Sabtu, Mei 25, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Wow, Duku KCBN Muaro Jambi Sumbang PNBP hingga Rp 700 Juta

MUARO JAMBI – Meskipun Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi bisa dikatakan sebagai tempat wisata sejarah kebudayaan, namun ternyata juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

KCBN Muaro Jambi yang luasnya mencapai hampir 4.000 hektare ini memang memiliki beragam tanaman buah-buahan yang tumbuh subur dan melimpah. Di antaranya, duku, duren, rambutan, coklat, dan karet. Keberadaan tanaman-tanaman yang tumbuh subur tersebut dijadikan sumber pendapatan bagi para warga sekitar.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi Agus Widiatmoko mengatakan bahwa panen buah duku dari KCBN Muaro Jambi sudah ikut menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada tahun 2023. Nilainya pun cukup fantastis, yakni mencapai Rp 700 juta. Karena begitu suburnya, tanaman duku di KCBN Muaro Jambi saat panen bisa mencapai ratusan ton.

“Kemarin hasil duku ini kita lelang, di mana peserta lelangnya masyarakat di sini juga. Nah, itu dapat uang Rp 700 juta. Tapi kemudian dipotong untuk menjaga macam-macam, dan disetorlah ke negara sekitar Rp 600 juta sekian,” kata Agus di sela peninjauan KCBN Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Sabtu (3/2/2024).

Dikatakan, masyarakat di sekitaran KCBN Muaro Jambi juga sangat komitmen untuk menjaga kelestarian tanaman-tanaman yang tumbuh di tempat tersebut. Pasalnya, mereka juga yang menikmati manfaatnya.

Menariknya, masyarakat yang tinggal di kawasan KCBN Muaro Jambi pun sangat ‘Anti Plastik’. Jadi, demi menjaga lingkungannya, mereka tidak menggunakan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Media Kaltim pun turut memperhatikan alat makan yang digunakan warga setempat adalah daun pisang ataupun piring enamel yang berbahan dasar seng.

“Di sini memang dilarang penggunaan alat makan, botol ataupun bungkus makanan yang menggunakan berbahan dasar plastik,” tegas Agus.

Lebih jauh Agus menerangkan, dalam upaya pemberdayaan masyarakat di KCBN Muaro Jambi ini, bukan hanya sebatas ikut mengelola perkebunan saja. Tapi, masyarakat juga diajak untuk berdagang dan diberikan tempat khusus bernama Pasar Dusun Karet (Paduka) yang juga bekerja sama dengan dunia usaha.

‘Kita latih manajemennya, tentang UMKM dengan salah satu bank di Indonesia. Setelah kita latih di suatu tempat pelatihan, kemudian tahun kemarin kita bawa studi komparasi di Pasar Papringan di Temanggung. Jadi ada 30 orang di sana, ikut berdagang, kemudian ikut belajar membuat makanan yang secara tradisional tanpa pengawet,” jelas Agus.

Pewarta : Nicha R

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular