Selasa, Juni 18, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

WHO Desak Gencatan Senjata, 20 Rumah Sakit di Gaza Berhenti Operasi

KORANUSANTARA– Dua rumah sakit terbesar di Gaza; Al Shifa dan Al Quds, tidak lagi beroperasi. Kondisi tersebut seiring masifnya serangan yang dilancarkan Israel. Total, 36 rumah sakit sudah tutup, Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendesak gencatan senjata segera dilakukan.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, situasi di RS Al Shifa mengerikan dan berbahaya. Tiga perawat tewas sejak Jumat, 10 November 2023 di tengah pengeboman serta bentrok antara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Hamas di kompleks RS Al Shifa. ’’Dunia tidak bisa berdiam diri, sementara rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat berlindung yang aman berubah menjadi tempat kematian, kehancuran, dan keputusasaan,’’ bunyi unggahan Ghebreyesus di X.

Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengungkapkan, upaya evakuasi di RS Al Quds telah gagal karena penembakan terus-menerus masih terjadi. Konvoi evakuasi Bulan Sabit Merah dengan didampingi Komite Palang Merah Internasional yang berangkat dari Khan Younis menuju RS Al Quds terpaksa kembali. Sebab, kondisi berbahaya di daerah Tal al-Hawa, tempat RS tersebut berada. Padahal, saat ini staf medis, pasien, serta rekan mereka masih terjebak di dalam RS tanpa makanan, air, atau listrik.

Sementara itu, Direktur RS di Gaza Mohammed Zaqout mengatakan, sekitar 650 pasien, 500 petugas kesehatan, dan 2.500 pengungsi masih berada di dalam kompleks RS Al Shifa. Angka itu lebih rendah dibandingkan akhir pekan lalu yang dilaporkan terdapat 1.500 pasien, 1.500 tenaga medis, dan 7 ribu pengungsi.

Senin, 13 November 2023, pasukan IDF sudah berada di gerbang RS. Setidaknya, 32 pasien, termasuk 3 bayi prematur, telah meninggal selama tiga hari terakhir akibat keterbatasan peralatan. Sebanyak 36 bayi prematur lainnya kini dibalut dengan selimut darurat yang mampu memantulkan panas tubuh. Langkah itu dilakukan karena inkubator sudah tidak berfungsi lagi. Kemungkinan infeksi juga membuat peluang bayi-bayi tersebut tidak selamat kian besar.

Sejak Jumat, 10 November 2023, Kementerian Kesehatan Gaza tidak bisa memperbarui jumlah korban tewas. Petugas medis tidak dapat menjangkau daerah yang terkena pengeboman Israel. Pertempuran yang begitu intensif tidak memungkinkan ambulans berkeliaran di jalan. Layanan komunikasi yang sering terputus juga menjadi kendala. Saat ini jumlah korban jiwa akibat serangan Israel sudah lebih dari 11 ribu orang. Sebanyak 4 ribu di antaranya adalah anak-anak.

Dari jumlah korban jiwa tersebut, sebanyak 101 orang merupakan staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kemarin lembaga yang berbasis di New York, AS, itu telah mengibarkan bendera setengah tiang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada para staf yang gugur.

IDF menyebut telah melakukan 4.300 serangan di Jalur Gaza selama kampanye militer melawan Hamas. Mereka mengklaim telah menyerang sekitar 300 terowongan, ratusan pos peluncuran rudal antitank, dan sekitar 3 ribu lokasi infrastruktur Hamas. Itu termasuk lebih dari 100 bangunan yang dilengkapi dengan bahan peledak dan ratusan pusat komando serta kendali Hamas.(*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular