
BERAU – Dalam momentum Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Bupati Berau, Sri Juniarsih, menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk mulai menerapkan teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB) di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Hal ini dianggap sebagai salah satu langkah sederhana namun berdampak besar dalam mengatasi persoalan sampah dan meningkatkan daya serap air tanah.
“Sebenarnya ini sangat sederhana namun memberikan dampak yang besar bagi lingkungan,” ungkapnya, Selasa (29/7/2025).
Lubang biopori merupakan metode pengolahan sampah organik dengan cara membuat lubang di tanah yang kemudian diisi dengan sampah organik rumah tangga. Sampah tersebut kemudian akan diuraikan oleh organisme tanah, menciptakan pori-pori alami yang bermanfaat dalam menyerap air sekaligus menyuburkan tanah.
Menurutnya, selain membantu mengurangi limbah organik, biopori juga efektif untuk mencegah bencana lingkungan seperti banjir dan tanah longsor, sekaligus memberikan manfaat langsung berupa pupuk kompos untuk tanaman.
“Sebenarnya selain untuk memperlancar daya serapan air, banyak manfaat dari biopori ini. Seperti, sampahnya dapat didaur ulang untuk menjadi pupuk,” jelasnya.
Sri juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tingginya jumlah sampah di Kabupaten Berau. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau, pada tahun 2024 timbulan sampah mencapai 54.568,41 ton, dengan 32,33 persen di antaranya masih belum terkelola.
“Sampah itu bisa dikendalikan. Kita harus lebih sadar sejak dini. Ini ancaman serius jika tidak segera ditangani,” ujarnya.
Untuk itu, penerapan metode biopori dinilai penting sebagai langkah awal menekan laju peningkatan jumlah sampah di Berau. Bupati juga menegaskan bahwa metode ini bukan hal baru, karena sudah diperkenalkan dalam berbagai kesempatan, termasuk saat kegiatan Musrenbang di sejumlah kecamatan.
Sri Juniarsih turut meminta dukungan dari pemerintah kampung untuk menjadi penggerak di tingkat masyarakat agar biopori bisa diterapkan secara luas, terutama di kampung-kampung rawan banjir.
“Beberapa kampung sudah ditetapkan sebagai wilayah rawan banjir. Maka, penerapan biopori ini dapat menjadi solusi awal untuk meningkatkan daya serap air dan mengurangi genangan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Ia tidak ingin masyarakat terus bergantung pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sebagai lokasi utama pemilahan sampah.
“TPA itu bukan tempat untuk memilah sampah. Di sana, sampah harusnya sudah terpilah dari rumah. TPA hanya mencacah plastik menjadi bijih untuk diolah kembali,” jelasnya.
Ia pun berharap pihak-pihak yang menjadi pelopor dalam penerapan biopori bisa menjadi contoh bagi warga lain. Dengan gerakan kolektif dari semua lapisan masyarakat, Sri optimistis lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas bencana bisa terwujud di Kabupaten Berau.
“Ini bukan perkara sulit. Seharusnya kita bisa sadar. Ini kerja bersama,” pungkasnya. (adv/srn/set)


