menyiapkan roadmap-nya. Nanti, kemudian dari situ kami berharap ada investasi, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menggarap Trans-Sumatra dan Trans-Kalimantan. Kalau Trans-Sumatra sebagian memang sudah tersedia tinggal disambung-sambungkan, kalau Trans-Kalimantan memang kita harus mulai,” kata Menhub Dudy Purwagandhi menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (6/8) malam.

Dudy mengatakan dua negara yang diyakini berpotensi berinvestasi dalam pembangunan jaringan rel kereta api di Kalimantan ialah Rusia dan China.

“Kami sudah jajaki dalam negeri maupun dengan luar negeri, di antaranya Rusia dan China,” sambung dia.

Dalam kesempatan yang sama, Dudy belum dapat memastikan proyek pembangunan yang mana yang akan berjalan lebih duluan karena tergantung pada penilaian investor.

“Tergantung investor tentunya mana yang menurut mereka lebih visible ya untuk mereka garap. Saya lihat sepertinya kalau Sumatra logistiknya KAI yang lebih berminat untuk mengembangkannya, kalau di Kalimantan sepertinya dari China sama Rusia yang lebih berminat,” ujar Dudy.

Sejauh ini, kata dia, komunikasi kepada investor dari luar negeri itu telah dilakukan.

“Komunikasi sudah, mereka sedang mencoba untuk menghitung, kemudian nanti menyampaikan proposal ke kami,” kata Dudy.

Dalam acara peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang di Jawa Tengah bulan lalu, Presiden Prabowo memerintahkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Kementerian Perhubungan menggarap pembangunan jalur kereta Trans-Sumatra serta melanjutkannya dengan proyek Trans-Kalimantan.

“Habis Trans Sumatra, nanti Trans Kalimantan. Kalau bisa bersamaan, kita mulai,” kata Prabowo.

Prabowo menjelaskan pembangunan jalur kereta Trans-Sumatra akan menghubungkan wilayah paling selatan di Sumatra, yaitu Bakauheni di Provinsi Lampung hingga wilayah paling utara Pulau Sumatra. Presiden menyatakan proyek tersebut menjadi target yang harus diwujudkan oleh PT KAI dan Kementerian Perhubungan.

Presiden lalu bertanya kepada Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin dan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengenai kesiapan keduanya mengerjakan proyek tersebut.

“Bisa, KAI? Menteri Perhubungan? Kita kasih dia. Tugas harus dikasih yang berat, jangan kasih yang ringan-ringan,” kata Prabowo diiringi pernyataan siap dari kedua pejabat tersebut. (ANT/KN)