Rabu, April 24, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tinggal Tunggu Safaruddin

Catatan Rizal Effendi

RASANYA sudah 3 tokoh yang menyatakan siap bertarung di pemilihan gubernur (Pilgub) Kaltim, 27 November nanti. Yang paling pertama adalah Isran Noor, menyusul kemudian Mahyudin dan selanjutnya Rudy Mas’ud.

Isran adalah gubernur Kaltim 2018-2023. Dia kelahiran Sangkulirang, Kutim, 20 September 1957. Sedang Mahyudin, kelahiran Tanjung, Kalsel, 8 Juni 1970. Dia saat ini wakil ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. Sedang  Rudy Mas’ud, kelahiran Balikpapan berdarah Sulbar, 7 Desember 1981  adalah anggota DPR RI, yang juga ketua DPD Golkar Kaltim.

Ketiganya tidak diragukan lagi kapasitasnya. Bobotnya mumpuni. Daya dukung logistiknya juga oke. Sebab, ongkos politik Pilgub cukup mahal. Kajian Litbang Kementerian Dalam Negeri pernah mengungkapkan, biaya politik untuk menjadi seorang gubernur bisa mencapai Rp100 miliar.

Yang menarik, Isran dan Mahyudin boleh dibilang “satu almamater.” Mereka sama-sama pernah menjadi bupati Kutai Timur (Kutim). Mahyudin bupati ke-2 (2003-2006), sedang Isran bupati ke-3 (2009-2011/2011-2015).

Sebelum mereka ada Awang Faroek sebagai bupati pertama. Tapi Awang setelah gagal di Pilgub pertama kembali menjadi bupati Kutim. Lalu ikut lagi Pilgub dan menang. Jadi Kutim meski usianya baru berusia 25 tahun,  sudah mampu melahirkan kader-kader pemimpin yang hebat.

Isran dan Mahyudin saat ini sama-sama tidak berpartai. Isran tahun lalu mengundurkan diri sebagai ketua DPW Nasdem Kaltim, sedang Mahyudin pernah menjadi wakil ketua umum DPP Golkar. Setelah itu dia mengundurkan diri dan mengambil jalan lain melalui jalur DPD RI.

Lalu kanal mana yang mereka tempuh dalam pencalonan gubernur? Sepertinya sama juga. Sama-sama melalui jalur perseorangan atau independen, akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga menjajaki dukungan partai.

Saya dengar Isran sudah pernah bertemu Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto, yang juga sudah ditetapkan KPU sebagai calon presiden terpilih. Prabowo memberi kesan membuka kemungkinan Isran menjadi menteri, tapi Isran memilih tetap menjadi gubernur dan meminta dukungan Gerindra.

Kalaulah Gerindra memberi dukungan kepada Isran, sebenarnya Isran tidak perlu susah-susah lagi. Kalau tidak salah dalam Pileg 2024 ini, Gerindra mendapat 11 kursi di DPRD Kaltim. Itu persis sama dengan persyarakatan pencalonan, minimal 11 kursi atau 10 persen dari 55 kursi di DPRD Kaltim.

Saya belum mendapat kabar lebih jauh tentang langkah Mahyudin jika menggunakan jalur partai. Dia terakhir sempat menjadi ketua Dewan Pertimbangan Perindo, partainya Hary Tanoesoedibjo. Pernah mengajak saya gabung ke sana.  Tapi tak lama dia mengundurkan diri lagi. Dan Perindo tak punya wakil di DPRD Kaltim.

Kesempatan menggunakan tangan partai dalam Pilgub Kaltim sangat terbuka lebar. Dengan jumlah kursi 55, maka sangat dimungkinkan ada 5 pasangan calon yang maju. Dalam Pilgub 2018, Pilgub Kaltim diikuti 4 pasangan calon. Semuanya dari partai atau gabungan partai.

Dalam sejarah Pilgub Kaltim, rasanya belum ada calon yang menggunakan jalur perseorangan. Jika ada calon menggunakan jalur ini pada Pilgub 2024, maka dibutuhkan hampir 236 ribu dukungan warga melalui pengumpulan KTP. Itu angka yang dipersyaratkan, 8,5 persen dari 2,7 juta daftar pemilih tetap (DPT) Kaltim.

Dari pemantauan saya, Relawan Isran sudah mulai bergerak. Formulir dukungan kepada petahana ini mulai mengalir kencang. Di antaranya melalui media sosial. Hampir di-10 kabupaten/kota sudah terbentuk. Isran sendiri cukup aktif bergerak dan menghadiri berbagai pertemuan. Mahyudin kabarnya juga mulai melakukan pembentukan tim.

Sementara itu, Rudy Mas’ud sudah pasti “naik perahunya” sendiri, yaitu Golkar yang kursinya melebihi persyaratan. Dalam Pileg 2024 ini, Golkar meraup 15 kursi di DPRD Kaltim. Tapi ada kemungkinan dia juga akan mengajak sejumlah partai lain untuk memperkuat pencalonannya.

Rudy Mas’ud (Harum) adalah bagian dari keluarga besar Bani Mas’ud yang saat ini “menguasai” peta politik di daerah ini. Saudaranya, Hasanuddin Mas’ud (Hamas) sekarang adalah ketua Golkar Kukar yang menduduki kursi ketua DPRD Kaltim. Lalu Rahmad Mas’ud (RM), wali Kota Balikpapan yang juga ketua Golkar Balikpapan. Satu lagi adiknya, Abdul Gafur Mas’ud (AGM) sempat menjadi bupati PPU sebelum tersandung kasus hukum.

Yang belum terdengar suara dari PDIP Kaltim. Tempo hari PDIP akan menyodorkan kembali ketua DPD-nya Safaruddin sebagai cagub Kaltim 2024. Pada Pilgub 2018, Safaruddin berpasangan dengan Rusmadi Wongso tampil sebagai salah satu dari 4 pasangan cagub. Hasilnya mereka di urutan kedua, kalah dari Isran Noor-Hadi Mulyadi.

Safaruddin adalah mantan kapolda Kaltim, yang sekarang duduk sebagai anggota DPR RI. Sama dengan Rudy Mas’ud, dia terpilih kembali ke Senayan pada Pileg 2024 ini. Mereka sama-sama duduk di Komisi 3 yang membidangi hukum, hak asasi manusia (HAM) dan keamanan.

Tokoh kelahiran Kampiri, Wajo, Sulsel, 10 Februari 1960 ini pernah berujar, secara pribadi dia lebih nyaman menjadi anggota DPR RI. “Tapi kalau partai memberikan penugasan yang lain, tentunya saya harus patuh,” begitu kata Safaruddin.

Ada yang bilang PDIP punya cadangan. Jika Safaruddin tidak jadi, ada kemungkinan Edi Damansyah yang disorong. Edi saat  ini bupati Kukar, yang juga ketua DPC PDIP. Pada Pileg  2024 ini, PDIP Kukar meraup suara terbanyak dengan memperoleh 18 kursi. Saya sering lihat baliho Edi sebagai bupati Kukar terpasang sampai ke Balikpapan. Mungkin mulai sosialisasi.

Cuma dalam Pilgub 2024, PDIP tidak bisa lagi mengusung sendiri seperti Golkar dan Gerindra. Hasil Pileg Kaltim 2024, PDIP hanya meraih 8 kursi, jadi kurang dari batas persyaratan. Kalaulah akhirnya memutuskan maju, maka harus berkoalisi dengan partai lain. Karena harus mencari 3 kursi lagi.

Apakah masih ada kemungkinan nama cagub yang lain? Rasanya sudah kecil nama baru akan  muncul. Ketua Gerindra Kaltim Andi Harun, yang saat ini menjadi wali Kota Samarinda mengisyaratkan tidak akan maju.  Dia lebih fokus untuk kembali berkompetisi di Pilwali Samarinda sebagai petahana.

PKB yang membuat kejutan dengan menggaet 6 kursi di DPRD Kaltim kabarnya ingin ikut berkompetisi. Menurut Ketua PKB Kaltim, Syafruddin, ada 3 kader PKB yang mereka gadang-gadang. Yaitu Wali Kota Bontang Basri Rase, Bupati Paser Fahmi Fadli, dan legislator Kaltim Sutomo Jabir.

BURSA CAWAGUB

Sementara itu bursa calon wakil gubernur (cawagub) juga mulai ramai dibicarakan. Baru Isran yang sudah jelas calon wakilnya. Isran mengisyaratkan tetap berpasangan dengan Hadi Mulyadi, yang sekarang menjadi ketua DPD Partai Gelora Kaltim.

Mahyudin belum pernah bicara soal wakilnya. Mungkin lihat perkembangan.  Begitu juga Rudy Mas’ud. Wakil Ketua Bidang Organisasi Golkar Kaltim, H Hendra mengatakan, pihaknya masih melakukan seleksi dan pemantauan untuk mencari figur cawagub yang tepat. “Tentunya yang bisa menambah kekuatan untuk memenangi Pilgub,” jelasnya.

Dari partai dan DPRD, sepertinya ada beberapa nama yang bisa diusung. Gerindra punya dua nama yang mungkin diajukan, yaitu Seno Aji yang sekarang wakil ketua DPRD Kaltim dan Makmur HAPK, yang pernah menjadi ketua DPRD Kaltim melalui Golkar.

Ketua DPD PKB Kaltim Syafruddin juga perlu diperhitungkan. Dia anggota DPRD Kaltim, yang pada Pileg 2024 membuat kejutan karena berhasil lolos ke DPR RI. Jika tidak Syafruddin, bisa jadi ketiga nama tadi juga bisa disodorkan ke kursi wagub. Ketua DPW PAN Kaltim Sigit Wibowo, yang bertahan di DPRD Kaltim ada juga disebut-sebut.

Di luar nama itu, juga beredar beberapa nama lain. Di antaranya mantan rektor Unmul Prof Masjaya. Tempo hari juga mencuat nama mantan Danrem 091/ASN Brigjen TNI Dendi Suryadi. Tapi Dendi sekarang sepertinya fokus pada Pilbup Kukar.

Menarik juga nama saya disebut-sebut. Dalam beberapa kali poling nama saya dicantumkan sebagai salah satu kandidat, baik sebagai cagub atau cawagub. Saya berada di papan tengah. Ketika ditanya wartawan, saya bilang saya tahu diri karena tak punya logistik yang cukup. Jadi ikut air mengalir dan suratan nasib saja. (*)  

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular