TENGGARONG – Tim Pendakian Merah Putih dari Wahana Mahasiswa Pecinta Alam (Wamapala) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) membantah kabar tim yang mendaki Gunung Beratus di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur (Kaltim) tersesat. Pendakian terkendala medan dan lepas dari estimasi, sehingga tim mengubah jalur turun ke Camp 53 PT Balikpapan Wana Lestari (BWL) di Penajam Paser Utara (PPU).
Tim pendakian yang berjumlah 13 orang itu dibentuk dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia. Pendakian ditargetkan berlangsung selama tujuh hari, terhitung sejak 12 Agustus dan dijadwalkan kembali pada 19 Agustus.
Ketua Umum Wamapala Unikarta, Feri Ramadan, menjelaskan bahwa kendala utama yang dihadapi adalah terputusnya akses jalan Kubar–PPU yang mereka gunakan untuk menuju kaki gunung.
Hal tersebut mengakibatkan perjalanan menuju kaki gunung membutuhkan waktu lima hari, jauh meleset dari perencanaan awal yang diperkirakan hanya dua hari.
“Ada banyak jembatan yang terputus di jalan menuju kaki gunung, itu yang menghambat perjalanan kami sehingga lepas dari estimasi awal,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (22/8/2025) malam.
Meski terkendala dalam mengakses kaki gunung, tim pendakian memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Karena terkendala fisik dan kondisi perbekalan yang diperkirakan tidak memadai untuk kembali menyusuri jalur awal, rombongan memutuskan mengubah jalur turun menuju Camp 53 PT BWL di wilayah PPU.
“Perpindahan jalur turun ini telah kami konfirmasi kepada tim penjemputan pada 18 Agustus. Namun karena terkendala jaringan telekomunikasi, terjadi miskomunikasi,” tuturnya.
Feri mengakui informasi titik penjemputan yang disampaikan tidak terlalu detail. Pihaknya hanya menyebut dijemput di Camp 53, dengan akses penjemputan bisa melalui PPU atau Desa Jonggon, Kukar.
“Ternyata tim penjemput mendapat informasi bahwa terdapat dua titik yang dikenal dengan KM 53, dan titik yang didatangi berbeda dengan yang kami maksud,” jelasnya.
Sementara jaringan telekomunikasi terbatas, pada 19 Agustus media sosial ramai menyatakan bahwa tim pendakian tersesat. Padahal, di hari yang sama tim penjemputan telah melakukan konfirmasi ke Polsek Bongan bahwa tim dalam kondisi aman dan memutuskan mengubah rute turun.
“Tanggal 19 itu posisi kami sudah dalam perjalanan turun menuju Camp PT BWL. Namun karena terkena badai dan tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan, kami memutuskan mendirikan perkemahan di ketinggian 1.000 mdpl,” sebutnya.
“Tanggal 20 kami mulai melanjutkan jalan turun. Tapi perjalanan terkendala, dua anggota tim terpisah dari rombongan karena kondisi fisik drop,” tambahnya.

Dua orang yang tertinggal gagal menyusul rombongan hingga tim kembali bermalam di ketinggian 600 mdpl. Karena keesokan harinya mereka belum juga bergabung, tim pendakian memutuskan membagi kelompok dalam dua regu.
Regu pertama berisikan tujuh orang, diminta menuju Camp 53 PT BWL untuk mencari jaringan telekomunikasi dan meminta bantuan, karena dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap sisa rombongan. Sementara regu kedua yang berjumlah empat orang bertugas menunggu dua anggota yang tertinggal.
“Itu (pembagian regu) terjadi pada 21 pagi,” jelasnya.
Setelah itu, tim berjumlah tujuh orang berhasil tiba di Camp 53 PT BWL pada sore hari dan mengonfirmasi keadaan tim kepada tim penjemputan sekaligus meminta bantuan tim SAR. “Nah, ternyata tim penjemputan juga masih kesulitan mencapai titik penjemputan yang kami minta,” ungkapnya.
Di sisi lain, dua rekan yang tertinggal akhirnya berhasil bergabung dengan regu kedua pada sore hari yang sama dan melanjutkan perjalanan turun. Sayangnya, kondisi rombongan yang sempat terpisah ramai dibahas di media sosial dengan narasi tersesat sehingga menimbulkan kegaduhan.
“Jadi kami ingin meluruskan bahwa kami tidak tersesat. Perpindahan jalur turun ini sudah kami rencanakan dengan pertimbangan matang. Bahkan seluruh tim berhasil sampai di Camp 53 PT BWL sebelum tim SAR tiba,” tegasnya.
Meski begitu, Feri menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh unsur SAR yang cepat merespons laporan. Atas segala bentuk kegaduhan dan kekhawatiran yang timbul akibat pendakian yang terkendala, pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf.
“Tentunya kami menyampaikan terimaksih kepada Tim SAR yang telah merespon laporan kami dengan cepat laporan kami,” tutupnya.
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i



