TENGGARONG – Pemerataan akses listrik di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah, terutama di permukiman terpencil yang jauh dari pusat desa. Kawasan Sepatin, Dusun Tanjung Belukan, dan Dusun Mangkubur menjadi sejumlah lokasi yang masih membutuhkan dukungan penyediaan listrik.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, mengatakan pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat terus diupayakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi geografis serta kemampuan anggaran daerah.
“Pemenuhan listrik ditargetkan menjangkau seluruh wilayah, termasuk titik-titik yang masih berada di kawasan terpencil atau remote area,” ujar Arianto, Rabu (28/10/2026).
Menurut Arianto, tantangan pemerataan listrik tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan anggaran. Letak permukiman yang terpisah dari desa induk dan jauh dari pusat pelayanan juga membuat penyediaan energi membutuhkan pendekatan yang berbeda di setiap wilayah.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah perlu menyesuaikan metode penyediaan listrik dengan karakteristik permukiman. Wilayah yang memungkinkan dijangkau pembangkit komunal dapat menggunakan sistem tersebut, sedangkan permukiman yang tersebar membutuhkan alternatif lain.
Salah satu upaya penyediaan listrik telah dilakukan di Desa Sepatin melalui pembangunan Pembangkit Listrik Komunal. Secara fisik, pembangunan fasilitas tersebut telah rampung 100 persen.
Namun, penyelesaian pembangunan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan listrik masyarakat. Kapasitas daya yang tersedia saat ini masih terbatas dan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga.
DPMD Kukar pun membuka peluang peningkatan kapasitas pembangkit agar pasokan listrik di kawasan tersebut lebih memadai. Pelaksanaannya tetap bergantung pada kemampuan keuangan daerah.
“Ke depan, apabila kondisi keuangan daerah memungkinkan, kami akan mengupayakan peningkatan kapasitas pembangkit agar masyarakat memperoleh pasokan listrik yang memadai,” jelasnya.
Peningkatan kapasitas menjadi salah satu kebutuhan lanjutan setelah pembangunan fisik selesai. Dengan daya yang lebih besar, fasilitas pembangkit diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat yang selama ini masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik.
Selain mengoptimalkan pembangkit komunal, Pemkab Kukar juga mengupayakan alternatif penyediaan listrik bagi permukiman yang lokasinya terpencar dan sulit dijangkau sistem pembangkit bersama.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah Solar Home System (SHS), yakni sistem penyediaan listrik berbasis energi surya untuk masing-masing rumah. Skema ini memungkinkan rumah tangga memperoleh sumber listrik secara individual tanpa harus bergantung pada jaringan atau fasilitas pembangkit komunal.
Penggunaan SHS dinilai dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat desa maupun infrastruktur kelistrikan yang tersedia. Penerapannya akan disesuaikan dengan kondisi permukiman dan kebutuhan warga.
Arianto berharap pemerataan listrik dapat terus dilaksanakan secara bertahap sehingga masyarakat di wilayah terpencil juga memiliki akses energi untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Upaya tersebut mencakup penyediaan fasilitas baru, peningkatan kapasitas pembangkit yang sudah tersedia, serta penggunaan teknologi alternatif bagi permukiman yang sulit dijangkau. Meski demikian, realisasinya tetap mempertimbangkan kebutuhan di lapangan dan kemampuan pembiayaan daerah.
Dengan pendekatan yang disesuaikan untuk setiap wilayah, Pemkab Kukar berupaya memperluas jangkauan layanan listrik agar tidak hanya dinikmati masyarakat di kawasan yang mudah dijangkau, tetapi juga warga yang tinggal di permukiman terpencil. (Adv)
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R



