
SENDAWAR – Sektor perikanan budidaya air tawar di Kutai Barat (Kubar) mencatat hasil positif sepanjang 2025. Produksi ikan mencapai 2.896 ton, melampaui target pemerintah daerah sebesar 2.800 ton. Capaian 103,4 persen tersebut menjadi modal untuk memperkuat ketersediaan pangan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat pembudidaya.
Hasil produksi itu disampaikan Bupati Kutai Barat Frederick Edwin dalam sambutannya pada upacara peringatan HUT ke-27 Kabupaten Kutai Barat di Alun-Alun Itho, Kompleks Perkantoran Pemkab Kubar, Kamis (5/11/2026).
Frederick mengatakan peningkatan produksi perikanan juga diikuti tingkat konsumsi ikan masyarakat yang mencapai 42,19 kilogram per kapita per tahun.
“Produksi perikanan budidaya pada 2025 mencapai 2.896 ton, melampaui target yang ditetapkan sebesar 2.800 ton. Sementara itu, angka konsumsi ikan masyarakat mencapai 42,19 kilogram per kapita per tahun,” ungkap Frederick.

Menurutnya, sektor perikanan memiliki peran penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat, terutama melalui ketersediaan ikan air tawar yang dibudidayakan di berbagai wilayah Kutai Barat.
Selain mendukung ketahanan pangan, kegiatan budidaya ikan juga menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat di kampung-kampung.
Produksi perikanan air tawar di Kutai Barat ditopang aktivitas pembudidaya keramba jaring apung (KJA) di sepanjang Sungai Mahakam dan kawasan danau pedalaman.
Selain itu, sejumlah kelompok pembudidaya mengembangkan usaha melalui kolam darat yang tersebar di beberapa kecamatan.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, Pemkab Kutai Barat melalui Dinas Perikanan terus mendorong penguatan sarana dan prasarana budidaya.
Salah satu bentuk dukungan tersebut dilakukan melalui penyerahan dua unit keramba jaring apung kepada kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan).
Bantuan diberikan kepada Pokdakan Miftahul Najah di Kampung Muyup Ilir dan Pokdakan Mandiri Bersama di Kampung Muyup Ulu, Kecamatan Tering.
Sekretaris Dinas Perikanan Kutai Barat Jakaria mengatakan bantuan tersebut ditujukan untuk membantu kelompok pembudidaya mengembangkan usaha, terutama dalam memenuhi kebutuhan sarana produksi.
Menurutnya, biaya pengadaan fasilitas budidaya masih menjadi salah satu kendala masyarakat yang ingin memulai atau memperluas usaha perikanan.
“Kami memahami bahwa salah satu kendala utama masyarakat dalam memulai usaha budidaya ikan adalah besarnya kebutuhan investasi awal, terutama untuk penyediaan sarana produksi. Melalui bantuan keramba jaring apung ini, kami berharap kapasitas produksi kelompok pembudidaya dapat meningkat dan usaha yang telah berjalan semakin berkembang,” jelas Jakaria.
Ia berharap bantuan tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi kelompok penerima sekaligus mendorong masyarakat lainnya untuk memanfaatkan potensi perikanan air tawar sebagai sumber pendapatan.
Pengembangan usaha budidaya juga memerlukan pembinaan dan pendampingan agar kelompok pembudidaya mampu menjaga produktivitas serta keberlanjutan usaha.
Dengan produksi yang telah melampaui target, pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat dukungan sarana budidaya dan peningkatan kemampuan pembudidaya.
Langkah tersebut diperlukan agar perkembangan sektor perikanan tidak hanya tercermin dari jumlah produksi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat serta mendukung pemenuhan kebutuhan pangan di Kutai Barat. (adv/diskominfo kubar)
Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.



