Senin, Mei 27, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tubuh Tak Lagi Utuh, Rumah Sakit Kehabisan Kain Kafan

KORANUSANTARA – Permintaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perihal gencatan senjata tidak digubris Israel. Nyatanya, serangan demi serangan terus dilancarkan ke Kota Gaza. Pemandangan pilu terus-menerus berlalu. Lusinan jenazah berkain kafan terlihat di luar Rumah Sakit (RS) Al-Shifa, Kota Gaza.

Jenazah-jenazah itu berada di atas tanah. Beberapa warga berkumpul di sekelilingnya untuk membawa para korban serangan perang itu ke tempat peristirahatan terakhir. Dari sejumlah kain kafan mereka itu ada yang tampak lebih besar dari yang lain. Bukan karena orang yang meninggal lebih gemuk. Namun, kain kafan tersebut sudah dipakai lebih dari satu orang jenazah. Tidak sedikit dari jenazah itu yang sudah tidak utuh lagi. Tubuh mereka hancur akibat bom-bom yang dijatuhkan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Semua jenazah yang akan dikuburkan tersebut tidak bernama. Entah itu karena tidak bisa lagi diidentifikasi ataupun tidak ada yang mengklaim sebagai anggota keluarganya. Sebab, bisa jadi keluarga mereka juga sudah terbunuh.

Tes DNA tidak mungkin bisa dilakukan. Setiap hari ada ratusan orang yang terbunuh. Jangankan melakukan tes DNA, untuk mengobati korban luka saja, pihak rumah sakit sudah kewalahan. Mereka bahkan kekurangan obat-obatan, tenaga medis, dan aliran listrik. ’’Kami menguburkan puluhan jenazah orang tak dikenal yang tewas dalam pembantaian Israel di kuburan massal,’’ ujar Salama Maarouf, kepala kantor media pemerintah Gaza kepada Al Jazeera.  ’’Kami tidak mengetahui identitas mereka di bumi ini, tapi mereka dikenal di surga,’’ tambahnya.

Mayat-mayat tak dikenal itu tiba di RS setelah Jalur Gaza mengalami pemadaman komunikasi total, Jumat, 27 Oktober 2023. Ketika itu, Israel melakukan pengeboman terberat di wilayah tersebut malam sebelumnya. Lebih dari 8 ribu warga Palestina meninggal di Gaza akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023. Dari jumlah itu, ada sekitar 4 ribu anak-anak dan hampir 2 ribu perempuan.

Kamar mayat di RS Al-Shifa penuh sesak sejak hari pertama serangan. Tenda yang didirikan untuk memuat lebih banyak jenazah juga sudah tidak mampu menampung. ’’Setiap orang yang tiba di rumah sakit malam itu tubuhnya terpotong-potong,’’ ujar Maarouf mengingat serangan darat pertama IDF. Karena keterbatasan, ada satu kain kafan yang berisi enam jenazah anak-anak. Tubuh mereka sudah tidak utuh.

Maarouf mengatakan, pemutusan internet dan komunikasi memungkinkan Israel untuk menyembunyikan kekejamannya dari dunia luar. Dia menggambarkan serangan udara serta tindakan yang menyertainya terhadap warga Palestina sebagai bencana brutal. Sejak awal serangan IDF, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak jenazah yang tidak utuh. Tak bisa dikenali yang dikuburkan secara massal. ’’Sejarah akan menilai mereka yang membiarkan hal ini terjadi pada kami dan tidak melakukan apa pun untuk membantu atau menghentikan agresi ini,’’ ujarnya. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular