BALI – Ruang kelas yang pernah roboh dan sekolah yang dua kali setahun terendam banjir kini mulai berubah. Program revitalisasi satuan pendidikan di Bali pada 2026 menyasar 401 sekolah, memperbaiki sarana belajar sekaligus memberi dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja di daerah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan jumlah sekolah yang mendapat program revitalisasi di Bali meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2025, tercatat 188 sekolah mendapat program revitalisasi. Jumlah tersebut meningkat menjadi 401 satuan pendidikan pada 2026.
“Tahun 2025 terdapat 188 sekolah, kemudian pada 2026 ada peningkatan yang sangat signifikan untuk revitalisasi di Provinsi Bali. Untuk satuan pendidikan secara keseluruhan ada 401 sekolah,” ujar Abdul Mu’ti, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, revitalisasi tidak hanya menyentuh aspek fisik sekolah. Program tersebut juga memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja selama proses pembangunan dan perbaikan berlangsung.
“Ini menunjukkan bahwa revitalisasi satuan pendidikan tidak hanya berdampak pada peningkatan satuan pendidikan, tapi juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja di daerah,” tuturnya.
Dampak revitalisasi dirasakan langsung SD Negeri 15 Dangin Puri, Kota Denpasar.
Guru sekolah tersebut, Ni Gusti Ayu Trisna Dewi, mengatakan sekolah tempatnya mengajar sejak 2019 itu sebelumnya menghadapi persoalan kondisi bangunan. Salah satu ruang kelas di lantai tiga bahkan pernah roboh setelah bangunan terdampak hujan dan angin.

“Sebelum direvitalisasi, kebetulan di lantai 3 ada kelas yang roboh pada saat itu. Kebetulan mungkin hujan angin, jadi mungkin rembes dari atas, jadi roboh kelasnya,” ujar Trisna.
Setelah mendapatkan program revitalisasi pada 2026, kondisi ruang belajar menjadi lebih baik. Ruang kelas dan fasilitas pendukung terlihat lebih rapi dan bersih sehingga memberikan suasana belajar yang berbeda bagi siswa.
“Lalu setelah direvitalisasi, kelas yang roboh akhirnya sudah baik. Jadi kelas-kelas juga lebih rapi, lebih bersih juga,” katanya.
Perubahan tersebut, menurut Trisna, turut memengaruhi semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Para murid bahkan mulai berinisiatif mempercantik ruang kelas dengan hasil karya mereka sendiri.
“Dampaknya justru pastinya untuk proses belajar-mengajar pasti akan lebih bagus. Kelihatan kelasnya juga lebih bagus, lebih rapi. Anak-anak juga lebih semangat buat belajar,” tuturnya.
Hal serupa dirasakan Kanaya, siswa kelas V SDN 15 Dangin Puri. Ia mengaku lebih bersemangat belajar setelah kondisi sekolah diperbaiki.
“Sekolah kami telah diperbaiki, kami merasa sangat senang, semakin semangat untuk belajar bersama teman-teman di sekolah,” ucapnya.
Persoalan sarana pendidikan juga dialami TK Indraprasta Kuta, Kabupaten Badung. Sekolah yang berdiri sejak 1975 tersebut dipindahkan ke lokasi sekarang pada 1989.

Selama bertahun-tahun, bangunan sekolah menghadapi berbagai persoalan. Mulai dari atap bocor, dinding rapuh, hingga kusen yang rusak akibat rayap dan banjir.
Kepala TK Indraprasta Kuta, Wayan Leniasih, mengatakan kondisi bangunan memang telah lama membutuhkan perbaikan.
“Kondisi TK Indraprasta Kuta sebelum mendapatkan program revitalisasi tahun 2026, kondisinya sangat miris karena ini berdiri sejak tahun 1975, terus dipindahkan ke sini pada tahun 1989. Dari situlah bangunan kami tidak pernah direnovasi,” kata Wayan.

Program revitalisasi 2026 mencakup perbaikan enam ruang kelas, satu ruang administrasi, satu toilet, serta penataan taman bermain yang sebelumnya roboh dan terdampak banjir.
Persoalan banjir menjadi salah satu tantangan terbesar sekolah tersebut. Wayan menyebut banjir dapat terjadi hingga dua kali dalam setahun dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.
“Kusen-kusen dimakan rayap setelah banjir. Dua kali setahun banjir sampai sebatas pinggang orang dewasa. Jadi banyak yang rusak,” ujarnya.

Setelah mendapat revitalisasi, pihak sekolah berkomitmen menjaga fasilitas yang telah diperbaiki, termasuk berbagai perabotan pendukung pembelajaran.
“Kami berjanji akan menjaga dan merawat fasilitas ini yang sudah diberikan berupa rehab beserta perabotan-perabotannya. Kami di sini semua sepakat, semua berkomitmen untuk menjaga dan merawat,” lanjut Wayan.
Program revitalisasi tersebut diharapkan tidak hanya memperbaiki bangunan sekolah, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa serta guru.
Di sisi lain, pemerintah melihat pelaksanaan revitalisasi sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas sarana pendidikan sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat melalui kebutuhan tenaga kerja di daerah. (cha/KN)



