JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengembangkan sejumlah model pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk menekan pengangguran lulusan. Strateginya mencakup penguatan kompetensi, kemitraan dengan industri, hingga penyiapan tenaga kerja untuk pasar internasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, salah satu model yang dikembangkan adalah program SMK 3+1. Skema ini memungkinkan murid menempuh pendidikan selama tiga tahun di SMK, kemudian melanjutkan satu tahun pendidikan tambahan bagi mereka yang berminat bekerja di luar negeri.
“Ini merupakan sebuah terobosan yang memberikan jawaban langsung bahwa lulusan SMK bisa dan siap bekerja di mana pun di dunia ini,” kata Mu’ti dalam kegiatan Pelepasan 3.000 Lulusan Dikmen Diksus Magang dan Kerja di Luar Negeri yang dipantau secara daring di Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).
Menurut Mu’ti, program tersebut memberi kesempatan kepada murid untuk mempersiapkan diri memasuki pasar kerja internasional dengan keterampilan sesuai bidang pekerjaan yang dituju.
Selain SMK 3+1, Kemendikdasmen mengembangkan model SMK empat tahun melalui kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sejak awal pendidikan.
Mu’ti menyebut model itu sebagai SMK tailor made, yakni pendidikan kejuruan yang dirancang menyesuaikan kebutuhan perusahaan.
Melalui skema tersebut, sekolah bermitra dengan perusahaan tertentu. Murid tidak hanya mengikuti pembelajaran di sekolah, tetapi juga mendapatkan kesempatan berlatih langsung di lingkungan industri.
Kemendikdasmen berharap pola pendidikan ini dapat menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan perusahaan, sekaligus memperbesar peluang mereka memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
Upaya penyesuaian pendidikan kejuruan dengan kebutuhan kerja juga dilakukan melalui pengembangan SMK berbasis keunggulan lokal. Model ini diarahkan untuk membekali murid dengan keterampilan yang sesuai dengan potensi sumber daya alam dan sosial di daerah masing-masing.
Mu’ti menyebut sejumlah potensi yang dapat menjadi fokus pendidikan kejuruan, mulai dari kopi, nilam, kelautan, batik, hingga musik.
Pengembangan berbagai model tersebut, kata dia, merupakan bagian dari upaya Kemendikdasmen menjawab kritik mengenai tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan SMK.
“Kami berusaha menjawab kritik yang selama ini sering kita dengar bahwa SMK menjadi penyumbang pengangguran yang terbesar. Tentu kita tidak berhenti menjawab kritik itu dengan hanya kata-kata, tapi menjawab kritik itu dengan kerja nyata,” ujar Mu’ti.
Ia menegaskan, penguatan pendidikan kejuruan perlu diarahkan untuk memastikan lulusan memiliki kesiapan memasuki dunia kerja, sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Melalui model pendidikan yang terhubung dengan kebutuhan industri, pasar kerja internasional, serta potensi ekonomi daerah, Kemendikdasmen berupaya meningkatkan relevansi pendidikan SMK dan memperluas kesempatan kerja bagi lulusannya. (ANT/MK)



