SAMARINDA – Berbagai persoalan infrastruktur mencuat dalam kegiatan Penyerapan Aspirasi (Reses) Masa Persidangan II Tahun 2026 yang digelar Anggota DPRD Kota Samarinda sekaligus Sekretaris Komisi III, Arie Wibowo, di RT 09 Gunung Mulya, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara.
Sejumlah ketua RT memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan keluhan warga, mulai dari drainase lingkungan yang belum tertangani hingga kondisi jembatan kayu yang dinilai membahayakan keselamatan masyarakat.
Ketua RT 17, yang berada di kawasan bawah Perumahan Unmul Jalan Kenyah, menyoroti persoalan parit lingkungan yang disebut belum pernah mendapatkan penanganan maksimal selama bertahun-tahun.
Menurutnya, warga telah berupaya melakukan perbaikan melalui dana Probebaya, namun pengerjaan belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
“Parit itu sudah lama kami usulkan. Setiap tahun usulan soal parit dan jalan terus kami sampaikan karena memang menjadi kebutuhan utama warga,” ujarnya dalam forum reses.

Ia berharap adanya dukungan dari DPRD agar normalisasi dan pembangunan drainase dapat segera direalisasikan demi mengurangi persoalan lingkungan di kawasan tersebut.
Sementara itu, suasana reses menjadi lebih cair saat Ketua RT 31, Betty Lapea, menyampaikan aspirasi terkait kondisi jembatan kayu di wilayahnya dengan gaya penuh canda namun tegas.
Betty meminta agar perhatian pembangunan tidak hanya terfokus pada beberapa RT tertentu, tetapi juga menyentuh wilayah RT 31 yang disebut memiliki jumlah warga dan pemilih cukup besar.
Ia menjelaskan kondisi jembatan di wilayahnya sudah memprihatinkan karena berlubang dan bergoyang saat dilintasi warga.
“Jembatan di sana masih bolong-bolong dan goyang. Kami berharap ada perhatian karena kondisi itu cukup membahayakan masyarakat,” katanya disambut gelak tawa dan tepuk tangan warga yang hadir.
Selain persoalan infrastruktur, forum reses juga membahas rencana pengembangan fasilitas air bersih PDAM di kawasan Perumahan Unmul. Ketua RT 17 menjelaskan bahwa warga sebelumnya sempat keberatan dengan rencana penambahan mesin PDAM di dalam lingkungan perumahan karena khawatir memengaruhi distribusi air.
Meski demikian, pihak RT mengaku telah menawarkan sejumlah alternatif lokasi yang dinilai lebih memungkinkan untuk pembangunan fasilitas penampungan air.
Menanggapi hal tersebut, Arie Wibowo menyebut upaya penyediaan air bersih di kawasan tersebut memang sudah berjalan cukup lama dan terus didorong agar segera terealisasi.
Ia mengatakan pihaknya telah beberapa kali melakukan peninjauan bersama PDAM guna mencari titik yang paling tepat untuk pengembangan jaringan dan reservoir.
“Terkait parit maupun kebutuhan air bersih, nanti akan kami koordinasikan kembali bersama tim teknis dan pihak terkait agar bisa ditindaklanjuti,” ujar politisi Partai Golkar tersebut.
Untuk usulan dari RT 31, Arie mengaku telah mengenal kondisi wilayah tersebut sejak masa kampanye pilkada dan memahami kebutuhan akses jalan maupun jembatan warga.
Ia memastikan timnya akan turun langsung melihat kondisi di lapangan guna mengkaji bentuk bantuan yang dapat diberikan.
Pewarta: Hanafi
Editor:


