Sabtu, Mei 25, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Inilah Sosok Tom Lembong yang Disebut-sebut dalam Debat Cawapres

JAKARTA – Nama Tom Lembong mendadak menjadi trending topic di Twitter setelah namanya disebut-sebut di dalam Debat Cawapres yang tengah berlangsung pada Minggu 21 Januari 2024 malam.

Siapakah Tom Lembong? Berikut biografi Tom Lembong. Pria pemilik nama asli Thomas Trikasih Lembong merupakan mantan Menteri Perdagangan yang menjabat sejak 12 Agustus 2015. Dia menggantikan posisi Rahmat Gobel.

Kini, nama Tom Lembong kembali jadi perbincangan setelah bergabung sebagai tim sukses Calon Presiden (Capres) dan (Cawapres) nomor urut 1, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Bahkan, beberapa hari yang lalu, video Tom Lembong tengah membahas soal day care viral di Twitter.

Dikutip dari Kanal News Liputan6.com,Tom Lembong memiliki rekam jejak yang mengesankan di dunia pemerintahan dan keuangan. Dia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dari 27 Juli 2016 hingga 20 Oktober 2019. Serta sebelumnya menempati posisi Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Mendagri) menggantikan Rahmat Gobel pada 2015.

Sebelum terjun ke dalam pemerintahan, Tom Lembong telah menjalani karier di sejumlah lembaga keuangan internasional, termasuk Deutshce Bank, Morgan Stanley, dan Farindo Investments.

Tom Lembong memulai karier di Morgan Stanley and Company sebagai Sales and Trading Associate, kemudian menjabat sebagai Senior Manager di Departemen Corporate Finance Makindo di Morgan Stanley Divisi Ekuitas (Singapura), dan menjadi investment banker di Deutsche Securities.

Antara tahun 2002 dan 2005, Tom Lembong mengepalai divisi dan menjadi Senior Vice President di Badan Penyehatan Perbankan Indonesia (BPPN). Setelahnya, dia bekerja dengan Principia Management Group sebagai investment banker.

Tom Lembong mendirikan Quvat Capital, sebuah perusahaan investasi yang mengelola dana lebih dari USD 500 juta. Perusahaan ini mengelola 11 perusahaan portofolio di berbagai sektor, termasuk logistik kelautan, konsumen, dan keuangan.

Prestasinya diakui oleh World Economic Forum (Davos) ketika ia dianugerahi gelar Young Global Leader (YGL) pada tahun 2008. Tom Lembong meraih gelar AB (Bachelor of Arts) dalam bidang Architecture and Urban Design dari Harvard University pada tahun 1994.

Sementara itu, dikutip dari Kanal Saham Liputan6.com,disebut bahwa Tom Lembong pernah mengenyam pendidikan dasar di Jerman pada 1974 s.d 1981 ketika ayahnya sedang melanjutkan studi. Pulang ke Jakarta, Tom Lembong pun meneruskan sekolah di SD dan SMP Regina Pacis, Jakarta.

Sementara itu ketika SMA, Tom pindah ke Boston, Amerika Serikat. Dia kemudian memperoleh gelar Bachelor of Arts di bidang Arsitektur dan Tata Kota ketika lulus dari Universitas Harvard pada 1994. Ia juga terpilih sebagai Young Global Leader (YGL) oleh World Economic Forum (WEF) 2008.

Begini kronologis nama Tom Lembong disebut-sebut dalam Debat Cawapres yang terjadi malam ini.

Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 02, Gibran Rakabuming Raka, menilai bahwa Cawapres nomor urut 01, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, tidak memahami pertanyaan sendiri yang diberikan kepadanya pada Debat Cawapres yang berlangsung pada Minggu 21 Januari 2024 malam.

Gibran pun lalu mengatakan bahwa Cak Imin mungkin dapat contekan dari salah satu anggota tim suksesnya, Tom Lembong.

“Itu tadi saya sudah sampaikan. Gus Muhaimin mungkin tak paham yang diberikan. Dapat contekan dari Tom Lembong,” kata Gibran.

Gibran Rakabuming Raka mengatakan telah membicarakan mengenai pemerataan pembangunan, salah satunya melalui pembangunan ibu kota negara (IKN) Nusantara. Pembangunan IKN tersebut sebagai salah satu pembangunan yang tidak Jawa sentris.

“Katanya tak jawab pertanyaan malah ngomongin pemerataan pembangunan. Itu yang saya omongin mengenai tidak Jawa sentris, harus Indonesia sentris. Pembangunan IKN sebagai simbol transformasi pembangunan Indonesia, Papua, dan lain-lain. sudah tidak Jawa sentris,” kata Gibran.

Lebih lanjut Gibran mengatakan bahwa ada sejumlah hal yang diperhatikan sehingga pembangunan tidak Jawa Sentris mulai memperhatikan masyarakat terutama di luar Jawa, konektivitas hingga menciptakan titik pertumbuhan ekonomi baru. (lpt/kn)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular