TENGGARONG – Jarak ratusan kilometer tak menyurutkan tekad Hagar, warga Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara) untuk hadir di Festival Erau Adat Kutai 2025. Demi mengikuti lomba sumpit tradisional, ia rela menempuh perjalanan darat lebih dari 24 jam menuju Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Perjuangan panjang itu terbayar manis. Di halaman parkir Jembatan Repo-Repo Tenggarong. Hagar berhasil meraih juara pertama lomba sumpit yang menjadi salah satu ikon Erau. “Luar biasa, sangat menyenangkan sehingga dapat juara satu,” ujarnya dengan wajah berseri usai menerima penghargaan.
Bagi Hagar, sumpit bukan sekadar alat lomba, melainkan identitas budaya. Ia datang bersama rombongan bukan hanya untuk bertanding, tetapi juga bersilaturahmi dan menimba pengalaman dari berbagai daerah.
“Supaya terus dilanjutkan. Kami dari Kalimantan Utara memilih jauh-jauh datang ke sini untuk bersilaturahmi sekaligus mencari pengalaman,” katanya.
Usai menerima penghargaan, ia langsung bersiap kembali ke Malinau. Agenda mereka padat, sebab di kampung halaman masih ada lomba sumpit lain yang menanti.
Sumpit atau sumpitan merupakan warisan leluhur Dayak dan berbagai suku di Kalimantan. Terbuat dari kayu keras berbentuk tabung panjang, sumpit digunakan untuk melontarkan anak panah kecil dengan tiupan.
Dahulu, sumpit menjadi senjata berburu dan berperang, bahkan anak panahnya sering dilumuri racun alami dari getah tanaman hutan. Senjata ini mampu melumpuhkan mangsa hingga jarak 200 meter dalam senyap.
Kini, sumpit berevolusi menjadi olahraga tradisional yang diperlombakan. Erau menjadi salah satu panggung penting yang menjaga eksistensinya, sekaligus memperkenalkan sumpit pada generasi muda.
Bagi Hagar, kemenangan bukanlah tujuan utama. Lebih penting dari itu adalah memastikan tradisi sumpit tetap hidup di tengah modernisasi. “Semoga lomba sumpit terus ada dan semakin besar, supaya anak-anak muda juga bisa ikut melestarikan budaya kita,” pungkasnya.
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i


