WASHINGTON DC – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melanjutkan agenda internasionalnya di Washington DC, Amerika Serikat, setelah sebelumnya bertemu sejumlah investor global di New York, termasuk BlackRock.
Di ibu kota AS itu, Purbaya menjalani serangkaian pertemuan strategis, mulai dari bilateral meeting hingga courtesy meeting dengan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, pejabat tinggi World Bank, serta perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah ketidakpastian global.
“Kami bertemu dengan 18 investor besar, termasuk Goldman Sachs dan Fidelity Investments. Mereka ingin memahami arah kebijakan pertumbuhan dan pengelolaan anggaran Indonesia, serta menilai apakah strategi tersebut kredibel dan berkelanjutan,” ujar Purbaya, Selasa (14/4/2026).

Purbaya menjelaskan, pemerintah telah memaparkan secara komprehensif berbagai kebijakan ekonomi nasional, termasuk dampaknya terhadap anggaran negara dan pertumbuhan ekonomi.
Menurut dia, respons dari IMF, Bank Dunia, dan lembaga pemeringkat internasional dinilai sangat positif, terutama terhadap kemampuan Indonesia mendorong pertumbuhan tanpa membebani fiskal negara.
“Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dan menggali lebih dalam terkait fundamental ekonomi dan kebijakan kita. Selama ini mereka mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat tumbuh lebih cepat dengan anggaran yang tetap terkendali,” jelasnya.
Terkait investasi, Purbaya menyebut investor global, khususnya dari Amerika Serikat, menunjukkan ketertarikan pada instrumen sektor keuangan, baik fixed income maupun equity.
Menurutnya, minat tersebut masih didominasi investasi portofolio, bukan foreign direct investment (FDI), namun diyakini dapat mendorong penguatan pasar modal Indonesia.
“Ini sebagian besar merupakan investasi portofolio, bukan FDI. Namun, kami optimistis dalam waktu dekat aliran dana tersebut akan masuk dan turut mendorong penguatan pasar modal Indonesia,” katanya.
Dalam pertemuan dengan IMF, Kristalina Georgieva disebut menyoroti masih tingginya ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik dan dinamika harga energi.
Menanggapi hal itu, Purbaya menegaskan Indonesia memiliki kondisi fiskal yang solid dan bantalan anggaran yang memadai.
“Indonesia tidak termasuk negara yang membutuhkan dukungan IMF, karena kondisi fiskal kita kuat dengan bantalan anggaran sekitar Rp420 triliun,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia telah melakukan penyesuaian kebijakan sejak akhir tahun lalu sehingga dinilai mampu menyerap berbagai tekanan eksternal, termasuk lonjakan harga minyak akibat konflik global.
Dalam pertemuan dengan World Bank dan S&P Global Ratings, Purbaya mengaku memperoleh penilaian positif terhadap strategi fiskal pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Bank Dunia dan lembaga rating menyampaikan kepuasan atas strategi yang kami paparkan. Keraguan terhadap kemampuan Indonesia menjaga disiplin fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kini semakin berkurang,” tegasnya.
Ke depan, Bank Dunia juga disebut berminat memperdalam kerja sama dengan Indonesia, terutama dalam pembangunan jangka panjang, pengentasan kemiskinan, dan pembiayaan proyek strategis di negara berkembang. (*/rls)
Editor : Nicha R


